Radar Kudus JawaPos.com | Inspirasi RSS News Feed http://radarkudus.jawapos.com/rss/85/inspirasi http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarkudus-logo1.png http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarkudus-logo1.png Radar Kudus JawaPos.com | Inspirasi RSS News Feed http://radarkudus.jawapos.com/rss/85/inspirasi id Sat, 13 Apr 2019 23:55:22 +0700 Radar Tulungagung <![CDATA[Syiar Lewat Hobi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/13/131732/syiar-lewat-hobi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/13/syiar-lewat-hobi_m_1555199533_131732.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/13/syiar-lewat-hobi_m_1555199533_131732.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/13/131732/syiar-lewat-hobi

DI usianya yang masih belia, Syatta Imtiyaaz Thuvaila sudah memiliki sedugang aktivitas. Selain sebagai pelajar kelas VI di SD NU Nawa Kartika Kudus.]]>

DI usianya yang masih belia, Syatta Imtiyaaz Thuvaila sudah memiliki segudang aktivitas. Selain sebagai pelajar kelas VI di SD NU Nawa Kartika Kudus, Syatta -sapaan akrabnya- juga sering tampil di panggung-panggung hiburan. Mulai dari menyanyi, bermain musik, hingga bertausiyah.

Gadis kelahiran Kudus, 24 Mei 2007 ini, mengatakan, kepiawaiannya menyanyi ini merupakan hobinya sejak kecil. Sejak masih taman kanak-kanak (TK), Syatta mengaku sudah memiliki ketertarikan dengan dunia tarik suara. Ia pun mendalaminya dengan ikut les musik. ”Dari dulu memang saya suka menyanyi,” kata gadis berkulit putih ini.

Anak pasangan Muhammad Hilmy dan Nujumul Laily ini, mengaku bisa menguasai berbagai genre musik. Meski begitu, ia mengaku lebih sering membawakan lagu bertema religi saat tampil. Hal ini dipilihnya karena ia ingin bersyiar. ”Sama-sama menyanyi, sekalian bawakan nyanyian yang mengandung pesan baik,” ungkapnya.

Saat ini, ia sedang gandrung dengan grup musik Sabyan Gambus. Lagu-lagu dari grup musik yang digawangi Khoirunnissa alias Nisa Sabyan itu, hampir semua dikuasainya. Anak keempat dari lima bersaudara ini, juga lihai bermain biola. Tak jarang ia pun mengolaborasikan hobinya menyanyi dengan bermain biola.

Bakat Syatta ternyata tak hanya pandai bernyanyi dan memainkan biola. Gadis yang pernah berkolaborasi dengan grup musik Debu ini, juga pandai bertausiyah. ”Saya sering ikut ibu dan kakak saat tausiyah. Dari situ saya juga akhirnya tertarik untuk melakukan hal yang sama,” kata gadis yang bercita-cita sebagai desainer itu.

Meskipun aktivitas Syatta terbilang padat, namun ia cukup pandai mengatur waktu. Sekolah tetap menjadi prioritasnya. Hal ini terbukti selama ini ia tetap memiliki prestasi di bidang akademik. Hingga saat ini sejumlah kejuaraan berhasil ditaklukannya. Di antaranya juara pidato nasional di Aceh, juara I pidato tingkat provinsi, juara I baca puisi se-Kabupaten Kudus, juara II loba story telling se-Karesidenan Pati, juara II lomba solo song se-Karesidenan Pati, dan juara I MTQ tingkat kecamatan.

]]>
Ali Mustofa Sat, 13 Apr 2019 23:55:22 +0700
<![CDATA[Keluhan Pelanggan Dibalas Senyuman]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/09/130656/keluhan-pelanggan-dibalas-senyuman https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/09/keluhan-pelanggan-dibalas-senyuman_m_130656.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/09/keluhan-pelanggan-dibalas-senyuman_m_130656.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/09/130656/keluhan-pelanggan-dibalas-senyuman

BELUM pernah terbesit dalam pikiran Sri Falikhatun menjadi seorang barista. Karena kesibukannya sehari-hari dihabiskan untuk kuliah.]]>

BELUM pernah terbesit dalam pikiran Sri Falikhatun menjadi seorang barista. Karena kesibukannya sehari-hari dihabiskan untuk kuliah.

Menjadi barista sudah ditekuninya sejak setahun terkahir. Awalnya, ia hanya ingin mengisi waktu luangnya setelah kuliah dengan bekerja. Namun belum tahu jenis pekerjaannya apa. ”Waktunya di akhir semester kan agak luang. Dari pada menganggur, lebih baik bekerja. Selain dapat penghasilan juga membantu meringankan orang tua,” ujar gadis kelahiran Jepara, 21 November 1996 ini.

Salah satu kakak kelasnya di kampus memiliki usaha coffee shoop. Kemudian menawarkannya pekerjaan sebagai barista. Tanpa pikir panjang, ia bersedia. Meskipun tidak memiliki pengetahuan tentang kopi saat itu. Namun ia bersedia, karena motivasi bekerja apa pun yang penting bisa menambah penghasilan.

”Orang tua sudah membantu biaya kuliah. Untuk sehari-hari saya harus cari uang sendiri,” tutur mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) ini.

Selama menjadi barista, dia butuh waktu sebulan untuk penyesuaian. Mulai jenis kopi hingga cara pembuatannya. Itu pun terkadang pesanan pelanggan kurang sesuai. Baru setelah setengah tahun, kemampuan meracik kopi dan minuman ia kuasai.

”Awal-awal diprotes sama pelanggan. Cita rasanya kurang pas. Itu jadi pembelajaran buat saya,” katanya.

Untuk menghadapi pelanggan, ia selalu menerapkan pelayanan ramah. Senyum dan sapa diberikan saat menawarkan menu dan mengantarkan menu. Itu prinsip yang dia gunakan. ”Meskipun ada keluhan dari pelanggan. Cara mereka menyampaikan santun. Karena saya juga berusaha santun kepada pelanggan,” tandasnya.

]]>
Ali Mustofa Tue, 09 Apr 2019 11:15:41 +0700
<![CDATA[Bisa Travelling Sekaligus Bisnis]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/09/130561/bisa-travelling-sekaligus-bisnis https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/09/bisa-travelling-sekaligus-bisnis_m_130561.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/09/bisa-travelling-sekaligus-bisnis_m_130561.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/09/130561/bisa-travelling-sekaligus-bisnis

MENYUKAI travelling sekaligus fashion, membuat Anis As Sajdah mulai kepikiran untuk membuka bisnis baju muslimah. Sebab, setiap travelling tujuannya untuk foto.]]>

MENYUKAI travelling sekaligus fashion, membuat Anis As Sajdah mulai kepikiran untuk membuka bisnis baju muslimah. Sebab, setiap travelling tujuan utamanya untuk mendapatkan foto yang bagus dari model pakaian yang ia pakai.

”Ide bisnis muncul dengan sendirinya, karena saat saya unggah hasil travelling ke media daring pribadi banyak yang menanyakan baju saya beli dimana. Kebetulan setiap saya travelling dan foto, baju yang saya pakai selalu baju baru,” ujarnya.

Karena dirasa boros, Gadis kelahiran Grobogan, 17 Februari 1994 ini mulai memutar otak hobinya ini tetap tersalurkan. Maka Anis pun memulai bisnis.

Anis dibantu saudaranya mulai merintis bisnis dari nol. Dibantu penjahit pribadinya, ia pun belajar membuat desain baju sendiri dengan mencari referensi di google. Setelah jadi, ia mengunggahnya di media pribadinya.

”Saya menjadi model di bisnis saya sendiri. Karena kebetulan kan saya hobi foto. Jadi sekaligus mengenalkan tempat travelling dan promosi baju juga,” katanya alumni STIE Atma Bhakti Surakarta ini.

Meski terbilang baru merintis, Anis memiliki pengalaman unik ketika ia bepergian memakai baju dari brandnya sendiri. ”Saat itu ada yang bilang baju yang saya pakai model dan kombinasi warnanya bagus dan cocok. Saya bangga dong bilang kalau produksi bisnis sendiri. Tentu membuat saya lebih percaya diri berbisnis,” katanya.

Meski begitu, Anis memiliki impian besar. Ke depan ia berharap bisnisnya semakin bisa dikenal banyak orang hingga bisa membuka konveksi sendiri dan mulai merekrut karyawan.

]]>
Ali Mustofa Tue, 09 Apr 2019 00:22:55 +0700
<![CDATA[Kuasai Enam Tari Tradisional]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130547/kuasai-enam-tari-tradisional https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/kuasai-enam-tari-tradisional_m_130547.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/kuasai-enam-tari-tradisional_m_130547.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130547/kuasai-enam-tari-tradisional

TARIAN tradisional tetap saja menarik minat seseorang. Dela Rizki Safitri misalnya. Gadis kelahiran Pati, 3 Desember 2002 ini mahir enam tarian tradisional.]]>

TARIAN tradisional tetap saja menarik minat seseorang. Dela Rizki Safitri misalnya. Gadis kelahiran Pati, 3 Desember 2002 ini bahkan sampai mahir enam tarian tradisional. Dia mengaku tertarik tarian tradisional tersebut karena keunikannya.

Dela sapaan akrabnya, mulai kelas VII SMP sudah menggemari tarian tersebut. Selain unik, dia tertarik karena sejak kecil sering melihat orang menari. Di daerahnya, masih sering pentas kesenian-kesenian lokal.

”Ya selain unik, saya juga bisa ikut melestarikan kesenian asli Indonesia. Kalau bukan anak muda seperti kita siapa lagi. Apalagi dibanding dengan tarian modern atau dari luar negeri, tarian tradisional juga tak kalah menariknya. Mulai dari musik pengiring, gerakan, sampai pada kostumnya,” papar gadis yang masih duduk di kelas X SMAN 1 Kayen ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dela, paling menggemari tarian tradisional terlebih dari gerakan-gerakan, juga ekspresi wajah sang penari. Menurutnya, itu memliki makna tersendiri. ”Uniknya dan menariknya lebih kesana,” terang gadis yang tinggal di Desa Keben, Kecamatan Tambakromo ini.

Dela mengaku, hingga sekarang masih terus mempelajari tarian-tarian tradisional di seluruh Indonesia. Saat ini penyuka warna biru ini telah mahir memainkan enam tarian. Diantaranya tari jaipong, tari sesonderan, tari goyang-goyang, tari soyong, tari jaimasan, dan juga tari genjring. Selama belajar menari, lanjut Dela, menurutnya tak banyak kendala berarti.

”Paling sulit saat harus memenuhi kriteria penilaian seperti wiraga dan sikap tubuh dalam menari. Kesannya lumayan lelah. Ibaratnya kalau menari itu rasanya sudah seperti lari 100 meter. Tapi tetap seru dan menarik,” imbuh Dela.

]]>
Ali Mustofa Mon, 08 Apr 2019 23:35:02 +0700
<![CDATA[Dekatkan Dewan dengan Masyarakat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130365/dekatkan-dewan-dengan-masyarakat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/dekatkan-dewan-dengan-masyarakat_m_130365.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/dekatkan-dewan-dengan-masyarakat_m_130365.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130365/dekatkan-dewan-dengan-masyarakat

SEBAGAI orang humas di Sekretariat Dewan DPRD Kabupaten Pati, Tuti Herawati membuat sejumlah terobosan. Banyak hal yang dilakukan perempuan lulusan Undip ini.]]>

SEBAGAI orang humas di Sekretariat Dewan DPRD Kabupaten Pati, Tuti Herawati membuat sejumlah terobosan. Ada banyak hal yang dilakukan perempuan lulusan S1 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro Semarang ini.

Hera sapaan akrabnya memberikan kesempatan kepada peserta didik dari TK, SD, SMP yang ingin belajar dan mengenal lembaga legislatif yang terhormat. Dengan video singkat tentang profil DPRD, dan kunjungan ke kantor langsung, diharapkan mereka memahami tugas dan fungsi DPRD.

Selain itu terobosan lain yang dilakukan Hera misalnya dengan mengangkat isu-isu strategis yang menjadi trending topic di masyarakat melalui media masa cetak dan elektronik.

Selain itu, terobosan lain yang dilakukan Hera misalnya soal mengangkat isu-isu strategis yang sangat penting untuk diketahui masyarakat. Hera intens merangkul media terpercaya terutama koran, radio, dan juga televisi untuk kegiatan talkshow, maupun pemberitaan penting lainnya. Dengan merangkul media massa tersebut, pihaknya berharap masyarakat mendapat berita yang benar dan mengetahui secara pasti tentang berita-berita tersebut sehingga terhindar dari hoax.

”Ya tentunya sebagai humas saya memang berkomitmen untuk memberikan kontribusi langsung ke masyarakat. Utamanya informasi-informasi yang memang dibutuhkan mereka. Termasuk nanti rencananya kami akan lakukan talkshow baik tv dan radio,” terang perempuan yang kini menjabat sebagai Kasubag Humas dan Perpustakaan Setwan DPRD Kabupaten Pati ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Selain itu, pihaknya juga mulai intens untuk mengaktifkan website milik DPRD Kabupaten Pati sendiri. Terutama untuk profil-profil personal seluruh  anggota DPRD Kabupaten Pati yang ada.

”Sekali lagi itu memang demi untuk mendekatkan kepada masyarakat. Sekaligus bisa menyampaikan informasi-informasi yang sebetulnya diperlukan masyarakat,” imbuh perempuan yang tinggal di Perumahan Pesona Bumi Mandiri I, Desa Tambaharjo ini.

]]>
Ali Mustofa Mon, 08 Apr 2019 11:28:57 +0700
<![CDATA[Hafizah Oke, Wirausaha Top]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130344/hafizah-oke-wirausaha-top https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/hafizah-oke-wirausaha-top_m_130344.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/hafizah-oke-wirausaha-top_m_130344.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130344/hafizah-oke-wirausaha-top

KECINTAANNYA terhadap Alquran membuatnya menjadi hafizah. Meski demikian, dia tetap mengembangkan bidang lain. Yakni menggeluti bisnis.]]>

KECINTAANNYA terhadap Alquran membuatnya menjadi hafizah. Meski demikian, dia tetap mengembangkan bidang lain. Yakni menggeluti bisnis. Pilihannya menjadi produsen mi lidi.

Hal ini karena dia memang suka dengan mi yang berbentuk lidi ini. Selain itu, dia juga bangga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi teman-temannya. ”Saya ingin bisa bermanfaat bagi keluarga, teman, dan masyarakat,” terangnya.

Untuk itu, putri kelima dari pasangan Muzaiyin dan Suripah ini, bergelut dalam wirausaha. Hasilnya lumayan. Bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu sesama. Bahkan, kalau ramai sehari bisa meraup keuntungan Rp 1 juta.

Menurut perempuan yang tinggal di Desa Purworejo, Kecamatan Kota, Blora, ini, usaha dan kerja keras yang dihasilkan dari keringat sendiri itu lebih mberkahi. Sebab dilandasi dengan kecintaan, doa, keikhlasan, dan kasih sayang.

”Mi lidi itu jajanan yang sudah lama menghilang. Saya dan suami ingin menghadirkan kembali jajanan semasa kecil kami. Terlebih lagi banyak yang suka dan bisa menghasilkan,” jelas alumni MA Roudhotus Subyan Pati ini.

Untuk menjual hasil produknya tersebut, saat ini dia sudah punya beberapa stokis di beberapa tempat di Kabupaten Blora. Sehingga pelanggan dan pencinta mi lidi bisa dengan mudah mendapatkan. ”(stokisnya) ada yang di belakang Ponpes Khozin di rumah Ibu Ainun atau Ibu Nakhla. Ada yang di Kecamatan Japah,” terang santri PPTQ Asnawiyah Demak ini.

Dia berharap, usahanya ini bisa memberikan keberkahan kepada banyak orang. Termasuk teman-temannya yang ikut bergabung berwirausaha. ”Asal diniati dengan baik dan terus berdoa, insya Allah kita tidak akan kekuarangan,” jelasnya.

Gadis yang selalu berhijab ini mengaku, keberhasilannya dalam menghafal Alquran dan berwirausaha ini, bukan diraihnya secara instan dan sendirian. Butuh waktu dan berkat doa serta usaha orang tua dan suaminya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 08 Apr 2019 09:39:03 +0700
<![CDATA[Belajar Bareng Model Profesional]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129845/belajar-bareng-model-profesional https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/05/belajar-bareng-model-profesional_m_1554445618_129845.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/05/belajar-bareng-model-profesional_m_1554445618_129845.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129845/belajar-bareng-model-profesional

BEBERAPA tahun menekuni bidang modeling membuat Hesti Mayang Sari semakin matang. Meski begitu, dia tak cepat puas. Gadis ini terus belajar model profesional.]]>

BEBERAPA tahun menekuni bidang modeling membuat Hesti Mayang Sari semakin matang. Meski begitu, dia tak cepat puas. Gadis ini terus belajar. Salah satunya dengan model-model profesional yang memiliki jam terbang lebih tinggi.

Perempuan kelahiran Jepara, 20 November 1999 ini menceritakan, baru-baru ini dia turut serta menjadi model dalam acara launching Komunitas Fotografi Indonesia Solo. Di sana, gadis yang akrab disapa Mayang ini bertemu dengan model dari berbagai daerah.

Dara yang beralamat di RT 2/RW 1, Desa Menganti, Kedung, tersebut melanjutkan, dia merasa bangga bisa ambil bagian di even tersebut. Terlebih di sana dia bisa bertemu dengan para model profesional dan belajar bersama.

”Tambah relasi dan tambah ilmu juga. Banyak model profesional dari Surabaya, Jogja, Madiun sehingga bisa belajar pose dari mereka sebagai tambahan referensi,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Di acara itu, mahasiswi Unisnu Jepara ini tampil menggunakan hippies style. Hal itu juga memberinya kesan tersendiri lantaran jarang tampil menggunakan tema tersebut.

Mengenai pengalamannya di bidang modeling, Mayang menambahkan, setahu terakhir dia juga sering tampil di berbagai kota. ”Tak hanya di Jepara. Sering juga diundang di Semarang,” pungkasnya.

]]>
Ali Mustofa Fri, 05 Apr 2019 13:17:53 +0700
<![CDATA[Gara-Gara Kerap Jadi Model]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129831/gara-gara-kerap-jadi-model https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/05/gara-gara-kerap-jadi-model_m_1554444777_129831.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/05/gara-gara-kerap-jadi-model_m_1554444777_129831.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129831/gara-gara-kerap-jadi-model

MENJADI desainer kebaya yang membuatnya berada di lingkungan modelling, membuat Alvionita Dhita Fransiskha perlahan mulai belajar make up.]]>

MENJADI desainer kebaya yang membuatnya berada di lingkungan modelling, membuat Alvionita Dhita Fransiskha perlahan mulai belajar make up. Sekiranya Alvi membutuhkan waktu enam bulan untuk mengenal make up.

Siswa alumni SMAN 1 Purwodadi ini mengaku, tak biasa memakai make up dalam kesehariannya. Bahkan, kali pertama tertarik belajar saat dia duduk di bangku SMA. ”Awalnya memang nggak kepikiran buat belajar make up. Aslinya cuek banget dan suka tampil tanpa make up, tapi karena sering dijadikan model make up jadi penasaran,” jelasnya.

Saking penasarannya, dia pun mulai tertarik untuk mengikuti les selama enam bulan. Gadis yang beralamat di Jalan Kusuma Bangsa Kecamatan Wirosari ini pun langsung memberanikan diri merias wajah orang lain.

Setelah dirasa sudah lihai, ke depan dia ingin mengembangkan skill-nya itu untuk membuka jasa make up artist (MUA). Hal itu didukung dengan bisnis yang sebelumnya telah dimiliki, yakni desainer kebaya yang sekaligus menyewakan kebaya.

”Kan berhubungan, jadinya ingin sekalian dikembangkan. Sewa kebaya sekaligus bisa sekalian rias, bisa dibuat paketan. Ke depan harapannya bisa membuka lapangan pekerjaan buat teman-teman. Saat ini masih usaha kecil,” katanya.

Meski begitu, Alvi pun menceritakan pengalaman uniknya saat awal merias wajah orang lain. ”Saat itu yang mau dirias bangunnya kesiangan. Dia sampai nangis karena takut kalau nggak kebagian make up. Akhirnya dengan waktu seadanya, Cuma 20 menit saya gunakan untuk merias sama hair do. Padahal biasanya saya butuh 30 menit untuk make up saja,” ujarnya.

]]>
Ali Mustofa Fri, 05 Apr 2019 11:38:13 +0700
<![CDATA[Berdayakan Kaum Milenial]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129818/berdayakan-kaum-milenial https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/05/berdayakan-kaum-milenial_m_129818.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/05/berdayakan-kaum-milenial_m_129818.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129818/berdayakan-kaum-milenial

GAYA hidup sehat kini menjadi sebuah kebutuhan. Termasuk dalam hal perawatan kulit dengan bahan alami atau organik. Perawatan ini menjadi kebutuhan wanita.]]>

GAYA hidup sehat kini menjadi sebuah kebutuhan. Termasuk dalam hal perawatan kulit dengan bahan alami atau organik. Di tengah rutinitas padatnya aktivitas, perawatan ini menjadi kebutuhan bagi kaum hawa. Termasuk bagi Fernanda Lea Pramadilla.

Di tengah kesibukannya bekerja di hotel, Lea selalu membiasakan hidup sehat. Termasuk dalam perawatan wajah. Dirinya lebih percaya bahan yang organik. Salah satunya lewat pemanfaatan masker organik.

”Tidak hanya saya gunakan pribadi. Tapi saya bersama teman merintis usaha pembuatan masker organik,” kata dara kelahiran Rembang, 1 Maret 1996 ini.

Hasilnya cukup menggembirakan. Masker organik produksinya diminati konsumen. Tidak hanya konsumen asal Rembang, namun sampai luar Jawa. Termasuk sudah punya sekitar 100 reseller yang jualan online.

Dia memproduksi masker organik ini sudah sekitar setahun terakhir. ”Kami bikin banyak varian. Ada green tea, milk, dan coffe. Fungsinya berbeda-beda. Ada yang mencegah jerawat dan ada yang mengangkat racun,” terang warga Pelabuhan No 44, RT 4/RW 1, Tasikagung, Rembang, ini.

Ini tak sekadar melatihnya menjadi entrepreneur. Namun, juga memberdayakan anak-anak muda, khususnya yang masih duduk di bangku SMA. Mereka diajak untuk usaha bersama. Dalam sepekan ada sekitar 4 ribu produk yang dipasarkan. Baik pemasaran langsung atau online.

Selain menjalankan bisnis ini, Lea masih dapat membagi waktu untuk mengembangkan bakatnya, make up artis (MUA). Baginya ilmu yang diperoleh harus dipraktikkan agar bermanfaat.

Lea memang pernah menimba ilmu dari salah satu guru make up nasional. Jadi, tidak hanya mengusai teori, namun dapat langsung praktik di customer.

”Kalau tawaran job (MUA), biasanya ramai jelang perpisahan atau kelulusan anak-anak sekolah mulai padat. Kalau lagi longgar saya juga membantu make up wedding. Kebetulan tidak menggangu pekerjaan, sebab saya kerja dengan model shift. Jadi, pintar-pintar membagi waktu saja,” imbuh perempuan yang jadi front desk agent hotel tersebut. 

]]>
Ali Mustofa Fri, 05 Apr 2019 10:40:21 +0700
<![CDATA[Berkesan Dampingi Siswa Berhari-hari]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/04/129514/berkesan-dampingi-siswa-berhari-hari https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/04/berkesan-dampingi-siswa-berhari-hari_m_129514.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/04/berkesan-dampingi-siswa-berhari-hari_m_129514.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/04/129514/berkesan-dampingi-siswa-berhari-hari

SELAMA dua tahun terakhir dipilih Hirzatun Nafisah menjadi pengajar tetap ekstrakurikuler pramuka di Malang. Ia meluangkan waktunya mengajar pramuka.]]>

SELAMA dua tahun terakhir dipilih Hirzatun Nafisah menjadi pengajar tetap ekstrakurikuler pramuka di Malang. Dara asli Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Pati, ini meluangkan waktunya mengajar pramuka di sela-sela penggarapan skripsinya, karena suka dengan bidang itu sejak madrasah ibtidaiyah (MI).

“Sejak MI itu sudah menyukai kegiatan pramuka. Saya cukup aktif ketika ada kegiatan pramuka di sekolah. Saya menyukai pramuka karena menguntungkan dalam beberapa aspek. Salah satunya melatih kemandirian, disiplin, dan kerja keras,” tutur perempuan yang akrab disapa Hirza ini kemarin.

Keaktifannya di bidang tersebut berlanjut hingga kuliah. Bahkan sejak 2017 lalu hingga sekarang, dirinya diminta menjadi pengajar tetap di SMKN 7 Malang dan SMA Brawijaya Smart. Ia menerima tawaran itu karena berniat berbagi pengalaman dengan siswa. Terlebih mengajar bisa menambah pengalamannya.

“Mengajar pramuka saya lakukan di sela-sela kuliah. Apalagi saya mengajar di SMK dan SMA, jadi harus benar-benar mengatur waktu. Banyak pengalaman mengajar pramuka. Terutama saat ada kegiatan kemah di luar. Itu pengalaman tak terlupakan soalnya membutuhkan waktu 2-3 hari bersama anak-anak,” ucapnya.

Dara kelahiran Pati, 16 Desember 1997 ini mengatakan, saat ini tengah sibuk mengerjakan skripsi. Mahasiswi Jurusan Fisika Universitas Brawijaya Malang ini masih tetap aktif di kegiatan lainnya yakni di Ikatan Keluarga Mahasiswa Pati di Malang, belajar modeling, hingga menyanyi beberapa cover lagu.

]]>
Ali Mustofa Thu, 04 Apr 2019 09:22:55 +0700
<![CDATA[Enjoy Jadi Asisten Dosen]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/02/129111/enjoy-jadi-asisten-dosen https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/02/enjoy-jadi-asisten-dosen_m_129111.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/02/enjoy-jadi-asisten-dosen_m_129111.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/02/129111/enjoy-jadi-asisten-dosen

BAGI Shahnaz Surayya menjadi asisten dosen merupakan sebuah kebanggaan. Terlebih dia menjadi asisten dosen pada mata kuliah yang disukainya.]]>

BAGI Shahnaz Surayya menjadi asisten dosen merupakan sebuah kebanggaan. Terlebih dia menjadi asisten dosen pada mata kuliah yang disukainya.

Dara kelahiran Jepara, 17 Februari 1999 ini menceritakan, saat ini dia masih semester dua. Namun dia telah dipercaya menjadi asisten dosen mulai semester lalu. Dia menjadi asisten dosen dari Diah Ayu Mawarti di semester 4 prodi PGSD Unisnu Jepara. ”Tugasnya membantu dosen dalam pelaksanaan mata kuliah seni tari yang diampu oleh beliau,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Perempuan yang tinggal di Perumnas Bangsri Indah Jepara tersebut melanjutkan, dia memang menyukai seni tari. Sejak usia 5 tahun dia telah belajar menari. Mulai dari tari tradisional, kreasi dan lainnya.

Dengan menjadi asisten dosen, tak hanya kemampuan menari kemampuannya mengajar juga diasah. ”Senangnya apabila mahasiswa mudah untuk mengikuti instruksi dari kita,” urainya.

Mahasiswi Unisnu Jepara jurusan PGSD ini mengatakan, saat ini dia aktif di berbagai organisasi. Mulai dari Pusat Informasi dan Konseling (PIK) PIKIR, Forum Kajian Jender (FKJ) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa PGSD hingga Racana Unisnu. Prestasinya cukup banyak. Baru-baru ini dia menjadi Juara 3 Duta Genre Kabupaten Jepara 2019 sekaligus mendapat juara Favorit

]]>
Ali Mustofa Tue, 02 Apr 2019 09:59:38 +0700
<![CDATA[Olah Vokal Lima Menit Sehari]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/29/128287/olah-vokal-lima-menit-sehari https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/29/olah-vokal-lima-menit-sehari_m_128287.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/29/olah-vokal-lima-menit-sehari_m_128287.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/29/128287/olah-vokal-lima-menit-sehari

MEMASUKI semester akhir, Eka Fitri Suryani tidak merasa terganggu dengan rutinitasnya di dunia hiburan. Ia tetap menyalurkan bakatnya di luar aktivitasnya.]]>

MEMASUKI semester akhir, Eka Fitri Suryani tidak merasa terganggu dengan rutinitasnya di dunia hiburan. Selain fokus menyelesaikan tugas akhir, ia juga tetap menyalurkan bakatnya di luar aktivitasnya sebagai mahasiswi.

Gadis kelahiran Jepara, 10 Maret 1995 ini, mulai menggeluti dunia entertainment sejak 2013 lalu. Mulai jadi pembawa acara resmi, pernikahan, ulang tahun, gathering, sekaligus menjadi penyanyi. ”Suka aja dengan tampil di depan banyak orang. Bisa mengasah kemampuan komunikasi,” katanya.

Untuk menjaga performence saat tampil tetap prima, ia mengaku selalu latihan sebelum acara. Meski rutinitasnya itu sudah ia jalani lima tahun terakhir, tak jarang rasa grogi tetap ada. Jadi, butuh persiapan awal sebelum tampil.

”Saya mengasah kemampuan berbicara di muka umum untuk stabilitas kepercayaan diri,” tutur mahasiswi Program Studi S1 Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara ini.

Seperti ketika akan tampil sebagai penyanyi dalam sebuah acara, setidaknya ia harus olah vokal setiap harinya. Lima menit setiap hari selalu dia luangkan untuk mengolah vokal. Sedangkan untuk kemampuannya sebagai pembawa acara, ia menambah literasi dengan rajin membaca buku.

”Jadi pembawa acar harus luas pandangan dan pengetahuannya. Setidaknya mengetahui berita ter-update. Biar tak monoton itu-itu saja yang diucapkan saat membawakan acara,”  ujar gadis yang menjadi finalis Duta Wisata Jepara 2018 ini.

]]>
Ali Mustofa Fri, 29 Mar 2019 09:02:37 +0700
<![CDATA[Terbiasa Dinyanyikan Qasidah]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/28/128090/terbiasa-dinyanyikan-qasidah https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/28/terbiasa-dinyanyikan-qasidah_m_128090.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/28/terbiasa-dinyanyikan-qasidah_m_128090.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/28/128090/terbiasa-dinyanyikan-qasidah

BUAH tak jatuh dari pohonnya. Ungkapan ini sangat cocok bagi gadis bernama lengkap Veka Mey Syelina. Pasalnya ia menuruni bakat ibunya yang apik dalam bernyanyi]]>

BUAH tak jatuh dari pohonnya. Ungkapan ini sangat cocok bagi gadis bernama lengkap Veka Mey Syelina. Pasalnya ia menuruni bakat ibunya yang apik dalam bernyanyi lagu qasidah. Ia bercerita sering didengarkan lagu qasidah sejak kecil.

“Ibu dulu penyanyi. Sering juga saya didengarkan lagu rebana dari kecil. Jadi sampai saat ini ya suka,” katanya.

Veka sapaan akrabnya awalnya berkecimpung dalam dunia rebana sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia mengawali dunia tarik suara. Ikut dalam kegiatan paduan suara. Hingga SMA Veka sering tampil dalam hajatan acara.

“Inginnya dulu megang alat saat rebana. Tetapi teman-teman meminta saya menjadi vokalis,” katanya.

Buah kedisplinannya menjadi vokalis rebana membuahkan hasil maksimal. Veka mampu meraih juara ke tiga se-Karesidenan Pati 2019. Pada saat itu mengikuti lomba IPNU di Balai Desa Prambatan Lor.

Veka mengaku tak melakukan latihan khusus ketika memenangi kejuaran itu. Ia hanya sering mendengarkan lagu dan mempelajari cengkoknya. Setiap kali tidur Veka juga mendendangkan lagu. “Hanya bernyanyi saja ketika menjelang tidur. Itu sering saya lakukan,” katanya.

Di sela hobinya itu, Veka juga sedang fokus kuliah kebidanan. Ia berharap kuliahnya bisa lulus tahun ini. Serta hobi bernyanyinya bisa dikembangkan setelah lulus nanti. (gal)

]]>
Ali Mustofa Thu, 28 Mar 2019 08:44:53 +0700
<![CDATA[Bikin Masker Wajah Berbahan Kopi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/27/127853/bikin-masker-wajah-berbahan-kopi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/27/bikin-masker-wajah-berbahan-kopi_m_127853.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/27/bikin-masker-wajah-berbahan-kopi_m_127853.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/27/127853/bikin-masker-wajah-berbahan-kopi

GADIS bernama Irma Yuliana Afianti terbilang pintar memanfaatkan peluang. Sebagai masyarakat yang tinggal di pegunungan, Irma, sudah tak asing lagi dengan kopi.]]>

GADIS bernama Irma Yuliana Afianti terbilang pintar memanfaatkan peluang. Sebagai masyarakat yang tinggal di pegunungan, Irma, sapaan akrabnya, sudah tak asing lagi dengan kopi. Di rumahnya yang berada di RT 3/RW 5 Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus memang banyak ditemukan perkebunan kopi. Bahkan di sana juga terkenal dengan Kopi Japannya.

