Radar Kudus JawaPos.com | Cuitan RSS News Feed http://radarkudus.jawapos.com/rss/344/cuitan http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarkudus-logo1.png http://www.jawapos.com/images/radar-logo/radarkudus-logo1.png Radar Kudus JawaPos.com | Cuitan RSS News Feed http://radarkudus.jawapos.com/rss/344/cuitan id Mon, 22 Apr 2019 08:17:36 +0700 Radar Tulungagung <![CDATA[Karya Perempuan untuk Laki-Laki]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/22/133073/karya-perempuan-untuk-laki-laki https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/22/karya-perempuan-untuk-laki-laki_m_133073.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/22/karya-perempuan-untuk-laki-laki_m_133073.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/22/133073/karya-perempuan-untuk-laki-laki

KETIKA diminitai izin bahwa Jawa Pos Radar Kudus akan menyelenggarakan talk show batik, saya langsung menyetujui. Saya tidak bertanya macam-macam.]]>

KETIKA diminitai izin bahwa Jawa Pos Radar Kudus akan menyelenggarakan talk show batik, saya langsung menyetujui. Saya tidak bertanya macam-macam. Karena, menurut saya sangat baik. Apalagi pelaksanaannya dalam rangka menyambut Hari Kartini. Bekerja sama dengan PT Nojorono Tobacco International (NTI) dan Pemkab Kudus. Temanya, Perempuan Berkarya.

Yang saya keberatan hanyalah satu. Kalau saya diminta memberi sambutan. Bagi saya sambutan itu biasa saja. Di depan bupati sudah sering. Di depan wali kota juga. Bahkan, di depan Forkopimda Jawa Tengah. Tetapi, sambutan di talk show batik itu berbeda. Pengetahuan saya mengenai batik terlalu sedikit. Khawatir kontra produktif.

Talk show batik itu diselenggarakan hari ini, 22 April 2019 di Pendapa Kabupaten Kudus. Pembicaranya orang-orang top. Ada Notty J. Mahdi, pengamat dan antropolog dari Universitas Indonesia; Intan Avantie, perancang busana kenamaan; Ummu Asiati, pelaku usaha batik Kudus; dan Nia Faradiska Nor Isfaiza, disainer muda Kudus.

Yang memberi sambutan antara lain Bupati Kudus Muhammad Tamzil, Direktur PT Nojorono Tobacco International Stefanus J.J. Batihalim, dan Ketua penggerak PKK Kudus Rina Budhy Ariani. Semula saya diminta sebagai salah satu pembicara. Saya menolak mentah-mentah. Tawaran menurun hanya memberi sambutan. Juga saya tolak. Tetapi panitia memaksa. Katanya, sambutan itu hanya seremonial.

Sebenarnya sudah lama saya tertarik batik. Sudah sering keluar masuk kampung batik. Sudah membeli buku-buku batik juga. Sudah berbicara dengan pelaku-pelaku usaha serta perajin batik. Bahkan berkali-kali belajar membatik. Di rumah ada peralatan membatik. Ada bermacam-macam canting, malam, pewarna, dan kain mori. Tetapi, tak kunjung menjadi ‘’ahli’’ batik.

Besar kemungkinan, seperti yang tertulis dalam beberapa literatur, batik berkembang dari kalangan keraton. Mula-mula untuk para raja dan keluarganya, serta penggawa kerajaan lainnya. Itu turun-temurun sejak Kerajaan Majapahit, berlanjut Kerajaan Mataram, sampai Kesultanan Surakarta dan Jogjakarta. Dari situlah kemudian merembet daerah lain sampai pedalaman.

Batik kemudian berakulturasi dengan berbagai ragam budaya. Ada yang berbau Eropa. Ada yang diwarnai kebudayaan Tiongkok. Ada yang bermuatan religi. Sekarang batik sudah campur-aduk. Yang orang masih sepakat batik adalah seni mewarnai kain dengan menggunakan malam untuk membikin motif. Itulah yang disebut batik tulis. Sejalan dengan industrialisasi kemudian muncul batik cap yang malamnya distempelkan. Di luar itu ada motif batik printing.

Kartini termasuk salah seorang pelaku batik tulis. Ada karyanya yang masih tersimpan di salah satu museum di Jakarta. Dibuat ketika dia dalam pingitan di Pendapa Kabupaten Jepara. (Kamarnya dilestarikan sampai sekarang). Dari warnanya batik Kartini diilhami oleh batik keraton. Warnanya sogan (cokelat). Warna asli batik keraton. Dua saudaranya, Roekmini dan Kardinah juga membatik.

Batik-batik buatan Kartini sempat juga diboyong ke Rembang ketika dia dipersunting oleh bupati di sana. Saya pernah tidur di kamarnya. Oleh juru kunci diceritai, ada beberapa batik Kartini yang tersimpan di salah satu lemari di pendapa kabupaten yang dijadikan museum. Entah benar atau tidak. Juru kunci tak mau menunjukkan barangnya. Kalau betul, pasti bernilai mahal. Batik Kartini terbatas dan hanya dipakai untuk kalangan sendiri.

