Radar Kudus JawaPos.com | Features RSS News Feed http://radarkudus.jawapos.com/rss/84/features http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarkudus-logo1.png http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarkudus-logo1.png Radar Kudus JawaPos.com | Features RSS News Feed http://radarkudus.jawapos.com/rss/84/features id Wed, 24 Apr 2019 11:57:53 +0700 Radar Tulungagung <![CDATA[Terinspirasi RA Kartini, Awalnya Gagal Gabung Kowad]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/24/133541/terinspirasi-ra-kartini-awalnya-gagal-gabung-kowad https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/24/terinspirasi-ra-kartini-awalnya-gagal-gabung-kowad_m_133541.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/24/terinspirasi-ra-kartini-awalnya-gagal-gabung-kowad_m_133541.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/24/133541/terinspirasi-ra-kartini-awalnya-gagal-gabung-kowad

Sebagai perempuan asli Jepara, Mayor Siti Musiana sangat mengagumi sosok RA Kartini. Sosok itu pulalah yang menginspirasinya untuk ambil peran pada negara.]]>

Sebagai perempuan asli Jepara, Mayor Siti Musiana sangat mengagumi sosok RA Kartini. Sosok itu pulalah yang menginspirasinya untuk ambil peran dan mengabdikan diri pada negara. Kini, dia tergabung dalam Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal). Dia merasakan berbagai pengalaman sebagai Kartini laut pertama asal Jepara.

 FEMI NOVIYANTI, Jepara

 AWALNYA Mayor Siti Musiana berkeinginan menjadi TNI AD/Kowad (Korps Wanita Angkatan Darat). Namun dia gagal. Nasib justru menuntunnya masuk di pendidikan TNI AL/Kowal (Korps Wanita Angkatan Laut). Dia bahkan tercatat sebagai Kowal pertama asal Jepara.

Perempuan kelahiran Jepara, 7 November 1965 ini menceritakan, sejak kecil dia memang berkeinginan untuk mengabdi kepada negara meneruskan perjuangan orang tuanya yang merupakan veteran TNI AD.

Selepas lulus SMA pada 1984 silam, dia kemudian mendaftar sebagai TNI AD/Kowad. Namun pada saat itu gagal. ”Saya pulang dengan perasaan sangat kecewa. Di perjalanan pulang di dalam bus saya bertemu seorang bapak. Dia menyapa saya dan bertanya kenapa kelihatan sedih. Saya ceritakan kalau saya gagal masuk Kowad. Orang tersebut memberi nasehat agar saya masuk TNI AL dengan alasan lebih cocok di TNI AL,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Saat itu, SMA Pemda Bangsri mengaku masih asing dengan Kowal. Dia hanya tahu mengenai Polwan dan Kowad. Meski begitu dia tetap mencoba. Pada 1985, saat ada seleksi masuk Bintara TNI AL pria/wanita, dia mendaftar di Lanal Semarang.

Dari 100 orang perempuan yang mendaftar di Jawa Tengah, 16 orang dinyatakan lulus tingkat daerah. Kemudian dilanjutkan ke Malang bersama dengan calon dari wilayah barat dan wilayah timur untuk menjalani seleksi selanjutnya. Dari 55 orang dinyatakan lulus 20 orang. ”Alhamdulillah Jawa Tengah lulus lima orang termasuk saya. Kami kemudian menjalani pendidikan bersama yang lolos dari kalangan pria. Saya menempuh pendidikan Dikcaba Milsuk IV/1985 dan Dikcapareg XXXI/ 2000,” ungkapnya.

Dengan diterimanya menjadi bintara TNI AL/Kowal, banyak pengalaman baru yang didapatkannya. Dia sempat bertugas di beberapa tempat.

Mengenai salah satu tugasnya yang berkesan, perempuan asal Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Jepara, ini menyatakan, saat menjadi pramugari VIP dengan pesawat TNI AL. Saat menjalankan tugas itu, dia mengaku bisa keliling Indonesia. ”Juga saat menjadi pramugari haji Indonesia. Rasanya sangat berkesan,” ujarnya.

Mengenai sosok inspirasinya, Mayor Siti Musiana menyatakan, tak lain dari pemikiran-pemikiran RA Kartini. ”Sebagai generasi penerus bangsa, sudah sepantasnya kita dapat menghargai apa yang telah diperjuangkan oleh RA Kartini dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan menjunjung tinggi hak-hak kaum perempuan. Juga menjadikan perempuan sebagai subjek, bukan hanya sebagai objek,” tuturnya.

Dia menuturkan, sudah saatnya Kartini masa kini mencatatkan dirinya sebagai pelaku emansipasi yang mampu mengambil peran demi terciptanya bangsa Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.  ”Tanpa harus menghilangkan hakikat dan kodratnya sebagai seorang perempuan. Semoga cita-cita dan spirit Kartini selalu tertanam dalam hati seluruh masyarakat Indonesia dan selalu menjadi penerang dalam memajukan apa yang telah beliau perjuangkan,” katanya.

Sebagai Kowal pertama asal Jepara, dia berharap agar generasi muda khususnya kaum perempuan mengikuti jejaknya sebagai Kowal. ”Semua bisa diraih kalau kita mau sungguh-sungguh. Terbukti saya bisa lolos dan menjadi taruni AL angkatan pertama asal Jepara,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 24 Apr 2019 11:57:53 +0700
<![CDATA[Gagal di Kelas Tunggal, Sabet Gelar di Nomor Ganda]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/23/133377/gagal-di-kelas-tunggal-sabet-gelar-di-nomor-ganda https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/23/gagal-di-kelas-tunggal-sabet-gelar-di-nomor-ganda_m_133377.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/23/gagal-di-kelas-tunggal-sabet-gelar-di-nomor-ganda_m_133377.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/23/133377/gagal-di-kelas-tunggal-sabet-gelar-di-nomor-ganda

Muhammad Reza Falevi berhasil meraih juara III nomor ganda Tenis Internasional di Thailand 2017. Dia sempat mengalami kegagalan bertanding di kelas single,]]>

Muhammad Reza Falevi berhasil meraih juara III nomor ganda Tenis Internasional di Thailand 2017. Dia sempat mengalami kegagalan bertanding di kelas single pada ajang yang sama. Itu lantaran dia terbebani sebagai penyandang juara bertahan di ajang Perlis Milo International Tenis Junior Championship 2017 di Malaysia.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

TAMPAK dari kejauahan, seorang remaja berbadan tinggi dan berisi menghampiri Jawa Pos Radar Kudus di ruang kesiswaan SMA 1 Bae Kudus. Remaja bernama Muhammad Reza Falevi itu bersuara lirih, namun penampilannya di lapangan tenis tak bisa dipandang remeh.

Reza yang sekarang ini duduk di kelas X itu merupakan atlet tenis lapangan. Dunia pertenisan dari kancah nasional hingga internasional sudah dijajakinya. Juara internasional yang ia raih juara III nomor ganda Tenis Internasional di Thailand 2017.

Dia menyukai olahraga tenis lapangan sejak duduk di kelas III SD. Pada saat itu Reza hanya sebatas iseng saja. Reza dulunya memiliki hobi bermain sepak bola. Namun orang tuanya harus menyuruh Reza untuk menekuni salah satu bidang olahraga itu. “Saya mengenal tenis dari pak dhe saya. Kok enak ya rasanya pegang raket tenis,” Ungkapnya pada Jawa Pos Radar Kudus.

Reza menceritakannya pengalaman saat bermain di Thailand. Di 2017, Reza mengikuti ajang tenis internasional Hat Yai. Di sana remaja kelahiran Kudus itu mampu menyabet peringkat III. Ia berpasangan dengan pemain Thailand. Namun dibalik kemenangan itu, dirinya agak kecewa. Sebab ia ingin menyapu di nomor singel player.

Reza dikala itu gugur pada babak delapan besar. Pada saat itu lawannya dari Filipina. Reza mampu menguasai pertandingan. Pertarungan hampir berimbang. Namun Reza menegaskan, pertandingan melawan Filipina mampu dia kuasai. Dia sudah memimpin skor di set pertama dengan skor 6-4.

Namun di set yang kedua Reza harus mengakui keunggulan lawannya dari Filipina itu. Ia harus merelakan predikat juara bertahannya.

Dra. Terry Sugijatti, selaku pelatihnya, mengatakan, Reza kalah karena terbebani oleh predikat juara bertahan tunggal putra. Saat itu ia berhasil menyabet juara pertama. Dia meraih juara di ajang Perlis Milo di Malaysia pada 2017. Sosok Reza terbilang tak bisa dipandang remeh di dunia tenis lapangan. Khususnya usia junior.

Terry menambahkan, saat bertanding di Thailand, pada ajang Hat Yai. Tepatnya pada tiga sampai tujuh Desember 2017, usia Reza masih 15 tahun. Sedangkan ajang yang diikutinya kelompok usia 18 tahun. Lawannya rata-rata berusia diatas umur Reza. Seminggu sebelumnya Reza bertanding pada ajang Perlis Milo di Malaysia 2017 pada 28 hingga 2 Desember. Setelah itu ia bertolak ke Thailand.

“Tak ada faktor lain dari kekalahan Reza. Dia (Reza Red) sama sekali tidak keracunan apapun. Dia mengalami tekanan mental yang hebat. Lantaran ia berpredikat sebagai juara bertahan di Malaysia,” ungkapnya.

Porsi latihan Reza juga ditambah. Ketika menjelang ajang tenis nasional di Solo yang diadakan pada Juli tahun ini. Saat ini porsi latihan tanding tenisnya agak dikurangi. Latihan yang dilakukannya saat ini berupa latihan fisik. Dia berlatih dari siang pukul 14.00 hingga menjelang malam, pukul 18.00. Meskipun full day dia nekat berangkat latihan. Dengan itu pihak sekolah mengizinkan Reza untuk berangkat latihan.

Padatnya jam latihan juga membuat pihak sekolah memberikan toleransi kepada Reza. Dia mendapatkan keringanan ketika mengerjakan tugas sekolah dan ulangan.

Pemuda ini mempunyai daya semangat tinggi. Ia ingin lolos seleksi Timnas soft tenis pada 2020. Bahkan dia rela mengorbankan sekolahnya, demi mencapai impiannya menjadi pemain tenis profesional. Dia tak serta merta meninggalkan pendidikan formalnya. Sebab di Timnas sudah disediakan home scholling. “Sekolah nomor dua, tenis nomor satu,” tegasnya.

Reza berharap, dengan menelateni kegiatannya itu bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang tuanya. Selain harapan karirnya melambung, dia berkeinginan untuk memberangkatkan haji kedua orang tuanya.

Deretan prestasi Reza di kancah nasional sudah tak diragukan lagi. Pada 2018, ia berhasil menjuari peringkat I di Magelang U-16. Kemudian pada 2019 dia berhasil menyumbang juara I di Magelang pada Januari lalu. Serta di Semarang pada 2018. April 2018 dirinya berhasil menjuari Kejurnas Yayuk Basuki di Ambarawa. Dia membawa pulang piala peringkat pertama.

Untuk raihan prestasi internasional, Reza mampu menjuarai Penang Open 2018, yang diadakan di Malaysia. Ia berhasil merebutkan peringkat pertama tunggal putra. Juga Perlis Milo International Tenis Junior Championship 2017 di Malaysia. Dia berhasil menduduki peringkat I dan II ganda putra. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 23 Apr 2019 13:55:25 +0700
<![CDATA[Dikira Siswa SMA, Tularkan Semangat ke Anak Didik]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/22/133092/dikira-siswa-sma-tularkan-semangat-ke-anak-didik https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/22/dikira-siswa-sma-tularkan-semangat-ke-anak-didik_m_133092.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/22/dikira-siswa-sma-tularkan-semangat-ke-anak-didik_m_133092.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/22/133092/dikira-siswa-sma-tularkan-semangat-ke-anak-didik

Eka Safa’ati menjadi best of the best designer batik putri dalam ajang papi batik tingkat Jawa Tengah pada 2018. Dalam kompetisi itu, penampilannya menawan.]]>

Eka Safa’ati menjadi best of the best designer batik putri dalam ajang papi batik tingkat Jawa Tengah pada 2018. Dalam kompetisi itu, penampilannya begitu menawan. Kepiawaian membatik tak cuma disimpan sendiri, tapi juga ditularkan pada anak didiknya.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Kudus

COK gali cok, digali-gali cocok. Ungkapan itu agaknya tepat menggambarkan proses kreativitas yang dilakukan perempuan bernama lengkap Eka Syafa’ati. Utamanya dalam menciptakan desain batik. Ia yang memang suka dengan fashion, mencoba untuk mendesain batik. Dari proses belajar mendesain itu pun lahir juga karya batik bikinannya.

Hasil desainnya ia gunakan sendiri. Paduan hasil desain batiknya itu ia gunakan dalam beragam aktivitas. Seperti ngantor atau sekadar bepergian. Hingga tanpa sengaja Eka ditawari kepala sekolah untuk menjadi talent di butik baru.

”Sejak kecil saya juga senang melihat model berjalan di catwalk,” ujar guru bimbingan konseling (BK) SMAN 1 Kragan ini.

Berawal dari rasa sukanya itulah dara kelahiran Kudus, 25 April 1995 ini termotivasi menerima tawaran lomba papi batik. Yang tak lain merupakan kompetisi perdananya. Dalam kompetisi itu, Eka menampilkan batik Gringsing warna hitam dengan motif seperti sisik-sisik ikan. Perpaduan warna hitam dan merah memang begitu serasi.

Ditambah make up natural yang memoles parasnya dipadu jilbab bak mahkota membuat inner beauty-nya  tetap terjaga. Pancarkan pesona berpasang-pasang mata yang mencoba memandangnya. Tak hanya itu, batik Gringsing andalannya itu juga memiliki estetika tersendiri.  Berfilosofi keseimbangan, kemakmuran, dan kesuburan.

Motif batik yang disinyalir sebagai motif batik tertua ini memiliki ciri khas yang disebut dengan sedulur papat lima pancer.

”Warna yang digunakan pada batik Gringsisng sangat beragam. Sebagai batik kuno batik Gringsing menggunakan warna alam,” jelasnya.

Batik dengan motif sisik ikan yang ia kenakan ini menggambarkan tentang si pemakai yang mengharapkan keindahan, keharuman dan kebesaran bagai bunga. Juga disertai dengan kekayaan yang tak terhitung. Seperti motif sisik yang ada dalam gringsingnya.

”Itu sekilas filosofi menarik dari batik yang saya kenakan. Ketika itut even dikira masih siswa SMA,” kenangnya.

Bersama dengan tim kompaknya ia pun berhasil menyabet juara best of the best designer putri batik tingkat Jawa Tengah. Siapa sangka, di kompetisi perdananya itu dia bisa menang. Dari situ beberapa kompetisi sejenis mulai ia jamah. Ia menjuarai lomba batik itu dengan desain batik Gringsingnya.

Seperti penilihan putra putri budaya tingkat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kepiwaiannya berjalan di papan peraga pun membuat perempuan yang hobi traveling ini kembali nenggondol piala Juara II.

Seakan tak mau menikmati prestasi sendirian, Eka pun menularkan hobi dan kepiawaiannya itu kepada anak-anak didiknya di sekolah tempat ia mengajar. Ya, Eka menjadi guru ekstrakurikuler modeling SMAN 1 Kragan. Bukan pembimbing ekstra biasa. Eka juga mendapatkan apresiasi dari sekolah sebagai guru pembina berprestasi di bidang non akademik.

”Tidak hanya ambil atau ikut even batik saja. Segala yang berkaitan dengan fashion saya selalu tertarik,” katanya.

”Pakai hijab ya,” tegasnya.

Anak didiknya binaannya itu juga berhasil menyaber juara. Seperti juara kategori putri berprestasi di papi batik Jawa Tengah pada 2018.

”Namanya Bella. Itu di tahun dan even yang sama. Saya ikut lomba dan dapat juara best of the best tadi. Mengirimkan lima model, dua model dapat juara,” imbuh perempuan alumni Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) ini.

Selain itu Ananda Cuthia Selfiana, yang juga merupakan salah satu muridnya juga berhasil membanggakan. Juara I kategori peragawati dalam pemilihan papi budaya tingkat Jawa Tengah dan DIY 2019 bertema busana muslimah berhasil dikantongi. Ada juga Siti Maemonah yang gondol peringkat I kategori top model casual Jateng dan DIY.  

Menurutnya, dengan banyaknya even kejuaraan fashion ini, membuat para perajin batik semakin tertantang untuk berinovasi mengenalkan salah satu warisan bangsa ini.

Usaha-usaha untuk terus membawa ke kancah internasional diharapkan bisa mengangkat level para pengrajin batik. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 22 Apr 2019 10:12:23 +0700
<![CDATA[Sering Blusukan, Tetap Sempatkan Memasak]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/22/133079/sering-blusukan-tetap-sempatkan-memasak https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/22/sering-blusukan-tetap-sempatkan-memasak_m_133079.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/22/sering-blusukan-tetap-sempatkan-memasak_m_133079.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/22/133079/sering-blusukan-tetap-sempatkan-memasak

SEMANGAT Kartini tertancap dan menjadi bukti perempuan bisa berkiprah dan tak kalah dengan laki-laki. Jawa Pos Radar Kudus menampilkan sosok perempuan pemimpin.]]>

SEMANGAT Kartini tertancap dan menjadi bukti perempuan bisa berkiprah dan tak kalah dengan laki-laki. Jawa Pos Radar Kudus menampilkan sosok perempuan pemimpin. Mulai menjadi bupati hingga ketua PKK kabupaten.

Seperti yang telah dicapai Bupati Grobogan Sri Sumarni. Berkat kerja kerasnya, dia berhasil mencapai hal yang diinginkan. Bupati periode 2016-2021 ini, berasal dari keluarga tak mampu. Perempuan yang akrab dipanggil Mbak Sri ini, anak kelima dari pasangan Sunardi dan Ngasi dari delapan saudara. Bahkan, perempuan kelahiran Grobogan, 5 September 1960 ini, sudah ditinggal bapaknya sejak masih umur 7 tahun. Ibunya harus menjadi tulang punggung. Dengan berjualan sayuran dan beras keliling kampung di Desa Karangsari, Kecamatan Brati, Grobogan, tempat kelahirannya.

”Saat bapak saya meninggal, ibu mendidik anaknya keras untuk mandiri. Mulai nyuci baju, ambil air, dan mencari kayu untuk masak pernah saya lakukan. Waktu kecil saya juga angon bebek,” kata ibu satu anak dan dua cucu yang tinggal di RT 2/RW 3, Desa Putat, Purwodadi, Grobogan, ini.

Dari didikan disiplin keras itu, perempuan yang mempunyai hobi memasak dan olahraga ini, bertekad berjuang sungguh-sungguh untuk terus belajar. Mulai dari SDN Karangsari 1967-1973 dan  SMP Pemda Brati 1974-1977. Saat baru lulus SMP, dia dipaksa orang tua untuk menikah muda. Namun, dia menolak karena ingin terus belajar hingga selesai SMA. Dia pun melanjutkan di SMA Pembangunan Persiapan 1978-1981. ”Karena pendidikan itu penting,” ujar alumnus S1 Universitas Muria Kudus (UMK) 2004-2008 dan S2 Universitas Slamet Riyadi 2009-2011 ini.

Perjuangan untuk mendapatkan hidup layak terus dilakukan. Dia kemudian diterima menjadi pegawai di KUD Pakis Aji. Kemudian pada 1993, dia diangkat menjadi manajer KUD Pakis Aji hingga 2003. Dia juga menjadi distributor KUD Pakis Aji Jaya (2000-2003). Memasuki 2003, dia masuk ke PDI P Grobogan. Pada 2004, dia mendapatkan kepercayaan menjadi anggota DPRD Grobogan periode 2004-2009 sekaligus menjadi bendahara DPC PDIP Grobogan. Saat Pileg 2009-2014 terpilih lagi. Selanjutnya menjadi ketua DPRD Grobogan periode 2012-2014. Saat Pileg 2014 terpilih lagi menjadi anggota DPRD Grobogan dan menjabat ketua DPRD Grobogan lagi.

Meski pernah gagal dalam pemilihan kepala daerah 2011 dia tetap semangat dang bangkit kembali. Dirinya kemudian dipercaya ketua DPC PDIP Grobogan. Selanjutnya diberi amanah menjadi calon bupati periode 2016-2021. Hasilnya, dia yang berpasangan dengan Edy Maryono (alm) meraih 73 persen suara sah, sehingga menjadi bupati periode 2016-2021.

”Ini semua untuk memajukan daerah dan semangat Kartini, bahwa perempuan bisa memimpin. Dengan anugerah ini, saya giat blusukan ke bawah terus saya lakukan untuk menampung aspirasi. Saya juga kerja sama dengan kepala desa dan camat. Masukan dari mereka merupakan data riil,” ujarnya.

Meski begitu, menjadi bupati Grobogan tak lantas menjadikan Sri Sumarni lupa mengurus keluarga. Di sela-sela mengemban amanah menjadi orang nomor 1 di Grobogan, dia tetap menyempatkan memasak sendiri. Di antaranya membuat sarapan dan makan siang bagi cucunya.

Di antara masakan kesukaan keluarganya, sayur lodeh, sayur becek, garang asem, dan pecel gambringan. Sri Sumarni juga terampil membuat kepiting saus asam pedas untuk memanjakan menantunya. ”Memasak sudah menjadi hobi saya. Jadi ketika ada waktu luang sebagai bupati saya sempatkan masak untuk anak, menantu, dan cucu,” kata Bupati Sri Sumarni.

Dia menambahkan, saat makan bersama bisa merasakan kekeluargaan dan bisa berbicara masalah keluarga. ”Meski jadi bupati, saya tetap sebagai perempuan sayang keluarga,” ujarnya.

Terkait dengan peringatan Hari Kartini, Bupati Sri Sumarni mengajak masyarakat untuk bisa meniru semangatnya dalam meningkatkan kualitas keluarga dalam menguatkan pendidikan karakter generasi penerus bangsa. Sebab, keluarga merupakan tempat pertama dalam pembentukan karakteristik generasi muda, karakter inilah yang akan dibawa dalam menentukan kualitas hidup seseorang ke depan.

”Keluarga yang harmonis dan berpikiran positif dapat menciptakan suasana kondusif. Jadi, setiap anggota keluarganya hidup bahagia,” kata bupati. Selain itu, perlu mengisi pembangunan secara bersama-sama. Tujuannya, mewujudkan generasi berkepribadian taqwa, santun, dan bersahabat. Sehingga mewujudkan generasi yang memiliki kapasitas intelektual tinggi dan berdaya saing. ”Dengan semangat itu, bisa menjadikan generasi yang berpikir visioner dan mempunyai karakter kuat,” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 22 Apr 2019 09:05:56 +0700
<![CDATA[Punya Empat Lokasi Usaha, Hampir Semua Karyawannya Laki-Laki]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/22/133076/punya-empat-lokasi-usaha-hampir-semua-karyawannya-laki-laki https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/22/punya-empat-lokasi-usaha-hampir-semua-karyawannya-laki-laki_m_133076.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/22/punya-empat-lokasi-usaha-hampir-semua-karyawannya-laki-laki_m_133076.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/22/133076/punya-empat-lokasi-usaha-hampir-semua-karyawannya-laki-laki

Perjuangan Raden Ajeng Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan membuahkan. Kini, banyak perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi dan berkarya.]]>

Perjuangan Raden Ajeng Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan membuahkan. Kini, banyak perempuan Indonesia yang berpendidikan tinggi dan berkarya sesuai keinginan mereka. Nah, di Kabupaten Pati ada sosok perempuan tangguh. Bekerja sebagai pengusaha penggilingan batu. Padahal bidang itu keras. Identik dengan laki laki. Namun dia sukses. Bahkan, ratusan karyawannya laki-laki.

ABDUL ROCHIM, Pati

BANGSA Indonesia sejak 55 tahun silam, melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini. Kartini merupakan sosok yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Meski sosok Kartini kini acapkali disematkan pada perempuan yang giat sebagai seorang aktivis ataupun teguh dalam memperjuangkan haknya.

Ada yang menarik dengan sosok Kartini masa kini. Jika umumnya pengusaha penggilingan batu dikelola laki-laki. Lain halnya dengan Sri Handayani. Dialah satu-satunya perempuan yang terjun di usaha penggilingan batu.

Perempuan yang akrab disapa Ning Sri ini, merupakan sosok perempuan tangguh yang patut disebut ”Kartini Masa Kini”. Berawal dari kejelian dan keberaniannya melihat potensi lokal, perempuan asal Desa Sumberejo, Kecamatan Gunungwungkal, Pati, ini, akhirnya sukses berbisnis penggilingan batu.

Menurut perempuan kelahiran 1 Oktober 1979 ini, dari kecil keluarga dan saudara-saudaranya memang sudah menekuni usaha pengolahan batu. Sebab, di tanah kelahirannya terkenal sebagai penghasil batu.

”Pada 2006, saya mulai merintis usaha penggilingan batu di desa saya. Lama bergelut di tanah kelahiran, mulai 2011 saya mulai ekspansi usaha di Gringsing, Kabupaten Batang. Kemudian mendirikan lagi di Sayung, Demak. Dan ada satu lagi yang baru di Kabupaten Jepara,” jelas perempuan yang lahir bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila itu.

Jadi, saat ini perempuan yang sedang menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Ekonomi, Undip Semarang, ini mempunyai empat lokasi usaha penggilingan batu di empat kabupaten. Bahkan, karyawannya mencapai 220 orang. Hampir semuanya laki-laki. Hanya yang di Sayung, Demak, sebagian merekrut tenaga perempuan.

Sri Handayani mengaku terinspirasi dengan sosok Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti dan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Menurutnya, mereka sosok yang disiplin dan berani mengambil risiko menjalani apa yang menjadi mimpinya.

Untuk menjalani usaha penggilingan batu, tak semudah apa yang dilihat seperti saat ini. Banyak suka dukanya dalam menggeluti dunia usaha yang lekat dengan pekerjaan laki-laki ini.

”Sebagai pengusaha batu yang mengurusi usaha dengan mayoritas karyawannya laki-laki, saya tetap harus bisa mengatur semuanya. Saya juga biasa turun di lapangan sendiri. Bahkan kalau lagi over produksi, habis Salat Subuh saya sampai menjadi operator pengilingan batu sendiri, mengatur sopir tronton. Jika perlu, saya sampai menjadi sopir loader (alat berat),” jelas Ning Sri.

Untuk mencapai kesetaraan dengan laki-laki dalam hal pekerjaan yang ditekuninya saat ini, Ning Sri mengaku harus banyak berkorban untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Mulai dari pengorbanan waktu untuk keluarga, karena semua hidupnya dihabiskan untuk bekerja dan bekerja. Bahkan, untuk istirahat itupun secukupnya saja.

”RA Kartini adalah tokoh yang sangat menginspirasi. Dengan semangat Kartini, perempuan itu harus berani bermimpi untuk melakukan apapun. Karena tidak ada yang mudah untuk mencapai sesuatu yang kita dicita-citakan. Tetapi dengan bekerja keras, ditekuni, pasti apa yang diinginkan akan tercapai,” ujarnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 22 Apr 2019 08:48:32 +0700
<![CDATA[Bermula Prihatin Tingginya Angka Laka Lantas Siswa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/20/132754/bermula-prihatin-tingginya-angka-laka-lantas-siswa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/20/bermula-prihatin-tingginya-angka-laka-lantas-siswa_m_132754.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/20/bermula-prihatin-tingginya-angka-laka-lantas-siswa_m_132754.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/20/132754/bermula-prihatin-tingginya-angka-laka-lantas-siswa

Tiga siswa SMK Raden Umar Said Kudus menciptakan aplikasi Drive School. Sebuah aplikasi antar jemput pelajar secara online. Mereka menyabet juara II Dinakon.]]>

Tiga siswa SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus menciptakan aplikasi Drive School. Sebuah aplikasi antar jemput pelajar secara online. Mereka Fahra Khalisa kelas X RPL 1, Ryandhika Bintang Abiyyi kelas X RPL 2, dan Fikr Lazuardi kelas XI RPL 2. Karya mereka ini, berhasil menyabet juara II pada kompetisi nasional Dinus Application Competition (Dinakon) 2019.

DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

SIAPA sangka keprihatinan tiga siswa SMK Raden Umar Said (RUS) Kudus jurusan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) ternyata mengantarkan meraih prestasi membanggakan. Ketiga pelajar ini, Fahra Khalisa kelas X RPL 1, Ryandhika Bintang Abiyyi kelas X RPL 2, dan Fikr Lazuardi kelas XI RPL 2.

Mereka awalnya prihatin terhadap tingginya angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di kalangan pelajar. Terutama di tingkat SMA sederajat. Memiliki kegelisahan yang sama, akhirnya ketiga siswa ini pun berdiskusi. Kemudian sepakat untuk bisa mencari solusi atas permasalahan ini.

Mereka pun membuat aplikasi yang diberi nama Driver School. Aplikasi yang bisa digunakan untuk pemesanan jasa antar jemput pelajar. ”Ini memang khusus pelajar,” kata Fahra Khalisa.

Tak hanya permasalahan tingginya angka kecelakaan yang menjadi faktor latar belakang terciptanya aplikasi ini. Banyaknya orang tua yang tak bisa mengantar dan menjemput anaknya sekolah, juga menjadi faktor lainnya.

Meskipun sebelum aplikasi Driver School diciptakan sudah ada aplikasi ojek online, namun mereka masih merasa tetap butuh menciptakan aplikasi yang dikhususkan untuk pelajar. Ia menjelaskan, aplikasi ini memiliki keunggulan lebih dibanding aplikasi ojek online yang sudah lebih dulu booming. ”Orang tua bisa memastikan anaknya benar-benar sudah sampai sekolah apa belum,” ujarnya.

Dalam aplikasi yang sebentar lagi akan dipatenkan sebagai karya milik SMK RUS ini, memiliki fitur picture tall parent. Fitur inilah yang nanti digunakan si driver untuk melaporkan bahwa anaknya benar-benar sudah sampai sekolah.

”Secara teknis penggunaannya cukup mudah. Di aplikasi ini hanya ada dua pilihan, yakni digunakan sebagai driver atau user,” jelasnya.

User yang dimaksudkan adalah orang tua. Sedangkan driver adalah sopir. Seperti aplikasi ojek online, ketika user memesan, nanti driver bisa menerima ataupun menolak pesanan.

Ia mengatakan, secara teknik apliksi tersebut sangat mudah digunakan. Di aplikasi ini ada dua pilihan. Yakni sebagai user dan driver. Orang tua akan memesan ke driver, kemudian driver bisa mengiyakan atau menolak.

”Selain memastikan anak sampai sekolah, siswa yang memanfaatkan aplikasi ini juga dijamin tidak terlambat sampai di sekolah. Sebab, bisa diatur jam jemputnya,” kata perempuan berjilbab ini.

Dia menerangkan, proses pembuatan aplikasi ini memerlukan waktu yang cukup panjang. Butuh sekitar 2-3 bulan untuk menyelesaikan. Hingga akhirnya dapat tampil menjadi salah satu finalis dalam ajang Dinus Application Competition (Dinakon) 2019. Tak hanya menjadi penggembira, namun memperoleh juara II.

”Tak ada kesulitan yang berarti selama proses pembuatannya. Semangat dan tekad yang tinggi bisa untuk mengalahkan segala kesulitan yang ada. Keinginan kami mengikuti lomba juga murni karena keinginan sendiri,” ungkapnya.

Guru pembimbing Aji Suryawan mengatakan, ide awal dan konsep aplikasi ini memang berawal dari inisiatif siswa sendiri. Melihat potensi dan ide cemerlang yang dimiliki siswa, pihak sekolah pun memfasilitasi. Mulai dari sarana prasarana hingga pendampingan.

”Tak ada biaya dalam proses penciptaan aplikasi ini. Di sekolah ini, alhamdulillah semua fasilitas sudah lengkap. Jadi bisa menunjang siswa untuk mengembangkan diri,” katanya.

Meski aplikasi ini sudah siap untuk digunakan, namun pihak sekolah belum meluncurkan untuk publik. Saat ini pihak sekolah masih mengurus izin HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Setelah itu selesai, baru akan diluncurkan di Play Store.

”Kami patenkan dulu, baru dikomersialkan. Kami akan terbuka kepada siapa saja yang berminat untuk menanamkan modal untuk aplikasi ini,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 20 Apr 2019 08:56:25 +0700
<![CDATA[Kali Pertama Ikut, Seleksi dari 151 Peserta]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/19/132643/kali-pertama-ikut-seleksi-dari-151-peserta https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/19/kali-pertama-ikut-seleksi-dari-151-peserta_m_132643.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/19/kali-pertama-ikut-seleksi-dari-151-peserta_m_132643.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/19/132643/kali-pertama-ikut-seleksi-dari-151-peserta

Mahasiswa asal Indonesia yang menimba ilmu di Cairo, Mesir, menjadi petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPS LN).]]>

Mahasiswa asal Indonesia yang menimba ilmu di Cairo, Mesir, menjadi petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPS LN). Ini merupakan pengalaman kali pertamanya. Demi tanah air tercinta, dia ikut mengawal pemilu di negeri orang.

 INDAH SUSANTI, Kudus

 JARAK ruang dan waktu antara Indonesia dengan Cairo, Mesir, tak menghalangi komunikasi lewat chattingan Whasapp dengan salah satu mahasiswa asal Indonesia yang lagu menimba ilmu di Cairo, Mesir, Mahfud Washim. Dia menyempatkan berbagi pengalaman dan cerita saat menjadi petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPS LN).

Saat berkomunikasi waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi waktu Cairo dan di Indonesia menunjukkan pukul 11.00. Mahfud -panggilan akrabnya- saat itu sedang menuju perjalanan ke Keduataan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mengikuti perhitungan suara.

”Pencoblosan di sini (Cairo, Red) sudah berlangsung Sabtu (13/4) lalu. Sekarang (kemarin, Red) serentak pemilihan umum (pemilu) yang berada di luar negeri perhitungan. Dimulai pukul 09.00 waktu Cairo,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, di tempat pemungutan suara yang ia bertugas, ada 495 daftar pemilih tetap (DPT). Tetapi yang datang ke TPS berjumlah 412 pemilih. Kemudian, ada tiga daftar pemilih tambahan (DPTB) dan ada lima daftar pemilih khusus (DPK).

Mahfud sendiri mengeyam pendidikan di Cairo sejak 2012. Mulai lulus dari MAN 2 Kudus. Kemudian mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi di Universitas Al Azhar. Saat ini ia tercatat menjadi mahasiswa S2 jurusan Tafsir Wa Ulumul Quran.

Waktu pemilu lima tahun lalu, tepatnya 2014 Mahdfud belum tertarik ikut seleski KPPS LN. Namun untuk tahun ini, tiba-tiba ingin menjadi petugas KPPS untuk ikut merasakan pesta demokrasi Indonesia.

”Ya lima tahun lalu saya juga nyoblos. Tapi tidak mendalam seperti menjadi petugas KPPS. Ternyata warga Indonesia yang tingal di negeri orang juga antusias memilih presiden demi kelangsungan rakyat Indonesia,” tandasnya.

Dia bercerita, ditetapkan sebagai KPPS LN per Maret dan sudah mulai bekerja mengurusi segala macam keperluan pemilu. Termasuk surat suara yang sudah dikirim ke KBRI Cairo.

Untuk pemilihan di luar negeri hanya memilih presiden dan calon legislatif (caleg) DPR RI. Mahfud pada saat pencoblosan mulai bekerja dari pukul 08.00 sampai pukul 18.00. Kemudian ada perpanjangan waktu satu jam dan berakhir sampai pukul 19.00 waktu Cairo.

Mahfud terkesan kali pertama menjadi KPPS LN. Sebab, melayani orang dengan berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, tenaga kerja Indonesia (TKI), maupun local staf KBRI Cairo.

”Menjadi KPPS LN ada seleksi. Tapi cuma administrasi. Mulai dari ada 151 orang, lalu diseleksi menjadi 130 orang. Lalu yang dipilih 81 orang. Alhammdulillah saya lolos,” terangnya.

Mahfud menambahkan, 81 orang itu KPPS LN bertugas di 15 TPS, kotak suara keliling (KSK), dan pos. ”Khusus KSK beredar di Kota Alexandria, Port Said, Manufia, Mansoura dan Ismailia,” ujarnya.

Dia menambahkan, untuk gaji menjadi KPPS LN lumayan besar dan bisa digunakan biaya kuliah dan sebagainya. Tapi, bukan itu yang menjadi tujuan utama, tetapi mengabdi pada Indonesia.

Mahfud merupakan warga dari RT 9/RW 1, Desa Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus. Laki-laki kelahiran 1994 ini, pulang ke Indonesia pada saat Puasa dan Lebaran tahun lalu. Dia memang berkeinginan bisa melanjutkan studinya di Cairo. Orang tuanya pun sangat mendukung.

”Perjuangan seleksi masuk Univeristas Al Azhar sangat berat. Persaingan sangat ketat dengan ribuan orang. Saat ini saya tinggal di Building 7/5, Thoha Dinary Street, District 7th, Nasr City, Cairo,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 19 Apr 2019 08:37:18 +0700
<![CDATA[Gelar Sebulan Siang-Malam, Tetap Tampil meski Sepi atau Hujan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/17/132311/gelar-sebulan-siang-malam-tetap-tampil-meski-sepi-atau-hujan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/17/gelar-sebulan-siang-malam-tetap-tampil-meski-sepi-atau-hujan_m_132311.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/17/gelar-sebulan-siang-malam-tetap-tampil-meski-sepi-atau-hujan_m_132311.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/17/132311/gelar-sebulan-siang-malam-tetap-tampil-meski-sepi-atau-hujan

Perayaan ulang tahun Kongco Hian Thian Siang Tee dimeriahkan pertunjukan wayang potehi selama sebulan penuh. Grup wayang ini bernama Lima Merpati.]]>

Perayaan ulang tahun Kongco Hian Thian Siang Tee dimeriahkan pertunjukan wayang potehi selama sebulan penuh. Grup wayang yang kental dengan budaya Tiongkok ini, dihadirkan dari Surabaya bernama Lima Merpati. Mereka tetap main siang-malam. Meskipun sepi atau ramai. Hujan atau terang.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Jepara

LIMA merpati sudah mempersiapkan diri di panggung wayang potehi yang berukuran sekitar empat kali tiga meter itu. Selamet, Pardi, Budi, dan Wanto sudah berada di posisi masing-masing. Selamet sudah duduk di belakang siap dengan alat musik sio pwa dan sio loonya. Sementara Budi dan Wanto duduk mempersiapkan wayang-wayang potehinya. Tokoh-tokoh yang hendak diperankan duah menyarungi tangan mereka.

Pardi, dalang sedang membacakan tema cerita yang akan dilakukan. Meskipun katanya saat itu sedang kurang sehat, suaranya masih jelas terdengar. Wayang potehi memang berbeda dengan wayang Jawa. Jika wayang Jawa hanya digerakkan satu dalang, wayang potehi lebih dari dua dalang. Budi dan Wanto hanya bertugas sebagai dalang. Tetapi mereka tidak berbicara. Yang bertugas membacakan cerita adalah Pardi.

Sementara Selamet fokus memainkan musik. Sebetulnya masih ada satu personel. Ian namanya, tetapi saat itu ia sedang pulang kampung ke Surabaya. Selamet mulai memainkan sio pwa, alat musik seperti simbal drum kecil dan sio loo, alat musik pukul bundar jika dimainkan bunyinya seperti lonceng sekolah. Pardi mulai masuk di cerita, Budi dan Wanto memainkan wayangnya.

”Kami main di sini (klenteng Hok Tek Bio, Welahan, Red) setiap tahun. Kami juga pernah main di luar Jawa. Di Prancis juga pernah,” kata Selamet di sela-sela tugasnya sebagai pengiring musik.

Meskipun digelar dengan apik, penonton di sekitar kelenteng tergolong sepi. Hanya ada beberpa warga. Tetapi mereka tetap bermain. Bahkan, tanpa penonton sekalipun.

”Tujuannya ini ditanggap kan untuk dewanya. Ada yang nonton atau gak ada yang nonton tetap main. Kalau dulu sebelum ada televisi ya penuh (penonton, Red),” kata personel grub asal Surabaya ini. Teng... teng... teng... bunyi sio loo-nya di tengah perbincangan dengan Jawa Pos Radar Kudus. Sepertinya Selamet sudah hafal kapan saja ia harus memainkan senjatanya itu.

Kini alunan musik lebih melow. Dawai erl hu dan toa loo yang dimainkan Selamet dan Pardi cukup menyayat. Wajar saja, kedua alat musik gesek itu bersuara mirip biola. Budi dan Wanto masih memainkan wayang mereka.

”Wayang potehi ini biasanya dimainkan saat ulang tahun kelenteng, cap go meh, dan imlek,” imbuhnya seusai memainkan nada yang sendu tadi. Selamet mengatakan, sehari main, ia dan timnya mendapatkan honor sekitar Rp. 800 ribu. Hasil itu dibagi dengan persentase yang berbeda. Termasuk honor untuk promotornya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Mereka harus turun panggung. Sesi pertama sudah sukses ditampilkan. Kini, mereka harus kembali beristirahat menyimpan tenaga untuk tampil waktu malam. Sekitar pukul 19.30. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 17 Apr 2019 06:28:08 +0700
<![CDATA[Wujudkan Mimpi Warga Tak Mampu, Jadi Program Rutin Tiap Tahun]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/16/132138/wujudkan-mimpi-warga-tak-mampu-jadi-program-rutin-tiap-tahun https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/16/wujudkan-mimpi-warga-tak-mampu-jadi-program-rutin-tiap-tahun_m_132138.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/16/wujudkan-mimpi-warga-tak-mampu-jadi-program-rutin-tiap-tahun_m_132138.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/16/132138/wujudkan-mimpi-warga-tak-mampu-jadi-program-rutin-tiap-tahun

Bantuan progam bedah rumah tidak layak huni (RTLH) PT Semen Gresik mewujudkan cita-citanya nelayan kurang mampu untuk memiliki rumah layak huni.]]>

Bantuan progam bedah rumah tidak layak huni (RTLH) PT Semen Gresik mewujudkan cita-citanya nelayan kurang mampu untuk memiliki rumah layak huni. Program serupa akan terus digenjot rutin tiap tahun, guna menyukseskan program pemerintah untuk menekan angka kemiskinan di Kota Garam.

ALI MAHMUDI, Rembang

 KESEHARIAN yang dijalani empat keluarga nelayan Desa Sarang Meduro, Kecamatan Sarang, Rembang memang cukup memprihatinkan. Mereka keluarga Muhammad Nur Soleh-Siti Asmara; Mukminin-Sarmini; Bahrul Ulum-Siti Mahfudzah; dan Marzuki sebagai penerima progam bedah rumah PT Semen Gresik.

Apalagi, saat cuaca buruk, mereka tak bisa melaut hingga berbulan-bulan. Tak jarang, mereka harus menjual barang-barang berharga yang mereka miliki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Kondisi ini diungkapkan Siti Mahfudzah saat ditemui baru-baru ini. Siti pun sangat bersyukur dan mengapresiasi upaya Semen Gresik yang telah membangun rumahnya. Baginya, membangun rumah adalah cita-citanya yang belum bisa direalisasikan sejak awal menikah beberapa tahun lalu. Ia bahkan hendak mengubur impian ini. Sebab, kehidupan keluarganya sangat pas-pasan.

Penghasilan yang diperoleh suaminya Bahrul Ulum dari hasil miyang (melaut) habis untuk menutupi kebutuhan harian. Terkadang malah kurang, sehingga harus ditutup dengan pinjaman. Bahkan, pernah juga terpaksa menjual barang berharga yang ada di rumahnya, agar dapur tetap mengebul.

Dalam sebulan, Bahrul Ulum pergi melaut selama dua kali. Sekali berangkat, waktunya berkisar antara sembilan sampai 10 hari, karena lokasinya bisa hingga luar Pulau Jawa. Bahrul Ulum membawa uang saku Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu untuk membeli berbagai kebutuhan selama berhari-hari di laut. Namun, saat pulang hasil yang diperoleh tak menentu. Jika mujur bisa meraup hingga Rp 750 ribu hingga Rp1 juta. Namun jika tangkapan sepi, hanya diberi Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu oleh juragan pemilik kapal.

”Hasil dari miyang hanya cukup untuk makan. Bagaimana mau membangun rumah kalau penghasilan seperti itu. Makanya saya sangat berterima kasih kepada Semen Gresik,” kata Siti Mahfudzah.

Kondisi serupa juga dialami Sarmini. Upah yang diperoleh dari juragan pemilik kapal tempat suaminya, Mukminin bekerja tak menentu. Untung saja, selama miyang Mukminin masih mau mencari penghasilan tambahan. Caranya, saat kapal lego jangkar, suaminya mencari ikan sendiri dengan memancing secara manual. Ikan hasil pancingan itu yang digunakan untuk menambal kebutuhan keluarganya.

”Ini pun hasilnya juga sama tak menentu. Kalau beruntung ikan pancingan sendiri itu bisa dijual hingga ratusan ribu rupiah,” ucapnya.

Agar perekonomian keluarga tetap stabil, Siti Asmara mengaku terpaksa bekerja serabutan. Mulai dari menjadi pembantu rumah tangga hingga jualan minuman kemasan. Meski tak seberapa, namun hasil dari kerja serabutan itu cukup bisa menopang kebutuhan hidup keluarganya.

”Mau bagaimana lagi, penghasilan suami (Muhammad Nur Soleh, Red) memang pas-pasan. Untung saja ada progam sekolah gratis pemerintah jadi anak-anak masih bisa sekolah,” terangnya.

Potret kemiskinan di Kota Garam bisa dilihat di buku Rancangan Akhir Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Rembang tahun 2016-2021. Jika dibanding daerah lain di Jawa Tengah, indeks kedalaman kemiskinan Kabupaten Rembang menempati urutan ke-4 dari bawah setelah Brebes, Wonosobo, dan Pemalang.

Meskipun begitu, tingkat kemiskinan di Kabupaten Rembang selama kurun waktu 2013-2018 menunjukkan tren menurun. Pada 2013, jumlah penduduk miskin Kabupaten Rembang sebanyak 128.000 jiwa (20,97 persen). Namun tahun lalu, angkanya turun menjadi 97.440 jiwa (15,41 persen).

Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik Kuswandi mengatakan, jajarannya berkomitmen membantu progam penurunan kemiskinan kawasan sekitar perusahaan. Salah satu upaya yang dilakukan melalui progam pembangunan RTLH bagi warga kurang mampu. Sejak 2016 hingga 2018 sudah ada 43 RTLH yang dibangun.

Tahun ini, ada 16 RTLH yang dijadwalkan dibangun lagi dengan dana corporate social responsibility (CSR) PT Semen Gresik. Rinciannya, empat unit diperuntukkan khusus bagi warga Desa Sarang Meduro, Kecamatan Sarang, Rembang. Dan 12 unit jatah warga enam desa sekitar perusahaan. Ada yang masuk wilayah Blora, namun mayoritas kawasan Kabupaten Rembang.

Rata-rata, anggaran yang digelontorkan untuk pembangunan tiap unit RTLH sekitar Rp 47 juta. Namun, ada juga yang anggarannya mencapai Rp 59 juta. Praktis jika ditotal anggaran yang dikucurkan untuk pembangunan puluhan RTLH tersebut mencapai miliaran rupiah.

”Ini salah satu bentuk nyata komitmen membantu warga kurang mampu. Selain progam RTLH kita juga beberapa kegiatan lain yang muaranya juga sejalan dengan progam pemerintah untuk menekan angka kemiskinan,” jelas Kuswandi.

Dia menambahkan, seiring rampungnya proses pembangunan empat unit RTLH di Desa Sarang Meduro, Kecamatan Sarang, maka akan segera dilakukan serah terima kepada warga penerima bantuan. Rencananya, proses serah terima itu akan digelar akhir April ini. Wakil Gubernur (Wagub) Gubernur Jateng Taj Yasin, Bupati Rembang H Abdul Hafidz dan jajarannya, serta Direksi PT Semen Gresik dijadwalkan hadir dalam acara serah terima.

”Progam pembangunan RTLH akan kita garap tiap tahun. Semoga lebih banyak lagi warga kurang mampu yang terbantu dengan progam ini,” harap Kuswandi. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 16 Apr 2019 13:41:59 +0700
<![CDATA[Satu Keluarga Bisa Peroleh Rp 250 Ribu]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/15/131929/satu-keluarga-bisa-peroleh-rp-250-ribu https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/15/satu-keluarga-bisa-peroleh-rp-250-ribu_m_131929.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/15/satu-keluarga-bisa-peroleh-rp-250-ribu_m_131929.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/15/131929/satu-keluarga-bisa-peroleh-rp-250-ribu

Masa tenang mulai kemarin hingga hari pencoblosan ternyata muncul serangan fajar atau money politics. Itu terjadi di seluruh Karesidenan Pati.]]>

Masa tenang mulai kemarin hingga hari pencoblosan ternyata muncul serangan fajar atau money politics. Itu terjadi di seluruh Karesidenan Pati (Jepara, Kudus, Pati, Rembang, dan Blora) dan Kabupaten Grobogan. Mulai dari caleg DPRD kabupaten, provinsi, dan RI. Nominal berbeda dari Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu. Sementara serangan fajar dari sabet (pembagi uang, Red) capres belum ditemukan.

Tiga hari jelang pelaksanaan pemungutan suara Pemilu serentak 2019 aksi bagi-bagi uang mulai dilakukan kemarin. Di beberapa desa ada yang mendapatkan amplop dari beberapa calon sekaligus. Beberapa wawancara dari warga yang ditemui, satu warga dapat tiga amplop berbeda. Dua amplop dari caleg DPRD kabupaten dan satu caleg DPR RI.

Salah satunya di Desa Teluk Wetan, Welahan, Jepara. Dalam satu keluarga mereka mendapatkan amplop dari beberapa calon legislatif tingkat kabupaten. Ada pula yang mendapatkan amplop dari calon legislatif DPR RI.

Salah satu warga Desa Teluk Wetan tak mau disebut namanya mengatakan, dalam satu keluarga mereka mendapatkan amplop dari tiga sumber berbeda. "Dua dari caleg DPRD kabupaten dan satu dari caleg DPR RI," katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Dia melanjutkan, di lingkungannya rata-rata ada tiga caleg DPRD kabupaten yang sudah menyebarkan amplop. Nilainya berkisar antara Rp 30 hingga Rp 50 ribu. "Ada yang Rp 30 ribu, ada juga yang Rp 50 ribu," terangnya.

Sementara untuk caleg DPR RI jumlahnya lebih sedikit. Sampai kemarin, hanya ada satu amplop dari caleg DPR RI yang diterimanya. Itupun nilainya lebih kecil dibandingkan dengan dengan caleg-caleg DPRD kabupaten. "Yang caleg DPR RI ada satu. Uang yang dibagikan Rp 25 ribu per orang," tuturnya.

Untuk pembagiannya sendiri, langsung dilakukan ke rumah-rumah. "Mulai Sabtu hingga Minggu (13-14/4). Setiap keluarga diberi sejumlah orang yang berhak mencoblos. Dibagi amplop dan contoh surat suara yang berisikan nama caleg yang bagi-bagi uang itu," ungkapnya.

Tak hanya di Teluk Wetan, aksi bagi-bagi amplop jelang pencoblosan juga dilakukan di Desa/Kecamatan Mayong. Di Desa tersebut, beberapa warganya telah menerima amplop dari salah satu caleg DPRD kabupaten. Nilainya cukup banyak yakni Rp 50 ribu per orangnya.

Salah satu warga Desa Mayong yang mendapatkan amplop tersebut mengatakan, di keluarganya ada lima orang yang sudah memiliki hak suara. "Masing-masing dapat Rp 50 ribu. Jadi satu keluarga total Rp 250 ribu," katanya.

Untuk pembagiannya sendiri, dia mengatakan, dilakukan kemarin. "Tiba-tiba ada orang yang kasih amplop ke rumah," jelasnya.

Untuk amplop yang diterimanya, dia menjelaskan, hanya berisi uang. "Tidak ada surat suaranya. Cuma uang Rp 50 ribu itu. Tapi yang membagikan berpesan nanti kami diminta memilih caleg yang titip yang tersebut," imbuhnya.

Hal sama juga terjadi di Kabupaten Grobogan. Di kabupaten itu mulai ada serangan fajar atau penyebaran amplop berisi uang kepada pemilih. Nilainya bervariasi. Tergantung dari daerah dan caleg yang membagikan.

Sanudin warga Kecamatan Purwodadi mengaku sudah mendapatkan serangan fajar Rp 50 ribu. Dia bersama istri dan anaknya telah didata dari tim sukses untuk memilih salah satu caleg.

”Dulu dijanjikan tiga hari sebelum nyoblos dapat Rp 50 ribu. Hari ini (kemarin Red) sudah dibagikan,” kata dia.

Menurutnya uang amplop sebagai uang panjer atau pengikat. Sebab, banyak caleg dari tim sukses ingin mengajak dengan memberikan amplop yang telah diberikan. Di mana dirinya juga mendata dari keluarga dan tetangga yang dapat.

”Semua sudah terdata. Jadi kalau yang tidak terdata tidak dapat. Ini kan pesta demokrasi sah sah saja menerima,” ujar dia.

Hal sama juga diungkapkan Rini. Ibu rumah tangga ini mendapatkan uang amplop dari suaminya yang telah didata oleh salah satu tim sukses. Meski demikian, dirinya senang karena dapat uang  untuk dibelikan jajan belanja.

”Lumayan dapat Rp 50 ribu. Bisa buat belanja. Ini baru calon DPRD kabupaten. Calon dari DPR RI dan calon presiden belum dapat,” ujarnya.

Terpisah, salah satu tim sukses yang tidak mau disebutkan namanya. Mengaku dirinya hanya bertugas untuk mendata dan menyerahkan hasil dari pembagian amplop di daerah. Hal itu, karena sudah ada kesepakatan antara caleg dengan warga setempat.

”Dari caleg bilang kalau daerah kota amplopnya Rp 50 ribu karena banyak yang kasih. Kalau didesa rata-rata ada Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu. Nanti jelang pencoblosan atau hari ada lagi,” tandasnya.

Di Kabupaten Rembang ditemukan satu caleg terlacak melakukan dugaan politik uang. Dia dari caleg DPRD Rembang untuk dapil Pancur-Lasem. Isi amplop dari caleg DPRD kabupaten itu sebesar Rp 50 ribu. Dalam amplop juga tertera gambar petunjuk mencoblos caleg nomor urut di surat suara dalam bentuk kartu saku. 

Ketua Bawaslu Rembang Totok Suparyanto menyebut hingga kemarin belum menemukan adanya politik uang. Untuk penindakannya, pihaknya menyatakan harus ada petunjuk awal yang jelas.

”Menindak itu ya manakala petunjuk awalnya jelas. Tidak bisa kami berspekulasi, orang bawa amplop tahu-tahu kita permasalahkan,” paparnya.

Di Kabupaten Kudus Jawa Pos Radar Kudus menelusuri serangan fajar. Salah seorang berinisal RZ warga Desa Mlati Lor, Kudus, menerima sejumlah uang sebesar Rp 20 ribu. Uang tersebut diberikan oleh salah seorang tim sukses caleg DPR RI.

RZ mengungkapkan uang tersebut diberikan Sabtu (13/04) malam. Tim sukses caleg tersebut mengantarkan langsung ke rumah RZ. Sebelumnya RZ mengungkapkan, tim sukses sudah mengantongi data pemilih di desa tersebut.

“Tim sukses datang langsung ke rumah saya. Dia meminta saya memilih caleg tersebut. Yang dibagikan hanya uang saja tanpa stiker,” ungkapnya.

Namun berbeda yang dialami oleh DS warga Desa Bakalan Krapyak, Kaliwungu, Kudus. Dia tak menerima amplop dari calon manapun. Entah itu dari DPRD hingga Capres. “Saya tak menerima apapun sampai saat ini. Biasanya menjelang hari H pencoblosan ada,” katanya.

Hal serupa diungkap oleh CW warga Desa Barongan, Kudus. Serta NL warga Desa Jati Kulon, Jati, Kudus, mereka berdua mengungkapkan tak menerima sepersenpun uang dari caleg maupun Presiden.

Di Kabupaten Blora sudah ada yang nyebar serangan fajar. Besarannya bervariasi. Ada yang Rp 30 ribu ada yang sampai Rp 70 ribu. Selain uang, kabarnya ada juga yang nyebar sembako. Beras misalnya.

Salah satu calon legislatif yang tak mau disebutkan namanya mengaku pembagian amplop merupakan rahasia masing-masing calon. “Rahasia to yow. Iki yow pokoe santai aku mas, ndak kemrumsung (gelisah),” jelasnya.

Sementara itu, warga lainnya di Kabupaten Blora mengaku sudah mendapat amplop dari salah satu calon. Namun dia enggan menyebutkan dari mana dan besarannya. “Ngapuntene mboten saget nyebar ngoteniku (mohon maaf, tidak bisa menyebarkan info (pemberian uang, Red). Rahasia. Mejaga amanah lebih berharga dari harga diri kulo om,” terangnya. (gal)

]]>
Ali Mustofa Mon, 15 Apr 2019 11:18:21 +0700
<![CDATA[Sudah Tak BAB di Laut, Tidur Bebas dari Genangan Air]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/15/131921/sudah-tak-bab-di-laut-tidur-bebas-dari-genangan-air https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/15/sudah-tak-bab-di-laut-tidur-bebas-dari-genangan-air_m_131921.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/15/sudah-tak-bab-di-laut-tidur-bebas-dari-genangan-air_m_131921.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/15/131921/sudah-tak-bab-di-laut-tidur-bebas-dari-genangan-air

Kontribusi nyata PT Semen Gresik pada program bedah rumah tak layak huni (RTLH) tak berhenti untuk warga ring satu. Kini program serupa juga dirasakan nelayan.]]>

Kontribusi nyata PT Semen Gresik pada program bedah rumah tak layak huni (RTLH) tak berhenti untuk warga ring satu. Kini program serupa juga dirasakan sejumlah nelayan tak mampu di Desa Sarang Meduro, Kecamatan Sarang, Rembang. Bantuan tersebut membuat nelayan lebih tenang saat melaut, lantaran rumah mereka sudah layak huni.   

ALI MAHMUDI, Rembang

SENYUM mengembang terlihat di wajah pasangan suami istri (pasutri) Muhammad Nur Soleh- Siti Asmara. Sebab sebentar lagi mereka sudah bisa kembali menempati rumahnya yang hanya berjarak sekitar 30 meter dari bibir pantai kawasan Desa Sarang Meduro, Kecamatan Sarang. Dan yang menggembirakan keluarga ini adalah kini rumahnya terlihat lebih mentereng, kokoh, sehat dan layak huni.

KUAT: Rumah warga Rembang yang dibantu pembangunannya dari PT. Semen Gresik (DOK. RADAR KUDUS)

Kebahagiaan serupa juga dirasakan tiga keluarga yang tinggal di kawasan RT 2, RW 1, Desa Sarang Meduro. Yakni pasutri Mukminin - Sarmini;  Bahrul Ulum – Siti Mahfudzah dan Marzuki, seorang duda tua yang baru saja ditinggal mati istrinya. Marzuki hidup di rumah tak layak huni bersama anaknya yang bernama Eliana.

Keempat keluarga yang rumahnya berdekatan ini merupakan penerima bantuan progam pembangunan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) PT Semen Gresik. Proses pembangunan memakan waktu sebulan, mulai dari 15 Maret hingga pertengahan April ini.

“Alhamdulillah. Rumah saya yang sebelumnya dari kayu glugu dan berdinding bambu kini sudah jadi bagus. Terima kasih Semen Gresik,” kata Siti Asmara.

Sebelumnya, lantai rumah empat keluarga ini hanya tanah, namun kini sudah diplester bahkan ada yang dikeramik. Urusan buang air besar (BAB), mereka juga tak perlu lagi ke tepi pantai, karena sudah ada kamar mandi plus toilet di rumah barunya.

Siti Asmara juga mengaku kini tak lagi risau saat hujan mengguyur kawasan tempat tinggalnya. Padahal sebelumnya, air hujan kerap menerobos melalui celah-celah genteng rumah lamanya. Tak hanya itu, genangan air seiring mampetnya selokan juga kerap masuk ke dalam rumah hingga atas mata kaki bahkan lutut orang dewasa. Bagian bawah tumpukan kasur yang dipakai tidur anggota keluarganya juga sering terendam genangan air banjir tersebut.

“Tiap hujan kondisinya seperti itu. Bisa dibayangkan repotnya jika hujannya malam hari dan suami sedang miyang (melaut) selama beberapa hari.Karena berat, kasur di atas lantai tanah beralas tikar itu akhirnya saya biarkan dan tidak saya jemur di luar. Akhirnya lama kelamaan baunya badeg,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dialami keluarga Mukminin-Sarmini;  Bahrul Ulum – Siti Mahfudzah dan Marzuki. Bahkan rumah Marzuki paling memprihatinkan. Posisi rumah lamanya sudah miring dan nyaris roboh. Tetangganya bahkan khawatir jika hujan deras disertai angin kencang, rumah lansia itu benar-benar rata dengan tanah. Padahal di dalam rumah ada anak Marzuki, Eliana yang masih duduk di bangku kelas VII SMP/Sederajat.

“Eliana sering sendirian di rumah karena Pak Marzuki miyang sebulan dua kali. Sekali miyang bisa sampai 10 hari,” ucap adik Marzuki, Musyarofah (50).

Usai dibangun, kondisi rumah empat keluarga ini memang berbeda. Bagian atap dari baja ringan dan dinding dari rumah terbuat dari bata interlock yang merupakan material building produk turunan Semen Indonesia Grup.

Fasilitas di dalam rumah tergolong komplit. Mulai dari kamar tidur, ruang tamu hingga kamar mandi. Selain itu, konsep pembangunan juga mengacu rumah sehat dan layak huni. Ventilasi udara dan pencahayaan diatur sedemikian rupa sehingga penghuninya nyaman tinggal di rumah tersebut.

Bata interlock memiliki sejumlah keunggulan dibanding produk sejenis. Rumah berbahan bata interlock lebih tahan goncangan gempa. Sebab bata ini mirip dengan lego sehingga ada bagian yang saling mengunci dan menguatkan.

Bata interlock juga lebih ekonomis. Sebab pemasangan meminimalisir semen dan pasir. Bata interlock ini juga menghemat waktu pembangunan sebuah bangunan. Biasanya untuk membangun rumah tipe 21, hanya butuh waktu 15–20 hari, mulai dari fondasi hingga benar-benar siap huni.

“Mestinya pembangunan empat rumah warga Sarang ini juga sama. Namun karena ada ritual sedekah laut warga setempat akhirnya pekerja libur beberapa hari. Selain itu, ada juga kendala cuaca,” jelas Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik, Kuswandi.

Anggaran yang dikucurkan PT Semen Gresik untuk pembangunan empat RTLH ini mencapai Rp 211 juta. Luas bangunan yang dibangun menyesuaikan dengan luasan tanah milik masing-masing penerima bantuan. Ada yang luasnya 6,5 meter x 8,8 meter seperti luasan tanah milik Marzuki, namun ada yang 6,5 meter x 6,2 meter menyesuaikan lahan milik pasutri Bahrul Ulum – Siti Mahfudzah.

“Semoga rumah yang kita bangun ini membuat hidup para penerima lebih berkualitas. Mereka bisa tinggal lebih nyaman bersama anggota keluarganya,” tandas Kuswandi. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 15 Apr 2019 10:13:50 +0700
<![CDATA[Ciptakan Aplikasi untuk Bantu Penyandang Disleksia]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/14/131738/ciptakan-aplikasi-untuk-bantu-penyandang-disleksia https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/14/ciptakan-aplikasi-untuk-bantu-penyandang-disleksia_m_1555200004_131738.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/14/ciptakan-aplikasi-untuk-bantu-penyandang-disleksia_m_1555200004_131738.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/14/131738/ciptakan-aplikasi-untuk-bantu-penyandang-disleksia

Dua siswa SMAN 1 Kudus M Najmi Hafiy dan Mufikh Kas Y baru saja pulang dari Hongkong mengikuti lomba teknologi internasional. Mereka terpilih menjadi finalis.]]>

Dua siswa SMAN 1 Kudus M Najmi Hafiy dan Mufikh Kas Y baru saja pulang dari Hongkong mengikuti lomba teknologi internasional. Mereka terpilih menjadi finalis berkat karyanya berupa aplikasi game untuk terapi penyandang disleksia. Game itu diberi nama Dyslexia Game-App (DGA).

 INDAH SUSANTI, Kudus

DUA siswa SMAN 1 Kudus M Najmi Hafiy dan Mufikh Kas Y menunjukkan game sambil menerangkan cara memainkannya. Game tersebut bukan sekadar untuk bermain, tetapi ada manfaat di balik beberapa macam permainannya. Secara keseluruhan dikhususkan untuk terapi penyandang disleksia (mengalami kesulitan membaca, mengalami hambatan mengeja, menulis, dan beberapa aspek bahasa yang lain).

Selain berguna bagi penyandang disleksia, game ini juga mengantarkan dua siswa tersebut mengikuti lomba teknologi internasional di Hongkong baru-baru ini. Pada lomba bertajuk Hongkong New Generation Cultural Association Center ini, mereka berhasil tembus menjadi finalis.

M Najmi Hafiy menjelaskan, game ini dinamakan Dyslesxia Game-APP (DGA). Sebelum lanjut bercerita bisa sampai ke Hongkong, Najmi mengatakan, sebenarnya game ini pernah ikut lomba dan ada empat siswa dalam satu tim.

”Game tersebut sebelumnya ikut lomba Online Science Project Competition (OSPC) pada Sabtu (26/1) lalu. Saat itu, kami mendapat medali emas. Kemudian yang juara melaju ikut lomba di Global Students Innovation Challenge (GSIC) di Australia Senin (26/8) hingga Kamis (29/8) mendatang. Yang berangkat kami berempat,” terangnya. Dua teman lainnya, Diki Fakhiral dan Dimas Naufal.

Sementara untuk lomba Teknologi Hongkong New Generation Cultural Association Center, dia menceritakan, awalnya dari mengirimkan proposal penelitian. Mereka mengajukan DGA yang sudah melalui beberapa penyempurnaan.

”Tapi even yang di Hongkong satu tim hanya untuk dua siswa. Kami berangkat Selasa (26/3) hingga Selasa (2/4) lalu. Untuk lomba kali ini, kami disediakan stan dan presentasi di hadapan dewan juri. Di lomba ini tidak ada juaranya. Semua peserta lomba dapat trofi,” jelasnya.

Najmi mengatakan, pengiriman proposal bersaing dengan 5.000 peserta dari 400 sekolah di dunia. Kemudian diseleksi menjadi 20 negara. Tahap akhir diambil 10 negara. Indonesia yang menjadi perwakilan dari Kudus. Masuk untuk mengikuti lomba teknologi di Hongkong.

Sementara itu, Mufikh menambahi penjelasan dari Najmi yang menerangkan. Nantinya di Agustus yang akan diikutkan lomba menggunakan aplikasi yang sama, tapi lebih disempurnakan lagi dari sebelum-sebelumnya.

Mufikh menjelaskan, cara memainkan aplikasi game untuk penyandang disleksia tersebut. Di antaranya ada tiga yang dimasukkan didalam permainan yakni membedakan huruf, menentukan posisi, dan sulit membedakan benda.

Di dalam game tersebut, sembari ditunjukkan permainannya. Ada tiga bagian, yang pertama Ball-Ball at Corner (BBC) cara bermain memasukkan bola di dalam lubang, ini fungsinya untuk menentukan posisi.

Kemudian, Lettering Alphabet Pattern for Dsulexian (LAPPD) yakni berupa gambar dan tulisan. Mufikh menjelaskan, penyandang disleksia ini tahu jenis bendanya, tapi kalau diaplikasikan ke tulisan mereka kesulitan.

Selanjutnya Raise Your Hand. Yakni membedakan kanan dan kiri, di dalam game ada gambar memerintahkan mengangkat tangan kiri, maka yang memainkan mengikuti perintah mengangkat tangan kiri atau kanan. Kalau benar lanjut ke permainan berikutnya. Kalau salah harus mengulang.

”Kami menciptakan game DGA karena merasa terketuk hati untuk membantu terapi penyandang disleksia dengan cara yang sederhana, menarik, dan ringan. Kami menciptakan alat tersebut sebelumnya dengan melakukan survei selama empat bulan di sekolah khusus disleksia di Desa Krandon, Kota, Kudus,” ungkapnya.

