alexametrics
30.5 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Dipegat, Utang Tetep Semangat

JUMI (nama samaran) sudah teramat sabar menghadapi tingkah Kaspo (bukan nama sebenarnya), suaminya. Namun, si Kaspo tampaknya kurang peka. Bukannya sembuh malah menjadi sifat buruknya.

Kaspo memiliki kebiasaan yang membuat Jumi jengkel. Hobi utang. Gali lubang tutup lubang. Namun duitnya tak pernah jelas peruntukannya. ”Aset ya nggak nambah. Makan biasa aja. Terus untuk apa?,” kata Jumi menggerutu.

Bahkan, karena saking jengkelnya, Jumi menilai perilaku Kaspo sudah parah. Hobi utangnya makin kronis. Ia sampai meminjam aset-aset saudaranya, seperti surat kendaraan atau sertifikat. Jelas, dengan sikap yang demikian membuat Jumi jengkel.


Apalagi rumahnya sering dihampiri penagih utang. Tak menutup kemungkinan itu dilihat tetangga dan berpotensi menjadi omongan. Berkali-kali Jumi mencoba membicarakan masalah ini. Namun Kaspo masih ngeyel. ”Bilangnya (Kaspo): ini urusanku,” kenangnya.

Jumi masih bersikap sabar bertahan dengan sikap suaminya itu. Sampai suatu ketika, karena utang menumpuk, Kaspo pun sampai kesulitan membayar. Omongan ”ini urusanku” pun tak berlaku lagi. Justru malah Jumi yang harus berpikir keras untuk melunasi utang itu.

Baca Juga :  Bubrah, Gara-Gara Suami Minta Kawin

Jumi bekerja keras. Dari penghasilannya yang ia kumpulkan. Jumi pun bisa menutup utang itu. Tapi setelah itu Jumi meminta cerai. Menyudahi hubungan rumah tangga itu. Mereka pun saat ini sudah hidup sendiri-sendiri.

Jumi menikah lagi. Begitupun Kaspo. Meski sudah menikah lagi, ternyata sikap buruk laki-laki itu, tak kunjung mari. Kaspo masih konsisten dengan ”passion-nya”. Utang sana-sini.  Karena makin parah, sampai-sampai saudara-saudaranya mengeluhkan sikapnya. Yang tak sekadar suka utang, tapi juga sikapnya yang belagu.

”Ngotot terus. Dibilangin sulit,” kata salah satu saudaranya mengeluh. Karena itu, saudara-saudaranya sudah angkat tangan. Membiarkan dan tak ambil pusing dengan urusan Kaspo. (vah/lin)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

JUMI (nama samaran) sudah teramat sabar menghadapi tingkah Kaspo (bukan nama sebenarnya), suaminya. Namun, si Kaspo tampaknya kurang peka. Bukannya sembuh malah menjadi sifat buruknya.

Kaspo memiliki kebiasaan yang membuat Jumi jengkel. Hobi utang. Gali lubang tutup lubang. Namun duitnya tak pernah jelas peruntukannya. ”Aset ya nggak nambah. Makan biasa aja. Terus untuk apa?,” kata Jumi menggerutu.

Bahkan, karena saking jengkelnya, Jumi menilai perilaku Kaspo sudah parah. Hobi utangnya makin kronis. Ia sampai meminjam aset-aset saudaranya, seperti surat kendaraan atau sertifikat. Jelas, dengan sikap yang demikian membuat Jumi jengkel.

Apalagi rumahnya sering dihampiri penagih utang. Tak menutup kemungkinan itu dilihat tetangga dan berpotensi menjadi omongan. Berkali-kali Jumi mencoba membicarakan masalah ini. Namun Kaspo masih ngeyel. ”Bilangnya (Kaspo): ini urusanku,” kenangnya.

Jumi masih bersikap sabar bertahan dengan sikap suaminya itu. Sampai suatu ketika, karena utang menumpuk, Kaspo pun sampai kesulitan membayar. Omongan ”ini urusanku” pun tak berlaku lagi. Justru malah Jumi yang harus berpikir keras untuk melunasi utang itu.

Baca Juga :  Berpaling ke Berondong

Jumi bekerja keras. Dari penghasilannya yang ia kumpulkan. Jumi pun bisa menutup utang itu. Tapi setelah itu Jumi meminta cerai. Menyudahi hubungan rumah tangga itu. Mereka pun saat ini sudah hidup sendiri-sendiri.

Jumi menikah lagi. Begitupun Kaspo. Meski sudah menikah lagi, ternyata sikap buruk laki-laki itu, tak kunjung mari. Kaspo masih konsisten dengan ”passion-nya”. Utang sana-sini.  Karena makin parah, sampai-sampai saudara-saudaranya mengeluhkan sikapnya. Yang tak sekadar suka utang, tapi juga sikapnya yang belagu.

”Ngotot terus. Dibilangin sulit,” kata salah satu saudaranya mengeluh. Karena itu, saudara-saudaranya sudah angkat tangan. Membiarkan dan tak ambil pusing dengan urusan Kaspo. (vah/lin)






Reporter: Vachry Rizaldi Luthfipambudi

Most Read

Artikel Terbaru

/