Radar Kudus JawaPos.com | Pena Muda RSS News Feed http://radarkudus.jawapos.com/rss/373/pena-muda http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarkudus-logo1.png http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarkudus-logo1.png Radar Kudus JawaPos.com | Pena Muda RSS News Feed http://radarkudus.jawapos.com/rss/373/pena-muda id Sun, 14 Apr 2019 10:06:25 +0700 Radar Tulungagung <![CDATA[Golput No, Demi Masa Depan Bangsa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/14/131766/golput-no-demi-masa-depan-bangsa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/14/golput-no-demi-masa-depan-bangsa_m_1555291744_131766.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/14/golput-no-demi-masa-depan-bangsa_m_1555291744_131766.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/14/131766/golput-no-demi-masa-depan-bangsa

PEMILIHAN Umum (Pemilu) bukanlah pilihan mudah. Sebab, akan menentukan masa depan Indonesia lima tahun ke depan. Warga negara harus pandai memilah dan memilih.]]>
PEMILIHAN Umum (Pemilu) bukanlah pilihan mudah. Sebab, akan menentukan masa depan Indonesia lima tahun ke depan. Warga negara harus pandai memilah dan memilih calon yang didukung. Satu suara akan menentukan nasib lndonesia ke depan.

Tahun ini dikenal tahun politik. Sebab, bulan ini akan digelar pemilu serentak. Meliputi pemilihan presiden (pilpres), pemilihan legislatif (pileg), dan pemilihan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Tepatnya digelar Rabu, 17 April mendatang. Pileg sendiri, untuk memilih anggota DPRD kabupatan/kota, provinsi, dan RI.

Sebagai warga negara yang baik, harus memberikan suaranya dengan datang ke TPS. Selain itu, siapapun yang terpilih nantinya, diharapkan menjadikan Indonesia semakin jaya, aman, damai, dan toleran, sehingga tercipta kerukunan.

Tak terkecuali anak milineal yang tahun ini menjadi pemilih pemula. Mereka ikut serta dalam menentukan nasib bangsa Indonesia. Pemilih yang tergolong ini, merupakan yang berusia di bawah 20 tahun atau yang sudah menikah di bawah 18 tahun.

Tim Pena Muda tertarik untuk mengulik pengetahuan mereka tentang pemilu serentak ini. Untuk itu, sejumlah pemilih pemuda dijadikan narasumber yang dipilih random.

TAK MAU GOLPUT: Sifa Istiqomah, menunjukkan spesimen surat suara yang akan digunakan untuk pemilu serentak Rabu, 17 April mendatang. (M ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Di antaranya siswa kelas 12. Salah satunya Muhammad Syarifudin, siswa jurusan Desain Komunikasi Visual SMK Raden Umar Said (RUS). Dia mengaku masih susah menentukan pilihan. ”Banyak isu yang beredar mengakibatkan ketidakyakinan saya untuk memilih siapa nantinya (saat pencoblosan)," katanya. Namun, siswa berkelahiran 27 Agustus 2001 ini, bakal nyoblos di TPS terdekat dengan harapan ikut menentukan kemajuan Indonesia ke depan melalui pemilu.

Masih belum dapat ”jago” saat pemilu juga dirasakan pelajar lain, Jelita Salsabila, siswi Jurusan Rekayasa Perangkat Lunak SMK RUS. ”Sebenarnya masih bingung memilih siapa. Namun, saya menilai pilpres tahun ini lebih sengit. Ini terlihat dari kampanye yang diadakan,” jelasnya.

Dia sudah mengetahui yang diunggulan kedua pasangan calon (paslon) capres-cawapres. Siswi kelahiran 21 juli 2001 ini, menilai paslon Joko Widodo-Ma’ruf Amin mengutamakan infrastruktur, ekonomi, dan menggunakan sejumlah kartu. Sedangkan paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno lebih menonjolkan pertahanan dan menaikkan gaji buruh.

Antusiasme dengan pemilu juga ditunjukkan pemilih pemula yang berstatus alumni SMK. Salah satunya Rizka Dimas A. Dia berpendapat bahwa golput tidak bagus. Untuk itu, dia nantinya akan nyoblos di TPS Besito. Harapan pria lulusan 2018 ini, semoga apa yang dijanjikan para calon dapat diwujudkan. ”Semoga janji-janji para calon bukan cuma PHP kalau sudah jadi nanti," harapnya.