Dia menambahkan, mengumpulkan data dan berkonsultasi dengan pakar disleksia yang ada disekolah tersebut. Melalui uji coba sekitar 10 kali baru akhirnya menjadi aplikasi yang bermanfaat. Selain itu, mengantarkan timnya mendapatkan medali emas dan undangan lomba teknologi di Hongkong. (*)

]]>
Ali Mustofa Sun, 14 Apr 2019 00:04:37 +0700
<![CDATA[Pakai Jurus Bantu Warga hingga Bagikan Buku Antihoax]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/13/131557/pakai-jurus-bantu-warga-hingga-bagikan-buku-antihoax https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/13/pakai-jurus-bantu-warga-hingga-bagikan-buku-antihoax_m_131557.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/13/pakai-jurus-bantu-warga-hingga-bagikan-buku-antihoax_m_131557.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/13/131557/pakai-jurus-bantu-warga-hingga-bagikan-buku-antihoax

Dunia politik saat ini dipenuhi dengan orang-orang dari kalangan entertainment dan atlet. Beberapa daerah pemilihan (dapil), termasuk Jateng 2.]]>

Dunia politik saat ini dipenuhi dengan orang-orang dari kalangan entertainment dan atlet. Beberapa daerah pemilihan (dapil), termasuk Jateng 2 (Kudus, Jepara, Demak) ada dua caleg artis, Tamara Geraldine dan Dina Lorenza Audria serta legenda atlet bulu tangkis Harijanto Arbi.

 

HARIJANTO Arbi menjadi juara dunia bulu tangkis pada 1995. Kemudian meraih gelar pemain bulu tangkis putra terbaik dunia versi Badminton World Federation (BWF). Prestasi lainnya, menjuarai All England 1993 dan 1994, Jepang Terbuka 1993 dan 1995, serta Hongkong Terbuka 1994 dan 1995. Hari- sapaan akrabnya- juga dipercaya untuk memperkuat tim Indonesia yang memenangkan Piala Thomas 1994, 1996, 1998, dan 2000.

Itulah catatan suksesnya di dunia tepok bulu. Usai gantung raket, dia menggeluti usaha peralatan olahraga. Kini, dia mencoba masuk ke ”dunia lain,” dunia politik.

Dia mengatakan, keputusannya untuk berkecimpung ke dunia politik karena ingin memperjuangkan nasib-nasib para atlet yang sudah purna. Sebab, perhatian pemerintah masih kurang kepada mereka. Padahal sudah mengharumkan nama Indonesia sampai tingkat dunia.

”Saya ingin memperjuangkan kesejahteraan atlet dan mantan atlet. Misalnya Ellyas Pical yang dulu dielu-elukan, tetapi sekarang nasibnya kurang beruntung. Banyak Ellyas-Ellyas lain di luar sana yang mengharumkan nama Indonesia, tetapi setelah pensiun tidak sejahtera,” ungkap caleg nomor urut 1 DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapil Jateng 2 ini.

Dia juga bercerita awal niatnya terjun ke dunia politik sempat tidak diizinkan ibunya. Tapi, setelah dia menjelaskan, akhirnya restu orang tua mengalir padanya hingga sekarang selalu mendukung kegiatannya.

”Ibu saya itu takut kalau saya ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Namun, setelah saya jelaskan kalau saya gabung di partai yang platformnya antikorupsi (PSI), akhirnya beliau mengerti,” terangnya.

Dia mengatakan, memilih Dapil Jateng 2 yang di dalamnya ada Kabupaten Kudus, karena tanah kelahirannya dan sudah menyatu di hatinya. Selain Kudus, daerah pemilihannya adalah Jepara dan Demak. Namun, menurutnya yang menjadi lumbung suara sudah pasti di Kudus. ”Semua diharapkan bisa menjadi sumber suara. Karena dua daerah lain juga penting," tegasnya.

Hari melakukan pendekatan ke masyarakat dengan kegiatan-kegiatan bakti sosial dan blusukan ala Presiden Joko Widodo (Jokowi), sehingga mengetahui keadaan langsung masyarakat. Selain ingin berjuang untuk atlet, dia juga akan memperjuangkan masyarakat yang masih membutuhkan bantuan.

”Karena itu banyak kegiatan sosial yang kami laksanakan. Misalnya operasi bibir sumbing, operasi katarak, dan lain-lain. Ternyata semua dibutuhkan masyarakat. Saya senang sekali bisa membantu,” imbuhnya.

Sementara dari sosok entertainment, di antaranya Tamara Geraldine. Dia menjadi caleg DPR RI dari PDI Perjuangan nomor urut 5 Dapil Jateng 2. Sejak memutuskan diri sebagai caleg, dia ingin semakin mendekatkan diri dengan masyarakat.

Tamara dikenal sebagai presenter yang telah memandu banyak acara. Terutama acara olahraga yang memang menjadi kelebihannya. Di antaranya, presenter Italian League, Bundesliga, Champion Cup, Euro Cup, dan World Cup 2004. Dia juga pernah menjadi presenter acara gosip bersama Edwin, Go Show; Game Zone; Ari Wibowo Cari Pembantu; dan Pernik.

Keberhasilannya menjadi presenter dibuktikan dengan diraihnya penghargaan untuk kategori Best Female Sport Presenter untuk Panasonic Award. Tak tanggung-tanggung, hingga lima kali berturut-turut. Pada 2000 hingga 2004.

Selain cuap-cuap, Tamara juga pintar menulis. Bukunya yang sudah terbit, kumpulan 12 cerpen yang berjudul Kamu Sadar dan Saya Punya Alasan untuk Selingkuh Kan Sayang? (2003). Selain itu, bersama fotografer Darwis Triadi, dia membuat buku biografi untuk sahabatnya, Yuni Shara - 35 Cangkir Kopi (2007).

Sementara saat mulai terjun ke dunia politik, sejak September 2018 ia bertekad untuk menemui setidaknya 500 orang setiap harinya. Selain untuk menggalang dukungan suara pada 17 April nanti, juga menyosialisasikan pemilu cerdas.

Dia mengaku, tekadnya ini bukan sekadar keinginan belaka. Bersama tim suksesnya, mantan artis itu setiap hari berkeliling dari desa-desa di dapilnya. ”Kalau target saya harus bertemu minimal 500 orang. Hingga tanggal 7 April sebelum saya kembali ke Jakarta. Saya sudah bisa bertemu dan mencerdaskan 22 ribu masyarakat di Kudus, Jepara, dan Demak,” ujarnya.

Sosialisasi yang dilakukannya ini, bertujuan untuk membuat masyarakat agar bisa melek pemilu. Dalam setiap kehadirannya, ia selalu memberikan penjelasan detail terkait bahaya hoax hingga menyampaikan pesan kepada masyarakat agar tidak golput. Dalam setiap sosialisasinya ia selalu membagikan buku berjudul Tim Anti Hoax Jokowi. Buku saku itu, digunakan untuk menepis kabar hoax tentang Jokowi. Buku ini juga berisi panduan kartu suara.

Tak hanya itu, ia juga berulang kali berpesan kepada masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang tidak bersih alias korupsi. ”Jangan mau pilih pemimpin yang bermain money politics. Ketika tetap memilih orang-orang seperti itu, sama halnya dengan mengizinkan koruptor melenggang di kursi parlemen. Nanti akan merugikan masyarakat sendiri,” katanya.

Tak hanya itu, Tamara juga berusaha membuka mata pemilih agar tak salah menentukan pilihan. Menurutnya, caleg yang layak dipilih merupakan pemimpin yang mau turun menyapa rakyat. Tak hanya saat kampanye, tapi juga ketika sudah menjabat.

Sosialisasi ini dirasa perlu dilakukannya. Tujuannya untuk terjun ke politik, salah satunya untuk membuat masyarakat cerdas menjalankan perannya dalam pemilu April mendatang. ”Setidaknya saya bisa menggagalkan nenek-nenek untuk golput. Saya yakinkan bahwa memilih siapapun tak ada sangkut pautnya dengan halal haram,” jelasnya.

Ketika nanti terpilih sebagai DPR RI, Tamara mengaku akan konsen di bidang kesehatan dan pendididkan. Perjuangannya dengan memberikan penyuluhan tentang narkoba di seluruh Indonesia sudah dilakukan selama tiga tahun terakhir. Hal ini pula yang membuat partai menempatkan Tamara di Kudus yang menjadi kota nomor III dengan pengguna narkoba terbesar di Indonesia. Sedangkan Jepara berstatus gawat narkoba dan Demak yang masih belum memiliki nomor dan berharap tak akan pernah kebagian nomor.

”Suatu saat saya pengen ada rumah besar di tiap kota di Indonesia untuk semua pelajar bersih tanpa narkoba. Pelajar dapat berekspresi dan bereksplorasi. Nanti pemerintah yang fasilitasi sampai ke pelosok negeri. Jika saya tidak mampu membuat Indonesia bersih narkoba, saya perkuat generasinya” tuturnya.

Satu lagi sosok caleg yang membuat ”bening” surat suara pemilihan DPR RI di Dapil Jateng 2, Dina Lorenza Audria. Sebelum masuk ke percaturan politik, perempuan yang kini berkerudung ini, moncer lewat sinetron Gerhana dengen perannya sebagai Bulan, pacar Gerhana (pemeran utama). Selain itu, sinetron lain yang dibintangi di antaranya Buce Li, Kodrat, Putri yang Terbuang, Soleha, dan Tukang Bubur Naik Haji The Series. Dia juga pernah menjadi presenter acara Hot Shot.

Akhir-akhir ini, wajahnya sering nampang di pinggir-pinggir jalan berwujud baner. Ya, dia mencoba peruntungan menjadi caleg nomor urut 1 lewat Partai Demokrat di Dapil Jateng 2. Semangat yang diusung fokus program memperjuangkan perempuan agar memiliki peranan yang tak kalah dengan laki-laki.

Menurut Sekjen DPC Partai Demokrat Kudus Mardijanto, Dina Lorenza terbilang mumpuni sebagai seorang caleg. Nama besar sebagai publik figur juga digadang-gadang menjadi poin lebih. ”Dina Lorenza bisa dikatakan punya potensi, punya nama besar, dan sudah matang,” terangnya.

Disinggung soal program, Dina akan condong ke beberapa program milik Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Di antaranya biaya listrik murah dan harga bahan bakar minyak (BBM) turun.

Sejauh ini sosialisasi terus digencarkan caleg kelahiran Jakarta, 22 Mei 1975 itu. Utamanya di Jepara. Usut punya usut, wilayah Jepara dirasa sebagai lumbung suara paling utama. Sebab, Jepara yang mayoritas masyarakatnya diklaim suka dengan caleg berlatar belakang publik figur.

Sementara Kudus menempati posisi kedua potensi suara. Ditargetkan meraup 30.000 suara. Sebab, Kudus diklaim sudah lebih maju dan kurang begitu tertarik dengan caleg berlatar belakang artis. Sementara di posisi ketiga ada Demak.

Untuk merealisasikan hal itu, DPC Partai Demokrat Kudus bahu-membahu dan berkolaborasi dengan caleg DPRD Jateng dan kabupaten agar Dina Lorenza dapat mengisi slot DPR-RI periode 2018-2024.

Terpisah, Dina Lorenza mengatakan, dirinya selama menjalani sosialisasi memang dilakukan secara go show. ”Agenda biasanya sebatas muter-muter untuk sosialisasi. Tapi itu kami lakukan secara go show,” terangnya.

Sebelumya Dina pernah berkunjung ke Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jateng olahraga di aula SMP 1 Muhammadiyah Kudus beberapa waktu lalu. (vga)

]]>
Ali Mustofa Sat, 13 Apr 2019 09:13:31 +0700
<![CDATA[Pemudah Warga yang Check Up ke RS Kariadi Semarang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/11/131112/pemudah-warga-yang-check-up-ke-rs-kariadi-semarang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/11/pemudah-warga-yang-check-up-ke-rs-kariadi-semarang_m_131112.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/11/pemudah-warga-yang-check-up-ke-rs-kariadi-semarang_m_131112.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/11/131112/pemudah-warga-yang-check-up-ke-rs-kariadi-semarang

Sebelum menjadi calon legislatif RI nomor urut 1 Partai Nasdem, Lestari Moerdijat aktif di kegiatan sosial. Cita-citanya mewujudkan keluarga Indonesia sehat.]]>

Sebelum menjadi calon legislatif RI nomor urut 1 Partai Nasdem, Lestari Moerdijat aktif di kegiatan sosial. Cita-citanya mewujudkan keluarga Indonesia yang sehat dan sejahtera. Bentuk kepeduliannya itu salah satunya diimplementasikan dengan penyediaan ambulans gratis di Demak, Kudus, dan Jepara. Juga ada pemeriksaan kesehatan rutin gratis.

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara

 KAKI Darul Sofyan, 29, bagian kanan diperban. Jalannya pincang. Dia berjalan dari dalam rumahnya di RT 3/RW 2, Desa Sendang, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, dibantu tim Sahabat Lestari. Di depan rumah sudah terparkir mobil ambulans Sahabat Lestari yang mengantarkannya chek up ke RS Kariadi Semarang baru-baru ini.

Darul mengalami patah tulang kaki bagian kanan. Untuk kontrol ia harus pergi ke RS Kariadi Semarang. Setiap kontrol, dia memanfaatkan mobil ambulans Sahabat Lestari. Terhitung sudah dua kali ambulans itu memfasilitasi Darul ketika berobat.

Menurutnya, ketersediaan alat transportasi yang aman dan layak merupakan hal penting ketika hendak berobat ke pusat layanan kesehatan yang lebih lengkap dan lokasinya jauh dari tempat tinggalnya. Persoalan itulah yang dijawab oleh Komunitas Sahabat Lestari. Yakni dengan menyediakan ambulans guna melayani warga Demak, Jepara, dan Kudus. Bagi yang membutuhkan angkutan medis untuk menuju pusat layanan kesehatan, seperti rumah sakit bisa memanfaatkan ambulans itu.

”Sangat terbantu dengan adanya ambulans Sahabat Lestari. Jarak yang jauh dan ketersediaan kendaraan yang minim menjadi kendala ketika berobat. Tapi, sekarang ada ambulans Sahabat Lestari yang sangat membantu,” kata Darul bersyukur.

Layanan ambulans tersebut, diinisiasi Lestari Moerdijat, pembina Sahabat Lestari. Layanan tersebut sudah tersedia sejak tahun lalu. Sudah banyak dimanfaatkan warga. Mulai berobat, kontrol kesehatan, maupun untuk layanan kesehatan lain.

”Masalah ketersediaan sarana penunjang kesehatan warga di pedesaan masih terbatas. Kami hadirkan ambulans untuk membantu warga yang sulit mendapatkan layanan itu,” tutur Lestari Moerdijat yang juga calon legislatif (caleg) DPR RI Dapil Jateng 2 nomor urut 1 dari Partai Nasdem ini.

Untuk memberikan kemudahan akses dalam kesehatan, Korwil Nasdem Jateng-DIJ meluncurkan tiga ambulans Sahabat Lestari.

”Meski ambulans masih sedikit, namun diharapkan dapat mendekatkan jarak. Paling tidak mengajak masyarakat untuk melakukan check up. Secara khusus, kepada ibu-ibu saya mengajak cek gejala kanker payudara sebagai upaya preventif," ujar caleg yang karib disapa Mbak Rerie ini.

Ia menyatakan, kemudahan akses pada pelayanan kesehatan bakal menciptakan bangsa yang kuat. Mbak Rerie mengaku dirinya menjadi contoh yang tidak baik, akibat kelalaiannya. Ia terlambat mengetahui menderita kanker pada 2016 lalu. ”Alhamdulillah saya diberi kesembuhan dan kesempatan untuk ikut menjaga kesehatan perempuan yang paling utama," katanya.

Melalui Sahabat Lestari, pihaknya sudah melakukan layanan kesehatan secara gratis selama satu tahun di berbagai lokasi di Demak, Kudus, dan Jepara. Selain penyediaan armada ambulans gratis, juga ada bantuan bibit tanaman buah, pengobatan gratis, hingga pelatihan produk usaha kecil dan menengah bagi ibu-ibu. Ada pula pelatihan kecantikan di Kabupaten Jepara.

”Saya ingin perempuan di Indonesia menjadi penyangga utama keluarga, membantu suami. Karena bangsa ini kuat tergantung kualitas keluarga. Perempuan ikut mencerdaskan anak sebagai persiapan di masa depan. Tentu ditunjang dengan kesehatan yang baik,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 11 Apr 2019 08:43:06 +0700
<![CDATA[Demi Totalitas, Persiapan Lomba hingga Satu Tahun]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/10/130871/demi-totalitas-persiapan-lomba-hingga-satu-tahun https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/10/demi-totalitas-persiapan-lomba-hingga-satu-tahun_m_1554879167_130871.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/10/demi-totalitas-persiapan-lomba-hingga-satu-tahun_m_1554879167_130871.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/10/130871/demi-totalitas-persiapan-lomba-hingga-satu-tahun

Januari Puspa Andhini mengawali karir dance dari grup dance cover. Namanya Bulletproof Young Generation (BYG) Dance Crew. Segudang prestasi berhasil ia sabet.]]>

Januari Puspa Andhini mengawali karir dance dari grup dance cover. Namanya Bulletproof Young Generation (BYG) Dance Crew. Segudang prestasi berhasil ia sabet bersama grupnya ini. Sayangnya, stereotipe yang mengatakan dance menonjolkan bentuk tubuh kian menjamur. Hal ini yang membuatnya merasa prihatin.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Jepara

DUDUDU... lagu dari band Black Pink diputar. Januari Puspa Andhini mulai menari mengikuti irama. Tetapi ada yang unik. Penampilan mereka jauh dari artis-artis K-Pop. Performa Bulletproof Young Generation (BYG) Dance Crew ini, malah seperti hantu. Masuk akal juga. Judul di video yang diupload di Youtube itu ditulis Halloween versi dance cover.

”Jadi, grup modern kami ini spesialis cover dancer. Kami meng-cover boygroup maupun girl group K-Pop,” kata perempuan kelahiran Jepara, 5 Januari 1997 ini.

Karir dance Januari Puspa Andhini sendiri, memang berawal dari bergabung di BYG Dance Crew sekitar Februari 2016 lalu. Dari grup ini, ia belajar dari bawah sekitar lima bulan. Kemudian memulai debutnya pada Juli 2016 lalu. Dengan alasan suka menari dan budaya Korea, ia memutuskan bergabung di grup ini. Klompok ini juga yang membawanya mengikuti berbagai lomba.

”Tiap mau ikut lomba, persiapan bisa sampe enam bulan. Bahkan, bisa sampe setahun untuk prepare lomba doang. Supaya hasilnya bisa totalitas tanpa batas,” kata cewek yang juga hobi basket ini.

Sudah berbagai lomba ia ikuti. Baik tingkat daerah hingga provinsi. Seperti Light Galaxy (LG) Show, Semarang Hallyu Festival (SHF), Pesta Rakyat Jawa Tengah 2018, Liga Dance Gekaes Smansara, dan Modern Dance Jepara Automotif Festival.

Dari ajang tersebut, dia dan grupnya meraih juara I di LG Show, SHF, dan Pesta Rakyat Jateng. ”Itu tingkat provinsi. Sebenarnya masih banyak lomba yang kami ikuti. Tapi kalo ditulis semua nggak cukup nanti korannya,” candanya pada Jawa Pos Radar Kudus.

Tentunya, seiring berkembangnya teknologi, mahasiswi Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) ini sudah melihat banyak kompetitor. Munculnya dancer di Jepara yang kian menjamur dan internal grup menjadi tantangan tersendiri.

Hal ini membuatnya harus putar otak untuk berinovasi membuat kreasi projek baru. Karakter setiap projek juga tidak selalu sama. Karena setiap idol yang mereka cover melakukan come back. Genre lagu juga pasti berbeda dengan sebelumnya.

Meski sudah berderet prestasi yang dirahnya, namun dia punya kegelisahan yang saat ini kian meninggi. Terutama karena dance mendapatkan stereotipe ”menjual” bentuk tubuh. ”Sedih ya memang. Persepsi masyarakat tentang dance itu seksi. Sedangkan grup kami lebih menonjolkan kualitas dance. Bukan kualitas tubuh. Di BYG juga diajarkan tentang attitude,” imbuhnya.

]]>
Ali Mustofa Wed, 10 Apr 2019 10:24:33 +0700
<![CDATA[Juarai Lomba Puisi Nasional, Dipercaya Latih Peserta FLS2N]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/09/130609/juarai-lomba-puisi-nasional-dipercaya-latih-peserta-fls2n https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/09/juarai-lomba-puisi-nasional-dipercaya-latih-peserta-fls2n_m_130609.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/09/juarai-lomba-puisi-nasional-dipercaya-latih-peserta-fls2n_m_130609.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/09/130609/juarai-lomba-puisi-nasional-dipercaya-latih-peserta-fls2n

Erika Ayu Amelia baru beberapa tahun terakhir menekuni puisi. Namun, prestasinya tak bisa dipandang sebelah mata. Mulai tingkat kabupaten hingga nasional.]]>

Erika Ayu Amelia baru beberapa tahun terakhir menekuni puisi. Namun, prestasinya tak bisa dipandang sebelah mata. Mulai tingkat kabupaten hingga nasional berhasil diraihnya. Saat ini, dia juga dipercaya sebagai pelatih peserta Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di Jepara.

FEMI NOVIYANTI, Jepara

SEJAK kecil sebenarnya Erika Ayu Amelia sudah tertarik pada puisi. Namun, dia tak memiliki kesempatan untuk menyalurkan. Barulah saat masuk SMK, gadis ini berkesempatan mengekspresikan diri pada bidang yang digemarinya itu.

Data kelahiran Jepara, 30 Juli 2000 ini menceritakan, saat MI dia menjadi mayoret drumband. Sementara saat SMP, dia fokus di organisasi sekolah. Saat itu, dia bahkan menjadi ketua OSIS. ”Saat masuk SMK, baru ada kesempatan tampil membaca puisi. Saya coba dan menekuninya hingga saat ini,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Awalnya perempuan yang tinggal di RT 36/RW 5, Desa Kelet, Kecamatan Keling, Jepara, ini, menyampaikan, dia berlatih mandiri. ”Sering coba baca puisi di depan cermin,” tuturnya.

Namun saat menjadi perwakilan sekolah, alumni SMK Wikrama 1 Jepara ini, dibimbing gurunya. ”Ada guru saya saat masih MI, tapi membimbing saya saat mau lomba. Ada juga Bapak Farih guru bahasa Indonesia dan Bapak Sunardi KS yang memiliki peran dalam proses kreatif saya,” terangnya.

Mahasiswi semester II, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, ini menyatakan, saat SMK dia juga mulai aktif ambil bagian dalam lomba puisi. ”Saat SMK itu pula, saya berhasil meraih berbagai prestasi. Sebelum SMK pernah juga ikut lomba baca puisi bahasa Inggris dan geguritan. Namun tidak intens,” jelasnya.

Karena berbagai prestasinya itu, Erika dipercaya untuk melatih salah satu peserta Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMA cabang lomba baca puisi tingkat Kabupaten Jepara.

Baginya, FLS2N memiliki kesan yang istimewa. Pada 2017 lalu, saat dia ambil bagian sebagai peserta FLS2N tingkat Provinsi Jawa Tengah ada cerita menarik. Itu menjadi kali pertama dia keluar berlomba dari ranah Kabupaten Jepara.

”Kebetulan waktu itu acara lomba bareng dengan geladi bersih paskibra. Awalnya tidak diizinkan pelatih untuk ikut lomba. Tapi saya memaksa. Akhirnya diberi izin dengan syarat ikut geladi. Siang-siang habis panas-panasan dari lapangan langsung gas Semarang. Habis tampil terus pulang karena mengejar geladi bersih sampai saat pengumuman dan penyerahan hadiah diwakilkan. Padahal meraih juara I,” ujarnya.

Saat ini untuk mengasah kemampuannya, Erika juga aktif menulis puisi. Karyanya sudah dimuat di Antologi Puisi Membaca Jepara. ”Saya senang, saya memang kagum dengan para penyair Jepara,” ujarnya.

Beberapa prestasi Erika di bidang baca dan tulis puisi di antaranya juara 1 Lomba Baca Geguritan Tingkat Kabupaten Jepara 2015 dan 2016, juara 3 Lomba Baca Puisi Kreatif Tingkat Karisidenan Pati 2016, juara I Lomba Baca Puisi Islami Porsema 2017, juara II Lomba Baca Puisi Kreatif Edufest Unisnu 2017, juara I Lomba Baca Puisi Samudra Jepara 2017, juara I Lomba Tulis Puisi ”Puisi untuk Negeri" tingkat Kabupaten Jepara 2017, juara I Baca dan Tulis Puisi FLS2N tingkat Kabupaten Jepara 2017, juara I Baca dan Tulis Puisi FLS2N tingkat Provinsi Jawa Tengah 2017, finalis Baca dan Tulis Puisi FLS2N tingkat Nasional 2017, juara III Lomba Baca Sajak Piala Bambang Sadono tingkat Kabupaten Jepara 2019.

Di luar lomba baca dan tulis puisi, tahun ini Erika juga berhasil meraih prestasi lainnya. Dia meraih juara II Pemilihan Duta Genre 2019 tingkat kampus dan runner up I Duta Genre Tingkat Kabupaten Jepara 2019. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 09 Apr 2019 08:15:44 +0700
<![CDATA[Dari Rasa Prihatin yang Berbuah Prestasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130368/dari-rasa-prihatin-yang-berbuah-prestasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/dari-rasa-prihatin-yang-berbuah-prestasi_m_130368.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/dari-rasa-prihatin-yang-berbuah-prestasi_m_130368.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130368/dari-rasa-prihatin-yang-berbuah-prestasi

Keresahan Wisnu Ginanjar Saputra dan Usama Abdul Matin, dua pelajar SMK Muhammadiyah Kudus mampu menciptakan Aplikasi Pedia Bhinneka.]]>

Keresahan Wisnu Ginanjar Saputra dan Usama Abdul Matin, dua pelajar SMK Muhammadiyah Kudus mampu menciptakan Aplikasi Pedia Bhinneka. Aplikasi yang dibuatnya ini berhasil menjadi juara III dalam ajang Dinus Application Competition (Dinacom) kategori pelajar.

DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

BERAWAL dari keprihatinan akan hilangnya budaya asli Indonesia mulai dari makanan, minuman, kesenian dan tempat-tempat wisata bagi kaum milenial. Dua pelajar SMK Muhammadiyah Kudus, Wisnu Ginanjar Saputra, 16 dan Usama Abdul Matin, 16 berhasil menciptakan aplikasi Pedia Bhinneka. Meskipun mereka tidak mendapatkan materi coding namun mereka tak patah semangat untuk mempelajarinya sendiri.

BERPRESTASI: Wisnu Ginanjar dan Abdul Matin menerima trofi dari Dinacom. (DOK. PRIBADI)

Aplikasi berbasis android ini berisi tentang kesenian, kuliner maupun tempat wisata yang ada di Indonesia. Nantinya, masyarakat bisa mudah mendapatkan aplikasi ini dengan memasangnya melalui play store. Apikasi ini diklaim mempunyai keunggulan, di antaranya memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Meliputi menu makanan, minuman lokal, kesenian hingga tempat wisata.

Dalam berkreasi, siswa didampingi guru Abdullah Azzam yang memberi masukan kepada siswa. Wisnu menjelaskan aplikasi Pineka adalah hasil kreasinya bersama teman serta guru pendamping. Pihaknya membuat aplikasi guna memperkenalkan kebudayaan Indonesia secara lebih luas.

Aplikasi Pedia Bhinneka atau yang dikenal dengan Pineka ini memungkinkan pengguna bisa membuat akun pribadi, kemudian mengunggah atau mengetahui kebudayaan Indonesia melalui akun mereka pribadi.

”Pineka namanya. Kepanjangan dari Pedia dan Bhineka. Aplikasi ini berfungsi untuk memperkenalkan budaya, tempat destinasi, makanan dan minuman kita,” kata Wisnu ditemui di Ruang TKJ SMK Muhammadiyah Kudus.

Dengan aplikasi itu, ia berharap bisa membantu memperkenalkan budaya indonesia. Tidak hanya kepada masyarakat dalam negeri, tapi juga luar negeri. Jadi ketika ada seseorang yang ingin pergi ke destinasi wisata tidak perlu kebingungan.

”Mereka misal mau ke mana saja, ada apa aja di Indonesia, nanti bisa ditemukan lebih spesifik. Daripada kita cari di Google, kan, nanti kesebar ke mana-mana,” jelasnya.

Pelajar ini cukup merasa prihatin dengan anak-anak muda sekarang. Sebab, ia merasa anak-anak muda sekarang minim pengetahuan tentang budaya Indonesia.

”Destinasi wisata tak tahu, makanan, minuman lokal juga nggak tahu,” katanaya.

Wisnu mengatakan, aplikasi ini merupakan aplikasi tentang Indonesia tidak bercampur dengan negara lain. Sehingga siapa pun yang mengunduh akan mengetahui secara gamblang tentang gambaran Indonesia. Bedanya ketika dilakukan pencarian di Google akan bercampur dengan kuliner atau destinasi wisata dari negara lain.

”Intinya semua tentang Indonesia tetapi bisa diketahui oleh masyarakat global,” ujarnya.

Hasil karya dua pelajar ini juga berhasil meraih prestasi di satu kompetisi yang diadakan oleh Dinacom Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Pineka berhasil menjadi juara III dalam ajang Dinus Application Competition (Dinacom) 2019 kategori pelajar.

Guru pendamping Abdullah Azzam mengatakan, aplikasi yang dibuat bisa merupakan penggabungan dari dua aplikasi yang sudah populer, Cookpad dan Instagram. Keunggulan lain aplikasi Pineka ini juga karena ada kuis dan sosmed (sosial media). Seperti ada story seperti yang terdapat di Instagram.

”Pengabungan dari apikasi Cookpad dan IG. Kalau kuis seperti dari aplikasi Memrise,” kata Abdullah.

Dia mengklasifikasikan pasar aplikasi buatan siswanya adalah untuk siswa kelas 5 SD hingga dewasa. Marketnya untuk anak 5 SD sampai dewasa. Mereka nantinya bisa pasang di Android-nya pada April 2019. Kemudian mereka harus membuat akun pribadi untuk pengoperasiannya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 08 Apr 2019 11:39:14 +0700
<![CDATA[Terus Peras Otak Hadirkan Inovasi Tempat Menarik]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130348/terus-peras-otak-hadirkan-inovasi-tempat-menarik https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/terus-peras-otak-hadirkan-inovasi-tempat-menarik_m_130348.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/terus-peras-otak-hadirkan-inovasi-tempat-menarik_m_130348.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130348/terus-peras-otak-hadirkan-inovasi-tempat-menarik

Menjaga eksistensi tempat wisata perlu kerja ekstra. Berpikir kreatif dan inovatif wajib hukumnya. Ini dilakukan Fathul Mu’in, penggerak Wisata gardu pandang.]]>

Menjaga eksistensi tempat wisata perlu kerja ekstra. Berpikir kreatif dan inovatif wajib hukumnya. Hal ini seperti yang dilakukan Fathul Mu’in, penggerak Wisata Gardu Pandang Jehan, Desa Kunir, Keling, Jepara. Dia menggerakkan kawan-kawannya di Pokdarwis untuk berupaya menampilkan hal baru bagi pengunjung di desanya.

 ACHMAD ULIL ALBAB, Jepara

 MATAHARI pagi bersinar cerah di Dukuh Jehan, Desa Kunir, Kecamatan Keling, Jepara. Dari kejauhan seorang anak muda melambaikan tangan. Tubuhnya tak terlalu tinggi. Kira-kira 160 sentimeter. Rambutnya sedikit acak-acakan. Anak muda itu Fathul Mu’in.

Fathhul Mu'in (DOK PRIBADI)

Sapaannya Mu’in. Tangannya sedikit belepotan dengan tanah. ”Lagi nanam bunga, Mas,” kata Mu’in sembari mengajak Jawa Pos Radar Kudus duduk di sebuah warung tenda tidak jauh dari tempatnya menanam. ”Supaya tetap menawan dan orang tak bosan berkunjung kemari,” Mu’in melanjutkan obrolan sembari menawarkan jajanan.

Di atas Gardu Pandang Jehan, memang tampak bunga-bunga yang baru ditanam. Jenisnya entah, Mu’in sendiri kurang paham. Katanya bunga brokoli. Warnanya kuning terang. Selama sepekan belakangan ini, Mu’in bersama kawan-kawannya di Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tunas Muda memang gencar menanam bunga.

Berbagai sisi di atas gardu pandang ditanami bunga-bunga. Indah.

Asap kopi masih mengepul, sekali tiup, Mu’in langsung menyeruput. Mu’in kembali berkisah, menurutnya tantangan bagi pengelola wisata ada pada ”menu” yang disuguhkan kepada pengunjung.

Tak mungkin dari sejak berdiri hingga kini, spot-spot lawas yang disuguhkan. Tentu pengunjung bosan dan malas untuk datang lagi. ”Makanya sebisa mungkin otak kami terus diperas. Bagaimana caranya menyuguhkan yang baru di tempat ini,” kata pria kelahiran Jepara, 7 Februari, 1993 ini, kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Gardu Pandang Jehan sendiri mulai dibuka sejak awal 2017 lalu. Bermula dari tak sengaja. Yakni saat datang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kampus di Semarang. ”Dulu saat pembangunan, semua dari nol. Kami para pemuda gotong royong membuka jalan hingga membuat aneka spot foto dengan latar belakang panorama alam,” tutur pria yang juga menjadi Ketua Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Desa Kunir ini.

Pemandangan dari Gardu Pandang Jehan yang juga kerap disebut Puncak Jehan ini, memang menawan. Dari ketinggian 800 MDPL (meter di atas permukaan laut) pengunjung dimanjakan dengan pemandangan punggung Pegunungan Muria yang terlihat hijau. Selain itu gagahnya Gunung Genuk di sisi utara akan terlihat dengan jelas berpadu dengan laut Benteng Portugis.

Tak heran, gardu pandang menjadi hits di kalangan anak muda. Spot-spot fotonya instagramable. Kekinian dan layak dipamerkan di jagat sosial media. ”Sebulan bisa mencapai 1.000 pengunjung. Kadang bahkan sampai 3.000 pengunjung. Yang datang dari berbagai daerah. Jepara sendiri, kota tetangga, bahkan beberapa turis asing juga beberapa kali ada yang berkunjung ke sini,” kata Mu’in makin antusias bercerita.

Selain bersolek dengan tanaman bunga, gardu pandang ini juga menawarkan sensasi lain. Adalah berkemah di atas puncak ini.

Soal tarif, terjangkau. Untuk kunjungan biasa dikenai tiket masuk Rp 3 ribu. Sedangkan untuk berkemah, satu orangnya dikenakan Rp 5 ribu. ”Kami sedang menata itu dan berupaya menyuguhkannya lebih baik. Malam hari berkemah di sini pengunjung akan menikmati kerlap-kerlip lampu rumah-rumah warga di Kecamatan Keling,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 08 Apr 2019 09:49:26 +0700
<![CDATA[Bertemu Keluarga Hanya Lima Menit, Nyaris Ditolak saat Pendaftaran]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/06/130023/bertemu-keluarga-hanya-lima-menit-nyaris-ditolak-saat-pendaftaran https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/06/bertemu-keluarga-hanya-lima-menit-nyaris-ditolak-saat-pendaftaran_m_130023.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/06/bertemu-keluarga-hanya-lima-menit-nyaris-ditolak-saat-pendaftaran_m_130023.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/06/130023/bertemu-keluarga-hanya-lima-menit-nyaris-ditolak-saat-pendaftaran

Berbekal pengalaman menyanyi dari panggung ke panggung, Ninda Muslikhatun berhasil menjadi wakil Jateng di Liga Dangdut Indonesia 2.]]>

Berbekal pengalaman menyanyi dari panggung ke panggung, Ninda Muslikhatun berhasil menjadi wakil Jateng di Liga Dangdut Indonesia 2. Di awal proses pendaftaran, ia sempat ditolak karena tak membawa pas foto saat registrasi.

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara

RATUSAN penggemar bersorak ketika Ninda Muslikhatun naik ke atas panggung. Panggung hiburan khusus disediakan untuk menyambut kedatangan Ninda dari Jakarta. Para penggemar memadati halaman rumah dan jalan di sekitar rumahnya di Desa Plajan, Pakisaji, Jepara, Kamis (4/4) lalu.

Meski tersenggol di 16 besar Liga Dangdut Indonesia 2, penggemar Ninda tetap antusias menyambut kedatangannya dari Jakarta. Capaiannya sampai ke 16 besar ajang nasional itu, tak pernah dibayangkan Ninda sebelumnya. ”Saya hanya berusaha tampil maksimal. Kembangkan bakat saya di permusikan dangdut. Meski akhirnya gugur di 16 besar, kebanggaan bagi saya disambut baik oleh masyarakat,” kata gadis kelahiran Jepara,  17 November 2001 ini.

Proses panjang yang dilaluinya memiliki kesan yang mendalam. Sebab, di awal proses audisi ia hampir tak bisa mengikuti audisi. Ketika pendaftaran di Semarang, ia harus berdesakan dengan ratusan penyanyi lainnya dari Jawa Tengah (Jateng). Mengantre berjam-jam, tiba saatnya ia registrasi. Tapi ditolak panitia, karena tidak membawa pas foto. ”Saya disuruh balik ke belakang. Kalau syarat tidak lengkap tidak bisa ikut. Akhirnya cari tempat cetak foto. Setelah dicetak, antre lagi dari belakang,” kenangnya.

Saat audisi provinsi, ia melewati dua tahap. Di bilik satu dinyatakan lolos. Lalu ke tahapan bilik dua. Setelah dari bilik dua, belum diumumkan. Lalu dari pihak penyelenggara, malam harinya menelepon bahwa akan berkunjung ke kediamannya. Tujuannya untuk membuat video profilnya.

Dari akhir tahun lalu, ia menunggu sampai 7 Januari. Saat itu baru diumumkan lolos mewakili Jateng ke Jakarta. Dia bertemu 80 peserta lain perwakilan 34 provinsi.

Selama menjalani audisi 80 besar, ia bersama peserta lain dikarantina di Jakarta. Selama proses karantina, tidak dibolehkan bertemu keluarga. Sebab, fokus latihan untuk penampilan di atas panggung. ”Selama di Jakarta tidak boleh ketemu keluarga. Hanya boleh bertemu setelah tampil. Itu pun hanya lima menit. Waktu yang singkat saya maksimalkan untuk meminta restu dan doa orang tua. Juga para pendukung tercinta,” tuturnya.

Terhitung, Ninda tampil sampai tujuh kali. Hingga akhirnya tersenggol di penampilan ketujuh. Mulai dari penampilan pertama hingga penampilan keempat, selalu mendapatkan lima lampu hijau. Jadi, posisinya aman lanjut ke babak selanjutnya. Juga karena didukung hasil poling.

Tapi di penampilan kelima ia mendapatkan tiga lampu merah dari juri. Ia pun mendapatkan peringatan keras dari Soimah. Ia mengakui penampilannya saat itu kurang maksimal. ”Momen dimarahi Mae Soimah tak pernah saya lupakan. Justru membuat saya termotivasi. Akhirnya di penampilan keenam mendapatkan lima lampu hijau. Lolos ke-16 besar,” katanya.

Sehari setelah penampilan keenam, ia tampil di Grup A 16 besar. Kurangnya persiapan dan kelengahan diakui Ninda menjadi faktor ia tersenggol. Dua lampu merah dari juri membuatnya tersenggol.

”Kurang latihan karena selang satu hari harus tampil. Belum persiapan lagu sama sekali. Biasanya saya masuk di grup terakhir. Ternyata waktu itu di grup awal. Saya lengah di situ,” kata siswi SMKN 1 Jepara ini.

Dari peristiwa itu, ia mengambil pelajaran pentingnya fokus dan konsentrasi bagi entertainer. Tidak boleh lengah dan terlena. Harus siap kapan pun jika tampil menghibur penonton. ”Pengalaman itu akan saya ingat sebagai pelajaran berharga,” tuturnya.

Usai tersenggol, Ninda berencana membuat single pertamanya. Hari ini, ia berangkat ke Jakarta untuk mempersiapkan single itu. ”Semoga lancar dan bisa diterima masyarakat,” tandasnya.

Dengan begitu, dia harus rela bolak-balik Jepara-Jakarta. Sebab, dia tetap sekolah di Jepara. Untuk mengurus single-nya, dia ke Ibu Kota saat weekend. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 06 Apr 2019 08:59:57 +0700
<![CDATA[Mundur dari Juri karena Anak Ikut Tampil]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129820/mundur-dari-juri-karena-anak-ikut-tampil https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/05/mundur-dari-juri-karena-anak-ikut-tampil_m_129820.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/05/mundur-dari-juri-karena-anak-ikut-tampil_m_129820.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/05/129820/mundur-dari-juri-karena-anak-ikut-tampil

Arifin aktif di dunia pantomime. Ipin-sapaannya- beberapa kali tampil di even nasional. Ia pernah mundur sebagai dewan juri, karena anaknya ikuti lomba.]]>

Arifin aktif di dunia pantomime. Ipin-sapaannya- beberapa kali tampil di even nasional. Ia pernah mundur sebagai dewan juri, karena anaknya ikuti lomba.

SAIFUL ANWAR, Rembang

SOSOK berwajah putih itu menggeliat, memasang ekspresi sedih, lalu seperti frustasi. Sejenak kemudian bisa tertawa, melompat-lompat, menarik sesuatu, hingga percakapan dengan audiens. Mereka yang menonton pun kadang dibuat mengerutkan dahi, tersenyum, atau sesekali tertawa.

MAKSIMAL: Arifin alias Ipin saat tampil di sebuah acara di Pati belum lama ini. (DOK. PRIBADI)

Adalah Arifin, sosok di balik make up serba putih yang memenuhi wajahnya itu. Seniman pantomim memang selalu diidentikkan dengan seorang yang tampil dengan wajah putih.

Meski kini terbilang aktif di kesenian pantomim, namun sejatinya Ipin tak pernah menuntaskan pendidikan tingginya di bidang seni. Bapak dua anak itu hanya sempat mencicipi perguruan tinggi selama tiga semester.

Tepatnya di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Solo atau yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) di jurusan Seni Rupa. Setelah itu, pria kelahiran Rembang, 10 Oktober 1978 itu memilih menimba pengalaman seninya di Jogjakarta.

Bergabung di kelompok Teater Garasi, Ipin mengikuti sekolah keaktoran selama enam bulan. Sekitar tahun 2003, bersama rekan-rekan di Rembang, dia mendirikan Sanggar Pesisir. Namun, kala itu fokusnya hanya di seni rupa, sebagaimana dasar keilmuannya.

Belakangan, sejak lima tahun silam, Ipin memilih fokus ke pantomim. Menurutnya, menjadi mimer lebih merdeka karena bisa kemana-mana sendiri. Berbeda dengan teater yang harus berkelompok.

”Lima tahun ini fokus ke pantomim. Lebih merdeka ke mana-mana bisa senidiri,” tutur Ipin yang tinggal di Desa Tasik Agung, Kota Rembang itu.

Kiprahnya di dunia seni pun membuatnya kerap dimintai menjadi juri sebuah festival. Salah satunya adalah FLS2N (Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional) kabupaten yang digelar pada 2017 lalu.

Uniknya, dua hari sebelum acara, Ipin baru tahu jika salah satu pesertanya adalah anaknya sendiri. Namanya Saketsakaesa. Dia duduk di bangku kelas 5 SD. Mengetahui fakta itu, dia pun lantas mengundurkan diri sebagai juri.

”Apa pun hasilnya kalau jurinya orang tuanya sendiri pasti kan banyak omongan macam-macam. Akhirnya saya cari teman yang bisa gantiin,” aku Ipin sembari tersenyum mengingat pengalamannya itu.

Meski sudah cukup mengecap asam garam dengan pentas bersama seniman nasional di Jogjakarta, namun Ipin menyebut pengalaman paling berkesan justru saat tampil di Kota Garam. Tepatnya, saat pentas di tugu lilin sekitar tiga tahun lalu.

”Ketika perform waktu itu, respon teman-teman sangat bersemangat. Karena banyak ekspos, akhirnya Bengkel Mime Theater (BMT) tahu dan diundang ke sana,” lanjut suami Dian Nari itu

Belum lama ini, Ipin juga baru saja mengikuti sebuah agenda bertajuk Pentas Pantomim Tunggak Semi di Jogjakarta yang diprakarsai Bengkel Mime Theater. Di sana, dia pentas bersama mimer lainnya dari Jakarta, Jatim, serta Jabar selama kurang lebih sepekan.

Saat ini, Ipin mengaku sedang merancang pementasan pantomim untuk pentas akhir bulan ini. Yakni masih dalam serangkaian Hari Teater Sedunia (Hatedu) yang diperingati setiap 22 Maret. Selain itu, di bidang seni rupa, dia juga sedang merancang pameran instalasi tiga dimensi.

”Masih mencari konsep yang tepat ini,” kata bapak dari Seketsakaesa dan Sahasika itu.

Meski merupakan pegiat seni, Ipin sadar dirinya tak bisa semata-mata hidup dari dunia yang dia cintai itu. Namun, mata pencahariannya memang tak bisa jauh-jauh dari seni. Ya, sehari-hari, dia adalah seorang pelukis mural.

”Sebagian besar kapal di sini (Tasikagung) saya yang buat (muralnya),” aku dia.

Mengenai perkembangan pantomim, Ipin menyebut sebenarnya problemnya ada di sekolah. Sebab, sebenarnya antusiasme terhadap pantomim generasi cilik cukup menggembirakan. Hal itu terbukti saat pentas di kawasan Tasikagung pada akhir Maret lalu. Ada beberapa peserta dari kalangan siswa SD, SMP, maupun SMA.

”Tinggal kemauan guru dan sekolah seperti apa. Di situ biasanya susahnya,” tutur Ipin. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 05 Apr 2019 10:52:19 +0700
<![CDATA[Sejak Kecil Sudah Koreksi Kakaknya Ngaji Alquran]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/04/129515/sejak-kecil-sudah-koreksi-kakaknya-ngaji-alquran https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/04/sejak-kecil-sudah-koreksi-kakaknya-ngaji-alquran_m_129515.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/04/sejak-kecil-sudah-koreksi-kakaknya-ngaji-alquran_m_129515.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/04/129515/sejak-kecil-sudah-koreksi-kakaknya-ngaji-alquran

Keberangkatan Muhammad Zainuddin Akhyar ke Qatar bisa dikatakan tanpa sengaja. Bisa dibilang ini berkah videonya mengaji di-upload orang yang merekam ke Youtube]]>

Keberangkatan Muhammad Zainuddin Akhyar ke Qatar bisa dikatakan tanpa sengaja. Bisa dibilang ini berkah videonya mengaji di-upload orang yang merekam ke Youtube. Dari video itu, keluarga Zain mendapatkan pemberitahuan dari penyelenggara Musabaqoh Tijan Al Nur di Qatar. Di lomba tilawah itu, di berhasil menjadi grand finalis.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Jepara

LANTUNAN ayat suci Alquran begitu merdu terdengar dari Muhammad Zainudin Akhyar. Di awal bacaan taawudz dan basmalah sudah adem terdengar. Dengan menggunakan nada bayati, suara itu terdengar merdu. Ia juga menguasai nada hijaz dengan karakteristik agak keras atau nahawand yang karakteristiknya lembut mendayu.

Dengan suara emasnya itu, wajar saja jika dia menjadi grand finalis dalam ajang musabaqoh tilawatil qur’an (MTQ) tingkat internasional di Qatar bertajuk ”Musabaqoh Tijan An Nur”. Nantinya akan disiarkan di stasion televisi saat bulan suci Ramadan.

Keikutsertaan lomba qari di Qatar itu, bisa dikatakan tanpa sengaja. Berawal ketika dia mengaji (menjadi qari) di salah satu daerah. Kemudian suara emasnya itu diabadikan melalui rekaman video. Video tersebut lalu di-upload ke Youtube oleh orang yang merekam tersebut. Dari video itu, keluarga Zain mendapatkan pemberitahuan dari penyelenggara Musabaqoh Tijan An Nur.

”Kemudian mendaftarkan ke sana (Qatar, Red). Setelah mendaftar, kemudian disuruh membuat video baru membaca Alquran. Ada foto dan ada profilnya, kemudian dikirim,” kata Ahmad Yazid, ayah Zain.

Dari kiriman video baru itu, ia mendapat pemberitahuan kembali bahwa Muhammad Zainuddin Akhyar lolos seleksi. Dengan didampingi ayahnya, Zain kemudian bertolak ke Negara Emirat di Timur Tengah itu. Perlombaan di Qatar sendiri, tak hanya membaca Alquran. Tetapi peserta juga dituntut harus bisa menafsirkan per kalimat dari ayat suci.

”Waktu berangkat ke sana (Qatar, Red) itu bertepatan hari ulang tahunnya (Zain, Red). Dia lahir 8 Maret 2007,” ujarnya.

Selama di Qatar, bocah berusia 12 tahun ini, dikarantina bersama 51 peserta lain dari berbagai negara. Mereka selalu dipantau panitia. Ia bekompetisi sekitar 20 hari. Dari 51 peserta itu, kemudian babak ke dua mengerucut hanya menjadi 15 peserta. Lalu, diambil menjadi sembilan peserta. Selanjutnya diambil lima peserta untuk masuk ke babak grand final.

”Dari Indonesia ada dua (masuk grand final). Dari Maroko ada dua dan satu lagi dari Malaysia. Lima peserta itu sudah juaranya. Cuma ditandingkan lagi untuk merebut juara I sampai V,” imbuh Yazid. Di babak grand final itu, Zain mendapat juara V. Juara I didapat peserta dari Indonesia lain.

Yazid mengisahkan, anak bungsu dari tiga bersaudara ini, memang sudah memiliki bakat tilawah sejak sekitar usia tiga tahun. Ketika sang ayah sedang mengajar mengaji kakak-kakaknya, dia bermain di sebelah. Dikira bocah yang saat ini kelas VI SDN 2 Bandungrejo, Kalinyamatan, Jepara, itu tidak memperhatikan. Ternyata Zain kecil ikut menyimak.

Bahkan, jika kakak-kakaknya keliru dalam membaca Alquran, justru dia yang mengingatkan. Setelah itu, ayahnya mulai lebih memperhatikannya. Sehari-hari, selepas Salat Maghrib, Zain diwajibkan membaca Alquran serta ada sesi evaluasi bacaan. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 04 Apr 2019 09:34:31 +0700
<![CDATA[Batasi Job Luar Kota, Tidur hanya Beberapa Jam]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/03/129327/batasi-job-luar-kota-tidur-hanya-beberapa-jam https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/03/batasi-job-luar-kota-tidur-hanya-beberapa-jam_m_129327.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/03/batasi-job-luar-kota-tidur-hanya-beberapa-jam_m_129327.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/03/129327/batasi-job-luar-kota-tidur-hanya-beberapa-jam

Tiap Rajab agenda vokalis Ashfal Maula padat. Dalam sehari bulan itu vokalis kenamaan grup rebana di Kudus ini bisa tampil di empat panggung berbeda.]]>

Tiap Rajab agenda vokalis Ashfal Maula padat. Dalam sehari bulan itu vokalis kenamaan grup rebana di Kudus ini bisa tampil di empat panggung berbeda. Deretan prestasi ditorehkan pria yang akrab disapa Gus Apang. Dia berhasil merilis puluhan album.

DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

SARUNG batik, baju koko dan kopyah berwarna putih melekat di tubuh Ashfal Maula, vokalis kenaman grup rebana di Kudus. Suara merdunya ketika melantunkan salawat nabi membuat sebagian orang larut. Sehingga tak jarang mereka pun akhirnya ikut bersalawat mengiringinya.

RAMAI UNDANGAN: Ashfal Maula alias Apang saat tampil bersana grup rebana Al Hihu di Pendapa Kabupaten Kudus kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Dalam dunia rebana, pria yang akrab disapa Gus Apang ini memiliki kiprah yang cukup panjang. Terhitung sudah 22 tahun ia berkarya di bidang ini. Ketertarikannya tekun belajar olah vokal ini bermula ketika ia mendapat ajakan dari kakak kelasnya. Ia ingat betul saat itu masih menjadi salah satu siswa kelas 2 di MA Qudsiyyah Kudus.

”Dulu diajak gabung grup rebana sebagai baking vokal,” kata pria kelahiran Kudus, 9 September 1981 itu.

Seiring berjalannya waktu dan perubahan kualitas suaranya, Gus Apang didaulat menjadi vokalis di grup rebana Al-Mubarok. Jam terbang yang terus bertambah membuat ia semakin dikenal luas masyarakat. Job manggung juga semakin padat. Terlebih ketika bulan-bulan peringatan hari besar agama Islam. Seperti Rajab saat ini. Jadwal manggungnya bisa empat kali sehari. Namun ia mengaku membatasi job untuk luar kota.

Meskipun begitu, anak sulung dari lima bersaudara ini mengaku tidak keteteran mengatur waktunya. Pekerjaan sebagai penerjemah kitab pelajaran di MTs Qudsiyyah juga diakuinya bisa ditangani dengan baik.

”Biasanya pagi saya ambil jadwal satu, siang satu, malam bisa dua jadwal. Kalau luar kota saya memang batasi. Paling setahun sekali,” ujarnya.

Di jadwal yang cukup padat ini, Gus Apang bisanya hanya bisa tidur beberapa jam. Ia mengaku tetap menyempatkan untuk istirahat. Meskipun harus mencuri-curi waktu di sela-sela break manggung.

”Satu dua jam cukup,” ungkap lelaki yang tinggal di RT 3/RW3, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu.

Selama kurang lebih dua puluh dua tahun berkecimpung di dunia rebana, lelaki berkulit sawo matang itu mengaku sempat belajar menabuh alat rebana. Namun tampaknya ia tak cukup lihat untuk urusan ini.

”Kalau teorinya bisa, tapi saya rasa memang tidak berbakat di situ,” jelasnya.

Ketekunan untuk mengasah kemampuannya ini tak sia-sia. Hingga saat ini sudah puluhan album dirilis. Puluhan album salawat yang terdiri dari ratusan judul lagu itu delapan puluh persen merupakan karyanya.

Ia mengaku tak hanya satu grup rebana yang dinaunginya. Al Mubarok dan Al Hihu menjadi grup rebana yang turut berperan membesarkan namanya. Tak hanya itu, ia juga tergabung dalam grup musik religi KS2K.

”Kalau di Al Mubarok ada 11 album, Al Hihu ada delapan album, KS2K tiga album. Kalau yang solo ada lima album,” jelasnya.

Ashfal memiliki banyak referensi dalam proses penciptaan karyanya. Salah satu yang dibeberkan ia mendengarkan musik klasik. Tak hanya itu, pengalaman spiritual juga sering menjadi ide dalam berkarya.

Dari sekian ratus judul karya yang diciptakan, Syaikhona menjadi selawat paling berkesan baginya. Lagu tersebut diciptakan ketika wafatnya KH Ma’ruf Irsyad, seorang ulama dan guru baginya. Dalam ceritanya, sebelum nada yang sekarang akrab didengar di telinga masyarakat, ia sempat tiga kali mengubah nadanya.

”Jadi pas nada pertama saya bermimpi ketemu almarhum. Dalam mimpi tersebut beliau tidak senyum. Kemudian saya ubah lagi mimpi lagi dan juga tidak senyum. Baru yang terakhir saya mimpi bertemu beliau dan tersenyum,” tutur pria yang memang bercita-cita menjadi vokalis grup rebana itu.

Saat ini pria yang selalu berusaha menghindari es dan gorengan pinggir jalan itu sedang menggarap album ke-12 grup rebana Al Mubarok Kudus. Ke depannya, ia juga mengaku bermimpi ingin membuat grup salawat orkestra.

”Semoga ini segera terwujud,” imbuhnya.

Ia berusaha mengajak mencintai salawat. Sebab, menurutnya amalan yang paling aman saat ini adalah salawat. Salawat itu seperti salat. Hubungan antara manusia nabi dan Allah.

”Kita itu tidak akan bisa membayar balas budi baik Kanjeng Nabi. Karena itu kita minta Allah membalaskan budi bali dengan cara bersalawat,” tutupnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 03 Apr 2019 09:39:54 +0700
<![CDATA[Dulu Karyawan PLN, Kini Go International di Bidang Animasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/02/129109/dulu-karyawan-pln-kini-go-international-di-bidang-animasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/02/dulu-karyawan-pln-kini-go-international-di-bidang-animasi_m_129109.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/02/dulu-karyawan-pln-kini-go-international-di-bidang-animasi_m_129109.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/02/129109/dulu-karyawan-pln-kini-go-international-di-bidang-animasi

Lina Eko Wulandari dulunya karyawan PLN. Namun, banting setir dan bergabung di Infinite Studio Batam. Dia membuat project dua film seri animasi.]]>

Lina Eko Wulandari dulunya karyawan PLN. Namun, banting setir dan bergabung di Infinite Studio Batam. Di studio film animasi terbesar se-Asia Tenggara itu, dia membuat project dua film seri animasi, Sonic Boom Season 2 dan Vampirna. Filmnya sukses hingga akhirnya dia bergabung di RUS Animation Studio sebagai chief marketing officer (CMO).

WISNU AJI, Rembang

PERTENGAHAN Februari lalu, sekumpulan pemuda di Kabupaten Rembang membentuk komunitas baru. Komunitas ini berbasis animasi film dan video. Peran mereka cukup penting. Mulai memantik anak muda berkreasi sesuai bakat, edukasi, hingga pemasaran.

Di balik kesuksesan pembentukan komunitas tersebut, tak lepas peran sosok ibu muda yang juga sebagai narasumber. Namanya Lina Eko Wulandari. Dia berasal dari pegunungan, tepatnya dari Desa Criwik, Kecamatan Pancur, Rembang.

Memang tempat tinggalnya terbilang daerah pinggiran. Namun, jangan tanya soal karirnya. Dia sudah go international. Dia pernah membikin project dua film animasi. Film ini dipesan dari klien luar negeri. Inilah yang coba ditularkan ke kawula di Kota Garam.

Lina -begitu nama sapaannya- mengaku, background pendidikannya bukan dari jurusan animasi. Dia lulusan teknik elektro. Dia pun sempat bekerja di PLN selama setahun sebelum akhirnya bantir setir ke dunia perfilman. Dia pun bergabung di Infinite Studio Batam. Di studio film animasi terbesar di Asia Tenggara ini, dia berperan sebagai production coordinator.

Pada Februari 2015 lalu, dia bertugas sebagai koordinator artis di ruang produksi. Perannya memfasilitasi klien. Di antaranya dia pernah menangani klien dari Irlandia dan India. Mereka memberikan rekomendasi kepada timnya untuk mengerjakan film yang diinginkan.

”Permintaan klien inilah yang saya sampaikan ke tim artis animator. Untuk mengerjakan pesanan sesuai keinginan klien,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Untuk dapat memfasilitasi kliennya, dia harus intens berkomunikasi dengan klien. Komunikasinya dilakukan via email dan Tictoc. Memang tidak sembarangan. Karena project yang dikerjakan jangkauannya internasional.

Karena materi yang dituangkan hanya berbentuk desain. Sedangkan desain yang dikirim bermodel dua dimensi. Inilah yang selanjutnya diubah menjadi tiga dimensi. Pengerjaannya butuh waktu sekitar sebulan dalam satu episode.

”Untuk mengerjakan saya komunikasi lewat chat aplikasi Tictoc kepada klien. Kebetulan selama dua tahun ada dua project yang saya kerjakan. Yaitu film Sonic Boom Season 2 dan Vampirna,” terang alumni SMAN 1 Lasem (Smanela) ini.

Memang untuk mengerjakan film itu tidak mudah. Namun, dia berprinsip tidak ada yang sulit dengan dipelajari. Kebetulan rekannya terbuka bagikan ilmu. Langkah demi langkah dirinya diajarkan, sampai dirinya benar-benar paham. Hingga akhirnya ditawari dari Djarum. Kini dia menjabat sebagai chief marketing officer (CMO) di Raden Umar Said (RUS) Animation Studio, Kudus.

”Awal saya di RUS Animation Studio masih sebagai koordinator. Setelah jalan tiga bulan, saya diarahkan di posisi CMO. Tugasnya mencari relasi dan membawa project ke studio untuk dikerjakan bagian produksi,” jelasnya.

Tentu sama-sama butuh penyesuaian. Namun berbekal ulet, dirinya dapat menjalankan perannya di RUS Animation Studio. Apalagi akses link ke sejumlah pihak sudah dimilikinya. Seperti ke kementerian.

”Di sini saya tak sekadar mencari materi, namun juga mendapat kepuasan batin. Sebab, memberikan manfaat orang lain,” ujar ibu muda kelahiran Rembang, 28 Juni 1994 ini.

Spirit dan motivasi inilah yang ditularkan kepada anak-anak muda di Kota Garam, agar kreatif sesuai bakatnya. Dirinya membuktikan orang pinggiran dapat berkarir hingga nasional, bahkan internasional. Hal ini sudah dirasakan empat tahun terakhir.

”Kami ingin sharing dengan anak-anak muda di Kabupaten Rembang. Agar dapat bersaing dengan daerah lain. Makanya saya mulai bangun mindset mereka,” imbuh warga RT 1/RW 1, Desa Criwik, Kecamatan Pancur, Rembang, ini. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 02 Apr 2019 09:55:27 +0700
<![CDATA[Dapat Kostum Dua Jam Sebelum Final]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/01/128862/dapat-kostum-dua-jam-sebelum-final https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/01/dapat-kostum-dua-jam-sebelum-final_m_128862.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/01/dapat-kostum-dua-jam-sebelum-final_m_128862.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/01/128862/dapat-kostum-dua-jam-sebelum-final

Beberapa jam sebelumnya, Sabel Devita masih sibuk cari kostum. Untuk tampil di final Duta Genre 2019 Jepara. Tak terfikir di benaknya untuk menang.]]>

Beberapa jam sebelumnya, Sabel Devita masih sibuk cari kostum. Untuk tampil di final Duta Genre 2019 Jepara. Tak terfikir di benaknya untuk menang. Siapa sangka, juri kepincut dengan penampilannya menari, nembang, dan baca puisi. Gelar Duta Genre Jepara 2019 pun suskes diembannya.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Jepara

SABELA Devita tampil menawan dengan kebaya kuning. Dipadu rok panjang warna cokelat bermotif batik awan hitam. Serasi dengan jilbab krem yang dikenakannya. Tak hanya paras jelita dengan dipadu make up naturalnya, dara kelahiran Jepara, 16 Februari 199 ini juga menonjol soft skill-nya. Terutama di bidang olah suara.

”Kemarin (saat kompetisi,Red) saya lebih menonjolkan sosialisasi sama uji bakat. Menari, nembang, dan puisi,” ujarnya.

Dari kepiawaiannya itu yang mungkin mampu membuat dewan juri kepincut menjadikannya Juara I. Padahal ia mengaku persiapan untuk kompetisi ini hanya tiga hari. Kostum serasi yang ia kenakan itu juga baru didapatkan pukul 07.00 pada hari H. Sementara kompetisi dimulai sekitar pukul 09.00.

”Instrumen ketika uji bakat juga beda dengan yang saya pelajari. Akhirnya improve sendiri waktu di panggung,” katanya.

Jepara baru saja menemukan dutanya untuk menyosialisasikan sikap mental positif kepada para remaja. Ya, duta seleksi Generasi Berencana (Genre) baru saja digelar Sabtu (30/3) di Pendapa Kabupaten Jepara. Dara berjilbab itu berhasil menjadi yang terbaik dari total 30 peserta.

Jika dilihat jam terbangnya, mahasiswi Universitas Wahid Hasyim Semarang ini memang memiliki segudang pengalaman berkompetisi. Seperti Duta Wisata 2016, Duta Anti Narkoba 2018, dan Duta Parade Cinta Tanah Air 2018.Bahkan kompetisi tingkat nasional pun pernah dilahapnya. Medali perak Lomba Paduan Suara Mahasiswa pada Oktober 2018 lalu berhasil ia kantongi.

”Malam sebelum kompetisi itu (paduan suara,Red) suara saya sempat hilang. Karena kondisi badan saat itu nge-drop. Terus, waktu kompetisi juga tidak didampingi pelatih vokal. Alhamdulillah paginya suara bisa keluar,” kenangnya.

Kini salah satu remaja kebanggan Kota Ukir ini mengemban tugas berat. Menjadi duta berarti menjadi model bagi remaja lain. Apalagi, di era globalisasi yang serba mudah akses, menimbulkan muncul perilaku-perilaku yang kurang sesuai dengan budaya bangsa. Seperti seks bebas dan penyalahgunaan NAPZA.

Sabela juga sepakat dengan fenomena tersebut. Melihat banyaknya permasalahan remaja di Jepara membuatnya tergerak untuk berpartisipasi mengurangi masalah tersebut. ”Saya berfikir jika saya mengikuti duta Genre, saya mempunyai wadah untuk mengurangi, bahkan menyelesaikan permasalahan seperti HIV/AIDS, NAPZA tentu dengan bekerja sama dengan pemerintah,” jelasnya.

Menurutnya, tantangan ketika bersosialisasi di masyarakat adalah partisipasi dan ketertarikan masyarakat untuk ingin tahu. Tapi sepertinya tak mematahkan semangatnya. Sabela sudah memikirkan inovasi-inovasi baru dalam sosialisasinya untuk menarik perhatian masyarakat. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 01 Apr 2019 10:07:36 +0700
<![CDATA[Sulap Sampah Rumah Tangga Jadi Pupuk Organik Cair]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/30/128509/sulap-sampah-rumah-tangga-jadi-pupuk-organik-cair https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/30/sulap-sampah-rumah-tangga-jadi-pupuk-organik-cair_m_128509.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/30/sulap-sampah-rumah-tangga-jadi-pupuk-organik-cair_m_128509.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/30/128509/sulap-sampah-rumah-tangga-jadi-pupuk-organik-cair

Tong Biorganik bukan sembarang tempat sampah. Yang hanya bisa menampung sampah. Tong bikinan Noor Akhsan ini bisa menghasilkan pupuk organik cair.]]>

Tong Biorganik bukan sembarang tempat sampah. Yang hanya bisa menampung sampah. Tong bikinan Noor Akhsan ini bisa menghasilkan pupuk organik cair. Dengan memanfaatkan sampah rumah tangga. Prinsipnya, sampah harus dikelola. Bukan hanya dibuang.

DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

DUA tong di depan rumah Noor Akhsan terlihat seperti tempat sampah pada umumnya. Namun ketika dicermati lebih detail, tong berwarna hijau dan putih ini ternyata memiliki fungsi lain. Tampilan Tong Biorganik sangat sederhana. Hampir serupa dengan tong-tong sampah pada umumnya. Tapi dapat langsung mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair secara setempat dalam satu lokasi. Selain menampung sampah rumah tangga, fungsi kedua tong ini lebih dari sekadar itu. Tong ini dapat menghasilkan pupuk organik cair. ”Belum lama ini saya buat, namanya tong biorganik,” kata lelaki kelahiran Kudus, 4 Maret 1984 itu.

Pria yang tinggal di Jalan Hastrodirono, RT 6/RW 4, Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus  ini mengaku, ide awal pembuatan ini berawal karena kegelisahannya terhadap permasalahan sampah yang tak kunjung terselesaikan. Sebagai pemuda, Akhsan -sapaan akrabnya- tak ingin hanya berpangku tangan dengan permasalahan ini. Selama berbulan-bulan ia berfikir keras mencari ide agar bisa ikut berpartisipasi mengatasi persoalan sampah.

”Setelah saya analisis, kelihatannya permasalahan ada pada pengelolaan sampah. Dengan tong biorganik ini saya ingin ada paradigma baru pengelolaan persampahan. Jadi bukan lagi buanglah sampah pada tempatnya, akan tetapi sudah berubah menjadi kelola sampah dari sumbernya,” jelasnya.

Tong sampah penghasil pupuk organik cair memanfaatkan bioreaktor dengan sistem kontinyu. Modelnya menggunakan tangki pendam. Cara kerjanya cukup mudah. Tong Biorganik menggunakan sistem fermentasi yang berkesinambungan, terhadap sampah organik oleh mikroorganisme yang ada di dalam ruang bioreaktor atau tangki pendam.

”Mikroorganisme sebagai starter dapat berasal dari EM4. Bisa juga dari mikroorganisme Lokal yang berasal dari pupuk organik cair yang telah diproduksi sebelumnya. Bisa dari rumen hewan ternak, air cucian beras, hingga rendaman nasi sisa,” katanya.

Setelah berisi mikroba, selanjutnya diisi dengan sampah organik yang berupa sisa makanan, sisa sayur, sisa buah, dan sampah organik lainnya. Ini berfungsi sebagai media berkembangbiaknya mikroorganisme di dalam ruang bioreaktor. Kemudian pupuk organik cair yang merupakan hasil penguraian sampah organik oleh mikroba, akan terdorong menuju tong output setiap kali ada pemasukan sampa di tong input.

