Kejadian itu sudah berlangsung sebulan terakhir. Alasan perusahaan, sedang kejar target untuk ekspor. Sehingga meminta karyawan untuk lembur dalam sebulan terakhir. Hingga tiga bulan ke depan.
Semula Andi tak melarang. Tetapi perlahan lelaki itu merasa jengkel. Pertama karena ia kerap tidur sendirian. Istrinya pulang pagi, saat ia baru bangun. Selepas itu, istrinya baru tidur. Sementara dirinya harus menyiapkan sarapan sendiri.
Tak hanya itu, istrinya makin melunjak. Mentang-mentang penghasilannya lebih tinggi dari Andi. Alhasil, pekerjaan rumah lain mangkrak. Istrinya beralasan lelah, sehingga tak menyentuhnya sama sekali.
Sehingga hal itu membuat Andi kepayahan. Ia harus menyapu, masak, mencuci sendiri. Istrinya makin melunjak.
Yang paling menyedihkan, lelaki itu sebulan terakhir juga tak dapat jatah dari sang istri. Saat diajak, Marni beralasan lelah. Sehingga hasratnya suaminya tak tersalurkan.
Lama-lama lelaki itu marah. Ia tak lagi sabar mengatasi kelakuan sang istri yang tak menghargainya. Andi menyadari, pekerjaannya sebagai tukang tambal tak memiliki penghasilan tetap. Sehingga istrinya meremehkannya.
Andi akhirnya pikir panjang. Ia merasa tak lagi dihargai sebagai suami. Dan akhirnya meminta sang istri berhenti lembur. Tetapi ditolak. Istrinya beralasan dengan lembur, ia bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Sehingga bisa mencukupi kebutuhan dan kebiasaannya. Seperti shopping dan jalan-jalan. Sesuatu yang tak didapatkan dari sang suami.
Keputusan sang istri membuat Andi menyerah. Ia akhirnya menceraikan istrinya itu. Sebab merasa tidak mendapatkan kebahagiaan. (tos/zen) Editor : Ali Mustofa