Ketika dalam pingitan itu ternyata Kartini berkarya. Salah satu hasilnya dikirim ke Belanda. Diberikan kepada Ny. Abendanon, istri salah seorang menteri yang menjadi teman korespondensinya. Ini pelajaran besar bagi kita. Terutama kaum perempuan. Kartini bukan sekadar pahlawan emansipasi wanita. Kartini mengajarkan perempuan untuk berkarya.

Keterkaitan batik dengan perempuan juga terlihat di Kudus. Tersebut nama Ny. Lie Boen In dan Ny. Liem Wie Tjioe. Perempuan asal Pekalongan ini, berpindah ke Kudus dan mengembangkan batik di Kota Wali. Batiknya dipengaruhi oleh budaya Tiongkok dan Belanda. Kebanyakan bermotif bunga.

Mula-mula batik ini juga untuk dipakai sendiri dan keluarga. Terutama kaum perempuan. Batik menjadi bawahan. Atasannya kebaya yang sekarang terkenal kebaya encim. Kemudian berkembang ke saudagar-saudagar di sekitarnya, di Kudus Kulon yang pelakunya kaum laki-laki. Lie Boen In pun membuat sarung batik.

Dalam perkembangannya juga batik tulis dipakai untuk celana pengsi, celana kolor sampai bawah lutut. Sekarang kebanyakan batik dipakai untuk baju laki-laki.

Kini, batik telah berkembang ke berbagai pelosok nusantara. Di tanah Jawa berderet batik pesisiran mulai dari Cirebon, Pekalongan, Batang, Semarang, Kudus, Pati, Rembang, Tuban, Madura, Pasuruhan, dan seterusnya sampai Banyuwangi. Juga daerah-daerah di luar Jawa. Sudah melibatkan ribuan pengusaha dan jutaan tenaga kerja. Sebagian besar perempuan.

Kini, batik yang dibikin kaum perempuan telah menjadi pakaian kebanggan seluruh kalangan. Selamat Hari Emansipasi Perempuan. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 22 Apr 2019 08:17:36 +0700
<![CDATA[Ini Soal Manusia dan Kemanusiaan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130340/ini-soal-manusia-dan-kemanusiaan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/ini-soal-manusia-dan-kemanusiaan_m_130340.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/08/ini-soal-manusia-dan-kemanusiaan_m_130340.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/08/130340/ini-soal-manusia-dan-kemanusiaan

JASMIN adalah seorang buruh tani di Desa Singonegoro, Jiken, Blora. Usianya 53 tahun. Penghasilannya tidak tentu. Dia harus menghidupi istri dan kedua orang tua]]>

JASMIN adalah seorang buruh tani di Desa Singonegoro, Jiken, Blora. Usianya 53 tahun. Penghasilannya tidak tentu. Dia harus menghidupi istri dan kedua orang tua yang sudah renta. Mereka tinggal seatap di rumah sederhana di pinggiran hutan.

Tanggal 8 Maret 2019 dia ditangkap polisi. Tuduhannya mencuri kayu. Saat itu dia memikul sebatang kayu jati sepanjang empat meter. Besarnya 8 x 10 cm. Ditawarkan Rp 100.000. Orang yang ditawari ternyata polisi. Hari itu juga dia dijebloskan ke tahanan. Jasmin tak berkutik. Sampai sekarang.

Yati adalah warga Desa Purwosari, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Perempuan 58 tahun itu ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Sapol PP) karena kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya. Pada 26 Februari dia diadili. Dihukum denda Rp 400 ribu subsider kurungan sebulan penjara.

Hukuman tersebut sama dengan yang dijatuhkan terhadap dua waga Kudus lainnya yang ditangkap hampir bersamaan. Namun tidak sama dengan sembilan warga lain yang ditangkap sebelumnya. Mereka hanya dijatuhi denda Rp 200 ribu. Tuduhannya sama. Melanggar Perda. Kasusnya juga sama. Membuang sampah.

Sama-sama melanggar Perda, seorang pengusaha kafe karaoke di Kudus dihukum sebulan penjara dengan masa percobaan dua bulan. Tidak ada denda. Tentu, warga Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, tersebut, tidak perlu masuk bui bila dalam dua bulan dia tidak melakukan pelanggaran lain.

Jasmin, Yati, dan yang lain adalah manusia. Dia dihukum karena melakukan pelanggaran. Sedangkan perlakuan terhadap mereka menyangkut kemanusiaan. Karena itu, berbeda-beda. Ada subjektivitas. Di sinilah sering menimbulkan rasa ketidakadilan. Apalagi banyak pembuang sampah lain tidak diapa-apakan. Banyak pencuri yang juga berkeliaran.