Selain dorongan dari sampah organik baru yang masuk, pupuk organik cair juga akan terdorong menuju tong output oleh tekanan biogas, yang selalu dihasilkan oleh bakteri pengurai saat proses fermentasi. Selanjutnya pupuk organik cair dapat dimanfaatkan untuk pemupukan media tanam atau lahan pertanian. Selain itu, dapat juga dimanfaatkan sebagai dekomposer untuk membantu mempercepat proses pengomposan sampah organik di dalam bak komposter menjadi pupuk kompos.

”Saya rasa ini praktis, mudah, dan murah untuk diterapkan di rumah. Jadi masyarakat dapat melakukan penanganan sampah dari sumbernya secara mandiri. Ketika sampah organik tertangani maka dengan sendirinya sampah anorganik juga tertangani. Karena sampah yang ada sudah terpilah antara sampah organik dan anorganik,”  tuturnya.

Akhsan berharap, tong bikinannya dapat membantu masyarakat untuk mengelola sampah organik secara mandiri. Selain itu, juga diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi sampah organik. Sehingga dapat membantu program pemerintah dalam mengurangi sampah dari sumbernya, guna meringankan beban TPA dan memperpanjang umur pakai TPA.

Tong Biorganik ini dapat diproduksi secara massal. Sehingga memungkinkan untuk digunakan dan dimanfaatkan masyarakat mulai dari skala rumah tangga, di pasar, hingga di TPA. ”Pembuatan tong biorganik cukup murah,” imbuhnya.

Agar teknologi Tong Biorganik ini semakin efektif dan efisien, Akhsan akan terus mengembangkannya. Bahkan juga diperlukan riset dan penelitian lebih lanjut. Ia berharap bisa melakukannya, sehingga manfaatnya dapat lebih dirasakan oleh masyarakat. Khususnya dalam upaya pengelolaan persampahan yang efektif dan efisien. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 30 Mar 2019 08:01:39 +0700
<![CDATA[Tantangan Foto dengan Warga Lokal dan Cari Patung Copernicus]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/29/128295/tantangan-foto-dengan-warga-lokal-dan-cari-patung-copernicus https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/29/tantangan-foto-dengan-warga-lokal-dan-cari-patung-copernicus_m_128295.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/29/tantangan-foto-dengan-warga-lokal-dan-cari-patung-copernicus_m_128295.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/29/128295/tantangan-foto-dengan-warga-lokal-dan-cari-patung-copernicus

Mahasiswi asal Jepara Brelyantika Indra Jesa kembali ambil bagian dalam forum internasional. Kali ini, dia terlibat dalam kegiatan Inclusive Adventure Education]]>

Mahasiswi asal Jepara Brelyantika Indra Jesa kembali ambil bagian dalam forum internasional. Kali ini, dia terlibat dalam kegiatan Inclusive Adventure Education 2019 yang digelar oleh Erasmus di Varna, Bulgaria. Sebelumnya, dia telah mengikuti setidaknya lima kegiatan internasional. Seperi International Workcamp Germany 2018.

FEMI NOVIYANTI, Jepara

MESKI telah berkali-kali ambil bagian di forum tingkat internasional, namun bagi Brelyantika Indra Jesa setiap kegiatan memiliki cerita tersendiri. Banyak pula cerita menarik yang didapatkannya saat ambil bagian dalam kegiatan Inclusive Adventure Education 2019 di Varna, Bulgaria, beberapa waktu lalu.

Terkait keikutsertaannya dalam kegiatan tersebut, gadis yang akrab disapa Tika ini, mengatakan, dia menjadi satu dari empat perwakilan organisasi Great Indonesia untuk ambil bagian dalam kegiatan tersebut. ”Partisipannya dari delapan negara. Yakni Rumania, Turki, Jerman, Nepal, India, Thailand, Indonesia, dan Bulgaria. Masing-masing negara mengirim tiga sampai empat partisipan,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Kegiatan ini berlangsung selama tujuh hari mulai 5 hingga 11 Maret. Berbagai aktivitas menarik diikutinya. Mulai dengan berkenalan sesama partisipan sampai berlanjut pada penjelasan mengenai adventure education.

Mahasiswa Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung ini, menjelaskan, adventure education ini intinya berani keluar dari zona nyaman untuk mengembangkan kemampuan interpersonal dan intrapersonal. ”Dalam kegiatan itu ada challenge yang harus dilakukan. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengikuti challenge. Mulai dari harus berfoto dengan orang lokal, foto di pantai, hingga mencari patung Nicolaus Copernicus. Ada pula sesi presentasi bagaimana kondisi di negara kami masing-masing,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, dia mengangkat presentasi tentang disabilitas di Indonesia. ”Tema tiap negara bisa berbeda. Ada yang mengangkat soal bencana, imigran, dan lainnya,” ujarnya.

Secara umum, Tika menjelaskan, kegiatan lebih ke permainan tetapi yang memiliki tujuan untuk membangun kepercayaan antaranggota dan teamwork. ”Setelah mengikuti kegiatan di Bulgaria itu, kami diharuskan melaksanakan training yang sama di komunitas lokal di negara masing-masing. Sebelum kembali ke negara masing-masing kami juga sudah mempresentasikan mau melaksanakan kegiatan seperti apa di negara kami dan secara langsung diberi feedback oleh peserta dan trainer di sana,” ujarnya.

Ditanya mengenai pengalaman di luar kegiatan itu, lokasi kegiatan dekat dengan beberapa tempat menarik. Hal itu dimanfaatkannya untuk sekaligus mengunjungi. ”Lokasi kegiatan dekat dengan Black Sea. Hampir setiap hari ke laut itu. Sempat juga ke Masjid Al-Azizi di Varna Bulgaria dan ke beberapa church,” ujarnya.

Training yang diikutinya itu berjenjang. Setelah training pertama di Bulgaria akan berlanjut di Turki pada Mei dan terakhir study visit di India pada September mendatang. ”Namun perwakilan yang dikirim bergantian,” pungkasnya.

Pengalaman itu menambah sederet prestasi yang pengalaman yang telah dikantonginya. Beberapa prestasi yang sebelumnya telah diraih Tika di antaranya, juara I lomba karya ilmiah olimpiade mahasiswa STKS Bandung 2017, juara III lomba duta genre Kota Bandung 2018, hingga juara III Duta Wisata Jepara 2018.

Di forum internasional, dia pernah ambil bagian dalam Asia Youth Model United Nations (Ayimun) di Kuala Lumpur, Malaysia 2017; peserta Glocal Citizenship Bootcamp Chai Wan Hong Kong yang digelar Voltra Hong Kong 2018; peserta Macao International Workcamp; peserta The Feast of Na-Tcha in the Historic Center of Macao which is organized by Macao New Chinese Youth Association (MNCYA) 2018; petugas penghubung Indonesia di Tur Diplomatik yang diikuti 20 duta besar di Jepara; serta International Workcamp Germany 2018. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 29 Mar 2019 09:33:58 +0700
<![CDATA[Pendiam di Luar Arena, Garang Hadapi Lawan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/28/128091/pendiam-di-luar-arena-garang-hadapi-lawan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/28/pendiam-di-luar-arena-garang-hadapi-lawan_m_128091.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/28/pendiam-di-luar-arena-garang-hadapi-lawan_m_128091.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/28/128091/pendiam-di-luar-arena-garang-hadapi-lawan

Dikenal sebagai gadis kecil pendiam, Firda Aprilianti memiliki sisi lain saat bertanding di arena silat. Ia menjadi sosok yang garang saat bertanding.]]>

Dikenal sebagai gadis kecil pendiam, Firda Aprilianti memiliki sisi lain saat bertanding di arena silat. Ia menjadi sosok yang garang saat bertanding. Tidak heran berbagai kejuaraan pernah ia raih mulai tingkat kabupaten hingga nasional.

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara

KERINGAT menetes dari dahi  Firda Aprilianti hingga leher. Keringat itu membasahi wajah sampai sekujur badannya. Gerakan demi gerakan ia peragakan. Jurus dari padepokan Silat Satria Muda Indonesia dipraktikkan tanpa ragu.

Usai meragakan jurus. Uji bertanding dilakukan pelatih. Setelah dimulai, sapuan kakinya langsung mengarah lawan. Lawan mengelak. Tiba-tiba gerakan memutar sambil menendang dilayangkan Firda. Lawan yang mengenakan pelindung diri terkena tendangan di bagian dada. Lalu terjatuh.

Lawannya tak mau kalah. Jepitan kaki meluncur ke arah kaki Firda. Ia mengelak. Guntingan lawan gagal. Saat lawannya berdiri, gantian ia tiba-tiba menggunting bagian kaki lawan. Lawannya terjatuh. Lalu salah satu pelatih menghentikan uji tanding. Firda menjadi pemenangnya.

Latihan itu berlangsung di perguruan SMI Unit Batealit RT 23/RW 5, Desa Bawu. Firda yang terlihat garang saat bertanding ternyata dikenal sebagai gadis kecil yang pendiam. Usai latihan atau bertanding, tidak ada ekspresi senang, senyum, maupun melontarkan sepatah kata. Datar. Itu kesan pesilar cilik kelahiran Jepara, 2 Januari 2008 ini.

“Fokus latihan, latihan, dan latihan. Karena sudah mencintai silat. Dengan silat harapan saya bisa membanggakan orang tua,” tutur siswi kelas 5 SDN 3 Ngasem ini.

Ia mulai menggeluti silat sejak kelas 3. Berbagai kejuaraan pun pernah ia raih. Di antaranya  juara I Satria Muda Indonesia Cup Kabupaten Jepara ketegori seni, juara I Satria Muda Indonesia Cup Kabupaten Jepara ketegori tanding kelas A putri. Dan yang terakhir, juara I atau meraih medali emas pada ajang Yogyakarta Championship (YKTC) 5 tingkat nasional.

“Awalnya saya main di cabang seni. Tapi kata pelatih potensi saya di tanding. Karena di seni harus telaten. Saya memang sukanya di tanding,” katanya sambil tersenyum malu.

Di ajang itu ia bertanding dua kali hingga ke puncak juara. Jika ia biasa melawan pendekar silat dari satu perguruan, kali ini ia melawan pesilat dari berbagai perguruan. Lawan pertama yang ia hadapi cukup sepadan. Namun ia berhasil mengalahkannya.

Saat di final, teknik lawan lebih baik dari lawan sebelumnya. Ia pun mengaku sempat grogi dan gugup. Tapi di akhir pertandingan ia berhasil keluar sebagai juara. “Semua teknik dan kemampuan saya keluarkan semua. Ini pengalaman pertama di ajang nasional. Tidak boleh saya sia-siakan,” tandasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 28 Mar 2019 08:55:12 +0700
<![CDATA[Bawakan Nasi Sambal Setiap Besuk ke Rutan Polres]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/27/127867/bawakan-nasi-sambal-setiap-besuk-ke-rutan-polres https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/27/bawakan-nasi-sambal-setiap-besuk-ke-rutan-polres_m_127867.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/27/bawakan-nasi-sambal-setiap-besuk-ke-rutan-polres_m_127867.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/27/127867/bawakan-nasi-sambal-setiap-besuk-ke-rutan-polres

Sebungkus nasi dan sambal. Hanya itu yang bisa dibawakan Swarini untuk Jasmin. Bekal yang dibawa Suwarini setiap membesuk sang suami, Jasmin di Rutan Polres.]]>

Sebungkus nasi dan sambal. Hanya itu yang bisa dibawakan Suwarini untuk Jasmin. Bekal yang dibawa Suwarini setiap membesuk sang suami, Jasmin di Rutan Polres Blora. Yang ditahan karena terpaksa menjual kayu Perhutani senilai Rp 100 ribu, demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

SUBEKAN, Blora

Jasmin (POLSEK JEPON FOR RADAR KUDUS)

DENGAN bertelanjang dada, Jariyo tiduran di atas bangku dari kayu. Persis di depan rumahnya yang juga terbuat dari kayu. Ayah Jasmin itu hanya mengenakan celana kolor pendek. Warna hitam. Lengkap dengan tongkat kayu. Yang selalu jadi pegangan Jariyo ketika berjalan.

Tahan, ibu Jasmin yang duduk di sebelah Jariyo memandang dengan seksama. Ketika wartawan koran ini menyalaminya. Lalu, keluarlah Suwarini dari dalam rumah kayu yang sederhana itu. ”Monggo mas, mlebet,” sambut Suwarini sambil berjabat tangan.

Tepat 16 hari ini, Jasmin mendekam di balik jeruji besi Polres Blora. Setiap tiga hari sekali, Suwarini, suami Jasmin selalu menjenguknya. Selalu membawa nasi dan sambal. Sebagai bekal untuk Jasmin. Meskipun, di dalam rutan sebenarnya juga sudah ada jatah makan untuk Jasmin. ”Anane geh niku mas. Penting saget kepanggeh bapae (Jasmin, Red) sampun remen,” terangnya.

Untuk menjenguk suami, Suwarini tak bisa sendiri. Karena tak punya kendaraan. Sepeda ontel saja tak punya, apalagi sepeda motor. Harus minta bantuan saudara. Yang bisa mengantarkannya ke Polres Blora. Hanya bensin, imbalan yang bisa diberikan Suwarini ke saudara yang mengantarkannya. Dari rumahnya ke Polres Blora, butuh waktu sekitar 20 menit. ”Nyuwun tulung tiang mas, mengke numbaske bensin. Arto geh mboten gadah,” imbuhnya.

Suwarini mengaku, semenjak suaminya ditahan, banyak tetangga yang bersimpati kepadanya. Sehingga beberapa kali dia ditawari untuk njagul atau menjadi buruh. Mulai dari matun, tandur, panen jagung di hutan, dan lainnya.

Baginya, uang hasil menjadi buruh cukup untuk makan sehari-hari. Untuk tiga orang. Suwarini sendiri dan kedua orang tuanya. Suwarini juga selalu menyisihkan upah itu untuk membeli bensin, ketika menjenguk suami di Rutan Polres Blora.

Menurutnya, sang suami dalam kondisi baik dan sehat. Pria berusia 53 tahun itu pasrah atas kasus yang menimpanya. Ketika dijenguk Suwarini, Jasmin selalu berpesan agar jangan sering membawakan makanan. ”Bapae pesen, nak moro mboten usah mbeto sego, teng mriko mpun disukani. Karepe kulo geh kagem tambahan maem,” ucapnya.

Sambil mengusap air mata, Suwarini mengaku beberapa hari lalu didatangi bapak-bapak dari Surabaya. Yang tak lain adalah Direktur Radar Kudus Baehaqi. Selain silaturrahim, Baehaqi juga membantu mengobatkan kedua mertuanya yang sedang sakit. ”Niki sampun mari. Matursuwun sanget mas kagem Pak Baehaqi. Mugi panjang umur dikasei maring pengeran,” ucapnya.

Warga RT 03/RW 01, Desa Singonegoro, Kecamatan Jiken, Blora itu harus mendekam di Rutan Polres Blora. Jasmin digelandang usai menjual kayu persegi berukuran 400 cm x 10 cm x 8 cm dengan harga Rp 100 ribu. Celakanya, yang dia tawari kayu itu adalah polisi hutan. Alhasil, Jasmin digelandang ke Polres Blora. Jasmin terpaksa harus menjual kayu itu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kapolres Blora AKBP Antonius Anang Tri Kuswindarto melalui Kasat Reskrim AKP Heri Dwi Utomo mengungkapkan, saat ini Jasmin masih ditahan di Rutan Polres Blora. Pihaknya belum bisa memastikan kapan kasus tersebut dilimpahkan ke kejaksaan. ”Ini masih pemberkasan,” ungkapnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 27 Mar 2019 08:46:44 +0700
<![CDATA[Diguyur Rp 6,4 Miliar, 1.632 KK Bebas dari Kesulitan Air]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/26/127621/diguyur-rp-64-miliar-1632-kk-bebas-dari-kesulitan-air https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/26/diguyur-rp-64-miliar-1632-kk-bebas-dari-kesulitan-air_m_127621.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/26/diguyur-rp-64-miliar-1632-kk-bebas-dari-kesulitan-air_m_127621.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/26/127621/diguyur-rp-64-miliar-1632-kk-bebas-dari-kesulitan-air

PT Semen Gresik berkontribusi positif mencarikan solusi terkait persoalan air bersih di desa-desa kawasan perusahaan. Anggaran miliaran rupiah pun dikucurkan.]]>

PT Semen Gresik berkontribusi positif mencarikan solusi terkait persoalan air bersih di desa-desa kawasan sekitar perusahaan. Anggaran hingga miliaran rupiah digelontorkan agar warga bisa menikmati air bersih dengan mudah dan melimpah. Progam air bersih ini juga diarahkan meningkatkan partisipasi pemerintahan desa terkait pelayanan hal dasar kepada warganya. Seperti apa?

ALI MAHMUDI, Rembang

KEPALA Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik, Kuswandi mengatakan progam air bersih yang dijalankan jajarannya sudah dilakukan sejak 2016. Sasarannya kawasan sekitar perusahaan, baik wilayah Kabupaten Rembang maupun Blora.

Progam mengatasi krisis air bersih itu diterapkan di sejumlah desa. Mulai dari Dukuh Wuni Desa Kajar, Desa Timbrangan, Pasucen, Bitingan, dan Tegaldowo (Kabupaten Rembang), serta Dukuh Tambakselo Desa Ngampel, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora.

Tak hanya itu, juga ada progam pembangunan Embung Tegaldowo dan Embung Banyu Sumurup. Selain itu, juga rencana revitalisasi Telaga Gunung Butak yang wilayahnya meliputi beberapa desa di Kecamatan Gunem dan Sale.

”Total anggaran yang sudah dikucurkan untuk progam mengatasi krisis air bersih ini mencapai Rp 6,4 miliar. Penerima manfaat progam itu 1.632 KK. Jika tiap KK berisi dua orang saja, maka lebih dari 3.200 warga yang merasakan manfaat progam Semen Gresik ini,” kata Kuswandi.

Kegiatan yang dilakukan Semen Gresik ada yang berupa mencarikan sumber air, pembangunan tandon dan pipanisasi air bersih untuk dimanfaatkan warga. Namun, ada juga yang diarahkan untuk irigasi pertanian maupun kepentingan lainnya.

Sejauh ini, tidak ada kendala terkait progam yang dijalankan jajarannya. Progam air bersih di sejumlah desa baik wilayah Rembang maupun Blora bahkan sudah dirasakan manfaatnya oleh warga penerima. Khusus rencana progam revitalisasi Telaga Gunung Butak proses izinnya sudah diurus mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, hingga pusat.

Kuswandi berharap progam ini nantinya bisa disinergikan dengan kegiatan pemerintah desa setempat. Ia mencontohkan jika Semen Gresik mendekatkan air bersih dari sumber mata air ke bak penampungan, maka pemerintah desa bisa membuat pipanisasi dari tandon tersebut ke rumah-rumah warga.

”Ini kerja sama yang sinergis. Jadi seluruh pihak terlibat sehingga nanti ada rasa ikut memiliki, merawat, dan menjaga bersama,” tuturnya.

Jika progam tersebut sudah jalan, diharapkan pengelolaan air bersih itu bisa dikelola oleh BUMDes setempat. Hal ini seperti yang sudah diterapkan di Desa Pasucen yang air bersihnya juga dibantu Semen Gresik. Di sana, tiap bulan PT BUMDes Pasucen Mandiri bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 1,7 juta dari hasil pengelolaan air bersih. Uang pendapatan itu yang digunakan untuk biaya operasional, perawatan hingga menggaji petugas yang mengurusi air bersih. ”Harga per meter kubik yang harus dibayar warga lebih murah dibanding PDAM,” terang Kuswandi.

Kepala Desa Pasucen Salamun mengatakan, persoalan air bersih yang membayangi warganya teratasi berkat bantuan Semen Gresik. Sebelumnya, tiap kemarau panjang, pihaknya selalu mengajukan bantuan dropping air bersih ke pemerintah. Pasalnya, air sumur di rumah warga berkurang drastis bahkan mengering.

Lalu, Semen Gresik mengucurkan bantuan sekitar Rp 200 juta yang digunakan untuk pembelian mesin penyedot air, pembangunan tandon, hingga pipanisasi. Praktis, sejak saat itu warga desanya tak perlu lagi risau kekurangan air bersih saat kemarau panjang. ”Bantuan Semen Gresik sangat berarti. Ada sekitar 100 KK yang terlayani air bersih progam itu,” ucap Salamun.

Tak hanya itu, Semen Gresik juga kembali mengucurkan bantuan sebesar Rp 15 juta. Dana itu digunakan sebagai modal PT BUMDes Pasucen Mandiri untuk mengelola air bersih. Saat ini, pihaknya berupaya memperluas cakupan wilayah pelayanan air bersih agar bisa menjangkau seluruh warga Desa Pasucen. Terkait hal itu, pihaknya juga ikut  mengucurkan anggaran sebesar Rp 90 juta dari dana desa.

”Target kami layanan air bersih itu bisa menjangkau hingga kawasan perbukitan, persisnya di Dukuh Bandilan yang lokasinya sekitar satu kilometer dari pusat desa,” ungkap Salamun.

Sementara itu, Kepala Desa Kajar Sugiyanto mengatakan, pihaknya mengapresiasi upaya Semen Gresik mencarikan solusi persoalan air bersih di Dukuh Wuni. Sebab selain kawasan pemukiman yang dihuni 350 jiwa, Dukuh Wuni juga memiliki berbagai fasilitas publik mulai dari sekolah, tempat ibadah, hingga balai pertemuan warga.

”Selama ini air memang jadi masalah utama warga. Semoga setelah ini tidak ada lagi cerita warga kami yang kekurangan atau bahkan krisis air bersih. BUMDes Kajar juga siap menggarap progam air bersih ini agar manfaatnya lebih bisa dirasakan seluruh warga,” ujar Sugiyanto.

Direktur PT BUMDes Ngampel Berkarya Desa Ngampel, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Blora, Galih Hangga mengatakan, pihaknya juga mengembangkan progam air bersih yang sudah dirintis Semen Gresik. Selain untuk melayani warga desanya, diharapkan juga bisa memenuhi kebutuhan penduduk desa tetangga.

”Progam air bersih termasuk andalan BUMDes Ngampel. Potensi lain semisal pengembangan produk berbahan dasar ketela juga akan kita garap. Pelatihan yang diadakan Semen Gresik sangat berguna menambah wawasan dan ketrampilan kami untuk memaksimalkan potensi yang ada di desa,” tandas Galih Hangga. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 26 Mar 2019 10:07:17 +0700
<![CDATA[Gandeng Perguruan Tinggi, Carikan Solusi Inti]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/25/127453/gandeng-perguruan-tinggi-carikan-solusi-inti https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/25/gandeng-perguruan-tinggi-carikan-solusi-inti_m_127453.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/25/gandeng-perguruan-tinggi-carikan-solusi-inti_m_127453.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/25/127453/gandeng-perguruan-tinggi-carikan-solusi-inti

Krisis air bersih kerap membayangi warga Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora bagian utara ketika musim kemarau. Saat itu warga meminta bantuan droping air.]]>

Krisis air bersih kerap membayangi warga Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora bagian utara ketika musim kemarau. Saat itu warga meminta bantuan droping air bersih ke pemerintah atau pihak lain. PT Semen Gresik berupaya mencarikan solusi atas persoalan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun tersebut.

ALI MAHMUDI, Rembang

JANTUNG Muhammad Fahmi mulai berdegup kencang saat berada di depan lubang selebar 1 meteran di tepian gua bekas tambang fosfat di Dukuh Wuni, Desa Kajar, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, beberapa waktu lalu. Lubang itu sebenarnya bukan pintu utama gua sedalam 200 meteran itu. Namun karena jalur utama masuk ke dalam gua terlalu curam akhirnya tim CSR PT Semen Gresik memberanikan diri masuk ke tubuh bumi melalui jalur alternatif tersebut.

Petualangan tersebut, dilakukan dalam rangka mencari sumber air yang bakal digunakan untuk mencukupi kebutuhan air bersih warga Dukuh Wuni. Selama bertahun-tahun, sekitar 135 kepala keluarga (KK) atau 350 jiwa yang tinggal di kawasan perbukitan kapur ini kekurangan air bersih. Dulu, mereka terpaksa berjalan kaki sembari memanggul jeriken sekitar 1,5 kilometer. Itu dilakukan untuk mengambil air bersih yang sumbernya terletak di Desa Waru, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora.

Tahun 2016, PT Semen Gresik sebenarnya sudah berusaha mencarikan solusi terkait persoalan yang dialami warga di Dukuh Wuni ini. Caranya air bersih dari mata air di Desa Waru dialirkan melalui pipa dan ditampung di bak tandon yang dibangun di Dukuh Wuni. Warga Dukuh Wuni tinggal mengisi jeriken dan membawanya pulang ke rumah.

Namun belakangan muncul gesekan antara warga Desa Waru dan Dukuh Wuni. Pangkal persoalannya, ternyata debit air di mata air Desa Waru itu minim, terlebih saat musim kemarau. Sehingga jika terus dialirkan melalui pipa ke Dukuh Wuni maka warga Desa Waru khawatir justru tidak kebagian air bersih.

“Akhirnya kami berinisiatif mencari sumber air lain untuk mencukupi kebutuhan warga Dukuh Wuni. Nah, sumber mata air di dalam gua (sungai bawah tanah) itu salah satu yang kita jajaki. Karena airnya melimpah dan debitnya cukup serta stabil maka kita pakai itu,” kata Koordinator Tim CSR PT Semen Gresik, Muhson.

Sebelum petualangan mencari sungai bawah tanah ini dimulai, tim memanjatkan doa. Lalu setelah itu, secara bergiliran, Fahmi, Muhson, Yusrol, Supriyanto didampingi dua warga Dukuh Wuni masuk ke lubang selebar 1 meteran itu. Cahaya dari senter yang mereka bawa menjadi lampu penerang andalan di dalam perut bumi. Setelah merangkak sekitar 5 meter, mereka disambut tangga yang terbuat dari bambu. Satu tangan berpegangan pada tali, dan satu tangan lainnya memegang bambu, mereka pun menuruni satu per satu anak tangga itu.

Sukses menuruni tangga pertama, mereka kembali harus merunduk dan merangkak menuruni jalan terjal, tajam berliku sekitar 20 meteran. Setelah itu, mereka kembali “disambut” anak tangga sepanjang 4 meteran. Dengan pola yang sama, mereka kembali menuruni satu per satu anak tangga itu. Lalu, mereka kembali harus melalui jalan terjal berliku sepanjang 45 meter.

Perjuangan menuruni anak tangga, merunduk, merangkak dilakukan hingga beberapa kali. Kondisi medan yang licin menyusahkan tim. Sempat terjadi insiden kecil. Kaca mata yang dipakai Fahmi berselimut embun. Sialnya, tangan lelaki kurus ini juga basah oleh air bercampur tanah. Praktis, ia pun geragapan. Kepalanya sempat membentur dinding doa yang terbuat dari bebatuan keras.

Tak hanya itu, saat melintasi kubangan air, ternyata oksigen di dalam perut bumi itu juga kian menipis. Fahmi dan kawan-kawannya terpaksa menahan nafas dan menghemat oksigen di paru-parunya agar tak jatuh pingsan. Setelah berjalan tertatih-tatih melalui jalur sempit serupa labirin itu, Fahmi dan tim CSR Semen Gresik akhirnya sampai di dasar gua.

“Medannya mengerikan, untung tidak ada anggota tim yang mengalami kram. Tapi kalau diminta turun lagi saya angkat tangan. Untung hasilnya menggembirakan jadi ini tidak sia-sia,” ujar Fahmi.

Di dasar gua, terdapat sungai dengan lebar 1 meteran dan panjang mencapai 30 meteran. Berdasar hasil pengecekan tim, ternyata sumber air permukaan ini layak digunakan. Debit airnya juga diperkirakan stabil baik saat musim penghujan maupun kemarau. Tim CSR pun memastikan sumber air di dalam gua bekas tambang fosfat itu yang akan digunakan untuk mensuplai dan memenuhi kebutuhan air bersih warga Dukuh Wuni.

“Teknisnya nanti air kita sedot, dinaikkan melalui pipa dan dialirkan ke tandon yang sebelumnya digunakan untuk menampung air dari Desa Waru. Target tahun ini sudah rampung,” jelasnya.

Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik, Kuswandi mengatakan, pihaknya berkomitmen membantu mencarikan solusi terkait persoalan krisis air bersih di desa-desa kawasan sekitar perusahaan semen terkemuka ini. Terkait hal itu, pihaknya menggandeng Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Akademisi dari Kota Gudeg ini melakukan kajian tentang sumber air di desa sekitar Pabrik Rembang. Kajian diarahkan tidak hanya sekedar potensi sumber airnya saja, namun juga penggunaannya untuk mengatasi krisis air bersih yang kerap dialami warga ring 1 dan sekitarnya.

“Baik kuantitasnya semisal debit hingga kualitasnya diteliti. Rekomendasi tim UGM itu itu yang kita jalankan,” jelas Kuswandi. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Mar 2019 14:43:21 +0700
<![CDATA[Banting Lawan Lebih Besar, Ingin Berprestasi Internasional]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/25/127380/banting-lawan-lebih-besar-ingin-berprestasi-internasional https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/25/banting-lawan-lebih-besar-ingin-berprestasi-internasional_m_127380.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/25/banting-lawan-lebih-besar-ingin-berprestasi-internasional_m_127380.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/25/127380/banting-lawan-lebih-besar-ingin-berprestasi-internasional

Meski berpostur kecil, pesilat cilik ini memiliki prestasi besar. Dia bahkan dapat membanting lawan yang bertubuh lebih gede darinya.]]>

Meski berpostur kecil, pesilat cilik ini memiliki prestasi besar. Dia bahkan dapat membanting lawan yang bertubuh lebih gede darinya. Dia menjuarai perlombaan silat tingkat nasional dalam even Yogyakarta Championship V.

VACHRI RINALDY LUTFI PAMBUDI, Jepara

PELINDUNG badan sudah dipasangkan dan diikatkan dengan kuat oleh pelatih. Begitupun deker pengaman kaki. Kini Muhammad Khaizun Niamil Akbar sudah mempersiapkan kuda-kudanya. Sorot matanya tajam menatap lawan yang postur tubuhnya lebih besar. Jika dilihat tingginya sama, sekitar 130 sentimeter. Tetapi berat badan mereka terlihat mencolok. Niam, tampak jauh lebih kurus dibanding lawannya yang bisa dibilang gendut.

Pelatih sudah memberikan aba-aba mulai. Niam maju sembari tetap mempertahankan kuda-kuda. ”Wus.. wus..,” suara niam ingin mengecoh pertahanan lawan. Brak..., satu tendangan mantap mengenai perut si lawan.

Merasa tak terima, lawannya yang gendut tadi membalas dengan tendangan. Dengan sigap Niam langsung menangkap dan membanting lawannya.

”Berhenti... cukup,” seru pelatih menyudahi sesi lawan tanding. Niam dan lawannya tadi pun langsung bersalaman dan berpelukan. Kemudian mereka kembali saling melempar canda.

”Kelas berapa, tos dulu dong,” sapa Jawa Pos Radar Kudus. Niam langsung menepukkan telapak tangannya dengan telapak tangan wartawan koran ini.

”Kelas V, SDN 2 Pekalongan, Batealit, Jepara,” jawab bocah kelahiran Jepara, 17 Desember 2007 itu senyam-senyum sambil menggigit bibir bagian bawah. Sepertinya dia sedang malu. Ia mengikuti latihan silat sejak kelas tiga.

Ia menyukai olah raga pencak silat. Karena di Padepokan Silat Satria Muda Indonesia ini ia dikelilingi teman-teman yang ramah, serta pelatih yang baik. Selain itu ia juga ingin berprestasi untuk bangsa, dan menjaga tradisi.

Latihan fisik, seperti push up menjadi makanan sehari-hari. Bagaimana tidak. Dalam satu pekan ia latihan enam hari. Hanya satu hari ia libur latihan.

Dari latihan giatnya itu, ia terpilih menjadi salah satu perwakilan atlet untuk berangkat ke Yogyakarata. Mengikuti kejuaraan silat bertajuk Yogyakarta Championship V pada 12 Maret lalu. Lawan-lawannya termasuk kategori seimbang. Karena pembagian lawan dilihat berdasarkan berat badan dan tinggi badan.

Wajar saja dia bisa menang, membanting lawan yang berat badannya jauh lebih besar saja kuat. Apalagi lawan yang memiliki berat badan seimbang. Niam pun berhasil menyabet emas dalam perlombaan ini.

”Musuhnya saya lawan. Saya gunting (teknik menjatuhkan lawan, Red) lawan. Saya juga tidak pernah terbanting,” katanya. Memang, Niam anak yang kuat. Pelatihnya mengatakan, ia merupakan anak yang giat latihan. Meskipun hampir setiap hari. Ia juga anak yang ceria. Seusai latihan nampak asik berkumpul dan bersenda gurau dengan kawan-kawannya tadi. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Mar 2019 08:47:18 +0700
<![CDATA[Rela Tidur di Gudang, Alat-Alat Terlindas Truk saat Perjalanan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/23/127034/rela-tidur-di-gudang-alat-alat-terlindas-truk-saat-perjalanan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/23/rela-tidur-di-gudang-alat-alat-terlindas-truk-saat-perjalanan_m_127034.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/23/rela-tidur-di-gudang-alat-alat-terlindas-truk-saat-perjalanan_m_127034.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/23/127034/rela-tidur-di-gudang-alat-alat-terlindas-truk-saat-perjalanan

Padepokan Silat Satria Muda Indonesia berhasil memboyong 14 gelar tingkat nasional bertajuk Jogjakarta Championship V 2019. Banyak cerita selama perjalanannya.]]>

Padepokan Silat Satria Muda Indonesia berhasil memboyong 14 gelar tingkat nasional bertajuk Jogjakarta Championship V 2019. Perjalanan dari Jepara ke Kota Pelajar itu, banyak cerita. Mulai harus tidur di gudang hingga saat perjalanan bagasi mobil rombongan terbuka yang berakibat alat-alat pencak silat terjatuh dan terlindas truk.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Jepara

MENCARI padepokan Silat Satria Muda unit Batealit ini lumayan sulit. Meskipun Fery Noer Ahmad, salah satu pelatih sudah mengirimkan lokasi melalui WhatsApp. Baru ketemu setelah salah satu murid padepokan menjemput Jawa Pos Radar Kudus. Ternyata, letaknya masih masuk ke salah satu gang di Desa Bawu,Batealit, Jepara.

Fery sepertinya sedang sibuk mengajari murid-muridnya cara menendang yang baik. Sambil membawa beberapa lembar catatan ia mondar-mandir mengawasi anak didiknya. ”Ayo lanjutkan lagi tendangannya,” teriaknya. Suaranya terdengar tegas.

Perguruan pencak silat ini, usai memborong 10 emas, dua perak, dan dua perunggu saat kejuaraan silat tingkat nasional di Jogjakarta Championship V baru-baru ini.

Meski terkesan tegas, namun Fery ternyata jauh dari kata galak. Usai melatih anak-anak yang berusia sekitar 7 sampai 15 tahun tadi, dia tampak akrab dan hangat berbincang.

”Eh, kok bajunya nggak dipakai. Ayo dipakai. Terus salim dulu sama om wartawan,” kata Fery menegur salah muridnya yang berusia sekitar 5 tahun yang tak pakai baju. Kali ini nada bicaranya berbeda saat latihan tadi. Terdengar ramah dan penuh perhatian.

”Itu anak Pak Dwi, pemilik rumah dan pendiri padepokan ini. Wah, bandelnya minta ampun. Kalau yang pakai jilbab itu kemarin yang dapat emas (di Jogjakarta Championship V). Terus yang cowok itu namanya Niamil, juga dapat emas kemarin,” katanya menunjukkan anak didiknya yang sedang latihan di samping rumah.

Di tengah perbincangan, datang satu bapak berkumis. Namanya Dwi Adi Saputra. Ya, dialah pendiri padepokan yang diceritakan Fery tadi. Dwi bercerita, padepokan ini didirikan pada 2017 lalu. Perekrutan murid disosialisasikan oleh istrinya yang berprofesi sebagai guru.

”Tujuannya ya ingin anak-anak punya kegiatan positif. Agar bisa berprestasi juga,” ujarnya.

Tujuan untuk mengantarkan anak berprestasi memang selalu ia giatkan. Sehingga even kejuaraan silat mulai diikuti. Seperti even nasional Jogjakarta Championship V yang digelar beberapa waktu lalu. Pada even itu, Dwi mengirimkan 14 atlet pilihan. Mulai dari tingkat SD hingga SMA.

”Wah...,” seru Dwi sembari menepuk paha wartawan koran ini. Ia pun mulai terpingkal. Begitupun Fery. Mereka sepertinya menyimpan cerita lucu ataupun konyol.

”Kami waktu itu tidur di gudang dua hari. Kemudian waktu perjalanan ndelalah (tiba-tiba) bagasi mobil terbuka. Semua barang peralatan tanding jatuh, kemudian terlindas truk. Itu di jalan searah pula. Wah terpaksa turun, kemudian lari satu kilometer mengambil,” kenangnya. Ternyata mereka terpingkal dengan kisah perjuangan untuk mengikuti kejuaraan di Jogjakarta tersebut. Dwi dan Fery pun makin terpingkal.

Namun, perjuangan itu terbayar dengan atlet-atletnya berhasil menggondol 10 medali emas, dua perak, dan dua perunggu. Artinya, ke-14 atlet yang dikirim itu, berhasil meraih prestasi semua. Dwi pun tampaknya bangga sembari memandangi anak didiknya yang sedang berkemas hendak pulang latihan kemarin.

Anak-anak penuh peluh keringat itu, kemudian berjalan tertib menuju tempat Dwi dan Fery duduk berbincang. Dwi dan Fery langsung berdiri menyambut para anak didiknya tersebut. Mereka saling bersalaman. Anak-anak itu mencium tangan pelatih mereka. ”Hati-hati ya,” ucap Dwi dan Fery. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 23 Mar 2019 09:22:25 +0700
<![CDATA[Tembus Mancanegara Berkat Jaringan Reseller]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/22/126797/tembus-mancanegara-berkat-jaringan-reseller https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/22/tembus-mancanegara-berkat-jaringan-reseller_m_126797.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/22/tembus-mancanegara-berkat-jaringan-reseller_m_126797.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/22/126797/tembus-mancanegara-berkat-jaringan-reseller

Kuncinya berani. Berani memulai. Berani membuat produk. Berani bersosialisasi. Dan berani-berani yang lainnya. Itulah kunci sukses Endang Prihatin berwirausaha.]]>

Kuncinya berani. Berani memulai. Berani membuat produk. Berani bersosialisasi. Dan berani-berani yang lainnya. Itulah kunci sukses Endang Prihatin berwirausaha membuat sambal kering. Produknya kini mampu menembus Australia, Jepang, dan Brunei Darussalam.

INTAN M SABRINA, Grobogan

BISNIS sambal cabai kering dirintis Endang Prihatin sejak September 2017 silam. Tuntutan ekonomi akibat kandasnya rumah tangga, menjadikannya harus berpikir keras untuk bisa memiliki usaha dan mempunyai sumber penghasilan mandiri.

Awalnya Endang merasa berat. Mengingat sekian lama ia memilih sebagai seorang ibu rumah tangga, yang menyandarkan ekonomi sepenuhnya kepada suami. Namun takdir tak dapat dielakkan. Setelah perceraian, ia bertekad untuk memiliki usaha.

Tak mudah bagi Endang untuk beranjak dari seorang ibu rumah tangga menjadi pengusaha UMKM. Namun itu harus dilakukan, karena pada awalnya adalah tuntutan. Ia mengaku, kucinya adalah berani.

Berani untuk memulai, berani membuat produk, berani untuk sosialisasi, berani untuk bertemu dengan orang-orang baru, berani untuk bertemu para tokoh dan pengusaha lainnya, bahkan berani untuk menerima kritik dan berani untuk selalu memperbaiki diri.

Maka perempuan yang tinggal di Jalan Aisyiyah III Nomor 1 Perum Sambak Indah Residence, Kelurahan Danyang Kecamatan Purwodadi ini langsung banyak bergabung dengan berbagai komunitas dan even. Yang kemudian dapat terus mengasah kualitas diri dan usahanya. Akhirnya, setelah melewati proses pemikiran yang cukup, sambal cabai kering dipilih sebagai produk yang akan dibuatnya.

Ide sambal cabai kering sendiri muncul dari tradisi orang tuanya. Tepatnya dari ibunya yang bernama Jiyem. Ibunya kerap membuat sambal cabai kering sebagai buah tangan untuk kakaknya yang bekerja dan tinggal di Jakarta. Sambal itu sangat digemari. Karena selain nikmat sebagai teman menyantap berbagai macam hidangan, juga awet karena bahan bakunya berasal dari cabai yang dikeringkan. Sambal itu juga praktis karena mudah dibawa kemana-mana.

Perempuan kelahiran Grobogan 8 Agustus 1979 itu langsung menjajal resep dari orang tuanya. Kali pertama ia membuat produk sambal cabai kering hanya 25 botol kecil. Yang berisi bersih (netto) 27 gram sambal cabai kering dan dihargai Rp 10 ribu per botol. Botol yang dipakai adalah botol plastik ukuran kecil yang biasa digunakan mengemas air zamzam sebagai buah tangan jamaah yang pulang haji.

Sejumlah 25 botol sambal cabai kering itu dibawa ke Jakarta oleh kakaknya untuk dipasarkan. Di luar dugaan, produk sambal cabai kering itu disukai sehingga dalam waktu sebentar, produk itu pun ludes terbeli. Bahkan repeat order. Hal itu menjadikan Endang Prihatin bersemangat untuk kembali membuat produk sambal cabai keringnya.

Kemudian Endang memberikan merek pada sambal buatannya agar mudah diingat orang. Awalnya ia beri label “Mak’e Ndang”. Nama Mak’e dipilih karena wujud terima kasihnya kepada sang ibu yang telah menurunkan resep tersebut. Kemudian “Ndang” diambil dari namanya sendiri. Berkat label itu, sambalnya langsung menembus berbagai pasar. Baik lokal, regional, nasional, bahkan pasar luar negeri.

”Selain Jakarta yang menjadi segmen pasar utama. Sejak Agustus tahun lalu, sambal cabai kering saya ini dapat diperoleh di jaringan toko ritel modern Trans Mart di Jawa Tengah dan Jogjakarta,” ungkapnya.

Selain melalui jalur pemasaran toko ritel modern, dia juga memanfaatkan jaringan reseller untuk memasarkan produknya. Sampai saat ini, jaringan reseller-nya telah mengantarkan produk sambal cabai keringnya itu melanglang buana di berbagai daerah. Seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bengkulu.

Karena dirasa sukses menguasai pasaran, tahun lalu Endang mendapat kesempatan dari Disperindag Provinsi Jateng untuk mengusulkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Namun, membuatnya harus berganti label dari ‘Mak’e Ndang’ menjadi “Chilia”.

”Karena di HKI sudah ada nama Mbak Endang. Jadinya saya harus ganti label,” ungkap ibu tiga anak ini.

Setelah mengantongi HKI, bisnisnya semakin melebar. Bahkan berkat jaringan reseller, produk Sambal Cabai Kering “Chilia” mampu merambah pasar luar negeri, seperti Sydney (Australia), Okinawa (Jepang), dan Brunei Darussalam.

Setelah dirasa mendunia, ia pun tak ingin berpuas diri. Ia ingin terus memperbaiki kualitas rasa sambalnya. Endang mulai bereksperimentasi membuat varian rasa dari produk sambalnya. Saat ini produknya memiliki enam varian rasa, yakni original, cumi, rebon, teri medan, teri nasi, dan udang.

Endang juga sangat peduli terhadap kualitas kemasan produknya. Bahkan ia tak pelit untuk mengeluarkan modal untuk memperbaiki kemasan produknya, sehingga meningkatkan harga jual produknya sekaligus mendongkrak penjualan produknya. Meski begitu, sejauh ini sambalnya masih diproses secara manual.

Meski begitu, sebagai pendatang baru Endang memiliki pencapaian yang luar biasa. Dalam kurun waktu dua tahun Endang telah memiliki sekitar 10 karyawan yang membantunya memproduksi sambal cabai kering.

Endang pun berharap, usaha yang digelutinya ini dapat terus berkembang dan semakin diterima oleh pasar, baik dalam maupun luar negeri. Ia pun mengisahkan pengalaman paling berkesan selama kurun dua tahun lebih menggeluti dunia bisnis ini.

”Paling berkesan saat ikut acara besar Trade Expo Indonesia (TEI) pada 24-28 Oktober tahun lalu yang digelar oleh Kementerian Perdagangan di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang. Saya dapat bertemu banyak buyer dari berbagai negara. Sebab tercatat acara itu dihadiri 8.313 pembeli dari 124 negara. Sehingga potensi untuk memperkenalkan produk di kancah Internasional menjadi sangat terbuka,” kesannya. (*/lid)

]]>
Ali Mustofa Fri, 22 Mar 2019 10:23:04 +0700
<![CDATA[Tetap Turun ke Lapangan Cari Nasabah]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/21/126532/tetap-turun-ke-lapangan-cari-nasabah https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/21/tetap-turun-ke-lapangan-cari-nasabah_m_126532.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/21/tetap-turun-ke-lapangan-cari-nasabah_m_126532.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/21/126532/tetap-turun-ke-lapangan-cari-nasabah

Perjuangan Arief Syamsuhuda, direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) BPR Blora untuk membesarkan perusahaan selama belasan tahun akhirnya berbuah manis.]]>

Perjuangan Arief Syamsuhuda, direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) BPR Blora untuk membesarkan perusahaan selama belasan tahun akhirnya berbuah manis. Terbukti, aset perusahaan yang dulunya Rp 4 miliar, kini meningkat drastis menjadi Rp 51 miliar. Selain itu, dua tahun berturut-turut berhasil meraih prestasi.

 SUBEKAN, Blora

 PRIA bernama lengkap Arief Syamsuhuda ini, merupakan direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) BPR Blora. Dia kini bisa merasakan manisnya perjuangan. Setelah belasan tahun berjuang.

Ya, aset perusahaan yang dia pimpin itu melejit. Dulu asetnya hanya sekitar Rp 4 miliar, kini meningkat drastis menjadi Rp 51 miliar. Dengan capaiannya ini, PD BPR Blora berhasil meraih berbagai penghargaan. Di antaranya penghargaan dari Infobank kategori sangat bagus atas kinerja keuangan selama 2017 dan menjadi nomor VI dalam kategori the best 82 BPR milik pemda yang beraset Rp 50 miliar sampai dengan di bawah Rp 100 miliar.

”Ini berkat kerja kerasnya selama ini. Termasuk berkat kerja keras kawan-kawan (karyawan) dan dukungan dari Pemkab Blora,” ucap Arief Syamsuhuda kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Laki-laki yang tinggal di RT 2/RW 5, Desa Buluroto, Banjarejo, Blora, ini mengaku, apa yang diraih saat ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan dan kerja keras. Juga kerja cerdas dan proses yang panjang. Termasuk butuh mental baja, bahkan harus berani menantang maut.

Arief mengaku, perjalanan kariernya dimulai sejak 1992 silam. Yaitu di CV Kudus Jaya Group sebagai staf administrasi. Namun tak berjalan lama. Hanya satu tahun atau sampai 1993.

Selanjutnya, alumnus D3 Stikubank Semarang (Keu & PB) dan S1 Unigoro Bojonegoro (SIP) ini, pindah bekerja di Bank BPD Jateng sebagai marketing, petugas DPLK, dan customer service (CSR) hingga 1999. Berkat keuletannya, dia menjadi manajer di Koperasi Karyawan (Kopkar) Manunggal (1999-2007).

Selanjutnya, pada April hingga Desember 2007 dia menjabat sebagai direktur Umum dan Pemasaran DI PD BPR Kabupaten Dati II Blora. Karena prestasi bagus, pada Desember 2007 hingga sekarang diangkat dan menjabat sebagai direktur utama PD BPR Blora.

”Saat itu aset PD BPR Blora hanya Rp 4,4 miliar. Alhamdulillah sekarang bisa membawa merangkak naik menjadi Rp 51,7 miliar,” ucap pendiri atau pembina Yayasan Mitra Amanah Sejahtera (MAS) Perhimpunan PD Bank Pasar Jateng dan DIJ ini.

Berkat kepemimpinannya tersebut, PD BPR Blora mengalami peningkatan yang  signifikan. Salah satu contohnya bisa dilihat selama empat tahun terakhir. Di mana aset PD BPR Blora terus mengalami kenaikan.

Pada 2015 lalu asetnya ada Rp 30,9 miliar. Tahun berikutnya, pada 2016 naik menjadi Rp 36,2 miliar. Naik lagi menjadi Rp 38,6 miliar pada 2017. Sementara 2018 melejit menjadi Rp 51,7 miliar.

Begitu juga dengan tabungan, deposito, kredit, dan laba juga terus mengalami kenaikan. Pada 2015 lalu misalnya. Tabungan di BPR yang dia pimpin mencapai Rp 9,5 miliar. Tahun berikutnya, naik menjadi Rp 11,3 miliar. Begitu juga tahun selanjutnya naik menjadi Rp 11,2 miliar dan akhir 2018 lalu, naik lagi menjadi Rp 13,6 miliar.

Jumlah deposito juga merangkak naik. Pada 2015 jumlahnya ada Rp 6,4 miliar. Pada 2016 menjadi Rp 9,7 miliar, 2017 naik menjadi Rp 10,9 miliar, dan 2018 menjadi Rp 18,2 miliar.

Peningkatan demi peningkatan itu, bukan hanya karena dia memerintah. Namun, dia juga terjun langsung ke lapangan. ”Saya mendatangi dinas, instansi, rumah ibadah, sekolah favorit, hingga rumah-rumah. Tujuannya tak lain untuk menggaet nasabah,” terangnya.

Dia berkisah, dulunya saat turun ke lapangan dia memakai motor buntut. Namun, sekarang kantor sudah punya mobil.

Meski PD BPR Blora mengalami kenaikan, pengurus Perbamida Wilayah Jateng & DIJ ini, mengaku masih perlu dukungan dari berbagai pihak. Baik pemerintah dan lainnya. Salah satunya, supaya BPR bisa diberi porsi oleh pemerintah. Di antaranya untuk menyimpan Dana Desa (DD), gaji guru kontrak, BPJS, BLUD, dan lainnya.

”Kami ingin bank-bank yang ada di Blora bisa lebih bersinergi lebih baik, sehingga bisa sama-sama berkembang,” harap Pengurus Forkom IJK, OJK KR 3 Jateng & DIJ ini.

Selain melakukan terjun langsung ke nasabah, Arief Syamsuhuda juga terus berupaya memotivasi para karyawan. Termasuk terus meningkatkan sumber daya manusia (SDM) karyawan. ”Kompetensi selalu kami tingkatkan. Di antaranya mengirim karyawan ikut sertifikasi, diklat, dan lainnya. Jika karyawan berkualitas, perusahaan bakal sehat,” terangnya.

Kesejahteraan karyawan juga diperhatikan. Di PD BPR Blora tidak ada karyawan yang gajinya di bawah upah minimum regional (UMR). Begitu juga dengan status kepegawaiannya, tak pernah mengenal outsourcing. ”Setelah karyawan bekerja dua tahun dengan baik, diangkat menjadi pegawai tetap. Jadi ada kepastian kerja,” ucapnya.

Tak hanya itu, karyawan juga diberikan fasilitas kredit lunak. Tujuannya, karyawan bisa untuk membeli rumah dan lainnya. Termasuk pemberian tunjangan pencapaian target. ”Harapannya tahun ini bisa lebih baik lagi dan maksimal. Karena 100 persen PD BPR Blora milik pemkab. Semoga ke depan semua wilayah Blora bisa ada kantor kas PD BPR Blora,” harap pengawas Yayasan Perbarindo Sejahtera Jawa Tengah ini.

Meski banyak kegiatan, dia juga tidak lupa membagi waktu bersama keluarga. ”Pas libur saya gunakan untuk bersama keluarga. Mulai olahraga bareng, makan bareng, dan lainnya. Ini untuk menjalin keharmonisan bersama keluarga. Kadang juga berwisata bareng. Ini cara saya menjaga hubungan dengan anak-anak,” imbuh ketua Perbasi Kabupaten Blora ini. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 21 Mar 2019 08:49:21 +0700
<![CDATA[Serasa Bersekolah di Dalam Kebun]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/20/126352/serasa-bersekolah-di-dalam-kebun https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/20/serasa-bersekolah-di-dalam-kebun_m_126352.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/20/serasa-bersekolah-di-dalam-kebun_m_126352.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/20/126352/serasa-bersekolah-di-dalam-kebun

Setahun ini siswa SMPN 5 Pati dikenalkan program asuh tanaman. Tiap hari mereka dibebani tanggung jawab kelangsungan hidup tanaman tersebut.]]>

Setahun ini siswa SMPN 5 Pati dikenalkan program asuh tanaman. Tiap hari mereka dibebani tanggung jawab kelangsungan hidup tanaman tersebut. Mulai dari menyirami hingga memupuknya.

ACHMAD ULIL ALBAB, Kota

INTAN Nur Alfiyah tergopoh-gopoh memasuki pelataran sekolah. Pagi itu masih pukul 06.00. Sinar matahari mulai terasa hangat. Bersama tiga temannya, siswi kelas VIII C ini mengusung ember berisi air. Dengan cekatan satu per satu tanaman dalam pot itu disiram.

Di sekolah itu digilir merawat tanaman. Kebetulan pagi itu, ia dan temannya kebagian jatah piket menyiram tanaman. Sehari ada satu kelas yang bertugas. Semua mengerjakan kegiatan bersih-bersih. Mulai dari menyapu hingga memastikan tanaman yang ada tetap tumbuh sehat dan segar.

Gedung SMPN 5 Pati berada di tengah Kota Pati. Meskipun berada di tengah kota, sekolah yang menempati bangunan masa kolonial Belanda ini terlihat sangat asri. Di tiap sudut bangunan sekolah selalu ada tanaman-tanaman hias dengan pot-pot kecil yang menghijau.

Masuk ke lingkungan sekolah itu, pengunjung serasa dibawa masuk ke sebuah kebun, yang dilengkapi dengan ruang-ruang kelas untuk belajar. Banyak sekali tanamannya. Ada pucuk merah, pohon sawo, dan beberapa tanaman hiasan dinding.

”Kami memang membiasakan anak-anak menyayangi alam. Ya melalui hal-hal kecil semacam piket itu,” kata Kepala SMPN 5 Pati Sofia Bardina kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Selain bersih-bersih dan merawat tanaman, Sofia juga mengajak anak didiknya untuk berbuat lebih jauh lagi. Di sekolah yang berada di tepi Jalan Panglima Sudirman ini, anak-anak dilatih mengolah sampah.

”Semampunya anak-anak. Mereka membuat kerajinan berbahan sampah non organik, misalnya botol plastik. Juga mengolah sampah organik menjadi kompos. Penggunaannya baru sebatas untuk kebutuhan sekolah saja. Karena ini memang pembelajaran untuk anak-anak. Jadi mereka yang terjun langsung. Guru hanya sebagai pengarah saja,” imbuhnya.

Program tersebut sejatinya menjadi komitmen sekolah. Para guru bahkan memuat agenda tahunan ulang tahun sekolah dengan kegiatan fashion show bergaun bahan dari limbah yang ada. ”Ulang tahun sekolah kami selalu diperingati dengan kegiatan yang berorientasi pada cinta lingkungan. Selain kegiatan fashion show berbahan limbah itu, kami juga memiliki agenda menanam di lahan-lahan kritis di sekitar wilayah Pati. Misalnya menanam mangrove di pesisir pantai hingga kegiatan bersih-bersih lingkungan. Kami sering melakukan kegiatan jalan-jalan sambil bersih-bersih. Misalnya saat melewati depan pasar, kami juga membersihkan lingkungan pasar itu,” terang kepala sekolah yang tahun lalu membawa SMPN 5 Pati ini meraih kategori adiwiyata nasional.

Bagi Sofi, apa yang dilakukannya bersama anak didiknya itu merupakan kegiatan kecil. Kegiatan penanaman karakter cinta lingkungan yang menjadi bagian dari sebuah proyek besar. Proyek untuk kelangsungan alam di masa mendatang. ”Itu merupakan investasi untuk anak cucu,” tegas Sofi.

Apalagi, dalam rilis Badan Pusat Statistik (BPS) dan Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) ada 64 juta ton sampah plastik di Indonesia per tahun. Produksi sampah plastik itu menjadi yang terbesar kedua di dunia.

Ancamannya jelas. Sampah plastik bisa mencemari lingkungan. Membahayakan kesehatan manusia, dan meracuni makhluk hidup lain. ”Baru saja ramai soal kematian paus besar. Setelah dibedah di dalam tubuh mamalia raksasa itu banyak sekali ditemukan sampah-sampah terutama berbahan plastik,” katanya.

”Dari sana kami makin semangat untuk menggugah anak didik kami mencintai lingkungan sedini mungkin. Dimulai dari lingkungan sekolah sendiri. Seperti mengolah sampah, memilah sampah, hingga merawat tanaman melalui program tanaman asuh dan juga piket bersama per kelas,” jelas Sofia.

]]>
Ali Mustofa Wed, 20 Mar 2019 14:22:17 +0700
<![CDATA[Dapat Penghargaan Berkat Tari Kretek]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/20/126259/dapat-penghargaan-berkat-tari-kretek https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/20/dapat-penghargaan-berkat-tari-kretek_m_126259.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/20/dapat-penghargaan-berkat-tari-kretek_m_126259.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/20/126259/dapat-penghargaan-berkat-tari-kretek

Melestarikan budaya bisa dilakukan siapa saja. Tak terkecuali penyandang tunarungu dan tunawicara. Lia Ayun Lestari salah satunya.]]>

Melestarikan budaya bisa dilakukan siapa saja. Tak terkecuali penyandang tunarungu dan tunawicara. Lia Ayun Lestari salah satunya. Meski memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi, siswa SMALB Sunan Muria Kudus ini, mampu menari dengan lincah. Karena kepiawaian itu, gadis ini pernah menyabet juara III FLS2N Provinsi Jawa Tengah khusus untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) pada 2016 lalu. Juga menjadi juara harapan I dalam kompetisi yang sama di tingkat Jawa Tengah pada 2017.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Kudus

BELAJAR MENARI: Lia Ayun Lestari (kanan) sedang belajar menari didampingi Nyna Adhitama, wali kelasnya baru-baru ini. (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

 TANGANNYA mengayun-ayun mengikuti irama musik. Kadang lemah gemulai. Kadang dipercepat. Dalam empat ketukan setelah menggerakkan tangan, perempuan itu mulai memutar badan. Tangannya terampil membawa tampah (nampan berbahan bambu) sambil memainkannya. Seolah mengayak sesuatu. Bibirnya menyungging dan terus berlenggak-lenggok. Penampilan gadis itu cukup menghibur.

Namanya Lia Ayun Lestari. Dia seorang tunarungu-wicara berusia 18 tahun yang berasal dari Kudus. Meski tunarungu, Lia -sapaan akrabnya- menari seolah mengikuti suara rancak dari tarian Kretek.

Lia memiliki tinggi sekitar 160 cm, bertubuh langsing, dan berparas manis. Meski memiliki keterbatasan, Lia selalu tampil percaya diri dan ceria. Bahkan dia tak segan mengajari temannya menari.

Di sekolah, dia tergolong siswa yang pandai. Lia selalu mendapat nilai di atas rata-rata dalam setiap mata pelajaran. Tak heran, gadis ini selalu mendapat peringkat II di kelas. Kadang justru peringkat I. ”Saya suka semua pelajaran,” kata Nyna Adhitama, wali kelas XII SMALB Sunan Muria Kudus menerjemahkan berdasarkan bahasa isyarat yang diperagakan Lia.

Lia menjelaskan melalui Nyna, sejak usia delapan tahun mulai senang menari. Kala itu, dia melihat acara tari di Kudus. Kagum dengan gerakannya, dia mencoba menari sendiri. ”Sejak saat itu saya mulai tertarik menari. Saya bertekad, jika ada kesempatan akan menari,” katanya.

Benar saja, setelah masuk SMPLB, dia mulai diajari menari. Berlatih cukup lama, Lia akhirnya menjadi juara I menari dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) khusus anak berkebutuhan khusus (ABK) tingkat kabupaten pada 2016 lalu. Dia pun melaju ke FLS2N tingkat Provinsi Jawa Tengah. Dia menyabet juara III. Baginya itu awal yang cukup baik.

Lomba pun berlanjut di tahun berikutnya. Dalam ajang yang sama dia mampu menjadi juara I lagi tingkat kabupaten dan menjadi juara harapan I di tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Gadis yang berdomisili di RT 3/RW 3, Desa Pasuruhan Kidul, Jati, Kudus, ini mengaku, memang menyukai tari tradisional. Baginya, tari tradisional dapat melatih kesabaran, konsentrasi, dan membuat bahagia. ”Semakin banyak saya menari, semakin banyak pula kebahagian yang saya dapat,” tuturnya. Tak heran, dia mengaku akan tetap konsisten menari.

Selain tari Kretek, Lia juga menguasai tari Jenang, tari Gambyong, dan beberapa tari tradisional lain. Selain menarik, tari tradional memang perlu dilestarikan. Jika tidak, tari-tari itu bisa direbut negara lain atau punah begitu saja. ”Seni dan budaya berhak dilestarikan siapa saja. Meski oleh saya yang berkebutuhan khusus,” katanya.

Bagi anak tunarungu-wicara sepertinya, menari memang suatu hal yang sulit dilakukan. Tetapi menjadi mudah jika sudah terbiasa. Lia menjelaskan, setiap kali menari selalu menggunakan rasa dan insting. Dia juga dibantu dengan hitungan dan ketukan untuk berganti gerakan. ”Awalnya memang sulit. Namun lama-lama terbiasa. Butuh kesabaran,” terangnya.

Ufin Nada, guru tari Lia mengaku, sejak lama sudah menyukai tari. Baginya, dengan tari hidup menjadi lebih berarti. Maka, dia pun memutuskan menjadi guru tari. Lama menjadi guru tari anak normal, dia pun tertarik mengajar anak berkebutuhan khusus. Meski sulit, dia terus berusaha mengajar.

Untuk mengajar anak berkebutuhan khusus, dia memiliki trik tersendiri. Biasanya anak diajari hitungan. Kemudian Ufin mulai mempraktikkan satu tarian dan anak didiknya diminta meniru. Setelah mampu meniru, anak akan diajari ketukan. Ketukan itu disesuaikan dengan musik. ”Awalnya memang sulit. Komunikasi yang berbeda membuatnya ekstra sabar. Beruntung Lia memiliki bakat tari yang cukup baik,” ungkapnya.

Selain mengajar tari, guru tidak tetap (GTT) di SD Kramat Kudus ini, juga ingin mengenalkan tari tradisional sekaligus melestarikannya. Sebab, tidak banyak anak muda yang menyukai tari tradisional. Kebanyakan lebih senang modern dance. Maka anak didiknya selalu dididik untuk mencintai seni dan budaya. Melestarikan seni sama saja menjaga seni. Baginya, itu tugas mulia sebagai warga Indonesia.

Suwasto, 44, ayah Lia mengaku sejak usia tujuh tahun, gendang telinga anaknya didiagnosis bermasalah. Kata dokter Kris, putrinya itu memiliki kelainan gendang telinga. Dia sempat frustasi. Lia diajak berobat ke mana-mana. Di Kudus sendiri hingga ke Semarang. Namun, usahanya itu sia-sia. Lia tak sembuh dan harus menggunakan alat bantu dengar. ”Seminggu setelah lahir, anak saya demam tinggi. Saya begitu khawatir. Makanya saya mencoba berobat kemana-mana. Namun tidak berhasil,” tuturnya.

Suwasto pun disarankan dokter Kris memasukkan Lia ke SLB saat besar nanti. Sebab Lia memiki kecerdasan seperti orang normal. Hanya pendengarannya terganggu.

Mulai beranjak dewasa, Lia muali aktif. Dia sering kedapatan meniru tarian di televisi. Lia juga pandai menggambar. Untuk itu, Suwasto dan istri mendukung penuh anaknya berkembang. ”Saya perbolehkan menari atau menggambar. Semua saya dukung penuh,” katanya. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 20 Mar 2019 08:57:13 +0700
<![CDATA[Ajarkan Pendidikan Budaya Melalui Gamelan dan Rebana]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/19/126059/ajarkan-pendidikan-budaya-melalui-gamelan-dan-rebana https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/19/ajarkan-pendidikan-budaya-melalui-gamelan-dan-rebana_m_1552974283_126059.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/19/ajarkan-pendidikan-budaya-melalui-gamelan-dan-rebana_m_1552974283_126059.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/19/126059/ajarkan-pendidikan-budaya-melalui-gamelan-dan-rebana

Di tengah keterbatasan, Muhammad Zufron, seorang tunanetra asal Kudus itu terus mengajarkan seni dan budaya sekaligus melestarikannya.]]>

Di tengah keterbatasan, Muhammad Zufron, seorang tunanetra asal Kudus itu terus mengajarkan seni dan budaya sekaligus melestarikannya. Pernah melakukan pertunjukan di enam negara, kini Imron –sapaan akrabnya –memilih mengajar musik untuk tunanetra. Mulai dari alat musik petik, tekan, hingga gesek. Bahkan dia juga mengajarkan Gamelan dan Rebana sebagai salah satu warisan budaya yang perlu dijaga.

NOOR SYAFAATUL UDHMA, Kudus

NING nong neng gung ning nong neng gung. Alunan melodi dari lempengan saron, demung, bonang, dan kenong terdengar bersahutan. Merdu sekali. Tak ketinggalan, suara gong dan rancak kendang membuat suasana kian semarak pagi itu.

LATIHAN GAMELAN: Meski dalam keterbatasan, penyandang tunanetra latihan gamelan dipandu oleh Muhammad Zufron yang juga guru tunanetra. (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)

Kebo giro mengalun dengan mulus. Getaran suaranya masuk ke daun telinga dengan baik. Melodinya mengalun indah. Suaranya menyelinap dibalik kelas-kelas kosong. Merambah ke segala penjuru ruangan. Terus mengalun seperti menunggu mempelai laki-laki bertemu dengan mempelai perempuan.

Siapa sangka kemerduan suara itu berasal dari gamelan yang dimainkan penyandang tunanetra di Panti Pelayanan Disabilitas Netra Pendowo Kudus. Meski memiliki keterbatasan, mereka mahir memainkan gamelan.

“Ayo pakai slendro. Siji, loro, telu (satu, dua, tiga) mulai,” kata Muhammad Zufron, guru gamelan saat memulai pertunjukannya kembali.

Mendengar aba-aba, siswa tunanetra pun mulai mengetuk saron, bonang, dan alat gamelan lainnya sesuai ketukan. Dua bait dimainkan, salah satu dari mereka salah mengetuk alat. Iramanya pun mulai tidak senada. Namun beberapa menit kemudian mulai seirama lagi. Kompak.

Usai Kebo Giro, gamelan ditabuh kembali dengan lagu ‘Gugur gunung’. Lagunya lebih atraktif daripada kebo giro. Menurut Muhammad Zufron atau Imron gugur gunung memiliki arti persatuan dan kesatuan dalam bekerja. “Ayo mulai lagi,” Imron mulai memberi aba-aba.

Pagi itu cuaca cerah. Matahari cukup bersahabat. Tak heran, usai bermain gamelan, penyandang tunanetra berhamburan keluar ruangan. Mereka menuju tempat favorit. Ada yang ke taman, duduk di depan asrama hingga ruang gamelan.

Guru mereka, Muhammad Zufron atau yang biasa dipanggil Imron itu berjalan di belakang muridnya. Dia juga tunanetra. Meski sudah familiar, dia nyaris membentur kayu penyangga. Beruntung, tangannya tanggap dan meraih kayu terlebih dahulu. Setelah itu, menaiki tangga. ”Yang jatuh jempalikan ya sudah biasa. Saya juga sering terjatuh,” kata lelaki berusia 51 tahun ini. Maklum, jalanan Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Kudus seperti rumah sakit. Panjang dan berkelok.

Imron mengaku, sudah sepuluh tahun mengajar seni. Baik seni musik, gendhing, maupun rebana. Meski tunanetra dan mengajar tunanetra, Imron tetap senang menjalani profesi ini. Bahkan, dia ingin mengajak anak didiknya mencintai seni dan budaya.

Lelaki kelahiran Kudus, 11 April 1968 mengatakan, mulai mencintai musik sejak duduk dibangku SDLB. Saat itu, Imron kecil senang mendengarkan musik. Baru saat duduk dibangku SMPLB di Pemalang, Imron mulai belajar bermain gitar. Rupanya kesenangannya akan musik terus berlanjut. Hingga dia memutuskan sekolah musik di Bandung.