SAMBUT PEMILU: Beni Ashar, salah satu pemilih pemula melakukan simulasi memasukkan surat suara ke kotak suara. (M ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Beralih ke sekolah lain, Fina Izzatul Muna, siswi SMA NU Hasyim Asy’ari Kudus mengaku tak menyia-nyiakan kesempatan perdananya untuk nyoblos. ”Saya berharap pemilu ini berlangsung lancar dan damai. Sehingga benar-benar membawa kebaikan bangsa ke depan,” ujar siswi yang tinggal di Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, ini.

Sementara itu, Atika Khilma Asnawi, siswi MA NU Mu’allimat Kudus juga berharap pemilu berlangsung Langsung, Umum, Bebas, dan Rahasia (Luber) serta jujur dan adil (Jurdil). ”Saya akan ikut nyoblos. Tapi untuk siapa pilihan saya, rahasia dong,” ujar siswi yang beralamat di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kudus, ini.

Hal lain diungkapkan Richo Cahyaning P, siswa SMK NU Ma’arif. Menurutnya pemilu tahun ini sangat berbeda. Sebab, dilakukan secara serentak. Ia sangat antusias menyambut pemilu ini. Pada kesempatan pemilu tahun ini, dia akan menyampaikan hak pilihnya.

Siswa SMK NU Ma’arif Kudus lain, Irfan Nor Rohmad, akan mengikuti pemilu karena sudah memasuki usia diperbolehkan nyoblos. ”Saya sudah bisa berpartisipasi dalam memilih calon pemimpin yang baik dan kelak akan mewujudkan negara yang lebih maju,” imbuhnya. (ayuk, anam, diki, sari, mia, ni'mah, aslihah, yakub, arzaq, lisoh, safina)

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

 

]]>
Ali Mustofa Sun, 14 Apr 2019 10:06:25 +0700
<![CDATA[Skill Make Up Antarkan Dua Siswi ke Paris]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/11/124225/skill-make-up-antarkan-dua-siswi-ke-paris https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/11/skill-make-up-antarkan-dua-siswi-ke-paris_m_124225.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/11/skill-make-up-antarkan-dua-siswi-ke-paris_m_124225.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/11/124225/skill-make-up-antarkan-dua-siswi-ke-paris

Pelajar SMK di Kudus kembali mengharumkan Indonesia. Kali ini dari SMK PGRI 1 Mejobo dan SMK NU Banat. Dari SMK PGRI 1 Mejobo jadi MUA model Internasional.]]>

Pelajar SMK di Kudus kembali mengharumkan Indonesia. Kali ini dari SMK PGRI 1 Mejobo dan SMK NU Banat. Dari SMK PGRI 1 Mejobo diwakili Lolalita Della Rosa dan Fiya Triyani yang menjadi make up artist (MUA) model internasional di Perancis. Sedangkan dari SMK NU Banat, tiga siswinya (Farah Aurellia Majid, Fitria Noor Aisyah, dan Annida Aulia Rahmalila) tembus final Sakuran Collection Student Award 2019 di Bali. Bahkan, Farah Aurellia Majid meraih runner up.

 

MEMASUKI halaman SMK PGRI 1 Mejobo, Kudus, tampak tak ada yang istimewa. Terkesan bangunan sekolah yang sederhana. Pun pintu gerbang sekolah yang biasa saja. Namun setelah melewati pintu gerbang berbahan besi yang sudah mulai berkarat itu, image sekolah berubah. Gedung di sebelah kiri (selatan) tampak mencolok, meski warna catnya didominasi grey. Di gedung itu, terdapat tulisan ”Beauty & Spa Academy”.

Begitu masuk, tim Pena Muda disambut Kepala Sekolah Joko Waluyo, Kepala Jurusan Tata Kecantikan Kulit dan Rambut (TKKR) Fitri Nurfitasari beserta staf, dan tentu saja Lolalita Della Rosa dan Fiya Triyani. Dua nama terakhir ini, merupakan siswi SMK PGRI 1 Mejobo yang sekitar Desember 2018 lalu, menjadi make up artist (MUA) model internasional di Paris, Perancis.