Melihat banyaknya ketersediaan kopi, gadis yang berprofesi sebagai guru di SMK Banat Kudus ini memiliki ide untuk berkreasi. Kopi yang biasanya hanya dikonsumsi sebagai minuman, ia sulap menjadi produk lain. Irma membuat masker wajah berbahan kopi Japan.

”Sayang saja kalau tidak dimanfaatkan. Kalau bisa diinovasikan kenapa tidak,” kata perempuan kelahiran Kudus, 7 Juni 1990 ini.

Ide berbisnis maskes kopi ini berawal ketika Irma usai meminum ngopi. Saat itu, ia tiba-tiba ingin maskeran. Melihat ada bubuk kopi, ia pun mencoba maskeran dengan menggunakannya. Ternyata setelah memakai masker kopi, ia merasakan manfaat yang tak jauh berbeda ketika maskeran dengan masker instan yang dibeli di toko.

”Dari itulah saya akhirnya terbiasa memakainya. Hingga akhirnya kepikiran untuk menjualnya,” ujarnya.

Anak pasangan Rubawi dan Siti Purwanti ini sebelumnya tak menyangka jika keisengannya ini justru bisa mendatangkan pundi-pundi uang. Saat ini uang hasil berjualan masker ditabung untuk nanti mengembangkan usahanya.

”Dari awal berjualan saya selalu melakukan evaluasi. Awalnya saya hanya pakai plastik bening biasa sebagai kemasannya. Namun seiring berjalannya waktu saya akhirnya menemukan packaging yang pas buat produk saya ini,” jelasnya.

Irma mengaku tak pernah bosan untuk berinovasi. Bahkan nantinya ia juga ingin berkreasi dengan kopi lagi untuk bisa menghasilkan produk lainnya yang belum ada di pasaran.

]]>
Ali Mustofa Wed, 27 Mar 2019 08:20:53 +0700
<![CDATA[Aktif di Organisasi Kampus hingga Modeling]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/26/127631/aktif-di-organisasi-kampus-hingga-modeling https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/26/aktif-di-organisasi-kampus-hingga-modeling_m_127631.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/26/aktif-di-organisasi-kampus-hingga-modeling_m_127631.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/26/127631/aktif-di-organisasi-kampus-hingga-modeling

AKTIVITAS kuliah Putri Rahmatika Safitri cukup padat. Namun, tetap mampu mengembangkan potensinya di bidang lain. Saat ini, dia aktif di panggung modeling.]]>

AKTIVITAS kuliah Putri Rahmatika Safitri cukup padat. Namun, tetap mampu mengembangkan potensinya di bidang lain. Saat ini, dia aktif di organisasi kampus hingga panggung modeling di Kabupaten Jepara.

Perempuan yang beralamat di Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan, Jepara, ini, menceritakan, dia di kampus aktif di organisasi himpunan mahasiswa jurusan (HMJ). Dia dipercaya sebagai kepala bidang komunikasi eksternal.

”Itu fokus menangani relasi dan komunikasi eksternal antarkampus. Jadi, jika ada informasi dari kampus lain, masuk melalui saya dan saya teruskan pada teman-teman yang lain," katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bank BPD Jateng Semarang tersebut, melanjutkan, banyak hal baru yang dipelajarinya selama menjabat di bidang tersebut. Kemampuannya berkomunikasi dengan berbagai pihak pun semakin terasah. ”Jadi, makin banyak kenalan, banyak ilmu baru juga," terangnya.

Selain aktif di HMJ, gadis ini juga mengembangkan kemampuannya di bidang modeling. Hal tersebut dilakukannya di sela-sela aktivitas kampusnya. ”Sebenarnya untuk modeling sudah sejak 2016. Saat ini sering dipercaya menjadi model busana maupun tata rias pengantin. Belajar baik untuk jalan di catwalk maupun untuk pemotretannya," imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Tue, 26 Mar 2019 10:56:45 +0700
<![CDATA[Jatuh Bangun Urusi Usaha]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/25/127378/jatuh-bangun-urusi-usaha https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/25/jatuh-bangun-urusi-usaha_m_127378.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/25/jatuh-bangun-urusi-usaha_m_127378.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/25/127378/jatuh-bangun-urusi-usaha

DARA bernama lengkap Sofa Daniyatul Hana awalnya bekerja sebagai karyawan bank. Setelah resign, ia pun iseng-iseng berjualan pisang crispy toping.]]>

DARA bernama lengkap Sofa Daniyatul Hana awalnya bekerja sebagai karyawan bank. Setelah resign dari pegawai bank, ia pun iseng-iseng berjualan pisang crispy toping. Hal itu dilakukannya setelah melihat larisnya produk olahan pisang di Jogjakarta. Sofa mencoba melihat peluang bisnis itu dan mencoba menjajakannya di Kudus.

Usaha wiraswasta dapat dibilang menjadi tradisi di keluarganya. ”Tertarik karena hampir semua keluarga basic-nya wiraswasta. Jadi saya mencoba peruntungan saja. Kalau laku ya berlanjut, kalau tidak ya cari kerja lainnya,” jelasnya.

Usaha olahan pisang crispy-nya itu diberi nama banena. Berawal dari satu outlet saja, kini Sofa memiliki dua cabang. Berawal dari keisengannya, respon pelanggan terhadap produk pisang olahannya justru tinggi. Alhasil dirinya meneruskan usahanya itu dan telah memiliki dua outlet dan dua karyawan.

Usahanya terbilang berhasil. Meski pernah juga mengalami jatuh bangun. Setahun pertamanya profit penjualannya selalu tinggi. Namun, di pertengahan mulai ada pesaing. Demi mempertahankan profitnya itu, Sofa terus berupaya untuk menjunjung tinggi kualitas pisang crispynya. ”Alhamdulillah masih bisa eksis sampai saat ini,” pungkasnya.

Pengalaman sulit saat memasarkan usaha pisang crispy-nya itu juga dialami dara asal Kudus ini. Mulai dari mengenalkan produk dan memasarkannya kepada konsumen, hingga belum adanya karyawan sehingga segala sesuatu harus dikerjakannya seorang diri. ”Belum lagi soal COD-an jadi capeknya dobel-dobel,” terangnya.

Dara kelahiran Kudus, 9 Januari 1994, itu membeberkan soal kunci dalam menghadapi jatuh bangun usahanya. Yakni sabar, telaten, tidak mudah menyerah, dan selalu berinovasi menghasilkan produk-produk baru. Selain itu, dukungan orang tua sangat berperan bagi karir wirausahanya. Dukungan orang tuanya berupa modal untuk membuka outlet pisang crispy pertamanya.

Disinggung soal alasan memilih usaha pisang crispy, dara berusia 25 tahun ini mengaku hobi memasak dengan menu yang aneh-aneh. Kedepannya, dara yang doyan makan ini ingin memiliki usaha kuliner yang lebih banyak lagi. ”Ingin punya usaha lagi di bidang kuliner maupun di luar kuliner,” harapnya. (vga)

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Mar 2019 08:38:12 +0700
<![CDATA[Perdalam Tari untuk Jadi Pelatih]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/23/127030/perdalam-tari-untuk-jadi-pelatih https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/23/perdalam-tari-untuk-jadi-pelatih_m_127030.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/23/perdalam-tari-untuk-jadi-pelatih_m_127030.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/23/127030/perdalam-tari-untuk-jadi-pelatih

DARA bernama lengkap Fifi Aulia Puspitasari ini, cinta kesenian daerah. Hal ini ditunjukkan lewat keterampilan menari sejak masih kecil.]]>

DARA bernama lengkap Fifi Aulia Puspitasari ini, cinta kesenian daerah. Hal ini ditunjukkan lewat keterampilan menari sejak masih kecil. Hal ini dilakukan untuk nguri-uri kebudayaan Jawa. Untuk itu, saat punya waktu luang, dia isi dengan mengasah skill menarinya.

Fifi mengaku, ia suka menari awalnya sekadar melihat pertunjukan-pertujukan. Dari situlah ia tertarik mendalami. Hingga akhirnya memutuskan untuk belajar.

”Alhamdulillah orang tua support. Lalu, saya difasilitasi untuk berlatih di sanggar,” ungkap perempuan kelahiran Rembang, 16 Desember 1999 tersebut.

Dari situlah ilmunya diasah. Ia mulai mempelajari teori dan kemudian diikuti latihan gerakan. Kali pertama belajar, ia mengaku kaku. Namun lama-kelamaan luwes setelah terbiasa latihan.

Setiap kali latihan, ia ikuti dengan evaluasi. Saat ada kekurangan, ia tidak segan bertanya dengan guru pembimbing. Karena ini tidak sekadar menyalurkan hobi. Lebih dari itu, juga melatihnya menjadi perempuan feminin.

”Alhamdulillah usaha dan kerja keras tidak mengkhianati hasil. Kini, saya menguasai beberapa jenis-jenis tari tradisional dari berbagai daerah,” ucapnya.

Setelah menguasai sejumlah tari tradisional, warga Kecamatan Pamotan ini, kemudian mengikuti sejumlah lomba. Kebetulan ia diminta mewakili sekolahnya. Hasilnya, ia pun pernah mendapatkan juara terbaik.

Juara yang didapat itu, dari lomba tari tingkat Kabupaten Rembang. Namun, Fifi tidak puas dengan prestasi itu saja. Sebaliknya, ini menjadikannya terus memacu untuk memperdalam tari.

”Saya ingin skill menari terus berkembang. Syukur-syukur ke depan dapat menjadi seorang pelatih di kampung halaman saya,” imbuhnya. 

]]>
Ali Mustofa Sat, 23 Mar 2019 09:12:31 +0700
<![CDATA[Berkesempatan Kenal Daerah Terpencil]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/22/126802/berkesempatan-kenal-daerah-terpencil https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/22/berkesempatan-kenal-daerah-terpencil_m_126802.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/22/berkesempatan-kenal-daerah-terpencil_m_126802.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/22/126802/berkesempatan-kenal-daerah-terpencil

BERGABUNG menjadi tim partai politik menjadi pengalaman tersendiri bagi Susana Dewi Astutik. Selain bekerja, juga bisa mengenal daerah terpencil saat pendataan.]]>

BERGABUNG menjadi tim partai politik menjadi pengalaman tersendiri bagi Susana Dewi Astutik. Selain bekerja, pengalaman menarik yang didapatnya bisa mengenal daerah-daerah terpencil untuk melakukan pendataan relawan.

”Saya bertugas mendata relawan. Terkadang harus terjun ke daerah-daerah untuk mendapat data-data. Dari sana saya yang jarang keluar rumah berkesempatan bisa jalan-jalan sekaligus mengenal daerah-daerah yang cukup jauh dari rumah. Apalagi yang letaknya di pelosok-pelosok,” kata gadis kelahiran Pati, 14 November 1994 ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Susana -sapaan akrabnya- mengaku cukup tertantang dengan pekerjaan itu. Selain bisa berkesempatan jalan-jalan ke daerah terpencil, pengalaman bertemu banyak orang juga sangat menyenangkan sekaligus berkesan buatnya.

”Pastinya dapat banyak teman dan banyak kenalan. Itu sangat berharga. Menambah jaringan pertemanan kan sangat perlu,” papar alumni S1 Akuntansi Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang ini.

Selain itu, pengalaman menarik juga didapat gadis yang tinggal di Desa Gunungpati, Kecamatan Winong, ini. ”Yang pasti akan sangat menghargai uang. Soalnya nyarinya saja susah. Beda saat masih meminta orang tua. Ya akhirnya kita harus belajar mandiri lah,” ujar gadis yang sebelumnya pernah bekerja di sebuah bank di Ungaran ini.

]]>
Ali Mustofa Fri, 22 Mar 2019 10:45:35 +0700
<![CDATA[Perempuan Karir, Kenapa Tidak?]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/20/126254/perempuan-karir-kenapa-tidak https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/20/perempuan-karir-kenapa-tidak_m_126254.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/20/perempuan-karir-kenapa-tidak_m_126254.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/20/126254/perempuan-karir-kenapa-tidak

NAMANYA Rosera Lisaria Citra. Biasa dipanggil Lisa. Lulusan STIE Bank BPD Jateng ini, sekarang sibuk bekerja di salah satu bank yang ada di Kabupaten Blora.]]>

NAMANYA Rosera Lisaria Citra. Biasa dipanggil Lisa. Dia merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara. Lulusan STIE Bank BPD Jateng Semarang ini, sekarang sibuk bekerja di salah satu bank yang ada di Kabupaten Blora.

Menurutnya, kerja enam sehari dalam sepekan cukup menguras tenaga. Untuk itu, dia rutin menjaga stamina. Supaya tetap fit dalam bekerja. Salah satunya dengan minum madu sebelum tidur. Hal ini supaya menjaga agar tidak mudah kena virus dan sebagai tahan tubuh. ”Kondisi badan harus tetap diperhatikan. Apalagi lagi musim seperti ini,” terangnya.

Dara yang tinggal di Jalan Mustika Raya, No 73, Perumda Kunden, Blora, ini mengaku menjadi perempuan karir merupakan impiannya sejak lama. Selain bisa mandiri juga tidak merepotkan orang lain. Tentunya bisa membantu keluarga. Selain itu, juga bisa belajar lagi dan menumbuhkan semangat untuk mengembangkan potensi diri. ”Enak (jadi perempuan karir), bisa beli-beli pakai uang sendiri. Nggak minta lagi sama orang tua,” ucapnya.

Dalam bekerja, dia juga harus menjaga penampilan dan tutur kata. Ini untuk meyakinkan calon nasabah. Selain itu, juga memperhatikan cara mengatur keuangan. Bagaimana agar gaji bisa cukup untuk kebutuhan sendiri selama sebulan. Tentu masih bisa nabung.

Selain itu, harus punya catatan keuangan. Tujuannya, agar tidak besar pasak daripada tiang. ”Pantangannya, jangan laper mata setelah gajian. Hehe...,” cetusnya.

Meski sibuk dengan urusan kerja, perempuan lajang ini, suka memasak. Mulai dari sayur, cemilan, brownis kukus, pisang nugget, pisang bakar, ice cream, martabak manis, dan lainnya. Menurutnya, masak itu menyenangkan. Bahkan bisa menghilangkan badmood. ”Masak itu nyenengin, bisa bereksperimen dan nyoba resep-resep baru. Bisa juga untuk ngisi waktu luang di luar kesibukan sehari-hari,” terang perempuan kelahiran 15 Agustus 1996 ini.

Menurutnya, memasak itu mampu meningkatkan daya imajinasi dan rasa. Selain itu, menambah kepekaan. Untuk itu, memasak itu tidak boleh sembarangan, agar rasanya bisa nikmat.

Putri pasangan Sukaryo Pamungkas dan Sri Kuwati ini, juga suka dengan travelling. Selain itu, ia juga termasuk anak berprestasi. Bahkan, pernah juara I lomba drumband. ”Saya dulu jadi cheers dan mayoret,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga tidak lupa membagi waktu bersama keluarga. Untuk itu, setiap malam minggu dihabiskan untuk jalan-jalan dan makan bersama keluarganya.

]]>
Ali Mustofa Wed, 20 Mar 2019 08:38:38 +0700
<![CDATA[Tak Takut Cedera]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/19/126022/tak-takut-cedera https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/19/tak-takut-cedera_m_126022.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/19/tak-takut-cedera_m_126022.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/19/126022/tak-takut-cedera

HOBI olahraga basket dan modelling dimiliki Rita Septiana Tri Astuti. Meski berbeda karakter, hal itu tak menjadi masalah. Malah hobinya itu bisa berjalan.]]>

HOBI olahraga basket dan modelling dimiliki Rita Septiana Tri Astuti. Meski sangat berbeda karakter, hal itu tak menjadi masalah. Malah hobinya itu bisa berjalan beriringan.

”Kedua hobi itu saya mulai geluti sejak kelas VII SMP. Kebetulan saat itu aktif ikut kegiatan di sekolah. Mulai dari ekstrakurikuler basket hingga drumband. Terlebih saya menjadi mayoret karena memiliki postur tubuh tinggi,” katanya.

Sedangkan hobi basketnya itu kali pertama dimiliki Tata –sapaan akrabnya- ini karena rasa iseng dan penasaran dengan olahraga tersebut. Hobinya itu berlanjut hingga ia duduk di bangku SMA pada 2017.

”Lomba kali pertama ikut saat SMP. Saya sempat ikut lomba tingkat Jateng tapi kalah. Terus, saat SMA sekitar 2017 saya ikut lagi dan mendapat juara II di tingkat Jateng. Tahun lalu saya bersama tim berhasil menyabet juara I di tingkat Jateng,” paparnya.

Baginya, berbagai pengalaman unik didapat melalui basket. Gadis kelahiran Grobogan 22 September 2000 ini mengaku, bangga bisa mendapatkan banyak prestasi melalui hobinya itu.

”Paling bangga saat saya bisa masuk tim di Kabupaten Grobogan ini. Saya menjadi salah satu tim inti yang mewakili Grobogan di tingkat Porprov tahun lalu di Surakarta,” bangganya.

Meski berbagai prestasi diraih melalui basket, siswa SMAN 1 Purwodadi ini kerap mengalami cedera. Baginya, cedera menjadi makanan bulanan. Tata pernah cedera di lokasi bermain. Saat kelas X SMA, ia pun harus off basket selama sebulan.

”Dislokasi itu letaknya di kaki kanan saya. Sakitnya luar biasa. Namun hal itu tidak mengurangi rasa cinta saya terhadap basket,” katanya.

Meski kerap mengalami cedera, runner-up Mbak Grobogan ini tak pernah melewatkan latihan basket. Meski keesokkan harinya mendekati ujian, ia pun tetap aktif. Meski begitu, Tata pandai dalam membagi waktu. Sehingga hobinya ini tak mengganggu belajarnya yang menjadi kewajibannya.

]]>
Ali Mustofa Tue, 19 Mar 2019 10:15:16 +0700
<![CDATA[Menari Tradisional dengan Musik Modern]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/19/125981/menari-tradisional-dengan-musik-modern https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/19/menari-tradisional-dengan-musik-modern_m_125981.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/19/menari-tradisional-dengan-musik-modern_m_125981.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/19/125981/menari-tradisional-dengan-musik-modern

MEIFADELA Banu Trisetyaningtyas berdiri menghadap penonton. Sementara dua kawannya itu di belakang membelakangi penonton. Musik tradisional Soleram diputar.]]>

MEIFADELA Banu Trisetyaningtyas berdiri menghadap penonton. Sementara dua kawannya itu di belakang membelakangi penonton. Musik tradisional Soleram diputar. Ia mulai berlenggok, terhanyut mengikuti irama. Beberapa menit musik berhenti. Ia tukar posisi dengan kawan yang dibelakang tadi. Berjongkok. Jubah batiknya dilepas. Berganti pakaian ala dance modern. Musik berubah menjadi disko. Makin energik pula gerakannya.

Musik berhenti lagi. Gerakan energiknya tadi ditutup dengan posisi split. Pononton bertepuk tangan. Tanda Meifadela Banu Trisetyaningtyas sukses unjuk gigi dalam festival dance. Penampilannya dengan memadukan tari tradisional dan modern itu memang terlihat unik.

Dara kelahiran Grobogan, 16 Mei 1999 itu juga demikian. Ketertarikannya dengan dance karena melihat seni ini bisa dikombinasikan dengan tarian tradisional. ”Kita sebagai pemuda tidak boleh melupakan adatnya sendiri. Jadi tari tradisional ini bisa digabungkan dengan musik modern,” ujarnya.

Sejak Sekolah Dasar ia memang sudah aktif dance. Tetapi menginjak SMP ia mulai berpikir untuk banting setir ke tari tradisional. Setelah dicoba ia mulai terpincut dan makin menggelutinya. Karena ia merasa bisa menguasai seni gerak tubuh ini. Hingga ia pernah mengikuti tari kreasi dan mencoba mengombinasikan modern dan tradisional.

Dari hobinya ini sudah berbuah prestasi. Ia pernah meraih juara I tari di kabupaten. Tak hanya itu ia juga dibanjiri job-job tari. Baik di dalam Grobogan maupun luar Grobogan. Dara yang juga hobi bernyanyi ini juga pernah mendirikan sanggar tari di Pati. ”Tetapi sekarang sudah dipegang teman saya. Karena saya sibuk kuliah,” kata mahasiswi semester IV ini.

Melihat atmosfer dance yang begitu berkembang saat ini, ia berpesan agar jangan sampai melupakan tari tradisional. ”Ya jangan hanya dance modern. Tapi cobalah njawani. Di Grobogan kan banyak tari,” ungkapnya. (vah)

]]>
Ali Mustofa Tue, 19 Mar 2019 06:10:59 +0700
<![CDATA[Pilih Tenun Troso untuk Sesi Foto]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/18/125803/pilih-tenun-troso-untuk-sesi-foto https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/18/pilih-tenun-troso-untuk-sesi-foto_m_125803.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/18/pilih-tenun-troso-untuk-sesi-foto_m_125803.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/18/125803/pilih-tenun-troso-untuk-sesi-foto

SEBAGAI warga Jepara, Rossya Fina Rohmaturrohmania ingin ambil bagian dalam mempopulerkan produk lokal. Salah satu yang kini terus diangkatnya kain Tenun Troso.]]>

SEBAGAI warga Jepara, Rossya Fina Rohmaturrohmania ingin ambil bagian dalam mempopulerkan produk lokal. Salah satu yang kini terus diangkatnya kain Tenun Troso.

Dara yang beralamat di Desa Pekalongan, Kecamatan Batealit ini, menceritakan dia mempopulerkan kain tenun Troso melalui foto yang kemudian diunggahnya di media sosial.

Baru-baru ini dia dan teman-temannya juga memilih kain Tenun Troso untuk diangkat dalam sesi foto yearbook. ”Saya menyukai kain Tenun Troso dengan motif-motif etnik. Banyak motif dan warna bagus. Karena itu saat sesi foto saya juga menggunakan kain etnik,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Bagi pelajar kelas XII SMK Islam Jepara ini, kain tenun Troso tersebut memiliki corak yang unik. Saat ini kain Troso juga populer di kalangan remaja karena banyak diaplikasikan dalam bentuk busana yang indah. ”Jadi untuk mempopulerkannya dengan teman-teman saya di luar daerah. Harapannya semakin banyak yang menyukai kain tenun Troso ini,” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 18 Mar 2019 10:32:37 +0700
<![CDATA[Koleksi 50 Trofi Berkat Hobi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/16/125429/koleksi-50-trofi-berkat-hobi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/16/koleksi-50-trofi-berkat-hobi_m_125429.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/16/koleksi-50-trofi-berkat-hobi_m_125429.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/16/125429/koleksi-50-trofi-berkat-hobi

KOSTUM karnaval kuning penuh pernak-pernik gemerlap yang itu, membuat Kalinda Chidta tampak memesona pada parade seni budaya Grobogan beberapa waktu lalu.]]>

KOSTUM karnaval kuning penuh pernak-pernik gemerlap yang itu, membuat Kalinda Chidta tampak memesona pada parade seni budaya Grobogan beberapa waktu lalu. Ditambah sayap besar berukuran sekitar dua meter, semakin membuatnya anggun. Meskipun dia tampak keberatan memikul sayap itu. Bagaimana tidak. Beratnya saja hampir 25 kilogram.

”Berat sih tapi nggak papa. Saya suka,” ujarnya.

Memang, sepertinya dia enjoy menikmati kostum berat itu. Sebab, hobinya memang tentang fashion show. Hobi itu muncul sudah sejak kecil. Dia mengaku, awalnya sering melihat ibunya yang suka make up, membuatnya tertarik menggeluti dunia modeling.

Dari taman kanak-kanak (TK) dara kelahiran 26 April 2004 ini, juga sudah mengikuti berbagai lomba modeling. Mulai dari busana pesta hingga pakaian kasual. Berbagai kota sudah dia jamah dalam mengikuti lomba fashion show. Seperti Semarang, Solo, hingga Jogja.

Dipotret merupakan alasan suka menggeluti fashion show. Berbagai pose dia tampilkan dengan ciamik. Para pengunjung parade seni budaya Grobogan itu, banyak yang antre untuk berfoto dengannya.

Dia mengaku, dari hobi modeling ini, ia sudah mengoleksi puluhan prestasi. ”Kalau jumlahnya sudah banyak sih. Kalau 20 lebih. Ya sekitar 50-an piala dari berbagai lomba modeling ada di rumah,” ujarnya.

Orang tua juga mendukung penuh kegiatan yang ia geluti ini. Dari fashion show dia bisa mengambil pelajaran tentang percaya diri. ”Tidak malu di depan orang. Kalau ikut lomba lain juga bisa percaya diri,” imbuhnya. (vah)

]]>
Ali Mustofa Sat, 16 Mar 2019 09:47:01 +0700
<![CDATA[Boyong Tiga Juara Sekaligus]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/16/125422/boyong-tiga-juara-sekaligus https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/16/boyong-tiga-juara-sekaligus_m_125422.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/16/boyong-tiga-juara-sekaligus_m_125422.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/16/125422/boyong-tiga-juara-sekaligus

BERGABUNG dengan sanggar modeling dilakoni Dina Putri Susanti tiga bulan terakhir. Dari sana, ia berlatih keras menekuni dunia modeling yang diminati sejak SMK.]]>

BERGABUNG dengan sanggar modeling dilakoni Dina Putri Susanti tiga bulan terakhir. Dari sana, ia berlatih keras menekuni dunia modeling yang diminati sejak masuk SMK. Meski baru intens berlatih tiga bulan ini, ia memboyog tiga kejuaraan sekaligus di even Bintang Model Indonesia (BMI) 2019. Bahkan dari kejuaraan itu membuatnya melaju ke Singapura September nanti.

”Alhamdulillah seminggu lalu mendapatkan tiga kejuaraan lomba modeling Bintang Model Indonesia (BMI) 2019 di Jakarta. Yakni juara runner up II, juara harapan 1 busana pesta, dan juara harapan 3 busana batik,” kata gadis yang akrab disapa Dina ini.

Siswi kelas X Jurusan Kecantikan SMKN 3 Pati mengaku terjun di dunia modeling sejak masuk ke SMK dan ikut ekstrakurikuler modeling. Untuk menguatkan bakatnya, Dina masuk sanggar Nosa Modelling Pati selama tiga tahun terakhir. 

”Selama di sanggar, saya berlatih lebih intens. Banyak teman dan pelatih yang baik membuat saya semangat. Ternyata banyak ilmu tentang modeling yang tidak saya ketahui. Dari sana saya belajar banyak tak hanya praktik, tapi juga materi lainnya,” jelas pemilik tinggi badan 165 sentimeter ini. 

Gadis kelahiran Pati, 9 September 2002, ini mengatakan, banyak hal yang didapatkan dari modeling. Salah satunya menambah pengalaman dan prestasi. Bahkan prestasi yang diraih dapat membanggakan orang tua.

“Prestasi yang saya dapatkan ini membuat lebih semangat. Semuanya tidak ada yang instan, membutuhkan proses. Jadi semua yang saya lakukan membutuhkan proses dari bawah,” ucap warga Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil ini.

]]>
Ali Mustofa Sat, 16 Mar 2019 09:17:45 +0700
<![CDATA[Sempat Vakum, Kini Wakili Kudus]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/15/125193/sempat-vakum-kini-wakili-kudus https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/15/sempat-vakum-kini-wakili-kudus_m_125193.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/15/sempat-vakum-kini-wakili-kudus_m_125193.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/15/125193/sempat-vakum-kini-wakili-kudus

MENGIKUTI ekstrakurikuler (eskul) pramuka hukumnya wajib bagi semua siswa di sekolah. Bagi Difa Sabrina Anastasya mengikuti eskul pramuka memperkaya pengalaman.]]>

MENGIKUTI ekstrakurikuler (eskul) pramuka hukumnya wajib bagi semua siswa di sekolah. Namun, bagi Difa Sabrina Anastasya mengikuti eskul pramuka di sekolah bukan didasari menggugurkan kewajiban saja. Tetapi mampu memperkaya pengalaman dan pengetahuan.

”Kadang ya capek setelah pulang sekolah ada kegiatan. Namun sudah terlanjur suka, ya saya jalani saja,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Tasya -sapaan akrabnya- menekuni kegiatan pramuka sejak duduk di bangku madrasah ibtidaiyah (MI). Kemudian saat melanjutkan MTs ia sempat vakum dari kegiatan pramuka. Karena terbenturnya aktivitas di pesantren. ”Sebenarnya dulu masih ingin ikut, tetapi tak bisa meluangkan waktu,” katanya.

Gadis yang duduk di bangku kelas X SMK NU Banat ini, kini kembali melanjutkan eskulnya tersebut. Ia mengaku akan menjadi bagian dari tim yang mewakili Kabupaten Kudus di lomba Raimuna tingkat Jawa Tengah (Jateng) dalam dekat ini. Kegiatan itu nantinya akan digelar di Pati. Ia bergabung dengan tim Kabupaten Kudus. Kota Kretek sendiri diwakili 60 pelajar yang terdiri dari 30 siswa dan 30 siswi.

Kini, dia intensif menjalani latihan tiga kali dalam sepekan setelah pulang sekolah. Untuk itu, dia harus pintar mengatur waktu dan kondisi badan.

Tasya berharap bisa mengharumkan sekolahnya dan Kudus. Ia juga berkeinginan mengikuti jambore pramuka nasional nantinya. Sehingga pengalaman dan ilmu kian bertambah.

Selain mengikuti kegiatan pramuka, gadis mungil itu, juga tergabung dalam eskul tata busana, modeling, dan tata rias rambut. (gal)

]]>
Ali Mustofa Fri, 15 Mar 2019 09:37:55 +0700
<![CDATA[Terkesan Manggung Bersama Artis]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/14/124947/terkesan-manggung-bersama-artis https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/14/terkesan-manggung-bersama-artis_m_124947.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/14/terkesan-manggung-bersama-artis_m_124947.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/14/124947/terkesan-manggung-bersama-artis

DARA bernama Garin Ria Sukmawati menekuni saxophone mengambil mata kuliah semester empat di kampusnya. Saat itu setiap mahasiswa diwajibkan memilih alat musik.]]>

DARA bernama lengkap Garin Ria Sukmawati menekuni saxophone mengambil mata kuliah semester empat di kampusnya. Saat itu setiap mahasiswa diwajibkan memilih alat musik. Dirinya mengambil kelas alat musik tiup, saxophone.

Saxophone dipilihnya lantaran sering mendengar beragam lagu instrumental yang dimainkan dengan alat musik saxophone. Menurutnya, saxophone terbilang memiliki suara khas sehingga dirinya tertarik untuk mempelajarinya. ”Bagiku saxophone memiliki suara yang sweet dan romantis,” jelasnya.

Penggemar Kaori Kobayashi ini mengaku, ingin mendalami saxophone karena alat musik ini jarang dimainkan orang pada umumnya. Sehingga dirinya dapat menjadi pusat perhatian kala memainkan alat musik tiup ini. Terutama saat memainkannya di hadapan anak-anak kecil, mayoritas ingin tahu sehingga menonton dari dekat.

Disinggung soal sulit atau tidaknya memainkan alat musik ini, Garin menjawab lumayan. ”Dulu awal pertama kali tiup saxophone terbilang berat dan sering gak keluar nadanya,” jelasnya.

Kini, hobi bermusik membawanya dari satu panggung ke panggung. Dara lulusan seni musik Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini sering mengisi acara wedding di Kudus, Jepara, dan Semarang. Tak berhenti di situ, dirinya juga pernah ikut manggung bareng band indie ke Pati, Sragen, Temanggung, dan Magelang. Solo job juga pernah diikutinya.

Pengalaman unik saat manggung di acara wedding pernah dialaminya. Saat itu dirinya pernah salah memainkan nada saxophone. ”Pernah juga sih salah main saxophone. Biasanya kalau nggak tahu lagunya, biasanya lagu-lagu daerah luar Jawa,” ujarnya sambil tertawa.

Apa yang dilakukannya saat ini tak lepas dari dukungan orang tuanya. Sebab, jurusan mata kuliah yang diambilnya juga tidak lepas dari dunia musik. Bahkan, manggung bareng artis kenamaan juga pernah dialaminya. Mulai dari featuring bareng musisi Youtube Nufi Wardhana hingga mengiringi Citra Scholastika saat manggung di Griptha Hotel Kudus.