Kasatpol PP Kudus Djati Soleh merasakan hal itu. Kenapa seorang pengusaha karaoke justru dihukum percobaan? Padahal, pembuang sama dihukum denda. Bupati Blora Djoko Nugroho juga prihatin atas perlakukan terhadap Jasmin. Rakyatnya itu miskin. Mencuri karena kepepet kebutuhan. Kedua orang tuanya renta. Sakit lagi. Djoko tersentuh. Dia meminta agar Jasmin dikeluarkan dari tahanan. Suara hati Djoko disampaikan dua kali berturut-turut dalam acara resmi. 

Saya menangkap, Djoko tidak mengintervensi penegak hukum. Dia menyuarakan hati nurani. Tidak banyak pejabat yang seperti beliau. Bila Jasmin dibebaskan dari terali besi bukan berarti dibebaskan dari hukum. Kasusnya bisa terus berlanjut. Toh, Jasmin kemungkinan tidak melarikan diri. Dia miskin. Tidak punya uang. Pulang dari perantauan karena ingin merawat kedua orang tuanya.

Saya juga tertarik kasus Jasmin. Tanggal 19 Maret 2019 saya ke rumahnya. Bertemu istri dan kedua orang tuanya. Jariyo, ayah Jasmin sedang sakit. Kakinya bengkak setelah tertusuk kayu. Sepertinya infeksi. Namun, dibiarkan karena tidak punya uang untuk berobat. Saya menyarankan agar dibawa ke puskesmas. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian saya mendapat kabar Jariyo sembuh.

Kalau polisi tetap menahan Jasmin, mereka tidak salah. Polisi memiliki kewenangan berdasarkan hukum. Jasmin tertangkap tangan membawa kayu curian. Tetapi, kalau Jasmin dikeluarkan dari tahanan juga tidak salah. Ada dasar hukumnya juga. Begitulah kemanusiaan. Selalu tidak sama antara satu orang dengan orang lain. Itu sangat tergantung dari hati nurani.

Di manapun, dalam kondisi apapun, sampai kapanpun, diperlukan hadirnya hati nurani. Tidak sekadar aturan. Di perusahaan juga demikian. Saya berusaha mempraktikkan. Sulitnya minta ampun. Kadang-kadang berbenturan. Tanggapan karyawan juga berbeda-beda. Bisa jadi saya dianggap tidak adil. Atau malah tidak berhati nurani.

Hari ini misalnya, saya mengeluarkan bonus untuk karyawan Jawa Pos Radar Semarang dan Radar Kudus. Tidak banyak. Besarannya pun tidak sama antarkaryawan. Tetapi, harus disyukuri. Apalagi di saat banyak perusahaan media kembang kempis.

Aturannya ada. Tetapi, tidak bisa begitu saja dilaksanakan. Misalnya, karyawan yang belum setahun mestinya tidak mendapat apa-apa. Juga karyawan yang bekerja biasa-biasa saja dalam arti baik. Tetapi, saya kasihan. Akhirnya yang sudah bekerja enam bulan mendapat cipratan. Demikian juga yang bekerja biasa-biasa saja. Itu hati nurani.

Bonus itu bukan gaji. Diberikan sebagai perwujudan apresiasi kepada karyawan yang bekerja lebih. Karena itu, realisasinya tidak sama. Itu karena nilai karyawan berbeda-beda. Kapasitasnya juga bertingkat-tingkat. Ada yang rajin, rajin sekali, sangat rajin sekali, kurang rajin, tidak rajin, dan malas. Ada yang bekerja sesuai tupoksinya, ada pula yang melebihi. Ada yang berintegritas tinggi, ada yang biasa. Ada yang sering membantu temannya, ada yang tidak.

Repotnya, rata-rata karyawan hanya bekerja baik. Orang yang bekerja baik sudah mendapat gaji. Sering tidak disadari. Begitulah. Mengedepankan hati nurani betul-betul tidak gampang. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 08 Apr 2019 09:25:54 +0700
<![CDATA[Berlari dalam Kebersamaan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/01/128861/berlari-dalam-kebersamaan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/01/berlari-dalam-kebersamaan_m_128861.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/04/01/berlari-dalam-kebersamaan_m_128861.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/04/01/128861/berlari-dalam-kebersamaan

Hari ini, 1 April 2019, Jawa Pos Radar Semarang, saudara kandung Radar Kudus, yang sama-sama saya pimpin, genap berusia 19 tahun. Banyak pelajaran yang dipetik.]]>

Hari ini, 1 April 2019, Jawa Pos Radar Semarang, saudara kandung Radar Kudus, yang sama-sama saya pimpin, genap berusia 19 tahun. Banyak pelajaran yang bisa dipetik.

Sejak Sabtu sudah diadakan serangkaian acara. Sederhana, tetapi banyak karyawan dan keluarga yang berkesan. Sampai-sampai yang tidak datang karena berbenturan dengan acara lain merasa kecewa.