Tim Pena Muda berbincang di ruang loby yang sangat representatif. Di ruang ini, juga langsung terlihat sebagian laboratorium TKKR di sebelah kanan (barat). Ada deretan cermin besar dan peralatan tata kecantikan. Termasuk kursi untuk creambath yang terlihat modern dan nyaman.

Perbincangan dengan Lolalita Della Rosa dan Fiya Triyani diawali dengan kisahnya ikut seleksi menjadi MUA untuk dikirim ke Paris selama sembilan hari itu. Lolita -sapaan akrab Lolalita Della Rosa- bercerita, capaian membanggakan ini, awalnya dia mengetahui pengumuman dari sekolah sekitar November 2018. Bahwa ada seleksi menjadi MUA di Paris yang digelar Indonesia Fashion Chamber (IFC) bekerja sama dengan Djarum Foundation.

”Saya coba daftar dan mengikuti beberapa tes seleksi. Meliputi tes wawancara, psikotes, dan yang paling utama tas skill make up. Dari sekitar 15 pendaftar, kemudian tersaring menjadi sembilan orang,” terangnya.

Dari sembilan yang lolos itu, hanya diambil dua siswa. Begitu diumumkan, tersebutlah namanya dan Fiya Triyani. Ia pun serasa ingin pingsan. Sebab, ini menjadi pencapaian besar baginya. Apalagi dia juga bisa pergi ke luar negeri untuk kali pertama. Hal senada dirasakan Fiya Triyani.

Apalagi bagi Lolita, saat mengikuti seleksi MUA itu, justru bertepatan dengan persiapan mengikuti lomba kompetensi siswa (LKS) SMK tingkat Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Padahal, baru kali ini ada wakil sekolahnya bisa maju ke LKS provinsi.

”Saya jadi konsentrasi keduanya (seleksi menjadi MUA dan persiapan LKS, Red). Karena sama-sama pentingnya dalam sejarah hidup saya. Saya berupaya maksimal. Alhamdulillah setelah diumumkan, nama saya yang disebut untuk pergi ke Paris. Saya sampai jingkrak-jingkrak dan teriak-teriak saking senangnya,” ungkapnya. ”Sementara LKS, saya meraih peringkat IV. Nggak masalah, karena baru kali pertama. Semoga ke depan bisa juara,” imbuhnya.

DI PARIS: Lolalita Della Rosa (dua dari kiri) dan Fiya Triyani (dua dari kanan) membetulkan riasan model internasional saat pemotretan di sebelah Manara Eiffel. (LOLALITA DELLA ROSA FOR RADAR KUDUS)

Persiapan pun dilakukan. Pihak sekolah mendatangkan mentor khusus untuk mengasah percakapan bahasa Inggris keduanya. Termasuk mengurus paspor dan visa. Lolita mengatakan, waktunya memang mepet, berangkat ke Jakarta Senin (26/11/2018) kemudian Selasa (27/11/2018) sudah harus terbang ke Paris.

Dia mengatakan, belanja perlengkapan mulai dari jaket hangat, sepatu kulit, sarung tangan, dan sebagainya terpaksa di Jakarta. Dia dibantu guru pembina sekaligus Kepala Jurusan TKKR Fitri Nurfitasari selama di Jakarta.

Selain itu, juga harus berkoordinasi dengan SMK NU Banat yang menampilkan desain baju untuk dipakai model di Paris. ”Kami menyesuaikan tema dan desain baju. Make up yang diangkat bertema natural flowers. Jadi, lebih menonjolkan motif baju, sehingga tidak membutuhkan make up yang tebal. Bahkan terlihat tidak ber-make up. Itu jadi tantangan tersendiri,” tandasnya.

Sementara itu, Fiya menceritakan perjalanan menuju Paris ternyata sangat melelahkan. Begitu sampai di Paris, ia sempat muntah-muntah karena saking lamanya di perjalanan. Berangkat dari Jakarta pukul 10.00. Perjalanan sekitar tiga jam ke Bangkok, Thailand, untuk transit pesawat.

Sesampainya di Bangkok masih menunggu tujuh jam. Pada akhirnya naik pesawat menuju Kota Menara Eiffel itu. Perjalanan dari Bangkok ke Paris memakan waktu sekitar 12 jam. ”Jadi kalau ditotal, perjalanannya kurang lebih 24 jam,” cetusnya.