Saat di Bandung kemampuannya pun bertambah. Dia sudah mampu bermain drum, piono, bass, gamelan, hingga rebana.

Memiliki musikalitas dan minat yang tinggi, Imron membentuk grup band. Dia dan temannya mulai show di beberapa kafe di Bandung. Group band ini laris manis. Show dari stau kafe ke kafe lainnya. Tak heran, beberapa saat kemudian, Imron beserta teman-temannya dikontrak salah satu restoran untuk manggung selama tiga tahun. ”Kalau dulu, sekali manggung saya digaji Rp 150 ribu. Cukup mahal pada 1993,” ujarnya.

Meski tunanetra, pergaulan dengan band asal Bandung cukup banyak. Misalnya saja group band Noah yang saat itu bernama Peterpan. Selain  itu, dia juga mengenal Naff, Rika Roeslan, dan sederet pemusik papan atas lainnya.

Tak cukup manggung di kafe, Imron pun mengambil kesempatan untuk manggung di Papua. Gajinya lumayan. Sekali manggung, Imron bisa mengantongi bayaran sejuta. Kariernya semakin mulus saat dia show di beberapa negara. Mulai di Singapura, Australia, Beijing, Maroko, Italia, hingga Spanyol. Ini salah satu pembuktian, dia masih diperhitungkan.

”Di dalam grup band saya kala itu, tidak semua tunanetra. Ada yang normal. Jadi saya bersyukur bisa mewakili para tunanetra dalam show tersebut,” katanya. Show itu berlangsung sejak 1993 hingga 1998.

Karena suasana politik tidak kondusif, Imron pulang ke Kudus. Sempat menolak mengajar, akhirnya pada 2006 dia memulai mengajar musik di Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Netra Pendawa Kudus.

“Saya belajarnya empiris. Diskusi dengan teman dan langsung praktik. Usai krisis  moneter, saya sempat ditawari mengajarkan musik. Namun saya tolak. Alasannya karena kesulitan komukasi. Apalagi muridnya sama-sama tunanetra. Namun belakangan benteng pertahan saya runtuh juga. Saya justru termotivasi untuk mendidik anak tunanatra yang sering dipandang sebelah mata. Makanya, saya bersyukur bahwa apa yang saya pelajari dulu rupanya berguna sampai sekarang,” katanya.

Tak hanya mengajar musik, dia juga konsen mengajar gamelan. Baginya seni tradisional ini mulai terpinggirkan. Tidak banyak sekolah yang melestarikan seni satu ini. Selain peralatannya mahal, tidak banyak guru yang serius mendalami gamelan. Padahal gamelan harus dilestarikan sebagai warisan budaya.

“Budaya itu milik semua orang. Tak terkecuali tunanetra. Salah satu cabang budaya  yakni kesenian gamelan. Untuk itu, visi saya mengajar karena kami semua ini penerus kebudayaan. Penerus tidak hanya yang normal saja. Kami yang memiliki keterbatas juga wajib melestarikan,” terangnya.

Selama tiga belas tahun mengajar, sekolah ini telah mengantarkan anak didiknya menjadi juara. Salah satunya menjadi juara I musik tingkat Jawa Tengah. Selain itu, peserta didiknya sering diundang ke acara pengajian untuk bermain rebana. ”Lumayan untuk pengalaman,” paparnya.

Ditanya tentang mendidik anak tunatera, dia mengaku sering mengalami kesulitan. Khususnya dalam berkomunikasi. Sebab dia dan anak didiknya sama-sama tunanetra.

“Saya memulainya dengan teori seni dan budaya terlebih dalu. Sekaligus menjelaskan apa pentingnya seni dan budaya untuk kehidupan ini. Setelah paham, anak-anak saya jelaskan jenis-jenis alat musik. Kemudian saya ajak mereka memilih alat musik yang disuka. Lalu mereka saya minta untuk meraba alat musik seperi saron, gong, hingga peking. Setelahnya saya ajak mereka memainkan satu per satu alat musik. Ketika sudah mahir, anak-anak saya minta untuk menghafal not suatu lagu. Saat sudah hafal, baru memainkan alat musik masing-masing. Prosesnya lama dan rumit. Jadi memang harus sabar,” tuturnya.

Kendala mengajar juga sering dirasakan Imron. Terlebih memainkan gamelan harus kompak. Ketika satu orang tidak fokus, maka suaranya pasti sumbang. ”Kemampuan siswa memang beda-beda. Ada yang cepat menghafal. Ada pula yang lama. Makanya saya selalu menekankan pada anak-anak untuk menjadi diri sendiri dan fokus dalam melakukan apa saja,” katanya.

Seperti guru musik di sekolah umum, Imron juga mengalami pergantian personel. Setiap tahunnya ada saja personel gamelan yang berganti. Penyebabnya karena anak-anak sudah lulus. Makanya setiap tahunnya, Imron memulai pengajaran dari nol. “Ya memang kondisinya begitu. Namun saya betul-betul menikmatinya. Itulah asyiknya menjadi guru musik,” akunya lantas tersenyum. 

Fatkhur Rohman, salah satu peserta didik mengatakan, senang bermain musik sejak sekolah di sana. Awalnya hanya bisa satu alat musik saja, namun lama-lama ingin mencoba alat musik lainnya. Tak heran, dia menguasai berbagai alat musik seperti gitar, drum, piano, hingga bass. Selain itu, dia mampu memainkan gamelan dan rebana. ”Kalau rebana sejak kecil saya sudah belajar di musala dekat rumah. Jadi sudah terbiasa. Untuk gamelan baru saya pelajari di sini,” katanya bersemangat.

Ketertarikan Fatkhur akan seni tumbuh seiring dengan perkenalannya dengan Imron. Imron yang selalu bermain musik rupanya mencuri perhatiannya. “Seringnya mendengar alunan musik dari pak Imron membuat saya ingin belajar musik. Setelah belajar memang menyenangkan,” katanya.

Kata Imron, Fatkhur tergolong murid yang cerdas dan memiliki bakat bermusik cukup baik. Ketika diajari satu alat musik, Fatkhur meminta diajari yang lain dengan waktu relatif singkat. “Dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dengan kemahirannya ini, saya yakin Kudus masih memiliki penerus kebudayaan sepeninggal saya nanti,” imbuh Imron. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 19 Mar 2019 12:41:45 +0700
<![CDATA[Ciptakan Robot Pendeteksi Gunung Meletus]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/19/126025/ciptakan-robot-pendeteksi-gunung-meletus https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/19/ciptakan-robot-pendeteksi-gunung-meletus_m_126025.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/19/ciptakan-robot-pendeteksi-gunung-meletus_m_126025.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/19/126025/ciptakan-robot-pendeteksi-gunung-meletus

Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro, dua siswa MAN 1 Kudus mengharumkan nama Indonesia di Thailand. Mereka meraih medali perunggu.]]>

Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro, dua siswa MAN 1 Kudus mengharumkan nama Indonesia di Thailand. Mereka meraih medali perunggu di Thailand Inventors Day dan Bangkok Internastional Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPTEx). Prestasi tersebut, didapat berkat membuat robot pendeteksi gunung meletus.

 INDAH SUSANTI, Kudus

 DUA siswi kelas X MIPA-3 MAN 1 Kudus, Azzalira Alayya Zahwa dan Alfi Fatimatuz Zahro begitu bersemangat saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus di sekolahnya kemarin. Mereka saling bergantian menceritakan pengalaman pertamanya terbang ke luar negeri dan ikut kompetesi tingkat internasional.

Kesan bertemu dengan banyak teman dari berbagai negara menjadi pemicu semangat mereka untuk terus berprestasi. Melalui karya robot Masugemo (monitoring suhu, getaran, dan karbon monoksida) dua siswi MAN 1 Kudus itu, mewakili Indonesia dalam lomba internasional di Bangkok, Thailand pada Sabtu (2/2) hingga Rabu (6/2) lalu.

Mereka berhasil meraih medali perunggu dalam Thailand Inventors Day dan Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation, and Technology Exposition (IPITEx) di Bangkok International Trade & Exhibition Centre (BITEC), Thailand.

Karya inovatifnya juga berhasil meraih Special World Invention Intelectual Properly Associations (WIIPA) dari Taiwan. Pencapaian tinggi ini, tak terlepas dari keprihatinan mereka terhadap fenomena gempa bumi dan gunung meletus yang memakan korban jiwa di Indonesia.

Azzalira menceritakan pengalaman saat mengikuti lomba. Mereka terheran-heran. Sebab, peserta yang mengikuti lomba itu, karya-karyanya luar biasa. Seperti mimpi, kali pertama pergi ke luar negeri dan harus bersaing dengan orang-orang pintar dari negara lain.

Dia juga memaparkan, awal mula tercerus ide membuat robot mendeteksi gempa bumi. Mengingat Indonesia akhir-akhir ini sering mengalami musibah gempa bumi, khususnya kejadian di Palu.

”Ide ini kami utarakan kepada pembimbing kami, Pak Arif Noor Adiyanto dan Pak Ahmad Edi Dermawan. Melalui diskusi dan pertimbangan bersama, kami kemudian mencari-cari referensi terkait dengan cara kerja robot. Lalu merancang robot itu,” terangnya.

Kemudian, untuk mendeteksi gunung meletus butuh deteksi suhu. Maka dua siswa tersebut, juga melakukan uji coba suhu dan gas monoksida, sehingga robot tersebut bisa bekerja deteksi gunung meletus.

Setelah melalui uji coba berulang-ulang dengan arahan guru pembimbing, Azzalira dan Alfi berhasil merakit robot yang diberi nama Masugemo dengan baik. Kerja robot tersebut juga dijelaskan Alfi, yakni indikator meningkatnya aktivitas gunung berapi dapat diketahui dari meningkatnya suhu, getaran, dan gas karbon monoksida.

Alat ini terdiri dari beberapa komponen sensor yang bisa menangkap peningkatan getaran, suhu, dan gas monoksida. Di dalam robot juga dipasang alat yang bisa mengirimkan pesan singkat ke ponsel berisi peringatan-peringan sesuai tangkapan sensor dalam robot.

Kemudian, alat tersebut diletakkan di lereng gunung berapi. Nantinya, dari alat itu akan mengirimkan pesan bila terjadi peningkatan suhu, getaran, dan gas karbon monoksida sebagai peringatan dini bencana meletus berbasis short message service (SMS).

Alfi menambahkan, sebelum mengikuti lomba tingkat internasional ini, robot buatannya sebenarnya telah lebih dulu meraih juara I Madrasah Aliyah The Best and Simple Construction Rancang Bangun Mesin Otomatis Bencana oleh Kementerian Agama pada 2018 lalu.

Meski pernah disertakan dalam lomba, namun robot ini telah mengalami pengembangan, seperti ditambah miniatur gunung, pemanas, dan pemberi getaran. ”Pada even Thailand Inventors Day tersebut, karya yang disertakan memang harus sudah pernah meraih juara di tingkat nasional,” terang Alfi.

Salah satu pembimbing Ahmadi, menambahkan, setelah juara di lomba Kementerian Agama, robot ini ditambah dengan inovasi baru atau penyempurnaan. Untuk bisa mengikuti even internasional, produk inovatif buatan siswa harus mengikuti seleksi tingkat nasional.

”Dari ratusan karya, tim MAN 1 Kudus berhasil lolos bersama tim lain dari beberapa SMA ternama dan perguruan tinggi di Indonesia. Tim yang mayoritas lolos berasal dari universitas terkemuka di Indonesia. Untuk itu, kami sangat bersyukur dan sangat mengapresiasi siswi MAN 1 Kudus ini,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 19 Mar 2019 10:24:27 +0700
<![CDATA[Siswa Diajak Observasi ke Situs Sejarah, Bikin Video Pembelajaran]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/18/125801/siswa-diajak-observasi-ke-situs-sejarah-bikin-video-pembelajaran https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/18/siswa-diajak-observasi-ke-situs-sejarah-bikin-video-pembelajaran_m_125801.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/18/siswa-diajak-observasi-ke-situs-sejarah-bikin-video-pembelajaran_m_125801.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/18/125801/siswa-diajak-observasi-ke-situs-sejarah-bikin-video-pembelajaran

Selama menjadi guru, berbagai penghargaan pernah Puji Rahayu terima. Salah satunya mendapat penghargaan terbaik I lomba karya tulis ilmiah guru.]]>

Selama menjadi guru, berbagai penghargaan pernah Puji Rahayu terima. Salah satunya mendapat penghargaan terbaik I lomba karya tulis ilmiah guru dalam rangka Lawatan Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Salah satu terobosannya menerbitkan buku yang berjudul Belajar Sejarah dari Lingkungan dan Permainan.

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara

SALAH satu kelas X MIPA 2 SMAN 1 Jepara, Muhammad Wildan Khakim As Syafei menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru pengampu mata pelajaran sejarah, Puji Rahayu. Penyebab runtuhnya kerjaan Mataram dijawab dengan lugas oleh Wildan.

Pertanyaan Puji berdasarkan presentasi beberapa siswa yang mendapatkan tugas menjelaskan runtuhnya kerajaan Mataram di  depan siswa lainnya. Satu per satu peserta didik presentasi di depan kelas. Ada yang menjelaskan awal berdiri Kerjaan Mataram. Ada pula yang menjelaskan kejayaan Kerajaan Mataram. Sementara Puji mengamati siswa yang presentasi.

Siswa yang bertugas presentasi semula duduk di di kursi guru. Kemudian berdiri. Berjalan melewati sela-sela baris kursi siswa. Usai peserta didik yang bertugas selesai. Tepuk tangan dari siswa lain mengapresiasi penjelasan teman yang bertugas. “Yang penting siswa bisa aktif menyampaikan materi. Tidak hanya sekadar mendengarkan apa yang saja jelaskan. Mereka malah yang menjelaskan. Saya hanya memancing bagaimana peserta didik ini paham,” katanya usai dijumpai setelah mengajar.

Berbagai prestasi pernah ia raih buah pengabdiannya menjadi pengajar. Di antaranya Guru Berprestasi Kabupaten Jepara 2014 dan 2017. Lalu pada 2015 mendapat penghargaan juara III artikel penelitian tindakan kelas dan juara III lomba inovasi pembelajaran. Terakhir pada 2017 mendapat penghargaan terbaik 1 lomba karya tulis ilmiah guru dalam rangka Lawatan Sejarah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah.

Pengalamannya mengajar sejak 1992 membuat perempuan kelahiran Jepara, 20 Desember 1968 ini menyusun formula pembelajaran sejarah yang menyenangkan. Ia memprogramkan kunjungan ke berbagai situs sejarah di Jepara.  Beberapa situs sejarah yang dikunjungi Masjid Mantingan, Makam Daeng Krapyak, Masjid Agung Baitul makmur, Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Museum Kartini, Benteng VOC Jepara, Benteng Portugis, dan Gereja Donorojo.

Dari hasil buah pikirnya mengajak siswa mengunjungi situs sejarah dan menciptakan media pembelajaran dari permainan. Ia merangkumnya dalam sebuah buku. Bukunya berjudul Belajar Sejarah dari Lingkungan dan Permainan. Terbit tahun lalu. Hingga saat ini dijadikan referensi siswa mengkaji sejarah lokal.

“Dalam buku itu tujuan saya menulisnya jadi referensi supaya siswa senang mengikuti pembelajaran. Sedangkan lawatan sejarah untuk mendekatkan siswa dengan lingkungan. Lalu tumbuh rasa bangga sebagai bagian dari Jepara,” ujarnya.

Selain mengajak siswa observasi ke situs sejarah, Puji juga membuat permainan sebagai metode pembelajaran. Ada tiga jenis permainan yang telah ia buat. Di antaranya aplikasi permainan interaktif dan kreatif, monopoli dan kartu sakti, serta puzzle edukasi dengan media video.

Ia juga membuat rangkaian video lepas yang diedit sesuai kebutuhan  untuk mendapatkan gambar yang dibutuhkan sebagai materi pembelajaran. Saat membuat video tentang pengasingan Bung Karno di Bengkulu, ia melibatkan anak-anak teater dan guru pembimbing ekstra kamera. Mereka memperagakan adegan pertemuan Bung Karno dan Fatmawati. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 18 Mar 2019 10:29:55 +0700
<![CDATA[Punya 39 Jenis, Satu Koi Ada yang Seharga Rp 70 Juta]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/18/125764/punya-39-jenis-satu-koi-ada-yang-seharga-rp-70-juta https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/18/punya-39-jenis-satu-koi-ada-yang-seharga-rp-70-juta_m_125764.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/18/punya-39-jenis-satu-koi-ada-yang-seharga-rp-70-juta_m_125764.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/18/125764/punya-39-jenis-satu-koi-ada-yang-seharga-rp-70-juta

Bagi sebagian orang, mengeluarkan uang puluhan juta untuk membeli ikan harus berpikir berkali-kali. Namun, bagi penghobi ikan koi, hal itu tak masalah.]]>

Bagi sebagian orang, mengeluarkan uang puluhan juta untuk membeli ikan harus berpikir berkali-kali. Namun, bagi penghobi ikan koi, hal itu tak masalah. Seperti yang dilakukan Ahmad Ulil Rosyad. Dia kini sudah punya koleksi 39 jenis koi. Satu ekor koi ada yang seharga Rp 70 juta. Koi koleksinya juga berprestasi hingga tingkat nasional.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

DI beranda rumah kakak Ahmad Ulil Rosyad, gemericik air kolam dan hidangan kopi tersaji sebagai pelengkap senja Jumat (16/03) lalu. Mata juga tampak termanjakan dengan warna dan corak ikan koi koleksi Ahmad Ulil Rosyad yang akrab disapa Ulik itu.

Ulik memiliki koleksi 36 jenis ikan koi. Mulai dari lokal hingga impor. Kolam ikan pun punya dua. ”Satu kolah berada di rumah kakak saya dengan ukuran 6x5 meter. Sedangkan yang satu lagi kecil, berukuran 2x3 meter berada di rumah,” ungkapnya.

Pria berumur 31 tahun itu, memulai hobinya mengoleksi ikan koi sejak 2016 lalu. Saat itu ia pernah melakukan kesalahan perawatan. Dari salah membuat kolam sampai hingga ikan seharga Rp 7 juta mati terserang penyakit. ”Dari situ saya terus belajar, hingga saya bisa menciptakan koi yang berkualitas baik,” katanya.

Ulik menunjukan koleksi ikan koi impornya. Jenis Showa. Ia rela merogoh kocek hingga Rp 40 juta. Kemudian jenis koi Kohaku ia mengeluarkan uang Rp 27 juta. Jenis Sanke dulu ia membelinya seharga Rp 21 juta. Ketiga jenis koi tersebut merupakan kesayangannya.

Ulik yang tergabung dalam komunitas Muria Raya Koi Club ini, sering menjadwalkan hunting ikan bersama rekannya. Terkadang ia melakukan hunting seminggu sekali. Bahkan, ia pernah hunting sampai ke Jepang. Hal itu demi mendapatkan koi yang berkualitas super.

Untuk perawatan ikan koinya tersebut. Ulik mengaku menggunakan pakan impor. Memang mahal. Harganya Rp 3 juta. Pemberian makan saja ia harus merogoh kocek Rp 7 juta per bulan. Itu dilakukan untuk mendapatkan kualitas yang bagus. Mulai dari corak, ukuran, dan warna koi.

”Saya harus perhatikan sedetail mungkin. Mulai dari air, suhu kolam, dan filter kolam,” ungkapanya.

Tak main-main, Ulik juga menambahkan jenset untuk menjaga filter tetap menyala saat listrik mati. Alasan itu dilakukan agar ikan kesayangannya tak kolaps. Ia sudah hampir mengeluarkan biaya Rp 75 juta untuk membangun kolam koi tersebut.

Ia pun sempat disuruh berhenti oleh istrinya menekuni hobinya yang mahal itu. Namun, Ulik menolak. Dia beralasan koi mampu mendatangkan rejeki bagi pemiliknya.

Dia pun menjawab keraguan istrinya itu. Koi jenis Showa mampu menembus harga jual Rp 70 juta. Bahkan, koi koleksinya itu mampu memenangkan kejuaran tingkat nasional. Pada 2018 dia menjuari All Indonesia Koi Show. Ulik mendapatkan podium I dan II. Sedangkan di Temanggung ia mampu meraih Anggrek pres I. Tahun ini, Ulik berambisi bisa meraih grand camphion di Kota Solo nanti. Karena itu merupakan penghargaan bergengsi tingkat nasional.

”Selama saya main koi, alhamdulillah saya tak pernah jual ikan ketika ingin membeli ikan baru. Itulah koi, sering disebut membawa rezeki,” ungkapnya.

Dia mengaku, saat ini perkembangan penghobi koi di Kudus sangat banyak. Banyak sebagian orang yang ingin tau lebih tentang koi.

Selain merambahnya penghobi koi di Kudus, dia berkeinginan membuat acara koi show dalam waktu dekat. Acara ini nantinya tingkatnya nasional. ”Insya Allah akhir tahun kami nanti kami gelar koi show di Kudus. Sebelumnya, kami juga membuat latber (latihan bareng) tingkat Jawa Tengah di GOR Bung Karno pekan lalu,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 18 Mar 2019 08:15:18 +0700
<![CDATA[Biasa Ikut Tahlilan, Anak dan Istri Tetap Islam]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/16/125456/biasa-ikut-tahlilan-anak-dan-istri-tetap-islam https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/16/biasa-ikut-tahlilan-anak-dan-istri-tetap-islam_m_125456.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/16/biasa-ikut-tahlilan-anak-dan-istri-tetap-islam_m_125456.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/16/125456/biasa-ikut-tahlilan-anak-dan-istri-tetap-islam

Hidup sebagai kaum minoritas dalam iman mengharuskan Dwi Karno lebih beradaptasi di masyarakat. Dia tetap membebaskan istri dan anak-anaknya memeluk agama Islam]]>

Hidup sebagai kaum minoritas dalam iman mengharuskan Dwi Karno lebih beradaptasi di masyarakat. Meski sebagai ketua organisasi penghayat kepercayaan, dia tetap membebaskan istri dan anak-anaknya memeluk agama Islam.

SAIFUL ANWAR, Rembang

DI atas kain mori, mereka duduk dengan tumpuan dua kaki menghadap timur. Kedua tangan menyilang di dada. Mereka pun melafalkan doa-doa. Sejenak kemudian, mereka sujud dengan tetap merapalkan doa-doa puja-puji untuk Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seperti itulah kiranya salah satu cara ibadah penghayat kepercayaan Sapto Darmo. Dwi Karno, sang sesepuh kepercayaan tersebut di Rembang mengaku sudah memeluk kepercayaan tersebut sejak duduk di bangku kelas VIII SMP. Sekitar 1982 silam.

Bapak tiga anak itu bercerita, sejak usia setahun dirinya hidup bersama pamannya di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Pamannya itu merupakan seorang guru magnetizm, semacam tokoh aliran kebatinan.

Setelah sang paman meninggal, Dwi pun mencari ”guru baru” di antara murid pamannya. Sejak itulah, dia tertarik dan bahkan menjadi penghayat kepercayaan Sapto Darmo satu-satunya di lingkungan keluarganya hingga sekarang.

Meski demikian, dia membebaskan anak-anak dan istrinya memeluk agam lain. ”Istri dan anak saya bebaskan. Terserah, kalau memang nanti mau ikut (Sapto Darmo, Red) ya bagus. Kalau tidak ya tidak apa-apa. Mereka bebas menentukan pilihannya,” tutur pria kelahiran Pati, 12 Februari 1964 itu.

Apa yang dikatakannya memang terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga anaknya dan istrinya, Sri Sapartina memeluk agama Islam. Meski dia menyebut salah satu anak dan istrinya sempat ikut beribadah di sanggar Candi Busono, tempat penganut Sapto Darmo biasa beribadah.

Dwi Karno menyadari betul, sebagai minoritas dirinya wajib menyesuaikan diri dengan masyarakat mayoritas. Maka, tak ayal dia pun terbiasa ikut kenduren atau tahlilan apabila mendapat undangan dari warga.

”Ya namanya diundang, ya datang. Tidak masalah. Yang lain pakai peci, saya juga pakai peci,” aku Dwi Karno yang juga ditunjuk sebagai ketua RT setempat sejak tiga tahun lalu itu.

Selama hidup di Kota Garam, tepatnya di Jalan Cokroaminoto, RT 1/RW 2, Desa Kabongan Kidul, Kecamatan Kota Rembang, dia mengaku tak pernah mendapat perlakuan diskriminatif. Masyarakat setempat saling menghargai apa pun kepercayaan yang dianut.

”Yang terpenting kan sesama manusia harus hidup rukun. Dengan semua orang harus baik. Kalau ada yang tidak baik ya didiamkan saja,” katanya.

Dia menerangkan, sebagaimana kepercayaan atau agama lain, Sapto Darmo pun memiliki tokoh yang memperoleh wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sang tokoh itu, Panuntun Agung Sri Gutama yang merupakan penerima ajaran Sapto Darmo.

Sang Panuntun mendapatkan wahyu sekitar tahun 50 Masehi di Pare Kediri, Jawa Timur. Ajaran ini juga memiliki panuntun perempuan yang disebut Sri Pawenang. Penjelasan untuk tokoh ini, yakni tokoh panutan perempuan. Dwi Karno tak menjelaskan lebih panjang untuk sosok perempuan ini.

Selain itu, kepercayaan ini juga memiliki ajaran dasar. Yakni apa yang disebut dengan Wewarah Tujuh. Isinya, kewajiban warga Sapto Darmo yang intinya beriman kepada Tuhan dan berbaik kepada sesama.

Sehari-hari, Dwi Karno bekerja serabutan. Dia mengerjakan apa saja apabila diminta tolong tetangga. Dia berprinsip, menerima apa saja yang diberikan Tuhan atau nrimo ing pandum. Bila tak ada pekerjaan, dia pun ikut membantu istrinya berjualan makanan ringan tak jauh dari kediamannya.

Untuk diketahui, penghayat kepercayaan sebentar lagi memiliki e-KTP dengan keterangan agama khusus. Di Rembang, jumlah golongan ini ada sekitar 500 orang. Mereka tergabung dalam kelompok bernama Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MKLI) yang diketahui oleh Dwi Karno sendiri. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 16 Mar 2019 11:42:32 +0700
<![CDATA[Bermula dari Gagal Jadi Pesepakbola Profesional]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/15/125194/bermula-dari-gagal-jadi-pesepakbola-profesional https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/15/bermula-dari-gagal-jadi-pesepakbola-profesional_m_125194.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/15/bermula-dari-gagal-jadi-pesepakbola-profesional_m_125194.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/15/125194/bermula-dari-gagal-jadi-pesepakbola-profesional

Dwi Purba Adi Wicaksana memulai profesi wasit sejak 2009. Profesi ini dipilihnya lantaran tak kunjung menjadi pesepakbola profesional. Pilihannya tepat.]]>

Dwi Purba Adi Wicaksana memulai profesi wasit sejak 2009. Profesi ini dipilihnya lantaran tak kunjung menjadi pesepakbola profesional. Pilihannya tepat. Tahapan demi tahapan dia lalui menjadi sang pengadil lapangan, hingga akhirnya meraih wasit berlisensi FIFA.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

DWI Purba Wicaksana mengawali karir sebagai wasit sepak bola pada Februari 2009 silam. Saat itu, dia mengambil lisensi C3 dasar tingkat kabupaten. Kemudian berlanjut mengambil C2 provinsi pada Desember 2009 dan C1 nasional di 2010.

Pengambilan lisensi berlanjut di 2012 saat mengambil lisensi Liga 3. Tak berhenti di situ, di 2013 Dwi Purba melanjutkan mengambil lisensi Liga 2. Kemudian, di 2015 dirinya mengambil lisensi Liga 1 dan register FIFA.

Selama berkarir menjadi sang pengadil pertandingan, mengantarnya memimpin sejumlah pertandingan besar. Mulai pertandingan di Liga 3 hingga Liga 2 pernah dipimpinnya. Pun dengan laga-laga besar sarat gengsi, seperti Persija Jakarta melawan PSM Makassar, Persib Bandung versus Arema Malang, Persib Bandung kontra Bali United, dan beberapa laga big match lainnya. Terbaru, Dwi Purba memimpin laga pembuka Piala Presiden 2019 Grup A antara Persib Bandung melawan Tira Persikabo di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.

Karirnya tak sebatas di Indonesia. Laki-laki yang berdomisili di Gang Hudowo, RT 6/RW 1, Desa Jati Wetan, Jati, Kudus, ini, pernah memimpin laga The East Asian Football Federation (EAFF). Itu merupakan kejuaraan antar negara-negara Asia Timur. ”Pernah memimpin laga di Korea Utara, Hongkong, Chinese Taipei, Mongolia, dan beberapa negara lain juga,” terangnya.

Pengalaman berharga lain juga didapatnya. Seperti memimpin laga bertajuk Newspaper Tournament di Vietnam, AFF U-19 di Myanmar, dan AFF U-16 di Surabaya. ”Pada 22 Maret 2019 mendatang, saya akan memimpin International Football Tourament U-19 di Vietnam,” terangnya.

Pahit manis telah dijalani Dwi Purba. Menurutnya, masih ada pemain yang terkadang hanya bisa memprotes keputusannya tanpa mengetahui law of the game. Sebaliknya, dirinya mengaku senang apabila ada pemain yang menghormati keputusannya.

Disinggung soal lisensi FIFA yang telah dikantongi, dia mengaku tak mudah untuk mendapatkan lisensi tersebut. Register FIFA diambilnya pada 2015 di Malaysia. Saat itu, ada sekitar 25 wasit yang mengambil lisensi tersebut. Mereka dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Laos, dan Filipina.

Selama mengambil lisensi FIFA, pria kelahiran Kudus, 22 Juli 1988 ini, belajar soal peraturan wasit dan cara menganalisa pertandingan. Salah satunya saat dirinya dihadapkan pada video yang harus dijawab tepat keseluruhan. ”Jadi ada tayangan video, terus diminta menjawab kejadian di video tersebut pelanggaran atau tidak, atau perlu diberi kartu kuning atau merah,” jelasnya.

Tak hanya itu, pria lulusan S1 Fakultas Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini, juga dihadapkan pada tes lari. Pada tes ini, dia diharuskan berlari dengan timingi start dan finish yang benar-benar harus tepat. Sebab, apabila terlambat satu langkah akan diberi peringatan berupa kartu kuning dan kartu merah. Kemudian ada fitness kebugaran wasit sesuai limit yang sudah ditentukan. Seperti lari 75 meter dengan durasi 15 detik dan lari 25 meter dengan durasi 18 detik.

Selain itu, dia juga harus memahami pengulasan pasal peraturan sepak bola dari pasal 1 hingga 17. ”Setidaknya harus tahu kalau pasal 11 itu off-side dan pasal 12 itu foul,” jelasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 15 Mar 2019 09:49:19 +0700
<![CDATA[Pentas Awal sampai Akhir Kehujanan, Anggota Saling Beri Semangat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/14/124948/pentas-awal-sampai-akhir-kehujanan-anggota-saling-beri-semangat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/14/pentas-awal-sampai-akhir-kehujanan-anggota-saling-beri-semangat_m_124948.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/14/pentas-awal-sampai-akhir-kehujanan-anggota-saling-beri-semangat_m_124948.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/14/124948/pentas-awal-sampai-akhir-kehujanan-anggota-saling-beri-semangat

Yhegie Hestians Indonesia membawakan cerita Ki Ageng Gringsing saat Parade Keprajuritan Nusantara 2018 di TMII. Pentasnya tak berjalan mulus.]]>

Yhegie Hestians Indonesia membawakan cerita Ki Ageng Gringsing saat Parade Keprajuritan Nusantara 2018 di TMII. Pentasnya tak berjalan mulus. Jakarta diguyur hujan sepanjang penampilannya. Tetapi ia dan timnya berhasil jadi juara umum di acara itu.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI,Grobogan

SEJENAK teringat bait reff lagu Mahadewi dari Grub Band Padi, ketika melihat penampilan Yhagie Hertians Indonesia malam itu. Yhagie yang saat itu menjadi pusat perhatian berpasang-pasang mata. Dari sorot mata indahnya, dia tampak letih. Keringat di dahinya mulai bercucuran, tapi paras cantiknya masih terjaga. Tak kuasa mengusap. Saking banyaknya warga yang berkerumun ingin berpose dengannya.

Itu wajar saja, jika melihat Yhagie dengan balutan busana yang membuatnya menjelma seperti Shinta. Gemulainya dalam menari berhasil membawa penonton ke masa Ramayana. Tak heran, jika ia sukses membawakan perannya. Jika melihat kepiawaiannya sudah diasah sejak belia.

Sebelum taman kanak-kanak dara kelahiran Grobogan, 27 April 1996 ini sudah mengikuti kursus di sanggar tari. Makin lama makin terasah. Di sekolah dasar, SMP, hingga kuliah selalu aktif dalam kegiatan tari. Berbagai perlombaan kesenian selalu diikuti. Mulai festival kesenian hingga kirab budaya.

”Dari kecil kan diajak kondangan yang ada penampilannya gitu. Saya suka melihatnya. Kemudian bapak juga melihat saya suka tari,” ujarnya.

Seakan ingin mengembangkan bakat lebih dalam, ia pun memutuskan melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Padahal sebelumnya ia sudah berkuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). Bukan memilih salah satu. Ia malah tetap berkuliah di dua universitas ternama kota bengawan ini.

Rupanya itu tak mengganggu prestasi akademisnya. Indeks Prestasi (IP) masih di atas tiga. Bahkan di bangku kuliah ini ia juga mendapat prestasi. Ia bersama timnya dari ISI berhasil menyabet juara umum Parade Keprajuritan Nusantara pada 2018. Yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

”Saat itu temanya tentang keprajuritan. Kreativitas koreo dan musik juga menjadi penilaian. Satu tim 30 orang. Sudah termasuk pemusik. Itu memainkan satu alur cerita. Durasinya lima menit,” kenangnya.

Cerita dalam parade saat itu tentang Ki Ageng Gringsing yang berjuang mempertahankan daerahnya. Tetapi ia menjumpai kendala. Ketika ia dan timnya tampil, langit Jakarta sedang diguyur hujan. Sementara penilaian dari juri berdasarkan ketahanan tubuh dan keutuhan formasi.

”Kami dari awal sampai akhir kehujanan. Tetapi kami saling memberi semangat. Karena ambisi kami memang untuk menang,” imbuhnya. Ya, cara mereka mengatasi kesulitan itu berhasil.

Dari menari ia mampu mengambil pelajaran tentang kesabaran. Menurutnya, menjadi penari harus memiliki tingkat kesabaran tinggi. Terutama pada tarian jawa. Yang mengharuskan telaten. Tak hanya tari tradisional, berbagai tari koreo modern juga ia kuasai.

Makin malam raut wajahnya tampak semakin lelah. Kami pun saling berpamitan. Ia mulai balik badan. Masih dengan kostum budaya tradisional, membaur dengan kerumunan orang berkostum modern. Makin lama semakin samar, perlahan ia mulai menghilang tertelan kerumunan. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 14 Mar 2019 08:36:25 +0700
<![CDATA[Buat Launching Tim Meriah dengan Konser Padi Reborn]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/13/124702/buat-launching-tim-meriah-dengan-konser-padi-reborn https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/13/buat-launching-tim-meriah-dengan-konser-padi-reborn_m_124702.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/13/buat-launching-tim-meriah-dengan-konser-padi-reborn_m_124702.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/13/124702/buat-launching-tim-meriah-dengan-konser-padi-reborn

Tim sepak bola kebanggaan masyarakat Kudus, Persiku memiliki satu penggemar sejati. Bahkan sempat ikut terlibat langsung dalam mengelola manajemennya.]]>

Tim sepak bola kebanggaan masyarakat Kudus, Persiku memiliki satu penggemar sejati. Bahkan sempat ikut terlibat langsung dalam mengelola manajemennya. Tim berjuluk Macan Muria menjadi jaya dengan masuk Divisi Utama pada 2008 silam. Dia T Sugiyanto, eks manajer tim berjuluk Macan Muria.

M ULIN NUHA, Kudus

NAMA Persiku kembali naik akhir-akhir ini, setelah terjadi pergantian kepala daerah. Tim berjuluk Macan Muria tahun ini kembali memiliki target fantastis. Masuk ke Liga 1 turnamen sepak bola Indonesia. Itu sebabnya, semua lini dibenahi untuk bisa mencapai target tersebut. Orang-orang yang dulu membuat Persiku jaya, kembali direkrut dalam kepengurusan kali ini.

SUCCESS STORY: Persiku saat menjadi juara 1 Divisi II Liga Indonesia 2005. Tim ini kemudian mampu bermain di Divisi Utama 2008/2009. (DOK PRIBADI)

Namun, ada satu penggemar sejati Persiku yang dulu andil dalam kejayaannya. Saat ini sosok itu tak lagi ikut ambil bagian di tim. Dia adalah T Sugiyanto. Meski sudah ditawari untuk turut menangani Persiku, namun pria ini menolaknya. ”Saya beberapa waktu lalu memang ditawari untuk kembali ikut menangani Persiku. Tapi, saya menolak. Bukan kenapa-kenapa, tapi karena kesibukan saya di tempat kerja yang tidak bisa saya tinggalkan,” terangnya.

Rasa hati memang ingin ikut serta menangani Persiku sebagaimana dulu. Namun, bagi pria yang akrab disapa Pak T ini, kesibukan bekerja juga tidak bisa diabaikan. Namun, bukan berarti dia tidak terlibat lagi di Persiku. Dukungan nyata diberikan kepada klub melalui jalan lain. Saat Persiku di-launching beberapa waktu lalu, dia ikut serta di dalamnya. Membuatkan acara yang meriah di Alun-alun Simpang 7 Kudus yang melibatkan banyak pihak.

Pak T mendatangkan grup musik Padi Reborn guna menyemarakkan launching. Konser yang dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Kudus HM Tamzil bersama jajarannya itu, berlangsung sangat semarak. ”Ini hajatannya pencinta sepak bola di Kudus, yang ingin melihat tim kesayangan mereka dalam suasana yang baru. Kita memulainya juga harus dengan sesuatu yang berbeda. Dan yang bisa saya lakukan adalah mendukung melalui konser kemarin itu. Ternyata diapresiasi banyak pihak, sehingga acaranya berlangsung meriah. Saya berterima kasih atas semua itu,” paparnya.

Sebagai mantan pengurus inti Persiku, dia memahami benar arti keinginan supaya sebuah tim bisa sukses. Salah satunya adalah dukungan dari suporter, pengampu kebijakan, dan stakeholder lain. Pak T sendiri pengurus inti Persiku ketika masih berlaga di Divisi II B Jawa Tengah. Sampai akhirnya bisa menembus Divisi Utama pada 2008.

Menurutnya, pada 1995-2000 Persiku mengalami kevakuman, sehingga menimbulkan keprihatinan tersendiri. Namun, berkat kerja keras semua pihak, akhirnya Persiku bisa ikut kompetisi kembali pada musim 2000/2001 di Divisi II B Jawa Tengah. Selanjutnya, prestasi Persiku terus beranjak naik. Hasilnya pada 2008/2009 mampu bermain di Divisi Utama. Banyak pengurus Persiku yang berjuang agar Persiku mampu bermain di Divisi Utama.

”Saya bangga bisa mengurusi Persiku sebelum akhirnya mengundurkan diri dari kepengurusan. Tapi, dari sejak zaman kakak saya mengurusi Persiku, sampai saat ini, saya tetap mencintai Persiku. Meski tidak berkecimpung langsung, namun saya akan terus membantu klub ini sebisa saya,” tegasnya.

Kecintaannya pada sepak bola memang tertanam lama. Sebelum ikut mengurusi Persiku, ayah dua anak ini sudah mengurusi sepak bola di tempatnya bekerja, di  PT Nojorono Tobacco International. Yakni mengurusi PS Nojorono mengikuti Galakarya atau pertandingan sepak bola antarkaryawan perusahaan. Saat itu dia mulai mengurusi sekitar 1991 atau 1992.

Hal itu dibenarkan salah satu orang yang juga ikut serta di dalamnya, Suhadi Bonding. Menurutnya, ketika menjadi manajer tim banyak mendulang kemenangan dan menjadi juara. Misalnya saat laga di Korwil Pati, tim PS Nojorono mampu meraih juara setelah mengalahkan Persikaba Blora. Timnya juga berhasil meraih kejuaraan di berbagai kota di Jawa Tengah. Seperti di Solo, Ambarawa, Klaten, dan Batang. ”Dari sinilah Pak T diakui dalam menangani tim sepak bola. Kami juga bangga ketika Pak T diminta menangani Persiku,” jelasnya.

Pak T juga dikenal sebagai salah satu yang aktif di kegiatan sosial. Perusahaan tempatnya bekerja, juga kerap memberikan bantuan ke berbagai kalangan. Misalnya memberikan beasiswa kepada anak-anak karyawan. Dia juga pernah menjadi anggota Dewan Kehormatan Palang Merang Indonesia (PMI) Cabang Kudus. Bahkan hingga tiga periode.

Menurut suami Yennywati Winanto ini, bisa membantu sesama itu merupakan hal yang menyenangkan. Semua pekerjaan yang ada dilakukan dengan baik, apalagi yang menyangkut misi sosial. ”Saya juga didukung perusahaan. Itu membuat kita semakin bisa berbuat baik kepada banyak orang. Misalnya setiap tiga bulan sekali karyawan PT Nojorono Tobacco International turut menyumbangkan darahnya ke PMI Cabang Kudus. Karyawan memahami, jika darah yang mereka sumbangkan sangat dibutuhkan orang lain,” katanya.

Beberapa kegiatan yang digelar perusahaan juga terbilang sukses dilaksanakan pria ini. Misalnya menggelar berbagai konser di Kudus dan sekitarnya. Selain band Padi Reborn saat launching Persiku, konser yang sukses dilaksanakan di antaranya konser band Ungu, Armada, Seventeen, dan Kotak.

Bukti lain kinerja Pak T adalah taman di depan kantor bupati Kudus. Sejak awal dibangun, dia dengan setia mengawasi prosesnya. Termasuk memilih jenis tanaman. Seringkali pria ini terlihat sedang mengecek langsung kondisi taman. Apakah sudah bagus dan terawat baik atau belum. Taman itu sumbangan PT Nojorono Tobacco International kepada Kudus agar membuat asri pemandangan di pusat kota.

Bagi Pak T, hidup memang harus bermanfaat. Bukan saja kepada diri sendiri, keluarga, namun juga kepada semua pihak. Apalagi bagi mereka yang membutuhkan. Jika semua orang bisa menyadari hal itu, tak akan sulit membangun kebaikan di dunia ini.

Contohnya baru-baru ini digelar dialog budaya ”Mutiara Nusantara”. Acara yang diprakarsainya itu, ditujukan untuk merayakan persatuan dan kesatuan Indonesia. ”Kita ingin menyampaikan semangat baik kepada semua pihak, bahwa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini sangat penting,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 13 Mar 2019 08:55:30 +0700
<![CDATA[Bikin Griya Pamulangan untuk Ubah Pola Pikir Warga]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/12/124463/bikin-griya-pamulangan-untuk-ubah-pola-pikir-warga https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/12/bikin-griya-pamulangan-untuk-ubah-pola-pikir-warga_m_124463.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/12/bikin-griya-pamulangan-untuk-ubah-pola-pikir-warga_m_124463.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/12/124463/bikin-griya-pamulangan-untuk-ubah-pola-pikir-warga

Suharti mampu mengubah pandangan masyarakat agar tak menikah dini. Caranya dengan membuat forum Griya Pamulangan bagi remaja di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem.]]>

Suharti mampu mengubah pandangan masyarakat agar tak menikah dini. Caranya dengan membuat forum Griya Pamulangan bagi remaja di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang. Upayanya tersebut, mendapat dukungan dari PT Semen Gresik dan lembaga pemerintahan di Kota Garam.

 ALI MAHMUDI, Rembang

 SEMANGAT Suharti untuk terus menggemakan pencegahan pernikahan dini kian membara. Terlebih setelah Yayasan Plan berhasil meyakinkan jajaran Disdikpora Kabupaten Rembang agar membangun SMA sederajat di Desa Tegaldowo. Sebab berdasar analisa, salah satu penyebab maraknya pernikahan dini karena rendahnya kesadaran dan tak adanya sarana prasarana pendidikan.

Mayoritas anak Desa Tegaldowo hanya menempuh pendidikan tingkat dasar (SD) atau SMP sederajat. Jika ingin melanjutkan ke jenjang SMA sederajat mereka harus ke ibu kota Kecamatan Gunem yang jaraknya sekitar 10 kilometer.

”Berkat dampingan Plan, akhirnya tahun 2011 SMKN 1 Gunem dibangun di Desa Tegaldowo. Sarana pendidikan ini, turut menekan praktik pernikahan dini,” ucap Suharti.

Progam dampingan Yayasan Plan di Desa Tegaldowo berakhir pada 2015 lalu. Seiring proses itu, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan holding PT Semen Gresik juga melakukan upaya serupa di Desa Tegaldowo dan kawasan sekitarnya.

Progam yang dijalankan nyambung dengan upaya yang dirintis Yayasan Plan. Mulai dari pemberdayaan perempuan lewat pelatihan tata boga, tata rias, progam kejar paket untuk anak-anak putus sekolah, Griya Pamulangan, progam jambanisasi, dan lain sebagainya. Termasuk bantuan untuk menunjang aktivitas belajar mengajar di SMKN 1 Gunem. Total anggaran yang dikucurkan perusahaan semen terkemuka itu, untuk berbagai progam tersebut mencapai miliaran rupiah.

Meski progam Yayasan Plan rampung, tak lantas membuat Suharti ”pensiun” dari aktivitas sosial yang digelutinya. Ia menyalurkan aksi pemberdayaannya melalui Griya Pamulangan. Lewat wadah ini, puluhan anak diberdayakan melalui berbagai aktivitas. Mulai dari seni tari, melukis, bimbingan belajar (bimbel), hadrah, mengaji, olahraga, hingga digugah agar berani menyampaikan aspirasi.

Anak-anak yang beraktivitas di Griya Pamulangan bahkan tak hanya berasal dari Desa Tegaldowo, namun juga desa sekitarnya. Seperti dari Desa Gunem, Timbrangan, Kajar, Pasucen, Suntri, Dowan, hingga Trembes.

Suharti juga aktif dalam gerakan literasi di desanya. Salah satunya melalui perpustakaan Desa Tegaldowo yang disokong oleh PT Semen Gresik. Peresmian perpustakaan desa ini, dihadiri oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Sementara itu, salah seorang anak Desa Tegaldowo yang melakukan pernikahan dini adalah Musri. Remaja ini dinikahkan orang tuanya saat ia mengikuti ujian SMP beberapa tahun lalu. Namun, perkawinannya hanya bertahan selama lima bulam. Setelah itu, Musri cerai dengan suaminya yang juga sama-sama masih berusia belia.

Suharti sangat dipercaya oleh Musri. Ia menjadi tempat curhat remaja tanggung ini. Bahkan, saat Musri diminta menceritakan pengalamannya ihwal praktik pernikahan dini di Desa Tegaldowo oleh berbagai lembaga, ia selalu minta didampingi oleh Suharti. Misalnya saat diwawancarai salah satu televisi nasional, diundang Universitas Indonesia (UI), atau Mahkamah Konstitusi (MK).

”Wawasan saya terbuka berkat bimbingan Bu Har (Suharti). Saya juga tergerak melanjutkan pendidikan di SMKN 1 di Desa Tegaldowo. Sebentar lagi saya akan menikah dengan lelaki pilihan saya. Kalau sekarang saya benar-benar siap, karena usia memang sudah matang,” tutur Musri.

Salah seorang pemuda Desa Tegaldowo, Supriyanto, 23, juga mengapresiasi peran besar Suharti. Upet -panggilan akrab Supriyanto- mengaku, kini ia lebih percaya diri karena upaya pemberdayaan anak-anak yang dilakukan Suharti.

”Dulu saya pemalu. Tapi, setelah ikut kegiatan Bu Har saya jadi berani. Saya juga jadi paham soal dampak pernikahan dini dari beliau,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Unit Komunikasi dan corporate social responsibility (CSR) PT Semen Gresik Kuswandi, mengatakan, pihaknya berkomitmen terus melakukan upaya pemberdayaan perempuan maupun anak-anak. Khususnya di sekitar lokasi perusahaan. Salah satu upayanya dengan menghidupkan kembali beragam aktivitas ramah anak di Griya Pamulangan.

Kuswandi berharap, Griya Pamulangan menjadi wadah untuk pengembangan wawasan, keterampilan, dan bakat anak-anak desa. Termasuk juga menjadi sarana untuk benar-benar mengikis praktik pernikahan dini yang meskipun sudah berkurang, namun masih ada di kawasan Rembang selatan.

”Kami akan gandeng lagi tokoh-tokoh lokal yang memang concern dalam pemberdayaan perempuan dan anak. Griya Pamulangan juga untuk mengapresiasi kiprah mereka. Tahun ini kami targetkan akan lebih banyak aktivitas yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan. Ini hasil kolaborasi Semen Gresik dengan Griya Pamulangan,” tandas Kuswandi. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 12 Mar 2019 09:32:03 +0700
<![CDATA[Sempat Dicuekin Warga, Prihatin Banyak Janda Muda]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/11/124228/sempat-dicuekin-warga-prihatin-banyak-janda-muda https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/11/sempat-dicuekin-warga-prihatin-banyak-janda-muda_m_124228.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/11/sempat-dicuekin-warga-prihatin-banyak-janda-muda_m_124228.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/11/124228/sempat-dicuekin-warga-prihatin-banyak-janda-muda

Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, memiliki perempuan bernama Suharti, 50. Dia gigih berjuang agar tak ada lagi pernikahan dini di kampungnya.]]>

Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, memiliki perempuan bernama Suharti, 50. Dia gigih berjuang agar tak ada lagi pernikahan dini di kampungnya. Atas usahanya, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan holding PT Semen Gresik mendukung penuh upayanya.

ALI MAHMUDI, Rembang

MELIHAT maraknya kasus pernikahan dini di Desa Tegaldowo, Gunem, Rembang, membuat Suharti, 50, prihatin. Sebab, di balik fenomena sosial itu juga terselip kisah tentang minimnya pendidikan, ketidakberdayaan anak-anak menentukan pilihan masa depannya, ketidaksiapan reproduksi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga maraknya perceraian.

Suharti pun tergerak berbuat sesuatu untuk desanya. Sebuah desa di kawasan perbukitan kapur dan berjarak 37 kilometer dari pusat Kota Rembang. Beruntung, ada berbagai lembaga yang peduli. Selain Yayasan Plan International Indonesia, juga ada PT Semen Gresik yang peduli mengikis praktik nikah dini di desanya.

Hasilnya kini bisa dirasakan. Kebiasaan yang sudah berjalan turun-temurun itu, terus berkurang. Anak-anak Desa Tegaldowo bahkan desa-desa di kawasan Kecamatan Gunem juga lebih memiliki pilihan menatap masa depan hidupnya dengan lebih cerah.

”Dulu di sini, anak baru lulus SMP sudah dinikahkan itu sesuatu yang lazim. Makanya saat usia mereka 20 tahunan, banyak yang sudah berstatus janda atau duda. Tak hanya sekali, bahkan bisa 2-3 kali. Tapi, sekarang kondisinya sudah berbeda. Masih ada (nikah usia dini) tapi sudah jauh berkurang," kata Suharti saat ditemui baru-baru ini.

Suharti sendiri merupakan ketua Komite Perlindungan Anak Desa (KPAD) Tegaldowo. Dia bersinggungan dengan lembaga ini sejak 2005. Persisnya setelah sebuah NGO (non goverment organization) yang fokus dalam kesetaraan gender dan hak anak, yakni Yayasan Plan International Indonesia masuk ke desanya.

Kebetulan, Suharti merupakan kepala TK Pertiwi Tegaldowo yang aktivitas hariannya berhubungan langsung dengan anak-anak. Sehingga klop dengan progam NGO yang berkantor di Jakarta itu. Desa Tegaldowo menjadi salah satu desa dampingan Yayasan Plan.

Selain Tegaldowo, Plan juga menggarap desa lain. Baik di Kecamatan Gunem, maupun sejumlah wilayah lain di Kota Garam. Selain jambanisasi, progam pencegahan pernikahan dini termasuk prioritas yang dijalankan NGO ini. Suharti dan sejumlah rekannya menjadi ujung tombak progam tersebut di Desa Tegaldowo. Anak-anak mulai usia balita hingga 17 tahun menjadi ”target utama" progam tersebut.

”Kami juga melakukan pendekatan dengan orang tua anak-anak itu. Saat ada kumpulan wali murid TK Pertiwi Tegaldowo atau SMP serta momen lain, saya juga sampaikan tentang bahaya pernikahan dini. Upaya pemberdayaan ini, tidak akan berhasil maksimal tanpa partisipasi dan dukungan dari orang tua, lingkungan, maupun pihak terkait lain,” jelas Suharti.

Anak-anak yang masih proses tumbuh kembang diajak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan positif. Mulai dari aktivitas seni, olahraga, pecinta alam, pengembangan wawasan berpikir, dan lain sebagainya. Agar fokus dan tepat sasaran, berbagai kegiatan itu diwadahi dalam Forum Anak Desa (FAD).

Wawasan anak-anak juga diperluas. Mereka diajak meneropong masa depannya. Fenomena yang terjadi di sekitar kerap dijadikan contoh untuk membuka cakrawala berpikir anak-anak itu.

”Saya bilang ke mereka, lihat sekelilingmu, saudaramu, kakakmu, atau siapa saja yang menikah terlalu dini. Setelah menikah muda mereka ngapain? Umur masih muda sudah gendong anak, mengurusi rumah, pergi ke sawah atau yang sejenis. Makanya saya pesan ke mereka, menikah itu harus, tapi jangan terburu-buru. Masa depan masih panjang, semangat muda harus diisi dengan mimpi dan harapan," ujar Suharti.

Perjuangan Suharti bukan tanpa aral. Awalnya, banyak warga yang abai dengan apa yang dia perjuangkan. Sebab, menikah dini sudah menjadi kebiasaan yang berakar kuat di masyarakat. Selain itu, beban orang tua juga berkurang setelah anaknya dinikahkan.

Satu hal yang juga menjadi ”kepercayaan” dan berkembang di masyarakat juga seakan menguatkan praktik pernikahan dini. Mereka khawatir jika anaknya dilamar tapi ditolak, maka bakal tidak laku kawin. Hal ini menjadi perawan tua dan istilah lain yang sejenis.

Progam dampingan Yayasan Plan di Tegaldowo berakhir pada 2015 lalu. Seiring proses itu, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan holding PT Semen Gresik juga melakukan upaya serupa di Desa Tegaldowo dan kawasan sekitarnya.

Progam yang dijalankan pun nyambung dengan upaya yang dirintis Yayasan Plan. Mulai dari pemberdayaan perempuan lewat pelatihan tata boga, tata rias, hingga progam kejar paket untuk anak-anak putus sekolah, Griya Pamulangan, progam jambanisasi, dan lain sebagainya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 11 Mar 2019 06:49:47 +0700
<![CDATA[Pernah Juara I Nasional Danone Cup dan Wakili Indonesia ke Afsel]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/10/124096/pernah-juara-i-nasional-danone-cup-dan-wakili-indonesia-ke-afsel https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/10/pernah-juara-i-nasional-danone-cup-dan-wakili-indonesia-ke-afsel_m_124096.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/10/pernah-juara-i-nasional-danone-cup-dan-wakili-indonesia-ke-afsel_m_124096.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/10/124096/pernah-juara-i-nasional-danone-cup-dan-wakili-indonesia-ke-afsel

Yoga Ilham Pratama pernah masuk SSB dan sudah ikut Liga Danone. Sebagai pesepakbola, masa kelam pernah dialaminya. Yakni cedera lutut.]]>

Yoga Ilham Pratama pernah masuk SSB dan sudah ikut Liga Danone. Sebagai pesepakbola, masa kelam pernah dialaminya. Yakni cedera lutut. Namun perlahan dia bangkit. Usai bermain di PSIS U -19, dia kini mencoba peruntungan untuk menjadi kiper di Persiku.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

BERMAIN sepak bola sudah menjadi hobinya sejak kelas 4 SD. Setiap kali bermain bersama rekan-rekannya dia selalu memilih menjadi penjaga gawang. Doanya terkabul. Dia pun betul-betul jadi pesebakbola. Kiper itu bernama Yoga Ilham Pratama.

Yoga – sapaan akrabnya – mengaku menjadi kiper itu gampang-gampang susah. Harus fokus dan selalu menjaga stamina. Sebab jika tak mampu menahan, bola bisa masuk gawang. Lama bermain, pada 2018 lalu dia mengalami cedera lutut. Itu terjadi saat dirinya bermain di Jepara. Saat itu dia tidak kaget. Sebab dia sudah banyak mendengar pemain sepak bola cedera lutut.

Maka, usai kejadian itu, dia memilih pulang ke Kediri untuk berobat. Menurut tukang pijat, dia mengalami cedera achilles. Dia sempat down. Baginya itu hal buruk bagi pemain sepak bola.  Namun, dukungan orang tua membuatnya bangkit. ”Orang tua bilang jangan putus asa. Saya pun bertekad agar tetap optimis menjalani pengobatan,” jelasnya.

Bermodal keyakinan, dia kembali ke Kudus. Pemuda itu baru bisa berjalan normal setelah tiga minggu. Saat dalam masa penyembuhan, kabar baik datang. Yoga mendapat kabar dari pelatih PSIS Semarang U-19, Khusnul Yakin. Dia pun diminta datang ke Semarang untuk menjalani trial di kubu Mahesa Jenar muda.

Karena cedera lututnya belum sembuh benar, sebelum berangkat ke Semarang, dia konsultasikan dulu dengan orang tua angkatnya (rekan ibunya yang sudah seperti saudara) di Kudus. Orang tua angkat merestuinya untuk menjalani trial di PSIS Semarang U-19. Proses trial berjalan lancar hingga dirinya diterima sebagai penggawa PSIS U-19. Di kubu PSIS muda, Yoga di kontrak selama semusim. Bersama laskar mahesa jenar muda, dia mengukir prestasi hingga penyisihan grup.

”Soal prestasi memang belum mentereng, tetapi di PSIS U-19 saya mendapatkan banyak ilmu. Pun dengan ilmu agama. Karena di kubu PSIS U-19 sangat mengutamakan keagamaan,” jelasnya.

Disinggung soal alasan memilih kiper, itu sudah sejak kelas 4 SD. Sebagai penjaga gawang, Yoga pernah mengenyam berbagai prestasi. Saat duduk di bangku kelas 5 SD, timnya yang bernama Banteng Muda Malang berhasil meraih juara I Nasional Danone Cup dan berangkat ke Afrika Selatan mewakili Indonesia. Sayangnya Yoga tidak dapat berangkat ke Afrika Selatan karena sakit.

Prestasi lainnya yakni juara I Liga Pelajar tingkat Jawa Timur 2013, membela Persik Kediri U-21 di 2013, membela Porprov Jawa Timur di 2015, mengantarkan Bojonegoro FC (Liga 3 Jawa Timur) di 2017 ke penyisihan grup, membela Bhayangkara Muda FC Semarang (Liga 3 Jawa Tengah) di 2018 hingga ke penyisihan grup, dan mengantarkan tim mahesa jenar muda PSIS Semarang U-19 di 2018 ke fase penyisihan grup.

Saat ini, Yoga tengah fokus untuk seleksi di Persiku Kudus. Dia bersaing dengan tiga kiper lainnya. Meski belum pernah menjadi starter di empat laga uji coba yang sudah dijalani skuad Macan Muria, Yoga mengaku menikmati proses seleksi di Persiku Kudus.

Menurutnya, program seleksi yang diberikan oleh Daud Palajukan (pelatih kiper Persiku) terbilang menantang. Sebab, banyak alat-alat latihan yang dipergunakan untuk menunjang latihan bagi seorang penjaga gawang.

Yoga berharap dapat lolos seleksi di Persiku Kudus. ”Harapan saya semoga bisa lolos seleksi dan bisa membawa Persiku meraih prestasi,” harapnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sun, 10 Mar 2019 07:41:02 +0700
<![CDATA[Jika Pulang Disuruh Lamar Kekasih]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/09/123906/jika-pulang-disuruh-lamar-kekasih https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/09/jika-pulang-disuruh-lamar-kekasih_m_123906.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/09/jika-pulang-disuruh-lamar-kekasih_m_123906.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/09/123906/jika-pulang-disuruh-lamar-kekasih

Serda Siswanto Bayu Aji menjadi salah satu dari tiga prajurit Kopassus TNI AD yang gugur tertembak saat bertugas di Nduga, Papua, pada Kamis (7/3).]]>

Serda Siswanto Bayu Aji menjadi salah satu dari tiga prajurit Kopassus TNI AD yang gugur tertembak saat bertugas di Nduga, Papua, pada Kamis (7/3) sekitar pukul 06.30. Dia dikepung anggota Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) Organisasi Papua Merdeka (OPM).

INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan

SUASANA haru menyelimuti kediaman Serda Anumerta Siswanto Bayu Aji yang berada di Dusun Suberjo, Desa Mojorebo, Wirosari, Grobogan. Terlihat banyak karangan bunga ucapan bela sungkawa dari para pejabat yang menghormati pengorbanannya.

Prajurit baret merah itu, kini tiada. Suraidi Iskandar dan Sufitri yang merupakan orang tua Serda Siswanto seakan tak percaya dengan kepergian anak semata wayangnya itu. Namun, Suraidi Iskandar mengaku turut bangga dengan pengorbanan anaknya untuk membela negara.

Ia tampak tabah menerima kenyataan itu. Ia sempat mengenang mimpi anaknya semasa kecil untuk bisa bergabung dengan TNI/Polri. ”Menjadi TNI/Polri menjadi cita-cita anak saya sejak duduk di SMP. Saya merupakan seorang guru, namun saya tak pernah memaksa anak saya untuk mengikuti profesi saya. Ia memiliki cita-cita sendiri, menjadi tentara atau polisi,” kata pria yang kemarin siang berpeci hitam itu.

Setelah lulus dari SMKN 1 Blora, umur Serda Siswanto masih 17 tahun. Sedangkan saat itu untuk mendaftarkan sebagai abdi negara harus berusia 18 tahun. Sambil menunggu sesuai umur dalam persyaratan itu, ia meminta izin ke orang tuanya untuk bekerja di tambang batu bara yang ada di Kalimantan Timur. Di sana ia tinggal bersama saudaranya. Selama tiga tahun ia bekerja sebagai sopir truk di tambang tersebut.

Saat dirasa umur telah cukup untuk mendaftarkan diri menjadi abdi negara. Dia pun langsung ikut seleksi bintara. Namun gagal. Tak putus asa, dia mencoba mendaftar menjadi anggota Polri. Namun malah sudah kelewat dari persyaratan usia. ”Saat itu kelebihan tujuh bulan,” kenang Suraidi Iskandar.

Tak menyerah begitu saja, Serda Siswanto kembali mendaftar sebagai TNI melalui jalur Sekolah Calon Bintara Pajurit Karier TNI-AD (Secaba) pada 2016. Berkat usahanya dia lolos dan resmi bergabung sebagai prajurit TNI. Setelah pendidikan, pada 2017 dia tergabung di Pussenif Bandung. Kemudian terpilih di grup I Kopassus Serang.

”Saat di Kopassus anak saya mulai fokus pendidikan. Sekitar sembilan bulan lamanya. Kami mulai jarang mendapatkan kabar. Kami juga tak berani menghubunginya terlebih dulu. Jadi, selama ini kami hanya menunggu anak saya yang menghubungi. Baru kami mendapatkan kabar,” ungkapnya.

Hingga akhirnya, pada akhir tahun lalu ia mendapatkan kabar Serda Siswanto akan ditugaskan dalam Satgas Nanggala di Distrik Mugi, Kabupaten Nduga, Papua. Selama enam bulan dia ditugaskan di sana.

Sebelum bertugas, pada akhir Desember  2018 dia pulang ke kediamannya selama dua pekan. Kemudian 22 Januari, dia berangkat kembali ke Yon 14 Serang untuk mempersiapkan keberangkatan ke Papua. Selang 10 hari, dia berpamitan melalui telepon untuk berangkat bertugas.

”Saat pamit itu memang ada rasa berat untuk melepas anak bertugas di sana. Mengingat kondisi di sana (Papua, Red) sangat rawan. Namun, karena saya sudah mengikhlaskan anak saya bergabung menjadi TNI, maka saya serahkan dia bertugas di sana. Terlebih saat menjadi TNI, anak bukan lagi hanya milik saya. Namun milik omnya yang selama ini membantunya berjuang, menjadikan dia anak hebat. Terakhir, dia milik negara,” tegasnya.

Selama bertugas di sana, dia mengaku belum sempat dihubungi anaknya lagi. Bahkan, ibunya kerap merindukan anak semata wayangnya itu. ”Ibunya beberapa waktu lalu sempat tanya. Kok lama nggak ada kabar. Ngarep-ngarep dikabari. Biasanya kalau ada waktu bebas sebentar selalu diberi kabar. Kok ini tidak ada lagi,” katanya.

Padahal rencananya, setelah pulang bertugas dia disuruh orang tuanya melamar kekasihnya yang sudah didekati selama tujuh tahun. Kekasihnya itu, rumahnya tak jauh dari kediamannya. Masih satu kecamatan. Namun takdir berkata lain.

Baru dua bulan bertugas di Distrik Mugi, dia gugur. Serangan Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyerang prajurit TNI. Serda Siswanto termasuk tiga di antara prajurit yang gugur. Saat itu dia bersama prajurit lain sedang melaksanakan pengamanan pergeseran pasukan untuk pembangunan infrastuktur jalan Trans Papua Wamena-Mumugu di Nduga.

Orang tua Serda Siswanto juga tak serta merta percaya saat kali pertama mendapatkan kabar tersebut, dari rekan anaknya yang ada di sana. Beberapa kali mendapatkan kabar, ia tak ingin langsung percaya. Hingga sekitar pukul 19.00 Dandim 0717/Purwodadi Letkol Inf Asman Mokoginta didampingi danramil setempat menyampaikan kabar duka ke keluarga.

”Tengah malam saat mendapatkan kabar duka itu, saya sempatkan salat malam. Saya mendengar bisikan anak saya dengan jelas dan meminta untuk di makamkan di sana,” ujarnya.

Akhirnya, Jumat (8/3) Suraidi Iskandar meminta ke kodim agar anaknya di makamkan di sana. ”Sebelumnya sudah ditawarkan, namun saya belum menjawab. Namun saat salat malam itu saya seakan mendapat pesan dari anak saya. Saya pun langsung menyampaikan agar disemayamkan di TMP Purwodadi,” paparnya.

Dandim 0717/Purwodadi Letkol Inf Asman Mokoginta, menambahkan, Serda Anumerta Siswanto Bayu Aji yang menjabat sebagai Ba Kes Den-1 Yon-14 Grup-1 Kopassus Serang ini, akan dimakamkan secara militer pada hari ini (9/3) sekitar pukul 09.00.

Kemarin, jenazah diterbangkan dari Bandara Timika Papua menuju Bandara Soekarno-Hatta. Dilanjutkan ke Bandara Adi Soemarmo Solo. Dari Solo, jenazah langsung dibawa ke kediamannya di Dusun Suberjo, Desa Mojorebo, Kecamatan Wirosari, Grobogan.

”Sempat akan turun di Bandara A Yani Semarang, namun dialihkan ke Adi Soemarmo Solo. Sekiranya sampai kediamannya sekitar pukul 18.00. Besok (hari ini, Red) baru akan dimakamkan. Serda Anumerta Siswanto juga akan mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari serda ke sertu,” ungkapnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 09 Mar 2019 07:34:19 +0700
<![CDATA[Lewati Pura Matikan Motor, Malam Hari Muslim dan Kristiani Ronda]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/08/123696/lewati-pura-matikan-motor-malam-hari-muslim-dan-kristiani-ronda https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/08/lewati-pura-matikan-motor-malam-hari-muslim-dan-kristiani-ronda_m_123696.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/08/lewati-pura-matikan-motor-malam-hari-muslim-dan-kristiani-ronda_m_123696.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/08/123696/lewati-pura-matikan-motor-malam-hari-muslim-dan-kristiani-ronda

Toleransi antarumat beragama terasa saat peringatan Hari Nyepi di Desa Plajan, Pakis Aji, kemarin. Saat umat Hindu tapa brata, warga ikut menjaga keamanan.]]>

Toleransi antarumat beragama terasa saat peringatan Hari Nyepi di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, kemarin. Saat umat Hindu sedang tapa brata, warga pemeluk Islam dan Kristen ikut menjaga ketenangan dan keamanan. Berikut laporan wartawan Radar Kudus M Khoirul Anwar.