‘’Dari kemarin dan hari ini plolak-plolok lihat orang podo komen bahagia dan seru-seruan. Ya, sudahlah, berarti turut berbahagia lihat banyak orang berbahagia,’’ kata Redaktur Pelaksana Radar Semarang Ida Nur Laila. Dua hari dia harus memberikan pelatihan menulis untuk para guru di Magelang dan Kendal.

Rangkaian acara dimulai unjuk gigi Sabtu pagi. Istilah kerennya show of force. Ingin menunjukkan bahwa di saat banyak koran berguguran, Radar Semarang malah semakin bersemangat. Kemarin silaturrahim keluarga. Hari ini rangkaian terakhir open house.

Pukul 07.00 Sabtu, seluruh karyawan berjalan kaki dari kantor di jalan Veteran 55 Semarang menuju Simpanglima – Taman Indonesia Kaya – rumah wali kota Semarang – kantor. Total 7.961 langkah. Menghabiskan 328 kalori. Mereka membawa berbagai tulisan penyemangat. Dipimpin oleh mantan aktivis mahasiswa yang sering berdemo Sigit Rahmanto. Di sepanjang perjalanan dia berorasi.

Rombongan sempat tawaf, eh, baruputar sekali. Sigit terus berkoar-koar antihoak. Sesekali diselingi yel-yel dan nyanyian. Banyak pengendara yang memperhatikan. Malah ada orang yang berolah raga pagi bertanya, demo tentang apa? Tentu dijawab bukan berdemo.

Di Taman Indonesia Kaya dimainkan beberapa game ringan. Saya tidak tahu namanya. Ada lompat berkelompok dan hulahop yang dimodifikasi jadi permainan. Semacam outbond. Manajer Keuangan Indah Fajarwati menyebut untuk penguatan karakter dan team work.

Di situ pula saya didaulat untuk menyampaikan pidato hari ulang tahun. Suatu yang tidak biasa. Pidato internal dilaksanakan di tempat umum terbuka. Dilihat dan didengar banyak orang. Bisa jadi juga direkam kompetitor. Padahal, isinya hal-hal secret dan mendasar. Intropeksi, evaluasi, strategi, konsep, dan filosofi. Bagi saya tidak masalah. Belum tentu juga orang lain paham. Apalagi bisa melaksanakan. Di Radar Kudus saya sudah terbiasa menyampaikan pidato HUT seperti ini.

Pidato itu saya beri judul Berlari dalam Kebersamaan. Kelihatannya sederhana. Tetapi, tidak gampang diwujudkan. Konsekuensinya banyak. Bisa bertabrakan, saling dorong, dan serimpungan. Diperlukan pemahaman dan pengertian masing-masing karyawan sebagaimana dalam permainan yang saya sebut tadi. Untuk meminimalisir hal ini, kemarin digelar silaturrahim keluarga besar Radar Semarang.

Saya menangkap ada alasan yang kuat untuk bisa berlari di tengah himpitan persoalan media. Akhir tahun 2018 Radar Semarang bisa membuktikan tumbuh pada saat kondisi amat sulit. Demikian juga Radar Kudus. Saat itu, media sosial, digital, elektronik, dan koran masih perang berebut pasar.

Radar Semarang membuktikan tetap tumbuh di banyak indikator penilaian kecuali satu. Sehingga meraih juara III di kelompok Jawa Pos Radar yang terdiri atas 18 perusahaan. Radar Kudus, saudara kandungnya, yang sama-sama saya pimpin, juga demikian. Membuntuti di urutan keempat.

Pada kuartal I 2019 yang berakhir kemarin, baik Radar Semarang maupun Radar Kudus bisa mempertahankan pertumbuhannya. Hanya satu indikator dari seluruh indikator yang mengalami penurunan. ‘’Saya ucapkan selamat. Radar selalu tampil keren. Berita-bertianya up to date, faktual, dan atihoak. Itu membuat para pembaca selalu mendapat informasi yang bermanfaat ,’’ komentar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.

Atas prestasi itu saya berkeyakinan Radar Semarang dan Radar Kudus akan terus berkembang. Fondasi telah ditanam. Semangat telah dikobarkan. Tekad dikuatkan. Be Better, Be Greater.  Harus lebih baik dan harus lebih besar. Motto ini dicanangkan akhir tahun lalu di Merapi bersama Radar Kudus.

Pada ulang tahun ke-19 ini Radar Semarang semakin menebalkan tekad dan menguatkan semangat. Kebetulan angkanya sangat sakral. Sembilan (9) adalah angka tertinggi. Digunakan untuk memperkuat tekad meraih nilai terbanyak. Angka satu (1) sebagai sasaran menjadi juara pertama.  Radar Kudus meraih posisi ini tahun 2016.