Dia mengatakan, begitu sampai ke Paris pukul 11.00 langsung menuju ke tempat acara IFC. Lokasinya di dalam Kapal Le Bories di atas sungai Seine. Mereka kemudian istirahat sejenak dan selanjutnya mulai merias.

”Saya bersama Lolalita masing-masing merias sembilan model dalam waktu tiga jam. Jadi harus kerja cepat. Namun hasilnya tetap maksimal. Inilah tantangan kami dan sebagai pengalaman kami. Ya, sedikit grogi tapi harus tetap fokus,” terangnya.

Di balik kegembiraan Fiya dan Lolalita bisa mendapat kesempatan langka ini, ada cerita yang kurang menyenangkan. Yakni tidak cocok dengan menu makanannya di kota pusat mode dunia itu.

Lolalita membagi pengalaman. Di sana mereka disuguhi mi ala Korea atau sejenis mi ramen, tapi penyajiannya ditambah es batu. ”Itu rasanya aneh sekali. Nggak enak. Akhirnya kami seringnya makan mi instan. Karena nasi di sana rasanya manis, kucang cocok untuk lidah kami,” ujarnya.

Mi tersebut memang sengaja dibawa dari Indonesia. Ditambah lagi membawa bon cabe dan saos instan. Imbasnya, selama di Paris berat badan mereka turun hingga sekitar lima kilogram.

MERIAS BULE: Lolalita Della Rosa (kiri) dan Fiya Triyani (dua dari kanan) merias model internasional di dalam Kapal Le Bories di atas sungai Seine, Paris, Perancis. (LOLALITA DELLA ROSA FOR RADAR KUDUS)

Setelah merampungkan program merias di Paris itu, mereka ikut tur ke Belanda dan Belgia. Di Negeri Kincir Angin, kesedihan mereka tidak bisa makan nasi di Paris terlupakan. Selama tiga hari di Belanda, mereka akhirnya bisa makan yang cocok dengan lidah. Sebab, mereka menginap di rumah orang Indonesia yang tinggal di negara tersebut.

”Syukurlah akhirnya kami bisa makan ikan lele dan penyet tempe tahu, sehingga bisa makan dengan lahap. Di Paris kami kehilangan selera makan dan kedinginan karena suhunya mencapai lima derajat. Bahkan sampai satu derajat,” kata Lolita.

Setelah tiga hari di Belanda, mereka kemudian ke Belgia selama sehari. Selera makan mereka yang kembali tumbuh di Belanda dan Belgia berdampak adanya kenaikan berat badan mereka. Meski hanya naik 3 kg. Namun ini bertahan sampai pulang ke Indonesia.

Mereka pulang dan sampai di Kudus kembali pada Rabu (5/12/2018). Keesokan harinya mereka langsung mengejar ujian susulan semesteran. Setelah selesai, Jumat (7/12/2018) mereka harus terbang kembali ke Jakarta. Tujuannya, untuk jumpa pers bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Menurut mereka, ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Fiya yang rumahnya di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kudus, dan Lolita yang berdomisili di Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kudus, memiliki kesempatan bisa ke Paris dengan skill yang dimiliki.

”Kami memang tinggal di desa, tapi untuk prestasi kami mampu bersaing dengan orang-orang yang tinggal di kota. Cita-cita kami memang menjadi MUA. Saat ini sebenarnya sudah ada tawaran-tawaran untuk kerja di kecantikan, tapi nanti dulu deh. Sekolah aja dulu yang penting,” ujar Fiya dan Lolalita.

Fitri Nurfitasari menuturkan, SMK PGRI 1 Mejobo sudah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan tata kecantikan. Termasuk MUA terkenal ibu kota. ”Kami sudah ada tawaran-tawaran, tapi itu kami kembalikan ke siswinya. Jika memang serius diambil, memang harus siap. Karena di dua MUA harus kerja keras dan ulet,” tuturnya. (ma’ruf, safina, shofi, beny)

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

]]>
Ali Mustofa Mon, 11 Mar 2019 01:19:13 +0700
<![CDATA[Awalnya Ditentang Ortu, Buktikan dengan Prestasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/10/124116/awalnya-ditentang-ortu-buktikan-dengan-prestasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/10/awalnya-ditentang-ortu-buktikan-dengan-prestasi_m_1552240258_124116.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/10/awalnya-ditentang-ortu-buktikan-dengan-prestasi_m_1552240258_124116.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/10/124116/awalnya-ditentang-ortu-buktikan-dengan-prestasi