 SEPEDA motor meluncur dari arah timur ke barat melewati Jalan Pemuda, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, kemarin siang. Namun tidak terdengar suara knalpot. Sebab, oleh pengendara motor tersebut sudah mematikan mesinnya. Nyesss... Motor pun mluncur dalam keadaan mati.

Hal itu dilakukan beberapa pengendara motor yang melewati Pura Dharma Loka di Desa Plajan. Pura itu berada di jalan yang menanjak jika kendaraan dari arah barat. Sehingga kendaraan dari arah timur posisinya menurun.

Kemarin adalah Hari Nyepi bagi umat Hindu. Ada sekitar 500 umat Hindu di sepanjang Jalan Pemuda, Desa Plajan. Warga yang mematikan mesin motornya itu, sebagai bentuk penghormatan bagi umat Hindu yang sedang menjalani Nyepi di dalam rumah mereka.

”Saya bukan warga Plajan, tapi tahu kalau di sekitar pura sedang berlangsung tapa brata. Jadi, motor saya matikan (saat lewat di pura),” kata Shodiqin, salah satu pegendara asal Desa Tanjung, Pakis Aji.

Memang tidak semua pengendara mematikan mesin motornya ketika melewati jalan tersebut. Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, lalu lintas di sekitar jalan tersebut tidak seramai biasanya. Kemarin, setiap setengah jam hanya ada lima sampai tujuh kendaraan yang lewat.

Penganut Hindu di Desa Plajan ada sekitar 700 orang dari 8.000 penduduk. Sehingga setiap Nyepi juga memengaruhi keramaian lalu lintas desa.

Bagi warga selain penganut Hindu, pintu rumahnya terbuka. Ada aktivitas. Seperti jualan, cuci motor, dan bekerja. Namun bagi umat Hindu, pintu dan jendela rumah mereka ditutup. Tirai kaca bagian rumah juga ditutup.

Kemudian, Jawa Pos Radar Kudus memantau suasana di Pura Puser Bumi, Desa Plajan. Jaraknya setengah kilometer dari Pura Dharma Loka. Di sana juga sepi. Bahkan, motor salah satu umat Hindu dibiarkan terparkir di depan rumah. Padahal semua anggota keluarga sedang Nyepi di dalam rumah.

Menurut Irfan, ketua RT 1/RW 7, Desa Plajan, hal itu lumrah. Sebab, selama Nyepi warga muslim, Banser, Linmas, dan warga nasrani ikut menjaga ketertiban lingkungan. Malamnya diadakan ronda. ”Parkir di luar aman. Di sini budayanya saling menjaga,” tuturnya.

Di jarak sekitar 100 meter dari Pura Puser Bumi ada Masjid At-Taqwa. Selama Nyepi, kumandang azan di masjid itu tidak menggunakan speaker. Supaya tidak mengganggu ritual umat Hindu.

Di sekitar pura, ada delapan rumah warga Hindu. Pintu rumah warga ditutup semua. Keseharian warga di sini rata-rata sebagai tukang kayu. Namun, kemarin tak terdengar suara gergaji yang biasa terdengar ketika memotong kayu. Begitu juga dengan suara peralatan mebel tidak terdengar.

”Pekerja yang biasa menggergaji kayu libur. Supaya umat Hindu tidak terganggu,” katanya.

Penghormatan terhadap umat Hindu tidak hanya di Masjid At-Taqwa yang kebetulan berdekatan dengan Pura Puser Bumi. Masjid maupun musala yang di sekitarnya ada umat Hindu juga melakukan hal serupa.

Selain itu, masyarakat di Desa Plajan juga diimbau agar menjaga situasi wilayah tetap kondusif dan tidak muncul suara gaduh. Termasuk tidak menghidupkan suara musik atau menggeber kendaraan bermotor.

Bila Idul Fitri tiba, warga Kristiani dan Hindu saling membantu menjaga keamanan masjid ataupun berpatroli ke rumah-rumah yang ditinggal salat agar tak kemalingan. Lalu ketika hari raya Natal, umat muslim dan Hindu menjaga keamanan gereja, agar saudara lain agama tersebut khusyuk beribadah.

Sementara itu, Priyatin, kepala Desa Plajan, menuturkan, pihaknya telah memberikan edaran kepada seluruh warga dan tempat ibadah untuk menghormati perayaan Nyepi umat Hindu. Jumlah tempat ibadah di Desa Plajan meliputi 14 masjid, 40 musala, empat pura, dan satu gereja.

”Pemerintah desa berupaya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan selama pelaksanaan Nyepi. Seluruh warga harus berpartisipasi untuk mewujudkan kemanan tersebut,” ujarnya.

Selama pelaksanaan catur brata, umat Hindu menjalani empat penyepian. Meliputi amati karya yang berarti tidak bekerja, amati geni atau tidak menyalakan api, amati lelungan tidak bepergian, dan amati lelanguan tidak bersenang-senang. Termasuk tidak menyalakan alat komunikasi.

Catur Brata penyepian yang dijalani umat Hindu saat Hari Nyepi tersebut, berlangsung selama 24 jam atau hingga Jumat (8/3) pukul 06.00. Setelah proses penyepian selesai, dilanjutkan upacara Ngambak Geni atau menyalakan api kembali.

]]>
Ali Mustofa Fri, 08 Mar 2019 09:34:25 +0700
<![CDATA[Nyeberang Rp 2.000, Pelajar dan Acara Kematian Gratis]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/08/123692/nyeberang-rp-2000-pelajar-dan-acara-kematian-gratis https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/08/nyeberang-rp-2000-pelajar-dan-acara-kematian-gratis_m_123692.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/08/nyeberang-rp-2000-pelajar-dan-acara-kematian-gratis_m_123692.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/08/123692/nyeberang-rp-2000-pelajar-dan-acara-kematian-gratis

Warga Dukuh Berkas, Desa Terkesi, Klambu, harus menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi sungai Lusi. Ini menjadi akses tercepat ketika hendak menyeberang.]]>

Warga Dukuh Berkas, Desa Terkesi, Kecamatan Klambu, Grobogan, harus menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi sungai Lusi. Ini menjadi akses tercepat ketika hendak menyeberang. Entah itu akan pergi bekerja, sekolah, atau acara pemakaman. Jika jasa ini sudah tutup, terpaksa para warga harus mengambil rute lain sejauh 5 kilometer.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Grobogan

PEREMPUAN berkerudung putih itu termenung melihat arus sungai Lusi di Dukuh Berkas, Desa Terkesi, Klambu, Grobogan, yang sudah lumayan tinggi. Di ujung sungai tampak perahu kosong tak ada orangnya. Ia pun hanya diam duduk di atas motor matik yang sudah dimatikan mesinnya. Seakan ingin mengusir rasa bosan ia pun berkaca di spion motornya.

Dari jarak sekitar 50 meter sudah tampak perahu yang dinakhodai Rihwan makin mendekat. Kriek... kriek... kriek... Bunyi tambang yang bergesekan dengan katrol mulai makin terdengar ketika perahu hendak berlabuh. ”Tak kiro meh gak disebrangke (Saya kira tidak akan diseberangkan). Saya sudah mau balik lewat Godong tadi,” ujar perempuan itu kepada Rihwan ketika melabuhkan perahunya.

”Lha yo tetap disebrangke to ya,” sahut Rihwan. Langsung saja perempuan itu menaikkan motornya ke perahu. Jawa Pos Radar Kudus juga ikut naik.

Jika dilihat dari pinggir sungai, arus air tampak tenang. Tetapi makin mendekat ternyata arus cukup deras. Rihwan juga tampak keberatan menarik tambangnya itu. ”Dari dulu sebelum saya lahir ya seperti ini. Belum pernah ada jembatan. Aktivitas warga ya menggunakan perahu ini. Anak sekolah, guru, petani, sampai orang meninggal juga menggunakan prahu ini,” jelas Rihwan.

Sebetulnya ada akses jalan lain. Tetapi harus menempuh rute cukup jauh sekitar 5 kilometer. Jadi, para warga lebih memilih menggunakan perahu karena lebih menghemat waktu.

Bersama kawannya, Rihwan bergantian tugas menyeberangkan warga. Jasa penyeberangan ini mulai pagi sampai malam habis Isya. Kecuali jika ada acara-acara tertentu. Seperti pengajian atau acara desa. Jika jasa perahu ini sudah tutup, terpaksa warga harus mengambil rute lain. Jaraknya cukup jauh.

Sekali menyeberang, para warga memasukkan uang Rp 1.000 atau Rp 2.000 ke keranjang yang sudah dipasang di perahu. Namun, khusus para guru, murid-murid sekolah, dan jika ada acara kematian tidak dipungut biaya.

Jika sedang ramai, bisa ada sekitar 200 warga yang menyeberang per hari. Uang hasil tarikan ini, disetorkan kepada desa. Kemudian ia dan rekannya mendapatkan gaji sendiri.

”Nanti uangnya disetorkan ke desa. Buat perbaikan ini (jalan setapak menuju pinggir sungai, Red). Karena kalau pas banjir bisa sampai atas. Ininya (jalan setapak, Red) jadi rusak. Juga untuk perbaikan-perbaikan lain,” kata pria bertopi biru itu.

Ia menambahkan, terkait petugas penyeberangan seperti dirinya ini, ada pemilihan setiap dua tahun sekali. Warga yang berminat mencalonkan diri dikumpulkan di masjid. Kemudian dimusyawarahkan dan dipilih masyarakat. Tak hanya bertugas menyeberangkan warga. Petugas juga menjaga kebersihan sungai.

Tak terasa, sudah bolak-balik lebih empat kali bersama Rihwan, Jawa Pos Radar Kudus pun turun di sisi utara sungai. Sudah ada beberapa warga yang menunggu ingin diseberangkan.

”Ada apa, mau ada usulan dibikinkan jembatan ya,” sahut Pri, salah satu warga yang hendak menyeberang ketika melihat Jawa Pos Radar Kudus memegang kamera.

”Siapa tahu mau diusulkan dibikinkan jembatan. Di sini dulu ada tiga titik perahu. Yang satu titik sudah dibikinkan jembatan gantung. Yang satunya lagi sudah tidak dipakai. Sekarang tinggal satu ini tok,” imbuhnya.

Ia menambahkan, profesi seperti Rihwan ini, sudah berganti dari generasi ke generasi. Ia juga berharap agar dibikinkan jembatan. ”Kalau diusulkan dibikinkan jembatan kan lebih baik,” ujarnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 08 Mar 2019 09:19:02 +0700
<![CDATA[Dibikin Detail, Harga Makin Mahal]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/07/123559/dibikin-detail-harga-makin-mahal https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/07/dibikin-detail-harga-makin-mahal_m_123559.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/07/dibikin-detail-harga-makin-mahal_m_123559.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/07/123559/dibikin-detail-harga-makin-mahal

Selamet Maladi memiliki koleksi 50 miniatur bus. Puluhan miniatur bus itu ia bikin sendiri. Ia rela merogoh kocek untuk membuat koleksinya itu.]]>

Selamet Maladi memiliki koleksi 50 miniatur bus. Puluhan miniatur bus itu ia bikin sendiri. Ia rela merogoh kocek untuk membuat koleksinya itu.

 INDAH SUSANTI, Kudus

 BERSIH-BERSIH jadi momen untuk Selamet Maladi membersihkan miniatur busnya. Ia miliki banyak macam miniatur PO bus. Maladi panggilan akrabnya mengaku sepekan sekali membersihkan koleksi miniatur busnya itu.

Bulu halus kuas menyapu bodi miniatur bus. Ia membersihkan sampai di sela-sela terkecil. Mulai roda-roda hingga kaca miniatur bus.

Maladi membersihakan koleksinya sembari bercerita awal membuat miniatur bus sebenarnya hanya untuk koleksi, tapi setelah diperlihatkan ke beberapa teman banyak peminatnya.

Dia mulai membuat miniatur pada 2008. Dua tahun menjadi perajin miniatur bus, pesenan semakin ramai. Pemesan datang dari Blora, Surabaya, dan Semarang. Tapi dirinya juga disibukkan pekerjaan. Ia memilih tidak menerima pesanan di 2010. ”Saya tetap membuat. Kadangkala. Semua untuk koleksi sendiri. Ya tidak untuk dijual,” terangnya.

Ia bercerita pernah diantara koleksinya ingin dibeli. Itu saat ada acara kumpul-kumpul sesama penyuka miniatur di Jepara. “Banyak anak-anak merengek menangis meminta ke ibunya dibelikan miniatur bus. Kami tetap tidak boleh karena memang hanya untuk koleksi. Ya, sebenarnya kasihan juga, tapi gimana lagi memang tidak di jual,” cerita Maladi sambil tertawa.

Kesibukannya terhadap pekerjaan saat inilah yang membuat Maladi memutuskan untuk tidak melanjutkan menjadi perajin miniatur bus. Dia juga mengaku saat ini menjadi salah satu anggota dari komunitas Small In Sexy Miniatur Bus Only.

Ia mengku awal mula pembuat miniatur bus di Kudus hanya dia. Kemudian ada beberapa perajin lain yang mengikuti jejaknya. Salah satunya perajin berada di Desa Loram Kulon, Jati. Perajin itu selalu didukungnya menjadi perajin miniatur profesional.

Ia menerangkan bahan-bahan untuk membuat miniatur bus, yakni triplek. Bisa juga acrilic. Untuk ukuran miniatur bus ini kata dia, mulai dari skala 1:20, 1:50, 1:84 serta 1:18.

Setiap kali waktu masih membuat miniatur bus ini, Maladi mengaku mengerjakan pembuatannya antara 4-6 minggu. Dengan biaya yang dikeluarkan antara Rp 1 Juta hingga Rp1,5 juta per unitnya.

”Ya bentuk-bentukya saya mengadop perusahaan-perusahan bus terkenal. Koleksi saya ada bus Nusantara, PO Hariyanto, PO Ramayana, dan jenis-jenis lainnya. Kemudian model bodi bus (karoseri) ada yang Setra Jadul, Markopolo, dan Jetbus,” ungkapnya.

Maladi juga membuat interior dalamnya persis aslinya. Dan, kerumitannya yang membuat harga bus buatannya mahal. Saat masih menerima pesanan, paling murah dijual harga Rp 900 ribu.

”Ada yang pakai remot, tapi kebetulan koleksi saya tidak ada. Waktu itu pesanan harga capai Rp 1,6 juta ke atas. Ya, namanya hobi semahal apapun pasti dilakukan. Sebenarnya banyak koleksi saya, tapi ada beberapa yang dibawa pulang ponakan-ponakan saya,” tandasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 07 Mar 2019 08:57:51 +0700
<![CDATA[Tak Miliki Tempat Produksi, Semua Dikerjakan di Rumah Karyawan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/06/123357/tak-miliki-tempat-produksi-semua-dikerjakan-di-rumah-karyawan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/06/tak-miliki-tempat-produksi-semua-dikerjakan-di-rumah-karyawan_m_123357.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/06/tak-miliki-tempat-produksi-semua-dikerjakan-di-rumah-karyawan_m_123357.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/06/123357/tak-miliki-tempat-produksi-semua-dikerjakan-di-rumah-karyawan

Jatuh Bangun membangun bisnis keluarga dirasakan Ummy Cholis. Dia membuat tas rajut yang sempat kolaps selama setahun. Dia telah memiliki 250 karyawan.]]>

Jatuh Bangun membangun bisnis keluarga dirasakan Ummy Cholis. Dia membuat tas rajut yang sempat kolaps selama setahun. Dia telah memiliki 250 karyawan. Tas diproduksi tidak di gudang khusus. Tapi di rumah masing-masing karyawan.

SRI PUTJIWATI, Pati

RUMAH Ummy di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, tampak depan tak terlihat mempunyai usaha rajut. Tak ada karyawan di sana. Hanya ada beberapa mobil di depan rumah. Suaminya usaha showroom mobil. Di dalam rumah, Ummy tengah menggendong anak bungsunya.

Di ruang utama juga tak tampak usaha rajut. Tetapi saat wartawan koran ini diajak ke ruang samping, baru terlihat tumpukan ribuan tas rajut yang siap diangkut pedagang. Tas rajut dari yang ukuran besar hingga kecil. Ada beragam macam warna ada di ruang tersebut. Tas rajut itu dibuat 250 karyawannya. Karyawan mengerjakan tas di rumah masing-masing.

Baru saat tas jadi, masing-masing ketua kelompok menyetor ke rumah Ummy. Sehingga rumah itu tak ada satupun karyawan. Ada 11 ketua kelompok yang menaungi 250 pekerja yang merajut. Pekerja tersebut mengerjakannya di rumah masing-masing. Dikerjakan di sela-sela aktivitas sebagai ibu rumah tangga.

Istri Rozikun ini mengatakan, usaha rajut itu mulanya didirikan 1993 lalu oleh ibunya. Akan tetapi sekitar 2005 silam pernah macet. Usaha pembuatan tas dan dompet itu sepi dan berhenti. Saat itu pasarnya sangat sepi. Tidak berjalan. Ia juga belum berminat dengan usaha itu karena mempunyai anak.

“Waktu itu saya belum berminat karena baru mempunyai anak. Jadi fokus ke anak. Orang tua juga santai karena ada usaha pertanian. Kemudian mulai 2006 sudah mulai jalan lagi pasarnya. Mulai 2007 saya mulai berminat meneruskan usaha. Karena orang tua malah asyik momong cucu,” katanya.

Ketika memilih terjun di bisnis itu, ia belajar secara otodidak. Sebelumnya sudah sering mencoba namun saat mulai memegang usaha menjadi lebih intens berkreasi membuat dan menggambar desain tas dan dompet rajut.

Waktu awal-awal memegang usaha tersebut, ibu empat anak ini memberikan pelatihan perempuan-perempuan di daerah pinggiran. Mulanya susah karena tak banyak yang bisa. Namun ditelateni Ummy. Hingga banyak yang mulai bisa merajut. Sedikit semi sedikit mulai banyak perempuan yang diajari merajut. Lalu ia membentuk kelompok. Kini ada 11 kelompok. Satu kelompok ada koordinator dan beberapa pekerja. Total ada 250 pekerja.

“Saya hanya mengatur tas hasil rajutan karyawan. Karena semua sudah ditangani karyawan. Saya tinggal memberikan desain saja. Alhamdulillah mereka bisa. Jika sudah terkumpul banyak, setiap kelompok yang dikoordinatori satu orang mengirimkan tas hasil rajutan karyawan ke rumah saya,” tuturnya.

Dalam sebulan, ia mampu memproduksi 3.000 tas dan dompet rajut. Harganya mulai dari Rp 15 ribu-Rp 100 ribu. Alumni MA Matholiul Falah Kajen ini mengatakan, tas produksinya tersebut dikirim ke berbagai daerah. Banyak yang membeli secara grosir untuk dijual lagi di daerahnya masing-masing.

Ia yang mulanya tak tertarik berbisnis, kini sangat senang. Dengan begitu, Ummy bisa membantu perekonomian warga yang tinggal di pegunungan. Ia menjadi tahu arti kehidupan. Karena kehidupan warga di daerah pinggiran masih sederhana. Dengan merajut, bisa membantu perekonomian keluarga tanpa harus bekerja keluar rumah. Karena bisa merajut di dalam rumah.

“Meskipun telah dikerjakan para karyawan, namun saya tetap kreatif merubah desain sesuai zaman. Selain itu juga supaya maju. Membutuhkan usaha super sekali. Mulai dari mencari pabrik benang, belanja bahan finishing dari pusat yang harus wira-wiri ke Pati-Jakarta dan Pati-Jogjakarta,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 06 Mar 2019 08:52:14 +0700
<![CDATA[Awalnya Tak Direstui Ayah saat Menekuni Olahraga Bela Diri]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/05/123090/awalnya-tak-direstui-ayah-saat-menekuni-olahraga-bela-diri https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/05/awalnya-tak-direstui-ayah-saat-menekuni-olahraga-bela-diri_m_123090.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/05/awalnya-tak-direstui-ayah-saat-menekuni-olahraga-bela-diri_m_123090.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/05/123090/awalnya-tak-direstui-ayah-saat-menekuni-olahraga-bela-diri

Elfrida Aliffanti menekuni pencak silat sejak kecil. Namun, dirinya pernah ditentang sang ayah. Sebab, olahraga bela diri terbilang keras bagi perempuan.]]>

Elfrida Aliffanti menekuni pencak silat sejak kecil. Namun, dirinya pernah ditentang sang ayah. Sebab, olahraga bela diri terbilang keras bagi perempuan. Dengan prestasi yang ditorehkan, ayahnya pun berbalik mendukungnya. Kini dia pun merambah ke wasit.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

GARANG SAAT BERTANDING: Elfrida Aliffanti saat bertanding di salah satu kejuaraan pencak silat. (DOK PRIBADI)

PENCAK silat bagi Elfrida Aliffanti sudah menjadi olahraga favorit. Olahraga yang identik dengan pukulan dan tendangan ini, ditekuninya sejak masih duduk di kelas VI sekolah dasar (SD). Tepatnya pada 2007. Bermula dari ekstrakurikuler di SD 1 Gulang, Mejobo, Kudus, dan ajakan teman-temanya, Elfrida mulai belajar olahraga bela diri itu.

Dirinya semakin tertarik dengan pencak silat. Oleh karenanya, pencak silat kembali ditekuninya saat sekolah di SMP 1 Mejobo. Namun, keinginannya menekuni olahraga asli Indonesia ini, sempat pula ditentang oleh sang ayah. Sebab, menurut sang ayah olahraga pencak silat terbilang keras untuk perempuan. ”Pernah ditentang ayah. Ayah sampai curhat ke bude, katanya anak cewek kok ikut pencak silat. Jotos-jotosan gitu,” terangnya.

Namun, Elfrida tetap menekuni pencak silat. Alumni Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini, ingin membuktikan kepada sang ayah. Lambat laun sang ayah mendukung. Bahkan, saat Elfrida mengabari setiap akan bertanding, ayahnya selalu datang untuk menonton.

Tak tanggung-tanggung deretan prestasi di bidang pencak silat ia persembahkan untuk sang ayah. Mulai dari juara I Jawa Tengah Popda 2010 di nomor tarung, juara II Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren (Pospenas) 2013, juara III Kejuaraan Provinsi Jateng di Salatiga 2015, dan juara I Pekan Olahraga Mahasiswa (POM) Rayon 2015.

Sebagai atlet pencak silat, lebam di wajah akibat pukulan pernah dirasakan Elfrida. Pun dengan cedera engkel dan keseleo juga pernah dialaminya.

Namun, tahun ini dia memilih bidang lain. Namun masih ada hubungannya dengan pencak silat. Yakni sebagai wasit. Dirinya pun sering diminta membantu menjadi wasit saat ada even pertandingan pencak silat di Kudus dan di Unnes.

Baru-baru ini, Elfrida yang lulusan Jurusan Ilmu Keolahragaan, Unnes, ini, diminta menjadi wasit di ajang Pekan Olahraga Daerah (Popda) Kudus yang dilangsungkan di GOR Bung Karno, Kudus.

Disinggung soal jadi atlet atau wasit, Elfrida lebih senang menjadi atlet. Sebab, atlet lebih memiliki waktu istirahat yang lebih lama. Sedangkan wasit pencak silat harus tugas dari pagi hingga larut malam.

Dia saat ini menjadi wasit hanya membantu di sejumlah kejuaraan yang digelar di Kudus. Sebab, dia belum memiliki lisensi yang memperbolehkan menjadi wasit di tingkat yang lebih tinggi. Namun, dia mengaku tidak terlalu ngoyo untuk mengambil lisensi wasit. Sebab, dia kini sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai staf administrasi di kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kudus.

Dara kelahiran Kudus, 9 Juli 1996 ini mengaku masih sering nimbrung latihan pencak silat dan jogging untuk menjaga kebugaran. Dirinya juga berpesan agar atlet-atlet pencak silat kudus dapat berprestasi.

”Untuk atlet pencak silat Kudus semoga terus berprestasi. Selain itu, semoga atlet pencak silat diberikan perhatian juga soal nutrisi. Karena kasihan kalau latihan berat tetapi tidak diberi asupan nutrisi dan vitamin. Perlu juga atlet diajak untuk refreshing agar tidak jenuh,” harapnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 05 Mar 2019 06:00:59 +0700
<![CDATA[Pernah Diteror Murid dengan Samurai]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/04/122954/pernah-diteror-murid-dengan-samurai https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/04/pernah-diteror-murid-dengan-samurai_m_122954.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/04/pernah-diteror-murid-dengan-samurai_m_122954.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/04/122954/pernah-diteror-murid-dengan-samurai

Demi memacu semangat belajar muridnya, Rudiono, guru bahasa Indonesia SMA 1 Gebog rela menyisihkan sebagian gajinya untuk mengapresiasi murid yang berprestasi.]]>

Demi memacu semangat belajar muridnya, Rudiono, guru bahasa Indonesia SMA 1 Gebog rela menyisihkan sebagian gajinya. Uang tersebut dikumpulkan untuk mengapresiasi muridnya yang berprestasi. Banyak pengalaman menarik selama hampir 27 tahun menjalani profesi sebagai guru. Ia pernah mendapat teror. Pintu dan jendela kosnya di gedor dengan sebilah samurai.

 DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

 SOSOK bertubuh tinggi dan kurus ini sangat disiplin. Tak pernah absen dari jadwal mengajar. Laki-laki itu bernama Rudiono, seorang guru bahasa Indonesia SMA 1 Gebog. Tak pernah membentak. Ia memiliki cara yang elegan dalam menghadapi murid yang bandel. Ia mejadi sosok teladan muridnya.

Di awal karirnya tahun 1992, lelaki berkumis itu mengajar di SMA 1 Keragan Rembang. Selain sebagai guru bahasa Indonesia, ia juga sempat menjadi bagian kesiswaan. Sejak 2001 lalu, ia dipindahtugaskan di SMA 1 Gebog.

Mengajar bahasa Indonesia menjadi tantangan tersendiri baginya. Menurutnya, bahasa Indonesia itu sering dianggap mudah. Tapi nyatanya banyak yang belum memahami sepenuhnya. Itu terlihat ketika ujian. ”Mendalami bahasa Indonesia itu mudah, tapi sulit. Mudah, karena kita kan orang Indonesia asli. Sulitnya itu butuh ketelitian,” jelasnya.

Maka, lulusan S1 jurusan Pendidikan dan sastra Indonesia IKIP 1991 ini selalu berupaya agar muridnya tertarik belajar bahasa Indonesia. Ia pun mencoba berbagai metode pembelajaran.

Ia mewajibkan muridnya untuk membaca minimal satu buku sebulan. Dan sebagai laporannya ia memintanya untuk membuat resensi. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya pengenalan literasi kepada muridnya. Kurikulum ada target.

Hal tersebut dilakukan setelah ia menghadiri sebuah acara di Jogja. Saat itu tahun 1998. Dalam acara tersebut Taufik Ismail menyampaikan penelitiannya, bahwa tingkat literasi siswa SMA di Indonesia kurang dibanding siswa SMA di Malaysia, Singapura, dan Filipina. ”Sejak awal tahun ajaran 2017, saya mencoba menerapkan Metode tersebut digarapnya bersama dua rekannya. Dalam lomba inovasi pembelajaran 2013 tingkat Jateng berhasil menyabet peringkat I.

Dalam penerapan di kelas, ia membagi kelompok dengan anggota 10 orang. Masing-masing dari mereka diberikan tugas menulis. Hasilnya kemudian dibukukan. ”Ini adalah hasil karya anak-anak. Isinya kumpulan cerpen,” katanya sambil menunjukkan beberapa buku.

Sebagai guru pengampu bahasa Indonesia, Peternak burung Murai dan Lovebird ini prihatin. Terlebih ketika ujian nasional. Hampir semua mapel yang diujikan ada yang nilainya sempurna. Kecuali bahasa Indonesia.

Tak ingin itu terus berlajut, pria dua anak ini pun menawarkan iming-iming kepada muridnya. Guru yang mengampu 7 kelas ini berjanji untuk memberikan apresiasi berupa uang. Ini berlaku untuk mereka yang berhasil mendapatkan nilai sempurna saat ujian nasional. ”Saya menyisihkan pendapatan untuk semua murid yang sempurna nilai UN nya. Paling tidak yang dapat nilai 98,” jelasnya.

”Setelah bertahun-tahun, akhirnya ada yang goal. Tapi itu hanya 2 kali. Di tahun 2013 dan 2016. Mereka dapat nilai 98 saat UN. Apresiasi berupa uang itu ya saya berikan sesuai janji,” ujarnya.

Selama hampir 27 tahun menjadi guru, Juara I guru berprestasi 2011 ini ternyata memiliki cerita yang tak terlupakan. Saat menjadi guru di SMA 1 Keragan Rembang, ia sering dilempari mercon banting di kelas. Itu juga berlaku dengan guru lainnya. Diakuinya, gairah belajar di sana sangat minim. Maka ketika mereka merasa bosan dengan pembelajaran di kelas, sedang waktu pembelajaran belum berakhir, mereka sering melakukan tindakan anarkis. Ia pun pernah diteror seorang muridnya yang tidak naik kelas.

”Pintu dan jendela kos saya digedor dengan samurai. Mungkin ia geram dengan saya. Soalnya dulu kebetulan nilai bahasa Indonesianya jelek. Dan saya juga kebetulan yang menjadi waka kesiswaannya,”ujarnya.

Setelah kejadian teror, murid tersebut pindah sekolah. ”Namun akhirnya saya senang. Anaknya sekarang jadi baik. Setahun kemudian saat saya naik angkot saya dibayari,” pungkasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 04 Mar 2019 11:25:11 +0700
<![CDATA[Hidupkan Kembali Semangat Patriotisme Kiai-Kiai dari Museum]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/04/122906/hidupkan-kembali-semangat-patriotisme-kiai-kiai-dari-museum https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/04/hidupkan-kembali-semangat-patriotisme-kiai-kiai-dari-museum_m_1551661937_122906.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/04/hidupkan-kembali-semangat-patriotisme-kiai-kiai-dari-museum_m_1551661937_122906.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/04/122906/hidupkan-kembali-semangat-patriotisme-kiai-kiai-dari-museum

Para kiai dan tokoh asal Lasem turut memberi warna pada perang Sabil Lasem melawan imperialis Belada di 1750 M. Nasionalisme itu dikobarkan dari Masjid Lasem.]]>

Para kiai dan tokoh asal Lasem turut memberi warna pada perang Sabil Lasem melawan imperialis Belada di 1750 M. Sejarah mencatat, nasionalisme itu dikobarkan dari Masjid Jami’ Lasem. Sebagai bentuk apresiasi, PT Semen Gresik mengucurkan Rp 100 juta. Itu untuk menunjang pembangunan perpustakaan dan museum di area Masjid Jami’ Lasem.

ALI MAHMUDI, Lasem

TULISAN “Sarampungi sembahyang Jumuwahan Ing Mesjid Jami’ Lasem kang diimami Kiai Ali Baidhowi, nuli wewara maring kabeh umat Islam, dijak perang sabil ngrabasa nyirnakake Kumpeni Walanda” tertulis di prasasti Babad Lasem. Tulisan itu ditulis di batu seberat sekitar sepuluh ton di area Masjid Jami’ Lasem. Karenanya menjadi salah satu titik “pemikat” jamaah maupun peziarah.

Seruan jihad yang dikumandangkan kiai karismatik inilah yang ikut menggerakkan umat Islam, abangan, ningrat, hingga keturunan Tionghoa di Lasem. Mereka bangkit melawan imperalisme Belanda.

Berkat seruan itu, rakyat Lasem bersatu angkat senjata mengusir penjajah. Mereka tak ragu mengorbankan apapun untuk membela tanah airnya. Kisah patriotisme Kiai Ali Baidhowi ini ditulis sejarah dengan tinta emas. Tak heran jika banyak jamaah juga menjiarahi makam Kiai Ali Baidhowi atau Ki Joyo Tirto yang terdapat di kompleks Masjid Jami’ Lasem.

“Seruan Kiai Ali Baidhowi benar-benar mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat. Perang terjadi di semua wilayah Lasem,” kata pemerhati sejarah Lasem Abdullah Hamid, saat ditemui baru-baru ini.

Kiai Ali Baidhowi keturunan kelima dari Adipati Tejakusuma I atau dikenal juga dengan nama Mbah Srimpet yang makamnya juga ada di kompleks Masjid Jami’ Lasem. Sosok ini cikal bakal raja-raja Lasem pasca keruntuhan Majapahit.

Kiai Ali Baidhowi keturunan Mbah Sambu (Sayyid Abdurohman) yang merupakan menantu Mbah Srimpet. Jika dirunut silsilahnya, Mbah Sambu anak Pangeran Benowo, atau cucu Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Mbah Sambu menurunkan tokoh-tokoh dan juga ulama besar di Indonesia. Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga termasuk keturunan Mbah Sambu. Silsilah ini didapat dari nenek Gus Dur (istri KH Hasyim Asy’ari - pendiri Nahdlatul Ulama). Meskipun dari jalur ayah, nasab Gus Dur juga tersambung dengan Pangeran Benowo.

“Ulama besar di Jawa seperti KH Hamid Pasuruan, KH Ahmad Sidiq Jember juga keturunan Mbah Sambu. Orang besar juga melahirkan orang besar ada di sini,” jelas Abdullah Hamid.

Salah satu keturunan Kiai Ali Baidhowi yang kiprahnya dicatat sejarah mewarnai perjalanan Indonesia adalah Mbah Baidhowi. Saat terjadi pergolakan pasca kemerdekaan, Mbah Baidhowi merupakan orang yang menegaskan kepemimpinan nasional di bawah komando Presiden Soekarno.

Cucu dari Kiai Ali Baidhowi ini menyebut jika founding father Indonesia itu adalah waliyyul amri adh- dhoruri bisyaukah (pemimpin nasional dalam keadaan darurat yang kuat). Upaya ini dilakukan karena usia kemerdekaan Indonesia yang baru seumur jagung rawan pemberontakan serta potensi krisis legitimasi kepemimpinan nasional yang mengancam keutuhan NKRI dan mandegnya roda administrasi negara.

“Jadi kalau berbicara soal nasionalisme, tokoh-tokoh asal Lasem tak perlu diragukan lagi kontribusinya,” tuturnya.

Di area Masjid Jami’ Lasem, terdapat sejumlah makam. Mulai dari Mbah Srimpet, Mbah Sambu, Kiai Ali Baidhowi, juga ada makam Mbah Ma’shoem yang juga termasuk salah satu pendiri NU. Selain itu, juga makam-makam kiai Lasem lainnya yang masih ada jalur keturunan atau kekerabatan dengan Mbah Sambu.

Selama ini, kata Abdullah Hamid Masjid Jami’ Lasem dan makam yang ada di sekitarnya menjadi jujugan peziarah dari berbagai kota di Indonesia, baik kawasan Pulau Jawa maupun luar Jawa, bahkan hingga mancanegara. Tiap harinya, terutama hari Sabtu dan Minggu, ada sekitar 15 - 30 bus yang mendatangi kawasan wisata religi ini.

Rombongan jurnalis maupun peneliti dari luar negeri juga pernah mengunjungi Masjid Jami’ Lasem. Kedatangan mereka dalam rangka penelitian terkait berbagai peninggalan benda maupun nilai-nilai warisan luhur dari leluhur Lasem itu.

Seperti peninggalan berupa gerabah Majapahit dan keramik Tiongkok kuno. Ada juga  buatan pabrik Maastricht Belanda 1836 (zaman VOC) yang pada masanya merupakan ‘tandingan’ keramik asal Tiongkok. Ada juga yang datang untuk memetakan potensi wisata di kawasan ini.

“Ada orang Rusia yang datang karena tertarik dengan makam Mbah Sambu. Bangunan makam kuno itu ternyata identik dengan arsitektur khas Samarkand (sekarang Uzbekistan),” jelasnya.

Berbagai benda peninggalan zaman dulu yang ditemukan di kompleks Masjid Jami’ Lasem memang unik. Salah satunya mustoko masjid yang dibuat 1588 M.

Mustoko yang hingga kini kondisinya masih utuh itu menunjukkan masa transisi dari era Hindu Budha Majapahit ke Islam. Mustoko yang sudah berusia ratusan dengan relief Batharakala ini menjadi simbol jika toleransi antaragama sudah menjadi ruh warga Lasem.

“Sampai sekarang mustoko setinggi 1,60 meter ini masih utuh. Padahal dulu belum ada teknologi semen. Tapi meski kena hujan dan panas kondisinya masih utuh. Kalau Semen Gresik mau meneliti ini semisal unsur keasaman, bahan tanah yang digunakan dan lain sebagainya pasti hasilnya menarik,” tukas Abdullah Hamid sembari berkelakar.

Peninggalan lainnya yang tak kalah “mempesona” adalah Prasasti Dodo Peksi yang merupakan simbol berdirinya Masjid Jami’ Lasem. Namun sayangnya, hingga kini belum ada ahli yang bisa menerjemahkan secara tuntas prasasti itu. Selain itu, ada juga manuskrip lama berupa mushaf Alquran, tafsir, kitab kuning, dan burdah salawatan yang ditulis tahun 1294 H atau sekitar 135tahun lalu. Ada juga berbagai keramik, koin kuno, kendi dan gerabah zaman dulu dan lain sebagainya.

“Berbagai peninggalan ini akan merupakan benda berharga bagi generasi masa depan. Semisal manuskrip Tafsir Jalalain tahun 1294 H, iluminasinya ikut menginspirasi motif batik Lasem. Leluhur kita ternyata sudah punya jiwa seni dan ketelitian luar biasa. Makanya warisan ini harus terus kita jaga dan rawat,” ujar pengelola perpustakaan dan museum Masjid Jami’ Lasem ini.

Ketua Ta'mir Masjid Jami’ Lasem, H Abdul Muid mengatakan saat ini proses pembangunan sejumlah bagian penunjang masjid sudah dan terus berjalan. Mulai dari penginapan hingga toilet. Khusus gedung perpustakaan dan museum diproyeksikan bisa rampung pada tahun 2020.

Pihaknya mengapresiasi Semen Gresik yang sudah mengucurkan bantuan untuk Masjid Jami’ Lasem. Ia berharap semoga bantuan serupa juga masih dikucurkan agar proses pembangunan yang sudah dirintis sejak 2014 atau saat masa H Abdul Hafidz masih menjadi Wabup Rembang (kini menjabat Bupati Rembang) bisa kelar lebih cepat dari rencana. Selama ini, anggaran untuk kegiatan ini mayoritas disokong dari dana swadaya masyarakat.

“Perpustakaan atau museum itu termasuk yang kami prioritaskan. Kita berharap upaya ini berdampak positif untuk menunjang wisata religi maupun sarana edukasi,” tandas Mbah Muid. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 04 Mar 2019 08:10:39 +0700
<![CDATA[Kuat Tiup Slompret Selama 15 Menit Tanpa Henti]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/02/122639/kuat-tiup-slompret-selama-15-menit-tanpa-henti https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/02/kuat-tiup-slompret-selama-15-menit-tanpa-henti_m_122639.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/02/kuat-tiup-slompret-selama-15-menit-tanpa-henti_m_122639.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/02/122639/kuat-tiup-slompret-selama-15-menit-tanpa-henti

Doni Sarwoko memilih pekerjaan sebagai pemain dan pengrajin barongan. Niatnya tulus untuk melestarikan kebudayaan daerah. Ia juga melatih barongan bagi pelajar.]]>

Doni Sarwoko memilih pekerjaan sebagai pemain dan pengrajin barongan. Niatnya tulus untuk melestarikan kebudayaan daerah. Ia juga melatih barongan bagi pelajar di Kudus. Dia punya kelebihan bisa meniup slompret selama 15 menit tanpa henti.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

LAKI-LAKI berperawakan tinggi itu tampak sibuk merangkai kerangka bambu saat ditemui Jawa Pos Radar Kudus di kediamannya. Lokasinya di RT 2/RW 5, Desa Nganguk, Kota, Kudus.

Nantinya bambu tersebut akan dibuat menjadi reog. Ketika dia tak sibuk dengan jadwal pementasan, dirinya mengerjakan pesanan barongan, ason-ason, kuda lumping, bahkan reog.

Ya, inilah Doni Sarwoko, pemain sekaligus pengrajin barongan. Kesehariannya dia ikut dalam grup Barongan Eko Budoyo. Kecintaannya dengan barongan sudah dimiliki sejak tujuh tahun lalu. Sampai sekarang pun ia tetap menggeluti profesi sebagai pemain barongan serta pemain slompret (seruling khas barongan).

Pekerjaan menjadi pengrajin ia pilih, disamping mencintai barongan juga ingin nguri-nguri budaya daerah. Ketulusan merawat budaya daerah, ia tunjukkan tanpa mengharapkan materi yang lebih dari apa yang sedang dikerjakannya.

”Kadang penghasilan tak menentu, satu bulan pun belum begitu pasti ada penghasilan yang masuk. Ini saya niatkan untuk menjaga budaya lokal agar tak punah,” ungkapnya.

Hasil kerajinan barongannya ia hargai Rp 500 ribu khusus barongan berukuran kecil. Sedangkan untuk ukuran besar, dia menjual dari harga Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta. Bahan baku untuk membuat kepala barongan, ia menggunakan kayu cangkring dan kayu dadap.

Bahan-bahan tersebut, dirasanya sudah sangat langka di pasaran. Doni memilih kayu cangkring dan dadap karena bahan tersebut ringan ketika dikenakan untuk pentas. Sedangkan jika tak ada bahan tersebut, ia memberhentikan produksinya. Jika pembeli masih memintanya untuk membuat, Doni menggunakan alternatif bahan dari kayu mangga.

”Kadang ada teman yang punya (kayu cangkring dan dadap) saya langsung beli. Kalau menggunakan kayu Mangga beban kepala Barongan semakin berat,” ujarnya.

Selain membuat barongan, dia juga membuat ason-ason. Ia menjualnya per empat kepala Rp 500 ribu. Sedangkan untuk reog, pesanannya tak seramai barongan. Bahan bulu merak ia datangkan langsung dari Ponorogo. Satu kepala Reog bisa menghabiskan bulu merak seharga Rp 500 ribu. Hasil kerajinan Doni ini, banyak diminati hingga luar Kudus, seperti Blora dan Semarang.

Doni tak mengandalkan hidupnya dalam membuat kerajinan barongan saja. Ia juga menawarkan dirinya untuk melatih barongan di sekolah-sekolah. Seperti halnya di SMP 3 Bae. Tak hanya sebagai pelatih barongan di sekolah itu, dia juga mampu menghantarkan siswa SMP 3 Bae pentas hingga tingkat provinsi.

”Saya banyak mendapat tawaran untuk melatih. Tetapi saya melihat terlebih dahulu bagaimana keseriusan mereka berlatih,” katanya.

Tak berhenti di situ, pria berumur 29 tahun ini, juga piawai memainkan slompret. Ia bisa memainkan slompret tanpa jeda hingga durasi 15 menit. Teknik pernapasan sangat dibutuhkan dalam hal ini. Dia juga pernah menyabet juara pertama tingkat Karesidan Pati dalam memainkan slompret.

Meski saat ini kesenian semacam barongan sudah mulai tersisih, namun Doni tetap optimistis barongan tetap bertahan di Kudus. Sebab, generasi pengrajin barongan yang sudah uzur, sudah ada generasi pengrajin muda. Bahkan, anak SD dan SMP sekarang sudah mampu memainkan slompret.

Ia memegang prinsip merawat budaya dari Indonesia, entah itu dari Jawa, Sumatra, bahkan Papua. Doni juga berpesan kepada anak muda dan masyarakat, agar tak memandang kesenian lokal dari sisi negatifnya saja. Hal itu adalah penyebab hilangnya budaya dari tanah kelahiran sendiri.

”Orang bermain barongan itu harus bersih jiwanya. Sebelum ruwatan ia tak diperkenankan mengomsumsi barang haram. Jangan melihat barongan dari sisi mistisnya saja, tapi coba lihat dari maknanya secara lebih mendalam,” tandasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 02 Mar 2019 09:35:24 +0700
<![CDATA[Suka Nulis, Sudah Hasilkan Tiga Buku]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/01/122413/suka-nulis-sudah-hasilkan-tiga-buku https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/01/suka-nulis-sudah-hasilkan-tiga-buku_m_122413.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/01/suka-nulis-sudah-hasilkan-tiga-buku_m_122413.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/01/122413/suka-nulis-sudah-hasilkan-tiga-buku

Erwin Nur Setyo Pambudi mampu menirukan 50 suara berbeda. Kemampuannya ini ia gunakan untuk mendongeng. Ia sangat hati-hati ketika menceritakan sosok kancil.]]>

Erwin Nur Setyo Pambudi mampu menirukan 50 suara berbeda. Kemampuannya ini ia gunakan untuk mendongeng. Ketika dia mendongengkan si kancil nyolong timun, ia sangat hati-hati. Kisah itu cenderung menonjolkan watak si kancil yang kurang positif.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Grobogan

ERWIN berdiri di depan puluhan anak. Suasana langsung cair meskipun ia belum bicara sepatah kata pun. Bagaimana tidak? Ia memegang mikrofon terbalik. Tingkah konyolnya itu sontak membuat seluruh audien terpingkal. Dalam dongengnya kali ini ia berkisah tentang kehidupan kerajaan di masa lampau.

”Penasehat saya ingin mengumpulkan semua rakyat,” katanya saat berperan sebagai raja. Suaranya berat dan besar. Penuh wibawa.

”Iya paduka. Saya akan keluar meminta rakyat berkumpul,” ucap erwin saat berperan sebagai penasehat raja. Suaranya kecil. Jauh berbeda dengan suara raja yang besar tadi.

Sang penasehat pun pergi keluar bersama pasukan mengendarai kuda. Si kuda mulai meringkik ketika hendak berangkat. Sambil berjalan para pasukan diiringi tabuhan genderang. Priit, bunyi peluit ketika rombongan itu berhenti.

Semua suasana itu berhasil dibawakan Erwin seorang diri. Dari bunyi ringkik kuda, tabuhan genderang, dan peluit. Ya, ia memang bisa menirukan berbagai macam suara. Mulai binatang, helikopter, suara anak-anak, hingga orang tua.

”Saya tidak pernah ngelist berapa suara yang bisa saya tiru. Tapi kira-kira ya sekitar 50 suara,” kata pria kelahiran Grobogan, 8 Maret 1979 ini.

Ia mengatakan, dongeng merupakan tradisi yang sudah turun-temurun. Orang-orang zaman dahulu menasehati anak cucunya dengan cara mendongeng. Melihat fenomena tradisi mendongeng yang perlahan mulai luntur, membuatnya prihatin. Karena alasan itu ia terjun untuk menghidupkan tradisi mendongeng.

”Tetapi tidak semua dongeng bisa kami tampilkan. Ada dongeng-dongeng zaman dahulu yang harus kami sampaikan dengan hati-hati. Seperti dongeng Kancil Nyolong Timun. Kisah itu cenderung menonjolkan watak si kancil yang kurang positif,” jelas bapak dua anak ini.

Agar bertujuan mendidik, ia mengganti dongeng dengan sebuah kisah. Ia juga menyebut dirinya sebagai juru kisah. ”Maka kami biasanya berkisah tentang kisah-kisah nabi atau para sahabat,” imbuh pria yang hobi main musik ini.

Dalam menirukan suara ia harus menguasai suara-suara umum manusia. Seperti suara kecil dan suara besar. Contohnya suara anak, kakek, dan orang biasa.

”Sebetulnya Allah memberi kita tiga suara itu. Suara kecil, suara diri sendiri, dan suara besar. Kami bisa belajar dengan solmisasi (do re mi). Untuk suara seperti binatang dan kendaraan itu ada latihannya sendiri,” katanya.

Ia juga tergabung dalam Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI). Sebuah komunitas yang mewadahi para pendongeng. Tak hanya pandai mendongeng ia juga merupakan seorang penulis. Sudah tiga buku yang ditulisnya. Satu novel berjudul memahat awan, kumpulan puisi, dan resep mujarab lihai mendongeng. Ya, dengan kemampuan uniknya ini membuatnya sangat sibuk. Berkeliling berbagi kisah-kisah penuh moral.

Tak terasa. Matahari mulai menggelincir. Dahi Erwin sudah berkeringat. Disedotnya air mineral dalam gelas kemasan itu. Tak sampai semenit sudah habis. Di depan tampak beberapa orang sudah menunggunya. ”Oke terima kasih ya, saya duluan. Kapan-kapan kita ngobrol lagi,” tukasnya. Senyumnya lebar. Ia pun menjabat tangan Jawa Pos Radar Kudus dengan mantap. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 01 Mar 2019 08:01:51 +0700
<![CDATA[Sempat Cedera, Pertumbuhan Tulang Terganggu]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/28/122196/sempat-cedera-pertumbuhan-tulang-terganggu https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/28/sempat-cedera-pertumbuhan-tulang-terganggu_m_122196.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/28/sempat-cedera-pertumbuhan-tulang-terganggu_m_122196.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/28/122196/sempat-cedera-pertumbuhan-tulang-terganggu

Atlet tenis asal Grobogan Aulia Risma Widyaningsi berhasil ikut membikin nama harum Indonesia. Dia berhasil beberapa kali juara internasional.]]>

Atlet tenis asal Grobogan Aulia Risma Widyaningsi berhasil ikut membikin nama harum Indonesia. Dia berhasil beberapa kali juara internasional. Salah satunya juara I Perlis Internasional di Malaysia.

INTAN MAYLANI SABRINA,Grobogan

DI usia belia Aulia Risma Widyaningsih kurang tertarik olahraga. Memasuki bangku Sekolah Dasar (SD) orang tua Risma memintanya menggeluti olahraga tenis. Kebetulan, ia tinggal di rumah dinas Sekretaris Dewan (Sekwan). Depan rumah dinasnya itu ada lapangan tenis.

Tak lama, ia pun langsung tertarik olah raga itu. Dia mendalami olahraga tenis. Berbekal raket pinjaman, Risma mulai aktif berlatih. Dia didampingi orang tuanya. ”Saat mulai tertarik itu ada kawan bapak yang meminjamkan raketnya untuk latihan. Setelah tekun berlatih, saya mulai bisa. Akhirnya orang tua membelikan saya raket sendiri. Saat itu harga raket Rp 1 juta,” ungkap remaja kelahiran Grobogan 4 Januari 2002 ini.

Ingin lebih serius menggeluti olahraga tenis, Risma mulai bergabung di klub Kudus. Sepekan sekali ia diantar ayahnya berlatih. Sedangkan latihan fisik, ia berlatih di rumahnya.

Selain fisik dan rutin berlatih, ia juga diharuskan mengatur pola makan. Agar tenaga tetap kuat. Ia menghindari makan es dan pedas. Selain itu waktu istirahat juga diatur baik. Salah satunya menghindari tidur tengah malam.

Namun, Risma sempat mengalami cedera serius saat itu. Ia sempat cedera yang mengakibatkan proses pertumbuhan tulangnya terganggu. Dokter pun menyarankan istirahat total. Selama sebulan ia tak berlatih. Recovery. Saat dirasa telah sembuh, ia memutuskan aktif berlatih kembali.

Saat memasuki SMP di SMPN 3 Purwodadi, Risma ingin terus mengembangkan bakatnya. Dia ingin menguji kemampuannya. Maka putri dari pasangan Wijayanto dan Suparti ini memberanikan diri mengikuti lomba tingkat kecamatan. Namun, ia belum berhasil meraih juara.

Tak putus asa, saat duduk di bangku SMP, ia mulai dipercayai mengikuti lomba di tingkat nasional. Saat itu ia langsung menyabet juara I new armada cup tingkat nasional dan juara II single U-14.

Kemudian ia mulai mengikuti turnamen di tingkat internasional belum lama ini. Ia langsung menyabet juara I Perlis Internasional di Malaysia untuk kategori tunggal dan berpasangan. Di tahun yang sama ia juga menyabet juara II Penang di Malaysia kategori tunggal dan berpasangan.

Beranjak ke SMA, ia tetap ingin mengembangkan bakatnya. Bahkan, sekolahnya yakni SMAN 1 Grobogan mendukung penuh prestasi yang ia miliki saat itu. Guru olahraga turut membantunya berlatih fisik di sekolah. Sekolah juga menyediakan berbagai alat untuk berlatih. Setiap Selasa dan Kamis, anak kedua dari dua bersaudara ini rutin berlatih fisik dengan guru olahraga sekolahnya.

Berbekal ketekunannya dalam berlatih, remaja yang tinggal di rumah dinas Sekwan yang berada di Jalan Bhayangkara Kota Purwodadi ini semakin percaya diri untuk mengikuti lomba di tingkat nasional dan internasional.

Tahun lalu, Risma mampu menyabet juara I sportama U-16 di Temanggung. Kemudian juara II nasional U-18 dan juara I Porprov kategori tunggal putri. Baru-baru ini ia juga mewakili Indonesia bertanding di ITF Junior Phnom Penh di Kamboja.

”Untuk yang turnamen di Kamboja ini saya bersama tiga kelompok mewakili Indonesia. Namun, belum beruntung. Saya gagal di sini. Ke depan saya ingin terus mencoba dan bisa konsisten ikut jajaran atlet elit dunia,” harapnya.

Sementara ini, Risma juga memegang raket tenis seperti atlet yang diidolakan yakni Maria Sharapova. ”Kalau raket semua orang bisa berbeda-beda. Tergantung kecocokan. Kebetulan saya pakai raket merek Head seperti yang dipakai Maria Sharapova,” ujarnya.

Kini hasil dari kejuaraan yang ia dapatkan langsung ditabungkan dan untuk memenuhi kebutuhan latihan dan tanding. Selain raket yang dirasa cukup mahal, jersey dan sepatu juga ia peroleh dari hasil juara tanding tersebut.

Selain itu, guru olahraga SMAN 1 Grobogan yang mendampingi latihan fisik juga memiliki kesan tersendiri terhadap murid didiknya yang berprestasi tersebut. ”Saya mendampingi latihan fisik sepekan dua kali. Setiap sepulang sekolah, biasanya dia latihan sampai pukul 20.00,” ungkap Soetrisno.

Dijelaskan, Risma juga pandai membagi waktu latihan dan belajar. Sehingga prestasi di sekolah pun tidak pernah ketinggalan. ”Biasanya setelah latihan dia lanjut belajar umum. Kalau ada turnamen bebarengan dengan mid semester. Biasanya memang dia mengikuti susulan sendiri. Meski begitu tak menjadi beban baginya,” ujarnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 28 Feb 2019 10:42:18 +0700
<![CDATA[Bermula dari Corat-coret Tembok Kamar Rumah]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/27/121940/bermula-dari-corat-coret-tembok-kamar-rumah https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/27/bermula-dari-corat-coret-tembok-kamar-rumah_m_121940.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/27/bermula-dari-corat-coret-tembok-kamar-rumah_m_121940.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/27/121940/bermula-dari-corat-coret-tembok-kamar-rumah

Lukisan karya Muchadi berhasil masuk 50 karya seni lukis guru seni terbaik se-Indonesia nasional. Prestasinya itu membuat karyanya dipajang di galeri Nasional.]]>

Lukisan karya Muchadi berhasil masuk 50 karya seni lukis guru seni terbaik se-Indonesia nasional. Prestasinya itu membuat karyanya dipajang di galeri Nasional Jakarta.

WISNU AJI, Rembang

GEDUNG KPRI Sale tampak ramai Jumat (15/2).  Di situ ada pameran lukis yang diprakarsai SMAN 1 Sale. Namanya Alit Art Exhibition. Kegiatan di-handle anak-anak didik. Di bawah komando guru seni budaya setempat. Namanya Muchadi.

Sosok Muchadi ramah, santai namun tegas. Ini terlihat saat anak-anak diarahkan menjadi penerima tamu. Lalu bertugas menjaga parkir. Kemudian seksi acara hingga hiburan. Semua menjalankan tugas baik.

Wajar ini even perdana. Kegiatannya kecil. Namun acara itu bisa dibilang skala nasional.  Di mana pesertanya mencapai 40 perupa. Disitu ada 140 karya terbaik anak SD, SMP, SMA, guru, seniman lokal dan kota besar, juga profesor dari seluruh Indonesia. Satu karya ada yang harganya Rp 250 juta.

”Ini mas, karya tumpukan kardus dan koran. Lalu ada gambar plastik bekas es teh yang harganya dibanderol sampai Rp 250 juta. Ini karya perupa Sapto. Kebetulan sering menjuarai lukis tingkat nasional,” terang Muchadi kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Belum sampai detail menerangkan Muchadi diajak foto beberapa tamu undangan. Kebetulan di situ ada beberapa karya miliknya. Di antaranya ada potret tokoh-tokoh kyai penting di Indonesia. Lalu ada lukisan orang yang membawa keranda. Karya ini pernah masuk finalis 50 besar karya seni lukis guru seni terbaik se-Indonesia di galeri Nasional Jakarta 2014.

Memang karyanya tidak diragukan. Apalagi prosesnya bukan sembarangan. Perjalanan karirnya panjang dan penuh lika-liku. Ia merintis dari nol. Belajar melukis pertama dari kakaknya.

Wajar himpitan ekonomi keluarga. Orang tuanya hanya petani. Sejak SMA sudah ditinggal ayahnya. Praktik tulang punggung di tangan ibunya. Sebagai anak, dirinya harus dapat membanggakan orang tua. Caranya harus menjadi pribadi lebih baik.

”Saya baru intens di dunia seni rupa 1998. Saya belajar dari kakak. Kebetulan kakak pintar sekali melukis. Karena keterbatasan biaya, tembok kamar menjadi media. Untuk bahannya cat yang murah. Kira-kira hanya 3-6 ribuan,” kenangnya saat masa-masa sulit.

Karena masih kurang jam terbang akhirnya 2000-an saya kuliah. Dia memilih jurusan seni rupa di Unnes Semarang. Kebetulan dia mendapatkan beasiswa. Jadi biaya yang dikeluarkan tidak begitu besar.

Paling hanya memikirkan biaya kos dan makan sehari-hari. Untuk mencukupi kebutuhan ini dirinya mengandalkan karya yang dibikin. Misalnya membuat kaligrafi. Selanjutnya dia jual dan hasilnya untuk bayar kos dan lain-lain.

Hal ini berjalan sampai dia lulus S1. Lalu berlanjut pada 2008 masuk S2 Unnes. Untuk menjiwai seni rupa secara mendalam. Utamanya memaknai makna-makna lukisan. Selain motivasinya atas keprihatinan di masa-masa sulit.

”Orang yang paling saya  kagumi profesor Aryo Sunaryo. Karena beliau tidak sekadar dosen, namun juga maha guru melukis. Sampai akhirnya 2010 saya mulai tekun dalami lukisan,” pengakuannya.

Beberapa kali Muchadi ikuti pameran. Walaupun penolakan pernah dirasakan. Saat itu ikut pameran kelompok di Jogja. Ketika tidak lolos ia tidak patah semangat. Namun terus melakukan evaluasi. Dari situ teknik, konsep, dan visualisasi ditingkatkan.

Hasilnya benar. Karyanya pernah masuk finalis 50 besar guru terbaik se-Indonesia. Lalu masuk 10 terbaik dan dimasukan katalog majalah khusus galeri nasional. Selain itu landscape anak-anak pernah masuk hingga kementerian.

”Saya pernah bikin 1000 portrait wajah tentang Indonesia. Lalu pemandangan langsung. Sudut-sudut kota Lasem, Rembang, Pamotan. Dua tahun terakhir 250 karya saya buat ukuran kecil,” bebernya.

Semangatnya ini ditunjukkan usai dirinya mengajar. Tidak heran beberapa kali kesempatan dirinya lebih memilih tinggal di sekolah. Wajar kalau dihitung, jumlah lukisanya di atas 100 karya.

”Kalau saya cari referensi dari berbagai aspek. Saya cari yang belum pernah dibikin orang. Termasuk mimpi almarhum bapak,” kiatnya.

Berkat keulatannya tersebut ada 600 karya portrait pernah dibikin. Sementara landscape hampir seribu. Paling lama karya yang ia bikin bisa sampai setahun. Tergantung ukuran. Kembali lagi memang berpengaruh mood. Makanya harus dibagi waktunya. Tidak salah karya yang dibikin paling tinggi mencapai Rp 10 jutaan.

Usaha memang tidak menghianati hasil. Kini dirinya dapat mengangkat derajat keluarga yang lebih baik. Kini diamanahi menjadi guru seni budaya di SMAN 1 Sale. Untuk membagi ilmu dan mengajari praktik. Selain bonusnya dapat menuangkan karya setelah kerja. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 27 Feb 2019 10:08:12 +0700
<![CDATA[Beri Bibit Gratis untuk Petani yang Mau Mengembangkan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/27/121916/beri-bibit-gratis-untuk-petani-yang-mau-mengembangkan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/27/beri-bibit-gratis-untuk-petani-yang-mau-mengembangkan_m_121916.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/27/beri-bibit-gratis-untuk-petani-yang-mau-mengembangkan_m_121916.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/27/121916/beri-bibit-gratis-untuk-petani-yang-mau-mengembangkan

Edy Wuryanto jadi orang pertama di Kota Swieke yang membudidayakan jambu air citra. Jenis jambu itu dipilih karena sesuai dengan karakter lahan di Grobogan.]]>

Edy Wuryanto jadi orang pertama di Kota Swieke yang membudidayakan jambu air citra. Jenis jambu itu dipilih karena sesuai dengan karakter lahan di Grobogan. Kini, jejak Edy sudah diikuti oleh 50 petani yang membudidayakan jambu air citra.

SIROJUL MUNIR, Grobogan.

SEMANGAT untuk membangun daerah nampak dari Edy Wuryanto. Warga Desa Pepe, Kecamatan Tegowanu ini menjadi orang pertama yang mengembangkan pertanian hortikultura tanaman jambu air citra. Awal pertama kali dia mulai pada 2004.

Saat itu, di Kabupaten Grobogan belum ada yang mengembangkan jambu air citra yang sudah disertifikasi. Putra asli daerah Grobogan mencoba menanam. Hasilnya bagus. Dia menanam pertama kali di desanya. Dia menilai jambu air citra sangat cocok di tanam di tanah Grobogan.

”Secara geografis di Kabupaten Grobogan cocok ditanami jambu air citra. Karena memiliki cuaca panas dan irigasinya lancar,” kata Edy Wuryanto.

Karena syarat tanaman jambu air citra adalah memiliki panas cukup di musim kemarau dan cukup air. Varietas jambu air citra ini memiliki keunggulan tidak berbiji dan rasanya manis. Buahnya besar dan mengkilap. Satu kilogram berisi enam sampai tujuh buah.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua PPNI Jawa Tengah mengaku bahwa jambu air citra juga mempunyai nilai ekonomis tinggi. Satu tahun bisa panen tiga kali. ”Di pasaran, harga jambu citra juga bagus. Di tingkat petani satu kilogram Rp 25 ribu. Jika sudah masuk mall harganya naik menjadi Rp 50 ribu perkilogram,” ujar Dekan di Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan dan Wakil Rektor di Unimus Semarang ini. 

Saat ini, dirinya memiliki empat hektare lahan yang ditanami jambu air citra. Dari hasil itu, dirinya sudah mempekerjakan ratusan buruh tani sekitar. Hal itu, karena jambu air citra membutuhkan tenaga pembungkus saat sedang berbuah. Apalagi setiap tahun bisa panen tiga kali.

”Saya juga tidak hanya kembangkan sendiri. Tetapi juga berikan edukasi kepada petani lain. Setiap petani budi daya jambu air citra saya survey lokasi. Lalu saya beri bibit gratis yang sudah sertifikasi. Saya ajarkan bagaimana budidaya yang intensif. Sampai manajemen paska panen. Termasuk membantu pemasaran,” paparnya.

Hingga saat ini dirinya dipercaya menjadi Ketua Kelompok Tani Citra Mandiri di Kabupaten Grobogan. Ada 50 petani binaannya yang sudah mengikuti jejaknya. Mereka tersebar di beberapa Kecamatan di Kabupaten Grobogan. Seperti Kecamatan Tegowanu, Gubug, Godong, Penawangan, Klambu, Purwodadi, Toroh, Karangrayung, Tawangharjo, dan Pulokulon.

”Melalui kelompok tani Citra mandiri kami melakukan upaya agar Grobogan ini menjadi sentra jambu air nasional. Kami lakukan mulai pembibitan sertifikasi Dinas Pertanian Provinsi Jawa Tengah kerjasama dengan Dinas Pertanian Grobogan. Setiap tahun kami berikan bibit gratis setiap tahun kepada petani yang berminat,” tambah  Wakil Ketua Forum Komunikasi Organisasi Profesi Kesehatan Jawa Tengah sejak 2015.

Bibit gratis yang diberikan warga sebanyak lima ribu. Dengan upaya perjuangan tersebut, Kabupaten Grobogan berhasil memasok buah ini ke berbagai kota besar. Diantaranya Jakarta, Surabaya, Solo, Semarang, Jogja. Bahkan tawaran untuk ekspor ke Singapura sudah didapatkan. Namun, jumlah permintaan yang banyak belum bisa memenuhi.

”Sampai saat ini masih di pasar dalam negeri. Itupun masih kewalahan. Maka prospek jambu air citra sangat menguntungkan bagi petani. Maka beberapa kali ada permintaan ekspor belum bisa memenuhi,” tambahnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 27 Feb 2019 08:07:08 +0700
<![CDATA[Maksimalkan Potensi Lokal, Sulut Semangat Gotong Royong Warga]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/26/121687/maksimalkan-potensi-lokal-sulut-semangat-gotong-royong-warga https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/26/maksimalkan-potensi-lokal-sulut-semangat-gotong-royong-warga_m_121687.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/26/maksimalkan-potensi-lokal-sulut-semangat-gotong-royong-warga_m_121687.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/26/121687/maksimalkan-potensi-lokal-sulut-semangat-gotong-royong-warga

Djoglo Coffe menjadi salah satu potret keberhasilan Semen Gresik memberdayakan BUMDes. Sejumlah kegiatan pemberdayaan lain juga diterapkan di Desa Kadiwono.]]>

Djoglo Coffe menjadi salah satu potret keberhasilan Semen Gresik memberdayakan BUMDes. Sejumlah kegiatan pemberdayaan lain juga diterapkan di Desa Kadiwono, Pasucen, dan Kajar, Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang, serta Desa Ngampel Kecamatan/Kabupaten Blora.

ALI MAHMUDI, Rembang

MASDURIANTO sangat senang dengan semakin berkembangnya Djoglo Coffe. Pemuda 24 tahun itu, bukan satu-satunya. Sebab, progam pemberdayaan BUMDes yang dijalankan Semen Gresik sudah berlangsung sejak 2017 lalu. Kegiatan yang dilakukan pun beragam. Mulai dari training pendampingan BUMDes, pelatihan kafe untuk BUMDes, koordinasi tindak lanjut pembentukan BUMDes, juga sosialisasi corporate social responsibility (CSR).

Selain itu, juga rakor  BUMDes dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dinpermades), Musyawarah Besar Forum masyarakat Madani (FMM), studi banding BUMDes, hingga bantuan modal usaha BUMDes. Total anggaran yang dikucurkan untuk berbagai kegiatan tersebut mencapai miliaran rupiah.

”Progam pemberdayaan BUMDes ini selalu kami koordinasikan dengan pemkab setempat. Kegiatan studi banding, kami ajak pengelola BUMDes ke Magelang dan Cibodas, Jawa Barat. Karena di sana sudah lebih maju. Jadi, kita bisa belajar dari mereka,” kata Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik Kuswandi.

Sebelum Semen Gresik resmi beroperasi, progam yang bersentuhan dengan masyarakat maupun desa sekitar perusahaan digarap oleh holding, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Program yang dijalankan pun beragam. Mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga berbagai infrastruktur. Termasuk infrastruktur untuk mengatasi persoalan krisis air bersih. Saat ini, infrastruktur terkait air bersih itu menjadi salah satu aset yang turut digarap BUMDes.

Kuswandi menambahkan, selain BUMDes, Semen Gresik juga memfasilitasi pembentukan PT BUMDes di desa-desa sekitar perusahaan. PT BUMDes ini digadang-gadang menjadi unit usaha yang menggarap berbagai kerja sama, baik dengan Semen Gresik maupun pihak lain.

Progam tersebut juga diperkuat dengan kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas pengurus BUMDes. Sasarannya, desa sekitar PT Semen Gresik pabrik Rembang yang digelar 14-15 Februari lalu.

Kegiatan yang dilaksanakan di Gedung CCR Semen Gresik Pabrik Rembang itu, diikuti oleh kepala desa, pengurus BUMDes, direktur dan komisaris PT BUMDes dari Desa Kajar, Tegaldowo, Pasucen, Kadiwono, Kabupaten Rembang, dan Desa Ngampel Kabupaten Blora. Kegiatan itu menghadirkan instruktur tenaga ahli pengembangan ekonomi desa progam pemberdayaan masyarakat desa Kemendes Retno Heru Mulyani.

