Andi adalah kepala dusun di desa tersebut. Ia bisa menjadi pejabat desa lantaran menikah dengan Jumi. Lima belas tahun lalu, keluarga Jumi menduduki posisi-posisi penting di desa. Ada yang menjadi kepala desa, sekdes hingga kaur.
Saat itu Andi yang tinggal di desa Jumi kemudian ditawari menjadi kadus. Mengisi kekosongan jabatan yang ditinggal pensiun oleh perangkat lama. Namun syaratnya, meski para pejabat desa adalah saudara, Andi harus tetap membayar sejumlah uang.
Hingga akhirnya Jumi mendorong sang suami ikut seleksi. Seleksi itu hanya formalitas. Selama bisa membayar dipastikan jadi. Terlebih rekom kepala desa sudah ditangan.
Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan dana itu, keluarga tersebut mencari utangan ke mana-mana. Dari bank hingga tetangga. Ekspektasinya, meski berutang itu, dengan harapan dapat bengkok, semua bisa dibayarkan.
Namun realita berkata lain. Hasil dari bengkok tak juga mencukupi. Itu hanya cukup untuk makan sehari-hari dan biaya kegiatan sosial di lingkungan setempat. Terlebih, sebagai kadus hampir tiap hari ia mendapatkan undangan nikahan di desa.
Kondisi tersebut menyebabkan utang tak kunjung beres. Yang terjadi keluarga tersebut gali lubang tutup lubang. Utang dibayar dengan berhutang ke lain tempat.
Merasa keadaan tak baik, akhirnya Jumi pun nekat menjadi TKI. Lantaran itu satu-satunya jalan mendapatkan uang banyak. Sehingga bisa melunasi hutang-hutangnya.
Benar saja menjadi TKI Jumi bergaji tinggi. Sebulan mencapai Rp 10 juta. Uang itu sepenuhnya ditransfer ke rumah. Namun siapa sangka suaminya malah seenaknya. Uang tersebut bukan untuk membayar utang. Melainkan untuk hidup semaunya. Bahkan digunakan untuk ke tempat hiburan malam. Sampai-sampai Andi memiliki selingkuhan. Yang akhirnya dinikahi sirih itu.
Jumi mengetahui itu ketika ia pulang mendadak. Tak mengabari suaminya. Dan sampai rumah ia mendapati ada sosok wanita lain yang menggantikan posisinya. Jumi akhirnya langsung pergi dan kembali ke orang tua. Jumi minta cerai ke suaminya. (tos/zen) Editor : Ali Mustofa