KESEMPATAN go international juga didapatkan tiga siswi jurusan tata busana SMK NU Banat Kudus. Yakni Farah Aurellia Majid, Fitria Noor Aisyah, dan Annida Aulia.]]>

KESEMPATAN go international juga didapatkan tiga siswi jurusan tata busana SMK NU Banat Kudus. Yakni Farah Aurellia Majid, Fitria Noor Aisyah, dan Annida Aulia Rahmalila. Busana rancangan mereka ikut dalam lomba busana internasional Sakura Collection Student Award 2019 di Bali. Bahkan, Farah Aurellia Majid meraih runner up.

Perjuangan untuk menghasilkan karya yang tembus di ajang tersebut bukanlah mudah. Apalagi ketiga siswa tersebut saat ini kelas XII. Tentunya sedang fokus menghadapi sejumlah ujian. Baik ujian nasional berbasis komputer (UNBK) maupun ujian sekolah berstandar nasional (USBN).

BUAH PERJUANGAN: Farah Aurellia Majid menunjukkan sertifikat juara II Sakura Collection Student Award 2019 disamping busana rancangannya. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Selain harus fokus di akademik, mereka juga merancang busana untuk lomba. Saat di sekolah maupun di rumah. Sebab, masing-masing peserta lomba itu mengirimkan tiga desain baju saat seleksi. Meski akhirnya yang terpilih dan maju ke Bali masing-masing hanya satu desain per siswi.

Dari SMK NU Banat sendiri, yang mengikuti seleksi untuk Sakura Collection Student 2019 ada 35 siswi. Masing-masing peserta harus membuat tiga desain. Kemudian yang lolos hanya diambil tiga siswi. Selanjutnya lomba di Bali digelar pada Sabtu (2/2) sampai Minggu (3/2) lalu.

Perjuangan lebih dirasakan Fitria dan Farah. Sebab, pada Desember 2018 lalu, mereka mengikuti launching brand Zelmira SMK NU Banat bertemakan Troso Nimbrung di Paris, Prancis. Pada even bertema La Mode Sur La Seine A Paris, Prancis, pada 27 November hingga 5 Desember 2018 lalu itu, mereka berkolaborasi dengan dua siswi SMK PGRI 1 Mejobo Kudus. Dari SMK NU Banat dengan busananya. Sedangkan SMK PGRI 1 Mejobo dari segi tata riasnya.

Dari segi desain busana untuk lomba di Bali tersebut, Farah Aurellia Majid di antaranya mengangkat desain baju bertema Shirasagi No Mai Sapporo. Tema ini merujuk pada gambar burung bangau yang ada di baju desainannya. Gambar bangau itu dia lukis sendiri. Melalui desain inilah dia meraih runner up.

Dia mengaku, mendapat ide desain itu dari referensi di internet tentang tarian bangau. Sehingga detail baju yang dibuat lebih menonjolkan burung bangau. ”Pewarnaannya menggunakan cat akrilik. Ini saya buat dalam waktu satu bulan dibantu teman-teman. Bahkan, saya bawa pulang dan tetangga ikut membantu,” katanya.

Dia sangat bersyukur desain bajunya itu meraih juara II. ”Alhamdulillah bisa juara II. Padahal pesertanya ada 243 siswi dengan 729 desain baju,” terang siswi kelahiran 31 Desember 2001 ini.

Sedangkan Fitria Noor Aisyah, di antara desainnya yang terpilih diberi nama Yoru Wa Fujisan. Yakni lebih menonjolkan cerita Gunung Fuji. Sementara Anninda mengusung desain busana bertema Nippon Kaigun. Desain buatannya itu mengacu pada baju militer Jepang. Namun telah dimodifikasi, sehingga tampil kekinian.

Saat ini, Farah sedang fokus menjalani ujian. Setelah lulus nantinya, dia berharap dapat beasiswa melanjutkan studi di jurusan fashion. Ke depan, dia ingin membuat lapangan kerja di bidang fashion. Selain menyalurkan passion-nya, juga ingin mengurangi pengangguran.