Tekad dan semangat itu penting. Bisnis dan usaha apapun terletak pada nilai yang sangat subyektif ini. Bila pelakunya tidak lagi bertekad dan bersemangat maka tunggulah saat kehancurannya. Saya dan Benk Minosih, general manager Star Hotel Semarang setuju mengenai hal itu. Saya bertemu beliau di hotelnya Jumat, minggu lalu.

Alhamdulillah. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menangkap tekad Radar Semarang masih kuat dan semangatnya membara.  “Mudah-mudahan berkembang terus, semakin sukses, dan oplahnya bertambah banyak,’’ katanya kepada rombongan karyawan Radar Semarang yang menemuinya di rumah pribadi di Lempongsari, Semarang, Sabtu.

Saya sengaja mengajak seluruh karyawan Radar ke rumah pribadi Pak Hendi  untuk mengucapkan selamat ulang tahun ke-48 yang jatuh pada 30 Maret itu. Spekulasi. Tidak ada persiapan. Hanya mengenakan kaos yang basah keringat sehabis show of force. Bahkan saya mengenakan celana pendek. Kue tartnya juga kecil. Datang belakangan lagi. Ternyata Pak Hendy malah sangat apresiatif. Sampai-sampai beliau membatalkan satu acara yang mesti dihadiri saat kami datang. Begitu saya serahkan, beliau tiup lilinnya dan potong kuenya.

Hendi kaget ketika saya menyampaikan seluruh karyawan Radar Semarang datang dengan berjalan kaki. ‘’Agar bisa merasakan trotoar bagus yan dibangun Pak Hendi,’’ kata saya guyonan. Hendi tertawa. Kemudian saya mengatakan, agar bisa menghayati Kota Semarang. Penghayatan wilayah itu penting. Karena di bumi itulah Radar Semarang berpijak.

Selamat ulang tahun ke-48 Pak Hendi dan Selamat ulang Tahun ke-19 Radar Semarang. Semoga terus menuai kesuksesan. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 01 Apr 2019 09:58:06 +0700
<![CDATA[Sudah Miskin Menjadi Semakin Miskin]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/25/127412/sudah-miskin-menjadi-semakin-miskin https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/25/sudah-miskin-menjadi-semakin-miskin_m_127412.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/25/sudah-miskin-menjadi-semakin-miskin_m_127412.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/25/127412/sudah-miskin-menjadi-semakin-miskin

SEDIANYA hari itu saya hanya ingin berangkat dari Sidoarjo ke Semarang naik kereta Maharani. Irit. Hanya Rp 49.000. Saya ingin ke rumah Jasmin di Desa Singonego]]>

SEDIANYA hari itu saya hanya ingin berangkat dari Sidoarjo ke Semarang naik kereta Maharani. Irit. Hanya Rp 49.000. Tidak sampai separo dibanding naik bus Patas Surabaya – Semarang. Tiket sudah di tangan. Mendadak harus bermanuver. Saya ingin ke rumah Jasmin di Desa Singonegoro, Jiken, Blora.

Karena pagi di tanggal 12 Maret itu saya ketinggalan kereta, jadilah naik bus ekonomi. Dari Surabaya ke Babat. Kemudian estafet ke Cepu. Dari Kota Minyak itu naik Grab motor ke Singonegoro dengan biaya Rp 57 ribu.

Begitu turun dari angkutan bersistem on line itu terlihat Suwarini tergopoh-gopoh hendak masuk rumah berdinding kayu. Seluruh pakaiannya basah kuyub. Air yang menetes dari pakaiannya membasahi lantai tanah di teras.

Kelihatan Ayahnya Jariyo dan ibunya Tahan (berulang-ulang saya tanya namanya memang Tahan) yang duduk di ruang tamu beranjak menyambut. Mereka bertemu persis di pintu yang terbuka separo. Belum sempat mereka berbincang, saya menyapa. Mereka kaget. Mbengong.

‘’Bagaimana keadaan Pak Jasmin,’’ tanya saya. Suwarini menjawab, suaminya sehat. Saat itu berada di tahanan Polres Blora. Suwarini baru dari sana. Di jalan kehujanan. Kebetulan siang itu hujan lebat mengguyur tlatah Blora. Saya juga kehujanan sejak dari Cepu. Sempat berteduh tetapi akhirnya nekat.

Paki Jasmin yang saya tanyakan tersebut adalah seorang buruh tani serabutan. Kalau bekerja penghasilannya Rp 30.000 sehari. Dia ditangkap polisi karena kedapatan menjual sebatang kayu jati berukuran empat meter. Besarnya hanya 8 mx 10 cm. Kayu itu dipikul. Di dekat Pasar Jepon, Blora, ditawarkan kepada seseorang seharga Rp 100 ribu. Orang yang ditawari itu polisi kehutanan. Jumat, 8 Maret 2019 itulah Jasmin ditangkap.