Mengisi acara di kafe-kafe juga dilakoninya hingga saat ini. Dari hasil ngejob itu pula, Garin dapat upgrade perlengkapan saxophone miliknya. Dara 25 tahun ini rencananya terus menekuni dunia musik berdampingan dengan alat musik saxophone.

”Harapannya ya bisa jadi saxophonist profesional. Berkiprah di ibukota dengan saxophone ini terus,” harapnya. (vga)

]]>
Ali Mustofa Thu, 14 Mar 2019 08:27:39 +0700
<![CDATA[Mengabdi untuk Anak Sekitar]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/10/124095/mengabdi-untuk-anak-sekitar https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/10/mengabdi-untuk-anak-sekitar_m_124095.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/10/mengabdi-untuk-anak-sekitar_m_124095.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/10/124095/mengabdi-untuk-anak-sekitar

MENJADI sarjana adalah tantangan tersendiri. Diana Mariana Ulfa mendapat tantangan itu dari bapaknya. Tantangan untuk mengamalkan ilmunya.]]>

MENJADI sarjana adalah tantangan tersendiri. Diana Mariana Ulfa mendapat tantangan itu dari bapaknya. Tantangan untuk mengamalkan ilmunya. Dari situ muncullah ide Diana untuk mendirikan taman bacaan.

”Awalnya memang ada tantangan dari bapak sebelum wisuda. Mau mengerjakan apa nanti di rumah,” kata Diana menirukan pertanyaan bapaknya.

Diana kemudian mendapat ide membuat taman baca. Hal itu timbul karena kepeduliannya terhadap anak-anak di sekitar rumahnya. ”Banyak anak-anak yang notabene mereka sebagai pelajar, namun kurang ada aktivitas yang mendukung. Sebagai pelajar tentunya tugas mereka ya belajar,” kata alumni Universitas Negeri Yogyakarta ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dengan membuat taman baca, lanjut Diana, anak-anak akan mudah menjumpai buku. Misalnya buku tentang seorang tokoh hebat. ”Siapa tau setelah membaca buku tersebut, anak itu akan terinspirasi dengan bacaannya itu,” imbuh perempuan yang tinggal di Desa Sirahan Kecamatan Cluwak ini.

Di taman baca yang diberi nama Bina Karakter Ceria, lebih banyak diisi buku-buku cerita yang menginspirasi. Sebab yang datang banyak anak-anak. ”Saya dulu kuliah di program studi bimbingan konseling, saya rasa tujuan kuliah saya sama seperti dengan tujuan mendirikan taman bacaan ini. saya harus bisa menanamkan nilai-nilai dan norma untuk remaja melalui bacaan-bacaan yang tentunya harus menginspirasi,” paparnya.

]]>
Ali Mustofa Sun, 10 Mar 2019 07:16:45 +0700
<![CDATA[Peduli Masalah Reproduksi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/08/123682/peduli-masalah-reproduksi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/08/peduli-masalah-reproduksi_m_123682.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/08/peduli-masalah-reproduksi_m_123682.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/08/123682/peduli-masalah-reproduksi

KEPEDULIANNYA tentang masalah reproduksi remaja membuat Tufy Supriyanti aktif di Pusat Informasi dan Konseling-Mahasiswa Lingkar Seroja UIN Sunan Kalijaga.]]>

KEPEDULIANNYA tentang masalah reproduksi remaja membuat Tufy Supriyanti aktif di Pusat Informasi dan Konseling-Mahasiswa (PIK-M) Lingkar Seroja UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Prestasinya makin cemerlang setelah dinobatkan sebagai juara III Duta Genre BKKBN DIJ Jalur Pendidikan 2018.

Selain itu, mahasiswa semester VIII, Jurusan Manajemen Dakwah, UIN Sunan Kalijaga ini, merupakan mahasiswa berprestasi di kampusnya. Selain itu, dia juga banyak meraih beasiswa. Mulai dari Awardee Beasiswa Kemenag Jalur Prestasi UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 2016 dan 2017 serta Awardee Beasiswa BRI 2018. Selain itu, pernah menjadi runner up III Miss Hijabie 2019.

Prestasi yang semakin moncer, tak membuat mahasiswi yang beralamat di RT 5/RW 2, Desa Karang, Kecamatan Bogorejo, Blora, ini besar kepala. Sebaliknya, kepeduliannya terhadap permasalahan reporoduksi remaja, semakin lama semakin matang.

”Tugas kita adalah mengajak remaja untuk mewaspadai tiga hal yang menjadi pemicu masalah reproduksi remaja. Jadi, remaja itu harus say no to early marriage, say no to sex before marriage, and say no to drug,” ucap mahasiswi penyuka fotografi ini.

Tak hanya itu, alumni SMK Negeri 2 Blora ini, juga menyikapi maraknya pernikahan dini yang ada di kota asalnya, Blora. Tufy mengatakan, meski berefek positif seperti menghindarkan terjadinya aktivitas seksual di luar nikah, dampak negatif pernikahan dini juga tak dapat dinafikan.

”Pernikahan dini biasanya dilatarbelakangi berbagai alasan. Seperti ekonomi, married by accident (MBA) dan lain sebagainya. Sisi negatifnya, tidak adanya kesiapan dalam membangun rumah tangga. Baik kesiapan ekonomi, psikis, dan sosial emosional,” papar gadis kelahiran 12 April 1998 ini.

Menurutnya, hal ini akan memicu timbulnya berbagai permasalahan rumah tangga. Seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan berbagai masalah lain.

Kepada Jawa Pos Radar Kudus, Tufy mengaku, waktu SMA bisa dibilang dia masih kurang aktif dalam kegiatan organisasi di sekolah. Sebab, keterbatasan jarak rumah ke sekolah. ”Jadi belum diizinkan oleh orang tua. Namun alhamdulillah, di akademik saya masuk rangking V dan X besar,” imbuhnya.

Setelah lulus sekolah SMK, dia mengikuti BPUN Blora (semacam bimbel kilat mengikuti tes masuk kuliah). ”Target kampus awal Unnes. Namun tidak lolos dan dikasih jalan sama Allah untuk kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta S1, Jurusan Manajemen Dakwah,” jelasnya.

Saat kuliah semester awal, dia sempat mengikuti badan organisasi mahasiswa (BOM) fakultas di bidang jurnalis (LPM Rhetor). Namun setelah dijalani dia belum menemukan passion. Akhirnya dia masuk di komunitas tari UIN (Adab Dance Community).

Pada 2017 dia juga mengikuti UKM PIK-M Lingkar Seroja. Dia pun didelegasikan untuk mengikuti pemilihan Duta Genre DIJ 2018. ”Alhamdulillah saya mendapatkan juara III,” jelasnya.

Di luar kampus dia juga mengikuti organisasi daerah (Kamaba Jogjakarta). Pada 2018 ia didelegasikan untuk mengikuti organisasi IKPM Jawa Tengah. ”Sejak 2017 saya mulai menikmati dunia modeling dan make up,” terangnya.

Untuk mengembangkan minat dan bakat tersebut, dia mulai mencari-cari wadah untuk belajar. Ketemulah Hijabie Community. Saat itu pas ada pemilihan miss hijabie.”Saya ikut, alhamdulillah dapat runner up III,” terang perempuan yang sedang menyelesaikan skripsi ini.

]]>
Ali Mustofa Fri, 08 Mar 2019 08:53:04 +0700
<![CDATA[Pilih Rangkai Aksesori Sendiri]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/07/123557/pilih-rangkai-aksesori-sendiri https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/07/pilih-rangkai-aksesori-sendiri_m_123557.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/07/pilih-rangkai-aksesori-sendiri_m_123557.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/07/123557/pilih-rangkai-aksesori-sendiri

MERANGKAI asesoris jualannya sudah dilakoni Junnatus Nadifah selama dua bulan ini. Dengan merangkai asesoris sendiri, membuat keuntungannya bertambah.]]>

MERANGKAI asesoris jualannya sudah dilakoni Junnatus Nadifah selama dua bulan ini. Dengan merangkai asesoris sendiri, membuat keuntungannya bertambah dan lebih kreativitas. Sebab, asesoris yang dirangkai sendiri sesuai dengan kreasi dan model yang monoton.

Ia mengaku, sudah berjualan asesoris dua tahun terakhir. Mulanya perempuan yang akrab disapa Jujun ini menjadi reseller. Kemudian dua bulan ini ia mulai merangkai sendiri asesorisnya seperti gelang, kalung, dan bros. Ia hanya perlu membeli butiran kokanya saja.

“Ya kalau merangkai sendiri hanya beli bahannya saja, jadi tambah untungnya. Lumayan buat tabungan saya dan biaya kuliah. Lebih enak merangkai sendiri. Selain menguntungkan, juga bisa berkreasi. Saya bisa bikin mode sendiri sesuka hati. Kalau model asesoris gitu-gitu aja ya bikin bosan,” tuturnya.

Gadis kelahiran Pati, 23 Agustus 1996 ini terus berinovasi untuk menghasilkan rangkaian asesoris yang up date. Sebab saat ini konsumen semakin cerdas. Untuk menambah referensi, dirinya kerap membaca buku, melihat di internet, atau muncul dari idenya sendiri.

Warga Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso ini menjalani aktivitas itu dengan senang. Meskipun kini tengah mengebut skripsi, mahasiswi STAI Pati ini bisa membagi waktu antara kuliah, berwirausaha, dan berkumpul dengan komunitas jelajah pusaka di Kajen.

“Sudah beberapa tahun ini jadi pemandu jelajah pusaka di Kajen. Banyak hal yang saya dapatkan. Mulai dari pengetahuan tentang Kajen dan lebih memahai bahasa asing karena banyak warga asing yang ikut meneliti peninggalan KH Mutamakkin Kajen,” jelasnya.

]]>
Ali Mustofa Thu, 07 Mar 2019 08:48:22 +0700
<![CDATA[Berbagi Ilmu Fotografi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/06/123354/berbagi-ilmu-fotografi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/06/berbagi-ilmu-fotografi_m_123354.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/06/berbagi-ilmu-fotografi_m_123354.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/06/123354/berbagi-ilmu-fotografi

DARA bernama Dita Kartika mengaku menyukai fotografi sejak duduk di bangku kuliah. Saat itu dirinya ikut Unit Kegiatan Mahasiswa Prisma Universitas Diponegoro.]]>

DARA bernama Dita Kartika mengaku menyukai fotografi sejak duduk di bangku kuliah. Saat itu dirinya ikut Unit Kegiatan Mahasiswa Prisma (Perhimpunan Seni Fotografi Mahasiswa) Universitas Diponegoro. Bermula dari situlah Dita mendapat banyak teman dan pengalaman. Termasuk belajar fotografer professional. Bahkan sampai diajak ngejob bareng. Hingga dipercaya menjabat pengurus Prisma.

Tak hanya itu, pengalamannya di bidang fotografi itu membuatnya dipercaya menjadi pembicara di even seminar dan pelatihan fotografi. Dita – sapaan akrabnya juga pernah mengikuti jambore fotografi mahasiswa nasional di Makassar.

Saat ini Dita bekerja di salah satu perusahaan di Jepara. Dirinya bertugas di bagian Social and Environmental Affairs, yang job desk nya bersinggungan dengan lingkungan. Salah satunya memberikan laporan ke Dinas Lingkungan Hidup.

Menariknya, dunia fotografi tidak ditinggalkannya. Sebab, di perusahaan ini juga dirinya dipercaya menjadi fotografer. Job desk fotografinya itu dilakukan saat perusahaannya kedatangan tamu penting, meliputi corporate social responsibility (CSR) dan even lainnya. Beberapa karyanya juga dipasang di lobi kantornya. Foto-foto yang dipasang di lobi meliputi foto dokumentasi, foto komersial, dan foto pemandangan. ”Bisa dibilang jadi fotografer juga kalau ada agenda kantor dengan tamu,” jelasnya.

Penyuka travelling ini mengaku nyaman dengan apa yang dijalaninya saat ini. Meski sudah bekerja, tetapi masih bisa pegang kamera untuk menyalurkan keseriusannya dalam fotografi. Menurutnya, dengan fotografi dia dapat bersinggungan dengan beragam karakter orang. Bisa berbagi ilmu, serta dapat explore hobi treavellingnya.

”Bagiku hal yang paling wah dalam fotografi itu ketika bisa berbagi ilmu ke orang lain. Mereka membalas dengan ucapan terima kasih,”tandasnya.

Ke depannya, Dita ingin tetap bekerja di perusahaannya ini sembari membuka usaha studio foto. ”Pengen tetap kerja disini sambil punya sampingan studio foto,” harapnya. (vga)

]]>
Ali Mustofa Wed, 06 Mar 2019 08:39:58 +0700
<![CDATA[Berkesempatan Kenal Daerah Terpencil]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/04/122928/berkesempatan-kenal-daerah-terpencil https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/04/berkesempatan-kenal-daerah-terpencil_m_122928.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/04/berkesempatan-kenal-daerah-terpencil_m_122928.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/04/122928/berkesempatan-kenal-daerah-terpencil

BERGABUNG menjadi tim partai politik menjadi pengalaman tersendiri bagi Susana Dewi Astutik. Selain bekerja, juga bisa mengenal daerah-daerah terpencil.]]>

BERGABUNG menjadi tim partai politik menjadi pengalaman tersendiri bagi Susana Dewi Astutik. Selain bekerja, pengalaman menarik yang didapatnya adalah bisa mengenal daerah-daerah terpencil untuk melakukan pendataan relawan.

”Ya tugasnya pendataan relawan. Dan terkadang harus terjun ke daerah-daerah untuk mendapat data-datanya, dari sana saya yang jarang keluar rumah berkesempatan bisa jalan-jalan sekaligus mengenal daerah-daerah yang cukup jauh dari rumah sekaligus letaknya di pelosok-pelosok,” kata gadis kelahiran Pati, 14 November 1994 ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Susana sapaan akrabnya, mengaku cukup tertantang dengan pekerjaan itu. Selain bisa berkesempatan jalan-jalan ke daerah terpencil, pengalaman bertemu banyak orang juga sangat menyenangkan sekaligus berkesan buatnya.

”Pastinya dapat banyak teman, banyak kenalan dan itu sangat berharga. Menambah jaringan pertemanan kan sangat perlu,” papar alumni S1 Akuntansi Universitas Stikubank Semarang ini.

Selain itu, pengalaman menarik juga didapat gadis yang tinggal di Desa Gunungpanti Kecamatan Winong ini. ”Yang pasti akan sangat menghargai uang. Soalnya nyarinya aja susah. Beda saat masih meminta orang tua. Ya akhirnya kita harus belajar mandiri lah,” papar gadis yang sebelumnya pernah bekerja di sebuah bank di Ungaran ini.

]]>
Ali Mustofa Mon, 04 Mar 2019 10:09:33 +0700
<![CDATA[Jualan Kue agar Punya Toko]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/02/122637/jualan-kue-agar-punya-toko https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/02/jualan-kue-agar-punya-toko_m_122637.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/02/jualan-kue-agar-punya-toko_m_122637.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/02/122637/jualan-kue-agar-punya-toko

PEREMPUAN bernama Dwi Endah Lestari ini, pintar memanfaatkan peluang. Selain menjadi karyawan, dia juga berwirausaha membuat berbagai jenis kue kering.]]>

PEREMPUAN bernama Dwi Endah Lestari ini, pintar memanfaatkan peluang. Selain menjadi karyawan, dia juga berwirausaha membuat berbagai jenis kue kering. Ia harus pintar membagi waktu untuk menjalankan kedua aktivitas itu.

Dia mengisahkan, awal kali membuat, rasa kuenya jauh dari perkiraan. Namun, ia pantang menyerah. Ia terus mencoba dengan terus membaca buku resep dan melihat referensi dari Youtube. Nastar menjadi kue yang paling sering dibuat.

”Sempat ingin berhenti. Tapi saya urungkan. Saya terus mencoba, sampai akhirnya saya bisa buat kue yang digemari banyak orang,” ujar gadis kelahiran Kudus, 1 Februari 2000 itu.

Awalnya, anak pasangan Sugondo dan Sri Aryu Ningsih ini, tak kepikiran berwirausaha dengan berjualan kue kering. Namun, kegemarannya memakan kue kering dan juga melihat potensi pasar, gadis yang tinggal di RT 3/RW 6, Desa Besito, Gebog, Kudus, ini, akhirnya terpikirkan untuk mencoba terjun ke bisnis ini.

”Biasanya menjelang Lebaran peminat kue meningkat. Saya biasanya bikin nastar, putri salju, chocochip, kacang coklat, dan pril,” kata perempuan berhijab itu.

Harga yang dipatok relatif terjangkau. Konsumennya tak hanya dari Kudus, melainkan juga dari Jepara dan Pati. Seperempat kilogram ia hanya menarif sekitar Rp 20-25 ribu.

”Saya tak menyangka hasil berjualan kue bisa membuat tabungan gendut. Sejak awal, hasil usahanya ini memang sengaja ditabung,” kata penyuka mie ayam ini.

Selain menerima pesanan via online, saat ini ia masih menitipkan kue-kuenya di beberapa toko di daerahnya. Gadis yang memiliki kegemaran menulis ini, bermimpi bisa membuka toko bakery sendiri. Hasil jualan kue kering selama ini sengaja ditabung untuk merealisasikan. ”Semoga bisa segera terwujud,” harapnya.

]]>
Ali Mustofa Sat, 02 Mar 2019 09:25:56 +0700
<![CDATA[Kecanduan Pentas Monolog]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/28/122192/kecanduan-pentas-monolog https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/28/kecanduan-pentas-monolog_m_122192.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/28/kecanduan-pentas-monolog_m_122192.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/28/122192/kecanduan-pentas-monolog

INDRI Widyasari nampak gundah menunggui buah hatinya yang sedang terlelap di ranjang rotan. Mondar-mandir ke kanan ke kiri. Ia melebur dalam kepiawaian akting.]]>

INDRI Widyasari nampak gundah menunggui buah hatinya yang sedang terlelap di ranjang rotan. Mondar-mandir ke kanan ke kiri. ”Aku sudah menceritakan berbagai cerita pada anakku. Tentang Jendral Sudirman hingga tentang cinta seorang rahwana,” ujarnya dengan raut muka kegelisahan. Irama denting piano melebur dalam kepiawaian aktingnya.

Ya,  itu lah pentas monolog yang diperankan oleh Indiri beberapa waktu lalu di Auditorium UMK. Dalam pementasan ini ia mengaku membikin naskah sendiri. Mengeditnya sendiri. Namanya juga monolog. Tentunya diperankannya sendiri.

Kecintaannya kepada seni peran memang sejak kecil dirinya suka petakilan. Berbagai kegiatan sudah ia ikuti. Seperti senam lantai dan tari.

”Pokoknya apa yang baru ingin tak masukin. Awalnya orang tua ngarahin ke farmasi. Karena tidak tahan bau obat. Saya pindah ke Pati. Nah kemudian saya ambil jurusan perfilman di SMK Tunas Harapan Pati,” kata gadis kelahiran Surabaya, 30 April 1997 ini.

Setelah lulus SMK ia melanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK). Di kampusnya ia melanjutkan kembali  seni yang digelutinya itu dengan bergabung di UKM Teater Aura. Dari situ ia mulai belajar hal baru.

”Ketika melihat teater saya merasa tertantang. Karena jika di teater kan tidak bisa diulang. Kalau di film apabila ada salah akting kan bisa di-cut,” jelas perempuan yang bobi make up ini.

Dengan aktif di teater dan sering berperan aktif, ia dipercaya menjadi kepala suku. Dalam perjalanannya ia mendengar ada perlombaan monolog di Semarang. Ia pun mengikutinya.

”Disitu saya rindu di cut. Karena jika monolog itu berbeda dengan teater. Jika monolog semua mata tertuju ke kita. Tetapi setelah itu saya kok jadi kecanduan,” kenangnya.

Kerinduannya kepada monolog ini pun terobati. Ia ditawari rekannya untuk membuat bentuk pementasan. Kemudian ia pun mulai menyusun naskah. Naskah jadi. Ia pun berhasil memerankan pentasnya dengan sukses. Banyak audiens yang memberikan apresiasi penampilannya malam itu. Ia juga menanggapi dengan ramah masukan para penonton.

Tak terasa. Panggung teater sudah mulai dikemas. Waktu juga menunjukkan hampir larut malam. Indri pun  masih mengenakan kostum ala emak-emak. Belum ganti baju. Tirai panggung sudah digulung. Sekan menjadi kode wawancara indri bersama Jawa Pos Radar Kudus selesai. (vah)

]]>
Ali Mustofa Thu, 28 Feb 2019 10:31:31 +0700
<![CDATA[Sudah Main Dua Sinetron]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/27/121938/sudah-main-dua-sinetron https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/27/sudah-main-dua-sinetron_m_121938.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/27/sudah-main-dua-sinetron_m_121938.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/27/121938/sudah-main-dua-sinetron

TERJUN di dunia hiburan sebenarnya tak terpikirkan oleh Anisa Firda Nur Hidayah. Karena keluarga mendukung, akhirnya dia benar-benar menekuni dunia hiburan.]]>

TERJUN di dunia hiburan sebenarnya tak terpikirkan oleh Anisa Firda Nur Hidayah. Namun, karena keluarga mendukung, akhirnya gadis kelahiran Pati, 20 Maret 2003 ini, benar-benar menekuni dunia hiburan. Dari model sampai aktris sinetron dilakoni gadis berambut lurus ini.

”Ya, saat kecil dulu saya suka sekali foto-foto. Dari sana coba-coba mau terjun di dunia hiburan. Gayung bersambut, keluarga saya mendukung. Makanya saya tekuni betul,” jelas gadis yang kerap menyabet prestasi di dunia modeling dan bidang lain ini.

Tercacat beberapa prestasi mentereng diraih Anisa. Di antaranya juara II Duta Batik Jawa Tengah 2018, The Winner Wajah Idola Indonesia 2018 tingkat nasional, dan pernah menjadi juara favorit Citra Putri Jawa Tengah 2018.

Untuk di dunia peran, dia beberapa kali pernah ikut bermain sinetron. Di antaranya ikut sinetron Juna Cinta Juni dan Gerhana Bulan Merah. Dia juga akan ikut casting untuk sebuah sinetron pada bulan depan.

Lebih lanjut, gadis yang kini duduk di bangku kelas X jurusan kecantikan SMKN 3 Pati ini, mengaku, saat kali pertama memang hanya coba-coba. Namun, setelah diterima dan merasakan asyiknya dunia hiburan, dia langsung nyaman. Kemudian berusaha menekuni.

”Namun hal itu tidak mudah. Bergelut di dunia hiburan harus menerima resiko dipergunjingkan. Saya sudah sering mengalami hal itu. Ya harus tetap sabar dan tentunya ada keluarga yang selalu mendukung. Itu yang menguatkan,” imbuh gadis yang hobi jalan-jalan ini.

]]>
Ali Mustofa Wed, 27 Feb 2019 09:54:44 +0700
<![CDATA[Dari Paksaan Jadi Ketagihan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/26/121686/dari-paksaan-jadi-ketagihan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/26/dari-paksaan-jadi-ketagihan_m_121686.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/26/dari-paksaan-jadi-ketagihan_m_121686.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/26/121686/dari-paksaan-jadi-ketagihan

KEDISIPLINAN menekuni dunia baca puisi sejak SD, menjadikan gadis bernama lengkap Nanda Fatimatuz Zahro ini, ingin berlajar lebih mendalam.]]>

KEDISIPLINAN menekuni dunia baca puisi sejak SD, menjadikan gadis bernama lengkap Nanda Fatimatuz Zahro ini, ingin berlajar lebih mendalam. Ia menilai, bahwa keindahan sajak puisi sudah menyatu dalam dirinya.

Gadis yang duduk di bangku kelas XI ini mengaku, kecintaannya dengan puisi, dulu datang karena paksaan gurunya. Namun, kini puisi sudah membuatnya kecanduan. Hingga dia selalu semangat latihan.

Nanda -sapaan akrabnya- dipaksa guru SD untuk mengikuti lomba baca puisi waktu itu. Dulunya dia sempat tak percaya diri. Namun, setelah didatangkan pelatih dari luar sekolahnya, rasa percaya diri mulai diolah. Akhirnya dia tak minder saat ikut lomba.

”Saat itu sempat grogi. Namun, seringnya berlatih menjadikan enjoy saat bawa puisi. Caranya dengan menganggap penonton itu seolah tak ada di depan saya,” katanya.

Puisi yang dirasakan memiliki keindahan dan daya magis telah menyihirnya, hingga ditekuninya sampai sekarang. Teknik pernapasan dan olah vokal merupakan yang digembleng kali ini. Tak segan-segan, ia memberlakukan porsi latihan di sekolah hingga di luar sekolah. Ia juga sering berlatih dengan rekan-rekannya di luar sekolah. ”Meski libur sekolah saya tetap latihan,” ungkapnya.

Keseriusannya berlatih membuahkan hasil. Di antaranya mendapatkan juara II tingkat Jawa Tengah di acara Bulan Bahasa 2017 dan juara I baca sajak tingkat kabupaten 2018.

Ke depan, ia berharap lebih baik dalam peraihan prestasi. Juga membawa manfaat bagi sekolah dan masyarakat. Dia juga mempersiapkan dirinya untuk menghadapi babak final membaca sajak tingkat provinsi.

Gadis yang berusia 17 ini mengaku, dia juga mengikuti teater di sekolahnya, MA Banat. Ia menyebutkan, teater tak jauh beda dengan puisi. ”Di teater juga ada latihan ekspresi, olah vokal, pernapasan, serta gerak tubuh,” imbuhnya. (gal)

]]>
Ali Mustofa Tue, 26 Feb 2019 10:03:00 +0700
<![CDATA[Beranikan Diri Berbisnis dengan Rp 200 Ribu]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121536/beranikan-diri-berbisnis-dengan-rp-200-ribu https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/beranikan-diri-berbisnis-dengan-rp-200-ribu_m_121536.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/beranikan-diri-berbisnis-dengan-rp-200-ribu_m_121536.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121536/beranikan-diri-berbisnis-dengan-rp-200-ribu

DARA satu ini dulunya tomboy. Namun kini penampilannya berubah 360 derajat. Dia Lin Inka N Isnaini. Saat ini ia memutuskan berhijab.]]>

DARA satu ini dulunya tomboy. Namun kini penampilannya berubah 360 derajat. Dia Lin Inka N Isnaini. Saat ini ia memutuskan berhijab. Dari keputusanya ini limpahan hikmah dan rejeki diperoleh.

Inka- sapaan akrab Lin Inka N Isnaini- mengaku sebelum berhijab ia tomboy. Setelah ada panggilan hati, dirinya memutuskan berhijab. Ini tidak lepas dari orang-orang di sekitar tempatnya bekerja di Humas Setda Rembang.

”Panggilan hati mas. Dari diri sendiri ingin memutuskan berhijab. Kebetulan saya juga kagum dengan pribadi Zaskia Adya Mecca,” pengakuan dara kelahiran Rembang, 11 September 1995 ini.

Tentu tidak hanya artis yang menjadi kiblat Inka memutuskan hijab. Tapi juga lingkungan kerjanya. Saya masih belajar dan menata hati.

Wajar kali pertama berhijab masih belum rapi. Tidak salah dirinya tanya kepada rekan kerjanya yang lebih senior. Termasuk belajar lewat online. Termasuk medsos bagaimana menggunakan dan kreasikan.

”Dari instagram saya belajar. Termasuk iseng-iseng bikin tutorial. Akhirnya banyak yang minat,” kata Inka.

Dari situ jiwa entrepreneur muncul. Kebetulan saat itu pernah diajak join temannya berjualan baju. Kini dirinya memutuskan mandiri.

Awalnya Inka iseng foto maupun video. Lalu diunggah lewat medsos. Ternyata banyak yang berkomentar positif. Mulai dari tanya bentuk dan cara kreasikan. Walaupun kebanyakan modelnya  segitiga instan.

”Sukanya saya segitiga instan. Karena tidak ribet alias praktis. Tentunya paling lebih santun. Baik dipakai bekerja ataupun santai,” bebernya.

 Makanya saat ada modal dirinya menangkap peluang ini. Modal yang digunakan tidak besar. Hanya sekitar Rp 200 ribu. Konsumen juga hanya lingkup perkantoran. Tapi saat ini konsumenya dari berbagai daerah.

Pendapatanya lumayan. Kalau ramai omzetnya mencapai Rp 500 ribu. Tentu lumayan, apalagi usaha yang ditekuni tidak mengganggu tugasnya. Jadinya uang yang digunakan dapat digunakan modal baru.

”Dengan hijab tidak mengurangi seseorang tampil modis. Penting percaya diri. Karena bukan seberapa mahal yang kita kenakan. Namun bagaimana bisa merubah karakter dan kepribadian,” prinsipnya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Feb 2019 13:43:51 +0700
<![CDATA[Dulu Fals, Kini Banjir Job]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121496/dulu-fals-kini-banjir-job https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/dulu-fals-kini-banjir-job_m_121496.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/dulu-fals-kini-banjir-job_m_121496.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121496/dulu-fals-kini-banjir-job

DARA bernama lengkap Dyah Anggraeni Widiasih ini, tak pernah menyangka dirinya bakal kebanjiran job menyanyi. Baik sebagai wedding singer atau mengisi acara.]]>

DARA bernama lengkap Dyah Anggraeni Widiasih ini, tak pernah menyangka dirinya bakal kebanjiran job menyanyi. Baik sebagai wedding singer atau mengisi acara launching sebuah produk dan acara formal lain.

Anggi -sapaan akrabnya- mengaku, tidak pernah menyangka hobi nyanyi itu, bakal menjadi pekerjaan freelance-nya saat ini. Perempuan yang masih menempuh kuliah semester IV ini, menekuni dunia tarik suara sejak duduk di bangku SMP. ”Saya mulai belajar bernyanyi dan main piano. Pada 2016 memulai sebagai keyboardist,” terang perempuan asal Kudus ini.

Dia menjelasakan, karena teralu berat membawa keyboard setiap kali manggung, akhirya dia lebih memilih menjadi vokal.

Apa yang diraihnya saat ini tidak lepas dari dukungan sang bunda dan kakak. Sebab, mereka berdua juga penyanyi. ”Suaraku dulu itu fals, sering di kritik mama dan kakak juga setiap kali nyanyi di rumah. Jadi, aku kalau nyanyi di rumah ya diem-diem atau kalau lagi nggak ada orang di rumah. Tapi sejak tahu saya suka nanyi, lalu diarahkan,” jelasnya.

Apa yang ia tekuni saat ini masih sebatas freelance. Sebab, dirinya juga masih menempuh kuliah di UMK. Perempuan yang mengambil jurusan PGSD ini mengakui sering manggung ke luar kota. ”Muter terus. Demak, Pati, Jepara, Semarang, Purwodadi. Tapi seringnya manggung di Kudus,” tandasnya.

Perempuan kelahiran Kudus, 29 Desember 1998 itu, membeberkan kesulitannya dalam hal tarik suara. ”Apa ya, sulitnya itu kalau waktu suara tidak bisa dikontrol atau lagi serak gitu, perlu mengeluarkan suara yang ekstra. Kemudian kalau personel pengiringnya belum tahu nada suaraku, saya jadi bingung,” ujarnya.

Pemilik suara mezzo-sopran ini, tidak pernah mengeluhkan soal fee. ”Ini lebih soal hobi, jadi nggak masalah fee nya berapa. Dulunya dari kafe ke kafe cuma dibayar ucapan terima kasih hinga sekarang sering jadi wedding singer,” imbuhnya.

Soal prestasi, ia pernah meraih juara II PGSD Cup. Sebuah ajang tarik suara di kampusnya. Ke depan dirinya ingin berkarir sebagai guru dan penyanyi. ”Jika ini jalan yang tepat, ya semoga bisa terwujud jadi penyanyi dan guru,” harapnya. (vga)

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Feb 2019 11:09:29 +0700
<![CDATA[Belajar Asyik dari Film]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121428/belajar-asyik-dari-film https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/belajar-asyik-dari-film_m_121428.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/belajar-asyik-dari-film_m_121428.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121428/belajar-asyik-dari-film

BERAGAM cara dilakukan untuk menimba pelajaran. Bisa dengan membaca buku, mendengarkan dongeng, bahkan dengan menonton film. Hal ini dialami Indah Tika Agnesya.]]>

BERAGAM cara dilakukan untuk menimba pelajaran. Bisa dengan membaca buku, mendengarkan dongeng, bahkan dengan menonton film. Indah Tika Agnesya mengalami hal tersebut. Dia kini malah sedang keranjingan mengunduh pelajaran-pelajaran melalui sebuah tayangan film.

Indah, sapaan akrabnya, gemar nonton film bukan cuma untuk menghibur diri. Namun ia punya maksud lain yang lebih dari sekadar hiburan. Indah menjadikan film sebagai tempatnya mengunduh banyak pelajaran.