Sebenarnya ini bukan menjadi cita-citanya sedari kecil. Sebab, dulu dia ingin menjadi dokter spesialis ahli bedah. Namun hal itu berubah setelah siswi yang berdomisili di RT 2/RW 4, Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus, ini, terjun ke dunia fashion.

Ditanya awal mula menyukai dunia fashion, dia mengaku menyukai justru sejak baru masuk SMK NU Banat. Awalnya putri pasangan Uud Dharma Aji dan Susilowati ini, memilih masuk SMK karena hobi menggambar. Orang tuanya juga tidak setuju jika dia masuk ke SMK.

Namun, selang berjalannya waktu dan berhasil meraih sejumlah prestasi di bidang fashion, akhirnya orang tua Farah berbalik mendukung. Di antara prestasinya, juara III Sakura Collection Asian Student Award in Indonesia 2017/2018, juara II Sakura Collection Asian Student award in Indonesia 2018/2019, dan mengikuti launching brand Zelmira SMK NU Banat bertemakan Troso Nimbrung di Paris, Perancis. Pada even bertema La Mode Sur La Seine A Paris, Perancis. (yakub, lisoh, husen, arzaq)

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

 

]]>
Ali Mustofa Sun, 10 Mar 2019 11:37:55 +0700
<![CDATA[Tak Mau Terus Frustasi, Sulap Bambu Jadi Bernilai Jual Tinggi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/05/123088/tak-mau-terus-frustasi-sulap-bambu-jadi-bernilai-jual-tinggi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/05/tak-mau-terus-frustasi-sulap-bambu-jadi-bernilai-jual-tinggi_m_1551768281_123088.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/05/tak-mau-terus-frustasi-sulap-bambu-jadi-bernilai-jual-tinggi_m_1551768281_123088.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/05/123088/tak-mau-terus-frustasi-sulap-bambu-jadi-bernilai-jual-tinggi

Menjadi tuna daksa -kehilangan satu tangan- akibat kecelakaan kerja, tak membuat Zaenudin terpuruk. Dia mampu bangkit dan berkarya.]]>

Menjadi tuna daksa -kehilangan satu tangan- akibat kecelakaan kerja, tak membuat Zaenudin terpuruk. Dia mampu bangkit dan berkarya. Kini, limbah kayu dan bambu mampu disulap menjadi barang bernilai artistik. Tentunya bernilai jual tinggi.

SIFA ISTIQOMAH, Kudus

DENGAN hati-hati Zaenudin menata beberapa hiasan dari bambu karyanya di atas meja pameran di aula gedung DPRD Kudus. Sekilas memang tidak ada yang aneh dari pria kelahiran Kudus, 8 April 1989 tersebut. Namun, siapa sangka pada Maret 2017 lalu, ia telah kehilangan satu tangan bagian kiri. Akibat kecelakaan kerja yang dialaminya.

Saat awal hidupnya dengan satu tangan, rasa frustasi dirasakannya. Sebab, selain kehilangan sebelah tangan, Zaenudin juga kehilangan mata pencaharian. Itu karena ia tak lagi mampu melakukan pekerjaan seperti sebelumnya.

Selama proses penyembuhan pasca kecelakaan yang dialaminya, untuk mengusir kejenuhan, bapak satu anak ini iseng menyusun stick bekas ice cream milik Tyas Ayu Natasya, putri semata wayangnya. Siapa sangka, berawal dari keisengan tersebut, ternyata membuahkan sebuah karya miniatur rumah yang artistik.

Mulai dari situ, ia terus konsisten membuat hiasan atau miniatur yang terbuat dari stick bekas ice cream. Bahan itu, kemudian merambah ke limbah-limbah kayu maupun bambu di sekitar rumahnya.

Semakin banyak karya yang dihasilkan, semakin banyak ia memperoleh pesanan dari teman-teman maupun tetangga dekatnya. Melihat peluang tersebut, lelaki yang bertempat tinggal di Dukuh Tergo, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus ini, menjadikan ini sebagai mata pencaharian.

Melihat melimpahnya tanaman bambu di daerah tempat tinggalnya, Zaenudin pun konsisten membuat berbagai macam miniatur dari bambu. ”Dulu sering pakai stick atau kayu sisa pasrahan, sekarang pakai bambu karena mudah didapat. Di samping rumah banyak,” jelasnya.