Kata Suwarini, seumur-umur baru kali itu suaminya ditangkap polisi. Semula dia tidak tahu duduk perkaranya. Dia hanya mendengar celotehan orang lewat di depan rumah bahwa Jasmin tertangkap. Suwarini kemudian ke Balai Desa untuk mendapat informasi. Ternyata betul. Suaminya ditangkap polisi karena dituduh mencuri kayu jati. Tangispun pecah. ‘’Seandainya tahu akan mencuri, saya pasti melarangnya,’’ ujarnya.

Sebenarnya, kata Suwarini, keluarganya pasrah meski hidup serba kekurangan. Mereka rela makan apa adanya. Ayahnya yang sakit belum sempat diberobatkan. Kakinya bengkak karena ketusuk kayu lancip. Jalannya dengklang. Sesekali harus dipapah. Ibu Jasmin juga tidak sehat. Praktis mereka menjadi tanggungan Jasmin. Tiga saudara Jasmin berumah tangga di tempat lain.

Bertahun-tahun Jasmin hidup merantau. Jakarta, Surabaya, sampai Bali. Hanya sebagai kuli bangunan. Kemudian pulang karena kondisi orang tuanya yang tidak sehat. Di kampung dia bekerja serabutan. Suwarini, istrinya, membantu juga sebagai buruh serabutan. ‘’Setelah Pak Jasmin ditahan, saya yang merawat bapak-ibu,’’ ujar Suwarini yang membiarkan pakaiannya tetap basah.

Saya lihat kondisi rumahnya memang sangat sederhana. Di ruang tamu tidak terlihat ada perabotan kecuali meja dan bangku panjang tersebut.

‘’Tolong Pak, dibantu agar Pak Jasmin cepat keluar,’’ rengek Suwarini kepada saya. Terus terang saya mengatakan tidak bisa membantu apa-apa. Saya datang hanya untuk bersilaturrahmi sebagai sesama umat manusia. Jawaban saya itu agaknya melegakan. Tahan, yang sejak semula diam mengatakan berterima kasih. Sedangkan Jariyo tetap diam. Dia lebih sering memegang kepalanya. Katanya, sakit sekali.

Tangis mereka pecah ketika saya pamit pulang sambil mengulurkan sesuatu ke tangan Suwarini. Perempuan yang dinikahi Jasmin setahun lalu sampai meneteskan air mata. Bicaranya terbata-bata. Tahan mengusap air matannya sendiri dengan pucuk kain tua yang dikenakannya. Jariyo yang berusaha berdiri saya cegah. ‘’Maaf saya tidak bisa membantu mengeluarkan Pak Jasmin dari tahanan. Saya bukan siapa-siapa,’’ kata saya. Tangis Suwarini malah semakin menjadi.

Saya sendiri hendak meneteskan air mata. Tetapi bisa saya tahan. Saya tidak tega mendengar cerita Suwarini yang sesekali ditimpali ibunya.

Mereka adalah potret keluarga miskin. Karena kemiskinannya itulah Jasmin mencuri. Sekarang tulang punggung keluarga ditahan. Mereka semakin miskin.

Saya teringat betul pelajaran di madrasah ibtidaiyah dulu. Kada alfakru an-yakuna kufron. Kefakiran itu bisa menjadikan seseorang menjadi kufur. Mereka bisa terjerumus pada perbuatan yang tidak baik. Mereka sudah miskin.

Salah siapa? Saya tidak tahu. Pemerintah telah berbuat baik. Masyarakat juga. Keluarga Jasmin juga sama. Polisi dan penegak hukum lainnya juga tidak bisa disalahkan. Mereka menangkap dan menahan Jasmin karena pelanggaran hukum. Yang diperlukan adalah saling mengerti dan saling membantu. Polisi dan penegak hukum lainnya juga begitu. Agar persoalan tidak semakin dalam. (hq@jawapois.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 25 Mar 2019 11:35:00 +0700
<![CDATA[Mengerti, Bukan Ingin Dimengerti]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/11/124226/mengerti-bukan-ingin-dimengerti https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/11/mengerti-bukan-ingin-dimengerti_m_124226.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/03/11/mengerti-bukan-ingin-dimengerti_m_124226.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/03/11/124226/mengerti-bukan-ingin-dimengerti

SAYA orang Jawa Timur. KTP Sidoarjo. Tinggal di pinggiran. Selatan Surabaya. Terbiasa berbicara keras dan blak-blakan. Suatu saat sampai disindir seorang kawan.]]>

SAYA orang Jawa Timur. KTP Sidoarjo. Tinggal di pinggiran. Selatan Surabaya. Terbiasa berbicara keras dan blak-blakan. Suatu saat sampai disindir oleh seorang kawan, wartawan di Semarang. ‘’Mungkin ke depan saya harus bilang ke tukang sound kalau suara Pak Baehaqi itu sangat bertenaga. Supaya (sound-nya) bisa disesuaikan,” ujarnya.