”Saya gemar nonton film, sebab ceritanya yang bisa saya jadikan pelajaran,” kata perempuan kelahiran Pati, 11 Juli 1996 ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Indah mengaku, film genre apa saja ia tonton. Baginya semua film memiliki pesan-pesan serta jalan cerita yang bisa diambil pelajarannya.

Bahkan, film yang agak bebas seperti film berjudul Virgin pun sarat akan nilai pembelajarannya, jika dilihat dengan mata positif. Sebab dengan melihat film yang demikian itu sebisa mungkin jika otak kita masih waras tentu bakal menghindari dunia malam nan bebas yang bisa merusak masa depan kelak.

Alumni Fakultas Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di IAIN Kudus ini merasa, dari filmlah ia dapat belajar dengan menyenangkan. Pelajaran nantinya untuk ditularkan kepada anak didiknya ketika sudah mengajar.

”Meski sederhana, dari film pasti ada sedikit yang bisa saya tularkan ke anak didik saya nanti. Soalnya jurusan saya kan guru, jadi harus bisa memberikan pengalaman ke anak didik nanti,” terang perempuan yang juga kader PMII Komisariat Sunan Kudus ini.

Lebih lanjut, perempuan penyuka kopi pahit ini menuturkan, sebagai guru nantinya mesti tahu banyak hal. Salah satunya melalui media film. Dari film itu, nilai-nilai pendidikan bakal terserap dan sebisa mungkin pesan-pesan positif film akan ditularkan ke anak didik nantinya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Feb 2019 07:05:59 +0700
<![CDATA[Bahagia Bisa Berbagi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/23/121131/bahagia-bisa-berbagi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/23/bahagia-bisa-berbagi_m_121131.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/23/bahagia-bisa-berbagi_m_121131.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/23/121131/bahagia-bisa-berbagi

NAMANYA Siti Solihati. Dia memiliki hobi unik namun bermanfaat kepada sesama. Dia suka berbagi dengan orang yang kesusahan. Di antaranya membagikan sembako.]]>

NAMANYA Siti Solihati. Dia memiliki hobi unik namun sangat bermanfaat kepada sesama. Dia suka berbagi dengan orang yang kesusahan. Di antaranya membagikan sembako, alat tulis, dan uang.

Terjun rumah ke rumah. Mencari warga yang susah. Didatangi. Kemudian dibantu dan diberi motivasi untuk terus semangat. Selanjutnya diberi bantuan untuk sedikit meringankan beban mereka.

Dia mengaku, mulai tertarik menggelar bakti sosial (baksos) sejak 2016 lalu. Saat itu, Firman, pendiri Blora Update (BU) memasukkan dirinya ke grup tersebut. ”Waktu itu lewat BBM (Blackberry Messanger). Setelah itu, ikut kopdar (kopi darat) yang dihadiri empat orang,” terang perempuan kelahiran Blora, 28 Juli 1995 ini.

Kegiatan pertama adalah baksos ke korban banjir di Desa Mojorembun, Kecamatan Kradenan, Blora. Selanjutnya berbagi alat-alat sekolah di SD Karangtengah, Ngawen. ”Saya memang suka ikut kegiatan yang bergerak di bidang sosial,” ujarnya.

Menurutnya, dengan terus berbagi mampu membuat dirinya bahagia. Selain itu, bisa lebih semangat dan lebih peka terhadap kondisi sosial. ”Karena itu kebahagiaan sesungguhnya,” jelasnya.

Dia mengaku, jika selama sebulan tidak berbagi, rasanya ada yang kurang. ”Ikut baksos itu bikin ketagihan,” jelas warga RT 4/RW 1, Desa Sitirejo, Kecamatan Tunjungan, Blora, ini.

Menurutnya, baksos dilakukan setiap bulan sekali. Terkadang juga lebih. Dana yang disalurkan dari iuran bersama dan donator. Donatur ada yang dari dalam kota. Ada juga yang dari luar kota. ”Dulu (donatur) ada yang dari luar negeri juga. Orang Blora tapi kerja di luar negeri,” ucapnya.

Dia menambahkan, untuk menentukan siapa yang perlu dibantu, biasanya informasi dari masyarakat, media sosial, dan lainya. Selanjutnya dipastikan dengan datang langsung ke rumahnya. ”Kami datang sekalian bawa sembako,” imbuhnya.

Dia mengaku banyak manfaat yang dirasakan. Di antaranya dia bisa lebih bersyukur. Misalnya saat sedang susah, ternyata masih ada yang di bawah lagi. ”Kita bersyukur dengan kondisi kita saat ini. Masih menikmati kondisi di atas mereka,” terangnya.

Dia berharap, dengan aksinya ini banyak orang yang sadar untuk terus berbagi dan terus menanamkan kebaikan. Melek dengan kondisi sekeliling. ”Kami terjun ke desa-desa. Harapan kami karang taruna bisa melanjutkan,” ucap staf salah satu notaris di Kota Sate ini.

]]>
Ali Mustofa Sat, 23 Feb 2019 09:24:45 +0700
<![CDATA[Lomba, Pakai Baju Lawas Dimodivikasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/22/120910/lomba-pakai-baju-lawas-dimodivikasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/22/lomba-pakai-baju-lawas-dimodivikasi_m_120910.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/22/lomba-pakai-baju-lawas-dimodivikasi_m_120910.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/22/120910/lomba-pakai-baju-lawas-dimodivikasi

SEJAK usia 13 tahun, Rita Septiana Tri Astuti telah tertarik terjun ke dunia modeling. Awalnya, Tata -sapaan akrabnya- lebih dulu mengikuti mayoret saat SMP.]]>

SEJAK usia 13 tahun, Rita Septiana Tri Astuti telah tertarik terjun ke dunia modeling. Awalnya, Tata -sapaan akrabnya- lebih dulu mengikuti mayoret saat SMP. Dengan posturnya yang tinggi, salah satu make up artist (MUA) di Purwodadi, Grobogan, tertarik dan menunjuknya menjadi model.

Dengan pengalaman yang masih minim, gadis kelahiran Grobogan, 22 September 2000 ini, pun belajar jalan di atas catwalk. Dia juga membeli sepatu heels untuk praktik. Tata juga belajar sendiri dengan berlenggak-lenggok di depan kaca.

Dari kegigihannya itu, ia mulai berani mengikuti lomba model di sekitar Grobogan pada awal 2014 lalu. Pengalaman kali pertamanya itu, belum menghasilkan prestasi.

Namun ia tak menyerah. Ia pun mencoba lagi di even lain. Hingga akhirnya ia mendapatkan juara.

”Kemudian saat SMA mulai banyak MUA yang menarik saya sebagai modelnya. Saya mulai mendapat penghasilan dari situ. Sebab fee-nya lumayan besar daripada fashion biasa,” ungkapnya.

Tak puas, siswa SMAN 1 Purwodadi ini, juga mengikuti ajang Mas dan Mbak Grobogan. Ia pun terpilih menjadi Mbak Favorit di ajang tersebut. ”Tahun berikutnya, saya mengikuti lagi dan menjadi juara II. Selain itu, saya juga dinobatkan menjadi Putri Ramadan Grobogan dan Duta Batik Grobogan,” paparnya.

Gadis yang beralamat di Jalan Pangeran Diponegoro, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, ini, juga menceritakan pengalamannya selama mengikuti berbagai lomba model. Karena tak ingin merepotkan orang tua, pakaian yang ia kenakan hasil modivikasi berbagai baju lawas yang ia miliki.

”Saya tidak pernah nyewa. Karena pikir saya, buat apa mengikuti lomba kalau kita tidak ada usaha sendiri. Iya kalau menang, kalau kalah pasti rugi. Karena nyewa kostum itu mahal,” paparnya.

Sampai sekarang ia pun bertekad saat mengikuti berbagai lomba tak ingin merepotkan orang tua. Terlebih, sekarang sudah ditarik banyak MUA. ”Penghasilan yang didapat saya tabung,” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Fri, 22 Feb 2019 08:31:45 +0700
<![CDATA[Tekuni Hobi, Raih Prestasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/21/120762/tekuni-hobi-raih-prestasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/21/tekuni-hobi-raih-prestasi_m_120762.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/21/tekuni-hobi-raih-prestasi_m_120762.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/21/120762/tekuni-hobi-raih-prestasi

KETEKUNAN dalam hal positif selalu berdampak kebaikan. Itu yang dialami Anifatuz Zahroh. Mahasiswi UNY ini memanen prestasi kaligrafi dari ketekunannya belajar.]]>

KETEKUNAN dalam hal positif selalu berdampak kebaikan. Itu yang dialami Anifatuz Zahroh. Mahasiswi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta ini memanen prestasi kaligrafi dari ketekunannya belajar menggambar sejak kecil.

Selain itu, yang paling membuatnya senang dari menekuni jerih payah berlatih menggambar itu, Ani bisa berkesempatan jalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia dari satu perlombaan ke perlombaan lain.

”Ya senang, dapat pengalaman baru, kenalan. Bisa keliling ke kota-kota lain,” kata gadis yang telah menyabet beberapa juara lomba kaligrafi dari tingkat wilayah sampai tingkat nasional ini.

Tercatat, beberapa prestasi gemilangnya seperti pernah menjadi juara kedua kaligrafi dekorasi MTQ mahasiswa nasional di Malang, juara 1 cabang kaligrafi dekorasi di MTQ Provinsi DI Yogyakarta, dan beberapa kejuaraan kaligrafi lainnya.

”Memang dibutuhkan ketekunan lebih. Dan pastinya harus total keluar modal,” terang gadis yang beralamat di Desa waturoyo RT 2 RW 5, Kecamatan Margoyoso, Pati, ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Baginya untuk bisa berkembang memang harus total belajar, salah satunya total mengeluarkan modal untuk memenuhi peralatan kaligrafi. Ada kuas dan macam-mcam. Harganya ya lumayan mahal. ”Namun semua itu biasanya bisa balik modal kalau bisa menjadi juara,” kata gadis kelahiran Pati 11 Oktober 1997 ini.

]]>
Ali Mustofa Thu, 21 Feb 2019 15:03:56 +0700
<![CDATA[Suka Muncak Sejak SMA]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/21/120646/suka-muncak-sejak-sma https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/21/suka-muncak-sejak-sma_m_120646.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/21/suka-muncak-sejak-sma_m_120646.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/21/120646/suka-muncak-sejak-sma

GALERI handphone Aliftia Wahyu Rahmawati dipenuhi foto yang hampir semuanya berlokasi di alam. Sejak duduk di bangku SMA, dia rajin mengeksplor keindahan alam.]]>

GALERI handphone (HP) Aliftia Wahyu Rahmawati dipenuhi foto yang hampir semuanya berlokasi di alam. Sejak duduk di bangku SMA, dia memang mulai rajin mengeksplor keindahan alam. Bersama teman-teman sekolahnya di SMAN 2 Kudus, Tyak -sapaan akrabnya- sering pergi muncak.

Ketika membicarakan tentang alam, matanya tampak lebih berbinar. Seakan bersemangat untuk bercerita tentang hal itu. Banyak tempat yang sudah dikunjunginya. ”Seger saja kalau bisa melihat hijaunya alam,” kata lulusan S1 Kimia Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.

Perempuan kelahiran Kudus, 10 Juli 1993 itu, mengaku, senang ketika bisa mendaki dan mencapai puncak gunung. Meskipun ia mengakui pasti mengalami kelelahan. Namun, hal itu tak menjadi penghalang untuk mengulangi lagi.

”Rasanya itu puas. Jadi, kita bisa menikmati hasil upaya dan kerja keras selama pendakian. Cukup untuk membayar rasa capek,” terang perempuan yang bercita-cita menjadi guru itu.

Perempuan yang kini bekerja di salah satu perusahaan swasta itu, tak hanya memiliki hobi travelling. Dia juga hobi masak. Tak hanya di rumah. Hobi memasak itu, juga sering dilakukan saat dia melakukan pendakian.

”Saya jarang membawa makanan siap saji kalau muncak. Saya pasti masak,” ujar gadis yang tinggal di RT 1/RW 3, Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, itu.

Tumis wortel menjadi menu favoritnya. Namun, ketika ia kelupaan membawa sayur berwarna oranye itu, ia biasanya memanfaatkan tanaman yang ada di gunung. ”Masak seadanya yang ada di alam. Kadang bawa ikan goreng, nanti tinggal bakaran di sana (puncak gunung, Red),” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Thu, 21 Feb 2019 07:53:14 +0700
<![CDATA[Jadi Penyiar untuk Bekal Mengajar]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/20/120470/jadi-penyiar-untuk-bekal-mengajar https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/20/jadi-penyiar-untuk-bekal-mengajar_m_120470.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/20/jadi-penyiar-untuk-bekal-mengajar_m_120470.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/20/120470/jadi-penyiar-untuk-bekal-mengajar

GADIS asal Desa Puluhantengah, Kecamatan Jakenan, ini memiliki hobi sebagai pembawa acara. Dari kesukaan akan hal itu, Nurul jatuh hati pada dunia radio.]]>

GADIS asal Desa Puluhantengah, Kecamatan Jakenan, ini memiliki hobi sebagai pembawa acara. Dari kesukaan akan hal itu, Nurul jatuh hati pada dunia radio. Mahasiswi Jurusan Pendidikan IPS Universitas Negeri Malang ini pun kini memiliki kesibukan sebagai penyiar di radio kampusnya sendiri.

”Awalnya tak begitu tertarik dengan radio. Kan radio sudah kuno sih. Namun beberapa kali sering mendengarkan musik di radio saya jadi suka. Apalagi saya senang sekali dengan kegiatan penyiaran. Saya suka MC. Jadilah mulai menekuni dunia media radio,” kata gadis kelahiran Pati, 2 Desember 2000 ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Selain itu, Nurul juga mengembangkan diri di sebuah unit kegiatan mahasiswa (UKM) pecinta retorika. Di UKM tersebut, Nurul belajar banyak tentang dunia kepenyiaran. Latihan MC, penyiar radio, pidato, maupun debat. ”Sebagai tambahan pengalaman. Untuk menunjang dunia kerja saya di radio,” terang gadis yang juga menjadi anggota Persatuan Radio Kampus Malang (PRKM) ini.

Baginya, dengan bergelut di dunia kepenyiaran akan melatih dan melancarkan kemampuan berbicaranya. Apalagi gadis 19 tahun ini menjadi mahasiswa pendidikan. Pastinya setelah lulus peluang utamanya adalah menjadi seorang guru.

”Ya menunjang ke depan juga. Guru tentu harus memiliki kemampuan bicara, kemampuan komunikasi yang menarik kepada anak didiknya. Itu menjadi bagian dasar suksesnya kegiatan mengajar guru. Melalui dunia radio ini saya mengasahnya juga,” papar Nurul.

]]>
Ali Mustofa Wed, 20 Feb 2019 12:19:23 +0700
<![CDATA[Rindu Pukul Si Kulit Bundar]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/20/120410/rindu-pukul-si-kulit-bundar https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/20/rindu-pukul-si-kulit-bundar_m_120410.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/20/rindu-pukul-si-kulit-bundar_m_120410.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/20/120410/rindu-pukul-si-kulit-bundar

PEREMPUAN yang saat ini berprofesi sebagai guru MTs Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria ini, harus berhenti sejenak dari olahraga voli karena melahirkan.]]>

PEREMPUAN yang saat ini berprofesi sebagai guru MTs Tahfidh Putri Yanbu’ul Qur’an 2 Muria ini, harus berhenti sejenak dari olahraga voli karena melahirkan. Namun, rasa cintanya yang besar terhadap olahraga, membuat ia rindu ingin segera kembali lagi.

Guru muda bertalenta bernama Nurul Pitriani ini, mengaku sudah tidak sabar ingin bermain voli lagi. ”Paling saya sukai olahraga tersebut. Kenapa saya memilih menjadi guru olahraga, karena terinspirasi dari ayah yang rajin berolahraga,” ungkapnya.

Perempuan yang saat ini berusia 25 tahun ini sangat di-support suaminya yang menginginkan untuk segera gabung lagi ke klub voli. Alasannya supaya badannya bisa langsing.

”Ya, ada benarnya juga badan menjadi melar paska melahirkan. Jadi, harus dikuruskan lagi. Kata suami setelah anak usia tiga bulan harus main voli lagi, biar singset badannya,” kata perempuan yang berdomisili di RT 4/RW 1, Desa Colo, Dawe, Kudus, ini sambil tertawa.

Dia sejak kecil memang hidup di lingkungan keluarga yang menggemari olahraga. Terutama ayahnya. Nurul bercerita, ayah suka olahraga voli dan badminton. Ia sering lihat ayahnya saat main. Dari situlah ada rasa tertarik.

”Saya latihan sama ayah. Waktu SD ada even antarsekolah, saya ikut gabung di tim sekolah. Waktu itu permainan saya masih kurang layak. Karena otodidak, tak ada pelatih profesional. Tapi, saya tak menyerah,” terangnya.

Nurul pun kemudian bertekad masuk klub voli di Bandung. Sebab, domisili asli ibu muda ini, memang di Kota Kembang. Dia masuk klub niatnya jika ada even olahraga lagi tidak membuat malu timnya.

”Eh, malah keterusan sampai sekarang deh. Apalagi saat off sudah hampir satu tahun, rasanya sudah ”gatal” ingin pukul bola (voli),” kata Nurul.

Nurul memiliki pengalaman mengikuti even Pra Pekan Olahraga Nasional (PON). Kalau tarkam sudah tak terhitung. Pernah ke Lampung, Kalimantan , Sulawesi, Medan, Aceh, dan paling jauh ke Ternate.

]]>
Ali Mustofa Wed, 20 Feb 2019 07:40:41 +0700
<![CDATA[Peroleh Beasiswa lantaran Menang Bulutangkis]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/19/120193/peroleh-beasiswa-lantaran-menang-bulutangkis https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/19/peroleh-beasiswa-lantaran-menang-bulutangkis_m_120193.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/19/peroleh-beasiswa-lantaran-menang-bulutangkis_m_120193.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/19/120193/peroleh-beasiswa-lantaran-menang-bulutangkis

PEREMPUAN bernama lengkap Farida Naila Rahmah terbilang getol dalam hal bermusik dan olahraga. Sebab kedua hal tersebut ia tekuni sejak kecil.]]>

PEREMPUAN bernama lengkap Farida Naila Rahmah terbilang getol dalam hal bermusik dan olahraga. Sebab kedua hal tersebut ia tekuni sejak kecil. Untuk olah vokal dirinya belajar secara otodidak tanpa tes vokal. Akan tetapi, prestasinya dalam hal menyanyi cukup menyedot perhatian.

Beberapa lomba menyanyi pernah diikutinya. Tak ayal, prestasinya cukup banyak. Mulai dari finalis Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Solo vokal tingkat Kabupaten Kudus 2014, juara I vocal competition dalam rangka launching broadcasting UMK kategori umum 2017, juara II lomba menyanyi pop Islami se-Jawa Tengah milad JQH As-Syauq IAIN Kudus 2018, dan juara I singsong competition festival syari’ah IAIN Kudus 2018.

Kebanyakan lomba yang diikutinya ber-genre pop. Karena dirinya sejak kecil gemar mendengarkan musik pop. ”Saya suka musik pop karena lebih simpel,” terangnya.

Naila – sapaan akrabnya mengaku tidak pernah terobsesi menjadi penyanyi. Perempuan yang mengidolakan Adelle dan Celine Dion itu sebatas mencoba ikut lomba menyanyi dan kebetulan mendapat juara. ”Nggak pernah nge-job nyanyi di luar. Sebatas hobi sebenarnya,” sambungnya.

Soal tawaran job, Naila mengaku ada beberapa. Hanya dirinya masih sibuk kuliah dan melatih renang. Selain itu dirinya juga sedang menekuni futsal yang sudah dijalaninya. Selama dua tahun belakangan, prestasi di bidang olahraga juga dimilikinya. Bahkan saat studi di MTs N 1 Kudus dan SMA NU Al-Ma’ruf dirinya dibebaskan biaya SPP lewat torehan piagam bulutangkis yang dimilikinya.

Apa yang diraihnya saat ini diyakini olehnya merupakan dukungan dari orang tuanya. Bentuk dukungan dari ibundanya meliputi membelikan kostum untuk manggung dan mengantarkan saat lomba.

Meski begitu, setiap kali akan manggung terkadang muncul rasa minder. ”Ya kadang minder juga kalau lihat lawan yang suaranya lebih bagus tapi tetap yakin aja. Nggak peduli juga dengan hasilnya,” ujarnya sambil tertawa.

Ke depan, perempuan kelahiran 22 November 1997 ini ingin menjadi penyanyi profesional. ”Ingin jadi penyanyi tetapi belum begitu ambisius. Yang penting ngalir saja dulu,”harapnya. (vga)

]]>
Ali Mustofa Tue, 19 Feb 2019 07:58:25 +0700
<![CDATA[Tetap Setia meski Push Up 200 Kali]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/18/119983/tetap-setia-meski-push-up-200-kali https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/18/tetap-setia-meski-push-up-200-kali_m_119983.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/18/tetap-setia-meski-push-up-200-kali_m_119983.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/18/119983/tetap-setia-meski-push-up-200-kali

TERIK matahari menyala-nyala menghantam lapangan SMKN 2 Purwodadi. Siang itu cuaca memang panas. Tetapi Zumrotul Mardiyah tetap memilih baris-berbaris.]]>

TERIK matahari menyala-nyala menghantam lapangan SMKN 2 Purwodadi. Siang itu cuaca memang panas. Tetapi Zumrotul Mardiyah tetap memilih baris-berbaris di tengah lapangan. Sambil mendengarkan instruksi dari pemimpinnya. Ia berusaha menyelaraskan gerakan agar serasi dengan teman-temannya.

”Langkah tegap maju jalan!,” seru komandan itu. Zumrotul Mardiyah sontak menghentakkan kakinya. Prok... bunyi langkah awalnya yang mantap. Ya, ia memang sedang mengikuti latihan Pasukan Pelajar Pengibar Bendera (Praspada).

Ia mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini dari melihat kakaknya yang pernah mengikuti Pasprada. Dari situ seakan ia mulai jatuh cinta dengan ekstra kurikuler (ekskul) ini. Meskipun berat ia tetap menjalani.

”Waktu SMP saya melihat paskibraka di televisi. Kebetulan waktu masuk sekolah sini, ekskul paskibra-nya mememang menonjol. Jadi saya langsung gabung,” kata perempuan kelahiran Grobogan, 24 Februati 2003 ini.

Setelah masuk, ia harus berlajar menyesuaikan diri. Bahkan, terkadang berantem dengan kawan. Hanya gara-gara saling menyalahkan. ”Tapi besoknya ya sudah baikan lagi. Nggak sampai dibawa terus,” imbuhnya.

Perempuan yang hobi menggambar ini mengaku, setelah mengikuti Pasprada, ia merasakan ada pendidikan karakter yang baik. Meskipun keras, ia bisa menikmati. Ia sering disuruh push up oleh seniornya. Tak tanggung-tanggung, total push up dalam sehari bisa sampai 200 kali.

”Di sini (ekskul Pasprada, Red) semua sama. Mau itu cowok atau cewek. Tapi saya sudah siap. Ketika memutuskan masuk di sini, memang sudah konsekuensinya. Ya jalani saja. Sudah saya siapkan mental dari awal,” jelasnya.

Push up tersebut diberikan ketika melakukan kesalahan. Tetapi tidak sendirian. Ia menjalani hukuman bersama teman-temannya. Di ekskul ini menerapkan jiwa korsa. Setiap ada satu anggota salah semua harus bertanggung jawab.

”Wah push up-nya berapa kali udah gak terhitung. Kalau 50 ya lebih. 100 ya lebih. Pernah satu hari itu sampai 200 kali. Jadi setiap kesalahan push up 10 kali. Jadi yang 200 itu total semuanya,” kata siswa kelas XI ini.

Meskipun merasa jengkel ketika dihukum, ia tetap memiliki motivasi. Setelah dihukum ia menjadi lebih termotivasi, agar tidak melakukan kesalahan lagi. Bahkan, ia berharap agar pendidikan di Pasprada menjadi lebih keras lagi.

”Agar bisa terbentuk mental saya. Kemudian agar bisa bersaing dengan sekolah-sekolah lain. Lebih disiplin dan mindset-nya biar bagus,” imbuhnya. (vah)

]]>
Ali Mustofa Mon, 18 Feb 2019 09:20:51 +0700
<![CDATA[Pernah Salah Lagu Saat Manggung]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/16/119680/pernah-salah-lagu-saat-manggung https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/16/pernah-salah-lagu-saat-manggung_m_119680.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/16/pernah-salah-lagu-saat-manggung_m_119680.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/16/119680/pernah-salah-lagu-saat-manggung

AFIFAH Diane Yunani sejak kecil sudah suka menyanyi. Meski hanya sebatas hobi, Yuna, pernah mengasah bakatnya dengan mengikuti kompetisi bernyanyi.]]>

AFIFAH Diane Yunani sejak kecil sudah suka menyanyi. Meski hanya sebatas hobi, Yuna –sapaan akrabnya – ini pernah mengasah bakatnya dengan mengikuti kompetisi bernyanyi di tingkat kabupaten. Beruntung, dia langsung mendapatkan juara III.

”Jadi sebelum lomba, mama tidak bolehin. Namun saya bersikeras meminta izin untuk ikut. Beruntung mama luluh dan membolehkan saya ikut. Akhirnya bisa juara III deh,” ungkap gadis kelahiran Grobogan, 3 November 2000 ini. Yuna mengaku, untuk melatih suaranya, dia sempat ikut ekskul rebana di sekolah.

Semenjak itu, dia kerap menerima tawaran menyanyi di acara pernikahan hingga ulang tahun saudara. Selain seru, rupanya Yuna pernah memiliki pengalaman lucu saat manggung.

”Jadi saya pernah salah lagu saat nyanyi di acara nikahan saudara.Abisnya nadanya hampir sama. Sedangkanpemain orgennya kurang komunikasi. Jadi sudah setengah lagu baru nyadar kalau salah lagu,” kesannya.

Selain lagu pop dan rebana, Yuna juga lihai menyanyikan lagu dangdut. ”Genre lain bisa, tapi lebih suka dangdut. Lebih asyik dan enak. Cengkok lagu dangdut juga lebih mudah,” ungkap gadis yang beralamat di Jalan Wijaya Kusuma Kota Purwodadi ini.

Ke depan, dia berharap bisa terus mengasah bakatnya. Bahkan melalui bakat menyanyinya itu, dia lolos menjadi Duta Wisata Grobogan 2018.

”Saya kebetulan memiliki bakat menyanyi. Sehingga membantu penambahan poin dan membuat saya berhasil menjadi juara I Duta Wisata Grobogan,” paparnya.

]]>
Ali Mustofa Sat, 16 Feb 2019 11:39:03 +0700
<![CDATA[Terkesan Jadi Volunteer Mengajar]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/16/119651/terkesan-jadi-volunteer-mengajar https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/16/terkesan-jadi-volunteer-mengajar_m_119651.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/16/terkesan-jadi-volunteer-mengajar_m_119651.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/16/119651/terkesan-jadi-volunteer-mengajar

IKUT dalam kegiatan kelas inspirasi (KI) Pati Mengajar Sehari dilakoni Gunita Wahyu Sektyanti baru-baru ini. Ia menjadi volunteer KI sebagai fasilitator.]]>

IKUT dalam kegiatan kelas inspirasi (KI) Pati Mengajar Sehari dilakoni Gunita Wahyu Sektyanti baru-baru ini. Perempuan yang akrab disapa Gunita ini, menjadi volunteer KI sebagai fasilitator. Meski demikian, berkumpul dengan siswa SD membuatnya terkesan. Terlebih ini pengalaman kali pertamanya.

Alumni Jurusan Komunikasi Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta ini, bertemu dengan siswa-siswa SD. Meskipun hanya sehari, tapi sudah membuatnya lebih fresh. Ini menjadi hiburan tersendiri di tengah aktivitasnya yang padat menjadi protokoler di Setda Pemkab Pati. Dirinya juga bisa lebih dekat dengan dunia anak.

”Anak-anak seusia SD itu sangat aktif. Saya semakin sadar, jika pendidikan yang baik untuk anak-anak itu penting. Baik dalam artian membimbing siswa sesuai dengan usianya. Pokoknya senang bisa mengenalkan mereka (anak-anak seusia SD, Red) dengan berbagai profesi. Sebab, KI diikuti pengajar lintas profesi,” katanya.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini, kini juga aktif ikut mempromosikan pariwisata di Bumi Mina Tani. Jika mengikuti kegiatan pembukaan atau kegiatan yang berhubungan dengan pariwisata, gadis kelahiran Pati, 30 Maret 1993 ini, suka meminta teman-teman di duta wisata untuk membagikan ke media sosial masing-masing.

”Kebetulan pernah ikut duta wisata. Jadi, sampai saat ini saya masih terus mempromosikan wisata di Pati. Saya mengajak teman-teman lain juga ikut mempromosikan di medsosnya masing-masing. Karena ini cukup efektif,” ucap warga Desa Sukoharjo, Margorejo, Pati, ini kemarin.

Gunita memang suka dengan pariwisata dan kesenian. Terlebih dengan kesenian tari. Dirinya saat ini juga ikut di sanggar tari. Bahkan, ia pernah berpartisipasi pada Festival Colour of The World di Malaysia 2015 lalu. Kegiatan tersebut diikuti delegasi negara se-Asia Tenggara. Di sana Gunita memperkenalkan salah satu tarian asal Indonesia.

]]>
Ali Mustofa Sat, 16 Feb 2019 08:04:23 +0700
<![CDATA[Tahan Banting Demi Jadi Juara]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/15/119490/tahan-banting-demi-jadi-juara https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/15/tahan-banting-demi-jadi-juara_m_119490.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/15/tahan-banting-demi-jadi-juara_m_119490.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/15/119490/tahan-banting-demi-jadi-juara

PEREMPUAN bernama lengkap Karisma Lutfiana Nurul Fadila ini, mulai menemukan passion di bidang literasi dan sastra. Ia kerap menjuarai berbagai lomba.]]>

PEREMPUAN bernama lengkap Karisma Lutfiana Nurul Fadila ini, mulai menemukan passion di bidang literasi dan sastra. Beberapa kali, gadis asal Kabupaten Blora yang nyantri di Kajen, Pati, ini, kerap menjuarai berbagai lomba. Seperti juara III lomba baca puisi se-Karesidenan Pati hingga juara I penulisan artikel di Kudus.

Untuk menjadi berprestasi itu, Karisma mengaku harus tahan banting dan banyak berkorban. Gadis kelahiran Blora, 19 Maret 2002 ini, mengaku, harus banyak berkorban waktu untuk latihan. Menurutnya, latihan demi latihan dalam segala hal sangat penting. Termasuk di dunia literasi dan sastra yang digelutinya.

”Ya harus mau berkorban waktu untuk latihan-latihan. Itu untuk menunjang jam terbang," kata gadis yang kini duduk di bangku kelas XI MA Salafiyah Kajen-Pati ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Selain itu, santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Rima Al Amin ini mengaku, pantang menyerah juga menjadi hal penting dalam menekuni sesuatu. Karisma pun tak jarang mengalami kegagalan dalam sebuah lomba.

Namun, Karisma tetap semangat. Kegagalan-kegagalan itu menjadi pengalaman berharga dan belajar dari kesalahan. ”Agar tak mudah menyerah, tentunya kita harus semangat berkarya. Bisa jadi karya pertama, kedua, hingga ketiga gagal, karya keempatlah yang jadi juara. Jadi, harus pantang menyerah untuk menjadi besar," papar putri dari pasangan Ali Machsun dan Siti Hida ini.

]]>
Ali Mustofa Fri, 15 Feb 2019 08:09:08 +0700
<![CDATA[Hidupkan Nuansa Literasi, Disdikpora Gelar Lomba Perpustakaan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/14/119369/hidupkan-nuansa-literasi-disdikpora-gelar-lomba-perpustakaan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/14/hidupkan-nuansa-literasi-disdikpora-gelar-lomba-perpustakaan_m_119369.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/14/hidupkan-nuansa-literasi-disdikpora-gelar-lomba-perpustakaan_m_119369.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/14/119369/hidupkan-nuansa-literasi-disdikpora-gelar-lomba-perpustakaan

Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus menggelar lomba perpustakaan untuk SD dan SMP. Lomba ini dimulai dengan seleksi tingkat kecamatan.]]>

KUDUS - Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kudus menggelar lomba perpustakaan untuk SD dan SMP. Lomba yang sudah rutin tahunan digelar ini, dimulai dengan seleksi tingkat kecamatan terlebih dahulu.

Kepala Disdikpora Kudus Joko Susilo melalui Kasi Kurikulum Djamin, mengatakan, lomba perpustakaan ini digelar untuk menghidupkan ruang baca di sekolah dan mendorong literasi, baik guru maupun siswa.