Selain itu, ia juga bergabung dengan Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK) bersama puluhan difabel se-Kabupaten Kudus lain. Dengan menjadi anggota FKDK, Zaenudin sering mengikuti pertemuan selapanan dengan semua anggota FKDK.

Dalam pertemuan tersebut, selain yasinan dan tahlil, para penyandang disabilitas anggota FKDK saling sharing tentang kegiatan ataupun keahlian baru yang dimilikinya. Hal ini memacu Zaenudin untuk terus mengasah kemampuan dan kreativitasnya dalam mengolah bambu sebuah karya yang bernilai artistik tinggi.

Keterbatasan fisik yang dialaminya tak menjadikan penghalang untuk tetap berkarya. Setiap hari, suami dari Nor Hasanah ini, membuat miniatur dari bambu. Dengan dibantu alat sederhana, ia melakukan tahap demi tahap pembuatan miniatur hiasan dari bambu itu sendiri. Mulai dari menggergaji, memotong bambu hingga pengecatan ia kerjakan seorang diri.

Saat ditemui pada puncak acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di aula gedung DPRD Kudus sekitar Desember 2018 lalu, ia mengaku, untuk membuat satu miniatur dibutuhkan sekitar satu pekan waktu pengerjaan. Tergantung dari tingkat kerumitan dan juga ukuran miniatur bambu.

Sementara ditanya pemasarannya, Zaenudin mengaku masih dijual di rumah meskipun terkadang dibantu jual online oleh temannya via media sosial (medsos). ”Di rumah saja. Pada datang kerumah (pembelinya). Kadang juga dipasang di Facebook temen. Soalnya saya belum punya (akun) Facebook sendiri,” akunya.

Sedangkan harga yang dibanderol, untuk satu miniatur bambu Zaenudin menjual dengan harga berkisar Rp 100 ribu hingga 500 ribu. Tergantung tingkat kerumitan dan ukurannya.

Meskipun bahan bakunya mudah didapat, dia mengaku masih ada kendala berkarya. Terutama soal keterbatasan modal dan peralatan yang lebih canggih. Kepada tim Pena Muda, ia mengaku ingin membeli kompressor untuk pengecatan, sehingga hasil akhir pewarnaannya lebih rata dan bagus. Selain itu, prosesnya juga lebih cepat. Namun sayang, Zaenudin belum cukup modal untuk membeli alat semprot tersebut. Kini, dia menabung untuk membeli atau berharap ada pihak yang suka rela menyumbang. (*)

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

]]>
Ali Mustofa Tue, 05 Mar 2019 06:35:59 +0700
<![CDATA[Yang Terbuang Menjadi Uang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/05/123089/yang-terbuang-menjadi-uang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/05/yang-terbuang-menjadi-uang_m_1551767262_123089.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/05/yang-terbuang-menjadi-uang_m_1551767262_123089.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/05/123089/yang-terbuang-menjadi-uang

SAMPAH masih menjadi masalah bagi kelestarian lingkungan. Terutama sampah yang tak dapat terurai atau sampah anorganik. Perlu kesadaran bersama untuk penanganan]]>

SAMPAH masih menjadi masalah bagi kelestarian lingkungan. Terutama sampah yang tak dapat terurai atau sampah anorganik. Perlu kesadaran bersama untuk penanganan. Terlebih memanfaatkan sampah menjadi barang-barang yang bernilai ekonomis. Selain dapat mengurangi sampah, juga bisa menghasilkan pendapatan.

Bermula dari permasalah ini, muncullah Bank Sampah Tunjung Seto di Desa/Kecamatan Bae, Kudus. Bank sampah ini, diinisiasi  Karang Taruna Tunjung Seto Desa Bae.

Awal terbentuknya, dari keprihatinan sampah yang dibuang. Minim tempat sampah. Lebih memprihatinkan lagi, banyak masyarakat membuang sampah di sungai. Dari kejadian tersebut, salah satu anggota Karang Taruna Tunjung Seto, memfoto timbunan sampah. Kemudian diunggah di media sosial (medsos).