Karakter saya itu berbeda dengan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Beliau asli Lempongsari, tempat saya tinggal setahun terakhir. Penampilannya cool. Suaranya lembut. Tetapi dahsyat. Sindirannya seperti geledeg. ”Pak, itu memang dibikin bolong atau hilang,” katanya kepada salah seorang kepala dinas sambil menunjuk ikon Taman Meteseh yang bogang.

Setahun terakhir saya harus lebih serius menyelami karakter orang Jawa Tengah, khususnya Semarang. Lahir dan besar sebenarnya di Kudus. Tetapi, separo hidup nyaris bersama orang Surabaya yang terbiasa tanpa tedeng aling-aling. Hampir 30 tahun bekerja di Surabaya dan hampir 38 tahun tinggal di Jawa Timur.

Enam tahun lalu saya ditugaskan di tanah kelahiran, Kudus dan setahun belakangan merangkap di Semarang. Mau tidak mau harus lebih serius menyatu dengan karakter orang-orang yang halus, tetapi sangat kuat. Itu kalau mau berhasil. Tidak gampang. Sering kejeglong. Kena hantaman juga.

Suatu saat saya berjanji untuk membiayai Bakar-Bakar Jurnalistik. Yaitu bakar-bakar ikan, sosis, ayam, dan kambing yang dilakukan wartawan Radar Semarang. Itu untuk meredakan ketegangan setelah empot-empotan mengejar deadline. Kebiasaan saya terbuka. ”Bilang saja kalau mau bakar-bakar lagi, saya sediakan uangnya.” kata saya kepada  para wartawan. Secara khusus pesan itu juga saya sampaikan kepada pemimpin redaksi.

Sampai hitungan minggu tidak ada orang yang menjapri mengenai kegiatan bakar-bakar. Mungkin sungkan atau takut. Tiba-tiba ada video parodi minta-minta sumbangan yang diunggah di grup WA. Di ujung video itu diberi teks, ”iuran tadi bukan untuk dek haryanto yg lagi pusing bayar kos, tapi buat bakaran jurnalistik guys...sponsor klaim by pak baehaqi.” Tulisan aslinya seperti itu. Saya tertawa meski perasaan seperti disambar petir.

Menghadapi orang Jawa Tengah, khususnya orang Semarang itu tidak gampang. Diperlukan sensivitas yang tinggi. Padahal mereka juga sangat sensitif. Tidak peka bisa kena bom yang terbungkus sindiran halus. Terlalu peka bisa menyinggung perasaan. Apalagi terlalu keras dan blak-blakan. Di sini saya acungi jempol kepada Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Saya betul-betul belajar kepada keduanya. Bagaimana menghadapi masyarakat. Berkomunikasi dengan mereka. Dan menjadi pelayan mereka. Hendi -panggilan Hendrar Prihadi- dan Ganjar -panggilan Ganjar Pranowo- bisa mengambil peran dengan santai. Bisa ketawa-ketawa juga. Itulah kunci sukses menjadi pemimpin. Selalu bisa menghadapi persoalan tanpa ketegangan.

Saya tahu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini itu luar biasa. Itu karena saya 30 tahun bekerja di Kota Buaya. Kota yang dipimpinnya juga luar biasa. Tetapi, meski baru setahun bekerja di Semarang saya bisa menyimpulkan Semarang itu hebat. Itu karena Semarang memiliki pemimpin yang hebat.

Kalau Semarang belum seperti Surabaya, itu karena masih dalam proses. Hendi baru tiga tahun memimpin wilayah seluas 373,7 km2. Sedangkan Risma -panggilan Tri Rismaharini- sudah delapan tahun memimpin Surabaya yang luas wilayahnya hanya 350 km2.

Semarang menjadi acuan perkembangan kota-kota lain di Jawa Tengah. Posisinya sangat strategis. Kalau Semarang maju, kota lainnya juga maju. Demikian sebaliknya. Maka wali kota harus memiliki jiwa setengah gubernur.

Hendi mempunyai dasar yang kuat dalam memimpin Semarang. Intinya mengerti. Bukan dimengerti. Lebih-lebih mengerti sebelum dimengerti. Adanya di dalam hati. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 11 Mar 2019 06:05:59 +0700
<![CDATA[Suatu Malam di Teras Hotel Safin]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/18/119970/suatu-malam-di-teras-hotel-safin https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/18/suatu-malam-di-teras-hotel-safin_m_119970.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/18/suatu-malam-di-teras-hotel-safin_m_119970.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/18/119970/suatu-malam-di-teras-hotel-safin

MALAM itu sudah hampir larut. Semua hidangan telah tandas. Wedang jahe, teh, dan kopi. Wakil Bupati Pati Saiful Arifin masih saja bersemangat.]]>

MALAM itu sudah hampir larut. Semua hidangan telah tandas. Wedang jahe, teh, dan kopi. Wakil Bupati Pati Saiful Arifin masih saja bersemangat. Menceritakan pengalamannya mengembangkan perekonomian di Bumi Mina Tani.