”Kami ingin perpustakaan sekolah tidak sekadar koleksi buku ditata di rak yang sudah tua. Bahkan sampai berdebu, karena tidak pernah dibaca,” ujarnya.

Adanya lomba ini, masing-masing diharapkan sekolah mempercantik dan mengubah ruang perpustakaan menjadi lebih nyaman. ”Harapannya siswa dan guru betah lama-lama membaca di perpustakaan,” harapnya.

Dia menuturkan, dari lomba perpustakaan ini, diambil tiga sekolah untuk menjadi juara. Tahun lalu, yang menjadi juara tingkat SD yakni SDN 3 Terban sebagai juara I, juara II diraih SDIT Al Islam, dan juara III didapat SDN Karangbener. Sementara itu, tingkat SMP juara I digondol SMP 5 Kudus, juara II sebagai SMP 2 Gebog, dan juara III SMP Kanisius.

Djamin mengatakan, lomba 2019 sudah disosialisasikan. UPT pendidikan masing-masing kecamatan sudah menunjuk sekolah yang diajukan ikut lomba.

Sementara itu, ada wacana tahun ini jenjang lomba tidak hanya sampai tingkat kabupaten. Melainkan tingkat provinsi. Tapi, belum ada rapat koordinasi lanjutan. Dulu, saat SD dan SMP masih berada di bawah naungan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, lomba ini sampai tingkat provinsi. Tapi, setelah SD dan SMP diserahkan ke pemerintah kabupaten, lomba ini vakum. Kini, Disdikpora merasa bertanggung jawab dan menggelar.

Aspek penilaian lomba perpustakaan ini, meliputi gedung atau ruang perpustakaan, sarpras, anggaran perpustakaan, tenaga pengelola, koleksi buku, sumber daya elektronik perpustakaan, pengolahan bahan pustakaan, layanan dan program perpustakaan, kerja sama, serta data pendukung.

Rata-rata sekolah yang mengikuti lomba perpustakaan mendapatkan dana alokasi khusus (DAK) berupa buku.

]]>
Ali Mustofa Thu, 14 Feb 2019 13:55:33 +0700
<![CDATA[Jual Satu Bungkus Kopi Gratis Satu Buku]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/14/119350/jual-satu-bungkus-kopi-gratis-satu-buku https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/14/jual-satu-bungkus-kopi-gratis-satu-buku_m_119350.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/14/jual-satu-bungkus-kopi-gratis-satu-buku_m_119350.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/14/119350/jual-satu-bungkus-kopi-gratis-satu-buku

Khoirun Niam terkenal di Pati sebagai penulis dan produsen kopi. Dirinya mengajak masyarakat uri-uri literasi. Sambil mengenalkan kopi khas Pati.]]>

Khoirun Niam terkenal di Pati sebagai penulis dan produsen kopi. Dirinya mengajak masyarakat uri-uri literasi. Sambil mengenalkan kopi khas Pati. Caranya menjual satu bungkus kopi gratis satu buku karyanya.

SRI PUTJIWATI, Pati

BUKU berjudul Nostalgi dan Melankoli salah satu karya pria yang akrab disapa Niam ini. Buku yang ditulis 2018 lalu itu menjadi salah satu karya Niam di antara 40 buku yang telah ditulis sejak 2004 silam hingga sekarang. Ia menulis sejak nyantri di Desa Kajen, Margoyoso. Di rumahnya terdapat banyak buku. Semua disimpan rapi di dalam almari.

Jika dihitung, karyanya mulai dari cerpen, puisi, dan novel sudah mencapai 40 lebih. Ia menekuni menulis walaupun kini aktivitasnya lebih banyak menjadi produsen kopi. Niam kini tinggal di desa asalnya Desa Plukaran, Gembong, Pati. Desa itu menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Bumi Mina Tani.

Di sana, Niam menjadi salah satu produsen kopi. Mulai dari menanam kopi di kebun miliknya. Menjemur hingga mengolahnya menjadi kemasan kopi yang telah dipasarkan secara nasional. Pria 32 tahun ini menjadi produsen kopi sejak 2013 silam. Mulanya, Niam melihat banyak petani di sekitar rumahnya yang menjual biji kopi.

“Inspirasinya cukup sederhana. Di daerah saya masih jarang petani menjual olahan kopi. Mereka lebih menjual biji kopi. Saya melihat peluang berjualan kopi. Inspirasi lainnya dulu waktu mondok, saya suka ngopi. Kenapa tidak menggunakan kesempatan itu, menjual kopi di kalangan masyarakat dan santri,” katanya.

Menurutnya, dengan menjual kopi dalam bentuk bubuk lebih menguntungkan. Harga biji kopi kini Rp 23.300 per kilogram. Kalau telah diolah menjadi bubuk harganya mencapai Rp 75 ribu per kilogram. Ia memproduksi kopi robusta khas lereng Pegunungan Muria.

Niam mengolah kopi dari lahan pertanian kopi milik orang tuanya. Dia sendiri yang memetik, mengolah, dan memasarkan kopinya. Dalam satu tahun, lahan kopi milik orang tuanya bisa menghasilkan dua ton kopi. Namun Niam bisa memanen kopi yang sudah berwarna merah setiap saat. Kemudian diolah.

Dalam sebulan, Niam bisa menjual sekitar 50 kilogram kopi. Kopi itu tidak hanya dari kopi petikan sendiri. Dia juga menampung petani lainnya ingin menjual biji kopi kepadanya. Dari produksinya itu, ayah satu anak ini bisa menjual kopi khas Pati di wilayah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan berbagai daerah di Jawa.

Menjadi produsen kopi tak membuatnya berhenti menulis. Bahkan, Niam bisa mengkampanyekan literasi melalui kopi. Ia kerap menjual kopi dengan sistim gratis buku karyanya sendiri. Menurutnya, membaca buku identik dengan kopi. Jika orang membeli kopi miliknya, maka bisa mendapatkan buku.

“Membaca buku dan kopi itu satu paket. Tapi kalau misal tidak suka buku masih bisa mendapatkan kopi dan sebaliknya. Misalnya saja harga kopi Rp 20 ribu, saya jual Rp 25 ribu. Biaya Rp 5 ribu ongkirnya,” kata pria lulusan MA Matholiul Falah Kajen Margoyoso Pati ini.

Suami Munaroh ini mengaku tak merasa rugi dengan sistem menjual kopi gratis buku. Sebab kopi yang dijualnya diproduksi sendiri. Mulai dari menanam hingga menyangrai. Dengan menjual kopi gratis buku, ia mengaku masih untung. Karena kopi yang diproduksi bukan dari hasil membeli dari petani lain. Melainkan dari kebun sendiri. Untuk buku sendiri tak semua digratiskan karena masih dipasarkan di toko buku dan dipesan oleh teman-temannya.

Niam sendiri merupakan seorang hafidz. Setelah lulus MA di Kajen, dirinya melanjutkan studinya ke Kudus. Dirinya memilih mondok di Ponpes Tahfidzul Quran Raudhatuh Tholibin. Selama 4,5 tahun ia berhasil menghafal Alquran. Setelah itu, Niam memilih pulang ke Pati.

Kesehariannya selain menjadi produsen kopi, Niam beraktivitas di kantor PCNU Pati. Dirinya juga menjadi penulis di Komite Sastra Dewan Kesenian Pati dan sering menyumbang tulisan di beberapa media. Laki-laki kelahiran 30 Desember 1987 ini juga aktif menjadi pengurus LP Ma`arif NU Jawa Tengah. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 14 Feb 2019 12:04:14 +0700
<![CDATA[Terbiasa Kerja Ekstra]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/14/119332/terbiasa-kerja-ekstra https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/14/terbiasa-kerja-ekstra_m_119332.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/14/terbiasa-kerja-ekstra_m_119332.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/14/119332/terbiasa-kerja-ekstra

KESABARAN menjadi modal penting bagi Ismi Wahyuning Putri menghadapi orang-orang di lapangan. Sebagai petugas pendamping koperasi, Ismi tahu konsekuensinya.]]>

KESABARAN menjadi modal penting bagi Ismi Wahyuning Putri menghadapi orang-orang di lapangan. Ya, sebagai petugas pendamping koperasi di lapangan, Ismi sudah mengerti konsekuensi yang harus dia hadapi ketika berada di lapangan.

”Jadi ya memang harus mengenal dan mengerti kondisi di lapangan. Seperti utang macet, dan sebagainya,” tutur ibu satu anak yang berulang tahun hari ini, 13 Februari, ke 28 tahun itu.

Dua tahun menjadi petugas pendamping koperasi di lapangan tentu membuat tenaganya cukup terkuras. Meski begitu, Ismi yang tinggal di Desa Mondoteko, Kecamatan Kota Rembang itu tak melupakan kewajibannya sebagai istri. Bahkan, dirinya juga masih sempat membantu memasak sang ibu di rumah.

”Bantu ibu memasak juga untuk jualan kalau di rumah. Aku juga jual bakso bakar,” tuturnya. 

Kesibukan yang luar biasa itu pun membuatnya harus bekerja ekstra juga. Bahkan, dia sering baru tidur jam 11 malam, dan sudah harus bangun jam 2 pagi. Namun, hal itu tak membuatnya mengeluh. Karena, semua itu demi kebaikan keluarga.

”Untungnya kalau pas di lapangan, pengurus koperasi baik semua. Teman-teman di sini juga baik-baik. Tidak ada tidak enaknya,” aku lulusan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Jogjakarta 2014 itu.

]]>
Ali Mustofa Thu, 14 Feb 2019 10:09:47 +0700
<![CDATA[Dari Iseng, Kini Bawa Hoki]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/13/119139/dari-iseng-kini-bawa-hoki https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/13/dari-iseng-kini-bawa-hoki_m_119139.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/13/dari-iseng-kini-bawa-hoki_m_119139.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/13/119139/dari-iseng-kini-bawa-hoki

PEREMPUAN tidak lepas dengan namanya aksesori. Piranti ini dapat membuat seseorang lebih percaya diri dengan lawan jenis. Lebih-lebih ini kalau membawa hoki.]]>

PEREMPUAN tidak lepas dengan namanya aksesori. Piranti ini dapat membuat seseorang lebih percaya diri dengan lawan jenis. Lebih-lebih ini kalau kegemaran ini membawa hoki. Pastinya bakal ditekuni untuk dikembangkan. Pengalaman ini yang dirasakan Intan Riasty Putri.

Intan begitu nama sapaanya tidak menampik akesori menjadi kebutuhan. Makanya dirinya menangkap peluang ini. Salah satunya  membuat kerajinan gelang dan kalung handmade. Brand yang dimiliki diberi nama Intyahandmade (singkatan dengan nama temannya, red).

”Jujur pada 2013 dulu iseng. Kebetulan saya hobi. Makanya kerap beli aksesori gelang maupun kalung handmade tali di luar daerah. Wajar karena di Kota Rembang minim produk itu,” kenang perempuan kelahiran Rembang 14 Mei 1993 ini.

Daripada beli, namun tidak sebanding kualitas dirinya inisiatif membuat. Akhirnya dia membeli bahannya. Mulai dari monte maupun talinya. Itupun bahan yang dibeli harus patungan. Mengingat saat itu dirinya masih kuliah.

Makanya perburuan di toko dilakukan. Lalu iseng-iseng kreasikan bahan. Sampai akhirnya produk kreasinya jadi. Tidak ingin sekadar digunakan pribadi, dirinya coba posting via media sosial mulai Facebook dan Instagram.

”Untuk peminatnya minoritas. Karena saya hobi suka aja. Ternyataa saat lounching peminatnya banyak. Rata-rata anak SMP dan SMA,” bangga karyawan BPN Rembang tersebut.

 Hal inilah yang membuatnya makin bersemangat berkreasi. Untuk mengembangkan dirinya mencari berbagai referensi. Wajar semua dilakukan secara otodidak. Artinya tidak ada yang mengajari. Semua murni mengalir sesuai imajinasi.

Biasanya ini dilakukan saat ada waktu longgar. Seperti awal merintis dilakukan usai pulang kuliah. Begitupun kini usai bekerja. Hasilnya memang lumayan. ”Kalau yang dekat saya layani COD. Kalau yang luar kota, otomatis dikirim paket. Hasilnya lumayan, dari modal Rp 100 ribu dapat keuntungan berlipat,” pengakuan warga yang beralamat di Griya Utama Permai Blok J 40, Tireman, Rembang.

Memang hobinya kini menjadi hoki. Berbekal keuletan dirinya dapat meraup keuntungan sampai jutaan saat order ramai. Karena produk yang dibikin juga dititipkan. Salah satunya toko akesoris di kota garam.

Sebenarnya peluanganya masih besar. Buktinya dirinya kerap kali mendapat order dengan jumlah besar. Hanya saja Intan mengaku kewalahan. Makanya dia membatasi pesanan, tidak untuk cinderamata.

]]>
Ali Mustofa Wed, 13 Feb 2019 08:29:47 +0700
<![CDATA[Bermula dari Jepretan Kamera Nyewa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/12/118936/bermula-dari-jepretan-kamera-nyewa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/12/bermula-dari-jepretan-kamera-nyewa_m_118936.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/12/bermula-dari-jepretan-kamera-nyewa_m_118936.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/12/118936/bermula-dari-jepretan-kamera-nyewa

TAK pernah disangka Putri Mardawanti menekuni dunia model foto dari keisengan. Karena awal ia berpose di depan kamera hanya ikut tren anak-anak muda.]]>

TAK pernah disangka Putri Mardawanti menekuni dunia model foto dari keisengan. Karena awal ia berpose di depan kamera hanya ikut tren anak-anak muda.

Ia menceritakan, ketika masih duduk di bangku SMK, sedang hits sewa kamera. Lalu dibuat foto-foto. Foto pun di spot ala kadarnya. Misalnya di trotoar, pantai, Tugu Kartini, dan lokasi yang bisa dijangkau dengan mudah oleh kalangan pelajar.

”Dulu seringnya itu foto-foto biasa sama teman-teman sekolah. Nyewa kamera dari rental, trus buat foto-foto gitu,” kata mahasiswi semeseter II Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara ini.

Putri -spaan akrabnya- kemudian diajak fotografer menjadi model foto di sebuah even. Dari even ke even, jam terbangnya pun mulai bertambah. Namun, ia merasa masih harus banyak belajar untuk menjadi model profesional.

”Kalau diajak fotografer foto ya harus mau. Jangan sok jual mahal. Yang penting di depan kamera percaya diri. Tak usah ragu berpose. Saya juga masih belajar kok sama model lain atau dari fotografer,” ujar perempuan kelahiran Jepara, 28 Februari 1998 ini.

Selama menjadi model, ia terkesan dengan pengalaman pertamanya dipotret fotografer profesional. Yakni ketika ia didapuk menjadi model kain Troso. Pemotretan sebelumnya, ia sekadar berpose sesuai keinginannya. Namun, saat hunting menggunakan tema kain Troso itu, ia mulai belajar pose dari sang ahli.

”Jadi diarahkan. Apalagi memakai kain Troso. Senang juga bisa mempromosikan potensi kain lokal khas Jepara melalui foto,” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Tue, 12 Feb 2019 08:22:39 +0700
<![CDATA[Hemat Make-Up Sendiri]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/11/118815/hemat-make-up-sendiri https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/11/hemat-make-up-sendiri_m_118815.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/11/hemat-make-up-sendiri_m_118815.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/11/118815/hemat-make-up-sendiri

SOSOK Ita Septiana Tri Astuti sejak kelas IX SMP sudah mulai mempelajari make up. Dia juga kerap mengikuti modeling. ”Lama-lama kok boros kalau setiap tampil"]]>

SOSOK Ita Septiana Tri Astuti sejak kelas IX SMP sudah mulai mempelajari make up. Dia juga kerap mengikuti modeling.

”Lama-lama kok boros kalau setiap tampil harus membayar orang untuk rias. Jadinya saya belajar otodidak sambil lihat Youtube selama setahun,” katanya.

Lambat laun selama mengikuti lomba fashion show, dia selalu mendapat produk secara cuma-cuma. Seperti cushion, skincare, eyeshadow, dan blush on. Dari situ ia semakin tertarik mendalami rias.

Bahkan, gadis kelahiran Grobogan, 22 September 2000 ini mulai berani mengikuti lomba tata rias anak. Lomba yang kali pertama diikuti itu mampu membawanya menjadi juara II.

 ”Kemudian saya juga menabung membeli berbagai keperluan rias karena saya ingin menjadi make up artis (MUA). Saya mulai membeli secara bertahap peralatan pendukung seperti foundation, brush, hingga pensil alis,” paparnya.

Tata pun terus berlatih hingga sekarang. Dia merasa masih belum puas dengan hasil riasannya. ”Kendala saya sampai sekarang membuat wajah klien tetap menjadi diri sendiri tanpa mengurangi bentuk atau warna kulit pada muka,” imbuh pelajar SMAN 1 Purwodadi ini.

Tata juga memilih merias wajah klien terlihat flawless dan soft ketimbang riasan yang cetar di wajah. Namun, dia jadikan tantangan jika klien meminta riasan sesuai yang klien inginkan.

Sampai saat ini, Tata sudah kerap dipanggil klien untuk acara-acara formal seperti pernikahan, tunangan, dan perpisahan sekolah. ”Mulai banyak yang kenal riasan saya. Awalnya karena saat saya tampil fashion show saya merias sendiri. Kemudian upload di media daring dan banyak yang tertarik. Jadinya saya jadikan ladang penghasilan saya,” paparnya.

Gadis asal Jalan Diponegoro Kecamatan Purwodadi ini menceritakan pengalamannya saat merias 11 orang. Di mana ia diberi waktu delapan jam untuk menyelesaikan riasannya.  ”Menjadi tantangan sendiri buat saya. Karena saya harus berhadapan dengan bentuk dan jenis kulit atau wajah yang berbeda. Dengan waktu yang singkat pula,” kesannya.

Tak hanya itu, ia juga memiliki pengalaman unik saat menerima tawaran rias di Semarang. Namun karena kepolosannya ia memberikan harga sama seperti merias di Purwodadi. Meski begitu, ia jadikan kejadian tersebut sebagai pengalaman berharga sepanjang kariernya menjadi MUA.

]]>
Ali Mustofa Mon, 11 Feb 2019 15:34:13 +0700
<![CDATA[Angkat Kota dengan Berprestasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/09/118542/angkat-kota-dengan-berprestasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/09/angkat-kota-dengan-berprestasi_m_118542.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/09/angkat-kota-dengan-berprestasi_m_118542.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/09/118542/angkat-kota-dengan-berprestasi

ANI Noviani punya cara mengenalkan kota kelahirannya Pati kepada masyarakat luas. Gadis asal Desa Karaban Kecamatan Gabus ini mengenalkan Pati melalui prestasi.]]>

ANI Noviani punya cara mengenalkan kota kelahirannya Pati kepada masyarakat luas. Gadis asal Desa Karaban Kecamatan Gabus ini mengenalkan Pati melalui prestasi. Bukan hal-hal kontroversi.

”Biasanya kan kalau terkenal itu karena kontroversi. Seperti Pati misalnya terkenal dengan karaokenya, terkenal sebagai kota dukun dan hal-hal yang dirasa kurang baik,” kata gadis kelahiran Pati, 8 September 1997 ini.

Ani lebih mengenalkan Pati dari manusianya. Manusia yang berprestasi dan bisa membanggakan. ”Ya misalnya melalui kegiatan lomba-lomba. Saya pernah beberapa kali ikuti kejuaraan di luar negeri. Mungkin dengan begitu Pati ini bisa dipandang lebih karena manusianya,” imbuh alumni MA Salafiyah Kajen ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Gadis yang kini sedang menempuh studi di Universitas Diponegoro Semarang ini tercatat sudah beberapa kali menorehkan prestasi yang cukup membanggakan. Ani, diantaranya  pernah menjadi semifinalais Physic Summit Paper Competition di ITS Surabaya, Finalis Tecnology for Indonesia oleh PT Perusahaan Gas Negara, Silver Medal in Honnor of the best presentation and outstanding creativity and innovativeness WICO 2018 by Korea University Invention Assiciation, dan Special Award in WICO Korea Selatan.

Baru-baru ini Ani juga berangkat ke Thailand untuk sebuah perlombaan bertajuk Thailand Inventor’s day. “Memang hanya dengan cara ini yang bisa saya lakukan. Saya bercita-cita nantinya kabupaten Pati semakin di kenal lewat berbagai prestasi masyarakatnya,” ungkap mahasiswi jurusan kimia ini.

]]>
Ali Mustofa Sat, 09 Feb 2019 12:08:32 +0700
<![CDATA[Hibur Anak di Pengungsian Banjir]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/09/118516/hibur-anak-di-pengungsian-banjir https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/09/hibur-anak-di-pengungsian-banjir_m_118516.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/09/hibur-anak-di-pengungsian-banjir_m_118516.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/09/118516/hibur-anak-di-pengungsian-banjir

MENJADI relawan merupakan bentuk dari kepedulian terhadap sesama manusia. Mereka rela mengorbankan waktunya demi meringankan beban korban bencana alam.]]>

MENJADI relawan merupakan bentuk dari kepedulian terhadap sesama manusia. Mereka rela mengorbankan waktunya demi meringankan beban korban bencana alam. Hal itu ditunjukkan Siddiqoh Taqiyya.

Gadis imut yang akrab disapa Dita ini relawan dari Mapsicare, jurusan Psikologi, Universitas Muria Kudus. Ia bergabung dengan Mapsicare sekitar setahun lalu. Dengan dasar dan komitmen yang kuat hati kecilnya terpanggil ikut bergabung dengan kegiatan relawan di kampusnya.

"Tak ada ajakan dari teman. Ini memang panggilan hati saya yang ingin membantu sesama," katanya.

Dita sebelumnya mengikuti organisasi Palang Merah Indonesia (PMI). Kemudian bergabung ke Mapsicare. Alasannya karena ingin mengisi waktu luangnya dengan kegiatan positif. Awal pergerakannya ketika memberikan trauma healing kepada korban banjir di Desa Jati Wetan sepakan yang lalu.

Dia dan rekan-rekannya menghibur anak-anak korban banjir di posko pengungsian. Di sana ia mengajak bermain bersama dan melakukan kegiatan menggambar. Kegiatan tersebut ditujukan untuk menghibur anak-anak agar tak merasa bosan di pengungsian. Serta menumbuhkan semangat baru setelah rumah mereka dilanda bencana.

”Saya menyukai kegiatan yang mengandung unsur kemanusian,” katanya.

Dara kelahiran Kudus, 4 Maret 2000 ini mengaku, sangat grogi ketika pertama kali mengisi kegiatan tarauma healing di aula Balai Desa Jati Wetan lalu. Untuk menanggulangi rasa groginya Dita kembali pada prinsip awalnya. Yakni ingin belajar dan menolong sesama. Dari situlah ia lebih enjoy ketika memberikan materi kepada anak-anak korban bencana banjir.

Kepeduliannya terhadap sesama membuatnya siap dikirim menolong korban becana. Meskipun itu di luar Kota Kudus. (gal)

]]>
Ali Mustofa Sat, 09 Feb 2019 08:08:54 +0700
<![CDATA[Uji Bakat via Duta Wisata]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/08/118297/uji-bakat-via-duta-wisata https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/08/uji-bakat-via-duta-wisata_m_118297.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/08/uji-bakat-via-duta-wisata_m_118297.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/08/118297/uji-bakat-via-duta-wisata

DARA yang satu ini punya cara tersendiri untuk menguji bakatnya menyanyi. Ya, gadis bernama lengkap Rizki Azzahra Fatichasari itu menguji kemampuan di duwis.]]>

DARA yang satu ini punya cara tersendiri untuk menguji bakatnya menyanyi. Ya, gadis bernama lengkap Rizki Azzahra Fatichasari itu menguji kemampuan terbaiknya dengan mengikuti ajang duta wisata yang digelar beberapa bulan lalu.

”Dulu pas ikut duta wisata 2018 itu seperti uji bakat. Beranikan diri buat menyanyi. Oke, waktu itu aku nyanyi dan dibantu peserta lain, gitu,” aku siswi kelas XII SMA 1 Sulang itu.

Menyanyi kala mengikuti duwis itu menjadi pengalaman pertamanya menyanyi di depan umum. Kendati, sebelum-sebelumnya, Rizki sudah terbiasa tampil di muka publik. Misalnya, ketika SMP kelas VIII, tatkala mengikuti ajang fashion show di salah satu hotel di Rembang.

”Waktu kelas IX juga sempat ikut lomba kayak batik tulis begitu, yang dibuat seragam begitu. Tapi Cuma memperagakan bajunya saja. Seragam sekolah begitulah,” aku Rizki yang menjadi finalis 43 besar pada duwis Rembang 2018 itu.

Kini, karena sudah duduk di bangku kelas XII, Rizki mengaku lebih fokus ke pendidikannya. Saat ada agenda IMMR (Ikatan Mas Mbak Rembang) pun, dia sudah jarang mengikuti. Selain tugas sekolah yang meningkat, dia juga sering pulang malam.

”Les di sekolah ada, di luar sekolah juga ada. Jadi, sudah tak ada waktu untuk yang lain,” papar gadis kelahiran Rembang, 25 Oktober 2001 itu.

]]>
Ali Mustofa Fri, 08 Feb 2019 09:59:45 +0700
<![CDATA[Sempat Terganjal Restu Orang Tua]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/08/118277/sempat-terganjal-restu-orang-tua https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/08/sempat-terganjal-restu-orang-tua_m_118277.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/08/sempat-terganjal-restu-orang-tua_m_118277.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/08/118277/sempat-terganjal-restu-orang-tua

BOLA basket sudah dikenal Nawang Kusumaningrum saat masih duduk di bangku kelas VII SMP. Ia tertarik dengan bola basket karena saat melihat seniornya bermain.]]>

BOLA basket sudah dikenal Nawang Kusumaningrum saat masih duduk di bangku kelas VII sekolah menengah pertama (SMP). Ia tertarik dengan bola basket karena saat melihat seniornya bermain terasa sangat menyenangkan dan menarik. Selain itu, pada dasarnya ia memang suka berolahraga.

SMPN 1 Jati saat itu juga dikenal mempunyai tim yang tangguh. Nawang -panggilan akrabnya- bergabung dengan ekstra basket SMPN 1 Jati karena saat itu dikenal mempunyai tim yang berprestasi.

”Waktu itu, saya melihat kakak senior bermain (basket, Red) rasanya menyenangkan. Memang masa-masa sekolah itu untuk mengekspresikan diri,” katanya.

Dara yang beralamat di RT 6/RW 1, Desa Kedungwaru Kidul, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, ini, juga menjelaskan, awal bergabung dengan tim basket tak mendapat restu dari orang tuanya. Sebab, lokasi rumahnya yang cukup jauh dan mengharuskan antar-jemput. Sehingga mesti sudah mendaftar ia jarang berangkat latihan.

Namun, lama kelamaan akhirnya orang tua pun luluh, karena keseriusannya berlatih basket. Menurutnya, basket cukup mempunyai kesulitan. Di antaranya teknik drible menggunakan tangan kiri. Ia mengaku kesusahan dengan teknik tersebut. Namun, karena seringnya berlatih akhirnya ia sudah mampu melakukan.

”Dulu dipaksa senior latihan drible pakai tangan kiri setiap hari. Sampai di rumah juga drible terus. Hingga sering ditegur orang tua, karena suaranya yang dirasa mengganggu,” ungkapnya.

Saat ini ia dipercaya menjadi wakil ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Olahraga di kampusnya, Universitas Muria Kudus (UMK). Ia masih akif berlatih basket sampai saat ini. Ia juga berambisi mengikuti sejumlah kejuaraan bola basket, baik tingkat lokal maupun nasional.

”Saya berusaha mendorong teman-teman supaya serius berlatih untuk bisa mengikuti kejuaraan sebanyak-banyaknya. Minimal untuk melatih mental dan merasakan atmosfer kejuaraan,” jelas cewek semester VII yang saat ini baru menjalankan kuliah kerja nyata (KKN) ini.

Dara kelahiran Demak, 15 Juli 1997 ini, juga ingin mampu memajukan tim basketnya. Sebab, merasa sudah lama minim prestasi yang diraih. ”Semoga mampu memajukan tim dan bisa menjuarai turnamen-turnamen basket,” harapnya.

]]>
Ali Mustofa Fri, 08 Feb 2019 07:51:10 +0700
<![CDATA[Mengajar Ngaji Anak-Anak Jadi Hiburan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/07/118169/mengajar-ngaji-anak-anak-jadi-hiburan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/07/mengajar-ngaji-anak-anak-jadi-hiburan_m_118169.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/07/mengajar-ngaji-anak-anak-jadi-hiburan_m_118169.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/07/118169/mengajar-ngaji-anak-anak-jadi-hiburan

DUNIA anak-anak memang menyenangkan. Hal itu yang dirasakan Fitrotul Izza. Mahasiswi Jurusan Agribisnis ini, tak larut di dunia bisnis berbasis alam saja.]]>

DUNIA anak-anak memang menyenangkan. Hal itu yang dirasakan Fitrotul Izza. Mahasiswi Jurusan Agribisnis ini, tak larut di dunia bisnis berbasis alam saja. Hal-hal berbau agama tetap menjadi pegangannya. Izza sapaan akrabnya bahkan masih menjadi guru ngaji bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya di Semarang, karena kegiatan itu menyenangkan dan bisa menghibur diri.

”Saya alumni madrasah. Ya mungkin dengan seperti ini madrasah saya bakal terus kepakai, meskipun sekarang saya mengambil jurusan agribisnis,” kata perempuan asal Desa Bakalan, Kecamatan Dukuhseti ini.

Izza mengaku senang dengan kegiatan itu, lantaran selain bisa menularkan ilmunya, dia juga senang saat bertemu dengan anak-anak. ”Senang ketemu anak-anak lucu. Menghibur. Seru ngajar anak-anak, meskipun kadang keluar nakalnya dan bikin jengkel,” kata perempuan kelahiran Pati, 4 Mei 1998 ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Izza mulai mengajar ngaji sejak semester 5. Saat itu, dia menjadi pengganti guru ngaji yang sedang berhalangan. Dari situ, Izza diminta untuk terus mengajar anak-anak. ”Ngajar ngaji berjilid hingga Al quran. Ya semacam ngaji di TPQ lah,” papar mahasiswi Universitas Wahid Hasyim Semarang ini.

Kegiatan mengajar itu bagi Izza adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Kegiatan itu dilakukan untuk mengisi waktu kuliahnya. Izza kuliah pagi sampai pukul 15.00, setelahnya digunakan perempuan berjilbab ini dengan bercengkrama bersama anak-anak dalam kegiatan belajar mengaji.

]]>
Ali Mustofa Thu, 07 Feb 2019 12:58:06 +0700
<![CDATA[Rela Tak Manggung Lagi Demi Suami]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/07/118159/rela-tak-manggung-lagi-demi-suami https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/07/rela-tak-manggung-lagi-demi-suami_m_118159.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/07/rela-tak-manggung-lagi-demi-suami_m_118159.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/07/118159/rela-tak-manggung-lagi-demi-suami

SUDAH mandiri sejak masih duduk di bangku kuliah, membuat Linda Ayu Muslimah tak pernah mengeluh meski harus pulang-pergi Pati-Rembang setiap hari.]]>

SUDAH mandiri sejak masih duduk di bangku kuliah, membuat Linda Ayu Muslimah tak pernah mengeluh meski harus pulang-pergi Pati-Rembang setiap hari. Ya, perempuan 26 tahun itu bekerja di Fave Hotel Rembang, sedangkan rumahnya berada di Desa Jembangan, Kecamatan Batangan, Pati.

”Di hotel sini, di bagian administrasi food and beverage, dinikmati saja. Meskipun sibuk juga sebagai ibu rumah tangga, ibu PKK,” tutur alumni STIE YPPI Rembang tersebut.

Linda-panggilan akrabnya bercerita, sejak duduk di bangku SMA memang sudah terbiasa mandiri. Sehingga, kesibukannya saat ini tak membuatnya mengeluh. Terlebih, tatkala SMA, dia juga sudah mendapat beasiswa dan bekerja untuk biaya sekolah sendiri.

”Dulu ayah ada masalah di perusahaan. Akhirnya bikin usaha sendiri di rumah, dan saya kayak jadi sales-nya begitu,” aku ibu satu anak itu.

Sebelumnya, tatkala masih duduk di bangku SMA juga, Linda mengaku sempat menjadi biduan yang manggung dari panggung ke panggung. Hasilnya sebenarnya juga lumayan. Bahkan juga bisa menambah biaya kuliah yang tak murah. ”Sayang, semenjak bersuami, saya tak mendapat izin lagi, hehe,” aku dia. 

Padahal, sebenarnya, dia sudah menekuninya selama kurang lebih 7 tahun. Namun, Linda mengaku rela saja, yang terpenting yang terbaik untuk keluarga.