Kuswandi berharap, usai pelatihan ini, PT BUMDes yang ada di sekitar lokasi perusahaan sudah siap beroperasi dan bekerja sama dengan Semen Gresik. Ada banyak sektor yang bisa digarap, mulai dari transportasi, tenaga perawatan taman, katering, alat tulis kantor (ATK), hingga pekerjaan konstruksi skala kecil.

”Total anggaran yang kami siapkan untuk progam kerja sama dengan PT BUMDes sejumlah desa ini, tahun ini mencapai Rp 4 miliar,” jelasnya.

Selain kerja sama dengan Semen Gresik, PT BUMDes juga bisa menggarap sektor tertentu dengan lembaga lain. Mulai dari pengelolaan air bersih, suplai alat-alat pertanian, kafe, kuliner, atau sektor lain berbasis potensi dan kearifan lokal setempat.

Untuk jangka panjang, BUMDes yang sudah dilatih ini, bisa menjadi percontohan desa-desa lain, baik di Kabupaten Rembang, Blora, atau daerah lain.

Kuswandi berharap, upaya yang dilakukan jajarannya mampu menggenjot potensi dan daya saing berbasis kearifan lokal. Ujungnya bisa berkontribusi positif mendongkrak perekonomian dan aspek-aspek lain di desa-desa tersebut.

”Kami berharap BUMDes yang sudah dilatih ini bisa menjadi percontohan desa-desa lain, baik di Kabupaten Rembang, Blora, atau daerah lain,” harapnya. 

Sementara itu, tenaga ahli pengembangan ekonomi desa progam pemberdayaan masyarakat desa Kemendes Retno Heru Mulyani, mengatakan, pemberdayaan BUMDes termasuk empat prioritas yang digarap jajaran Kementerian Desa.

BUMDes diharapkan menjadi sarana untuk memaksimalkan potensi desa, menumbuhkan partisipasi masyarakat, menebalkan semangat gotong royong, membuka lapangan kerja, dan hal positif lain. Ujung proses ini, akan menjadikan desa lebih mandiri dan berdikari.

”Manfaatnya banyak. Makanya kami mengapresiasi pihak-pihak yang concern dalam pemberdayaan BUMDes,” tutur Retno.

Saat ini, kata Retno, pemerintah gencar dengan Progam Inovasi Desa (PID). BUMDes juga bisa berinisiatif dan mengambil peran strategis agar progam tersebut berjalan dan bermanfaat untuk masyarakat.

”Kalau BUMDes jalan, manfaatnya beragam. Masyarakat lebih berdaya, ada lapangan kerja baru, menggerakkan perekonomian, dan lain sebagainya. Maka harus kita dukung bersama," tandas Retno. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 26 Feb 2019 10:19:23 +0700
<![CDATA[Sulap Balai Desa Tak Terpakai Jadi Warung Kopi Ber-Wifi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121545/sulap-balai-desa-tak-terpakai-jadi-warung-kopi-ber-wifi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/sulap-balai-desa-tak-terpakai-jadi-warung-kopi-ber-wifi_m_121545.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/sulap-balai-desa-tak-terpakai-jadi-warung-kopi-ber-wifi_m_121545.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121545/sulap-balai-desa-tak-terpakai-jadi-warung-kopi-ber-wifi

Memaksimalkan BUMDes menjadi salah satu prioritas PT Semen Gresik (SG) Pabrik Rembang dalam progam pemberdayaan masyarakat dan desa di sekitar perusahaan.]]>

Memaksimalkan BUMDes menjadi salah satu prioritas PT Semen Gresik (SG) Pabrik Rembang dalam progam pemberdayaan masyarakat dan desa di sekitar perusahaan. Berkat sentuhan Semen Gresik BUMDes di wilayah Kabupaten Rembang-Blora pun mulai mampu berdikari.

ALI MAHMUDI, Rembang

SEBELUM DIREHAB: Balai Desa Tegal Dowo sebelum dikelola. (SEMEN GRESIK FOR RADAR KUDUS)

MASDURIANTO, 24, terlihat gusar. Pemuda lulusan SMK itu prihatin melihat menjamurnya warung kopi plus karaoke disertai pemandu lagu (PL) di kawasan Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem. Tiap malam, warkop plus ini menjadi tempat nongkrong favorit anak-anak muda baik yang berasal dari wilayah Tegaldowo maupun desa lainnya seperti Dowan, Suntri, Timbrangan hingga Pasucen. Yang membuatnya lebih geram lagi, karena peredaran miras juga kian marak seiring aktivitas warkop remang-remang itu. 

Masdurianto tergerak mengikis kebiasaan negatif itu. Dia ingin aktivitas ngopi, jagongan sembari membincangkan apa saja tetap jalan. Namun miras, karaoke plus PL hilang. 

“Prihatin sekali, makanya saya ingin berbuat sesuatu untuk desa kelahiran. Dan saya kira hal itu bisa diawali dari warung kopi yang memang populer di sini. Warung kopi yang kita impikan tidak hanya sekadar mengejar laba semata. Namun juga ada misi sosialnya,” kata Masdurianto, saat ditemui baru-baru ini.

Pemuda berperawakan kurus itu sebelumnya merupakan sosok yang berada di barisan kalangan kontra pembangunan Semen Gresik di Rembang. Ia tidak pernah absen dalam aksi penolakan pabrik semen milik BUMN yang tergabung dalam korporasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk ini. Meskipun hal itu diakui Masdurianto karena ikut-ikutan seiring kurangnya asupan informasi yang diterimanya.

Seiring berjalannya waktu, cara pandangnya lebih terbuka. Terlebih setelah melihat berbagai fenomena yang ada di sekitarnya. Dengan kesadaran sendiri, ia memilih mengubah haluannya. 

“Anak-anak desa seperti saya butuh aktivitas untuk mengembangkan diri. Setidaknya upaya itu bisa bermanfaat untuk diri sendiri. Syukur kalau juga bisa berkontribusi untuk masyarakat dan lingkungan sekitar,” ujarnya.

Gayung pun bersambut. Keinginan Masdurianto itu ditangkap jajaran BUMDes Mumpuni Tegaldowo. BUMDes yang proses pembentukannya disokong penuh Semen Gresik. Kebetulan, Masdurianto juga tercatat sebagai salah satu pengurus BUMDes Tegaldowo.

Pemetaan potensi hingga strategi langsung disusun rapi. Akhirnya disepakatilah nama warung kopi Djoglo Coffe. Dengan konsep positif, warung itu dibangun di bekas bangunan Balai Desa Tegaldowo yang mangkrak sekitar 10 tahunan. Masdurianto diplot sebagai Kepala Unit Djoglo Coffe yang merupakan salah satu anak usaha BUMDes Mumpuni.

Semen Gresik  juga menyambut impian Masdurianto dan pengelola BUMDes Mumpuni. Dana CSR sebesar Rp 50 juta dikucurkan agar mimpi itu terealisasi. Anggaran itu digunakan untuk proses rehab bekas balai desa, pengadaan sarana pendukung hingga operasional warung kopi dengan konsep positif ini. Hingga akhirnya, April 2018 Djoglo Coffe resmi beroperasi untuk pertama kali.

”Ini capaian yang luar biasa. Ada banyak manfaat positif yang muncul seiring beroperasinya Djoglo Coffe ini,” ujar Masdurianto. 

Dalam sehari, jumlah pengunjung Djoglo Coffe bisa lebih dari 20 orang. Baik pribadi maupun rombongan organisasi. Dalam sebulan bisa mencapai ratusan pengunjung yang didominasi anak-anak muda. Omzet bulanan Djoglo Coffe pun ada di kisaran Rp5-6 juta. Pada momen dan bulan tertentu omzetnya bisa melonjak hingga Rp 10 juta. 

Kehadiran Djoglo Coffe pada akhirnya mampu menggerakkan perekonomian setempat. Snack atau makanan ringan, kuliner produksi warga setempat bahkan hingga kopi lelet khas Lasem Rembang ditampung dan disajikan di warkop ala kafe Masdurianto.  

Tak hanya itu, Djoglo Coffe juga menjadi ruang berekspresi yang positif bagi anak-anak muda di Tegaldowo dan sekitarnya. Anak-anak muda diberi wadah untuk “beraksi” sesuai potensi yang dimilikinya. Alhasil, pentas seni maupun live music yang diisi generasi milenial pun kerap ditampilkan. Bahkan menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Konsep warkop ala kafe menjadi keunggulan tersendiri Djoglo Coffe. Berbagai fasilitas seperti tempat yang artistik, layar lebar, proyektor hingga koneksi televisi berbayar ibarat menjadi jaring pemikat berbagai kalangan untuk datang dan berlama-lama di Djogo Coffe. 

“Fasilitas karaoke yang lazim ada di warung kopi ditiadakan. Kami ganti dengan wifi. Jadi pengunjung bisa bebas berselancar di dunia maya sesuai kebutuhan mereka,” ucap Masdurianto.

Masdurianto berharap Djoglo Coffe terus berkembang. Beberapa rencana pengembangan sudah mulai disusunnya. Salah satunya, ia ingin tiap akhir pekan, ada semacam “pasar khusus” kuliner tradisional yang disajikan di area Djoglo Coffe. Upaya ini diharapkan kian memperluas cakupan pasar Djoglo Coffe. Pengunjung ditarget tak hanya dari desa-desa di Kecamatan Gunem saja, namun juga meluas hingga wilayah lain baik yang ada di Kabupaten Rembang maupun Blora.

“Saat ini kuliner tradisional jarang ditemui. Lewat upaya ini kami tidak hanya sekadar jualan. Tapi juga ikut berusaha melestarikan kuliner beserta kearifan lokal yang ada di sekitar. Kehadiran Semen Gresik positif bagi kami,” harap Masdurianto. (bersambung/*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Feb 2019 14:12:52 +0700
<![CDATA[Jadi Inisiator Rumah Belajar As Salafi di Pancur Rembang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121497/jadi-inisiator-rumah-belajar-as-salafi-di-pancur-rembang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/jadi-inisiator-rumah-belajar-as-salafi-di-pancur-rembang_m_121497.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/25/jadi-inisiator-rumah-belajar-as-salafi-di-pancur-rembang_m_121497.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/25/121497/jadi-inisiator-rumah-belajar-as-salafi-di-pancur-rembang

Jauh dari dari ingar bingar kota membuat Ahmad Nur Kholiq berinisiatif membuka Rumah Belajar As Salafi. Berada di kompleks Lembaga Pendidikan Islam As Salafi.]]>

Jauh dari dari ingar bingar kota membuat Ahmad Nur Kholiq berinisiatif membuka Rumah Belajar As Salafi. Berada di kompleks Lembaga Pendidikan Islam As Salafi asuhan K.H. Achmad Ja’far, kini Rumah Belajar As Salafi memiliki ratusan buku yang bisa dibaca.

SAIFUL ANWAR, Rembang

Berbaju koko dan berpeci, lelaki itu memilih buku. Dari rak satu ke rak lain. Setelah mendapati salah satu judul yang menarik, buku itu pun diambil dan dibuka-buka. Melihat isinya kurang sesuai, dia pun mencari buku lain.

ANTUSIAS: Pengunjung Rumah Belajar As Salafi membaca buku koleksi. (DOK. PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Pemuda lain juga melakukan hal sama: memilah-milah buku yang cocok, dibuka beberapa halaman, lalu dikembalikan ke tempat semula. Saat menemukan buku yang pas, sang pemuda pun lantas mencari tempat duduk dan dengan khidmat membaca.

Rumah Belajar As Salafi (RBA) sebuah tempat belajar bagi siapa saja yang datang. Letaknya, berada di RT 07 RW 0,3 Dusun Nglarangan, Desa Wuwur, Kecamatan Pancur, Rembang. Ada ratusan buku yang bisa dipilih. Syarat peminjaman cukup mudah. Namun harus warga RT 07. Bagi warga lain bisa datang dan membaca.

Ahmad Nur Kholiq, inisiator Rumah Belajar As Salafi itu bercerita, awal mula berdirinya tempat belajar. Saat itu, sekitar setahun lalu, yakni selepas “bubar”-nya sebuah komunitas baca di Pamotan setelah diganti dengan komputer. Buku-buku di tempat itu pun dipindah ke tempat belajar yang belakangan diberi nama Rumah Belajar As Salafi (RBA).

”Bukunya macam-macam. Ada cerita anak-anak, sejarah, buku-buku Islam. Ada ratusan,” tutur Kholiq, bapak dua anak itu.

Meski hanya lulusan sekolah dasar, namun semangat pria kelahiran Rembang, 22 November 1987 itu patut diacungi jempol. Dia penyokong dana 80 persen. Juga ide membangun Rumas Belajar As Salafi ini. Namanya persis seperi lembaga yang diasuh K.H. Achmad Ja’far.

Sehari-hari, Kholiq berjualan sticker sekaligus pemilik toko sticker. Memiliki tujuh pekerja, toko itu dia beri nama Surya Sticker yang berada di kawasan Kecamatan Pamotan. Namun, karena dia banyak bergaul dengan seorang rekannya yang aktif di komunitas baca, akhirnya tercetuslah ide mendirikan rumah belajar. 

Kholiq bercerita, sengaja menamakannya dengan rumah belajar, bukan rumah baca. Sebab, di sana juga digelar berbagai kegiatan untuk para siswa dan masyarakat setempat. Untuk diketahui, RBA berada satu kompleks dengan Lembaga Pendidikan Islam As Salafi. Beberapa bidang yang bernaung yakni ponpes, madrasah diniyah (madin), serta taman pendidikan al qur’an. Selain itu juga ada agenda hifdzil qur’an, majelis taklim, majelis zikir, serta pengajian umum.  

”Siswa kalau mau ngeprint (mencetak dokumen) kan jauh. Ke Lasem sekitar 7 Km, kalau ke Rembang Kota sekitar 25 Km. Lha, di RBA ini ada komputer dan printer yang bisa dimanfaatkan gratis,” tuturnya menyebutkan alasan lain dibukanya RBA di kawasan tersebut.

Setidaknya ada tiga pendamping atau pengajar di RBA. Selain Kholiq yang mengajar hadroh, dua lainnya yakni istri Kholiq dan salah satu putra K.H. Achmad Ja’far. Kholiq khusus mengajar di hari Minggu. Sementara dua pengajar lain aktif mendampingi para murid di sesi belajar malam usai jamaah Salat Isya.

”Yang diajarkan ya paling PR yang mau dikumpulkan besoknya. Mendampingi anak-anak yang aktif,” tutur Kholiq.

Dia menuturkan, jumlah murid di LPI As Salaf memang belum terlalu banyak. Hanya sekitar 25 murid. Dan, sang kyai pengasuh pun, K.H. Achmad Ja’far lebih memfokuskan para murid itu untuk menghafal Al qur’an. Sehingga, RBA pun hanya punya waktu ketika malam hari.

”Mereka kan pagi sampai siang sekolah, sorenya madin. Terus setelah maghrib mengaji. Baru setelah Isya belajar di situ,” kata dia. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Feb 2019 11:17:32 +0700
<![CDATA[Gelar Pasar Senja, Angkat Jajanan Lokal dan Kelapa Kopyor]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/23/121133/gelar-pasar-senja-angkat-jajanan-lokal-dan-kelapa-kopyor https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/23/gelar-pasar-senja-angkat-jajanan-lokal-dan-kelapa-kopyor_m_121133.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/23/gelar-pasar-senja-angkat-jajanan-lokal-dan-kelapa-kopyor_m_121133.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/23/121133/gelar-pasar-senja-angkat-jajanan-lokal-dan-kelapa-kopyor

Pasar Senja hadir tak hanya sebagai tempat jajan dan mencari hiburan. Lebih dari itu, kehadiran pasar ini, menjadi tempat promosi produk lokal andalan.]]>

Pasar Senja hadir tak hanya sebagai tempat jajan dan mencari hiburan. Lebih dari itu, kehadiran pasar ini, menjadi tempat promosi produk lokal andalan langsung di tempatnya. Di antaranya kelapa kopyor.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

JALAN Mardi Santosa di Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Sabtu (10/2) sore lalu sesak. Alunan melodis musik akustik sayup-sayup terdengar. Sekelompok anak muda memainkannya dengan penuh perasaan. Orang-orang berjejalan. Muda-mudi, anak-anak, sampai orang tua. Mereka terlihat hendak jajan sekaligus mencari hiburan di Pasar Senja.

MENGHIBUR:  Seniman sedang menghibur pengunjung di Pasar Senja. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Seperti Angga, 26. Warga Kecamatan Tlogowungu itu, sambil menenteng belanjaan. Terus saja berjalan menengok dari satu stan ke stan lain. Di Pasar Senja ini, memang disediakan banyak jajanan. Terutama jajanan tradisional. Ada serabi, getuk, sampok, dan tentunya minuman andalan, es kelapa kopyor khas Desa Ngagel.

”Mumpung akhir pekan, cari hiburan sekalian jajan di sini. Tempatnya menarik. Ada hiburan musiknya juga,” kata alumni UIN Walisongo Semarang ini.

Desa itu memang masyhur sebagai penghasil kelapa kopyor. Hampir di tiap pekarangan rumah di desa itu, mayoritas ada pohon kelapa kopyornya. Di Pasar Senja, memang lebih banyak dijual jajanan. Bahkan, 80 persen dagangan yang dijajakan adalah jajanan. Sisanya pedagang pernak-pernik seperti bros. Ada juga yang menjual baju dan jilbab.

Penggagas sekaligus Ketua Pasar Senja Yusron Afifi, mengungkapkan, pasar berkonsep outdor ini, telah digelar sejak akhir 2018 lalu. Pasar Senja hadir setiap dua pekan sekali di Sabtu dan Minggu sore sampai malam hari. Dinamai Pasar Senja karena pelaksanaannya menjelang senja atau terbenamnya matahari. Orang-orang di daerah tersebut juga sering berjalan-jalan saat sore hari. Senja juga identik dengan suasana yang syahdu.

”Ide awal kehadiran pasar ini memang untuk menggeliatkan UMKM lokal dan melestarikan makanan tradisional. Makanya di sini banyak dijual jajanan seperti serabi, tape ketan, dan lainnya. Ini kan eranya ekonomi kreatif. Jadi, kami anak-anak muda berinisiatif untuk membuat pasar berkonsep outdor untuk mendukung perekonomian warga setempat,” jelasnya.

Di pasar ini, sudah ada 50 lebih pedagang yang menjadi member. Mereka berjajar sepanjang jalan desa selebar sekitar dua meter. Tampilan Pasar Senja juga dibuat menarik. Ada photo booth corner-nya, panggung senja untuk suguhan hiburan, dan bendera warna-warni yang menambah kesan meriah tempat itu.

Selain itu, tiap kali digelar, Pasar Senja selalu menampilkan hiburan-hiburan. Seperti angklung, musik akustik, tarian tradisional, hingga musikalisasi puisi. ”Ya, itu untuk menambah suasana pasar menjadi meriah dan memberikan hiburan kepada para pengunjung. Supaya tak bosan. Kami juga menjalin kerja sama dengan penggiat seni di sini,” imbuhnya.

Dari waktu ke waktu pengunjung pasar ini juga terlihat terus bertambah. Pengunjung bahkan ada yang datang dari Rembang maupun Jepara. Omzetnya pun lumayan. Dalam satu waktu, perputaran uang bisa mencapai Rp 20 juta lebih.

Sepoi-sepoi angin yang meniup dedaunan pohon kelapa kopyor menambah kesan menyenangkan, saat menghabiskan sore akhir pekan di Pasar Senja Desa Ngagel tersebut. Selain jajanan, ada pula pedagang yang menjajakan masakan laut. Sebab, Desa Ngagel ini memang berada di pesisir utara Kabupaten Pati.

Saat datang di pasar ini, pengunjung juga bisa melihat langsung pohon kelapa kopyor. Di dekat lokasi pasar dadakan itu ada kebun kecil kelapa kopyornya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 23 Feb 2019 09:45:56 +0700
<![CDATA[Kehabisan Uang di Filipina, Sempat hanya Makan Nasi Putih]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/22/120913/kehabisan-uang-di-filipina-sempat-hanya-makan-nasi-putih https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/22/kehabisan-uang-di-filipina-sempat-hanya-makan-nasi-putih_m_120913.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/22/kehabisan-uang-di-filipina-sempat-hanya-makan-nasi-putih_m_120913.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/22/120913/kehabisan-uang-di-filipina-sempat-hanya-makan-nasi-putih

Tiara Ardeya Nurhaliza, pelajar SMP 1 Jati Kudus berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di Filipina. Dia berhasil meraih gelar Miss Inspiration 2019.]]>

Tiara Ardeya Nurhaliza, pelajar SMP 1 Jati Kudus berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di Filipina. Dia berhasil meraih gelar Miss Inspiration di ajang bergengsi Little and Teen Glam International 2019.

 INDAH SUSANTI, Kudus

 SEPULANG dari mengikuti tryout SMP jelang ujian nasional (unas), Tiara Ardeya Nurhaliza, langsung disambut ibunya. Ibunya pun menyapa dengan bertanya perihal tryout terakhirnya.

Siswi SMP 1 Jati ini, masih menggendong tas sekolahnya. Masih juga menempel lengkap di badan seragam atasan putih dan bawahan rok panjang biru beserta atributnya. Dia duduk sejenak sambil menjawab pertanyaan ibunya. ”Kalau pelaksanaan tryout lancar. Alhamdulillah, rasanya sedikit bisa bernafas lega karena tryout selama empat hari ini cukup melelahkan. Hari ini (kemarin, Red) lancar. Seperti biasanya soalnya campur aduk,” ujar Tiara.

Dia merupakan putri bungsu dari dua bersaudara pasangan H Armunanto dan Tri Rahayu. Tiara baru-baru ini menorehkan prestasi internasional dan berhasil menyandang gelar Miss Inspiration.

Tiara bisa mengikuti ajang Little and Teen Glam International 2019 di Filpina ini, karena sebelumnya meraih penghargaan khusus sebagai best talent Duta Pelajar Indonesia 2018.

Ibunya sedikit bercerita sembari menunggu Tiara yang masuk untuk ganti pakaian. Waktu SD, Tiara anak pendiam dan lembut. Setelah masuk sanggar tari, mulai muncul rasa percaya dirinya.

”Dik Tiara inikan alus ya. Berbicara saja pelan. Sampai pernah saya ajak ke area persawahan samping Samsat Kudus, saya coba agar dia berteriak. Tapi, ternyata suaranya juga tidak lantang. Padahal pada waktu itu rencananya saya mau masukkan les musik dan vokal. Setelah tahu teriaknya pelan, saya urungkan niat itu,” terang Yayuk -panggilan akrab ibunya Tiara.

Kemudian, dia berpikir kembali supaya anaknya ini menunjukkan talenta lain di luar akademik. Tujuannya menggugah rasa percaya dirinya. Pada akhirnya, Yayuk memasukkan Tiara ke sanggar tari waktu masih kelas VII.

”Ya, awalnya juga malu-malu. Tapi, pada saat pentas kali pertama saya dan kakaknya, memberikan motivasi supaya Dik Tiara menampilkan yang terbaik. Saya juga tidak obsesi harus menang. Tapi, lebih kepada membuatnya percaya diri,” terangnya.

Setelah ibunya bercerita sekitar 10 menit, Tiara keluar dari dalam ruangan rumahnya dan bergabung bersama ibunya di ruang tamu. Tiara mulai menceritakan kisahnya saat di Filipina selama 10 hari. Dia mengatakan, bertolak dari Indonesia Sabtu (19/1) hingga Senin (28/1) lalu. Hari-hari selama lomba harus benar-benar jaga image. Tapi tetap jadi diri sendiri.

”Jadi, setiap gerak-gerik peserta menjadi penilaian. Sebab jurinya menyamar. Semua peserta tidak tahu, apakah itu juri atau bukan. Selama saya di Filipina ya bersikap biasa. Ngobrol sama peserta lain dari Myanmar sampai saya diberi permen rasa mangga yang di Indonesia itu tidak ada. Rasanya enak,” ungkapnya.

Tiara bercerita mulai hari keempat sampai pulang, ibu sama sekali tidak ada uang sepeserpun. Sebab, pada saat lomba di mal, ibu membeli segala macam oleh-oleh dan berpikir karena sudah membawa kartu debit. Kalau habis tinggal digesek.

”Digunakan di ATM di sana (Filipina, Red) ternyata tidak bisa. Jadi, makan ya seadanya yang disediakan di hotel. Kebanyakan masakannya daging babi. Yang halal cuma ada ayam dibalut tepung. Sampai saya makan hanya nasi saking bosan dan rasa ayamnya tidak enak,” jelasnya.

Yayuk menimpali cerita Tiara, pokoknya pengalaman yang tak terlupakan. Dia mengaku, membawa uang cash 2.000 peso. Kalau dirupiahkan hampir Rp 3 juta. Dia berpikir ada uang cadangan di kartu ATM-nya.

”Mungkin ini teguran dari Allah SWT, jangan menyepelakan atau menganggap mudah yang belum pernah dilakukan. Ini saya buktinya, kartu debit tidak bisa dipakai, entah karena apa saya juga tak tahu,” terangnya.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Tiara untuk mengikut rangkaian penilaian. Pada saat lomba ada sesi penilaian memakai kostum bertemakan nasional dan festival kostum.

”Saya membawa dua pakaian inti. Untuk kostum nasional saya mengangkat batik, karena mencirikan khas Indonesia. Untuk festival kostum saya menampilkan bentuk Menara Kudus dipadukan dengan daun tembakau,” jelas Tiara.

Tiara juga bercerita pengalaman lain. Yakni berjalan dari hall tempat lomba ke kabin hotel. Jalannya lumayan jauh. Sekitar 20 menit. Itu harus tetap menggunakan high heels yang tingginya sampai lima sentimeter.

Dia sambil menghela nafas, dan dalam hati berkata: ”Ternyata menjadi miss itu tidak mudah. Harus menjaga penampilan, tingkah lagu, keanggunan, tutur kata, dan lainnya.”

Dia mengaku, sampai pulang dia menuai permasalahan. Bersama dengan tim manajemen dari Jakarta tertinggal pesawat. Sebab, busnya mengantar orang-orang Afrika ke terminal penerbangan. ”Jarak menuju terminal penerbangan Indonesia cukup jauh. Akhirnya, kami ketinggalan pesawat,” ujarnya.

Tiara mengaku, membeli tiket saja tidak mampu karena uang sudah habis. Ibunya berusaha menelepon orang yang dikenalnya untuk meminjam uang beli tiket. Sesampainya di Bandara Sukarno-Hatta langsung pergi ke ATM. Ternyata lancar untuk pengambilan uangnya.

”Lika-liku mengikuti lomba di Filipina bisa menjadi pembelajaran yang sangat berharga,” akunya. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 22 Feb 2019 08:42:41 +0700
<![CDATA[Kenalkan Budaya dengan Candi, Koleksi Keris Zaman Mataram]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/21/120648/kenalkan-budaya-dengan-candi-koleksi-keris-zaman-mataram https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/21/kenalkan-budaya-dengan-candi-koleksi-keris-zaman-mataram_m_120648.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/21/kenalkan-budaya-dengan-candi-koleksi-keris-zaman-mataram_m_120648.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/21/120648/kenalkan-budaya-dengan-candi-koleksi-keris-zaman-mataram

Muhadi mendirikan Candi Joglo karena keresahan melihat budaya nusantara mulai luntur. Selain itu, masyarakat kurang mengetahui secara utuh sejarah di Grobogan.]]>

Muhadi mendirikan Candi Joglo karena keresahan melihat budaya nusantara mulai luntur. Selain itu, masyarakat kurang mengetahui secara utuh sejarah di Grobogan. Ia ingin mengenalkan kembali budaya dan sejarah itu dengan membangun candi.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Grobogan

TARIAN Dewi Shinta dengan gemulai melebur dalam irama gamelan ala nada Jawa. Lenggak-lenggok tubuhnya tampak seperti orang kebingungan. Mondar-mandir ke timur ke barat menguasai pelataran Candi Joglo, Krangganharjo, Toroh, Grobogan. Di atas gapura candi yang bercorak ala arsitektur Hindu itu, berdiri monyet merah. Clingak-clinguk seakan mencari seseorang.

Ya, ini merupakan sepenggal sendratari Ramayana yang dipentaskan di Candi Joglo milik Muhadi. Setelah pementasan itu, ia tampak memberikan evaluasi kepada anak-anak yang menari. Ia memang menggandeng anak-anak dan belajar menari di Candi joglo.

”Mereka (para penari, Red) ini dari pengelola Candi Joglo. Ada juga dari mahasiswa dan siswa-siswi sekolah-sekolah di Kabupaten Grobogan,” ujarnya.

Alasannya mendirikan candi ini, karena bentuk keprihatinan kepada budaya nusantara. Khususnya budaya Jawa yang mulai luntur. Selain itu, masyarakat kurang mengetahui secara utuh tentang sejarah Grobogan. Seperti sejarah kerajaan Mataram dan sejarah purbakala yang mengatakan wilayah Grobogan dulunya merupakan lautan.

Ia pun menggagas candi ini pada 2007. Pada 2010 mulai dibangun. Dan pada 2012 sudah berdiri. Candi ini mengusung tema Jawa-Bali. Desain gapura yang bercorak Hindu dipadukan rumah joglo. Tak lupa kain kotak-kotak hitam-putih khas Bali melilit di pohon-pohon di area candi.

”Candi Joglo tidak hanya sebuah penamaan, tapi merupakan apresiasi rumah adat. Khususnya joglo. Sudah saatnya kita membangkitkan kembali kesadaran berbudaya sebagai tonggak bangsa di masa yang akan datang,” kata pria kelahiran 25 Februari 1981 itu.

Memang, di area candi ini ada foto-foto Grobogan tempo dulu. Melihatnya, mampu membawa orang yang melihatnya kembali ke masa lalu. Seperti foto tugu Adipura dan Simpang Lima. Foto itu tampak sudah tua. Cetakannya pun masih hitam putih. Ada juga fosil-fosil dan gerabah rumah tangga tempo dulu.

Tak hanya itu, ia juga mengkoleksi berbagai barang-barang pusaka dari zaman kerajaan dahulu. Seperti keris dan tombak. Ia mengaku, ada lebih dari 50 benda pusaka yang tersimpan di galerinya. Beberapa sudah teridentifikasi asal muasalnya. Sebagian lainnya belum teridentifikasi. Ditengarai keris ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kediri, Singosari, Majapahit, dan Mataram.

”Kebanyakan ya dari Mataram. Karena Mataram sudah menguasai hampir 500 tahun. Pusaka-pusaka ini ditemukan di Grobogan,” katanya.

Penemuan ini ditemukan di daerah Mrapen dan sekitar Grobogan. Dalam sejarah, Grobogan mempunyai seorang empu sakti. Dari tangan sang empu itu, yang menggembleng keris di Kerajaan Mataram.

Pusaka-pusaka ini ditemukan oleh para seniman. Mereka bertugas menginventarisasi seluruh punden dan bekas peninggalan nenek moyang di setiap dusun dan kecamatan. Bekerja sama dengan pemangku adat setempat.

”Ada yang koleksi sendiri. Ada juga sebagian sumbangan dari masyarakat. Sebagai edukasi budaya di Candi Joglo,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 21 Feb 2019 08:01:30 +0700
<![CDATA[Sudah Ciptakan 18 Aplikasi dan Game Edukasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/20/120413/sudah-ciptakan-18-aplikasi-dan-game-edukasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/20/sudah-ciptakan-18-aplikasi-dan-game-edukasi_m_120413.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/20/sudah-ciptakan-18-aplikasi-dan-game-edukasi_m_120413.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/20/120413/sudah-ciptakan-18-aplikasi-dan-game-edukasi

Siswa SMAN 1 Jepara Ahmad Reihan Alavi bersaing dengan 200 pelajar di Indonesia pada ajang Edutech Coding Competition tingkat nasional 2019.]]>

Siswa SMAN 1 Jepara Ahmad Reihan Alavi bersaing dengan 200 pelajar di Indonesia pada ajang Edutech Coding Competition tingkat nasional 2019. Idenya membuat aplikasi game kampanye pendidikan karakter mengantarkannya menjadi juara I.

M. Khoirul Anwar, Jepara

MELALUI smartphone, Ahmad Reihan Alavi menunjukkan aplikasi buatannya. Aplikasi itu berupa game pendidikan karakter. Usai dibuka, muncul kotak dialog berisi berbagai menu. Game yang diberi nama Karaktera- Episode 1 ini, kemudian dimainkan olehnya.

Menu mulai main ia klik. Lalu muncul gambar seseorang yang berada di dalam ruangan. Terdapat saklar, remot, lampu, dan AC yang sedang menyala. Ada perintah dari game tersebut untuk menyikapi kondisi ruangan yang saat itu digambarkan tidak butuh penerangan dan pendingin ruangan. Lalu ia klik gambar saklar untuk mematikan lampu. Juga remot untuk mematikan AC.

Muncul juga ucapan terima kasih telah melakukan bagian dari karakter mandiri. Game itu mengharuskan pemain menyelesaikan analisa gambar selama 15 detik. Setelah selesai ada kotak berisi penerapan pendidikan karakter lain. Seperti merapikan seragam sebelum masuk kelas dan mengikuti ekstrakurikuler.

Game itu yang mengantarkannya menjadi juara I Edutech Coding Competition tingkat nasional pekan lalu. Ajang tersebut digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam game yang ia buat, terdapat lima level. Masing-masing level berupa indikator pendidikan karakter pada kurikulum. Lima level tersebut dinamakan mandiri, integritas,  religius, peduli lingkungan, dan peduli sosial.

”Saya rumuskan itu sebagai korelasi pemrograman dengan tema pendidikan karakter,” kata siswa kelas X MIPA ini.

Yang menjadi pembeda dengan ratusan peserta lain adalah ia satu-satunya peserta yang membuat aplikasi game. Sedangkan peserta lain membuat program web. Ide itu muncul setelah ia konsultasi sebelum pelaksanaan lomba kepada ayah dan ibunya. ”Kebetulan ayah dan ibu memang sering berkecimpung di pemrograman. Ayah di video editing. Ibu di web programmer,” katanya.

Untuk membuat rancangan proposal lomba, anak pertama dari dua bersaudara ini memilih waktu malam. Lebih dari pukul 08.00. Menurutnya, di malam hari ide dan inspirasi sering muncul. Semakin malam semakin sepi. Membuat Reihan nyaman melanjutkan pemrograman yang ia buat.

Sebelum menembus babak final, ia mengirimkan proposal yang telah diselesaikan. Lalu dari penyelenggara masuk 30 besar peserta yang proposalnya diterima. Kemudian mengikuti pre test online berupa soal tentang pemrograman.

Dimumkan pada Jumat (15/2) ia harus datang mengikuti rangkaian lomba selanjutnya di Jakarta. ”Di rumah sebelum pelaksanaan, saya mulai membuat gambar, font, dan stok grafis,” ujarnya.

Sesampainya di Jakarta, mulai pukul 09.00 sampai pukul 15.00, 30 peserta diberi kesempatan mengimplementasikan proposal melalui pemrograman masing-masing. Reihan selesai 10 menit sebelum waktu habis. ”Saya masuk enam terbaik untuk presentasi,” ujarnya.

Usai presentasi, pelajar berkacamata ini dinobatkan sebagai juara I. Penghargaan itu menjadi koleksi tambahan Reihan. Sebelumnya, dia menjuarai kompetisi pemrograman.

Ia juga pernah masuk sebagai finalis saat membuat game edukasi binatang herbivora anak usia di lomba Mobile Ki Hajar. Kemudian juara II membuat game pelajaran tata surya pada 2016.

Tidak hanya game, beberapa aplikasi juga pernah ia buat. Total ada 18 game dan aplikasi sudah ia buat. Baik untuk lomba maupun pesanan. Ia juga pernah diminta Unisnu Jepara membuat game bahasa Inggris ular tangga sebagai media pembelajaran.

Bahkan, mulai tahun pelajaran ini SMAN 1 Jepara menggunakan aplikasi buatannya. Aplikasi itu diberi nama Tugasku. ”Guru punya aplikasi itu untuk memantau tugas siswa tiap kelas. Guru bisa mempertimbangkan jenis tugas yang diberikan kepada siswa berdasarkan analisis aplikasi Tugasku. Bobot tugas disesuai dengan beban tugas siswa,” tutur buah hati pasangan M. Elfin Noor dan Avia Meilvi ini. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 20 Feb 2019 07:49:32 +0700
<![CDATA[Latihan di Kudus Terasa Ringan, Pindah Semarang Berat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/19/120194/latihan-di-kudus-terasa-ringan-pindah-semarang-berat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/19/latihan-di-kudus-terasa-ringan-pindah-semarang-berat_m_120194.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/19/latihan-di-kudus-terasa-ringan-pindah-semarang-berat_m_120194.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/19/120194/latihan-di-kudus-terasa-ringan-pindah-semarang-berat

Andy Lauw dapat dibilang ulet dalam menekuni basket. Sebab dirinya mengikuti latihan di dua kota. Yakni di Kudus dan Semarang. Prestasinya amat banyak.]]>

Andy Lauw dapat dibilang ulet dalam menekuni basket. Sebab dirinya mengikuti latihan di dua kota. Yakni di Kudus dan Semarang. Praktis lewat keuletan yang dilakoninya ini, prestasinya di bidang basket amatlah banyak dan bergengsi.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

BASKET bagi Andy Lauw sudah menjadi pilihan hidupnya. Hal ini dia buktikan lewat program latihan yang dia jalani di dua tempat. Yakni di Kudus dan Semarang. Porsi latihan yang dirasakannya pun berbeda. Menurutnya, program latihan yang dijalaninya di Kudus tidak begitu berat. Namun, saat mengikuti latihan di Semarang, dirinya harus bekerja lebih ekstra. Mengingat program latihannya lebih berat. Hal itu tetap dijalaninya agar bisa menjadi pemain basket potensial.

”Porsi latihan antara di Kudus dan Semarang berbeda. Kalau di Kudus seminggu dua kali. Tetapi di Semarang latihannya setiap hari. Kadang masih nambah latihan sendiri,” terangnya.

Porsi latihan yang dimaksud meliputi shooting, handling, lay-up, finishing, passing, dan masih banyak lagi. Meski begitu dirinya mengaku tidak pernah mengeluh. Sebab, dirinya memang sudah menyukai basket.

Pemuda asal Kudus ini mengakui kalau di Semarang program latihannya lebih tertata dan lebih maju. Selain itu, wawasan soal basket juga lebih banyak ia dapat saat berlatih di Semarang. ”Enakan latihan di Semarang. Banyak info soal basket,” tandasnya.

Andy yang saat ini bersekolah di SMA Kristen Terang Bangsa Semarang telah memiliki beberapa prestasi di bidang basket. Di antaranya juara I Kejurnas kategori usia 16 tahun di 2016, juara II Soegijapranoto Basketball League 2017, juara III Walikota cup 2017, juara I Porprov 2018, juara II Popwil 2018, dan juara II Soegijapranoto Basketball League 2018.

Meski begitu, Andy bukan tanpa kendala dalam meraih beragam prestasinya itu. Masa-masa sulit pernah ia rasakan. Mulai dari program latihan yang berbeda antara d Kudus dan Semarang, hingga berjuang untuk dapat masuk kedalam tim basket. ”Jatuh bangun juga pernah. Misalnya harus mengorbankan banyak waktu karena fokus berlatih basket,” terangnya.

Pemuda kelahiran 30 Juli 2001 ini mengakui, hampir tidak punya waktu untuk bersenang-senang bersama teman-temannya karena harus sering latihan. Prinsipnya dengan kerja keras dan kemauan yang kuat pasti akan membuahkan hasil yang terbaik. Faktanya, saat ini dirinya dapat mengikuti berbagai macam even nasional untuk membela klub Kota Kudus hingga membela Jawa Tengah.

Berlatih di dua kota, Andy tentu mengerti perbedaannya. Menurutnya, Semarang memang lebih maju soal basket jika dibandingkan dengan Kudus. Akan tetapi, dirinya juga beropini kalau Kudus sudah berkembang dibandingkan dengan tahun sebelumnya. ”Kondisi basket di Kudus sudah lebih baik dari tahun sebelumnya,” pungkasnya.

Andy yang juga bergabung bersama klub basket Elang Muria Kudus mengaku apa yang sudah dicapainya saat ini berkat dukungan dari orang tua. ”Saya ingin membanggakan kedua orang tua melalui potensi basket yang saya miliki,” harapnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 19 Feb 2019 08:10:07 +0700
<![CDATA[Ciptakan Ratusan Motif Batik Difabel, Karya Sudah Dipakai Presiden]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/18/119995/ciptakan-ratusan-motif-batik-difabel-karya-sudah-dipakai-presiden https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/18/ciptakan-ratusan-motif-batik-difabel-karya-sudah-dipakai-presiden_m_119995.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/18/ciptakan-ratusan-motif-batik-difabel-karya-sudah-dipakai-presiden_m_119995.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/18/119995/ciptakan-ratusan-motif-batik-difabel-karya-sudah-dipakai-presiden

Memiliki kekurangan, kakinya diamputasi, sempat membuat Abdul Ghofur syok. Namun bangkit untuk berkarya. Dia telah menciptakan lebih dari 500 motif batik.]]>

Memiliki kekurangan, kakinya diamputasi, sempat membuat Abdul Ghofur syok. Namun bangkit untuk berkarya agar berguna bagi sesama. Dia telah menciptakan lebih dari 500 motif batik. Termasuk motif difabel. Karyanya sudah dipakai berbagai pejabat, hingga Presiden Joko Widodo.

SUBEKAN, Blora

KEKURANGAN salah satu anggota tubuhnya, kaki, tidak membuat Abdul Ghofur berpangku tangan. Sebaliknya, berkat usaha kerasnya, ayah dua anak ini mampu menciptakan ratusan motif batik difabel dan batik lain.

”Beberapa di antaranya batik bermotif logo Asian Paragame, motif Asian Games, kursi roda, daun jati, akar jati, bunga teratai, bunga mustika, sayuran, dan lainnya,” terang laki-laki kelahiran Blora, 10 Oktober 1984 ini.

Motif batik yang ia ciptakan saat ini juga sudah dipakai para pejabat negara. Mulai dari pejabat Pemkab Blora, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Kementerian UMKM, KH Said Agil Siroj, dan Direktur Siman. Begitu juga dipakai oleh KH Ma’ruf Amin, komedian Cak Lontong, hingga Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Menurutnya, motif-motif batik itu diciptakan untuk menunjukan bahwa kaum difabel juga bisa berjuang dengan baik. Dia juga ingin memotivasi kaum difabel di seluruh Indonesia, agar bisa berkreasi dan berprestasi. Selain itu, dengan adanya motif batik difabel ini, dapat mengajak kaum difabel di seluruh Indonesia memiliki produk batik sendiri yang bisa dibanggakan.

”Ciri khas motif buatan saya adalah dikombinasikan dengan gambar orang difabel di atas kursi roda,” ucap suami Sutinah ini.

Dalam pembuatan motif ini, relatif singkat. Tergantung situasi dan kondisi. Ada yang satu hari, tiga hari, satu minggu, bahkan satu bulan. Tergantung suasana hati juga. Serta kerumitan materinya. ”Motif ini rata-rata bisa digunakan maksimal 100 batik. Kalau lebih biasanya (mal motifnya) sudah pada rusak. Maklum bahannya dari kertas,” imbuhnya.

Dia berharap, dengan motif batik yang ia ciptakan bisa menginspirasi difabel di seluruh Indonesia. Mampu menjadikan penyandang disabilitas untuk mandiri. Lebih percaya diri serta membantu orang lain.

Anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Suyatmi dan Suwono ini mengaku, motif-motif itu dibuat dengan hati. Selain itu, berdasarkan momen-momen yang ada. Terutama momen nasional. ”Tergantung musimnya. Lalu saya ambil kesempatan itu. Sekiranya bisa membawa nama difabel Blora ke tingat nasional. Ide muncul dengan sendirinya,” terangnya.

Membuat motif batik tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada kendala juga. Terutama yang motif kecil-kecil. Contoh motif untuk seragam sekolah. Kalau dibuat dengan batik difabel terlalu kecil. Sehinga memakan waktu lama.

Dia mengaku, motif ciptaannya itu, yang kecil harganya mencapai Rp 750 ribu. Sedangkan yang besar bisa mencapai Rp 2 juta. Sekarang sudah ada 500 motif yang sudah diciptakan.

Dengan batik ini, dia bisa memberdayakan difabel lain. Yang awalnya tidak bisa kerja, jadi bisa berkarya. Tidak punya pendapatan bisa dapat penghasilan.

Menurutnya, selama ini difabel dicap sebagai beban keluarga. Jadi benalu. ”Untuk itu, kami hadir untuk merubah mindset tersebut. Caranya dengan berusaha mandiri. Berdedikari dan jadi inspirasi,” tegas alumnus Yasua Kebon Agung Demak ini.

Kepada Jawa Pos Radar Kudus, Ghofur bercerita, semenjak kedua kakinya terbakar akibat arus listrik 2006 silam, dia harus 1,5 tahun di atas ranjang. Berdoa, memperbanyak zikir, salat, puasa, dan berserah diri kepada Allah SWT. Dia juga harus keluar dari sekolah tempatnya mengajar.

”Sempat frustasi. Di atas ranjang 1,5 tahun. Masa perawatan. Terakhir saya berpikir, kalau begini terus sama saja jadi bangkai hidup. Kalau begitu untuk apa. Saya harus bisa kerja dan berjuang serta menolong sesama. Saya cari informasi. Kalau ada yang seperti saya tak parani. Saya ajak kekancan,” imbuhnya.

Menurutnya, berkat  berserah diri, nyedak kepengeran, zikir dan salat, banyak hidayah dari Allah. Allah membukakan jalan untuknya. Membuka pintu hatinya. Tetap optimistis. Semangat dan terus berjuang. ”Buktinya bisa seperti saat ini,” jelanya.

Saat ini, selain membatik dia juga membuat gerakan koin dan koperasi mandiri. Kesehariannya menjaga toko untuk menampung produk difabel. ”Kami juga sedang mengawal Perda dan Perbub Difabel,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 18 Feb 2019 09:53:51 +0700
<![CDATA[Dirikan Koperasi, Dapat Pesanan untuk Asian Games]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/16/119653/dirikan-koperasi-dapat-pesanan-untuk-asian-games https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/16/dirikan-koperasi-dapat-pesanan-untuk-asian-games_m_119653.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/16/dirikan-koperasi-dapat-pesanan-untuk-asian-games_m_119653.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/16/119653/dirikan-koperasi-dapat-pesanan-untuk-asian-games

Husuf Efendi berhasil membawa produk tas lokalnya bersaing di kelas dunia. Pada 2018 dia mendirikan Koperasi Kurma khusus pengusaha tas.]]>

Husuf Efendi berhasil membawa produk tas lokalnya bersaing di kelas dunia. Pada 2018 dia mendirikan Koperasi Kurma khusus pengusaha tas. Dari koperasi ini dia mendapatkan order dua ribu pesanan tas untuk kegiatan Asian Games.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

PERJUANGAN menuju sukses itu membutuhkan pengorbanan. Konsistensi dalam menjalankan sesuatu merupakan kunci utama. Husuf Efendi sudah meraskan manis pahit kehidupan dalam menekuni bidang usaha produksi tas. 21 tahun lamanya ia berkecimpung di lingkaran bisnis ini.

Tak semudah membalikkan telapak tangan. Husuf melakoni bisnis ini sejak ia berumur 20 tahun. Jiwa mudanya pada saat itu membuatnya harus banting tulang mengerjakan tas sendirian. Karena tak mendukungnya modal usaha.

“Saya lakoni sendiri pada waktu itu. Karena saya prihatin dengan keadaan saat itu,” ungkapnya. Beban menjadi anak pertama yang melandasi kegigihan Husuf pada saat itu.

Selang waktu enam tahun berjalan usaha Husuf mulai berkembang. Pada 2004 sudah memiliki dua cabang toko di Wonosobo. Pria kelahiran Kudus, 9 Desember 1978 tokonya pada saat itu menjadi grosir terbesar.

Ujian dari Tuhan menghampiri pria yang berumur 40 tahun ini. Di 2005 dua tokonya ludes dilalap oleh si jago merah. Ia mengalami kerugian Rp 500 juta. Barang tas produksinya serta barang titipan di tokonya menjadi abu.

“Tak ada yang diharapkan lagi ketika itu. saya hampir satu tahun vakum dan tak berani keluar rumah,” ungkpanya sambil matanya berkaca-kaca.

Dukungan orangtua merupakan kunci bangkitnya Husuf ketika itu. Ia menceritakan kunci kesukseksan mendengarkan kata orangtua. Ketika itu pada 2007 ia mendapat wejangan dari orang tuanya agar melangsungkan pernikahan. Setelah itu Husuf mempunyai prinsip bahwa usaha tak ada gagal jika mau bangkit.

Dengan modal Rp 700 ribu ia bangkit dari keterpurukannya. Ia merasa eman ketika harus berhenti di tengah jalan dan tak meneruskannya usahanya itu. Karena dia sudah memiliki pelanggan. Pasca bangkitnya Husuf tak langsung memperoduksi tas kulit. Minimnya modal membuatnya memproduksi tas suvenir yang disetorkannya di daerah sekitar rumahnya.

Kemudian satu tahun berselang Husuf diguyur nikmat dari Tuhan. Ketika itu pada 2008 ia menceritakan, ada sebuah perbankan meminjamkan modal kepadanya untuk mengembangkan usaha tas miliknya. Dia membuka usahanya pada waktu itu di Desa Durenan. Lalu sekarang tokonya berkembang di RT 4/5, Desa Loram Wetan, Jati, Kudus.

Tak dipungkiri tepat di 2018 akhir ia sudah memiliki 45 karyawan. Serta menghasilkan omzet perbulan sebesar Rp 200 juta. Konsep perusahaan Husuf sudah mengadopsi sistem pabrik sekarang. Pekerja diberi jaminan kesejahteraan dan jaminan kesehatan.

Usaha yang diberi nama Ernando Sport ini peminatnya sudah menjangkau pasar di luar Kudus. Pemasarannya sudah mencapai hingga Banjarmasin, Pontianak, Solo, Aceh, Manukwari, serta Makassar.

Produknya juga sudah laris manis diluar negeri. Pada 2016 ia mewakili Jawa Tengah untuk menghadiri pameran UMKM di Brunai Darussalam. Pada saat itu dia membawa 90 dompet diperjualkan disana. Tak tanggung-tanggung dompetnya habis dalam waktu sehari.

”Pameran diadakan selama empat hari. Dompet langsung habis seketika. Saat itu Perdana Menteri Pakistan juga membeli dagangan saya,” ungkapnya.

Sekarang ini Husuf juga membuka Koperasi Kurma. Yang dimana koperasi tersebut diperuntukkan untuk pengusaha yang memproduksi tas. Dia mengungkapkan pada 2018 Koperasi Kurma mendapatkan dua ribu pesanan tas untuk kegiatan Asian Games. “Ini merupakan prestasi yang sangat luar biasa karena produk Kudus mampu menembus pasar Nasional bahkan Internasional,” tandasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 16 Feb 2019 08:20:55 +0700
<![CDATA[Garap Sembilan Item Model Baju Selama Satu Bulan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/15/119492/garap-sembilan-item-model-baju-selama-satu-bulan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/15/garap-sembilan-item-model-baju-selama-satu-bulan_m_119492.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/15/garap-sembilan-item-model-baju-selama-satu-bulan_m_119492.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/15/119492/garap-sembilan-item-model-baju-selama-satu-bulan

Tiga siswa SMK NU Banat, Farah Aurellia Majid, Fitria Noor Aisyah, dan Annida Aulia Rahmalila baru saja dari Bali. Mereka lomba Sakura Collection Student Award.]]>

Tiga siswa SMK NU Banat, Farah Aurellia Majid, Fitria Noor Aisyah, dan Annida Aulia Rahmalila baru saja kembali dari Bali. Mereka lomba Sakura Collection Student Award 2019 di Bali. Hasilnya, karya mereka berhasil meraih juara II.

 INDAH SUSANTI, Kudus

 DUDUK bertiga berjajar di depan meja praktik laboratorium desain SMK NU Banat, mereka berbagi cerita pengalaman. Mereka Farah Aurellia Majid, Fitria Noor Aisyah, dan Annida Aulia Rahmalila.

Ketiga siswa tersebut, pekan lalu baru saja pulang dari Bali. Mengikuti ajang bergengsi, Sakura Collection Student Award 2019.

Semua siswa tersebut kelas XII dan saat ini sedang fokus menghadapi ujian nasional (unas). Satu per satu mereka menjelaskan hasil desain pakaian yang berhasil membawanya menjadi juara II.

Farah Aurellia Majid memperkanalkan tema yang diangkat dalam desainnya, yakni Shirasagi No Mai Sapporo. Telunjukkan sambil menunjukkan gambar burung bangau dan dijelaskan bahwa gambar ini dilukisnya sendiri.

”Saya mendapat ide dari referensi di internet tentang tarian bangau. Sehingga detail baju yang saya buat lebih menonjolkan burung bangau. Pewarnaannya menggunakan cat akrilik. Ini saya buat dalam waktu satu bulan dibantu teman-teman. Bahkan, saya bawa pulang dan tetangga ikut membantu,” terangnya.

Farah mengatakan, sebenarnya yang mengikuti lomba ini, per orang mengirimkan tiga desain. Tapi, yang terpilih desainnya yang bermotif burung bangau tersebut. Selesai bercerita, Farah kembali duduk dan berganti Fitria Noor Aisyah memaparkan desainnya yang diberi nama Yoru Wa Fujisan, yakni lebih menonjolkan cerita Gunung Fuji.

Fitria menuturkan, hanya main pada motif Gunung Fuji. Tapi untuk desain keseluruhan mengadop Japanis Style ala-ala anak muda. Ia mengaku, sama seperti Farah menyelesaikan desain cuma satu bulan.

”Alhammdulillah, saya mampu mendesain dan bersama kawan-kawan saya meraih juara II. Menyisihkan 243 peserta dengan 729 desain baju,” ungkapnya.

Dia juga menceritakan, dari SMK NU Banat yang mengikuti seleksi Sakura Collection Student 2019 ada 35 siswa. Masing-masing peserta harus membuat tiga desain dengan tema yang sama. Tapi yang lolos hanya tiga siswa.

Mereka di Bali pada Sabtu (2/2) sampai Minggu (3/2). Persiapannya di awal Januari, setelah Fitria dan Farah pulang dari Paris awal Desember 2018 untuk launching brand Zelmira SMK NU Banat bertemakan Troso Nimbrung.

Ya, pada 27 November hingga 5 Desember 2018 lalu Fitria dan Farah mengikuti even La Mode Sur La Seine A Paris, Prancis. Mereka bersama dengan siswi SMK PGRI 1 Kudus.

Setelah Fitria selesai menjelaskan, giliran Anninda yang maju untuk menerangkan desain yang dibuatnya. Dia mengambil tema Nippon Kaigun ala-ala baju militer Jepang yang dimodif kekinian.

”Saya lebih suka model kekinian untuk kalangan remaja. Saya baru ikut lomba kali pertama ini di Bali. Tapi, saya bangga karena desain saya mendapat masukan-masukan dari dewan juri yang berpengalaman. Ada pengalaman baru dan ilmu makin bertambah,” tandasnya.

Ketiga siswa tersebut, memiliki keinginan yang sama. Setelah lulus nanti bisa mendapatkan beasiswa sekolah fashion. Mereka termotivasi kakak kelasnya. Untuk Annida ingin mendesain baju-baju pengantin untuk ibunya kelak. Ibunya memang berprofesi menjadi perias pengantin.

Fitria menambahkan, even tahunan Sakura Collection Student diselenggarakan untuk mengembangkan talenta muda dalam merancang busana bertema Jepang. Kompetisi ini, juga bertujuan mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Jepang dalam bidang pendidikan dan budaya.

”Kami bersyukur siswa SMK NU Banat Kudus bisa tersaring sampai final. Begitu ketatnya persaingan dengan SMK seluruh Indonesia. Dewan juri kagum dengan hasil karya siswa SMK yang tak kalah menarik dengan desainer yang sudah berpengalaman,” imbuhnya.

Total sembilan koleksi yang dibuat ketiga siswa tersebut. Mereka mempersiapkan dari mulai mendesain, membuat pola, dan finishing memakan waktu sebulan. Koleksi baju sebagian besar didominasi warna merah yang melambangkan bendera negara Jepang. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 15 Feb 2019 08:26:10 +0700
<![CDATA[Ciptakan Belasan Tari Baru, Pengajar Tak Digaji]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/13/119140/ciptakan-belasan-tari-baru-pengajar-tak-digaji https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/13/ciptakan-belasan-tari-baru-pengajar-tak-digaji_m_119140.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/13/ciptakan-belasan-tari-baru-pengajar-tak-digaji_m_119140.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/13/119140/ciptakan-belasan-tari-baru-pengajar-tak-digaji

Rina Anggaraningrum menjadi salah satu sosok penting di balik eksisnya sanggar Asri Anna Budaya Sendangasri. Saat ini, sanggar ini punya 70 siswa aktif.]]>

Rina Anggaraningrum menjadi salah satu sosok penting di balik eksisnya sanggar Asri Anna Budaya Sendangasri. Saat ini, sanggar ini punya 70 siswa aktif mulai dari anak-anak TK, SD, SMP, SMA, hingga orang tua.

SAIFUL ANWAR, Rembang

BEGITU terdengar alunan musik dari pengeras suara, puluhan bocah itu pun berlenggak-lenggok. Dari kepala, lengan hingga tangan, pinggul, serta kaki bergerak padu mengikuti alunan lagu. Raut wajah para bocah itu, tampak serius menyelami tarian yang sedang diperagakan.

Sesekali gerakan salah satu di antara bocah itu tak sesuai. Sang pengajar yang berada di sela-sela penari bergegas membetulkan. Meski di depan ada pengajar yang memberi contoh, tapi untuk detail-detail tertentu butuh peran pengajar lain yang membimbing gerakan-gerakan.

Salah satu pengajar itu, Rina Anggaraningrum, guru yang juga pelaksana tugas (Plt) Kepala SMK Cendekia Lasem. Dia turut merintis sanggar yang sempat hampir vakum sejak setahun lalu itu. Kini, sanggar yang berada di Desa Sendang Asri, Kecamatan Lasem, Rembang, itu memiliki sekitar 70 siswa aktif. Mulai anak-anak TK, SD, SMP, SMA, bahkan para orangtua murid itu sendiri.

Keikutsertaan ibu dua anak itu, untuk turut menjadi pengajar tak lepas dari kepeduliannya terhadap perkembangan seni. Memiliki keluarga dengan latar belakang kesenian, membuat jiwa keseniannya selalu tumbuh.

Sebenarnya Rina memiliki sanggar sendiri yang diberi nama Kinanti. Namun, dia memilih ikut merintis Asri Anna Budaya setelah diajak tokoh sepuh setempat pendiri sanggar itu. Hanya, bila mendapat job dari luar atas nama Kinanti, dia tetap memakai tenaga siswanya yang telah dididik di Kinanti.

”Awalnya memang punya sendiri, Kinanti namanya. Karena diajak Pak Parlan (pendiri Sanggar Asri Anna Budaya) saya ikut. Tapi, misalnya dapat job sendiri ya nggak apa-apa,” tutur guru kelahiran Rembang, 17 Juni 1990 itu.

Dua tahun sanggar Asri Anna Budaya eksis, berbagai kegiatan pun telah memakai jasa sanggar ini. Selain even di Semarang pada 2017, penari dari sanggar ini juga tampil di pembukaan ekspo Rembang yang digelar tahun lalu. Sejumlah agenda lain juga sempat diikuti.

Selama sekitar dua tahun berkiprah, ada belasan tari baru yang berhasil diciptakan. Di antaranya ada tari kesemsem dumbeg, tari batik, tari tiga negeri, juga tari gemati asri. Tari-tari tersebut merupakan jenis tari di kategori tari garap baru.

”Ada tiga kategori yang kami ajarkan. Tari tradisional klasik yang sudah pakem, seperti tari gambyong dan tari bondan. Lalu ada tari kreasi, yaitu dari yang sudah ada diberi modifikasi. Satu lagi, tari garap baru yang seluruhnya baru,” terang guru bahasa Inggris dan Seni Budaya itu.

Selain bersama Parlan, yang merupakan perintis awal sanggar Asri, Rina juga didampingi pengajar lain, Nana (guru SMP), Rohmat (guru SD), dan dua pengajar lain. Jadi, ada pengajar dari berbagai tingkatan pendidikan di sanggar itu.

Setiap siswa yang belajar di sanggar ditarik iuran Rp 2 ribu per pertemuan. Namun itu khusus siswa yang juga warga Desa Sendang Asri. Sedangkan, bagi siswa dari luar desa, iurannya Rp 35 ribu per bulan. Dalam satu pekan, ada dua kali pertemuan, Jumat dan Minggu. ”Tapi kadang kalau ada materi tambahan, pertemuannya ditambah Sabtu,” tutur Rina.

Pendanaan tersebut, berguna agar sanggar tetap eksis. Selain dari iuran siswa, sanggar juga mendapat anggaran dari dana desa. Selain itu, sumber dana juga berasal dari sumbangan wali murid. Kendati, para pengajar memang tidak mendapat gaji sama sekali.

”Ya paling makan bersama. Kalau gaji enggak lah. Yang penting bisa mempertahankan Desa Sendang Asri sebagai desa seni. Kalau nggak ada yang meneruskan, nanti seninya hilang,” cetusnya.

Meski dalam dua bulan terakhir dia juga bertindak sebagai kepala sekolah menyusul pensiunnya kepala sekolah sebelumnya, namun Rina mengaku tak masalah dengan waktu. Itu karena selain latihan hanya digelar di akhir pekan, juga ada pengajar lain yang menggantikan bila dia berhalangan hadir. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 13 Feb 2019 08:38:52 +0700
<![CDATA[Ingin Bahagiakan Anak ke CFD dan Jalan-Jalan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/12/118939/ingin-bahagiakan-anak-ke-cfd-dan-jalan-jalan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/12/ingin-bahagiakan-anak-ke-cfd-dan-jalan-jalan_m_118939.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/12/ingin-bahagiakan-anak-ke-cfd-dan-jalan-jalan_m_118939.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/12/118939/ingin-bahagiakan-anak-ke-cfd-dan-jalan-jalan

Memiliki berat badan sekitar 200 kilogram membuat Rina Dwi Budiati kesulitan beraktivitas. Apalagi dia juga menderita penyakit selulitis.]]>

Memiliki berat badan sekitar 200 kilogram membuat Rina Dwi Budiati kesulitan beraktivitas. Apalagi dia juga menderita penyakit selulitis. Berjualan martabak mini menjadi kesehariannya yang bisa menghibur. Dia ingin kembali normal agar bisa membahagiakan anaknya.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Grobogan

RINA Dwi Budiati tampak sibuk membolak-balikkan martabak mini dagangannya. Kesehariannya memang berjualan di madrasah Desa Karangharjo, Toroh, Grobogan. Ia tampak kelelahan, meskipun sekadar membolak-balikkan martabak berdiameter sekitar tiga sentimeter itu. Keringatnya mulai bercucuran di dahinya.

”Ya seperti ini keseharian saya,” kata perempuan kelahiran 4 November 1986 ini. Nada bicaranya seperti orang habis kecapaian berlari.

Sepertinya hal itu wajar. Melihat berat badannya yang sekitar 200 kilogram atau dua kuintal. Ia mengaku gerak tubuhnya terbatas. Hal itu terlihat ketika botol minyak goreng  jatuh tepat di bawah kakinya. Ia mendiamkan. Sepertinya kesulitan membungkukkan badannya.

Selain itu, ia juga mengidap penyakit selulitis. Rina mengeluh sering demam, gatal, dan panas di kulit. Hal ini membuat kulitnya melepuh seperti terbakar. Memang, ketika ia menunjukkan bekas luka di kaki kiri seperti habis tersudut knalpot motor. Hitam dan tampak gosong.

”Saya sudah mengonsumsi antibiotik selama tiga tahun tanpa berhenti. Saya takut jika kumat sak wayah-wayah (sewaktu-waktu). Ada luka kecil saja sulit sembuhnya,” katanya.

Kondisi seperti ini, membuatnya hampir putus asa. Bagaimana tidak, berat badanya makin hari makin meningkat. Awalnya ia sama seperti perempuan normal. Berat badannya sekitar 65 kilogram. Tingi badan sekitar 165 sentimeter. Cukup ideal. Tetapi berat badannya mulai meningkat ketika sedang mengandung Rafa Caesar, anak semata wayangnya 10 tahun lalu.

”Saat mengandung itu, saya memang suka ngemil dan makan. Akibatnya anak (Rafa Caesar, Red) dan ibu (dia sendiri, Red) menjadi obesitas. Anak saya empat kilo di dalam rahim. Saya 100 kilo lebih saat mengandung itu,” kenangnya.

Dengan kondisi itu, membuatnya harus dioperasi. Baru berselang satu bulan dari operasi itu, ia terkena infeksi di indung telur. Ia pun menjalani operasi pemotongan indung telur. Akibatnya, sekarang ia sudah tidak bisa punya anak.

”Saya sedih, ingin menyenangkan anak sudah tidak bisa. Saya juga ingin setiap Minggu ke CFD (car free day) dan jalan-jalan. Tapi minder. Pengen jalan saja sulit. Beruntungnya saya punya suami yang bisa menerima keadaan saya,” jelasnya seperti ingin menangis.

Saat berjualan martabak mini sambil berbincang dengan Jawa Pos Radar Kudus, sesekali anaknya menghampiri. Terkadang anaknya itu bersandar di pundaknya. Rina pun mengelus rambut anak semata wayangnya itu. Sayup-sayup terdengar suara menyenandungkan lagu untuk buah hatinya.

Dengan berjualan, bisa sedikit menghibur dirinya. Meskipun hasilnya tak seberapa, yang penting hatinya bahagia. Selain berjualan di madrasah, ia juga sering berjualan di Candi Joglo. Orang-orang sekitarnya sudah menganggap dia sebagai keluarga sendiri. Hal itu yang mungkin bisa menjadikan motivasinya.

Rina berharap, penyakitnya bisa segera diatasi. ”Ya ingin di operasi. Saya tidak tahu kenapa. Sepertinya di pencernaan saya ini mungkin ada semacam gangguan,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 12 Feb 2019 08:31:23 +0700
<![CDATA[Tak Gunakan Pakem Pewayangan, Dalang Libatkan Penonton]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/11/118817/tak-gunakan-pakem-pewayangan-dalang-libatkan-penonton https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/11/tak-gunakan-pakem-pewayangan-dalang-libatkan-penonton_m_118817.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/11/tak-gunakan-pakem-pewayangan-dalang-libatkan-penonton_m_118817.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/11/118817/tak-gunakan-pakem-pewayangan-dalang-libatkan-penonton

Djaswadi mementaskan wayang berbahan janur. Dia menggoyangkan wayang-wayang itu. Dia ingin pementasan ini membawa tutur untuk kehidupan anak-anak sekarang.]]>

Djaswadi mementaskan wayang berbahan janur. Dia menggoyangkan wayang-wayang itu. Dia ingin pementasan ini membawa tutur untuk kehidupan anak-anak sekarang.

ACHMAD ULIL ALBAB, Pati

CAHAYA temaram menggelayut di pelataran gedung markas Forum Komunikasi Putra Putri Purnawiran dan Putra Putri TNI-Polri ( FKPPI) di Jalan Panglima Sudirman Senin (4/2) malam pekan lalu. Tikar yang digelar panitia satu per satu dipenuhi penonton. Mereka dari anak-anak kecil dan remaja. Bangunan berarsitektur kolonial tersebut tampak ramai.

Sebuah tampah besar diletakkan di tengah jalan. Bertumpu pada sebuah kursi berbahan plastik. Di atas tampah tersebut berjejal jajanan. Jagung rebus yang dipotong kecil-kecil. Kacang rebus, pisang rebus, hingga gorengan. Malam itu hujan rintik-rintik baru saja turun. Hawa dingin tak menyurutkan penonton untuk antusias mengikuti acara. 

Pentas wayang digelar sebagai pemungkas pameran seni rupa bertajuk Hompimpah. Wayang yang dipentaskan tak biasa. Tak ada pakem pewayangan seperti umumnya. Pengiringnya juga bukan seperangkat gamelan lengkap.

Hanya ada alunan rebab yang meliak-liuk, beriring dengan petikan gitar dan pukulan cajon. Lumayan rancak. Enak didengar. Sederhana. Dibanding sebuah pentas wayangan, lebih mirip pentas teater modern. Jangan ditanya ada sindennya. Hanya saja, media yang dipakai adalah wayang benar-benar wayang. Ada punokawan, ada juga tokoh butho (Raksasa dalam cerita pewayangan, Red).