TANGGUH: Anggota Pena Muda memfoto kerajinan daur ulang sampah karya Bank Sampah Tanjung Seto.   (anggota pena muda for radar kudus)

Unggahan tersebut, banyak menggaet komentar. Akhirnya pengurus karang taruna yang diketuai M. Anshori mengajak anggota rapat bersama membahas hal tersebut. ”Kami berpikir, bagaimana masyarakat tidak membuang sampah ke sungai. Tapi kalau cuma melarang, terus sampah itu mau dibuang ke mana?,” ungkap Anshori.

Tepat 1 Mei 2016, Karang Taruna Tunjung Seto mendirikan bank sampah. Diberi nama Bank Sampah Tunjung Seto Bae.

Menurut Direktur Bank Sampah Desa Bae Moh Fatchur, anggota bank sampah diambilkan 15 orang. Terdiri dari perwakilan lima rukun warga (RW). Tiap satu bulan sekali, masyarakat dapat mengumpulkan sampahnya ke posko bank sampah yang berada di lima RW.

Selanjutnya, masyarakat yang menjadi nasabah bank sampah mendapatkan buku tabungan. Sampah yang disetorkan, kemudian dicatat. Yang mencatat nasabah yang menyetor. Termasuk yang memilah-milah, juga nasabah sendiri. Sampah yang sudah dipilah nilainya lebih tinggi dibandingkan sampah belum terpilah.

Fatchur, menjelaskan, sampah-sampah yang dikumpulkan kemudian dibawa ke penampungan induk. Kemudian dipilah-pilah oleh 15 anggota bank sampah.

Selanjutnya, sampah dibagi menjadi dua jenis. Ada yang dibuat kerajinan oleh anggota bank sampah sendiri. Ada juga yang dijual. Sampah yang dibuat kerajinan adalah jenis platik kresek dan bungkus jajan. Sedangkan yang dijual sampah jenis kardus, kertas, kaca, logam, dan botol air mineral.

Untuk menjual sampah yang sudah dipilah, pihaknya bekerja sama dengan pengepul. ”Tidak hanya satu pengepul. Namun lebih dari dua pengepul. Setiap kali akan menjual sampah, kami (bank sampah, Red) selalu menghubungi tiga pengepul. Itu untuk mengetahui pengepul mana yang harganya lebih tinggi,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Fatchur, hasil dari sampah yang dibuat kerajinan, seperti tas, dompet, kopiah, bunga, tempat pensil, dan lainnya. ”Hasil kerajinan kemudian kami jual melalui online,” ujarnya.

Langkah bank sampah ini, terbilang membuahkan hasil. Sejak berdiri pada Mei 2016 hingga April 2018 lalu, nasabah di bank sampah ini mencapai 350 orang. Nasabah bisa mengambil tabungan hasil penjualan sampah menjelang Lebaran.

Sementara dari pengumpulan sampah, pada 2016-2017 terkumpul sampah kertas 3.503 kg, plastik 3.503 kg, kardus 3.446, atom 3.082, kaleng 1.874, kaca (beling) 1.786 kg, botol 828 kg, dan besi 504 kg. Sedangkan pada 2017-2018, kardus 4.235 kg, plastik 3.368 kg, atom 3.055 kg, kertas 3.327 kg, beling 1.357 kg, besi 1.650 kg, botol 714, dan lain-lain 94 kg.

Dengan keberhasilan itu, bank sampah Tunjung Seto menarik perhatian berbagai pihak. Di antaranya SMP 1 Lasem, Rembang, yang tertarik untuk mendapatkan pelatihan pada Oktober 2018 lalu. Antara lain cara membuat kerajinan dari barang bekas botol mineral.

Anshori menambahkan, pada akhir 2018 lalu bank sampah ini berhasil meraup pendapatan mencapai Rp 20,15 juta. Jumlah itu naik dibanding tahun sebelumnya yang hanya memperoleh Rp 17,6 juta. ”Ada satu nasabah yang mendapatkan tabungan dari bank sampah hingga Rp 1,4 juta. Memang, sesuai aturan diambilnya satu tahun sekali pada saat Lebaran. Karena kebutuhan nasabah paling banyak pengeluaran saat hari raya,” terangnya. (yakub/ma’ruf/nikmah/ovi/safina/lin)

 

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

]]>
Ali Mustofa Tue, 05 Mar 2019 06:10:59 +0700