]]>
Ali Mustofa Thu, 07 Feb 2019 12:07:42 +0700
<![CDATA[Berbagi Ilmu Gizi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/07/118090/berbagi-ilmu-gizi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/07/berbagi-ilmu-gizi_m_118090.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/07/berbagi-ilmu-gizi_m_118090.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/07/118090/berbagi-ilmu-gizi

JURUSAN gizi dipilih Intan Dewita Putri. Gadis yang akrab disapa Intan ini memilih jurusan tersebut karena minimnya pengetahuan warga di daerahnya hidup sehat.]]>

JURUSAN gizi dipilih Intan Dewita Putri. Gadis yang akrab disapa Intan ini memilih jurusan tersebut karena masih minimnya pengetahuan warga di daerahnya untuk hidup sehat. Kedepan, Dia ingin mengampanyekan hidup sehat. Ia kerap membagikan tulisan tentang penerapan pola hidup sehat kepada sebayanya.

Warga Desa Alasdawa, Dukuhseti ini mengaku memilih jurusan gizi sejak duduk di bangku madrasah aliyah negeri (MAN). Dirinya tergugah memilih jurusan tersebut karena masih banyaknya orang yang tidak memahami dan mengabaikan pola hidup sehat. Tertutama di daerahnya sendiri.

“Untuk itu nantinya setelah lulus saya ingin mengabdi kepada masyarakat dngan ilmu yang saya miliki. Dengan pendidikan kepada mereka betapa pentingnya hidup sehat dengan makanan yang mengandung gizi seimbang untuk mencegah penyakit dan stunting pada anak. Serta meluruskan mitos tentang makanan yang pantang dimakan yang beredar di masyarakat,” tutur Dara kelahiran Pati, 22 Desember 1999 ini.

Kini, ia mengikuti beberapa organisasi untuk mengembangkan kemampuan diri. Salah satu organisasi yang kini diikutinya koperasi mahasiswa, teater, hingga ikut kelompok peduli sosial dan remaja (KPSR). Intan mengikuti KPSR karena bagian dari pengabdian masyarakat. Sebab pada akhirnya ia sebagai lulusan ilmu gizi ingin memberikan pengetahuan kepada masyarakat.

Meski sibuk, mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini tetap menyempatkan diri menulis. Intan mengaku, mulanya menulis karena hobi saja. Namun hobi itu menjadi kebiasaan dan memotivasi dirinya sendiri. Sebab, dirinya lebih suka menulis kata-kata motivasi di buku hariannya. Tulisan-tulisan tersebut memotivasinya ketika sedang tidak bersemangat.

]]>
Ali Mustofa Thu, 07 Feb 2019 07:59:31 +0700
<![CDATA[Dapat Penghargaan di Sri Lanka]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/06/117902/dapat-penghargaan-di-sri-lanka https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/06/dapat-penghargaan-di-sri-lanka_m_1549432723_117902.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/06/dapat-penghargaan-di-sri-lanka_m_1549432723_117902.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/06/117902/dapat-penghargaan-di-sri-lanka

KIPRAH sosok bernama Putri Pancarini di dunia permodelan mengundang decak kagum. Meskipun kini tak sepenuhnya fokus di dunia yang digemarinya, ia tetap eksis.]]>

KIPRAH sosok bernama Putri Pancarini di dunia permodelan mengundang decak kagum. Meskipun kini tak sepenuhnya fokus di dunia yang digemarinya tersebut, gadis 25 tahun itu tetap bisa eksis.

Berbagai ajang yang cukup bergengsi pun pernah dia ikuti sekaligus dia menangi. Salah satunya, tampil sebagai excellent finalis Abhinandani Sri Lanka pada November lalu.

”Senangnya jadi model itu karena hobi. Jadi, saya enjoy menjalani. Senang juga jadi banyak punya banyak relasi,” papar Putri yang juga sempat menyabet  top 8 Putri Indonesia Jateng 2018 itu.

Pada ajang model di Sri Lanka beberapa waktu lalu itu, gadis lulusan Mechanical Engineering Undip itu, mewakili perusahannya di Semarang. Putri mengaku gembira, karena perusahaan juga mendukung sepenuhnya hobi yang dia geluti sejak SMA itu.

Memang, di ajang tersebut bukan untuk meraih juara. Sebab, di acara itu, dirinya hanya mewakili perusahaan dari sebuah forum pertemuan perusahaan se-dunia.

”Perusahaan sangat mendukung hobi saya di modeling. Agak sedih sebenarnya soalnya 80 persen waktu untuk kerja. Cuma punya waktu Sabtu dan Minggu untuk santai,” aku gadis kelahiran Rembang, 8 Januari 1993 itu.

Meski cuma punya waktu di akhir pekan, namun Putri mengaku cukup sering mendapat tawaran peragaan busana. Gadis asal Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, itu, pun enjoy dengan apa yang kini digelutinya.

]]>
Ali Mustofa Wed, 06 Feb 2019 07:33:49 +0700
<![CDATA[Belajar Bahasa Inggris dari Klien]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/04/117587/belajar-bahasa-inggris-dari-klien https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/04/belajar-bahasa-inggris-dari-klien_m_117587.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/04/belajar-bahasa-inggris-dari-klien_m_117587.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/04/117587/belajar-bahasa-inggris-dari-klien

BEKERJA di perusahaan mebel ekspor, tidak menghalangi Dona Fauziah untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Ia memilih kuliah jam pembelajarannya di akhir pekan]]>

BEKERJA di perusahaan mebel ekspor, tidak menghalangi Dona Fauziah untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Ia memilih kuliah yang jam pembelajarannya di akhir pekan.

Mahasiswi Akuntansi Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara ini nyambi bekerja sebagai Export Import Staff di perusahaan meubel di Jepara. Pembagian waktu antara kerja dan kuliah mulai ia sesuaikan sejak semester pertama.

“Saat ini ini aman-aman saja. Bagi waktu nya kalau Senin – Jumat sampai sore. Khusus Sabtu sampai siang. Pukul 14.00 baru berangkat kuliah. Minggu full,” kata gadis yang sudah memasuki semester keenam ini.

Dunia pekerjaan dan pendidikan yang linier membuatnya mudah menyesuaikan diri. Di perusahaan ia mengrurusi administrasi, purchasing, dokumen export barang furnitur, dan mengatur produksi juga. Tak jarang ia pun harus bersinggungan dan berkomunikasi dengan orang asing yang menjalin kerjasama dengan perusahaan tempat ia bekerja. Dari pengalamannya itu, ia justru memanfaatkannya untuk belajar kembangkan bahasa Inggris kepada orang asing yang menjadi kliennya.

“Kadang ada kesalahpahaman kalau komunikasi. Tapi bukan masalah yang terlalu fatal. Justru menarik bagi saya,” ujarnya sambil tersenyum.

Di awal ia bekerja, sempat salah menuliskan email kepada orang asing. “Panggilan ke perempuan kan dibedakan untuk yang udah menikah yaitu Mrs. Dan belum nikah Ms., nah saya pernah ngenalin diri lewat email saya tuliskan Mrs. Dona,” kenangnya.

Seketika ia ditanya  atasannya. "Dona, kamu udah nikah?". Ia jawab "Belum pak".

“Atasanku bilang kalau belum nikah ya gunakan Ms. Kalau kamu tulis Mrs. nanti ada bos naksir kamu yah jadinya mundur," tandasnya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 04 Feb 2019 11:04:36 +0700
<![CDATA[Terbiasa Bikin Suasana Cair]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/01/117101/terbiasa-bikin-suasana-cair https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/01/terbiasa-bikin-suasana-cair_m_117101.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/01/terbiasa-bikin-suasana-cair_m_117101.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/01/117101/terbiasa-bikin-suasana-cair

SETIAP ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Hal ini dirasakan Riza Umami, pelajar kelas XII MIPA 5, SMAN 1 Lasem. Ia sadar karakternya pendiam.]]>

SETIAP ada kemauan, di situ  pasti ada jalan. Hal ini dirasakan Riza Umami, pelajar kelas XII MIPA 5,  SMAN 1 Lasem. Ia sadar karakternya pendiam. Tapi dia ingin tampil berani bicara di hadapan umum.

Untuk mencapai impianya ini dirinya aktif berorganisasi. Tidak cukup satu, tapi banyak. Mulai pramuka, Ikatan Mbak dan Mas Rembang (IMMR) dan relawan perpustakaan jalanan.    

Pramuka jadi organisasi pertama yang ia ikuti. Dari organisasi ini ia bisa latihan mandiri. Dia juga bisa bersosialisasi. ”Saya ikut organisasi pramuka di SMA. Dari situ saya mulai terbiasa bicara di hadapan publik. Termasuk makin percaya diri,” pengakuan dara kelahiran Rembang, 17 Februari 2001 ini.

Organisasi lain yang ia ikuti Ikatan Mbak dan Mas Rembang (IMMR). Di organisasi ini ia bisa menambah pengalaman. Sekaligus ikut berkecimpung mempromosikan wisata di Kabupaten Rembang.

Di IMMR ini ia mulai belajar membawakan acara. Perannya tidak sekadar ngomong. Harus dapat membawa suasana cair. ”Paling penting tidak membosankan,” tandasnya.

Selain kedua organisasi itu, setiba di rumah Riza juga menjadi relawan perpustakaan jalanan di desanya. Di situ dirinya tidak sekadar membudayakan budaya literasi, tetapi juga mengembangkan bakat seninya.

]]>
Ali Mustofa Fri, 01 Feb 2019 07:44:53 +0700
<![CDATA[Aktif Olahraga Lagi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/117011/aktif-olahraga-lagi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/aktif-olahraga-lagi_m_117011.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/aktif-olahraga-lagi_m_117011.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/117011/aktif-olahraga-lagi

ERICHA Windhiyana Pratiwi sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) mulai menyenangi olahraga. Sempat tak olahraga lagi, kini dia aktif lagi.]]>

ERICHA Windhiyana Pratiwi sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) mulai menyenangi olahraga. Sempat tak olahraga lagi, kini dia aktif lagi. Alasannya karena bikin badan semakin segar.

”Pas sekolah tertariknya sama pramuka. Jadi malah gak ngelanjutin hobi olahraga dan tak sempat ikut ekstra bola voli. Padahal jadi hobi yang saya sukai sejak kecil," ucapnya.

Namun, sejak menjadi mahasiswa di salah satu kampus Salatiga, gadis kelahiran Grobogan, 06 Juni 1998 ini pun kembali tertarik dengan esktra tersebut. Ia pun langsung aktif mengikuti latihan hingga berbagai turnamen antarfakultas hingga kampus.

”Waktu itu tertarik ikut olahraga lagi,  karena saya merasa pas kuliah jarang banget olahraga. Adanya kuliah terus pulang kos, jadi saya cari kesibukan dengan cara menyalurkan hobi dan memanfaatkan fasilitas kampus," paparnya.

Dalam waktu dekat, pada Maret ini ia juga akan mengikuti Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) yang menjadi turnamen bergengsi antarmahasiswa.

Meski aktif mengikuti ekstra olahraga di kampusnya. Gadis yang beralamat di Desa Sulursari Kecamatan Gabus ini tetap bisa membagi waktunya dengan baik.

”Latihannya sih dulu waktu mau menjelang POM mulai diseringkan. Biasanya kalau nggak ada turneman hanya dilakukan sepekan dua kali. Tapi kalau mendekati POM, intens latihan seperti sparing yang dilakukan dengan fakultas lain. Bahkan hujan pun sampai saya bela-belain berangkat untuk hasil maksimal,” imbuhnya

Ke depan, alumni SMA 1 Kradenan ini memiliki mimpi untuk bisa meraih prestasi gemilang di bidang olahraga, meski di usianya yang tak muda lagi.

]]>
Ali Mustofa Thu, 31 Jan 2019 14:50:40 +0700
<![CDATA[Jelajahi Seluruh Gunung di Jateng]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/116994/jelajahi-seluruh-gunung-di-jateng https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/jelajahi-seluruh-gunung-di-jateng_m_116994.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/jelajahi-seluruh-gunung-di-jateng_m_116994.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/116994/jelajahi-seluruh-gunung-di-jateng

MENJELAJAHI gunung menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagi Ki Dwi Andriyana. Alasannya, mengeksplor banyak gunung merupakan pengalaman yang istimewa.]]>

MENJELAJAHI gunung menjadi salah satu hal yang menyenangkan bagi Ki Dwi Andriyana. Meski sebenarnya juga menggemari menyanyi dan memasak, tapi baginya mengeksplor banyak gunung merupakan pengalaman yang istimewa. Seluruh gunung di Jawa Tengah pun sudah dijelajahinya.

”Ada Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, Ungaran, Andong, Prau, Natas Angin, semuanya pernah. Kalau yang Jatim, baru Lawu,” ujar gadis kelahiran Rembang, 1 Februari 1996 itu.

Dari sekian gunung yang pernah dia jelajahi, yang paling mengesankan bagi Ki Dwi-panggilan akrabnya yakni ketika berada di puncak tertinggi Jawa Tengah, di Gunung Slamet. Karena, tidak semua orang pernah mencapainya.

”Soalnya itu kan atapnya Jawa Tengah,” tambah gadis yang tinggal di Desa Tawangrejo, Kecamatan Sarang itu.

Pengalaman menjelajahi banyak gunung itu tentu menjadi sesuatu yang berharga bagi Ki Dwi. Di pekerjaannya yang sekarang, dia dituntut untuk memahami banyak orang, beserta karakternya. Selain itu, dia juga terdorong untuk memiliki publik speaking yang lebih baik, dengan relasi yang lebih banyak.

”Melatih mental juga sih, agar lebih berani bertemu orang-orang penting,” kata alumni Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Walisongo Semarang itu.

Ya, Ki Dwi sudah dua pekan ini menjadi bagian dari Humas Setda Rembang sebagai tenaga harian lepas. Menurutnya, pekerjaannya yang sekarang ini hampir sama dengan wartawan, hanya prioritasnya pemberitaan untuk kepentingan Pemkab Rembang.

]]>
Ali Mustofa Thu, 31 Jan 2019 13:38:37 +0700
<![CDATA[Iseng Bikin Grafis Jadi Bisnis]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/116906/iseng-bikin-grafis-jadi-bisnis https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/iseng-bikin-grafis-jadi-bisnis_m_116906.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/iseng-bikin-grafis-jadi-bisnis_m_116906.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/116906/iseng-bikin-grafis-jadi-bisnis

MESKI lulusan pendidikan fisika, Laelana Rukhul Nur Faizah ternyata memiliki hobi desain grafis. Hobinya tersebut, ia jadikan sebagai bisnis jasa desain grafis.]]>

MESKI lulusan pendidikan fisika, Laelana Rukhul Nur Faizah ternyata memiliki hobi desain grafis. Hobinya tersebut, ia jadikan sebagai bisnis jasa desain grafis.

Perempuan kelahiran Jepara, 20 Agustus 1996 ini, menceritakan, dia memulai bisnis jasa grafis dari ketidaksengajaan. Awal masuk kuliah pada Agustus 2004 ia ulang tahun. Ada teman dekat yang memberikan kado berupa pop-up frame berbentuk wajah. ”Dari situ muncul ide untuk membuat karya-karya seperti itu (pop-up frame). Tapi, saya sebelumnya memang suka menggambar,” tuturnya.

Alumni Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini, kemudian iseng menggambar saudaranya yang ulang tahun. Ia membuatkan gambar jenis ilustrasi. Ternyata mendapat respon positif. Setelah dipromosikan di media sosial mulai dari Instagram dan fanspage, pesanan mulai berdatangan.

”Pelanggan tidak bosan. Saya juga mengembangkan mozaik foto, sketsa wajah, karikatur, pop-up frame, dan custom pillot,” kata gadis yang beralamat di Jalan RMP Sosrokartono, RT 34/RW 6, Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara, ini.

Di awal usahanya, anak keempat dari lima bersaudara ini, pernah mengalami kerugian. Ia mengaku salah strategi saat penjualan ke luar kota. Waktu itu, ada pesanan dari Bandung. Ada pemesan karikatur seharga Rp 250 ribu. Sedangkan ongkos kirimnya Rp 100 ribu. Tanpa perhitungan, ia kirim ke alamat pemesan. Ketika pemesan mengetahui besarnya harga karena tambahan ongkos kirim, barang yang sudah diterima tidak dibayar.

”Sejak saat itu saya menerima pemesanan dalam bentuk soft copy. Itu untuk menghindari kejadian serupa. Pembeli juga harus transfer dulu baru kami kirim,” tuturnya.

]]>
Ali Mustofa Thu, 31 Jan 2019 07:35:10 +0700
<![CDATA[Demi S2, Motoran Tuban-Kudus]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/30/116715/demi-s2-motoran-tuban-kudus https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/30/demi-s2-motoran-tuban-kudus_m_116715.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/30/demi-s2-motoran-tuban-kudus_m_116715.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/30/116715/demi-s2-motoran-tuban-kudus

”Semua mimpimu akan terwujud asalkan kamu punya keberanian untuk mengejarnya.” Kata Mutiara dari Walt Disney inilah yang menggambarkan Farida Isroani.]]>

”Semua mimpimu akan terwujud asalkan kamu punya keberanian untuk mengejarnya.” Kata Mutiara dari Walt Disney inilah yang menggambarkan Farida Isroani. Mahasiswi Pascasarjana IAIN Kudus kelahiran Tuban, 10 Februari 1989.

Setiap Kamis dan Jumat, mahasiswi S2 Magister Pendidikan Islam Pendidikan Agama Islam (MPI PAI) ini, berjuang menempuh perjalanan dari Jawa Timur (Tuban) ke Jawa Tengah (Kudus). Bahkan dengan berkendara sepeda motor.

Perjuangan ini, ditempuh demi meraih mimpi dan menyelesaikan pendidikannya. Perjuangannya tak sia-sia. Bulan ini, dia diangkat menjadi dosen di Kampus STITMA Tuban.

Kesuksesannya itu bukan tanpa sebab. Restu suami, doa orang tua, dan perjuangan keras. Selain itu, berani tirakat dan pantang menyerah. ”Apapun yang terjadi tetap semangat menuntut ilmu. Yang penting bisa berangkat kuliah. Ini tinggal tesis,” ucapnya.

Selain harus motoran, untuk menghemat biaya, dia rela membawa bekal. ”Kalau ke kampus mbontot sego dan banyu (membawa nasi dan minum). Semangat ingin dapat ilmu. Mumpung ada kesempatan. Harus berani tirakat. Kamis juga puasa. Temenku sampai heran,” terangnya.

Dia juga aktif dan parsitipasif di dunia pendidikan. Dia juga gemar menulis dan mendongeng. Termasuk aktif mengikuti seminar dan konferensi. Baik tingkat nasional maupun internasional.

”Pada 12-17 November 2018 lalu, saya mengikuti program international lecture dua Negara, Malaysia dan Singapura. Saat itu, saya menjadi penyaji materi seminar pendidikan internasional di Unversity Sains Islam Malaysia,” ungkapnya.

Dia mengatakan, selain pengembangan diri secara ilmiah dan akademis, mahasiswa harus senantiasa mengembangkan kemampuan diri sengan softskill dan kedewasaan diri. Yaitu dalam menyelesaikan segala masalah.

Mahasiswa juga harus mengembangkan pola pikir yang kritis terhadap segala fenomena dan mengkajinya secara keilmuan. ”Ini agar mahasiswa memperoleh penemuan-penemuan baru dan pengalaman belajar,” ucap pemateri International Symposium on Open Distance and E-Learning 2018 ini. Farida juga mendapat kesempatan sebagai penyaji materi dalam seminar pendidikan internasional di University Sains Islam Malaysia.

]]>
Ali Mustofa Wed, 30 Jan 2019 07:47:14 +0700
<![CDATA[Kampanye Pajak ke Masyarakat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/29/116529/kampanye-pajak-ke-masyarakat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/29/kampanye-pajak-ke-masyarakat_m_116529.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/29/kampanye-pajak-ke-masyarakat_m_116529.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/29/116529/kampanye-pajak-ke-masyarakat

SEBAGAI mahasiswa akuntansi, Dewi Yustika Sari tak berhenti belajar di dalam kelas dan dosen saja. Dia memperdalamnya dengan mengikuti komunitas yang selaras.]]>

SEBAGAI mahasiswa akuntansi, Dewi Yustika Sari tak berhenti belajar di dalam kelas dan dosen saja. Dia memperdalamnya dengan mengikuti komunitas-komunitas yang selaras dengan jurusan yang dia geluti. Dewi saat ini menjadi mahasiswa semester VI. Komunitas yang diikuti Dewi adalah yang berhubungan dengan pajak. Salah satu bahasan penting di dalam jurusan yang diambilnya.

Melalui komunitas pajak atau Tax Center, Dewi mendapat tambahan ilmu lebih tentang pengurusan perpajakan. Langsung dari pelaku pajak. Seperti dari kantor pajak.”Ya karena pajak itu kan juga penting. Selain itu saya mendalami tentang pajak karena nanti tugas akhir saya mau bikin tentang pajak, juga kalau kesampaian ingin kerja di kantor direktorat jendral pajak,” katanya lantas tersenyum.

Gadis kelahiran Pati, 2 Maret 1999 ini mulai ikut kegiatan Tax Center di kampusnya, Universitas Sultan Agung sudah sejak setahun lalu. ”Kegiatannya ya banyak. Diskusi-diskusi tentang pajak, juga sosialisasi,” terang gadis asal Desa Tlogosari RT 1 RW 4 Kecamatan Tlogowungu ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

”Kami juga berupaya ikut mengkampanyekan tentang pentingnya pajak yang mana itu kembali juga pada masyarakat. Ya untuk membantu perekonomian, pembangunan infrastruktur dan lainnya, pokoknya pajak memang untuk kesejahteraan masyarakat sendiri,” terang gadis yang juga mengajar ngaji untuk mahasiswa tingkat di bawahnya tersebut.

]]>
Ali Mustofa Tue, 29 Jan 2019 12:20:31 +0700
<![CDATA[Ekstra Kampus Jadi Modal Kerja]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/29/116486/ekstra-kampus-jadi-modal-kerja https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/29/ekstra-kampus-jadi-modal-kerja_m_116486.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/29/ekstra-kampus-jadi-modal-kerja_m_116486.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/29/116486/ekstra-kampus-jadi-modal-kerja

PERNAH aktif di ekstrakurikuler kampus, membuat Widyawati memiliki pengalaman menghadapi berbagai macam karakter orang saat bekerja sebagai call center.]]>

PERNAH aktif di ekstrakurikuler kampus, membuat Widyawati memiliki pengalaman menghadapi berbagai macam karakter orang. Hal itulah yang membuatnya bisa cepat beradaptasi saat bekerja sebagai call center.

”Soalnya kan dituntut lebih dewasa. Harus bisa memahami psikologi dan karakter orang,” tutur gadis kelahiran Rembang, 23 Juli 1995 itu.

Pekerjaannya saat ini juga bisa dibilang cukup sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ya, Widya -panggilan akrabnya- merupakan alumnus Jurusan Komunikasi Penyiaran Universitas Islam Negeri Semarang. Dia sempat aktif di Himpunan Mahasiswa Islam. Di organisasi itu, dia menjadi wakil bidang (wakabid) komisariat dan bendahara.

”Bedanya, kalau kerja kan penuh tekanan dan target. Beda dengan ketika masih di kampus,” terang gadis yang tinggal di Desa Mojorembun, Kecamatan Kaliori, Rembang tersebut.

Hingga kini, dia sudah bekerja sekitar 1,5 bulan di tempat kerjanya yang sekarang. Dia mengaku cukup enjoy dengan pekerjaannya ini. Dia ingin memiliki pengalaman berlebih dulu, sebelum memutuskan apakah tetap bertahan atau mencari pekerjaan baru.

Selain aktif di organisasi, Widya juga memiliki hobi menulis artikel. Dia bahkan sempat bergabung ke salah satu media di Rembang. Namun tak lama. Dia merasa tidak cocok dengan ritme kerjanya. ”Saya tetap menulis saat ada waktu luang,” imbuh Widya.

]]>
Ali Mustofa Tue, 29 Jan 2019 09:43:15 +0700
<![CDATA[Prestasi Bukan Aji Mumpung]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116313/prestasi-bukan-aji-mumpung https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/prestasi-bukan-aji-mumpung_m_116313.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/prestasi-bukan-aji-mumpung_m_116313.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116313/prestasi-bukan-aji-mumpung

BERAGAM prestasi sudah diraih Ragil Ningtyas. Tapi masih ada saja orang yang menganggap itu sebagai aji mumpung. Ragil tak lantas putus asa.]]>

BERAGAM prestasi sudah diraih Ragil Ningtyas. Tapi masih ada saja orang yang menganggap itu sebagai aji mumpung. Ragil tak lantas putus asa. Anggapan remeh itu justru dijadikan cambuk untuk terus berlatih dan meraih prestasi.

Lahir di Banjarnegara, 2 Juni 2001, Ragil mengaku mulai mengenal voli pantai lewat kakaknya. Kebetulan, sang kakak juga atlet voli pantai. ”Awalnya diajak oleh kakak ke Kudus. Baru sebatas lihat voli pantai, ternyata tertarik,” terangnya.

Sejak itulah, gadis berusia 17 tahun ini mulai menekuni voli pantai. Kemampuannya yang mumpuni, Ragil terpilih untuk masuk ke Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Jateng. Dari PPLP itulah, dia mulai menelurkan prestasi.

Prestasi itu diantaranya juara I Kejuaraan Nasional PPLP (2017), juara II Kejuaraan Provinsi 2017, peringkat IV Asia di Asian Volleyball Confederation di Thailand (2018), juara III Porprov (2018), juara III Kejuaraan Nasional Junior (2018), dan juara II Kejuaraan Nasional PPLP 2018.

Meski bergelimang prestasi, tak lantas membuat Ragil luput dari omongan orang. Dirinya pernah mendapatkan cemoohan dari beberapa orang. ”Saya pernah dibilang kalau prestasi yang saya dapat dianggap sebagai keberuntungan semata,” jelasnya.

Namun hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk tetap menekuni voli pantai. Ragil menganggap anggapan remeh orang lain itu jadi cambuk untuk giat berlatih dan meraih prestasi lagi. Sekaligus membuktikan kalau anggapan orang bahwa prestasinya karena keberuntungan itu tak benar.

Beragam prestasi itu diraih bukan tanpa hambatan. Ragil yang masih sekolah di SMAN 2 Bae ini sering terkendala waktu. Antara latihan dan belajar. Beruntung, ada dispensasi dari pihak sekolah. Ragil boleh masuk pukul 08.00 dan pulang pukul 14.00. Karena harus ikut latihan setiap pagi dan sore.

Masa paling sulit juga pernah dialaminya. Yakni saat mengalami cedera sebelum berangkat ke China untuk bertanding. Saat itu sepekan sebelum berangkat ke China, dia mengalami cedera engkel. Akhirnya tetap berangkat meskipun gagal membawa pulang juara. (vga)

]]>
Ali Mustofa Mon, 28 Jan 2019 13:54:53 +0700
<![CDATA[Beri Reward pada Hewan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116231/beri-reward-pada-hewan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/beri-reward-pada-hewan_m_116231.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/beri-reward-pada-hewan_m_116231.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116231/beri-reward-pada-hewan

DUNIA satwa saat ini sedang banyak diminati berbagai kalangan. Tak hanya peternak. Masyarakat umum juga banyak yang memiliki hewan piaraan.]]>

DUNIA satwa saat ini sedang banyak diminati berbagai kalangan. Tak hanya peternak. Masyarakat umum juga banyak yang memiliki hewan piaraan. Mulai kucing, anjing, sampai reptil. Di sudut-sudut kota pun sering ditemui toko penjual makanan dan pernak-pernik hewan piaraan. Memang, memelihara hewan sudah menjadi lifestyle tersendiri.

Fenomena ini, tampaknya membuat Fadia Idzni Khairina terbesit berkecimpung di dunia satwa. Ia mengaku menyukai satwa sejak kecil. Kesukaannya itu, menjadi salah satu alasan untuk mengambil jurusan kedokteran hewan.

”Saya pikir dokter hewan itu menarik. Bayangkan tanpa ada komunikasi ke pasien, dokter hewan dituntut untuk tau pasiennya sakit apa. Selain itu, kesadaran masyarakat tentang kesehatan hewan peliharaan semakin tinggi dan masih sedikit dokter hewan di Pati,” kata perempuan kelahiran Pati, 8 April 1995 itu.

Karena alasan itu, ia pun memutuskan bertolak ke Kota Hujan untuk melanjutkan studi. Institut Pertanian Bogor (IPB) dipilih sebagai tempat menimba ilmu. Belajar di Fakultas Kedokteran Hewan membuatnya semakin mengetahui tentang seluk-beluk karakter satwa. Kini, ia sudah tahu bagaimana cara memahami para pasiennya.

”Handling (pengendalian) yang baik sangat dibutuhkan dalam proses pengobatan hewan. Ketika ada hewan yang susah di-handling, tidak sedikit hewan yang menggigit atau mengeluarkan cakarnya,” ungkap perempuan yang hobi traveling ini.

Dia menjelaskan, memang ada cara menjinakkan hewan. Bisa dilatih terus menerus setiap hari. ”Biasanya dikasih reward seperti makanan atau mainan,” imbuhnya.

Fadia -sapaan akrabnya- mengaku, belajar menjadi dokter hewan tak mudah. Hampir setiap pekan ada ujian dari sejumlah mata kuliah. Tetapi, hal tersebut tak menyurutkan semangatnya dalam belajar. ”Cara mengatasinya nggak usah dibikin stres. Makan teratur, kalo butuh istirahat ya istirahat,” kata anak ke dua dari tiga bersaudara itu.

Dengan cara itu, tampaknya membuat ia berhasil menyelesaikan studi S1 Kedokteran Hewan. Saat ini, ia sedang menempuh Program Profesi Dokter Hewan (PPDH) atau sering disebut co-ass.

”Untuk jadi dokter hewan, harus menempuh pendidikan sarjana selama empat tahun. Kemudian mengikuti program profesi dokter hewan minimal 1.5 tahun. Setelah lulus, akan disumpah dan ujian kompetensi dokter hewan,” imbuhnya. (vah)

]]>
Ali Mustofa Mon, 28 Jan 2019 07:59:24 +0700
<![CDATA[Beri Kebebasan Anak Didik Berpendapat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/25/115835/beri-kebebasan-anak-didik-berpendapat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/25/beri-kebebasan-anak-didik-berpendapat_m_115835.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/25/beri-kebebasan-anak-didik-berpendapat_m_115835.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/25/115835/beri-kebebasan-anak-didik-berpendapat

PEDEKATE dengan anak memang membutuhkan teknik tersendiri. Sebab mendekati anak berbeda dengan mendekati orang dewasa, karena memiliki karakter yang berbeda.]]>

PEDEKATE dengan anak memang membutuhkan teknik tersendiri. Sebab mendekati anak berbeda dengan mendekati orang dewasa. Selain memiliki karakter yang berbeda, anak-anak umumnya masih manja dan sulit diatur. Dalam hal ini Ulin Noor Baroroh memiliki kiat tersendiri. Salah satunya mencoba menarik perhatian anak-anak.

Salah satu pendamping di Omah Dongeng Marwah (ODM) ini mengaku, setiap anak memiliki kemampuan berbeda-beda. Ada yang senang bermain, bernyanyi, bermain musik, hingga potensi lainnya.

”Saya pernah menghadapi anak yang lemah membaca jika dibandingkan anak-anak yang lain. Tetapi setelah didekati ternyata dia memiliki potensi di bidang musik. Semua anak itu unik dan sangat berwarna. Tergantung bagaimana kita bisa menemukan potensinya,” kata perempuan kelahiran Kudus, 3 Desember 1994 itu.

Alumni fakultas Bimbingan Konseling Universitas Muria Kudus (UMK) itu  menjelaskan, dalam memberi masukan kepada anak didiknya, dia lebih memberikan kebebasan anak-anaknya untuk menyampaikan gagasan. Dia juga mengajak anak untuk berdiskusi ketika anak didiknya melakukan hal yang dirasa kurang pas.

”Kami mengajak anak-anak berpikir terlebih dahulu sebelum mereka mengambil keputusan. Saya ajak mereka mempertimbangkan baik dan buruknya. Juga dampak yang ditimbulkan setelah keputusan diambil. Jadi kami tidak serta merta menyuruh anak, kami mengajak anak-anak memilih solusi yang terbaik,” kata perempuan yang akrab dipanggil Ulin ini.