Ada wayang kulit seperti biasa umumnya. Ada wayang berbahan janur dan batok. Mengingatkan mainan-mainan bocah-bocah tempo dulu. Salah satu yang membikin unik pentas wayang tersebut. Lakon yang dibawakan adalah Ajisaka. Seperti dalam kisah-kisah yang telah berulang dikisahkan.

Ada dua orang yang satu menjaga pusaka Ajisaka. Satunya lagi disuruh mengambil. Terjadi perselisihan. Adu kanugaran. Matilah kedua-duanya, karena saking sama kuat kanuragan yang dimiliki. Dan muncullah aksara Jawa Hanacaraka dari peristiwa tersebut.

Namun bukan pokok cerita tersebut yang hendak disampaikan ke penonton. Pentas wayang dengan dalang Djaswadi tersebut lebih banyak bertutur secara langsung kepada para penonton. Melainkan tentang pitutur-pitutur dalam kehidupan.

Dwi Santana, salah seorang perupa sekaligus panitia kegiatan menyebutkan, wayang tutur itu menjadi semacam dongengan kepada anak-anak terutama. Apalagi sekarang ini, dongeng sudah banyak dilupakan.

”Intinya memasukkan nilai-nilai kehidupan dari penuturan wayang. Misalnya soal kedisiplinan, watak jujur, dan semacamnya,” kata perupa asal Winong ini.

Djaswadi, yang akrab disapa Mbah Djas ini juga tampil menarik. Dalam mementaskan wayang-wayangnya terselip interaksi dengan penonton sambil melemparkan guyonan-guyonan. Praktis tak ada penonton mengantuk. Seperti saat bertutur tentang moral. ”Ya seperti kemarin itu, ada apem laku Rp 80 juta,” ceplos Mbah Djas, lantas disambut tawa riang dari penonton yang menyaksikan pentas wayang tutur tersebut. Suasana menjadi tambah riang. Penonton senang. (*)  

]]>
Ali Mustofa Mon, 11 Feb 2019 15:38:43 +0700
<![CDATA[Langganan Juara Kelas, Kejar Publikasi Jurnal Internasional]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/11/118743/langganan-juara-kelas-kejar-publikasi-jurnal-internasional https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/11/langganan-juara-kelas-kejar-publikasi-jurnal-internasional_m_118743.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/11/langganan-juara-kelas-kejar-publikasi-jurnal-internasional_m_118743.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/11/118743/langganan-juara-kelas-kejar-publikasi-jurnal-internasional

Prestasi perempuan muda asal Kudus Ulfatun Ni’mah tak perlu diragukan. Sejak SMA, ia sering menjadi juara kelas. Kini di bangku kuliah, IPK pun tak mengecewakan]]>

Prestasi perempuan muda asal Kudus Ulfatun Ni’mah tak perlu diragukan. Sejak SMA, ia sering menjadi juara kelas. Kini di bangku kuliah, IPK pun tak pernah mengecewakan. Bahkan terakhir dia bisa menyabet Juara III Thailand Inventors Day 2019. Kini dia terus tekun belajar untuk mengejar agar bisa mempublikasikan jurnal internasional.

DIYAH AYU FITRIYANI, Kudus

PEMBAWAAN Ulfatun Ni’mah sederhana. Namun siapa sangka kesederhanaan penampilannya berbanding terbalik dengan kecerdasan yang dimilikinya. Dengan ramah ia mulai menceritakan bagaimana akhirnya ia dan rekan satu timnya dinobatkan sebagai juara III pada ajang Thailand Inventors Day 2019. Even ini diselenggarakan oleh National Research and Council of Thailand (NRCT) serta bekerjasama dengan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA).

Ulfa, panggilan sehari-harinya, mengaku sebenarnya ajang itu tidak asing di telinganya. Bahan sejak awal masuk kuliah anak pasangan Subarkah (Alm) dan Kasmiyati itu sudah naksir dengan even itu. Namun, kesempatan untuk mengikutinya belum pernah ia dapatkan. Hingga akhirnya pada semester 8 ini ia beru bisa merealisasikannya.

”Alhamdulillah diberi kesempatan ikut dan menang,” kata mahasiswa S-1 Fisika Universitas Diponegoro itu.

Semangat Ulfa selalu bertambah ketika melihat kakak angkatannya mengikuti even semacam ini. Namun saat itu gadis yang berasal dari RT 3/ RW10 Dukuh Jelak, Desa Kesambi, Mejobo, Kudus itu memang belum memiliki banyak waktu luang. Selain kuliah, ia juga terbilang cukup aktif berorganisasi di kampus. Selain itu, ia juga mengambil kerja part time sebagai guru les.

”Jadi, semester kemarin saya rasa waktu yang tepat. Karena hanya untuk KKN, kerja praktik dan skripsi. Jadi saya serius konsentrasi untuk ini,” tutur gadis kelahiran Kudus, 10 Desember 1996 itu.

Kecerdasan Ulfa memang sudah terlihat sejak duduk di bangku SMA. Sejak di MAN 1 Kudus ia sering masuk paralel. Sejak menjadi mahasiswa, terhitung sudah 4 kali menerima hibah penelitian universitas dari tahun 2016, ”Saya kuliah dari uang beasiswa Bidikmisi dan ngajar privat,” ungkapnya.

Dalam Thailand Inventors Day 2019 atau IPITEX 2019 inovasi yang ditawarkan berupa pengoptimalisasian turbin angin savonius dengan penggunaan octagonal tube converter (OTC) yang dapat dimanfaatkan pada daerah yang memiliki kecepatan angin rendah.

Untuk cara kerja alatnya sendiri hampir sama dengan turbin angin lainnya. Bedanya ditambah dengan OTC, di mana nantinya angin yang masuk dari sisi manapun, akan diserahkan ketika menumbuk bladenya. Sehingga keluaran dayanya akan bertambah besar. Untuk manfaatnya sendiri bisa untuk pembangkit listrik tenaga angin di daerah yang memiliki kecepatan rendah.

”Untuk pendaftaran sendiri itu awalnya pribadi dari kelompok PKM. Jadi bukan secara nyata didelegasikan pihak universitas. Pendaftaran awal, kami submit abstrak dan persyaratan lainnya. Untuk selanjutnya dari pihak INNOPA sebagai pihak penyeleksi awal menyatakan kelompok kami lolos mewakili ke Thailand,” jelas mahasiswa ber IPK 3.53 itu.

Timnya tersebut terdiri dari lima orang. Selain dirinya ada juga Nurul Halwiyah  yang berasal dari Rembang, mahasiswa Biologi 2015, Diah Ayu Suci Kinasih dari Bojonegoro, mahasiswa  Fisika 2015, Tenny Ruth Simamora dari Medan, mahasiswa Geologi 2015, dan Firza Rizki Apriliani dari Kendal, mahasiswa statistika 2017.

”Jadi kami bukan satu jurusan,” imbuh anggota IPPNU Ranting Kesambi itu.

Meskipun awalnya produk dari PKM nya dengan kakak kelas. Namun ia mengaku telah melakukan modifikasi, sehingga bisa diikutkan acara ini. Sebab, produk PKM dulu dirasa kurang optimal karena jumlah blade dan design OTCnya yang kurang. Sehingga ini diperbaiki lebih lanjut.

”Saya rasa energi itu hal terpenting,” ucap gadis yang bercita-cita sebagai dosen itu.

Saat ini, ia mengaku sedang sibuk dengan agenda tugas akhirnya di Surabaya. Usai pekerjaan ini, ia berencana ingin mencoba juga untuk publikasi jurnal internasional. Ia akan tetap mengembangkan penelitian dan selalu ingin menulis. Khususnya karya tulis ilmiah.

”Saya selalu menyemangati diri saya sendiri meskipun ekonomi keluarga bisa dibilang  tingkat menengah ke bawah, tetap harus yakin kalau kita bisa. Asal mau bersungguh-sungguh dan mau memanfaatkan peluang yang ada,” pungkas penyuka bakso itu. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 11 Feb 2019 09:13:02 +0700
<![CDATA[Dilirik Pelatih Tim Nasional Berkat Video Bermain Sepak Bola]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/09/118517/dilirik-pelatih-tim-nasional-berkat-video-bermain-sepak-bola https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/09/dilirik-pelatih-tim-nasional-berkat-video-bermain-sepak-bola_m_118517.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/09/dilirik-pelatih-tim-nasional-berkat-video-bermain-sepak-bola_m_118517.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/09/118517/dilirik-pelatih-tim-nasional-berkat-video-bermain-sepak-bola

Bukan sembarang orang bisa mengenakan kostum sepak bola dengan logo garuda di dada. Selangkah lagi, Shaummy Ariendra Isnandar mewujudkan mimpinya.]]>

Bukan sembarang orang bisa mengenakan kostum sepak bola dengan logo garuda di dada. Selangkah lagi, Shaummy Ariendra Isnandar mewujudkan mimpinya. Membela negara. Dengan bergabung jadi penggawa Timnas Indonesia.

 VEGA MA’ARIJIL ULA, Jepara

 DENGAN gesit, Shaummy mengolah si kulit bundar. Di hadapan 29 pemain lainnya. Yang juga mengikuti seleksi Timnas Indonesia putri. Meski itu hanya sebatas latihan. Shaummy serius menunjukkan kemampuan olah bola.

Maklum, setiap hari skill-nya terus dipantau oleh tim pelatih. Yang dipimpin oleh Rully Nere, mantan penggawa Timnas Indonesia. Setiap pagi dan sore latihan. Mulai dari fisik, teknik, dan permainan.

Perempuan kelahiran Jepara, 19 Januari 1998 ini memang harus serius. Menampilkan bakat terbaiknya. Agar bisa menembus skuat Timnas Indonesia putri. Karena, tak semua pemain punya kesempatan menembus tim Garuda putri. Bahkan untuk ikut seleksi pun tak mudah.

Tembusnya Shaummy ke seleksi yang digelar di Sawangan, Depok, Jawa Barat itu tak lepas dari peran Presiden Persijap Esti Puji Lestari. Esti yang mengirimkan video Shaummy bermain sepak bola kepada tim pelatih Timnas Indonesia putri.

Jalan menuju skuat Garuda putri akhirnya terbuka. Bakat Shaummy dilirik oleh tim pelatih. Lalu dipanggil untuk mengikuti seleksi. Yang digelar sejak 16-31 Januari 2019. Hasilnya memang tak langsung diketahui. Karena masih ada tahapan seleksi lagi pada pertengahan bulan ini.

Bakat Shaummy di olahraga sepak bola sudah nampak sejak kecil. Bakat itu juga turun dari sang ayah. Yang berkecimpung di dunia sepak bola. Yakni, Aris Isnandar yang kini juga sebagai pengurus Persijap Jepara.

Dari sang ayah itu pula, Shaummy tertarik dengan sepak bola. Sejak kecil sering diajak sang ayah ke stadion. Baik untuk sekadar melihat latihan, atau menonton Persijap bertanding. Lama-lama, Shaummy gatal juga ingin ikut menendang bola.

Mulailah dia latihan sepak bola. Di lapangan yang letaknya di depan rumahnya. Bersama sang ayah. Gayung bersambut. Kedua orang tuanya mendukung penuh ketika Shaummy memutuskan terjun di dunia sepak bola.

Meski awalnya latihan di lapangan sepak bola, karirnya justru mulai beranjak dari futsal. Ketika masih duduk di bangku SMA, Shaummy mengikuti turnamen Futsal Putri Jawa Tengah 2015. Dia langsung menyabet gelar best player pada turnamen tersebut.

Dari situlah, Shaummy kemudian beranjak ke sepak bola. Dengan bergabung menjadi pemain Persijap Kartini. Yang dibentuk oleh Presiden Persijap Esti Puji Lestari. Di Persijap Kartini, Shaummy dipercaya menjadi juru gedor. Hingga memperkuat Persijap Kartini di beberapa kejuaraan. Meskipun belum sempat mengantarkan juara.

Sebagai perempuan, Shaummy tak pernah minder ketika bermain sepak bola. Justru sebaliknya, bangga. Karena, tidak hanya laki-laki yang bisa berkecimpung di olahraga tersebut. Shaummy membuktikan kalau perempuan juga bisa.

”Kalau cowok bisa, cewek juga harus bisa. Sedikit banyak R A Kartini, Ratu Shima, dan Ratu Kalinyamat menginspirasi saya,” sambungnya.

Bakat yang dimiliki Shaummy juga diakui oleh Presiden Persijap Esti Puji Lestari. Bagi Esti, Shaummy merupakan pemain dengan skill tinggi. ”Shaummy itu bagus. Sejak 2016 sudah bergabung bersama Persijap Kartini. Pernah jadi kapten tim Putri Jateng di Piala Nusantara,” jelas Esti. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 09 Feb 2019 08:17:31 +0700
<![CDATA[Handle Gas Dipindah Kiri, Yakinkan Penumpang Tiap Kali Transaksi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/08/118279/handle-gas-dipindah-kiri-yakinkan-penumpang-tiap-kali-transaksi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/08/handle-gas-dipindah-kiri-yakinkan-penumpang-tiap-kali-transaksi_m_118279.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/08/handle-gas-dipindah-kiri-yakinkan-penumpang-tiap-kali-transaksi_m_118279.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/08/118279/handle-gas-dipindah-kiri-yakinkan-penumpang-tiap-kali-transaksi

Kalis Mupriyanto tak punya satu tangan. Cacat itu sejak lahir. Berkali-kali melamar pekerjaan. Ditolak. Akhirnya menjadi pengemudi Ojek Online (Ojol).]]>

Kalis Mupriyanto tak punya satu tangan. Cacat itu sejak lahir. Berkali-kali melamar pekerjaan. Ditolak. Akhirnya menjadi pengemudi Ojek Online (Ojol). Penghasilannya mampu menghidupi keluarganya. Antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta perbulan.

 

SUBEKAN, Blora

TERLAHIR sebagai difabel, Kalis Mupriyanto, 29, terbiasa mandiri sejak anak-anak. Keuletan dan kerja keras membuatnya tahan banting. Meski beberapa kali lamarannya ditolak akhirnya dia bisa mandiri. Ikut ojek online. Per bulan dia bisa menghasilkan Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Kepada Jawa Pos Radar Kudus, ayah satu anak ini mengaku cacat sejak lahir. Sejak kecil sudah membantu kedua orang tuanya jualan. Yaitu produk pertanian. Aktivitasnya ini dilakoni hingga 2013.

Meski begitu dia tidak mau menggantungkan hidupnya kepada kedua orang tuanya. Sejak lulus SMA pada 2007 dia beberapa kali melamar pekerjaan. Tak ada yang mau menerima. Alasannya cacat fisik.

Hingga akhirnya pada 2013 dia diterima dan bekerja menjadi sales promosi Kios Delta Tani hingga 2015. Selama dua tahun bekerja dia dipertemukan dengan belahan jiwa (Erma Dewi Jayanti). Menikah pada 2014. Setahun kemudian dia dikarunia anak. Sekarang berusia 4 tahun. Namanya Uwais Asfa Kawiswara.

Semenjak kelahiran anaknya, Kalis memutuskan keluar dari pekerjaan. Kembali membantu orang tua jualan. Dia juga tidak mau berpangku tangan. Sambil melihat dan mencari lowongan pekerjaan yang cocok. Serta bisa menghidupi keluarga.

Doa panjangnya, akhirnya didengar dan dikabulkan Allah SWT. Desember 2017 ia mendapat informasi ada lowongan driver grab. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kalis daftar. Diterima. Hingga sekarang.

“Awalnya minder juga. Tapi lama kelamaan terbiasa. Teman-teman juga baik-baik,” ucap laki-laki yang tinggal di Jalan Gunung Lawu Lorong 01 Nomor 25 Kelurahan Tempelan, Kecamatan Blora Kota.

Dia mengaku, penghasilannya tidak menentu. Terkadang sehari hanya dapat dua penumpang. Saat ramai bisa mencapai 14 orang. Berangkatnya juga tidak pasti. Pulang bisa sampai pukul 12.00. Bahkan pukul 01.00.

“Sebulan ya kira-kira Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Tapi senang dan membantu. Nyaman. Saya lebih menikmati,” jelasnya.

Selain sebagai driver ojek online, di rumah dia juga jualan perfume laundry dan shampo pencuci mobil/motor. Kalis mengaku, ke depan dia mendambakan pekerjaan yang lebih baik. Meski saat ini sudah cukup bahagia dengan pekerjaan dan kehidupannya.

Kalis mengaku, pertama kali naik sepeda motor usai lulus SMA. Karena tidak mempunyai tangan kanan, handle gas motor dipindah kiri. “Sempat was-was. Malu-malu. Mungkin lagi pertama. Dulu langsung mencoba sendiri tidak dibantu pendamping. Pertama kali belum mahir lama kelamaan jadi mahir sendiri. Sampai saat ini,” tegas laki-laki yang suka musik ini.

Kemampuan Kalis dalam mengendarai motor tak diragukan lagi. motor matic miliknya telah dimodifikasi dengan memasang handle gas di sebelah kiri siap mengantar penumpang sampai tujuan. Meski, awalnya sejumlah penumpang juga sempat ragu.

Ia selalu bisa meyakinkan mereka dengan penuh kepercayaan diri. Kerja keras dan keramahan Kalis, adalah yang paling mengesankan menurut kawan-kawan sesama mitra.

Kalis sendiri ingin dirinya bisa menjadi inspirasi bagi siapapun. Agar terus maju dan tidak mudah menyerah oleh keterbatasan.

Kalis juga berpesan kepada teman-temannya agar tidak mudah mengeluhkan dengan hal buruk yang datang dalam hidup. Sebab dia percaya tuhan tak pernah memberikannya. Hanya diri sendiri yang membiarkannya datang.

Selain itu, ia berpesan jangan pernah takut untuk mengambil satu langkah besar bila memang itu diperlukan. Sebab semua orang berhak bahagia. Untuk itu, jangan biarkan kebahagiaamu ditentukan orang lain. “Kita boleh satu dua kali gagal. Tapi tetap ada jalan terang untuk kebahagiaan,” ucapnya kemarin.

Menurutnya, kemampuan tak akan berkembang tanpa berusaha. Jalan tidak akan terbuka tanpa ada keinginan yang keras. Usaha yang nyata. “Belajar dan berusahalah selagi mampu. Jika tidak, penyesalan yang tersisa. Hidup ini penuh warna. Mari kita isi dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang orang lain tidak bisa merasakannya,” ucapnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 08 Feb 2019 08:08:24 +0700
<![CDATA[Sempat Ditentang Orang Tua, Jawab dengan Prestasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/07/118093/sempat-ditentang-orang-tua-jawab-dengan-prestasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/07/sempat-ditentang-orang-tua-jawab-dengan-prestasi_m_118093.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/07/sempat-ditentang-orang-tua-jawab-dengan-prestasi_m_118093.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/07/118093/sempat-ditentang-orang-tua-jawab-dengan-prestasi

Jalan Putri untuk mengukir prestasi dalam olahraga pencak silat tidak mulus. Ia sempat mendapat pertentangan dari kedua orang tua karena khawatir.]]>

Jalan Putri untuk mengukir prestasi dalam olahraga pencak silat tidak mulus. Ia sempat mendapat pertentangan dari kedua orang tua karena khawatir. Namun kini ia berhasil menjawab kekhawatiran itu dengan prestasi.

WISNU AJI, Rembang

SUASANA SMK Muhammadiyah Pamotan siang kemarin tampak ramai. Yang cukup menyita perhatian delapan siswa sedang berlatih pencak silat. Mereka terdiri enam orang perempuan dan dua laki-laki tampak serius latihan.

Wajar saat ada latihan, beberapa temannya ramai-ramai menonton. Tak terkecuali warga yang kebetulan melintas.

Tidak lama guru tersebut bercerita, dua anak didiknya ada yang baru saja meraih kejuaraan pencak silat tingkat Nasional Asia Eropa. Keduanya yang baru berlatih dipanggil. Dalam kondisi terengah mereka datang mendekat lalu duduk. Mereka mulai bergabung baru dua tahun ini.

Perkenalan singkat dilakukan. Salah satunya Putri. Perempuan asal Dukuh Banyu, Kalitengah, Pancur, mengaku kesemsem olahraga satu ini sejak lama. Saat itu dirinya masih duduk di bangku tsanawiyah (SMP, Red). Sayangnya orang tua belum memberi lampu hijau. ”Belum ada izin orang tua. Kebetulan saya saat itu tinggal di pondok,” katanya.

Setelah masuk ia melihat ada pencak silat. Rasa ketertarikan ini kembali muncul, untuk menyalurkan hobi yang sempat tertunda. Ternyata memang menarik. Dari yang semula untuk jaga-jaga hingga mampu berprestasi.

”Saat itu masih sempat ditentang. Kebetulan pelatih mau datang ke rumah untuk meyakinkan ke orang tua bahwa olahraga ini positif. Lalu pelatih bilang kalau saya berprestasi, khususnya di pencak silat,” terangnya menirukan pelatihnya.

Dari situlah ia mendapatkan lampu hijau. Walaupun rasa was-was ada, wajar anaknya perempuan, jadi khawatir cedera. Sembilan kali tarung dilakukan. Kali pertama saat Kejurda di Rembang, anak petani satu ini kalah.

Putri pun makin terasah bakatnya. Hal ini dibuktikan saat ikut kejuaraan terbuka PPS Paku Bumi Open VI 2019, antarpelajar SD, SMP, mahasiswa tingkat Nasional Asia Eropa.

Perempuan yang pernah mendapatkan laptop gratis dari Gubernur Ganjar Pranowo tersebut mendapatkan juara I tanding SMA kelas C putri dalam even PPS Paku Bumi Open itu. Ia mengaku harus bersaing dengan ratusan peserta. Kebetulan kelas yang diikuti kelas C putri (bobot 50 kilogram).

”Saya harus kalahkan enam petarung dan ketujuh final. Petarungnya saat final saya ketemu dari kota Cirebon,” jelasnya.

Untuk tampil menjadi terbaik tidak mudah. Saat naik gelanggang ada rasa was-was. Ketika melihat musuh sempat minder, namun ia harus tetap fokus. Teknik-teknik dari pelatih diterapkan, mulai tendangan, pukulan dan bantingan. Masing-masing ada nilainya. Sampai akhirnya ia dapat menang mutlak.

    Porsi latihanya tak banyak, dua hari dalam sepekan. Lalu mendekati pertandingan sepekan rutin. Dengan capaian ini dirinya termotivasi menjadi atlet nasional, untuk mengukir prestasi.

”Orang tua senang. Padahal sebelumnya was-was terus dan selalu telepon setiap waktu. Ketika saya kabari juara I, orang tua menjanjikan membelikan motor,” sumringahnya terkait rencana hadiah yang diberikan.

 Terakhir Putri berharap kepada pemerintah. Agar memperhatikan atlet, caranya mungkin apresiasi dan sebagainya. Syukur-syukur beasiswa untuk sampai perguruan tinggi. Hal ini sangat penting bagi dirinya. Apalagi dirinya anak orang kurang mampu. Selain fasilitas latihan sarana penunjang, seperti matras dan lainnya.

Selain dia, temannya Luluk Nur Latifah, 15, juara I tanding SMA kelas A putri di Bandung. ”Saya harus hadapi sembilan petarung. Terakhir dengan petarung Karawang. Dalam permainan saya tidak menang mutlak, namun mendominasi,” pengakuan perempuan kelahiran Rembang 2 Februari 2003 ini.

]]>
Ali Mustofa Thu, 07 Feb 2019 08:11:03 +0700
<![CDATA[Dirikan Sekolah Korban Tsunami Aceh, Berangkatkan 27 Guru ke Finlandia]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/06/117904/dirikan-sekolah-korban-tsunami-aceh-berangkatkan-27-guru-ke-finlandia https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/06/dirikan-sekolah-korban-tsunami-aceh-berangkatkan-27-guru-ke-finlandia_m_117904.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/06/dirikan-sekolah-korban-tsunami-aceh-berangkatkan-27-guru-ke-finlandia_m_117904.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/06/117904/dirikan-sekolah-korban-tsunami-aceh-berangkatkan-27-guru-ke-finlandia

Lestari Moerdijat tak sekadar perempuan yang sukses di bidang korporasi. Ia juga berjiwa sosial tinggi. Pascabencana tsunami Aceh 2006, ia mendirikan sekolah.]]>

Lestari Moerdijat tak sekadar perempuan yang sukses di bidang korporasi. Ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Pascabencana tsunami di Aceh pada 2006 lalu, ia mendirikan Sekolah Sukma Bangsa, tempat belajar anak-anak korban tsunami yang masih eksis sampai sekarang.

 

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara

 

PEMBAWAAN Mbak Rerie -sapaan akrab Lestari Moerdijat- dalam berkomunikasi terlihat tenang, mengalir, dan berisi. Hal itu terlihat pada saat berkunjung ke tiga daerah, Demak, Kudus, dan Jepara. Di depan ribuan masyarakat, ia menyampaikan ajakan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dan pendidikan keluarga.

Usai menemui ribuan masyarakat, Jawa Pos Radar Kudus berkesempatan berbagi pengalaman dengan Mbak Rerie. Mulai dari karir, kegiatan sosial, hingga kontribusinya dalam dunia pendidikan.

Karirnya di dunia bisnis tak bisa dianggap remeh. Ia CEO Media Group. Dalam perjalanan karirnya, ia sempat dikagetkan dengan penyakit yang ia derita. Pada 2016, ia didiagnosa mengidap kanker payudara HER2 Positif. Ketika itu usianya 49 tahun, tepatnya pada 7 November 2016. Mengetahui bahwa dia mengidap kanker payudara, dia langsung menjadwalkan operasi pengangkatan kanker payudara di Singapura. Kecepatan dan ketepatan merupakan yang membuat Rerie kuat menjalani serangkaian operasi hingga kemoterapi.

Usai dinyatakan sembuh, ia getol menyuarakan pentingnya pemeriksaan payudara. Mbak Rerie merupakan survivor kanker payudara. Di berbagai kesempatan, Rerie juga berbagi pengalaman bagaimana perjuangannya melawan kanker payudara kepada para pengidap kanker untuk memberi semangat. ”Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang dapat diatasi. Jangan pernah takut untuk melakukan deteksi dini dan juga melakukan pemeriksaan diri ke dokter,” katanya.

Mbak Rerie menceritakan titik balik pandangannya terhadap gerakan perubahan di Indonesia bukan saat ia mengidap kanker. Namun, jauh sebelumnya ia adalah perempuan yang concern terhadap dunia pendidikan dan pemberdayaan wanita. ”Dengan dianugerahkan kesembuhan ini, saya semakin semangat mengawal kesehatan dan pendidikan masyarakat,” paparnya.

Saat Media Grup berencana untuk mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu, ia ikut ambil andil dalan mengatur pembangunan sekolah. Menurutnya, pendidikan itu kunci. Pilar dari bangsa adalah pendidikan. Jadi, penting untuk memberikan wadah kepada anak-anak untuk mendapat pendidikan. Bukan hanya untuk mencerdaskan tapi juga untuk membangun martabat.

”Makanya saya tergerak untuk berkontribusi di sini. Kalau di bidang pemberdayaan perempuan sendiri, saya bertindak sebagai suporter. Contohnya, saya membantu ayah saya yang pensiunan dokter kandungan untuk melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker serviks kepada wanita di kampung-kampung,” imbuhnya.

Ia juga mendirikan Sekolah Sukma Bangsa yang keberlanjutan hingga kini. Pada awalnya, sekolah ini memang didirikan untuk anak-anak Aceh pascatsunami 2006. Yakni dalam rangka melanjutkan kegiatan yang dilakukan oleh Media Group bersama masyarakat melalui Dompet Indonesia Menangis.

Dana yang ada sebetulnya sudah habis pada tahun kedua. Tahun ketiga hingga saat ini, seluruh operasional sekolah dibiayai oleh Media Group bersama para donator yang mayoritas datang dari Media Group sendiri.

Setelah jajaran pengurus menilai bahwa sekolah ini telah mampu kokoh berdiri, pihaknya membuka komunikasi dan berinisiatif untuk sharing ke sekolah-sekolah di sekitarnya. Misalnya mendirikan lapangan olahraga dan laboratorium yang bisa dipakai bersama dengan anak-anak dari sekolah lain.

Kemudian, pihaknya juga mengeluarkan banyak modul pelatihan untuk guru-guru dari sekolah lain di luar Sekolah Sukma Bangsa. Guru-guru yang tergabung dalam komunitas Sahabat Sukma juga bekerja sama dengan banyak institusi pelatihan guru untuk melatih guru-guru di seluruh Indonesia.

Belasan tahun mengelola Sekolah Sukma Bangsa, membuatnya mengalami suka dan duka. Tahun-tahun awal adalah tahun-tahun yang menarik menurutnya. Mbak Rerie harus menyampaikan banyak dinamika sosial, misalnya terkait paham baru yang ditularkan kepada anak-anak untuk perkembangan mereka saat mendirikan sekolah ini.

Hantaman cukup banyak. Tapi, dia tetap berusaha untuk tetap menjalankan apa yang dipercayai juga tidak mudah. ”Tapi alhamdulillah, Allah memberikan jalan kepada kami. Hingga hari ini, Sekolah Sukma Bangsa telah memiliki 27 orang guru yang sudah berhasil mengambil program master in teaching education di Finlandia. Program tersebut adalah program kerja sama Media Group dengan Finland University,” terangnya.

Di akhir percakapan, Mbak Rerie mengungkapkan pandangannya terhadap pendidikan di Indonesia. ”Perubahan apa yang paling mendesak untuk dilakukan di negeri ini? Saya rasa kita butuh restorasi dalam segala hal. Yang paling sulit adalah mengubah mindset yang telah melekat sekian lama. Kita perlu lebih produktif. Maka dari itu restorasi diperlukan,” tandasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 06 Feb 2019 07:47:36 +0700
<![CDATA[Desain Dilirik MUA, Berkiblat Myrna Myura]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/05/117777/desain-dilirik-mua-berkiblat-myrna-myura https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/05/desain-dilirik-mua-berkiblat-myrna-myura_m_117777.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/05/desain-dilirik-mua-berkiblat-myrna-myura_m_117777.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/05/117777/desain-dilirik-mua-berkiblat-myrna-myura

Sering melihat ibunya mendesain kebaya membuat Alvionita Dhita Fransiskha diam-diam tertarik mendesain. Berkali-kali mencoba, desainnya kini dilirik MUA ternama]]>

Sering melihat ibunya mendesain kebaya membuat Alvionita Dhita Fransiskha diam-diam tertarik mendesain. Berkali-kali mencoba, desainnya kini akhirnya dilirik MUA ternama.

INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan

ALVIONITA DHITA FRANSISKHA rupanya telah menghasilkan banyak desain kebaya. Bahkan beberapa kebaya telah dia jual dan disewakan. Kepiawaiannya mendesain kebaya ini tampaknya turun dari ibunya. Selain sering melihat ibunya mendesain, diam-diam dia mulai mempraktikkannya.

Sejak kecil, dia kerap melihat proses desain hingga hasil kebaya milik ibunya. Alvi pun mulai iseng dan mencoba menggambar sesuai kemampuannya. Bahkan, modal dan peralatan menjahit sudah disiapkan orang tuanya.

”Awalnya juga sempat ikut kontes model dari SD, pakai baju rancangan orang lain. Terus pas SD suka gambar gaun buat dipakai fashion show. Terus mulai modelling lagi waktu SMA. Di situ mulai ikut kontes lagi dan waktu itu malah ada orang yang minta didesainkan kebaya,” ujarnya.

Kali pertama saat menginjak di bangku SMA. Ia mulai berani menunjukkan bakat menggambarnya itu dengan mulai membuat desain kebaya. Tak disangka, hasilnya cukup bagus hingga orang tuanya sangat mendukungnya untuk bisa mengembangkan.

”Saya juga memiliki kiblat desainer yakni Myrna Myura. Saya suka detail kebayanya. Saya juga kerap lihat desain dari desainer lain buat bahan referensi,” imbuh alumni SMAN 1 Purwodadi ini.

Kini Alvi sudah memiliki pelanggan, bahkan tak jarang banyak MUA yang memesan untuk dibuatkan kebaya. ”Kalau pembuatan kebaya kurang lebih membutuhkan waktu dua pekan, itu untuk yang biasa. Sedangkan kalau gaun sampai dua bulan pembuatan,” kata gadis yang beralamat di Jalan Kusuma Bangsa Kecamatan Wirosari ini.

Gadis kelahiran Grobogan, 23 April 1998 ini juga menceritakan pengalamannya selama menjadi desainer kebaya. Dengan bermodalkan kain seharga Rp 50 ribu, dia desain dan mampu dilirik salah satu MUA. Bahkan mampu dijual dengan harga Rp 500 ribu.

Berawal dari situ lah mulai banyak MUA yang langganan membuat kebaya di dia. Terkadang ia juga dilirik fotografer untuk kolaborasi buat photoshoot kebaya. Ke depan ia akan melanjutkan bisnis orang tuanya dan akan mengembangkannya.

”Saat ini juga sudah menjadi tanggung jawab saya. Namun orang tua masih memegang dan mengajarinya,” pungkasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 05 Feb 2019 11:05:12 +0700
<![CDATA[Tempat Rujukan untuk Berobat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/05/117766/tempat-rujukan-untuk-berobat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/05/tempat-rujukan-untuk-berobat_m_117766.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/05/tempat-rujukan-untuk-berobat_m_117766.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/05/117766/tempat-rujukan-untuk-berobat

Keberadaan Kelenteng Hiang Thian Siang Tee, Welahan, Jepara, tidak hanya sebagai tempat ibadah. Keberadaan kelenteng itu jadi interaksi keberagamaan warga.]]>

Keberadaan Kelenteng Hiang Thian Siang Tee, Welahan, Jepara, tidak hanya sebagai tempat ibadah. Keberadaan kelenteng itu jadi interaksi keberagamaan dengan warga sekitar. Salah satu membuat tempat itu terkenal ketika Pahlawan Perempuan Indonesia RA. Kartini sembuh lantaran ambil abu dari kelenteng tersebut. Di hari ulang tahun kelenteng itu atau 3 Sha Gwee atau hari lahir dari Hian Thian Siang Tee, kelenteng dari seluruh penjuru Indonesia datang ke tempat ini.

 Laporan Wartawan Radar Kudus M. Khoirul Anwar

 SAMBIL menenteng keranjang, Aris, bergegas menghidupkan motor matik di depan Gedung Serbaguna Kelenteng Welahan. Ia biasa membantu pengurus Yayasan Kelenteng Welahan. Rumahnya di sekitar Kelenteng itu.

BERSIHKAN: Arca-arca di Kelenteng Welahan dibersihkan setiap menjelang tahun baru Imlek. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

“Ayo mas. Tak bonceng apa jenengan (kamu, Red) bawa motor sendiri,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Siang itu, Aris bertugas mengantarkan nasi bungkus untuk puluhan warga di sekitar kelenteng. Warga yang dikirim nasi hanya jompo. Atau lanjut usia.

Keranjang yang masih kosong itu ditaruh Aris di  bagian pijakan kaki motor matik. Sambil diikuti wartawan Jawa Pos Radar Kudus yang mengendarai motor lain.

Dari Kelenteng Dewa Langit, Aris menuju arah selatan. Melewati Pasar Welahan dan Kelenteng Dewa Bumi. Sampai di ujung jalan, ia berhenti. Sepeda motornya diparkirkan depan pintu gerbang. Ia masuk sambil membawa keranjang yang ia bawa sebelumnya. Rumah itu adalah rumah Ketua Yayasan Kelenteng Welahan Sugandi.

Dua menit berselang, Aris keluar. Keranjang yang tadinya kosong kemudian diisi nasi bungkus yang dibungkus koran. Lengkap dengan lauk yang dibungkus plastik putih transparan. Isinya telur, tempe, dan tahu.

Perjalanan dilanjutkan. Setelah menempuh setengah kilometer menyusuri jalan kampung di Desa Welahan, Aris berhenti di sebuah rumah. Rumah itu berukuran tiga meter persegi. Terbuat dari kayu. Dindingnya dari anyaman bambu.

“Kulonuwun mbah,” kata Aris dari luar rumah itu.

“Monggo,” jawab seorang nenek dari dalam rumah.

Aris masuk ke dalam rumah. Nenek itu terbaring di kasur. Tidak ada anggota keluarga lain, selain nenek itu. Nenek itu setiap makan siang mendapat jatah dari kelenteng. Sedangkan untuk sarapan dan makan malam biasanya dikirim dari tetangga sekitar. “Matur nuwun ya nang,” kata nenek Masripah.

Saat ditanya usianya, ia lupa berapa usianya. Katanya sudah lama. Berkas-berkasnya kebawa banjir. “Lali nang, surat-surate katut banjir (lupa nak, surat-surat terseret banjir, Red),” ujarnya. Daerah Welahan hampir tiap musim hujan terdampak banjir. Terparah sekitar 2016.

Perjalanan dilanjutkan ke puluhan rumah warga jompo lainnya. Tidak hanya warga jompo di Desa Welahan saja, Aris membagikan nasi ke rumah warga di desa tetangga. Desa Kedungsarimulyo, Welahan. Di rumah terakhir Aris membagikan lebih dari lima bungkus nasi.

“Ini Mbah Saipah, memang banyak nasinya. Dititipkan di sini. Sekitar sini nanti akan diambil sendiri  ke rumahnya Mbah Saipah,” katanya.

Usai menyelesaikan tugasnya, Aris kembali ke kelenteng melanjutkan tugas lain.

Terpisah, Ketua Yayasan Kelenteng Welahan, Sugandi mengatakan pihaknya sudah biasa membagikan nasi kepada warga sekitar. Hal itu sudah menjadi kebiasaan rutin. “Keberadaan kelenteng tidak hanya untuk warga Tionghoa. Kami ada untuk semua kalangan,” katanya.

Eksistensi Kelenteng Welahan di kalangan masyarakat Welahan memang dikenal aktif di kegitan sosial. Seperti terlibat dalam pembangunan Jembatan Suling perbatasan Jepara-Demak dan pembangunan gedung Mapolsek Welahan. Kondisi Jembatan Suling sebelumnya sangat memprihatinkan. Badan jalan yang terdiri dari kayu balok yang tidak rapi dengan aspal yang mengelupas, membuat warga kesulitan saat melintas. Ditambah, pagar samping jembatan yang terbuat dari besi sudah rusak.

Padahal, jembatan itu berada di tengah antara Welahan, Kabupaten Jepara dengan Desa Pecuk, Kecamatan Mijen, Kabupaten Jepara. Hampir tiap saat, jembatan itu ramai warga yang lalu lalang. Baik jalan kaki maupun kendaraan roda dua. Sebab, menjadi akses perdagangan menuju Pasar Welahan. Sementara, kendaraan roda empat harus memutar berjarak sekitar 5 kilometer lebih. Kini, jembatan itu sudah bisa dilewati setelah diresmikan awal tahun ini. “Kami dan masyarakat ikut membantu secara swadaya dalam proses pembangunan jembatan,” paparnya.

Sugandi menambahkan, RA. Kartini putri Bupati Jepara waktu itu pernah berobat di kelenteng Welahan. Hasilnya penyakit yang dialaminya sembuh. Meski sebelumnya telah berobat kemana-mana namun tidak sembuh.
"Ada cerita, Raden Ajeng Kartini juga pernah berobat ke sini (Kelenteng Welahan, Red). Sebelumnya berobat ke mana-mana tidak sembuh. Kemudian ke sini ternyata sembuh," ungkapnya.

Kelenteng yang menjadi salah satu ikon Kota Jepara ini tak hanya menjadi tempat ibadah saja, namun juga berburu berkah. Banyak warga datang ke kelenteng untuk keperluan pengobatan, peruntungan, perjodohan hingga menanyakan nasib. Tak hanya ramai dikunjungi oleh warga Tionghoa saja, namun juga warga non-Tionghoa dari berbagai daerah.

Sementara itu, Kepala Desa Welahan HM. Sumarno mengungkapkan keberadaan Kelenteng  Welahan memiliki hubungan sosial yang sangat baik dengan masyarakat. Sering mengadakan kerja bakti, pembagian sembako, dan aktif terlibat dalam kegiatan. “Sering melibatkan berbagai unsur kalau mengadakan kegiatan. Sepeti Linmas, Banser, dan Karangtaruna,” katanya. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 05 Feb 2019 10:13:39 +0700
<![CDATA[Utamakan Mengajar, Tak Mau Ditarget Pemesan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/04/117560/utamakan-mengajar-tak-mau-ditarget-pemesan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/04/utamakan-mengajar-tak-mau-ditarget-pemesan_m_117560.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/04/utamakan-mengajar-tak-mau-ditarget-pemesan_m_117560.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/04/117560/utamakan-mengajar-tak-mau-ditarget-pemesan

Seni lukis potret art ditekuni guru SMPN 1 Kudus bernama Hasan Sunarto ini. Berkat kepiawaiannya itu, mengantarkannya dikenal dan banyak order dari pejabat.]]>

Seni lukis potret art (lukis foto) ditekuni guru SMPN 1 Kudus bernama Hasan Sunarto ini. Berkat kepiawaiannya itu, mengantarkannya dikenal dan banyak mendapatkan order dari pejabat. Lukisan yang dihasilkan sangat hidup dan memiliki karakter orangnya.

 INDAH SUSANTI, Kudus

GORESAN kuas dengan ujung bulu-bulunya yang lembut menggores kanvas di bagian kerah baju yang belum sempurna itu. Tangan yang luwes itu, mampu mengendalikan gerakan-gerakan supaya cat yang menempel tidak meluber ke mana-mana.

DI GALERI: Hasan saat di galeri SMPN 1 Kudus. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Sangat hati-hati. Namun tetap santai. Bahkan, tidak menunjukkan ketegangan sama sekali. Sepertinya pria bernama lengkap Hasan Sunarto tersebut, menikmati setiap goresannya.

Saat ini, Hasan mengerjakan potret art para mantan Wakil Bupati Kudus. Meliputi mantan Wakil Bupati Kudus H. Abdul Hamid, Budiono, dan Noor Haniah. Sebelumnya, dia juga mendapatkan order lukis foto mantan Bupati Kudus Musthofa.

Baru-baru ini Bupati Kudus M Tamzil juga memintanya untuk memperbaiki lukisannya yang sebelumnya sudah dipasang di ruang tamu Pendapa Kabupaten Kudus. ”Katanya diganti saja, karena wajahnya di lukisan lama kelihatan hitam,” paparnya sambil tangannya tetap bekerja.

Dia menggambar beberapa pejabat ini tidak asal-asalannya sama persis di foto. Tetapi, dihayati sembari membayangkan sosok masing-masing orangnya. Sehingga hasil lukisannya mempunyai karakter yang kuat.

”Kalau wajahnya sendu saya buat sendu. Kalau wajahnya sedikit gelap, saya cerahkan. Ingin terus bisa atau kelihatan tambah berisi saya bisa lakukan. Yang penting karakter harus tercermin dalam lukisan itu,” terangnya.

Detail fisik juga harus diperhatikan. Hasan mengatakan, seperti kumis mantan Wakil Bupati Kudus Budiono harus mirip seperti aslinya. Inilah tantangan baginya, peralatan ”perang” melukisnya lengkap sekali yang tersebar di sampingnya.

”Kuas terkecil ini harganya mencapai Rp 150 ribu. Inilah senjata saya dalam membuat kumisnya Pak Budiono,” kata Hasan sambil menunjukkan kuas kecil, lalu tertawa.

Namun, saat ditanya urusan pembayaran order dari Pemkab Kudus, Hasan tak mau bicara blak-blakan. ”Tak usahlah, biar saya saja yang tahu. Rahasia,” tandasnya sambil tersenyum.

Ditanya kecintaannya dengan dunia lukis, pria yang tinggal di RT 2/RW 5, Desa Klumpit, Gebog, Kudus, ini mengaku, menyukai sejak SD. Dia bercerita, dulu kalau ada selebaran bioskop, dibuat contoh untuk menggambar. Sampai SMA ia masih belajar otodidak.

”Ya, yang mengajari siapa, lingkungan keluarga saya petani. Kakak-kakak saya juga tidak ada yang bergelut di bidang seni. Ya, saya liar belajar sendiri. Hanya dapat bimbingan dari guru di sekolah. Itupun tidak spesifik,” jelasnya.

Kemudian, lulus SMA dia meminta arahan saudara-saudaranya memilih jurusan. Pada akhirnya dia masuk jurusan Pendidikan Seni di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Waktu di bangku kuliah, Hasan mendapatkan teknik-teknik melukis.

Saat kuliah itu, dia sudah meliarkan idenya dalam melukis. Di antaranya membuat lukisan Meriam Belina dengan media kanvas dengan finishing menyerupai kaca pecah. Lukisna itu, kini disimpan di galeri SMPN 1 Kudus. Ya, Hasan yang merupakan pelaku seni ini, kini juga menjadi guru di SMPN 1 Kudus. Dia termasuk guru yang digandrungi siswanya, karena karya-karyanya selalu menakjubkan.

Tak hanya itu, ide liarnya pun pernah membuatnya berurusan dengan rektor. Dia sampai dicekal rektor gara-gara ikut pameran nasional dengan menggunakan hasduk pramuka untuk menutup bagian lukisannya yang setengah vulgar.

Hal itu membuat pihak rektorat kurang berkenan. Namun, setelah dijelaskan dengan sudut pandang seni, akhirnya Hasan dibebaskan.

”Anak kos semua serba minim. Tidak punya kain adanya hasduk. Ya sudah saya pakai. Tapi, unsur yang saya gunakan warnanya, bukan karena lambangnya. Kalau mengingat itu benar-benar lucu,” kata pria yang pernah juara II lomba poster lingkungan tingkat Jawa Tengah dan disambut Bupati Kudus Darsono pada zamannya.

Setelah lulus kuliah pada 1988, dia membuat baliho ukuran besar dengan cara manual. Menggambar sendiri. Bahkan, ditekuni sampai sekitar 1990-an. ”Membuat reklame juga. Ya, dulu pekerjaan yang berhubungan gambar saya terima,” ungkap pelukis aliran potret art dan populer art ini.

Hasan juga mengaku, bisa belajar lukisan potret art pernah ikut sanggar Pak Karno pada 2010. Waktu 1980-an juga pernah ikut sanggar Merah Putih. Dulu base camp-nya di Menara Kudus. Tapi, sekarang sudah tidak ada lagi.

Selepas kuliah, ia menjadi tenaga pendidik di SMP Muhammadiyah 2, SMA Muhammadiyah, dan MA Muhammadiyah. Ia mengabdi menjadi guru tidak tetap (GTT).

Kemudian, pada 1989 diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di SMP 2 Karangtengah, Demak. Namun, dia tetap mengajar di tiga sekolah Muhammadiyah tersebut. Setelah berjalan empat tahun, dia dipindah tugas ke SMP 3 Jekulo, Kudus, sampai delapan tahun. Kemudian dipindah ke SMPN 1 Kudus pada 2001. Ketiga sekolah Muhammadiyah baru dilepas pada 2002. ”Jadi, sekarang ini hanya fokus di satu sekolah, karena jamnya sudah banyak,” terangnya.

Hasan tetap bekerja profesional. Antara mengajar dan menerima job lukis dari luar. Dia mengerjakan lukisan minimal butuh waktu satu bulan. Jadi, dia tak mau dipaksa cepat oleh pemesan. ”Kewajiban saya yang utama itu mengajar. Job melukis saya hanya kerjakan saat malam hari,” imbuhnya.

Baginya mendidik anak-anak lebih utama, karena sejak awal memang berkeinginan menjadi guru. Tapi, seni yang ia dalami tetap tersalurkan. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 04 Feb 2019 08:18:39 +0700
<![CDATA[Dipaksa Ikut Model karena Tomboy]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/02/117289/dipaksa-ikut-model-karena-tomboy https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/02/dipaksa-ikut-model-karena-tomboy_m_1549096478_117289.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/02/dipaksa-ikut-model-karena-tomboy_m_1549096478_117289.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/02/117289/dipaksa-ikut-model-karena-tomboy

Farashinta Ayunia Safira berhasil menjuarai beberapa prestasi modeling tingkat provinsi hingga nasional. Di antaranya juara III Super Model Indonesia se-Jateng.]]>

Farashinta Ayunia Safira berhasil menjuarai beberapa prestasi modeling tingkat provinsi hingga nasional. Di antaranya juara III Super Model Indonesia se-Jawa Tengah 2013, juara harapan I model batik 2013, dan juara II Jeans Model Indonesia 2013. Dia awalnya terkenal tomboy, kondisi berubah setelah ia dalami modeling.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

DI temui di salah satu restoran kenamaan di kota Kudus, Farashinta Ayunia Safira menceritakan awal pertama kali dirinya menjajal dunia modeling. Pada 2013, ibundanya mendapat telepon dari salah seorang kru desainer busana kenamaan di Kudus. Awal muncul turun di dunia model lantaran keinginan ibundanya agar memiliki anak perempuan yang lebih feminim dan tidak tomboi.

”Saya dulunya tomboi. Lebih suka pakai pakaian kasual dan sepatu sneaker. Tiba-tiba disuruh mama ikut model hijab. Saat itulah saya kali pertama pakai sepatu high heels 17 sentimeter. Saat itu tampil di atas catwalk rasanya agak canggung,” terangnya.

Meski canggung, dirinya mengaku senang bisa tampil. ”Bisa ketemu langsung dengan idola. Dari sini saya tertarik menekuni dunia modeling,” sambungnya.

Prestasi perempuan kelahiran Kudus, 11 Juni 1999 ini di bidang modeling terbilang moncer. Di antaranya, meraih juara III Super Model Indonesia se-Jawa Tengah 2013, juara harapan I model batik 2013, dan juara II Jeans Model Indonesia 2013.

Diakui olehnya, dukungan dari ibundanya saat itu telah mengubah hidupnya. Pasalnya, dia mengaku adalah sosok yang tomboi, introvert, dan pemalu. Namun, semenjak menekuni dunia model, hidupnya seakan berubah.

”Bisa dibilang hidupku jadi berubah 360 derajat. Jadi berani tampil di depan umum dan memiliki banyak teman wawasan. Bahkan public speaking saya jadi bagus,” pungkasnya.

Dara jurusan Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang itu mengaku ingin memberikan contoh yang baik bagi masyarakat lewat dunia model. ”Model kan seperti mengenalkan sesuatu. Jadi seperti mem-branding apa yang sedang kami katakan atau kami bawakan. Kalau pembawaan kami bagus, masyarakat akan mencontoh. Misal saya memperkenalkan batik, sedikit banyak harus tahu soal batik yang saya bawakan. Agar orang menjadi tertarik untuk memakai batik,” tandasnya.

Persiapan sebelum naik catwalk selalu dia pikirkan matang-matang. Seperti mempersiapkan kondisi fisik, berlatih senyum dan berbicara di depan cermin, hingga mempersiapkan materi. Bukan tanpa alasan, menurutnya sebagai seorang model dirinya memang harus memperhatikan penampilan, sikap, dan sifat rendah hati.

Nasehat dari ibundanya untuk tetap berhijab dipegangnya. Perempuan 19 tahun ini pernah ditawari menjadi model dengan melepas hijab. Namun, dirinya menolak. ”Sudah prinsip, walaupun honornya memang lumayan,” terangnya.

Hal unik selama menjadi model dia ceritakan juga malam itu. Perempuan jurusan S1 Ilmu Hukum ini membeberkan pengalaman memalukan saat diatas panggung. ”Pernah jatuh diatas panggung saat fashion wedding di daerah Pati gara-gara baju busananya terlalu panjang dan berat. Ditambah lagi harus pakai high heels 17 sentimeter. Akhirnya jatuh tapi ditolong orang,” ujarnya sambil tertawa.

Saat disinggung akan terus menekuni model atau tidak, penyuka kue keju ini memilih untuk fokus terlebih dahulu dengan kegiatannya saat ini. Yakni sebagai Duta Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang yang telah disandangnya dengan masa pengabdian dua tahun. ”Kebetulan beberapa waktu lalu juga meraih juara I putri Duta Fakultas Hukum UNNES,” jelasnya.

”Saya berharap generasi muda yang ingin menekuni dunia model jangan cepat puas dengan pencapaian saat ini. Yang terpenting terus belajar dan jangan pernah lupa dari mana kita berasal,” harapnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 02 Feb 2019 08:08:48 +0700
<![CDATA[Bagikan Konsep Evakuasi Mandiri dan Konstruksi ke Masyarakat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/01/117107/bagikan-konsep-evakuasi-mandiri-dan-konstruksi-ke-masyarakat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/01/bagikan-konsep-evakuasi-mandiri-dan-konstruksi-ke-masyarakat_m_117107.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/01/bagikan-konsep-evakuasi-mandiri-dan-konstruksi-ke-masyarakat_m_117107.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/01/117107/bagikan-konsep-evakuasi-mandiri-dan-konstruksi-ke-masyarakat

Sam’ani Intakoris, sekretaris daerah Kabupaten Kudus tahun kemarin berhasil meraih gelar doktor. Dia kerap membagikan konsep pemikirannya ke akun Instagram-nya.]]>

Sam’ani Intakoris, sekretaris daerah Kabupaten Kudus tahun kemarin berhasil meraih gelar doktor. Dia kerap membagikan konsep pemikirannya ke akun Instagram-nya. Penyajiannya simple dan menarik. Hal ini dilakukan untuk mengedukasi masyarakat.

DIYAH AYU FITRYANI, Kudus.

DI luar jabatannya sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kudus, Sam’ani Intakoris dikenal sebagai sosok yang humble. Hampir setiap hari ia menyapa masyarakat berbagai lapisan. Mulai dari petani, tukang parkir, perajin batu bata, pedagang cilok, hingga pengusaha kafe.

Tak hanya sekadar menyapa, pria kelahiran Kudus, 21 Juli 1969 ini juga ikut melaksanakan sejumlah aktivitas dari mereka. Seperti ikut membantu menanam padi hingga ikut makan siang bersama mereka di sawah. Dan kebanyakan dari aktivitasnya itu Sam’ani, sapaan akrabnya lebih sering tampil menanggalkan atribut pemerintahan.

”Saya senang saja membaur dan ikut berkecimpung dengan aktivitas masyarakat. Dengan begitu, saya bisa ikut merasakan apa yang mereka rasakan,” katanya dengan senyum yang mengembang.

Aksinya untuk menyapa dan mendekatkan diri dengan masyarakat itu biasanya ia lakukan di sela-sela aktivitas jogging dan bersepeda. Hampir setiap pagi dan sore pria yang rajin puasa Senin Kamis itu berkeliling sambil menjalankan hobinya.

”Sekalian jalan-jalan. Olahraga juga sekaligus melihat langsung kondisi wilayah secara langsung. Ini sudah menjadi kebiasaan saya sejak jadi di Dinas PUPR dulu. Jadi dengan melihat secara langsung kondisi lapangan. Saya bisa mengambil kebijakan yang tepat,” kata pria yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kudus itu.

Hasil survei yang dilakukannya itu ditindaklanjuti dengan beragam solusi. Salah satunya yakni terkait permasalahan lubang jalan. Dengan permasalahan tersebut, ia bertekad agar jalan di Kudus harus bebas lubang.

”Saya waktu itu bentuk tim saber lubang jalan. Jadi saya usahakan masyarakat bisa menikmati jalan dengan nyaman,” imbuh pria lulusan Program Doktor Ilmu Arsitektur dan Perkotaan UNDIP itu.

Pria yang beralamat di RT 2/RW 9, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, itu terbilang cukup aktif di media sosial. Hampir semua aktivitas kesehariannya dapat terlihat melalui sejumlah gambar yang ada di akun instagramnya.

Tak hanya bergam kegiatannya yang diabadikan melalui gambar kamera saja yang diunggah di laman instagram miliknya. Suami dari Endhah Endhayani itu juga kerap mempublikasikan cacatan-catatan kecil yang dikonsep menarik. Catatan tersebut merupakan hasil pemikirannya tentang suatu hal.

Salah satu catatan yang di bagikan kepada ribuan followers-nya yakni tentang konsep evakuasi mandiri yang bisa dilakukan masyarakat ketika terjadi bencana. Catatan lain yang dibagikan yakni tentang penyebab kegagalan konstruksi. Di dalam pemikirannya yang tertuang dalam bagan sederhana itu, pria yang hobi jogging itu juga menyertakan tentang landasan hukum yang mengatur. Dengan tulisannya yang rapi, pria yang menyandang gelar doktor arsitek ini juga mengemas dengan bagan-bagan yang mudah dipahami.

”Jadi itu sebagai bentuk tanggung jawab saya sebagai seorang doktor. Saya harus membagikan dan menyampaikan apa yang menjadi pemikiran saya. Mungkin juga pemikiran yang saya bagikan masih butuh disempurnakan. Jadi selain mengedukasi, juga saya terbuka menerima masukan dari masyarakat luas. Demi penyempurnaan,” terangnya.

Tak hanya mengedukasi masyarakat lewat konsep dan catatan kecil yang dibagikan melalui akun sosial medianya. Sam’ani juga diam-diam menjadi sosok di balik adanya warung sedekah. Meski ia enggan untuk disebutkan seperti itu. Warung sedekah itu menyediakan makanan gratis bagi kaum dhuafa.

”Semuanya hanya berharap ridho dari Sang Pencipta. Berharap apa yang positif bisa dicontoh oleh masyarakat,” katanya. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 01 Feb 2019 08:04:23 +0700
<![CDATA[Berdayakan Pemuda Olah Sampah hingga Hidroponik]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/116933/berdayakan-pemuda-olah-sampah-hingga-hidroponik https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/berdayakan-pemuda-olah-sampah-hingga-hidroponik_m_116933.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/berdayakan-pemuda-olah-sampah-hingga-hidroponik_m_116933.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/116933/berdayakan-pemuda-olah-sampah-hingga-hidroponik

Komunitas Resik Apik selama ini mengajak dan melakukan gerakan mencintai lingkungan. Kampanye cinta lingkungan yang digaungkan bahkan menuai cibiran.]]>

Komunitas Resik Apik selama ini mengajak dan melakukan gerakan mencintai lingkungan. Kampanye cinta lingkungan yang digaungkan bahkan harus dibayar dengan cibiran.

ACHMAD ULIL ALBAB, Margoyoso

PAGI belum terang benar. Sinar matahari belum menampakkan kegagahannya di langit Desa Kajen Kecamatan Margoyoso. Namun kesibukan terjadi di markas komunitas resik apik. Pagi-pagi benar mereka mengumpulkan sampah dan memilah-milahnya.

”Ini dipakai buat kompos. Ini bisa dijual ulang. Lumayan,” kata Karim. Pemuda 23 tahun. Dia merupakan salah satu penggagas komunitas tersebut. Mahasiswa Ipmafa Pati ini juga dipercaya sebagai ketua.

”Dulu Kajen terkenal kotor. Bahkan boleh dibilang kumuh,” kata Karim kepada Jawa Pos Radar Kudus. Hal tersebut lantaran, desa yang terkenal dengan puluhan pondok pesantrennya ini sesak oleh bangunan beton beserta manusianya. Kajen sangat padat dengan manusia.

Selain itu desa ini juga menjadi tempat ngalap berkah dari berbagai daerah, yang menziarahi tokoh penyebar Islam seperti Syeh Ahmad Mutamakkin. Kedatangan banyaknya peziarah memunculkan masalah sampah. Seperti diketahui, manusia adalah penghasil sampah.

”Keprihatinan tersebut, lantas membuat saya dan teman-teman waktu itu berfikir. Bagaiamana caranya berbuat. Supaya masalah lingkungan ini bisa diatasi,” papar Karim.

Lalu munculah ide. Membuat komunitas, namanya resik apik. Artinya bersih bagus. Komunitas itu digawangi pemuda-pemuda Kajen sendiri. ”Sekitar tahun 2016, komunitas ini terbentuk, lalu bertumbuh dan berkembang hingga sekrang. Bahkan beberapa orang dari luar Kajen menjadikan tempat kami sebagai jujukan untuk percontohan menangani dan mengolah sampah di sebuah wilayah,” imbuh pria yang tinggal di RT 3 RW 2 Desa Kajen ini. Saat itu kegiatannya yang pertama adalah mengkoordinasi pengangkutan sampah.

Anggota komunitas tersebut menyediakan jasa membuang sampah kepada warga. Pertama kali terjun, tantangan banyak sekali. Tak sedikit yang mencibir memang. ”Namun kami semua tak patah semangat. Kegiatan terus kami lakukan, hingga akhirnya masyarakat bisa menerima. Kini hampir 90 persen masyarakat Kajen menyerahkan sampahnya untuk dikelola di kami,” imbuh Karim. Kalau tidak dikordinasikan, membuang sampahnya bisa sembarangan.

Tak hanya itu, Karim bersama kawan-kawannya juga berusaha membuat masyarakat bisa untung dengan sampah. ”Kami mencoba menghadirkan sampah menjadi berkah. Bukan lagi sebagai sebuah masalah,” kata mahasiswa Pemberdayaan Masyarakat Islam Ipmafa Pati ini.

Caranya, lanjut Karim, didirikan bank sampah. Warga kami ajak menabung sampah. Dengan begitu, mereka tak hanya membuang sampah begitu saja. Namun sampahnya bisa dirupiahkan. ”Dengan begitu masyarakat menjadi senang,” kata pemuda yang aktif di Karang Taruna Sumohadiwijayan Desa Kajen ini.

Bahkan, kedepan Karim beserta rekan-rekannya menyiapkan program untuk pemberdayaan masyarakat lainnya. Karim merencanakan akan mendorong warga Kajen untuk menanam.

”Meskipun di Kajen tak ada lahan bercocok tanam, dan pekarangan, namun kami akan mendorong untuk memakai hidroponik. Ya biar masyarakat bisa menanam sayur-sayuran begitu. Kami akan fasilitasi pupuk. Kebetulan bank sampah kami juga ada pengolahan sampah organik. Kami bisa menghasilkan pupuk cair dan juga pupuk padat,” imbuh Karim. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 31 Jan 2019 09:51:25 +0700
<![CDATA[Miliki 90 Jenis Anggur Impor, Terbesar Kelima Se-Jateng]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/116910/miliki-90-jenis-anggur-impor-terbesar-kelima-se-jateng https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/miliki-90-jenis-anggur-impor-terbesar-kelima-se-jateng_m_116910.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/31/miliki-90-jenis-anggur-impor-terbesar-kelima-se-jateng_m_116910.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/31/116910/miliki-90-jenis-anggur-impor-terbesar-kelima-se-jateng

Mochammad Yusuf memang hanya tamatan MTs. Tetapi, dia dijuluki ”professor” anggur. Ini berkat keuletannya mengembangkan anggur berbagai varian.]]>

Mochammad Yusuf memang hanya tamatan MTs. Tetapi, dia dijuluki ”professor” anggur. Ini berkat keuletannya mengembangkan anggur berbagai varian. Uniknya, ilmunya diperoleh lewat belajar otodidak dengan komunitas di Facebook.

WISNU AJI, Rembang

UNTUK menjadi professor, butuh sekolah tinggi. Tetapi, tidak demikian dengan warga Pamotan, Rembang satu ini. Namanya Mochmamad Yusuf. Dirinya hanya lulusan MTs. Tetapi ilmunya melebihi status sekolah yang ditempuh.

Dirinya mendapatkan julukan profesor. Namun ini hanya melekat dari kesibukannya saat ini sebagai pengembang tanaman anggur. Memang lulusan pondok Senori, Tuban kerjanya serabutan. Dulunya juga pernah kuli bangunan.

Tetapi motivasinya untuk berkembang besar. Buktinya, dia yang terlahir dari keluarga petani, berusaha keras mencari ilmu. Ilmu yang diperoleh tidak hanya lewat sekolahan. Tetapi dia menjelah di dunia maya.

Awalnya dia buka-buka Facebook. Akhirnya menemukan grup komunitas pembudidaya buah impor. Akhirnya dia tertarik masuk di dalamnya. Lalu, pada 2015 lalu dirinya iseng-iseng mencoba menanam anggur merah. Saat itu media yang digunakan lahan pekarangan rumah. Wajar, modal yang dimiliki pas-pasan.

Selain terkendala modal, dirinya belum familiar menanam anggur. Hampir 1,5 tahun anggur yang ditanam belum berbuah. Justru dirinya makin penasaran. Sebab, yang berkembang pesat hanya pohonnya.

Perlahan, namun langkahnya pasti. Dirinya tidak malu belajar. Akhirnya kembali meminta masukan dari rekan-rekannya yang lebih mahir. ”Menanam anggur, tidak sekadar disiram dan dikasih pupuk. Tapi ada pemangkasan yang tepat sasaran dan waktu,” itu kata teman yang memberikan pencerahan bagi saya.

Dia mengaku, awalnya dia hanya tahu anggur merah. Dia menanam selama 1,5 tahun sering gagal, karena tidak berbuah. Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat. Anakan hasil cangkok ditanam di pekarangan rumahnya. Ternyata ada yang merambat di pohon belimbing.

Salah satu ujung cabangnya patah. Nah, di situ justru muncul buah anggur. Akhirnya ia menemukan teknik, untuk memotong cabang yang masih hijau. Ternyata benar, pohon berbuah. Hal ini membuat dirinya makin tertarik mendalami belajar menanam anggur.

Karena tahu tekniknya warga RT 3/RW 2, Desa Japerejo, Kecamatan Pamotan, Rembang, ini, mencoba menanam di area persawahan. Kebetulan orang tuanya memiliki lahan. Dulunya untuk tebu. Luasnya sekitar 1/4 hektare di dekat tempat tinggalnya.

Bibit yang ditanam merupakan hasil cangkokan. Untuk lebih bervariatif, dirinya berburu bibit juga di Singgahan, Tuban. Lalu, mencari varian lain dengan impor dari Ukraina. Harganya sampai Rp 2,5 juta per tiga batang. Itu belum termasuk ongkos kirim.

Kini, usia tanaman anggurnya sudah empat bulan. Dengan jenis varian yang dimiliki 90 macam anggur impor. Kini, terus diseleksi mana yang cocok. Kebetulan sudah ada 10 lebih jenis anggur yang berbuah. Ada yang merah, hijau, kuning, dan hitam.

Memang tempat tinggalnya terbilang cocok. Kontur tanah dataran rendah di Desa Japerejo, Kecamatan Pamotan. Jadi, tanaman mendapatkan sinar matahari yang cukup, sehingga hasilnya bagus.

Dari ketelatenannya, Yusuf sering mendapatkan order pesanan bibit. Pemesan datang dari Semarang, Magelang, Bantul, hingga Riau. Saat ini, dia berstatus sebagai pembudidaya anggur terbesar ke-5 se-Jawa Tengah (Jateng).

”Kalau ada yang ingin mencicipi ya silakan datang ke sini datang di rumah. Kalau ingin belajar, saya juga silakan dan gratis,” ujarnya.

Bibit dengan harga termurah jenis ninel dia jual seharga Rp 50 ribu. Paling mahal jenis alvatar, kuat menembus harga Rp 5 juta. Keunikan jenis ninel itu, buahnya lonjong mirip terong. Sejak Lebaran 2018 sampai sekarang, omzet penjualannya diperkirakan sudah di atas Rp 50 juta. (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 31 Jan 2019 07:44:08 +0700
<![CDATA[Lebih Tertantang karena Dilantik saat Banyak Bencana]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/30/116716/lebih-tertantang-karena-dilantik-saat-banyak-bencana https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/30/lebih-tertantang-karena-dilantik-saat-banyak-bencana_m_116716.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/30/lebih-tertantang-karena-dilantik-saat-banyak-bencana_m_116716.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/30/116716/lebih-tertantang-karena-dilantik-saat-banyak-bencana

Salah satu marinir asal Jepara yang berkarir di TNI berhasil menjadi komandan resimen angkatan laut. Dia Kolonel Marinir Citro Subono menjabat Danmen Banpur.]]>

Salah satu marinir asal Jepara yang berkarir di TNI berhasil menjadi komandan resimen angkatan laut. Dia Kolonel Marinir Citro Subono yang menjabat sebagai Komandan Resimen Bantuan Tempur (Danmen Banpur) 2 menggantikan Kolonel Marinir Arinto Beni Sarana yang menjadi Sahli Koarmada I Jakarta.

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara

JABATAN membanggakan disandang Kolonel Marinir Citro Subono. Putra asal Kabupaten Jepara itu, kini menjabat sebagai komandan Resimen Bantuan Tempur 2 TNI Angkatan Laut (AL). Dia sudah mengikuti upacara serah terima jabatan sebagai di Lapangan Apel Sutedi Senaputra Kesatrian Bhumi Marinir, Karang Pilang, Surabaya, pekan lalu.

