Selama ini, kehidupannya dan keluarganya nyaman-nyaman saja. Suami Rini pun tergolong suami solih dan tak pernah neko-neko. Jangankan zina, pacaran pun tak pernah. Rini dan suaminya menikah berkat perjodohan orang tua mereka.
Karena merasa hidupnya terlalu nyaman, Rini kurang menyukai hal itu. Maklum, ia perempuan yang suka tantangan. Ditambah lagi sifat suaminya yang selalu percaya terhadapnya kurang bisa ia terima. ”Harusnya sedikit posesif. Jangan manutan (penurut)," ungkap Rini soal alasannya memutuskan selingkuh.
Oleh sebab itu, di tengah dirinya mengurus seorang balita, ia nekad menjalin hubungan gelap dengan mantan kekasihnya semasa kuliah.
Bahkan, saat menjalin perselingkuhan itu, Rini beberapa kali berhubungan suami istri dengan mantannya itu. Apesnya, hubungan tersebut terendus oleh mertua Rini.
Hal itu pun segera disampaikan ke orang tua Rini. Dua keluarga besar itu kecewa dengan sikap Rini. Anak tidak tahu diuntung. Kehidupan nyaman, harta melimpah, tapi nekat neko-neko.
Karena saking kecewanya, suami Rini memutuskan cerai. Hak asuh anak dimenangkan sang suami. Tak hanya itu, orang tua Rini pun tak sudi melihat Rini lagi, karena tingkahnya yang kelewatan itu.
Rini tak lagi dianggap anak oleh orang tuanya sendiri. Ia juga terusir dari rumahnya. Akibatnya, ia jadi perempuan terbuang. Akhirnya ia pun melanjutkan hidup sebagai gelandangan. (rom/lin) Editor : Ali Mustofa