Dari cara pendekatannya itu, anak didiknya  mau terbuka dalam menerima saran. Tak hanya terbuka, metode tersebut dapat mempengaruhi daya kritis anak dengan baik. (vah)

]]>
Ali Mustofa Fri, 25 Jan 2019 14:32:28 +0700
<![CDATA[Tepis Anggapan Miring dengan Prestasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/25/115827/tepis-anggapan-miring-dengan-prestasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/25/tepis-anggapan-miring-dengan-prestasi_m_115827.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/25/tepis-anggapan-miring-dengan-prestasi_m_115827.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/25/115827/tepis-anggapan-miring-dengan-prestasi

DARA bernama Revalina Eka Nofianti berhasil menepis anggapan orang yang sempat meragukan bakatnya di olahraga voli. Dia menepis anggapan miring dengan prestasi.]]>

DARA bernama Revalina Eka Nofianti berhasil menepis anggapan orang yang sempat meragukan bakatnya di olahraga voli. Dengan manis, dia menepis anggapan miring tersebut dengan prestasi.

Perempuan kelahiran Kudus, 31 Juli 2003 ini pertama kali mengenal voli pasir saat ikut latihan. Kebetulan saat itu ada seleksi di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Jawa Tengah (Jateng) di Semarang. Dirinya kemudian mendaftar dan diterima.

Saat memutuskan terjun di voli pasir itulah, tak sedikit orang yang meremehkan. Gadis berusia 15 tahun itu juga pernah dilarang untuk bermain voli pasir. Karena, olahraga tersebut tak cocok untuk perempuan.

Meski belum lama terjun di voli pasir, Nofi -sapaan akrabnya- mengaku sudah dua kali meraih prestasi di cabang olahraga tersebut. Prestasi tersebut yaitu Kejuaraan Nasional PPLP di Semarang pada 2018 dan Popda Jawa Tengah 2018 (juara III).

Telah meraih prestasi tidak serta merta membuat Nofi aman dari cemoohan. Perempuan berusia 15 tahu ini pernah dilarang untuk bermain voli pasir lantaran olahraga itu dirasa tidak cocok dimainkan anak perempuan. ”Pernah dibilang udah nggak perlu ikut voli pasir. Cewek di rumah saja belajar,” terangnya

Namun, dukungan dari orang tua membuatnya tetap menekuni olahraga voli pasir. Meski belum lama menekuni voli pasir, prestasi sudah bisa dipersembahkan oleh Nofi. Yakni juara pada Kejurnas PPLP di Semarang dan Popda Jateng. Keduanya digelar pada 2018. (vga)

]]>
Ali Mustofa Fri, 25 Jan 2019 13:40:54 +0700
<![CDATA[Belajar Otodidak, Kini Punya Karyawan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/25/115786/belajar-otodidak-kini-punya-karyawan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/25/belajar-otodidak-kini-punya-karyawan_m_115786.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/25/belajar-otodidak-kini-punya-karyawan_m_115786.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/25/115786/belajar-otodidak-kini-punya-karyawan

MEMPUNYAI pekerjaan sebagai pegawai kantoran menjadi impian banyak orang. Namun, tidak bagi dara cantik bernama lengkap Sofa Daniyatul Hana ini.]]>

MEMPUNYAI pekerjaan sebagai pegawai kantoran menjadi impian banyak orang. Namun, tidak bagi dara cantik bernama lengkap Sofa Daniyatul Hana ini. Ia memilih resign dan mencoba peruntungan dengan membuka usaha di bidang kuliner.

Gadis yang akrab disapa Hana ini, mengaku memilih bisnis ini karena sesuai dengan passion-nya. Ia tak ingin menjalankan pekerjaan yang membebaninya. Dia juga ingin berkerja dengan hati yang tulus.

Hana merintis bisnis pisang krispi sekitar 2017 lalu. Bisnis ini awalnya dijalankan dengan iseng belaka, serta melihat potensi di Kudus belum ada yang membuka usaha sejenis itu. ”Awalnya saya menjalankan bisnis dengan teman-teman. Namun karena kesibukan mereka, saya memutuskan untuk melanjutkan bisnis itu secara mandiri,” ungkapnya.

Dara kelahiran Kudus, 9 Januari 1994 ini, ketika beranjak mandiri menjalani bisnisnya itu, mulai merancang desain produk, konsep produk, serta pemasaran produk. Hana mengaku, belajar secara autodidak dalam menjalankan bisnis pisang krispi tersebut. Ia juga sering berdiskusi dengan orang tuanya yang memiliki latar belakang sebagai pengusaha.

Dalam penciptaan produknya tersebut, ia mengaku menonton dari tutorial memasak. Tak hanya melihat belaka, Hana juga bereksperimen memberi bahan tambahan di produknya itu. Jadi, pisang krispi buatannya mempunyai ciri khas tersendiri. Yakni memiliki banyak varian rasa dan crunchy.

Jatuh bangun dalam mengembangkan bisnisnya itu juga dirasakan Hana. Sebelum mempunyai karyawan, dia melakukan serba mandiri. Dari belanja bahan, packing produk, serta cast on delivery (COD) dengan pelanggan dilakukannya sendiri.

”Kendala pertama adalah memperkenalkan produk buatan saya. Namun saya bersyukur lewat usaha ini dapat membuka lapangan pekerjaan baru,” terangnya.

Kedai yang dibuka di rumahnya di Desa Getas Pejaten, No 17, Kecamatan Jati, Kudus, ini, merupakan siasatnya mengurangi bajet lebih untuk menyewa kios. Di kedainya, ia juga tak serta menjual pisang krispi bertoping ini. Tetapi juga menjajakan salad buah serta minuman dari olahan teh.

Kesuksesannya dalam menempuh karir di dunia usaha kuliner ini, tak terlepas dari dukungan orang tuanya. Ia meyakinkan orang tuanya dengan cara memperlihatkan grafik peningkatan penjualan. Orang tuanya pun mendukung dengan memberi izin membuka kedai di kediamannya.

Untuk memajukan bisnisnya ini, ia juga melakukan siasat membuka cabang di tengah kota. Hana juga berharap pisang krispinya ini bukan menjadi santapan musiman belaka. Tetapi juga sebagai kuliner populer di Kudus dan diminati banyak orang.

”Semoga produk saya ini mampu memberikan kepuasan bagi penikmatnya. Juga memberikan manfaat pula,” imbuhnya. (gal)

]]>
Ali Mustofa Fri, 25 Jan 2019 08:33:09 +0700
<![CDATA[Dirikan Kelompok Ketoprak]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/23/115333/dirikan-kelompok-ketoprak https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/23/dirikan-kelompok-ketoprak_m_115333.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/23/dirikan-kelompok-ketoprak_m_115333.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/23/115333/dirikan-kelompok-ketoprak

SEJAK duduk di bangku sekolah dasar (SD), Cintia Devi Ariani sudah akrab dengan dunia seni. Seni tari sudah dipelajarinya sejak saat itu.]]>

SEJAK duduk di bangku sekolah dasar (SD), Cintia Devi Ariani sudah akrab dengan dunia seni. Seni tari sudah dipelajarinya sejak saat itu. Kecintaan Cintia -sapaan akrabnya- dengan dunia seni terus berlanjut hingga sekarang.

”Bagaimana ya, seni sudah menjadi bagian dalam hidup saya,” kata gadis kelahiran Kudus, 21 Desember 1996 itu.

Cintia terus mengasah kemampuannya. Hampir setiap hari ia meluangkan waktu untuk latihan. Selain itu, ia juga kerap mengikuti lomba. Hingga saat masuk sekolah menengah pertama (SMP) ia akhirnya berhasil melebarkan sayap.

Dengan mencoba membuka memori ingatannya, lulusan Universitas Muria Kudus (UMK) itu, bercerita. Pada 2012, ia bersama sekelompok masyarakat di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, mendirikan sebuah kelompok ketoprak. Ini dilakukan untuk mendukung potensi yang dimiliki desanya.

”Waktu itu, kami diberi tanggung jawab untuk membuat pertunjukan ketoprak yang pertama kalinya di desa kami. Namun, seluruh pemainnya harus asli warga Desa Wonosoco,” jelasnya.

Dengan rekan satu timnya, tugas itu berhasil diselesaikannya. Dalam persiapannya, mereka tak pernah lelah berlatih setiap hari. Mulai habis isya sampai tengah malam. Latihan tersebut meliputi latihan fisik serta beberapa adegan. Di antaranya juga diisi dengan adegan laga.

”Saya sendiri berperan sebagai gadis desa. Selain itu, juga menjadi pengisi lagu sambil diiringi musik dari gamelan,” ucap gadis yang hobi menonton film ini.

Tak berhenti hanya sebagai pemeran pertunjukan seni. Saat ini, gadis yang tinggal di RT 2/RW 1 Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus, ini juga masih aktif sebagai pengiring gamelan di berbagai acara desa. Juga menjadi penari di beberapa even. Bahkan, ia juga pernah aktif mengajar tari di salah satu SD.

”Saya senang ketika bisa menularkan apa yang saya bisa kepada orang lain. Jadi saya bisa punya teman untuk menjaga dan melestarikan tradisi,” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Wed, 23 Jan 2019 07:34:14 +0700
<![CDATA[Bangun Kesenian untuk Desa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/22/115099/bangun-kesenian-untuk-desa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/22/bangun-kesenian-untuk-desa_m_115099.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/22/bangun-kesenian-untuk-desa_m_115099.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/22/115099/bangun-kesenian-untuk-desa

KELUARGA memang punya andil besar dalam setiap langkah hidup seseorang. Hal itu juga yang dialami oleh Ardian Firda Maulida yang saat ini berkesenian teater.]]>

KELUARGA memang punya andil besar dalam setiap langkah hidup seseorang. Hal itu juga yang dialami oleh Ardian Firda Maulida. Gadis kelahiran Jepara tersebut, saat ini aktif berkesenian di sebuah kelompok teater mahasiswa.

Firda -sapaan akrabnya- mulai menaruh hati pada dunia kesenian, karena bapaknya yang saat ini menjabat sebagai kepala Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Jepara. ”Saya tertarik dengan kesenian dan kebudayaan setelah bapak saya jadi kepala desa. Karena dalam momen sedekah bumi, kebudayaan orang desa di Jawa selalu dilakukan. Saya melihat hal itu dan mulai menyukai,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Apalagi saat digelar hajat sedekah bumi, kegiatan seperti pertunjukan wayang kulit serta tayuban selalu dipentaskan di rumahnya. Itu yang diakui menjadi salah satu penyebab mahasiswi Fakultas Dakwah IAIN Kudus ini, menyenangi dunia kesenian.

Lebih lanjut, perempuan berkerudung ini, mulai menyenangi hal-hal berbau seni dan budaya, karena dia ingin membangun desanya. Di desanya ada beberapa potensi desa di bidang tersebut.

”Di sini (Desa Blingoh, Red) ada tarian warok yang digunakan untuk menyambut tamu-tamu. Selain itu, ada pula situs Watu Tumpuk yang sekilas mirip candi kuno dan pertapaan orang Budha. Ya, dengan bergelut di dunia seni dan budaya, saya kira akan menjadi tambahan bekal saya untuk ikut membangun desa,” tutur perempuan yang juga bergiat di karang taruna desanya ini.

]]>
Ali Mustofa Tue, 22 Jan 2019 07:33:38 +0700
<![CDATA[Jago Langgam dan Bermusik]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/21/114910/jago-langgam-dan-bermusik https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/21/jago-langgam-dan-bermusik_m_114910.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/21/jago-langgam-dan-bermusik_m_114910.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/21/114910/jago-langgam-dan-bermusik

DARA berhijab satu ini terbilang bertalenta. Dia tak hanya piawai menari, namun juga jago menyanyi dan memainkan alat musik gitar.]]>

DARA berhijab satu ini terbilang bertalenta. Dia tak hanya piawai menari, namun juga jago menyanyi dan memainkan alat musik gitar. Kepiawaian ini pernah ditampilkan khusus saat even pemilihan Mas Mbak Rembang 2018. Dia tidak lain Ashhabil Firdha Janna.

Abil, begitu nama sapaannya, mengaku, kemampuannya semua dipelajari secara otodidak. Misalnya bakatnya menari jawa, pemilik bintang Virgo ini sudah mulai belajar sejak SD.

”Dulu di kampung saya, Dresi Kulon, kebetulan ada les menari. Akhirnya saya tertarik ikut untuk mendalami gerakannya,” kenang dara kelahiran Rembang, 23 Agustus 2001 ini.

Kegiatan itu cukup baik mengisi waktu luang. Berikutnya ingin melestarikan kesenian budaya jawa agar tidak termakan zaman. Makanya Abil setiap waktu rutin latihan.

”Alhamdulillah beberapa jenis tarian jawa saya kuasai. Termasuk tari orek-orek khas Rembang yang biasa kami tampilkan di kampung,” terang pelajar kelas XII SMAN 1 Rembang.

Tidak berhenti dibidang tari, diam-diam Abil juga piawai di musik. Kebetulan dia di sekolah mempunyai grup band. Secara khusus dihadapan rekan-rekannya, kerap kali didapuk sebagai vokalis.

Dengan salah satu lagu andalanya dari Jikustrik berjudul Puisi. Sesekali dengan tangan lentiknya kadang juga akustikan. Wajar walaupun tidak jago-jago benar, namun dia dapat memainkan gitar.

”Kalau sukanya memang lagu-lagu pop. Tapi kalau diminta menyanyi dangdut ataupun langgam jawa insya Allah mampu,” pengakuan warga yang berdomisili RT 1 RW 2, Desa Dresi Kulon, Kecamatan Kaliori.

Memang perempuan dengan tinggi 166 cm tersebut cekatan. Begitupun saat diminta sekolahnya ikut seleksi mbak Rembang. Dengan percaya diri Abil memutuskan tampil secara all-out.

Saat itu dirinya mengaku tidak sekadar harus paham materi berkaitan pariwisata. Namun dirinya juga diminta menunjukkan bakat. Kebetulan dirinya ingin tampil beda, dengan membawakan geguritan.

”Alhamdulillah saya dapat juara II mbak Rembang. Tentu saya bangga, karena tidak hanya promosikan wisata. Namun dapat berbuat lebih untuk Rembang, salah satunya ikut menggarap wisata digital Pasar Mbrumbung,” bangganya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 21 Jan 2019 07:26:02 +0700
<![CDATA[Gabung Nasyid, Gelorakan Salawat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/19/114661/gabung-nasyid-gelorakan-salawat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/19/gabung-nasyid-gelorakan-salawat_m_114661.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/19/gabung-nasyid-gelorakan-salawat_m_114661.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/19/114661/gabung-nasyid-gelorakan-salawat

RISA punya cara menggelorakan lagu salawat, agar orang makin banyak yang menyukai. Caranya, ia terjun langsung dalam grup musik nasyid.]]>

RISA punya cara menggelorakan lagu salawat, agar orang makin banyak yang menyukai. Caranya, gadis bernama lengkap Siti Warisatul Mahmudah itu terjun langsung dalam grup musik nasyid, yang banyak mendendangkan lagu-lagu salawat dengan syair kekinian.

Risa tergabung di sebuah grup nasyid di Semarang. Awalnya gadis kelahiran Pati, 23 November 1996 ini mengenal nasyid saat mengikuti UKM musik di kampusnya. Risa kuliah di UIN Walisongo Semarang.

Dari sana, mahasiswi Fakultas Tarbiyah ini menggemari lagu-lagu salawatan, dan bertekad menggelorakan salawatan kepada banyak orang agar mereka juga menyukainya. ”Lagu salawat nasyid itu indah, enak didengar dan bikin damai. Tentu jika banyak orang yang menyukainya, dunia ini terasa makin indah dan tentu saja damai,” jelas mahasiswi yang berasal dari Desa Sidomukti Kecamatan Margoyoso ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Selain sibuk kuliah, Risa menghabiskan waktunya untuk manggung. Risa bersama temannya di grup nasyid juga banyak membikin klip-klip pendek salawatan. Risa banyak membagikannya di sosial media. Seperti di instagram maupun facebook. ”Selain berkarya, saya bersama teman-teman memang punya maksud untuk membumikan salawatan dan mengajak banyak orang untuk menyukainya,” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Sat, 19 Jan 2019 11:37:09 +0700
<![CDATA[Dari Bisnis Eratkan Persahabatan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/19/114635/dari-bisnis-eratkan-persahabatan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/19/dari-bisnis-eratkan-persahabatan_m_114635.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/19/dari-bisnis-eratkan-persahabatan_m_114635.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/19/114635/dari-bisnis-eratkan-persahabatan

PERSAHABATAN menurut Masyitha Cahya Putri adalah kebersamaan yang tidak bisa dipisahkan oleh apa pun. Melalui ide bisnis, mempertemukan sahabat lamanya.]]>

PERSAHABATAN menurut Masyitha Cahya Putri adalah kebersamaan yang tidak bisa dipisahkan oleh apa pun. Melalui ide bisnis, mempertemukan gadis kelahiran Jepara, 24 Juni 1996 ini dengan sahabat lamanya.

Usai menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah, ia jarang bertemu dengan dua sahabat dekatnya. Kemudian akhir 2016 lalu, muncul ide bisnis supaya setelah lulus kuliah memiliki waktu bersama. “Kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Khawatir jarang ketemu, muncul ide bisnis supaya ada alasan untuk saling berbagi,” kata perempuan yang bekerja sebagai staf di SMKN 1 Jepara ini.

Ide tersebut adalah bisnis jualan tenun yang diberi nama Ethnic Project Jepara. Bisnis tersebut ia jalankan bersama dua rekannya. Mulai dari kain, syal, ikat kepala, sajadah, dan scarf yang terbuat dari tenun ikat troso. Pemilihan jenis etnik tersebut karena ia berpandangan potensi lokal yang dimiliki Jepara.

“Hitung-hitung kami generasi muda ikut melestarikan warisan budaya. Sekaligus menjaga persahabatan dan mendapatkan keuntungan,” katanya.

Awalnya, bisnis tersebut jalan di tempat. Dengan alasan mulai dari tantangan minimnya pengetahuan tentang sistem berjualan, sampai banyaknya penjual tenun. “Dua tahun berjalan proses mendewasakan kami. Penjualan mulai dalam kota sendiri sampai luar Jepara,” tandasnya

]]>
Ali Mustofa Sat, 19 Jan 2019 07:29:57 +0700
<![CDATA[Teriak biar Tambah Percaya Diri]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/18/114474/teriak-biar-tambah-percaya-diri https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/18/teriak-biar-tambah-percaya-diri_m_114474.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/18/teriak-biar-tambah-percaya-diri_m_114474.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/18/114474/teriak-biar-tambah-percaya-diri

SEMPAT takut melakukan kesalahan ketika melakoni laga pertama sebagai atlet profesional. Itulah yang dialami oleh Indah Fertasari. Dia punya trik khusus.]]>

SEMPAT takut melakukan kesalahan ketika melakoni laga pertama sebagai atlet profesional. Itulah yang dialami oleh Indah Fertasari. Namun, dia punya trik untuk mengatasi hal itu. Yakni dengan berteriak. Hasilnya, hingga kini Fitri sukses menorehkan beragam prestasi.

            Gadis yang sekarang menginjak umur 17 tahun ini mengaku, sejak kecil dididik oleh ayahnya untuk bermain olahraga voli. Dulu tiap sore hari, ayahnya selalu menggemblengnya untuk berlatih. Lama-kelamaan akhirnya ia mulai tertarik dan mendalami olahraga itu.

            ”Seiring berjalannya waktu saya menyukai olahraga voli. Kemudian jadi hobi saya,” ungkapnya.

            Gadis yang akrab disapa Fitri ini yang saat ini fokus pada olahraga voli pantai mengaku, klub profesional pertamanya di DPUK Pati. Kejuaraan pertama yang diikuti gadis kelahiran Pati, 24 April 2001 adalah Kejurda tingkat Junior. Waktu itu ia masih duduk di bangku SMP.

Perasaan mengikuti pertandingan pertama, Fitri sangat takut membuat kesalahan yang fatal. Namun untuk mengatasi ketakutannya itu Fitri mempunyai treatment tersendiri, yakni berteriak.

            ”Teriak waktu bermain dan mendengar arahan pelatih, untuk meredam ketakutan saya,” imbuhnya.

            Tak dipungkuri, kedisiplinannya menggeluti olahraga voli pantai mengantarkan pada raihan prestasi. Ia meraih berbagai juara. Mulai tingkat daerah hingga nasional. Di tingkat daerah, dia sukses meraih juara I Popda pada 2018. Lalu Kejurda remaja mendapatkan juara III di 2016.

Tak hanya tingkat daerah, ia juga menorehkan prestasi juara tingkat nasional. Diantaranya, juara IV Popnas di tahun 2017, kemudian Kejurnas junior pada tahun 2018 meraih juara IV, dan Kejurnas PPLP juara I pada tahun 2017.

            Dukungan dan doa restu dari orang tua merupakan kunci dalam raihan karirnya. Kedepanya, fitri menyiapkan latihan untuk mengikuti pertandingan di bulan Febuari nanti. Ia akan mengikuti petandingan tingkat nasional di Lampung. Dia juga, berharap menorehkan banyak prestasi serta mampu meningkatkan skilnya. (gal)

]]>
Ali Mustofa Fri, 18 Jan 2019 10:16:04 +0700
<![CDATA[Menulis karena Ekskul Jurnalistik]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/17/114238/menulis-karena-ekskul-jurnalistik https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/17/menulis-karena-ekskul-jurnalistik_m_114238.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/17/menulis-karena-ekskul-jurnalistik_m_114238.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/17/114238/menulis-karena-ekskul-jurnalistik

OKTAVIANA Ira Virnanda menggemari dunia menulis. Siswi MA Mathaliul Huda Pucakwangi ini mulai kepincut menulis saat ikut ekstrakurikuler jurnalistik di sekolah.]]>

OKTAVIANA Ira Virnanda menggemari dunia menulis. Siswi MA Mathaliul Huda Pucakwangi ini mulai kepincut menulis saat ikut ekstrakurikuler jurnalistik di sekolahnya. Dari kegiatan jurnalistik tersebut, Oktaviana menulis banyak hal. Cerpen, puisi, dan karya sastra lainnya.

Bahkan, Oktaviana beberapa waktu lalu pernah memenangi lomba cerpen di sebuah media dalam jaringan (daring). ”Saya memang suka menulis sejak lama. Namun baru menemukan keberanian menulis ketika ikut kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah,” kata Oktaviana kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dari belajar menulis berita, kata Oktaviana, kemudian beranjak menulis cerpen, dan puisi. Sekarang, perempuan 17 tahun ini mulai menggemari menulis cerpen. ”Ya sekarang lebih banyak ke cerpennya,” imbuhnya.

Sekarang, untuk mengembangkan kegemarannya tersebut Oktaviana amat rajin mengikuti lomba-lomba penulisan cerpen di berbagai media daring. Selain itu membaca juga menjadi kegiatan penting bagi perempuan berjilbab ini.

Baginya, membaca merupakan proses belajar dalam menulis cerpen. ”Selain banyak menulis, saya sekarang juga mencoba banyak membaca. Menulis tanpa membaca sangatlah susah, sebab melalui membaca saya bisa menambah perbendaharaan kosa kata dalam tulisan saya,” jelas Oktaviana.

]]>
Ali Mustofa Thu, 17 Jan 2019 07:37:18 +0700
<![CDATA[Dulu Konsumen Kini Produsen]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/16/114073/dulu-konsumen-kini-produsen https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/16/dulu-konsumen-kini-produsen_m_114073.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/16/dulu-konsumen-kini-produsen_m_114073.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/16/114073/dulu-konsumen-kini-produsen

PEREMPUAN yang kini menempuh studi S2 manajemen pendidikan di IAIN Kudus ini bisa dibilang cerdas. Ia berhasil menerapkan teori ATM dalam mengembangkan produk.]]>

PEREMPUAN yang kini menempuh studi S2 manajemen pendidikan di IAIN Kudus ini bisa dibilang cerdas. Ia berhasil menerapkan teori ATM dalam mengembangkan sebuah produk yang digelutinya. Amati, tiru, dan modifikasi.

Perempuan bernama lengkap Saila Rachmawati ini telah berhasil berinovasi menciptakan sebuah produk hijab. Itu dari kebiasaannya membeli hijab-hijab produk orang lain. Bahkan sekarang, alumnus IAIN Kudus ini sudah memiliki merk hijab sendiri, hingga pasar yang sudah terjamin.

Saila sendiri mulai berwirausaha membikin hijab saat dia nyantri dulu. Sambil kuliah, alumni MA Raudlatul Ulum Pati ini memang mondok. Dari situlah, Saila coba-coba membikin hijab produknya sendiri.

”Ya awalnya memang hobi beli berbagai model hijab, jadinya terinspirasi untuk bikin sendiri. Awalnya saya bikin sistem pre-order. Tapi sekarang barang sudah ready,” kata perempuan yang kini mengajar di SMPN 1 Pati ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dari banyak membeli, dan banyak melihat model hijab itu, lanjut Saila, ia bisa makin berkreasi menciptakan model. Menurutnya, hal itu sangat penting dalam proses kreatifnya menciptakan sebuah produk hijab.

Untuk pasarnya, Saila tertolong karena banyaknya teman. Terutama temannya di pondok pesantren. Dari awal, kata Saila, pasarnya memang anak pondok pesantren.

”Dulu pas lebaran, pernah teman-teman pondok meminta hijab buatan saya. Tapi karena masih pre order, banyak yang kecewa. Jadinya saya langsung membikin barang yang ready. Saya bekerjasama dengan seorang teman saya,” papar perempuan kelahiran Pati, 1 Desember 1996 ini.

]]>
Ali Mustofa Wed, 16 Jan 2019 13:01:46 +0700
<![CDATA[Utamakan Mengajar, Bisnis Batik Jadi Sampingan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/16/114003/utamakan-mengajar-bisnis-batik-jadi-sampingan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/16/utamakan-mengajar-bisnis-batik-jadi-sampingan_m_114003.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/16/utamakan-mengajar-bisnis-batik-jadi-sampingan_m_114003.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/16/114003/utamakan-mengajar-bisnis-batik-jadi-sampingan

MEMILIKI usaha batik sekaligus menjadi guru menjadi tantangan tersendiri bagi Ayu Ingga Novita Sari. Ya, sebab kesibukannya itu memaksa membagi waktu keduanya.]]>

MEMILIKI usaha batik sekaligus menjadi guru menjadi tantangan tersendiri bagi Ayu Ingga Novita Sari. Ya, sebab kesibukannya itu memaksa alumni Universitas PGRI Semarang itu membagi waktu agar kedua kesibukannya itu sama-sama jalan.

”Kalau pagi masih membantu ibu berjualan di toko sembako ibu saya. Baru setelah pukul 06, saya siap-siap untuk mengajar,” kata guru Bahasa Indonesia, Kewirausahaan, dan Membatik di SMK Cendekia Lasem itu.

Setelah pulang dari mengajar sekitar setengah 3 sore, dia mengambil batik di tempat pembatiknya. Setelah itu, dia juga mesti menyiapkan pengepakan untuk pelanggan pemesan batiknya. Hasil penjualan batiknya lumayan. Kalau sedang ramai, perempuan kelahiran Rembang, 9 November 1992 itu mampu menghasilkan hingga Rp 5 juta.

”Pendapatan dari online dan offline  itu. Bergantung pesanan saja,” ungkap Ayu.

Batik yang dia jual beragam. Ada motif klasikan, es tehan, tiga negeri, lok can, sekar jagat, dan bledak. Namun, Ayu mengaku belum berani memproduksi banyak, karena modal mandiri.

”Belum ambil berani ambil bank.” aku Ayu yang tinggal di Desa Karasgede, Lasem tersebut.

Untuk pemasaran online, selain mem-posting berbagai aneka motif yang dijualnya melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram, dia juga memasangnya di toko online. Sehingga, pasar yang dijangkau pun lebih luas. 

]]>
Ali Mustofa Wed, 16 Jan 2019 09:46:36 +0700
<![CDATA[News Casting Gagal, Modeling Moncer]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/16/113993/news-casting-gagal-modeling-moncer https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/16/news-casting-gagal-modeling-moncer_m_113993.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/16/news-casting-gagal-modeling-moncer_m_113993.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/16/113993/news-casting-gagal-modeling-moncer

PENDIDIKAN yang ditempuh Enida Indri Wahyuni adalah jurusan ekonomi pendidikan. Ia juga berprestasi di bidang modeling. Hobi itu ia tekuni secara otodidak.]]>

PENDIDIKAN yang ditempuh Enida Indri Wahyuni adalah jurusan ekonomi pendidikan. Namun, ia juga berprestasi di bidang modeling. Hobi itu ia tekuni dan dikembangkan secara otodidak tanpa mengikuti kelas modeling.

Baru-baru ini, gadis kelahiran Jepara, 20 Februari 1997 ini, berhasil menembus lima besar Indonesia Model Hunt (IMH) tingkat Jawa Tengah (Jateng) 2018. Enida -sapaan akrabnya- awalnya tidak tertarik dengan dunia modeling. Tapi, dari masukan salah satu juri dalam ajang news casting tiga tahun lalu, ia mencoba terjun ke dunia modeling.

”Gara-gara ikut lomba news casting gagal. Cuma sampai grand final. Terus jurinya (lomba news casting) malah bilang lebih cocok ke bidang tarik suara dan semacam beauty class. Jadi, mulai dari situ saya terjun ke dunia modeling,” kenang mahasiswi S1 Jurusan Pendidikan Ekonomi di Universitas Jendal Soedirman (Unsoed) Purwokerto ini.

Sejak saat itu, ia dapat tawaran dari juri untuk jadi model dan guest star dalam sebuah acara.

Saat ini, selain menekuni modeling, ia juga sibuk menjadi master of ceremony (MC) dalam acara kampus dan di luar kampus. Dari jejaring even yang diikuti, Enida semakin bertambah tawaran nge-job.

Ia diajak sebagai model pemotretan untuk peragaan busana dan model make up. ”Rencananya mencoba mengembangkan hijab modeling,” tandasnya.

Tertarik dengan bakatnya, salah satu pencari bakat sempat mengajaknya ke Jakarta. Di ibu kota ia akan diikutkan beberapa even model. Namun, ia mengurungkan niatnya, karena tidak mendapat izin dari orang tua. 

]]>
Ali Mustofa Wed, 16 Jan 2019 08:37:36 +0700
<![CDATA[Enjoy Kunci Hilangkan Grogi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/16/113980/enjoy-kunci-hilangkan-grogi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/16/enjoy-kunci-hilangkan-grogi_m_113980.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/16/enjoy-kunci-hilangkan-grogi_m_113980.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/16/113980/enjoy-kunci-hilangkan-grogi

PEREMPUAN bernama lengkap Khiyarotul Ummah ini, memiliki hobi bernyanyi sejak kecil. Tetapi, seiring berjalannya waktu, dia justru menekuni kegiatan teater.]]>

PEREMPUAN bernama lengkap Khiyarotul Ummah ini, memiliki hobi bernyanyi sejak kecil. Tetapi, seiring berjalannya waktu, dia justru menekuni kegiatan yang bersebrangan dengan hatinya. Perempuan ini lebih fokus kepada kegiatan teater.

Ummah -panggilan akrabnya- mengaku, tertarik dengan seni peran dimulai sejak masuk kuliah. Dia yang saat ini masuk di jurusan pendidikan Psikologi di Universitas Muria Kudus (UMK) ini, aktif UKM Teater Aura.

Ia mengaku, sebelumnya tak mengerti tentang kegiatan teater. ”Saya sempat kaget. Ternyata teater tak semudah yang saya pikirkan,” ungkap dara asal Kota Ukir ini.

Gadis kelahiran Jepara, 3 Agustus 2000 ini, mengaku, keluarganya tak ada yang memiliki darah seni. Keluarganya juga sempat menentang keinginannya terjun di teater. Hal itu disebabkan, kekhawatiran dalam membagi waktu kuliah dengan latihan teater. Namun, Ummah menepis keraguan itu dengan memberikan informasi positif tentang kegiatan teater serta membuktikan pada aksi panggungnya.

Didorong keinginan berperan di depan layar sangat tinggi, dia belajar berteater secara otodidak dan melalui kakak tingkatnya. Meskipun kegiatan itu cukup menguras kekuatan fisiknya, ia tetap bersikukuh pada pendirian awalnya. Yakni menekuni lebih dalam tentang keaktoran. Enjoy merupakan kunci yang ia pegang dalam melalui proses tersebut.

”Nikmati saja walau berat. Itung-itung untuk berolahraga, karena saya memang jarang olahraga,” imbuhnya.

Panggung pertamanya pada 10 Januari 2019 lalu. Pada saat itu, pentas digelar di auditorium UMK. Ia mengaku sangat gugup dan berdebar. Dia sempat pesimistis terhadap penampilannya saat pentas kala itu. Lalu ia menerapkan prinsip enjoy-nya terhadap dirinya. Alhasil, ia mampu mengatasi demam pagung tersebut.