Sebelum pelepasan dan penyematan Danmen Banpur tanda sertijab, Citro diambil sumpah di hadapan peserta upacara sertijab. Dia juga meneken pakta integritas sebelum menjabat Danmen Banpur. Pria asal Dukuh Randusari, Desa Tahunan, Jepara, membawahi beberapa batalyon. Meliputi Yon Zeni 2 Mar, Yon Bekpal 2 Mar, Yon Angmor 2 Mar, Yon Komlek 2 Mar, Yon Kesehatan 2 Mar, dan Yon Pom 2 Mar.

Laki-laki yang dikenal ramah dan hobi off road ini, mengatakan, jabatan baru yang ia emban sebagai kehormatan yang tidak ternilai. ”Saya diberi amanah menjabat. Jadi Danmen Banpur 2. Pasti siap meningkatkan profesionalisme prajurit petarung. Resimen yang didukung dengan teknologi mutakhir guna mendukung tugas dalam operasi amfibi dan pendaratan,” katanya.

Di samping itu, selain tugas perang, Menbanpur 2 selalu terdepan dan pertama yang kirim dalam penanggulangan bencana. Atas prestasi yang diraihnya, ia merasa bangga menjadi orang Jepara pertama yang menjadi Danmen Banpur 2. ”Bangga bisa menjadi putra Jepara dalam tugas negara yang mulia ini,” imbuhnya.

Menurutnya, Menbanpur 2 Marinir cukup memiliki peran strategis. Tugas pokoknya menyediakan kekuatan untuk melaksanakan tugas bantuan perbekalan, angkutan bermotor, komunikasi, zeni, provos, dan kesehatan. Pasukan ini sering diterjunkan untuk membantu korban bencana. Seperti bencana alam di Palu, Lombok, Banten, dan kecelakaan pesawat terbang belum lama ini.

Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi Citro Subono sebagai komandan baru. Apalagi jabatan baru ini, dia terima pada masa saat musim hujan dan angin yang biasanya banyak bencana alam. Hal ini, membuat jenderal bintang satu tersebut selalu siaga. Terlebih untuk menyiagakan pasukan agar siap bertugas di medan bencana.

Selain itu, pasukan Menbanpur disiagakan untuk kebutuhan internal organisasi. Yakni, operasi pendaratan amfibi, pertahanan pantai, dan operasi dari satuan tugas TNI-AL lain.

”Untuk itu, kami selalu siagakan satu pasukan reaksi cepat penanggulangan bencana yang siap berangkat kapan pun jika terjadi bencana," tandas lulusan SMA Negeri 1 Jepara tahun 1993 ini. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 30 Jan 2019 08:03:36 +0700
<![CDATA[Dari Tukang Cuci Piring, 14 Kali Jadi Manajer]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/29/116577/dari-tukang-cuci-piring-14-kali-jadi-manajer https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/29/dari-tukang-cuci-piring-14-kali-jadi-manajer_m_116577.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/29/dari-tukang-cuci-piring-14-kali-jadi-manajer_m_116577.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/29/116577/dari-tukang-cuci-piring-14-kali-jadi-manajer

Menjadi manajer hotel tidak pernah terbayangkan oleh Iwan Suprajitno. Karirnya di perhotelan dimulai dari tukang cuci piring. Lalu, dipercaya jadi pelayan tamu.]]>

Menjadi manajer hotel tidak pernah terbayangkan oleh Iwan Suprajitno. Karirnya di perhotelan dimulai dari tukang cuci piring. Lalu, dipercaya untuk menjadi pelayan tamu. Dari situlah karirnya mulai menanjak. Hingga, 14 kali mendapat kepercayaan jadi manajer hotel.

SIROJUL MUNIR, Grobogan

PENAMPILAN selalu rapi dan ramah. Itulah yang nampak ketika bertemu dengan Iwan Suprajitno. Sebagai seorang manajer hotel, pria kelahiran Malang, 24 Oktober 1972 ini selalu supel dan dekat semua orang. Bahkan, sifat itu terlihat bertemu dengan tamu hotel dan siapa saja yang ada di depannya.

Karir Iwan benar-benar dimulai dari bawah. Pekerjaan awalnya tak berada di hotel. Iwan justru mengawali karirnya sebagai seorang buruh di pabrik rotan. Tak lama, barulah dia pindah ke sebuah hotel di Surabaya.

Pria berkacamata ini pertama kali bekerja di hotel sebagai tukang cuci piring. Hari-harinya berkecimpung di dapur. Setelah itu, karirnya perlahan mulai menanjak. Dia dipercaya menjadi pelayan dan pengantar tamu. ”Dari mencuci piring itu, saya jadi tahu seluk beluk dapur hotel,” ungkapnya.

Dari situlah, Iwan mulai tertarik untuk terus berkarir di dunia perhotelan. Dia kemudian memutuskan untuk kuliah. Mengambil jurusan perhotelan di salah satu institut perhotelan. Setelah lulus, karir Iwan di dunia perhotelan langsung menanjak.

Berbekal pengalaman dan latar belakang pendidikan di bidang perhotelan, dirinya mendapatkan bekerja di beberapa hotel di Indoensia. Dimulai bekerja sebagai waiters, bartender, supervisor, dan area accounting. Pekerjaan itu, dilakukan dengan pindah-pindah di hotel. Bahkan, Iwan sudah 14 kali dipercaya menjadi manajer hotel. Mulai dari bintang satu sampai bintang lima.

”Karir saya naik waktu di Jayapura tahun 2009. Saya setahun di sana jadi accounting GM dan jadi Plt manajer. Karena karir saya bagus. Saya ditarik ke pusatnya di Jakarta,” terang dia.

Lama di Jakarta selama tiga tahun, dirinya diminta atasannya untuk mengurusi bisnis selain hotel. Yaitu menjalankan bisnis properti, swalayan, dan kontraktor. Hingga akhirnya mendapatkan prestasi.

”Saya ditarik lagi ke hotel di Jayapura. Kemudian pindah di Surabaya, Bali, Makasar, Magelang, Bintan, dan Batam,” tambahnya.

Prestasi tersebut menjadikan dirinya mendapatkan tawaran untuk menjadi Manajer Kyriad Grand Master Hotel Purwodadi. Di tangan Iwan, hotel bintang tiga di Kota Swieke mempunyai banyak inovasi.

Berbagai even digelar untuk mendekatkan diri ke konsumen. Iwan juga menggandeng pemerintah daerah dalam menjalankan hotel tersebut. Meski tak berada di kota besar, dia menilai prospek hotel di Purwodadi sangat bagus.  ”Kami padukan antara hotel, master park, dan danau resto menjadi satu kesatuan,” tandasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 29 Jan 2019 14:51:40 +0700
<![CDATA[Wabup Kepincut Inovasi PT SI, Ingin Terapkan untuk RTHL]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/29/116489/wabup-kepincut-inovasi-pt-si-ingin-terapkan-untuk-rthl https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/29/wabup-kepincut-inovasi-pt-si-ingin-terapkan-untuk-rthl_m_116489.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/29/wabup-kepincut-inovasi-pt-si-ingin-terapkan-untuk-rthl_m_116489.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/29/116489/wabup-kepincut-inovasi-pt-si-ingin-terapkan-untuk-rthl

Sejumlah kalangan kepincut dengan material bedah rumah milik Mbah Lasmi. Tak terkecuali Wabup Rembang Bayu Andriyanto, berkeinginan menerapkan bata interlock.]]>

Sejumlah kalangan kepincut dengan material bedah rumah milik Mbah Lasmi. Tak terkecuali Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto. Bahkan, orang nomor dua di Kota Garam ini, berkeinginan menerapkan bata interlock hasil inovasi PT Semen Indonesia untuk bangunan rumah tak layak huni (RTLH) di Rembang.

ALI MAHMUDI, Rembang

POTONG PITA: Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto (bertopi) meresmikan bantuan bedah rumah dari CSR PT Semen Gresik di Desa Sridadi, Kecamatan Rembang. (HUMAS PT SG FOR RADAR KUDUS)

WAKIL Bupati (Wabup) Rembang Bayu Andriyanto terpukau dengan rumah percontohan dengan material bata interlock hasil inovasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Wabup bahkan tertarik menjalin kerja sama dengan perusahaan bisnis persemenenan terkemuka ini, untuk kegiatan pembangunan rumah tak layak huni (RTLH) di Kota Garam.

Hal ini disampaikan Bayu Andriyanto saat meninjau rumah baru Mbah Lasmi, 70, yang merupakan bantuan dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk kemarin. Janda tua warga Desa Sridadi, Kecamatan Rembang, ini terpilih sebagai penerima bantuan RTLH dengan material bata interlock hasil inovasi terbaru Semen Indonesia (SI).

Dalam kesempatan itu, wabup didampingi Sekda Rembang Subakti, kepala Dinsos Rembang, kepala Unit Komunikasi, dan CSR PT Semen Gresik Kuswandi juga melakukan pemotongan pita sebagai simbol penyerahan rumah bantuan Semen Indonesia itu kepada Mbah Lasmi.

”Nak niki nggeh mpun sae, Mbah (kalau ini sudah bagus, Mbah). Ini sudah bentuk rumah jadi siap ditempati," kata Bayu Andriyanto.

Karena penasaran, Bayu Andriyanto lantas bertanya seputar pembangunan RTLH percontohan dengan material batu bata interlock ini. Menurutnya, konsep pembangunan rumah yang berbiaya ringan, namun kuat dan tahan gempa itu cocok dikembangkan untuk perumahan di Rembang.

”Saya minta nomer kontak yang mengurusi rumah bata interlock ini. Cocok ini dikembangkan di Rembang," ujarnya.

Mbah Lasmi menerima bantuan dari Semen Indonesia setelah rumah lamanya ludes terbakar pada 19 November 2018 lalu. Tak sampai dua jam, rumah kayu yang diwarisi dari orang tuanya itu hanya tinggal arang dan abu. Tak ada barang berharga yang bisa diselamatkan. Berbagai perabot, surat-surat penting dan beragam sertifikat, gabah, hingga pakaian dilalap si jago merah. Kerugian material akibat kejadian ini ditaksir mencapai Rp 500 jutaan.

Kepala Unit Komunikasi dan CSR PT Semen Gresik Kuswandi, mengatakan, pembangunan RTLH Mbah Lasmi mulai dibangun pada 16 Desember 2018 dan rampung pada 6 Januari 2019 lalu. Bahan utamanya dari bata interlock yang merupakan material building produk turunan Semen Indonesia Grup. Bata interlock mirip dengan lego, sehingga ada bagian yang saling mengunci dan menguatkan. Praktis material ini juga lebih efisien dan irit, karena pemasangannya meminimalisasi semen dan pasir. Bata interlock juga menghemat waktu dalam pembangunan sebuah bangunan.

”Pembangunan rumah dengan bata interlock hanya memakan waktu 15 - 20 hari. Mulai dari pondasi hingga benar-benar siap dihuni. Ini juga bisa menekan biaya pembangunan," ujar Kuswandi.

Fasilitas di dalam rumah dengan bata interlock yang pembangunannya menelan anggaran Rp 47 juta ini, tergolong komplit. Mulai dari kamar tidur, kamar mandi, hingga ruang tamu. Selain itu, konsep pembangunan juga mengacu rumah sehat dan layak huni. Ventilasi udara dan pencahayaan diatur sedemikian rupa, sehingga penghuninya nyaman tinggal di rumah tersebut.

Selain mudah dikerjakan, rumah yang pembangunannya menggunakan bata interlock ini, juga tahan gempa. Sebab, bagian bata interlock yang mirip lego saling mengait, sehingga tahan goncangan gempa. Rumah ini juga ramah lingkungan, ekonomis, bernilai estetika, hemat material, dan juga membuat ruangan di dalamnya terasa sejuk.

”Rencananya tahun ini bantuan pembangunan RTLH dengan material bata interlock kami berikan untuk empat warga Sarang Meduro, Kecamatan Sarang, Rembang," terang Kuswandi.

Rumah baru Mbah Lasmi berukuran 4x 6 meter bantuan Semen Indonesia ini, sudah hampir tiga pekan ini dihuni. Kini, Mbah Lasmi juga bisa tidur lebih nyenyak di rumah berlantai keramik dan berdinding material bata interlock itu. Sebelumnya, ia tinggal di bekas kandang sapi beralas tanah dan berdinding anyaman bambu yang masuk kategori tidak layak huni.

”Remen sanget. Kulo niki kesusahan lajeng dibantu nggeh remen (Senang sekali. Saya ini sedang susah terus dapat bantuan jadi sangat bahagia)," tutur Mbah Lasmi.

Sementara itu, Kades Sridadi Edi Purwanto mengapresiasi upaya yang dilakukan Pemkab Rembang dan Semen Indonesia serta jajarannya, karena telah membantu Mbah Lasmi yang rumahnya ludes terbakar. Edi berharap, progam serupa bisa dilaksanakan secara berkelanjutan. Sebab, saat ini masih ada sekitar 40 RTLH di Desa Sridadi.

”Semoga yang dilakukan Semen Indonesia ini bisa memotivasi perusahaan lain," tandas Edi Purwanto.(*)

]]>
Ali Mustofa Tue, 29 Jan 2019 09:52:25 +0700
<![CDATA[Rutin Menjelajah, Gelar Diskusi, Bikin Film Dokumenter]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116326/rutin-menjelajah-gelar-diskusi-bikin-film-dokumenter https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/rutin-menjelajah-gelar-diskusi-bikin-film-dokumenter_m_116326.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/rutin-menjelajah-gelar-diskusi-bikin-film-dokumenter_m_116326.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116326/rutin-menjelajah-gelar-diskusi-bikin-film-dokumenter

Prihatin minimnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap peninggalan sejarah, Eko Arifianto bersama rekan-rekan membentuk Tim Jelajah Blora.]]>

Prihatin minimnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap peninggalan sejarah, Eko Arifianto bersama rekan-rekan membentuk Tim Jelajah Blora. Empat setengah tahun berdiri, sudah banyak hal yang dilakukan Eko dkk untuk pelestarian sejarah.

SAIFUL ANWAR, Blora

MELIHAT artefak yang diduga peninggalan imperium Majapahit runtuh, Eko beserta rekannya benar-benar prihatin. Situs Lemahduwur yang berada di Desa Getas Kecamatan Kradenan itu kondisinya membuat mereka geleng-geleng kepala. Batu berprasasti dengan gambar matahari era Majapahit jatuh membujur di tanah. Kondisi cungkup juga ambruk dan dipenuhi semak belukar.

Eko dan rekan-rekan pun memotretnya, mengabadikan gambar kondisi situs itu. Eko bersama rekan-rekan berinisiatif agar situs tersebut lebih diperhatikan pemerintah setempat. Dia menghubungi pihak Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Blora dan melaporkan kondisi situs itu.

Sehari berselang, cungkup tempat diletakkannya prasasti bergambar matahari era Majapahit itu diberi garis pembatas oleh Dinbudpar Rembang. Agar, tak ada yang melewatinya. Dinas setempat juga berkomitmen untuk memberikan perhatian lebih mengenai sejarah peninggalan masa lalu.

Bukan sekali saja Eko dan rekan-rekan melakukannya. Dia sudah sejak pertengahan tahun 2014 bergerak untuk memberikan perhatian lebih kepada situs-situs yang berada di Kota Sate. Selain di Situs Lemahduwur, beberapa lokasi yang belum lama ini dikunjungi yaitu Situs Watutulis, Situs Sumurpitu, Gua Semar, Gua Agung, serta Gunung Batur.

”Kami juga banyak menemukan temuan-temuan yang diduga kuat peninggalan era Majapahit. Seperti fragmen bangunan dan terakota, fragmen gerabah, dan masih banyak yang lain,” tutur pria kelahiran Blora, 8 Mei 1976 itu.

Berdiri pada 18 Agustus 2014, Tim Jelajah Blora concern dan peduli pada situs peninggalan budaya bersejarah dan kelestarian lingkungan. Mereka muncul karena bentuk keprihatinan terhadap kurangnya perhatian dan apresiasi masyarakat dan pemerintah terhadap warisan kelestarian lingkungan dan budaya di Bora. Di tiap akhir pekan, Eko beserta rekan-rekan rutin melakukan penjelajahan.

”Peserta kadang banyak, hingga belasan sampai puluhan. Tapi kadang juga sedikit. Dua atau tiga orang,” tambah Eko yang tinggal di Jalan Sumodarsono 33 Kecamatan Kota Blora bersama istri dan dua anaknya itu.

Agenda tim ini, selain melakukan jelajah situs geologi dan budaya, juga aktif memproduksi film dokumenter, serta diskusi. Semua kegiatan itu ditujukan untuk memperkenalkan sejarah Blora kepada masyarakat. Sehingga memunculkan kecintaan terhadap warisan leluhur. Serta menjadi bekal pengetahuan generasi yang akan datang.

”Tidak hanya berbagi pengetahuan tentang situs-situs kebudayaan kepada khalayak ramai, kami juga menggelar kegiatan napak tilas sejarah. Biasanya setiap kegiatannya dirancang dengan santai,” kata Eko.

Kegiatan ini juga kerap mendatangkan sejarawan sebagai tamu untuk mengedukasi para pesertanya. Salah satunya adalah Martin Moentadhim Sri Marthawienata, penulis buku Pajang: Pergolakan Spiritual, Politik dan Budaya.

Selain sebagai wadah berhimpun dan belajar bersama, tim ini sekaligus menjadi tempat pengkajian potensi keanekaragaman hayati seperti situs-situs geologi dan peninggalan sosial dan budaya di Blora.

Eko menyebut, tim ini juga memiliki tujuan sebagai pusat data, dokumentasi, dan informasi tentang seni budaya dan lingkungan. Tim ini  terus berjuang mengembalikan daya guna lingkungan sehingga fungsinya tetap terjaga.

”Kami juga melakukan kajian tentang keanekaragaman kebudayaan, berupa studi penelitian mengenai temuan kitab atau serat kuno terkait dengan sejarah masa lalu. Seperti Kitab Tapel Adam dan Serat Sejarah Desa Janjang,” kata dia.

Ketika melakukan penelusuran, kerap kali tim ini juga menata dan membersihkan situs-situs yang tidak terawat. Semua dilakukan dengan sukarela mandiri oleh para anggota tanpa ada campur tangan pendanaan oleh pemerintah.

”Kami juga aktif melakukan koordinasi dengan institusi terkait seperti Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Blora, Museum Geologi Bandung, Balai Arkeologi Yogyakarta dan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran dalam berbagai kegiatan,” papar Eko.

Di antaranya seperti identifikasi fragmen fosil distal femur sinistra gajah purba yang ditemukan Tim di areal persawahan Kecamatan Banjarejo beberapa waktu lalu. Juga survey lapangan terkait penemuan fragmen geragah bermotif era Majapahit di Gunung Batur, Kecamatan Kedungtuban. ”Kalau sekarang ini, Tim sedang melakukan penelitian bersama warga di Situs Candi Lemahdhuwur, di Desa Getas yang kurang terawat tadi,” tukasnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 28 Jan 2019 14:43:05 +0700
<![CDATA[Gunakan Bata Mirip Lego, Rampung hanya 20 Hari]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116233/gunakan-bata-mirip-lego-rampung-hanya-20-hari https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/gunakan-bata-mirip-lego-rampung-hanya-20-hari_m_116233.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/gunakan-bata-mirip-lego-rampung-hanya-20-hari_m_116233.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116233/gunakan-bata-mirip-lego-rampung-hanya-20-hari

Sudah hampir tiga pekan ini Mbah Lasmi, 70, bisa tidur lebih nyenyak di rumahnya. Rumahnya kini berlantai keramik dan berdinding material bata interlock.]]>

Sudah hampir tiga pekan ini Mbah Lasmi, 70, bisa tidur lebih nyenyak di rumahnya. Rumahnya kini berlantai keramik dan berdinding material bata interlock hasil inovasi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. Sebelumnya, janda tua ini tinggal di bekas kandang sapi beralas tanah dan berdinding anyaman bambu. Masuk kategori tidak layak huni. Sebab, rumah sebelumnya ludes dilalap api.

USAI DIBEDAH: Rumah mbah Lasmi setelah dibangun dari CSR PT Semen Gresik (PT SEMEN GRESIK FOR RADAR KUDUS)

 ALI MAHMUDI, Rembang

 ”Remen sanget. Kulo niki kesusahan lajeng dibantu, nggeh remen (Senang sekali. Saya ini sedang susah terus dapat bantuan, jadi bahagia),” kata Mbah Lasmi saat ditemui tim Humas Semen Gresik akhir pekan lalu.

Kedatangan tim yang dipimpin Kepala Seksi Humas Semen Gresik Sugianto ini, dalam rangka melihat kondisi rumah Mbah Lasmi yang baru saja dibangun melalui dana CSR perusahaan persemenan terkemuka di Tanah Air ini. Rencananya, Senin (28/1) siang, rumah berukuran 4x6 meter yang berlokasi di Desa Sridadi, Kecamatan/Kabupaten Rembang, ini akan diserahterimakan dari Semen Indonesia kepada Mbah Lasmi.

Rumah baru Mbah Lasmi ini, mulai dibangun pada 16 Desember 2018 dan rampung pada 6 Januari 2019 lalu. Bahan utamanya dari bata interlock yang merupakan material building produk turunan Semen Indonesia Grup.

Bata interlock mirip dengan lego, sehingga ada bagian yang saling mengunci dan menguatkan. Praktis, material ini juga lebih efisien dan irit, karena pemasangannya meminimalisasi penggunaan semen dan pasir. Bata interlock juga menghemat waktu dalam pembangunan. Hal ini dibuktikan dengan pembangunan rumah Mbah Lasmi yang hanya memakan waktu sekitar 20 hari. Mulai dari pondasi hingga benar-benar siap dihuni.

Fasilitas di dalam rumah baru Mbah Lasmi yang pembangunannya menelan anggaran Rp 48,5 juta ini, tergolong komplet. Mulai dari kamar tidur, kamar mandi, hingga ruang tamu.

Selain itu, konsep pembangunan juga mengacu rumah sehat dan layak huni. Ventilasi udara dan pencahayaan diatur sedemikian rupa, sehingga lansia ini nyaman tinggal di rumah tersebut.

”Kulo dungoaken mugi-mugi pabrik semen ingkang sampun bantu tambah lancar. Dados saget tambah migunani kangge tiyang kathah. (Saya doakan semoga pabrik semen yang sudah membantu bertambah lancar. Sehingga bisa lebih bermanfaat untuk orang banyak)," harap Mbah Lasmi.

Rumah lama Mbah Lasmi ludes terbakar pada 19 November 2018 sore. Tak sampai dua jam, rumah kayu yang diwarisi dari orang tuanya itu, hanya tinggal arang dan abu. Tak ada barang berharga yang bisa diselamatkan. Berbagai perabot, surat-surat penting, beragam sertifikat, gabah, bahkan hingga pakaian dilalap si jago merah. Kerugian material akibat kejadian ini, ditaksir mencapai Rp 500 juta.

Mbah Lasmi yang saat kejadian berada di teras rumah tak bisa berbuat apa-apa. Kerabat dan tetangganya ”menahan” nenek ini, ketika hendak berusaha menyelamatkan harta bendanya. Sebab, api yang berasal dari dalam rumah terlihat sudah berkobar tinggi. Dikhawatirkan justru mengancam keselamatan jiwa Mbah Lasmi.

Satu-satunya anak yang masih tinggal serumah dengan Mbah Lasmi, Mukhlas, 39, saat kejadian tak ada di rumah. Sialnya lagi, tim pemadam kebakaran yang dihubungi perangkat desa sempat tersesat. Saat tiba di lokasi kejadian, api sudah terlanjur membesar dan membakar seluruh bagian rumah beserta berbagai barang yang ada di dalamnya.

”Mboten wonten ingkang saget diselamatke, namung rasukan sarasan engkang kulo agem. (Tidak ada yang bisa diselamatkan, cuma baju yang saya pakai)," kenang Mbah Lasmi.

Sehari-hari, Mbah Lasmi tinggal bersama Mukhlas. Suami Mbah Lasmi sudah meninggal dunia 25 tahun lalu. Dari lima anaknya, dua orang juga sudah meninggal dunia. Sedangkan dua anak lainnya sudah berumah tangga dan tidak lagi tinggal serumah.

Saat ditemui, Mukhlas juga mengucapkan terima kasih atas bantuan pembangunan rumah dari Semen Indonesia Grup ini. Berkat bantuan itu, ia dan ibunya tak lagi menghuni bekas kandang sapi. ”Terima kasih, semoga ini bisa lebih menyemangati saya untuk bangkit lagi," ucap Mukhlas.

Selain serah terima pembangunan RTLH milik Mbak Lasmi, Senin (28/1) siang juga akan dilakukan penyerahan kegiatan pengaspalan Jalan Lingkar Timur dari PT Semen Gresik kepada Pemkab Rembang. Dana CSR yang dikucurkan Semen Gresik untuk pengaspalan tahap III ini, mencapai Rp 525 juta. Panjang jalan yang diaspal 85,7 meter yang ada di dua titik Desa Tireman.

Kepala Biro Humas dan CSR PT Semen Gresik Kuswandi, mengatakan, kegiatan perbaikan Jalan Lingkar Timur Rembang yang dikerjakan jajarannya ini, sudah berlangsung tiga tahap. Untuk tahap pertama, menelan anggaran Rp 500 juta. Sedangkan tahap kedua, berupa pengaspalan dan pengecoran anggarannya mencapai Rp 3,57 miliar.

”Semoga berbagai kegiatan CSR yang dilakukan Semen Gresik bermanfaat untuk masyarakat, sekaligus membantu progam pembangunan Pemkab Rembang," harapnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Mon, 28 Jan 2019 08:22:14 +0700
<![CDATA[Jadi Model, Juga Bikin Kostum untuk Peragaan Busana]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/26/116032/jadi-model-juga-bikin-kostum-untuk-peragaan-busana https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/26/jadi-model-juga-bikin-kostum-untuk-peragaan-busana_m_116032.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/26/jadi-model-juga-bikin-kostum-untuk-peragaan-busana_m_116032.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/26/116032/jadi-model-juga-bikin-kostum-untuk-peragaan-busana

Muda, kreatif, dan berprestasi. Tiga kata yang cocok dialamatkan kepada Dwi Rahma Callista. Selain menjadi model, bocah berusia 13 tahun juga membikin kostum.]]>

Muda, kreatif, dan berprestasi. Tiga kata yang cocok dialamatkan kepada Dwi Rahma Callista. Selain menjadi model, bocah berusia 13 tahun juga mampu membikin kostum untuk peragaan busana.

 INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan

 DI usia 13 tahun, berbagai prestasi di bidang modelling hingga peragaan busana telah diraih Dwi Rahma Callista. Saking kerapnya mengikuti berbagai ajang kompetisi, membuatnya ingin terus tampil maksimal. Apalagi memakai busana buatan sendiri.

”Semua kostum yang saya pakai juga terkonsep. Mulai dari kepala hingga sepatu. Karena harus sesuai tema. Untuk kostum setiap lomba fashion sudah disiapkan jauh-jauh hari,” ujarnya.

Menurut Tata – sapaan akrab – Dwi Rahma Callista, untuk ide konsep didapatkan dari mana saja. Tentu dengan mengutamakan keanggunan, keren hingga unik.

”Dari kecil sampai sekarang juga sudah banyak kostum yang saya punya. Saking banyaknya ada yang dibeli teman sesama model. Ada juga yang disewakan di Semarang. Lumayan menguntungkan,” katanya.

Tata ingin selalu tampil maksimal setiap akan tampil. Meski harus merogoh kocek cukup lumayan. Untuk biaya pembuatan kostum mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta. Dia pun kerap menggunakan desain yang beda dari yang lain.

”Untuk baju pesta atau glamour biasanya bisa menghabiskan anggaran Rp 2,5 juta. Waktunya pun bervariasi. Sekitar 1-2 bulan untuk pembuatan. Untuk baju kasual paling Rp 500 ribu dan membutuhkan waktu lebih singkat. Paling sekitar dua pekan,” imbuh gadis kelahiran Grobogan, 12 Juni 2005 ini.

Kerap tampil di berbagai acara membuat Tata mulai dilirik desainer ternama. Kini dia kerap memperagakan busana desainer ternama. Salah satunya Niki Hutomo. ”Ini menjadi impian saya dari dulu. Sebab saya mulai dilirik desainer. Bahkan menjadi poin lebih tersendiri mengingat usia saya masih sangat muda,” ujarnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 26 Jan 2019 12:21:37 +0700
<![CDATA[Jelang Kelulusan Berhasil Terbitkan Dua Buku]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/26/115981/jelang-kelulusan-berhasil-terbitkan-dua-buku https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/26/jelang-kelulusan-berhasil-terbitkan-dua-buku_m_115981.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/26/jelang-kelulusan-berhasil-terbitkan-dua-buku_m_115981.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/26/115981/jelang-kelulusan-berhasil-terbitkan-dua-buku

Taufiq Hakim berhasil menulis karya ilmiah di beberapa jurnal. Dia juga menulis buku tentang Kiai Soleh Darat dan Syekh Siti Jenar.]]>

Taufiq Hakim berhasil menulis karya ilmiah di beberapa jurnal. Dia juga menulis buku tentang Kiai Soleh Darat dan Syekh Siti Jenar. Dua karya itu muncul lantaran tidak sengaja. Di sela menunggu skripsi disetujui pembimbing, dia ditawari penerbit untuk menulis dua tokoh itu.

SRI PUTJIWATI, Pati

BERBAGAI prestasi telah diraih Taufiq Hakim sejak duduk di bangku sekolah. Terutama di bidang teater dan musikalisasi puisi. Pria yang akrab disapa Hakim ini jug aktif di beberapa organisasi. Salah satunya marching band hingga saat kuliah, masih suka bermain alat musik tradisional.

Dua tahun lalu ia lulus dari Jurusan Sastra Nusantara Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Setelah lulus, Hakim bekerja di UGM. Selama kuliah di sana, dirinya memperoleh beasiswa Bidikmisi. Beasiswa ini sangat meringankan beban orang tuanya. Terlebih hanya ibu dari anak keempat dari lima bersaudara ini yang bekerja di warung kecil di Kajen. Sedangkan ayahnya tidak bekerja setelah mengalami kecelakaan.

“Kalau tidak mendapatkan beasiswa, tidak tahu bisa kuliah atau tidak. Untuk menambah uang saku, saya menulis, membuat jurnal, menjadi asisten penelitian dosen, dan terkadang mengedit buku dari penerbit. Semuanya saya lakukan. Yang penting bisa kuliah sampai lulus. Kebetulan saya sudah suka menulis di majalah sekolah,” kata warga Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Pati ini.

Menurutnya, setiap orang punya bakat. Akan tetapi bakat hanya membawa orang ke satu hal saja. Berbeda dengan orang yang mau bekerja keras dan tekun. Karena kerja keras bisa membawa orang kemana saja. Artinya, seseorang bisa berbakat apa saja dengan bekerja keras.

Berkat perjuangannya, dia lulus tepat waktu awal 2017 lalu. Namun menjelang kelulusan ketika menunggu ACC skripsi, dirinya jenuh karena terlalu lama menunggu dosen pembimbingnya karena dua dosen pembimbingnya sedang berhalangan. Saat menunggu dosen, ia tiba-tiba ditawari penerbit untuk menulis konten buku sejarah lokal.

Tawaran itu diiyakan lantaran dia suka berhubungan dengan naskah kuno. Alumni MA Salafiyah Kajen ini memilih menulis tentang Kiai Soleh Darat karena mempunyai beberapa naskah. Kiai Soleh Darat pernah mondok di Kajen waktu kecilnya. Hakim menulis buku itu dalam waktu kurun dua bulan setelah melakukan penelitian salah satunya mendatangi cucu kiai di Semarang.

“Buku itu tentang bagaimana kiai di pesisir Jawa melakukan pergerakan kultural dalam pendidikan. Kiai Soleh Darat juga ikut berjuang dalam kemerdekaan melawan penjajah dan mengajak orang untuk lebih nasionalis. Bukunya tentang geografi singkat dan pemikiran-pemikirannya,” imbuhnya.

Buku tersebut telah beredar secara nasional. Usai menulis buku tentang Kiai Soleh Darat, laki-laki kelahiran Pati, 26 Juni 1993 ini kembali menulis buku tentang Syek Siti Jenar pada 2018. Ia menulis buku tersebut karena melihat panasnya suhu politik agama yang ada di Indonesia saat itu.

Pria yang sering mengikuti konferensi presentasi makalah naskah kuno di tingkat nasional hingga internasional ini sangat suka mempelajari naskah kuno. Walaupun kini disibukkan dengan rutinitas di Jogjakarta, laki-laki yang suka dengan karawitan ini ikut merintis Museum dan Islamic Center Kajen.

“Museum itu untuk merekonstruksi dan melestarikan sejarah Kajen. Museum ini dirintis oleh tokoh dan pemuda di Kajen dari berbagai unsur. Disana saya ikut menggerakkan anak-anak muda Kajen supaya melestarikan sejarahnya sendiri. Sejarah Kajen itu sangat banyak dan perlu dirawat. Ini harus dilakukan sejak sekarang,” imbuhnya. (*)

]]>
Ali Mustofa Sat, 26 Jan 2019 09:20:54 +0700
<![CDATA[Sumber Energi Pakai Baterai Laptop Bekas]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/25/115788/sumber-energi-pakai-baterai-laptop-bekas https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/25/sumber-energi-pakai-baterai-laptop-bekas_m_115788.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/25/sumber-energi-pakai-baterai-laptop-bekas_m_115788.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/25/115788/sumber-energi-pakai-baterai-laptop-bekas

Kecintaannya terhadap kendaraan listrik, membuat Ahmad Fatoni menemukan ide cemerlang untuk merangkai ulang motor listrik yang sudah rusak.]]>

Kecintaannya terhadap kendaraan listrik, membuat Ahmad Fatoni menemukan ide cemerlang untuk merangkai ulang motor listrik yang sudah rusak. Bahkan sumber energinya mengunakan baterai laptop bekas.

SUBEKAN, Blora

 NAMANYA Ahmad Fatoni ini merupakan guru SMK Muhammadiyah 2 Cepu. Tak sebatas menjadi pendidik, dia juga piawai merakit motor listrik. Uniknya, motor listrik rakitannya itu, memanfaatkan baterai bekas laptop sebagai sumber energinya.

Toni –sapaan akrabnya- mengaku, ia mulai merakit ulang motor listrik bertenaga baterai laptop ini, sejak November 2018 lalu. Awalnya dia mendapatkan motor listrik bekas dari salah satu temannya di Jawa Barat. Motor itu, dikirim melalui kendaraan pegangkut cabai hingga Cepu, Blora.

”Motor listrik itu awalnya sudah tidak bisa lagi digunakan. Lantaran baterainya sudah tidak ada,” terangnya.

Sesampainya di Cepu, ternyata motor itu dinilai masih bagus. Dinamonya dengan kekuatan 6.00 watt juga dalam kondisi normal. Hanya tidak ada baterainya.

Melihat hal itu, dia langsung putar otak. Sebab, harga baterai baru harganya mahal. Satu baterai bisa mencapai Rp 2 juta. Karena keterbatasan dana dan ingin motor listriknya tetap bisa hidup, dia mendapatkan ide untuk menggunakan baterai laptop bekas. ”Satu baterai (laptop bekas) cuma Rp 7 ribuan. Saya langsung saja pesan (baterai laptop bekas) lewat teman,” jelasnya.

Saat itu Fatoni memesan sekitar 600 baterai. Sayangnya bukan satu merek. Sehingga dia harus memilah. Sebab tidak semua baterai bisa digunakan.

Kemudian dia rakit menjadi satu. Setiap rakitannya mengunakan 286 buah buah baterai. Setiap satu baterai memiliki tenaga rata-rata 1,5 ah. ”Secara total baterai ini, memiliki kekuatan 50 ah,” jelas pria berambut cepak ini.

Setelah dirangkai, selanjutnya melakukan penstabilan saat mengecas. Untuk itu, dia mengunakan battery management system (BMS). Sehingga bisa merata masuk dalam baterai. ”Tapi, terkadang ada baterai yang tidak bisa dicas. Itu terlihat dari BMS yang ada lampunya. Jika semua bisa dicas, ada penunjuk lampu yang menyala. Jika tidak ya tidak menyala. Baterainya harus diganti,” ujarnya.

Toni mengaku, selama ini dia hanya menggunakan ilmu prakiraan. Meski hasilnya kurang stabil, namun motornya sudah bisa digunakan dan diuji coba untuk bekerja. ”Seharusnya ada penelitian dahulu terkait daya tampung setiap baterai itu. Agar kapasitas baterai itu bisa merata. Saat dicas bisa penuh bareng dan habis bareng. Bukan seperti milik saya sekarang. Tidak stabil. Karena tidak bisa melakukan penelitian satu-satu terkait baterainya. Karena untuk meneliti dan mengukur kemampuan baterai itu alatnya mahal,” ujarnya sambil terkekeh.

Sakarang dengan baterai rangkaiannya itu, motor listriknya sudah bisa berjalan sejauh 11 kilometer dengan kecepatan sekitar 40 kilometer per jam. Untuk jarak tempuh itu, dia cukup melakukan cas selama dua jam.

Dia mengaku, tujuan awal dirinya merangkai ulang motor listrik tersebut, tidak lain untuk digunakan berangkat kerja. Agar tidak perlu boros beli bahan bakar minyak (BBM) dan mengurangi polusi udara.

”Saya memang suka sekali dengan motor listrik. Apalagi saya suka dengan dunia kelistrikan sejak kuliah. Saat kuliah di STTR Cepu, saya ambil jurusan tehnik mesin. Saat itu, saya sudah melakukan penelitian yang dibiayai oleh Dirjen Dikti,” kenangnya.

Selain merakit motor tenaga listrik menggunakan baterai bakas laptop, dia juga menggunakan solar cell sebagai sumber listrik di rumahnya. Bahkan, sudah dua tahun ini. (*)

]]>
Ali Mustofa Fri, 25 Jan 2019 08:50:36 +0700
<![CDATA[Tak Boleh Main Ortu kalau Belum Selesaikan Pekerjaan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/24/115559/tak-boleh-main-ortu-kalau-belum-selesaikan-pekerjaan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/24/tak-boleh-main-ortu-kalau-belum-selesaikan-pekerjaan_m_115559.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/24/tak-boleh-main-ortu-kalau-belum-selesaikan-pekerjaan_m_115559.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/24/115559/tak-boleh-main-ortu-kalau-belum-selesaikan-pekerjaan

Nafika Asnaita Yasmine di usia 27 tahun telah memiliki usaha. Ketika melanjutkan di jurusan kedokteran usahanya sempat terhenti. Ke depan buka klinik kecantikan]]>

Nafika Asnaita Yasmine di usia 27 tahun telah memiliki usaha. Ketika melanjutkan di jurusan kedokteran usahanya sempat terhenti. Setelah lulus kuliah kedokteran ia praktik. Dalam waktu dekat ini membuka klinik kecantikan di Kabupaten Grobogan.

 INTAN M SABRINA, Grobogan

PERAN keluarga dalam kesuksesannya cukup besar di diri Nafika Asnaita Yasmine. Perempuan berusia 27 tahun pada 2 Agustus ini telah memiliki berbagai penghasilan. Saat duduk di bangku SMA dia buka usaha sendiri. Saat itu Fika membuka bisnis salon selama tiga tahun. Untuk mendalami skill-nya ia mengikuti kursus salon di Johnny Andrean Semarang.

Ia memilih sementara bisnisnya dihentikan dulu saat memasuki dunia perkuliahan. Meski tak membuka bisnis sendiri, selama kuliah ia kerap membantu bisnis kedua orang tua dan kakaknya. Yaitu kuliner.

”Dulu liburan sekolah dan kuliah jarang sekali main. Sampai dulu teman ada yang sampai jemput saya, tetap tidak dibolehin orang tua. Saya harus membantu dulu. Kalau sudah selesai bantu, baru boleh main. Sekiranya sore hari baru kelar semua kerjaan,” kesannya,

Terlebih saat libur panjang bisnis kuliner sedang ramai-ramainya. Berkat ketekunannya sejak kecil di sanalah ia mendapatkan pengalaman. Ia mulai akrab dengan dunia bisnis.

Mulailah pada 2015 ia memberanikan diri membuka bisnis kuliner. Lokasinya di Kota Purwodadi. Bisnis yang ia kelola itu diberi nama ‘Kedai Cangkir’.

Meski belum lulus kuliah di Jurusan Kedokteran Unissula Semarang, Fika dibantu kakak dan ibunya berani membuka bisnis kuliner. ”Memang basic-nya bisnis. Karena Ayah lebih dulu membuka bisnis kuliner. Rumah Makan Noroyono yang menjadi kuliner legenda di Kabupaten Grobogan. Kemudian kakak juga membuka bisnis. Merupakan cabang dari bisnisnya ayah. Ada di Kecamatan Gubug dan Wirosari,” ujarnya.

Tak mau kalah dengan orang tuanya, ia langsung membuka bisnis kuliner soto. dinamai Kedai Cangkir. Hasil dari bisnisnya langsung ia tabung.

Setelah lulus di kedokteran pada 2016, ia sempat mengikuti kursus Professional Medic Threadment Course di Esthetico Derma Institute Semarang. ”Dasarnya memang saya suka bergelut di dunia kecantikan. Saya pakai keahlian saya untuk mendalami bidang aesthetic ini,” ujarnya.

Taka lama berbekal sertifikat tersebut, pada September 2017 perempuan yang beralamat di Jalan Gunung Kerinci Kota Purwodadi itu bergabung di klinik Nabila Skincare. Usaha itu milik kakak iparnya. Di sana ia memiliki jam kerja dari pukul 09.00 hingga 14.00.

Karena merasa masih memiliki banyak waktu luang ia ikut bergabung di Klinik Simpang Lima Purwodadi. Di sana ia memiliki jam kerja dari pukul 14.00 hingga 21.00.

”Sekarang jam kerja saya full. Mulai dari pagi saya ke kedai dulu. Lalu lanjut ke klinik skin care dan sorenya saya ke klinik umum,” ujarnya.

Masih belum berpuas diri, hasil dari bisnis dan kerja di dua tempat itu ia akan pakai membuka klinik kecantikan di pinggiran kota pada Maret tahun ini. Tak hanya untuk kecantikan, di sana nanti ia akan membuka praktik umum.

”Sengaja memilih di desa karena ingin sekaligus membuka praktik umum. Harapannya akan saya adakan pengobatan gratis setiap hari tertentu. Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan membuka bisnis sendiri akan membuka lapangan pekerjaan bagi warga di sana. Bahkan adanya pengobatan gratis di hari-hari tertentu juga akan membantu masyarakat kurang mampu.

Bahkan ke depan ia juga akan kembali membuka bisnis calon kecantikan. ”Kalau salon kecantikan mungkin saya tidak pegang sendiri. Join sama lainnya. Karena kalau pegang sendiri waktu sudah tak ada,” imbuhnya.

Menurutnya, ketekunan dan rasa penasarannya terhadap bisnis ini dimiliki berkat peran keluarganya. Keluarganya yang membuatnya memiliki jiwa mandiri. Meski terbilang masih muda, ia telah memiliki penghasilan yang sangat mumpuni dibanding remaja seumurannya.

”Ibu dan kakak berperan penuh terhadap kesuksesan saya. Ibu biasanya membantu mengelola keuangan. Kalau kakak berperan sebagai marketing terbaik. Ia membantu saya membuat desain agar bisnis saya lebih dikenal. Memantu mendekor tempat bisnis,” ungkapnya.

]]>
Ali Mustofa Thu, 24 Jan 2019 07:35:09 +0700
<![CDATA[Tempatnya di Emperan, Buka Usaha untuk Beli Buku]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/23/115342/tempatnya-di-emperan-buka-usaha-untuk-beli-buku https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/23/tempatnya-di-emperan-buka-usaha-untuk-beli-buku_m_115342.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/23/tempatnya-di-emperan-buka-usaha-untuk-beli-buku_m_115342.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/23/115342/tempatnya-di-emperan-buka-usaha-untuk-beli-buku

Ternyata masih banyak remaja yang peduli terhadap peningkatan minat baca masyarakat. Di antaranya di Kecamatan Sarang, dengan mendirikan perpustakaan jalanan.]]>

Ternyata masih banyak remaja yang peduli terhadap peningkatan minat baca masyarakat. Di antaranya di Kecamatan Sarang. Ragil Triyadi bersama rekan-rekannya mendirikan perpustakaan jalanan yang bisa diakses gratis. Respon masyarakat bagus. Terbukti perpus ini selalu ramai.

WISNU AJI, Rembang

KALAU biasanya perpustakaan di dalam gedung, beda di Kecamatan Sarang, Rembang. Di Kota Garam bagian timur ini, ada sebuah perpustakaan unik. Lokasinya berada di emperan bank di pertigaan Kecamatan Sarang.

OASE PENGETAHUAN: Perpustakaan jalanan di emperan bank di pertigaan Kecamatan Sarang ramai pengunjung. (RAGIL TRIYADI FOR RADAR KUDUS)

Memang membaca bisa di mana saja. Perpustakaan pun bisa berdiri di mana saja. Seperti yang digagas anak-anak muda di Kecamatan Sarang ini.

Untuk mengedukasi masyarakat, khususnya anak-anak, mereka berinisiatif membuat perpustakaan jalanan. Perpustakaan ini muncul saat mereka kumpul di Rumah Kolektif. Di tempat yang biasa untuk berkumpul remaja yang suka seni ini, mereka berdiskusi tentang keprihatinan ketergantungan terhadap gadget.

Ragil Triyadi, salah satu pemrakarsa perpustakaan jalanan menyampaikan, hadirnya perpustakaan ini sudah setahun lalu. Tepatnya saat Ramadan. ”Awalnya konsepnya hanya Rumah Kolektif. Di situ ada pemanfaatan limbah. Kami ingin di dalamnya juga buku. Supaya teman-teman saat kumpul tak hanya cenderung main HP,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Inisiatif itu ditandai dengan membawa buku koleksi pribadinya ke Rumah Kolektif. Langkah maju ini, diikuti dengan teman-teman lain yang sukarela mengumpulkan buku. Setelah terkumpul, akhirnya tercetus membuat perpusatakaan jalanan.

Mereka pun membuka lapak. Lokasinya di emperan bank yang terletak di pertigaan Kecamatan Sarang. Lapak itu dibuka saat sore hari, mengingat beberapa anggota ada yang masih sekolah dan kuliah. ”Kami buka setiap hari sekitar pukul 15.00 atau setelah ashar. Tutupnya sekitar pukul 21.00. Kecuali saat hujan, bisa tutup sebelum itu,” terangnya.

Ragil mengatakan, saat awal membuka perpustakaan jalanan muncul pro dan kontra. Di antaranya citra negatif yang dikira mengotori lingkungan. Namun banyak juga yang merespon positif. Sebab, mereka hadir untuk memberikan edukasi lewat perpustakaan. Selain ingin mengajak anak-anak muda lebih maju dalam mengembangkan pengetahuan, juga kegiatan positif lain.

”Kami menyediakan buku bacaan gratis. Tak hanya bisa baca di tempat, tapi juga boleh dipinjam bawa pulang. Di sini ada buku sejarah, sastra, metodologi penelitian, dan pengetahuan umum” katanya.

Seiring berjalannya waktu, respon masyarakat pun sangat bagus. Terbukti, setiap hari perpustakaan ini ramai dikunjungi masyarakat. Baik kalangan umum maupun santri yang memang banyak di Kecamaran Sarang. Banyak juga anak-anak yang hadir dengan ditemani orang tuanya.

Selain menggelar lapak perpustakaan jalanan, Ragil bersama teman-temanya juga gencar memperkenalkan perpustakaan ini ke desa-desa. Harapannya, muncul budaya liemperani dan mengangkat minat baca.

Di tempat ini, juga ada pemanfaatan sampah. Di antaranya sampah didaur ulang menjadi pot. Selain itu, juga membuat usaha sablon kaos. Tujuannya, agar para anggota perpustakaan ini mandiri. ”Dana yang terkumpul dapat digunakan untuk perawatan dan penambahan buku,” imbuhnya. Ragil mengaku anggota yang bergabung sudah 30-an orang. (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 23 Jan 2019 07:59:54 +0700
<![CDATA[Penggagas Fogipsi, Tak Menerima Undangan di Hari Ngajar]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/22/115103/penggagas-fogipsi-tak-menerima-undangan-di-hari-ngajar https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/22/penggagas-fogipsi-tak-menerima-undangan-di-hari-ngajar_m_115103.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/22/penggagas-fogipsi-tak-menerima-undangan-di-hari-ngajar_m_115103.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/22/115103/penggagas-fogipsi-tak-menerima-undangan-di-hari-ngajar

Guru tidak sekadar mengajar tapi harus ada gebrakan pengembangan diri. Itulah prinsip dari pasangan suami istri Didik Widiyanto dan Eni Kuswati.]]>

Guru tidak sekadar mengajar tapi harus ada gebrakan pengembangan diri. Itulah prinsip dari pasangan suami istri Didik Widiyanto dan Eni Kuswati. Keduanya berprofesi menjadi tenaga pendidik. Hal itulah, yang mengantarkannya mencetuskan Forum Guru IPS Seluruh Indonesia (Fogipsi).

 INDAH SUSANTI, Kudus

 KOMPAK, kata tersebut patut disematkan pada pasangan suami istri Didik Widiyanto dan Eni Kuswati. Mereka tidak hanya kompak dalam karir. Tapi juga kerja sama dalam mendidik anak. Juga mengatur kesibukan masing-masing.

Saat singgah di rumahnya Jalan Kyai Kijing, Gang, Mawar, RT 5/RW 1, Desa Ngembal Kulon, Jati, pasutri tersebut baru saja datang dari Demak. Keduanya baru saja bertemu dengan mahasiswanya.

Didik mengatakan, sebenarnya guru juga bisa nyambi jadi dosen. Asalkan, upgrate ilmu. Jadi, tidak melulu mengajar siswa. Tapi juga mahasiswa.

”Saya dan istri memang suka organisasi. Pemikiran kami selalu sama. Ini sudah terjalin sejak kami masih sama-sama lajang di kampus. Tapi beda jurusan. Saya dan istri bertemu di sebuah organisasi kampus,” tandasnya.

Didik lulusan Unnes jurusan pendidikan teknis mesin. Sedangkan Eni lulusan dari pendidikan IPS. Perjalanan merintis karir juga butuh perjuangan. Kali pertama mengajar Didik di SMK NU Ma’arif di 1999. Kemudian pindah mengajar ke SMK Al Hikmah 2000 hingga sekarang.

”Istri setelah lulus sempat balik kampung dan nganggur. Tapi, setelah saya nikah dengannya ikut saya ke Kudus. Pada waktu menikah dan punya anak yang pertama 2006, gaji saya masih Rp 289 ribu. Istri tenaga honorer di salah satu SMP di kudus,” ungkapnya.

Kemudian, pemerintah pusat ada pengangkatan yang tanpa tes. Istrinya ikut pemberkasan. Diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) penempatan di SMPN 2 Kudus.

”Saya yang masih swasta hingga sekarang, tapi alhammdulillah kami berdua bisa saling suport. Sampai mengambil S2 istri harus bareng saya. Bahkan sampai S3 yang sekarang baru proses kuliah,” ungkapnya.

Eni menyambung cerita Didik, bisa tercetus Forgipsi berawal dari pertemanan sesama guru IPS di facebook. Kemudian, membentuk forum di medsos. Ternyata persoalan yang dihadapi guru sangat kompleks. Termasuk ada hambatan pelatihan workshop yang hanya itu-itu saja yang diberangkatkan oleh Dinas Pendidikan di beberapa daerah.

”Jadi mereka ingin ikut pelatihan. Tapi tidak pernah ada kesempatan. Padahal, hal tersebut sangat penting untuk peningkatan jenjang karir atau kenaikan pangkat,” jelasnya.

Kemudian, Eni berdiskusi dengan suami, lalu terbentuklah Forgipsi bersama dengan teman-teman guru seprofesi lainnya. Eni saat ini menjabat sebagai ketua umum Fogipsi nasional. Di dalamnya sudah ada 34 provinsi yang sudah dibentuk Fogipsi.

”Suami saya menjadi dewan penasehat. Sebagai ketua dewan pembina dari Sultan Cirebon PRA. Arif Nata Diningrat yang kebetulan masih saudara. Kami membentuk Fogipsi 2016. Kegiatan kali pertama difasilitasi Sultan di Kasultanan Cirebon 2017. Pesertanya yang datang dari seluruh Indonesia. Kegiatan kedua di Kendari,” ungkapnya.

Eni mengatakan, bisa keliling Indonesia menjadi narasumber yang mematok bayaran. Bahkan, ada pengalaman sampai ke wilayah Papua bersama Didik. Mereka berdua sering diundang menjadi narasumber workshop yang tingkatannya tingkat nasional.

”Handphone saya sampai ada dua karena sudah mulai berkembang dan masing-masing Fogipsi dari tingkat provinsi hingga kabupaten sudah terbentuk. Bahkan adanya forum ini informasi selalu update kali pertama sebelum pemkab kabupaten mengetahuinya,” terangnya.

Meski, pasutri tersebut memiliki segudang kegiatan. Tapi, mereka tetap mengajarkan pada ketiga putrinya hidup mandiri. Memperhatikan sekolah anak-anaknya. Eni mengatakan, kalau ada waktu luang rekreasi sederhana. Misalkan jalan-jalan ke mall atau ke pantai.

”Saya tidak menyangka bisa keliling Indonesia. Saya tak menerima undangan dari Senin-Kamis. Hanya menerima undangan Jumat-Minggu. Karena saya izin tugas belajar. Jadi tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar (KBM),” ungkapnya.

Didik dan Eni juga membuat buku dan beberapa jurnal. Pasutri kompak untuk peningkatan prestasi demi mencerdaskan generasi ke depan. Mereka juga berkomitmen untuk tidak mengabaikan siswanya meski kegiatan di luar sudah menantinya.

]]>
Ali Mustofa Tue, 22 Jan 2019 08:00:44 +0700
<![CDATA[Tinggalkan Tempat Pembuangan Akhir Model Terbuka]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/21/114935/tinggalkan-tempat-pembuangan-akhir-model-terbuka https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/21/tinggalkan-tempat-pembuangan-akhir-model-terbuka_m_114935.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/21/tinggalkan-tempat-pembuangan-akhir-model-terbuka_m_114935.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/21/114935/tinggalkan-tempat-pembuangan-akhir-model-terbuka

Di Karesidenan Pati dan Grobogan, ada tiga kota yang tahun ini meraih Adipura. Yakni Kabupaten Jepara dan Kudus untuk kategori kota sedang serta Pati.]]>

Di Karesidenan Pati dan Grobogan, ada tiga kota yang tahun ini meraih Adipura. Yakni Kabupaten Jepara dan Kudus untuk kategori kota sedang serta Pati kategori kota kecil. Sedangkan tiga kota yang gagal, meliputi Kabupaten Rembang, Blora, dan Grobogan. Kenapa demikian?

 KABUPATEN Grobogan, terhitung pada 2013 merupakan kali terakhir meraih Adipura. Dari berbagai poin yang menjadi titik pantau penilaian. Masalah sampah merupakan poin penting. Tahun lalu, Pemkab Grobogan memasuki proses pembenahan hingga pengadaan banggunan baru tempat pembuangan akhir (TPA). Tahun ini, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Kota Swieke mulai mengoptimalkan pengelolaan sampah.

Ada sekitar 15 titik pantau penilaian Adipura. Poin tertinggi ada di TPA control landfill dengan 11 poin, fasilitas pengolahan sampah sekala kota dengan 10 poin, kemudian pasar dan bank sampah masing-masing 7 poin.

”(Grobogan) poinnya jatuh di fasilitas pengolahan sampah skala kota. Kami hanya mendapat nilai 6,4. Kemudian bank sampah hanya mendapatkan nilai 30,” ujar Kepala DLH Grobogan Nugroho Agus Prastowo melalui Kasi Pencemaran Lingkungan Purwantoro.

Dijelaskan, kekurangan pengolahan sampah skala kota yakni pada pencatatan sampah. Namun, tahun ini pihaknya sudah mulai membuat pencatatan sampah masuk, keluar, dan diolah.

Selain itu, mengenai bank sampah. Kota terbesar kedua se-Jateng ini, kini telah memiliki 280 bank sampah. Meski sudah memiliki hampir di seluruh desa, masih ada kekurangan yang membuat poin jeblok, belum adanya gedung induk bank sampah.

Gedung itu, tahun ini baru akan didirikan di depan kantor DLH. Pendiriannya sudah dianggarkan di DAK senilai Rp 200 juta untuk kelengkapan sarana dan prasarana. Adanya induk bank sampah, akan memudahkan koordinasi berbagai bank sampah tersebut. Sekaligus akan lebih aktif, karena akan ada berbagai pameran hasil daur ulang sampah dan kegiatan lain.

Upaya lain yang akan dilakukan, di antaranya dengan menambah tempat sampah terpilah yang akan ditempatkan di pertokoan. Di anggarkan Rp 59 juta di APBD. Selain itu, tahun ini juga akan menambah hutan kota baru dengan anggaran Rp 50 juta.

Grobogan kali terakhir mendapatkan Adipura pada 2012/2013 dan sertifikat Adipura pada 2013/2014. ”Memang ada yang berubah penilaiannya. Dulu, peraturan tentang TPA control landfill belum dijalankan. Namun, sejak 2013 ke atas, TPA itu harus ada. Sedangkan Grobogan saat itu masih memakai open dumping,” ungkapnya.

TPA control landfill mulai dibangun pada 2017. Namun, pengoperasionalan belum maksimal. Gas metan yang keluar dari sampah belum dimanfaatkan secara maksimal. ”Januari ini baru akan kami coba manfaatkan (gas metan). Kami sudah membuat jaringan pemanfaatan gas metan menggunakan pipa-pipa yang dipasang dan salurkan ke kompor. Rencananya pekan depan baru akan coba dinyalakan,” ungkap Kasi Penanganan Sampah Noer Rochman.

Nilai jeblok di TPA juga dialami Kabupaten Rembang. Hasilnya, lima tahun berturut-turut Kota Garam gagal meraih Adipura. Hasil evaluasi, beberap titik penilaian masih ada yang kurang. Mulai belum optimalnya pengolahan TPA Kerep, Sulang, dan komposer sekolah maupun tempat publik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Rembang Suharso mengaku, penilaian Adipura setiap tahun memang terus ditingkatkan. Seperti dua tahun terakhir, 2017 dan 2018 harapan pemerintah pusat bagaimana mengurangi volume sampah di TPA. ”Sejak 2018 sampai 2025 pengolahan sampah sudah dihitung,” ungkapnya.

Artinya, penilaiannya tak sekadar bersih, hijau, rindang, dan sejuk. Namun, di beberapa sudut harus tidak ditemukan adanya sampah menumpuk. ”Pengolahan sampah di TPA Kerep masih kurang. Seharusnya volume yang dikirim kurang, sebaliknya sehari di Rembang ada 30-35 truk. Jika dikalikan 4 kubik sudah ketemu 140 kubik, dikalikan 0,4 ton sudah 56 ton,” terangnya.

Untuk mengurangi volume sampah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, soal kepedulian masyarakat harus ada. Meliputi tidak membuang sampah terbuka, komitmen kurangi sampah, dan  ketiga mengolahan. Pengolahan yang dimaksud dijadikan kompos. Inilah yang harus digelorakan kembali. ”Tentu tidak hanya dari sisi volume sampah di TPA. Cakupannya juga di ruang publik, kantor, pengolahan, dan sekolah,” paparnya. Di antaranya di pasar. Di Rembang, masih kurang kepedulian pedagang.

Lalu, kenapa jauh-jauh hari tidak segera dibenahi? Suharso membeberkan, penilaian P1 dan P2 tidak diketahui pemkab. Untuk itu, ada kesulitan untuk memperbaiki. Karena P1 merupakan hasil pemantauan. Lalu ada pembenahan menjadi P2 dan tahapan lanjutan evaluasi. Sebaliknya, penilaian P1 langsung masuk evaluasi, sehingga belum sempat melakukan pembenahan.

Karena tidak dipungkiri nilai di TPA masih jeblok. Rembang hanya mendapatkan poin 71, sedangkan untuk lolos minimal poinnya 74. Dengan cara keruk, dilapisi agar air lindi tidak terserap kebawah. Sehingga tidak ada penceramaran air tanah. Pihaknya optimistis kalau 2019 hal itu terlaksana, pada 2020 bisa meraih Adipura.

”Kalau penanangan TPA modern sudah ditangani, lalu ada kepedulian masyarakat terhadap sampah optimistis meraih. Selain mengolah menjadi kompos maupun gas metan,” ujarnya.

Ditambahkan, dari sisi anggaran operasional pengolahan sampah, untuk pengolahan sampah manual hampir Rp 500 juta.

]]>
Ali Mustofa Mon, 21 Jan 2019 10:59:40 +0700
<![CDATA[Tak Ada di Dalam Negeri, Impor Bulu Domba dari Tiongkok]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/21/114926/tak-ada-di-dalam-negeri-impor-bulu-domba-dari-tiongkok https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/21/tak-ada-di-dalam-negeri-impor-bulu-domba-dari-tiongkok_m_114926.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/21/tak-ada-di-dalam-negeri-impor-bulu-domba-dari-tiongkok_m_114926.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/21/114926/tak-ada-di-dalam-negeri-impor-bulu-domba-dari-tiongkok

Alvis Rezando, atlet barongsai Kudus beberapa kali menyabet juara tingkat daerah, provinsi, bahkan tingkat nasional. Selain jadi atlet juga pengrajin barongsai.]]>

Alvis Rezando, atlet barongsai Kudus beberapa kali menyabet juara tingkat daerah, provinsi, bahkan tingkat nasional. Selain menjadi atlet barongsai, ia juga membuat kerajinan barongsai. Hasil karyanya sudah menembus pasar luar Kudus.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus   

KETIKA mendatangi rumah Alvis Rezando di RT 1/RW 2, Loram Kulon, Jati, Kudus, wartawan kota ini disambut Aroma cat. Baunya menusuk hidung. Terlihat pula rotan dan kertas tercecer di lantai. Selain itu ditemui pula empat buah kepala barongsai tertata rapi.

            Pria yang akrab disapa Reza ini mengaku, dirinya adalah atlet barongsai Kudus. Ia tergabung dalam klub Satya Dharma Kudus. Kecintaan terhadap barongsai dimulai sejak duduk di bangku SMP. Tak bisa pandang remeh, pria yang sekarang berumur 21 tahun ini pernah menyabet juara di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan tingkat nasional.

            Selain menyandang predikat atlet barongsai, kecintaan Reza terhadap barongsai tak terhenti di situ saja. Pria kelahiran Kudus, 18 Agustus 1998 ini perajin barongsai. Reza memulai bisnisnya itu sejak 2014. Awalnya produknya tersebut dipakai sendiri. Lama kelamaan banyak yang meminati hasil karyanya.

”Saya memulai bisnis ini secara otodidak dan mandiri,” ungkapnya.

            Mendekati Imlek ia dihujani pesanan barongsai. Ia membuka orderan dua bulan sebelum Imlek. Peminat hasil karyanya juga bukan orang Kudus. Sudah menjangkau luar Kudus. Seperti, Jakarta, Riau, Padang, Pangkal Pinang serta Makassar.

            Banyaknya pelanggan tertarik pada karyanya karena memiliki keunikan. Reza mengungkapkan, ciri khas hasil garapannya dapat ditemui pada ekspresi barongsai yang gembira. Kemudian pada corak warna barongsai lebih cerah.

            Penggarapan satu kepala barongsai bisa memakan waktu sekitar satu pekan. Minimnnya tenaga merupakan kendala yang dialami Reza saat ini. Ia membandrol harga barongsai dengan beberapa tingkatan. Untuk tingkatan barongsai yang menggunakan bulu sintetis, ia memdrol harga Rp 2,5 juta. Sedangkan untuk barongsai yang menggunakan bulu domba, Reza membandrolnya dengan harga Rp 5,5 juta.

            Minimnya bahan baku yang berada di Indonesia mengharuskan Reza untuk mengimpor bahan baku tersebut. Seperti halnya bulu domba. Ia harus mengimpor dari Tiongkok. Untuk satu ekor bulu domba dihargai dengan harga Rp 2 juta. Tak hanya itu seperti mata barangsoi untuk mencapai kualitas bagus ia harus mengambil dari Tiongkok juga.

            ”Yang membuat mahal karena sebagian barang impor. Selain itu di Indonesia belum ada barang yang memadai. Terutama pada bulu domba,” ujarnya.

            Senada dengan itu Reza juga melakukan gencar melakukan promosi secara online. Selain promosi oline, ia juga melakukan promosi ketika mengikuti perlombaan barongsai dan acara keagamaan. Seperti acara Bwee Gee pada (13/01). Reza mengaku, dari situlah pesanannya banyak diminati. Serta mampu keluar dari pasar Kudus.

            Harapan kedepan Reza untuk produk buatannya mampu dikenal orang. Baik dikenal di dalam negeri maupun luar negeri. Tak hanya itu, kendala masalah bahan impor juga mampu diatasinya.

            ”Bulan lalu ada tawaran pesanan dari Maroko, semoga saja bisa mendapatkan titik temu,” ungkapnya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 21 Jan 2019 10:13:41 +0700
<![CDATA[Jawab Keraguan dengan Deretan Prestasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/21/114912/jawab-keraguan-dengan-deretan-prestasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/21/jawab-keraguan-dengan-deretan-prestasi_m_114912.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/21/jawab-keraguan-dengan-deretan-prestasi_m_114912.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/21/114912/jawab-keraguan-dengan-deretan-prestasi

Sebagai seorang pesepakbola, Tio Rizky Fachrezi pernah berada di titik tersulitnya. Yakni diremehkan orang hingga tidak dipercaya untuk bermain.]]>

Sebagai seorang pesepakbola, Tio Rizky Fachrezi pernah berada di titik tersulitnya. Yakni diremehkan orang hingga tidak dipercaya untuk bermain. Namun, ia mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

Saat memulai karir sebagai pesepakbola sempat dicemooh lantaran postur tubuhnya yang tidak menjanjikan sebagai seorang kiper. Tak hanya itu, dia jarang mendapatkan tempat sebagai pemain inti karena skill yang dianggap kurang. Namun berkat dorongan dari ibundanya, Tio perlahan bangkit dan menunjukkan performa terbaiknya. ”Dulu sempat dibilang gendut, pendek. Tidak cocok jadi seorang kiper,” terangnya.

Anak kedua dari tiga bersaudara ini mulai menekuni sepak bola sejak kelas tiga SD. Sepak bola dipilihnya karena menyukai olahraga yang berhubungan dengan bola. Sebelumnya, juga pernah mencoba sepak takraw.

”Sepak bola sudah menjadi cita-cita saya dan ingin terus berkarir di bidang ini sampai menjadi pemain profesional,” sambungnya.

Bahkan cemoohan dari orang-orang dia buktikan lewat deretan prestasi. Diantaranya juara III sepak takraw SMP se-Kabupaten Kudus (2013), juara I sepak takraw SMA se-Kabupaten Kudus (2015), juara II sepak takraw SMA se-Kabupaten Pati (2015), juara II sepak bola antar SMA se-Kabupaten Kudus (2015), juara II Persiku junior tingkat Jawa Tengah (2015), juara I futsal Asprov Semarang antar SMA (2016), juara I STIKES An-Nur Purwodadi (2016), Best Player STIKES An-Nur Purwodadi (2016), juara II Britama se-Jawa (2016), dan juara II Porprov (2018).

Apa yang telah diraihnya diyakini berkat do’a dari orang tua. Selain itu ia terus bekerja keras untuk berlatih. Selain itu, Tio berhasil bangkit setelah mendapat dukungan dari pelatihnya.

”Coach Yono adaah orang yang selalu mempercayai saya, bahkan saya diberi kesempatan bermain di Bupati Cup beberapa waktu lalu,” jelasnya.

Dia saat ini membela Persilo Loram Kulon dan rutin berlatih setiap Kamis, Sabtu, dan Minggu pukul 16.00. Pemuda kelahiran 6 November 1998 ini juga sedang bersaing demi meraih tempat di Persiku yang saat ini dilatih Subangkit.

Dirinya mengaku akan terus menekuni sepak bola selama masih mampu untuk melakukannya. Pemain yang berposisi sebagai penjaga mistar gawang ini juga memiliki keinginan untuk membelikan rumah bagi orang tuanya dan memberangkatkan haji.

”Kalau sudah sukses nanti ingin belikan orang tua rumah dan memberangkatkan haji,” terangnya.

Soal sepak bola, ia juga berharap agar sepak bola di Kudus lebih baik lagi. ”Harapan saya, pengurus lebih mengutamakan kesejahteraan pemain agar bibit muda nantinya lebih baik lagi,” harapnya.

]]>
Ali Mustofa Mon, 21 Jan 2019 07:35:53 +0700