”Bagi saya teater mampu meningkatkan kepercayaan diri. Juga sebagai ruang kreatif dalam menciptkaan karya,” imbuhnya. (gal)

]]>
Ali Mustofa Wed, 16 Jan 2019 07:19:57 +0700
<![CDATA[Salurkan Hobi untuk Bisnis]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/15/113756/salurkan-hobi-untuk-bisnis https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/15/salurkan-hobi-untuk-bisnis_m_113756.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/15/salurkan-hobi-untuk-bisnis_m_113756.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/15/113756/salurkan-hobi-untuk-bisnis

BEBERAPA mahasiswa memilih tak hanya sibuk kuliah. Tapi juga kerja. Hal ini lah yang dilakukan Af’idatun Nisa. Selain kuliah, juga mengajar seni tari.]]>

BEBERAPA mahasiswa memilih tak hanya sibuk kuliah. Tapi juga kerja. Hal ini lah yang dilakukan Af’idatun Nisa. Selain kuliah, mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus juga mengajar seni tari di beberapa sekolah. Dari SD hingga SMK. Terkadang kerepotan membagi waktu.

Perempuan yang akrab dipanggil Nisa ini sejak SD sampai sekolah tingkat pertama ikut beragam lomba. Bahkan sampai tingkat nasional. Namun, setelah lulus, dan masuk perguruan tinggi justru mengambil studi yang berbeda dari bakat yang telah ia punya.

”Memang, saya sengaja mengambil jurusan di luar kemampuan saya. Yakni Syariah dari Prodi Manajemen Bisnis Syariah. Ya, tujuannya saya ingin belajar bisnis, karena selain tari saya juga ada usaha berjualan jilbab. Tapi ini sebagai wujud belajar,” terangnya.

Nisa yang saat ini berusia 19 tahun sudah mulai berpikir peluang untuk masa depannya. Ia menjadikan tari sebagai hobi yang tak pernah berhenti sampai kapanpun. Namun untuk pekerjaan Nisa lebih tertarik untuk berbisnis.

”Saya saat ini lebih penasaran bisnis, makanya saya masuk yang ada hubungannya dengan studi berbisnis. Menurut saya, ilmu tidak akan pernah sia-sia. Meski belajar di luar kebiasaan, maka bisa menjadi poin plus mengasah skill dan perbanyak ilmu,” tandasnya.

Kesibukannya sebagai mahasiswa dan juga tari belum puas untuk mempelajari ilmu lainnya. Perempuan yang tinggal di RT 2/RW 3, Desa Ngembal Kulon, Jati, kegiatannya menjadi guru tari. Sebagai langkah untuk mengumpulkan pundi-pundi uang untuk masa depannya kelak.

”Ya, meski pendapatannya tidak seberapa, saya tetap bersyukur. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi banyak,” ungkapnya.

Nisa mengatakan, gaji mengajar tiap sore sepuang kuliah ditabung. Juga untuk perputaran usaha yang sekarang ia jalani. Di antaranya ada usaha jilbab, gambar tangan atau henna dan aksesoris kuku untuk pengantin.

”Ya, saya enjoy dengan rutinitas dari Senin, hingga Sabtu yang disibukkan dengan perkuliahan, dan menjadi tari. Dan, kelola bisnis yang profesional,” tandasnya.

]]>
Ali Mustofa Tue, 15 Jan 2019 07:18:27 +0700
<![CDATA[Buktikan Diri Lewat Tenis]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/14/113590/buktikan-diri-lewat-tenis https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/14/buktikan-diri-lewat-tenis_m_113590.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/14/buktikan-diri-lewat-tenis_m_113590.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/14/113590/buktikan-diri-lewat-tenis

DARA bernama lengkap Alif Nafiah memiliki hobi di bidang Tenis. Hobi tersebut ditekuninya lantaran ingin membuktikan anggapan orang tidaklah benar.]]>

DARA bernama lengkap Alif Nafiah memiliki hobi di bidang Tenis. Hobi tersebut ditekuninya lantaran ingin membuktikan anggapan orang tidaklah benar, jika tenis merupakan olahraga untuk kalangan elite saja.

”Orang bilang tenis itu untuk kalangan elite saja. Namun menurut saya semua kalangan bisa bemain tenis,” terang dara anak pertama dari tiga bersaudara tersebut.

Menurut perempuan kelahiran Kudus, 6 September 1997, mulai menekuni tenis sejak masih duduk di bangku kelas 2 SD. Menginjak di bangku kuliah, dirinya menekuni olahraga tenis dan soft tenis.

Beberapa prestasi di bidang tenis telah diraihnya. Diantaranya juara 1 tunggal putri dan ganda campuran soft tenis Jawa Tengah 2018, juara II tunggal putri dan juara III ganda putri Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) di Makassar 2017, juara II tunggal putri dan ganda campuran pertandingan Nasional antarmahasiswa di Christopher Benjamin Rungkat (CBR) Universitas Indonesia CUP 2018. Dukungan dari orang tua menjadi suntikan positif bagi dirinya untuk berprestasi.

Deretan prestasi tersebut diraihnya dengan jerih payah. Tak ayal, dirinya pernah mengalami cedera. ”Kalau sedang kecapaian saat bertanding sering mengalami kram,” jelasnya.

Segudang prestasi yang telah diraihnya itu tidak serta merta membuatnya lolos dari cemoohan. Perempuan 21 tahun ini mengaku sering diragukan oleh beberapa orang. ”Pernah dicemooh saat ikut seleksi tim PON Jawa Tengah,” sambungnya.

Sekarang, perempuan asli Kudus ini tengah menjalani profesi dengan menjadi pelatih tenis di Grose Semarang dan menjadi pelatih tenis privat. Ke depannya, dirinya ingin terus berprestasi di bidang tenis atau soft tenis.

”Harapannya ke depan semua atlet tenis di Kudus bisa berprestasi di tingkat Nasional maupun Internasional,” harapnya. (vga)

]]>
Ali Mustofa Mon, 14 Jan 2019 13:11:34 +0700
<![CDATA[Jadi Bidan karena Panggilan Jiwa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/14/113578/jadi-bidan-karena-panggilan-jiwa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/14/jadi-bidan-karena-panggilan-jiwa_m_113578.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/14/jadi-bidan-karena-panggilan-jiwa_m_113578.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/14/113578/jadi-bidan-karena-panggilan-jiwa

KARENA panggilan jiwa, Rizqul Mufida memutuskan masuk kuliah di Akbid Kudus. Gadis kelahiran Pati, 2 November 1999 ini ingin bantu angka risiko kematian ibu.]]>

KARENA panggilan jiwa, Rizqul Mufida memutuskan masuk kuliah di Akademi Kebidanan (Akbid) Kudus. Gadis kelahiran Pati, 2 November 1999 ini ingin sekali turut berjuang untuk membantu menurunkan angka risiko kematian ibu dan bayi yang masih tinggi.

Riza, sapaan akrabnya, sebenarnya tak berangan-angan sedikitpun menjadi seorang bidan. Namun panggilan jiwa yang mengantarnya harus menjadi seorang bidan.

”Saya merasa terpanggil itu saja. Termasuk untuk ikut membantu mengurangi angka kematian ibu dan bayi melalui profesi sebagai bidan,” terang gadis asal RT 3 RW 1, Desa Dadirejo, Kecamatan Margorejo, ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Lebih lanjut, Riza mengatakan, pernah terkenang dengan suatu peristiwa kematian ibu dan bayi. Hal itu membuatnya sedih. Peristiwa itu membuatnya yakin menjadi bidan. ”Karena pengalaman itu saya terpanggil,” papar gadis yang juga gemar membaca dan bernyanyi ini.

Gadis penyuka fotografi ini memang sosok yang dikenal berjiwa sosial tinggi. Riza, selain sibuk di perkuliahan, juga banyak terlibat di kegiatan organisasi.

Riza tercatat aktif di kegiatan Karang Taruna desanya. Dia didaulat sebagai sekretaris. Sementara di dalam kampus, gadis berjilbab ini juga aktif di organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). ”Suka aja bergaul di organisasi. Bisa menambah pengalaman,” papar alumni SMA PGRI 1 Pati ini.

]]>
Ali Mustofa Mon, 14 Jan 2019 12:31:41 +0700
<![CDATA[Segarkan Diri dengan Menari]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/14/113480/segarkan-diri-dengan-menari https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/14/segarkan-diri-dengan-menari_m_113480.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/14/segarkan-diri-dengan-menari_m_113480.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/14/113480/segarkan-diri-dengan-menari

DUNIA tari digemari Rina Dwi Cahyani sejak SMA. Ia suka tarian tradisional. Gadis yang masih duduk di semester VII IAIN Kudus ini mahir beberapa tarian.]]>

DUNIA tari digemari Rina Dwi Cahyani sejak SMA. Ia suka tarian tradisional. Gadis yang masih duduk di semester VII IAIN Kudus ini mahir beberapa tarian. Seperti tari kretek, tari gambyong, hingga tari Bali. Selain untuk melestarikan seni dan budaya lokal, menari bagi Rina kegiatan menyegarkan badan.

”Menari itu sangat menarik bagi saya. Sebab dalam sebuah tarian itu ada cerita-cerita yang menarik. Tari kretek menggambarkan tentang Kudus sebagai Kota Kretek. Karena itu menari bagi saya itu semacam senam. Badan menjadi segar dengan kegiatan menari,” kata mahasiswi jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) ini kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Menari, lanjut Rani, juga bisa membuatnya kelihatan lebih cantik. Hal itu diakui Rani saat jatuh cinta pada dunia tari. Saat masih duduk di SMA. Saat itu dia melihat orang-orang yang menari itu kelihatan cantiknya. ”Itu juga yang membuat hati saya kepincut dengan dunia tarian. Merasa menjadi wanita yang cantik,” paparnya malu-malu.

Namun, selain itu, upaya melestarikan warisan seni dan budaya juga menjadi salah satu motivasi gadis yang gemar traveling ini untuk serius menekuni dunia tari. ”Sebagai generasi muda, saya juga punya tanggung jawab mora untuk ikut melestarikan kesenian warisan leluhur,” paparnya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 14 Jan 2019 06:52:06 +0700
<![CDATA[Pernah Diragukan, Buktikan dengan Prestasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/13/113466/pernah-diragukan-buktikan-dengan-prestasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/13/pernah-diragukan-buktikan-dengan-prestasi_m_113466.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/13/pernah-diragukan-buktikan-dengan-prestasi_m_113466.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/13/113466/pernah-diragukan-buktikan-dengan-prestasi

DARA bernama lengkap Novana Syifa Safila, bisa dikatakan atlet voli pantai yang cukup subur. Sederet prestasi telah dikoleksinya.]]>

DARA bernama lengkap Novana Syifa Safila, bisa dikatakan atlet voli pantai yang cukup subur. Sederet prestasi telah dikoleksinya.

Meski begitu, siswi SMAN 2 Bae, Kudus, ini, pernah diragukan beberapa orang. ”Kata beberapa orang, saya kelihatan lemas dan mereka tidak yakin kalau saya bisa melakukan smash,” jelasnya kepad Jawa Pos Radar Kudus.

Namun, hal itu tak lantas membuat down dan patah semangat. Justru keraguan terhadapnya menjadi cambuk untuk meyakinkan orang yang meragukannya. Kini, berderet prestasi telah dikoleksinya.

Di antara prestasi itu, di Kejuaraan Daerah (Kejurda) Remaja 2016 (juara III), Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) 2017 (juara II), Pra-Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2017 (juara III), Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jateng 2018 (juara I), Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2018 (juara III), Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Junior 2018 (juara III), dan Kejurnas Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) 2018 (juara II).

Prestasi yang diraihnya ini, tidak lepas dari dukungan orang tua. ”Bagi saya restu orang tua itu penting. Saya juga mendapat dukungan dari orang tua untuk menekuni voli pantai,” ujar atlet putri yang kini tergabung di klub voli pantai Ivojo dan Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Jawa Tengah.

Meski telah meraih sejumlah prestasi, namun kendala tetap dihadapinya. Antara lain, saat kondisi hujan deras, latihan terpaksa libur. Selain karena susah bermanuver dan berbahaya jika ada petir, juga karena bola menjadi berat karena terkena air.

Ditanya awal mula tertarik dengan olahraga tabok kulit bundar, atlet kelahiran Banjarnegara, 24 November 2001 ini, mengaku, mendapat informasi dari teman. Terkait informasi seleksi atlet voli pantai di Kudus. ”Terus saya nyoba dan keterima sampai sekarang. Saya berharap bisa lebih berprestasi lagi dan bisa menjadi atlet internasional,” harapnya. (vga)

]]>
Ali Mustofa Sun, 13 Jan 2019 22:53:10 +0700
<![CDATA[Hobi Jalan, Tambah Pemasukan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/12/113221/hobi-jalan-tambah-pemasukan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/12/hobi-jalan-tambah-pemasukan_m_113221.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/12/hobi-jalan-tambah-pemasukan_m_113221.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/12/113221/hobi-jalan-tambah-pemasukan

MEMILIKI hobi memasak sejak kecil, membuat Sunarya ingin tetap menekuni. Kendati punya jadwal kerja padat. Untuk tetap menyalurkan hobi, ia buka order makanan.]]>

MEMILIKI hobi memasak sejak kecil, membuat Sunarya ingin tetap menekuni. Kendati punya jadwal kerja padat. Untuk tetap menyalurkan hobi, alumnus Universitas Semarang itu pun membuka order berbagai makanan. Ada kebab, cireng, kerang, siomay, dan berbagai jenis lain.

”Nggak monoton di kebab memang. Sejenis katering dan camilan juga,” aku gadis yang tinggal di Desa Trimulyo, Kecamatan Juwana, Pati, itu.

Lewat akun Instagram @yayakebab, gadis yang bekerja di sebuah perusahaan BUMN di Rembang itu, mengenalkan berbagai produk masakannya. Peminatnya pun lumayan banyak. Kalau sedang ramai order-an, dia mengaku bisa mendapatkan penghasilan tambahan hingga Rp 1 juta.

”Kalau pas ramai saja. Yang penting, hobi masak tetap tersalurkan,” kata perempuan yang akrab disapa Yaya ini.

Bekerja lintas daerah membuat dia memiliki lebih banyak jaringan pertemanan. Selain dari Kecamatan Kota Rembang, di tempatnya bekerja dia juga punya pelanggan di Pati, di sekitar tempat tinggalnya.

Bukan hanya dua daerah itu, Yaya bahkan mengaku pernah melayani order dari Semarang. Namun, itu khusus bila ada agenda ke kota lain. Pernah menempuh pendidikan tinggi di kota besar membuatnya memiliki jaringan pertemanan yang luas.

”Kalau misalnya ada acara di Semarang, kondangan misalnya, sekalian nawarin siapa yang mau order. Kan bisa ketemu,” jelasnya.

Selain itu, jika tak ada agenda, dia bisa melayani order, namun dengan minimal 50 porsi.

]]>
Ali Mustofa Sat, 12 Jan 2019 07:20:39 +0700
<![CDATA[Jadi ”Perawat” saat SMA]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/09/112504/jadi-perawat-saat-sma https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/08/jadi-perawat-saat-sma_m_112504.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/08/jadi-perawat-saat-sma_m_112504.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/09/112504/jadi-perawat-saat-sma

PEREMPUAN bernama lengkap Heni Puspitasari ini, mengaku sejak kecil punya kegemaran merawat orang. Sejak di SMA ia sering diajak saudaranya dinas di RS.]]>

PEREMPUAN bernama lengkap Heni Puspitasari ini, mengaku sejak kecil punya kegemaran merawat orang. Ia mengungkapkan, sejak duduk di bangku SMA ia sering diajak saudaranya dinas di RS Mardi Rahayu.

Kebiasaan itu dijalaninya ketika libur sekolah. Ia menghabiskan waktu liburnya untuk melayani pasien. ”Pada waktu itu, saya membantu tante untuk mengganti infus pasien,” ungkapnya.

Perempuan kelahiran Kudus, 17 Juni 1986 ini, mengatakan, berangkat dari kebiasaan tersebut, ia kemudian memutuskan untuk kuliah di jurusan kebidanan. Dia menempuh pendidikan diploma 3 di Akademi Kebidanan (Akbid) Abdi Husada Semarang. Lalu, diploma 4 di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Karya Husada Semarang.

Profesi yang ia jalani sekarang adalah menjadi bidan desa di Desa Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kudus. Dinasnya di Puskesmas Wergu Wetan, Kota, Kudus. Heni memaparkan, keinginannya memilih menjadi bidan, karena hatinya tergerak ingin menolong masyarakat yang membutuhkan.

Selain mengabdikan diri kepada masyarakat, ia juga membantu ibunya berjualan ketan susu. Heni yang kesehariannya bertemu dengan banyak orang, memanfatakan potensi itu dengan menawarkan ketan susu buatan ibunya.

            Sebelumnya ia mengaku, peminat ketan susu buatan ibunya sedikit sepi. Setelah ia membantu menjual, peminatnya menunjukkan grafik peningkatan. ”Harapan saya, bisa berbakti mengabdi melayani masyarakat. Tak ketinggalan juga berbakti kepada orang tua,” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Wed, 09 Jan 2019 08:20:59 +0700
<![CDATA[Terharu saat Penelitian Situs Patiayam Jadi Juara]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/31/111035/terharu-saat-penelitian-situs-patiayam-jadi-juara https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/31/terharu-saat-penelitian-situs-patiayam-jadi-juara_m_111035.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/31/terharu-saat-penelitian-situs-patiayam-jadi-juara_m_111035.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/31/111035/terharu-saat-penelitian-situs-patiayam-jadi-juara

KEGIATAN meneliti sudah diikuti Dwi Antika Sari sejak kelas X. Beberapa kejuaraan diikutinya dengan tim karya tulisnya di sekolah.]]>

KEGIATAN meneliti sudah diikuti Dwi Antika Sari sejak kelas X. Beberapa kejuaraan diikutinya dengan tim karya tulisnya di sekolah. Terbaru, Dwi, sapaan akrabnya meraih juara pertama lomba penelitian benda cagar budaya yang diadakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pati 2018.

Siswi kelas XII SMAN I Jakenan, Pati, ini mengaku karya tulis ilmiah benda cagar budaya di-handel olehnya dan dibantu salah satu temannya serta guru pembimbing. Dirinya meneliti fosil gajah purba yang ditemukan di Desa Terban, Jekulo, Kudus. Dwi meneliti karena ingin mengajak teman sebayanya untuk mencintai sejarah.

“Saya mengambil tema jelajah surga pandang. Jadi di dalam karya ilmiah saya ingin mempercantik rumah fosil karena sedikit anak zaman now yang tertarik. Terlebih di sana minim spot foto yang instragamable. Jadi membutuhkan optimalisasi destinasi situs patiayam di zaman now sebagai wisata edukreasi,” tutur warga Desa Kebowan, Kecamatan Winong, Pati ini.

Usai meneliti, dara kelahiran Pati, 29 April 2001 ini belajar keras presentasi hingga beberapa kelas di sekolahnya dimasuki untuk belajar presentasi. Setelah persiapan matang, penelitian itu dilombakan Maret 2018 ini. Yang mengikuti karya tulis ilmiah benda cagar budaya ada 12 orang dan di penelitian sejarah sebanyak delapan orang. Total semua 20 peserta.

“Alhamdulillah saat presentasi itu lancar meskipun dilihat semua peserta. Bahkan, saya harus melewati pertanyaan para juri yang membredel karya tulis ilmiah saya. Pengumuman juaranya dimulai juara 3 dan juara 2. Waktu pengumuman itu saya tidak masuk ya sudah pasrah aja. Eh setelah diumumin juara 1 itu ternyata karya saya, seketika nangis. Terlebih saat dipeluk ibu guru pembimbing. Karena waktu itu pas ulang tahunnya guru pembimbing,” lanjutnya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 31 Dec 2018 16:58:08 +0700
<![CDATA[Banjir Job Make-up Artist, Kuliah pun Sukses]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/23/109990/banjir-job-make-up-artist-kuliah-pun-sukses https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/23/banjir-job-make-up-artist-kuliah-pun-sukses_m_109990.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/23/banjir-job-make-up-artist-kuliah-pun-sukses_m_109990.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/23/109990/banjir-job-make-up-artist-kuliah-pun-sukses

BERAWAL dari kesenangan membuat konten kreatif make-up. Gadis bernama Keke Tamara Fahira, pada awalnya memiliki hobi dandan sejak SMA.]]>

BERAWAL dari kesenangan membuat konten kreatif make-up. Gadis bernama Keke Tamara Fahira, pada awalnya memiliki hobi dandan sejak SMA. Berangkat dari kesukaannya menekuni hobinya itu hingga menghasilkan.

Keke yang pada saat itu menjalani pendidikan S1, harus mampu membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. ”Dulu sempat berhenti ketika baru skripsi. Kemudian berlanjut lagi selesai skripsi,” ungkapnya.

Perempuan yang akrab disapa Keke ini. Kemudian memutuskan untuk menekuni makeup artist profesional. Tak disangka akibat ketekunannya, ia sering kebanjiran job makeup hingga luar kota.

“Sebagai mahasiswa saya harus mampu menghasilkan dengan cara menyenangkan. Apalagi dengan cara kreatif,” ujarnya.

Gadis kelahiran Kudus, 30 Oktober 1997 ini mengaku, penghasilannya lewat make-up artist bisa mencapai Rp 1,5 hingga 2 juta perbulan. Sedangkan  lagi ramai job bisa mencapai Rp 7 juta. Dari job tersebut ia mampu membiayai kuliahnya sendiri.

Keke yang sekarang melanjutkan studi S2 di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang ini mengaku, mendapat dukungan dari orangtuanya. ”Orangtua saya hanya pesan, agar bisa mengatur waktu antara kuliah dan bekerja,” ujarnya.

Untuk kedepannya, dia berharap agar bisa dikenal karena profesional dan kualitas kerjanya. Bukan dikenal dari segi harganya. (gal)

]]>
Ali Mustofa Sun, 23 Dec 2018 23:04:55 +0700
<![CDATA[Dari Kepo Dapat Biaya Penelitian Masyarakat Sedulur Sikep]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/21/109748/dari-kepo-dapat-biaya-penelitian-masyarakat-sedulur-sikep https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/21/dari-kepo-dapat-biaya-penelitian-masyarakat-sedulur-sikep_m_109748.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/21/dari-kepo-dapat-biaya-penelitian-masyarakat-sedulur-sikep_m_109748.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/21/109748/dari-kepo-dapat-biaya-penelitian-masyarakat-sedulur-sikep

DUNIA mahasiswa memang menyajikan banyak cerita. Setelah seorang pelajar lulus dari SMA akan ada yang memutuskan untuk berhijrah menuju pendidikan lebih tinggi.]]>

DUNIA mahasiswa memang menyajikan banyak cerita. Setelah seorang pelajar lulus dari SMA akan ada yang memutuskan untuk berhijrah menuju ke pendidikan yang lebih tinggi, universitas.

Menjadi mahasiswa tidak hanya dituntut untuk mengasah otak di kelas, tetapi mereka harus mampu mengasah soft skill dan kreativitas agar dapat mengaplikasikan ilmunya di masyarakat luas. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengasah soft skill dan kreativitas, misalnya bisa ikut organisasi kampus, komunitas, atau penelitian.

Seperti yang dilakukan oleh Hikmah Mutiaraning Arsati, seorang mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang melakukan penelitian pada masyarakat Sedulur Sikep di Pati. Berawal dari pernah berkunjung di perkampungan masyarakat Sedulur Sikep di Blora, membuat gadis berusia 22 tahun ini, merasa bergairah mengulik kehidupan Sedulur Sikep lebih dalam. Menurutnya kelompok masyarakat ini memiliki tata cara kehidupan yang menarik. Baik itu dari segi berpakaian sampai nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan.

Setelah berkunjung di perkampungan Sedulur Sikep Blora, mahasiswi yang akrab dipanggil Tiara ini, membeli buku yang mengulas tentang masyarakat sedulur sikep karena ingin tahu lebih lanjut.

”Dulu awalnya pernah datang ke perkampungan Sedulur Sikep yang di Blora. Habis itu penasaran, lalu beli buku tentang Sedulur Sikep” ujar gadis kelahiran Pati, 14 November 1996 ini.

Di semester V, ia mendapatkan tugas kualitatif dari dosennya. Sebab, sudah pernah mendapatkan ide. Ia lalu memutuskan untuk mengangkat tema ”Sedulur Sikep” sebagai bahan untuk tugasnya. Tak disangka, tema tugasnya ini mendapatkan perhatian dari dosennya.

Sang dosen pun menyarankan dan mengajukan tema penelitiannya untuk ikut Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Karena mendapatkan suport, Tiara dan dua orang rekannya semakin semangat untuk menyusun proposal penelitian. Alhasil proposal penelitian berhasil diselesaikan. Tidak cukup sampai di situ, Tiara dan timnya juga lolos beberapa tahap seleksi sampai mendapatkan dana pengembangan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti).

”Ya terus pas semester V itu dapat tugas kualitatif. Terus diajukan jadi PKM. Ternyata lolos seleksi jurusan, seleksi fakultas, seleksi universitas, sampai ke Dikti dan dapat dana untuk pengembangan” ujar gadis yang juga hobi membaca dan menulis ini.

Setelah itu, mereka pun melanjutkan penelitian. Tetapi setelah penelitian selesai, mereka tidak lolos dalam tahap selanjutnya. Namun, hal ini tidak mematahkan semangat Tiara untuk meneliti tentang Sedulur Sikep. Saat ini, ia melanjutkan penelitian tersebut menjadi skripsi untuk mendapatkan gelar S.Psi.

”Ya nggak nyangka sih dari sekadar kepo (ingin tahu, Red) terus malah bisa jadi PKM,” kata mahasiswi yang bercita-cita jadi psikolog sosial itu. (vah)

]]>
Ali Mustofa Fri, 21 Dec 2018 22:45:17 +0700
<![CDATA[Tanpa Beban Antarkan Juara Kategori Batik Maskot]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/21/109684/tanpa-beban-antarkan-juara-kategori-batik-maskot https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/21/tanpa-beban-antarkan-juara-kategori-batik-maskot_m_109684.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/21/tanpa-beban-antarkan-juara-kategori-batik-maskot_m_109684.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/21/109684/tanpa-beban-antarkan-juara-kategori-batik-maskot

BARU pertama kali mengikuti pencarian bakat tidak membuat Nova Jauharatul Judah pesimis. Dengan bakatnya menari Tari Krida Jati, terpilih di tingkat nasional.]]>

BARU pertama kali mengikuti pencarian bakat tidak membuat Nova Jauharatul Judah pesimis. Dengan menampilkan kemampuan bakatnya menari Tari Krida Jati ia terpilih sebagai perwakilan Kota Ukir di tingkat nasional.

Meski di ajang Wajah Pesona Indonesia tingkat nasional ia belum berhasil juara, Nova merasa bangga. “Awal pertama kali ikut. Tidak menyangka bisa mewakili Jepara ke tingkat nasional,” ujar gadis kelahiran Jepara, 20 November 1998 ini.

Ia justru mencoba peruntungan lain dengan mengikuti ajang modelling di Jakarta. Usai mengikuti ajang itu, ia menjajal kejuaraan model di Jakarta. Tampil tanpa beban, ia justru menyabet kategori batik maskot terbaik. Ia memakai kostum batik Jepara dan tenun troso.

Diakuinya kemampuan dasar modellingnya masih belum maksimal. Namun ia berusaha menampilkan yang terbaik. Tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan diri tapi juga mengenalkan potensi lokal Jepara.

“Even  tidak hanya saya gunakan sebagai pencapaian target pribadi. Tapi lebih dari itu. Mempromosikan Jepara adalah bagian dari tugas saya sebagai warganya. Meski sudah tersohor, promosi harus terus digalakkan,” tandasnya.

]]>
Ali Mustofa Fri, 21 Dec 2018 17:33:23 +0700
<![CDATA[Bikin Puisi tentang NKRI]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/16/108809/bikin-puisi-tentang-nkri https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/16/bikin-puisi-tentang-nkri_m_108809.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/16/bikin-puisi-tentang-nkri_m_108809.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/16/108809/bikin-puisi-tentang-nkri

MENGIKUTI lomba cipta baca puisi sekaligus membacakan menjadi pengalaman tersendiri bagi Ifti Miftahuliyana. Dia hanya menyabet peringkat delapan terbaik.]]>

MENGIKUTI lomba cipta baca puisi sekaligus membacakan menjadi pengalaman tersendiri bagi Ifti Miftahuliyana. Meskipun pada akhirnya hanya menyabet peringkat delapan terbaik dari 32 peserta guru TK se-Kabupaten Pati. Namun, itu sudah cukup membuat Ifti dipuji rekan-rekannya.

”Nggak apa-apa lah masuk 10 besar. Begitu saja, ketua IGTKI (Ikatan Guru Taman kanak-kanak Indonesia) di sini sudah senang sekali,” tutur ibu satu anak tersebut.

Dalam lomba cipta baca puisi guru TK swasta se Bumi Mina Tani yang digelar akhir Oktober lalu itu, Ifti merasa mendapat tantangan yang cukup berat. Sebagai seorang yang jarang bersentuhan dengan dunia seni, khususnya sastra, dia sebenarnya juga mendapat kesulitan tersendiri.

”Nulis puisinya mengarang di lokasi langsung. Jadi benar-benar spontan. Setelah itu dibacakan di depan. Karena pemula, masuk 10 besar sudah bagus,” aku Ifti yang tinggal di Desa Grobog, Tlogowungu, Pati, itu.

Ifti menyebut, puisi yang dibuat itu tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jadi, sebenarnya dia membuat karya yang cukup sederhana. Namun, barangkali karena semua peserta juga kurang bergelut di kesusastraan, puisi yang ditulis dan dibacakan rata-rata memiliki kualitas yang tak beda jauh.

Selama menjadi guru TK, alumni Jurusan Teknologi Pendidikan Unnes itu, mengaku, pernah mendapatkan sejumlah prestasi. Antara lain juara I lomba gugus se-Karesidenan Pati, juara II sekolah sehat se-Karesidenan Pati, serta juara harapan guru berprestasi se-Kabupaten Pati.

]]>
Ali Mustofa Sun, 16 Dec 2018 17:45:35 +0700
<![CDATA[Dari Konten Lucu Berbuah Rupiah]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/02/106477/dari-konten-lucu-berbuah-rupiah https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/02/dari-konten-lucu-berbuah-rupiah_m_106477.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/02/dari-konten-lucu-berbuah-rupiah_m_106477.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/02/106477/dari-konten-lucu-berbuah-rupiah

BERAWAL dari kerapnya mengunggah video lucu di Instagram pribadinya, membuat Chindy Karomah viral dan dikenal banyak kalangan. Kini, ia menjadi influencer.]]>

BERAWAL dari kerapnya mengunggah video lucu di Instagram pribadinya, membuat Chindy Karomah viral dan dikenal banyak kalangan. Kini, ia menjadi influencer bagi para remaja hingga memiliki sekitar 192 ribu follower.

Pemilik akun Instagram @cindykcindy ini, mengaku, aktif memakai media daringnya itu sejak 2016 lalu. ”Waktu itu yang membuatkan teman, karena bilang kuper belum paham Instagram. Padahal bisa menghasilkan uang yang luar biasa,” ucap gadis kelahiran Grobogan, 8 Januari 1998 ini.

Meski sempat bingung ingin mengunggah apa, Cindy pun asal mengunggah foto. Lalu, tanpa sengaja mengunggah video yang menurutnya biasa saja. Tak disangka, video tersebut malah membuatnya viral dan pengikut di media pribadinya itu langsung naik drastis.

”Saat itu banyak akun lucu yang memposting ulang video saya tersebut. Saat itu pengikut langsung naik 15 kali lipat,” terangnya.

Kini, mahasiswi Universitas Semarang jurusan akuntansi ini, ketagihan untuk memposting video dengan konten lucu di Instagram pribadinya. Konten yang ia unggah beragam. Mulai dari kehidupan sehari-hari sebagai gadis desa hingga berbahasa medhok Semarangan. Konten tersebut malah menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengikutnya.

”Banyak juga yang membuat parodi yang sama. Dengan konten yang sama. Jadi, banyak yang menunggu video-video terbaru saya,” jelasnya.

Hasilnya, ia mampu menghasilkan pundi-pundi uang dari Instagram. Di antaranya mendapatkan endorse.

Berkat media daringnya itu, hasil yang ia dapatkan digunakan untuk ditabung hingga biaya kuliah dan membantu keluarga. Selain itu, juga ia pakai untuk belanja kebutuhan pribadi, jajan, hingga membeli make up.

”Saya jadi dikenal banyak orang, seperti diajak kerja sama beberapa brand lokal. Saya sekaligus jadi model pakaian yang dijual. Mulai merambah ke MC juga,” imbuh gadis yang beralamat di Desa Rowosari, Kecamatan Gubug, Grobogan, ini.

]]>
Ali Mustofa Sun, 02 Dec 2018 22:07:06 +0700