Safin -panggilannya- kelihatan santai. Hanya mengenakan kaus oblong yang lehernya sudah tidak presisi lagi (maaf). Jauh memperlihatkan seorang wakil bupati yang kalau di kantor sangat formal. Saya yang wartawan menjadi salah tingkah. Justru mengenakan batik (batik tulis bakaran asli Pati. Hehehe...). Baju itu saya pakai sejak pagi ketika menemui rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) di kantornya. Kepala Biro Jawa Pos Radar Kudus di Pati Abdul Rokhim mengenakan seragam kantor warna putih.

Kami ngobrol di teras lobi Hotel Safin. Hotel miliknya. Safin sendiri yang memilih tempat itu. Lampunya temaram. Dari dalam lobi tidak kelihatan. Justru dari teras itu, terlihat jelas semua aktivitas di lobi. Termasuk para tamu hotel yang keluar-masuk. ”Sebentar. Itu para pimpinan pabrik gula,” kata Safin kemudian beranjak menemui tamu hotel tersebut.

Safin adalah seorang pengusaha sukses yang mengembangkan sayapnya sampai ibu kota. Kemudian dia pulang kampung bergandengan dengan Haryanto untuk meraih kursi bupati dan wakil bupati. Meski sudah menjadi birokrat, dasar kepengusahaannya tak bisa dilepaskan. ”Pati punya potensi yang jauh lebih besar dibanding daerah lain di sekitarnya,” ujarnya.

Luas wilayahnya tiga kali lipat dibanding Kudus, daerah tetangga yang mendominasi perekonomian di eks Karesidenan Pati. Safin berobsesi merebut dominasi itu. Modernisasi dilakukan, tetapi tidak lepas dari akarnya. Bumi Mina Tani.

Dia kembangkan peternakan, perikanan, dan perkebunan. Tidak sekadar menyusun konsep dan memrogramkannya di pemerintahan. Safin memberi contoh. Dia bikin ketiga-tiganya. Atas biaya sendiri. Kalau ekonomis baru dikembangkan ke masyarakat. ”Suatu saat Pati akan menjadi pemasok daging ayam ke Jakarta yang potensial,” obsesinya.

Ketika lagi demam durian, dia juga menanamnya. Di lahan milik sendiri. Katanya, tidak banyak. Tetapi dia menyebut satuan hektare. Di dalamnya ada kelengkeng dan alpukat serta tanaman buah lainnya. Durian yang ditanam tidak sembarangan. Jenis Musang King. Harga sekilogramnya jauh melebihi durian montong. ”Sekarang sudah mulai berbuah. Nanti kalau sudah panen saya ajak ke sana,” janjinya.

Safin sangat serius mengembangkan Bumi Mina Tani. Ketika mengetahui Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN mengembangkan pompa bertenaga matahari untuk mengairi perkebunan dia tertarik. Safin mengajak saya untuk melihat proyek Dahlan itu di Jombang. Berangkat setelah subuh dengan mobilnya. Di Jombang dia acak-acak seluruh kebun milik Dahlan.

Puas melihat proyek pompa di Jombang, Safin mengajak untuk menemui Dahlan. Saya antar ke rumahnya di Surabaya hari itu juga. Pak Dahlan menyambutnya dengan senang hati. Kebetulan di rumahnya itu ada beberapa set pompa solar sell yang sedang dirakit. Safin tertarik. Dahlan menawarinya. ”Kalau mau silakan bawa,” katanya saat itu.

Safin memiliki visi ekonomi yang jelas. Bukan hanya dasar Bumi Mina Tani. Tetapi, modernisasinya. Dia ingin suatu saat orang ke Pati bukan hanya ingin berkaraoke (Safin memperaganyakan dengan menempatkan genggaman tangannya di depan mulut). Tetapi, berwisata dan berbelanja.

Lagi-lagi Safin memberi contoh. Hotel yang dibangunnya telah menjadi pilihan orang luar daerah. Okupansinya nyaris penuh. ”Lihat. Itu ibu-ibu bukan orang pati,” katanya sambil menunjuk lima orang tamu hotel yang berada di lobi hendak keluar. Hotel itu dibangun dengan bondo nekad. Katanya, saat itu hanya ada uang Rp 5 miliar. Tetapi dia bisa meyakinkan perbankan untuk memberi pinjaman.

Tamu yang sudah bermalam di Pati itu harus semakin diikat dengan pariwisata. Industri kreatif sudah dikembangkan. Kuliner kini sedang ditata. Kelak juga ada pusat perbelanjaan modern. Safin menunjukkan lokasinya. Saya tidak mau membocorkan.

Bupati Pati Haryanto agaknya beruntung memiliki Wakil Bupati Safin. Juga masyarakat Pati. Safin contoh pemimpin yang memiliki visi yang jelas. Pemimpin seperti itulah yang masyarakat perlu pilih dalam pemilihan presiden, DPD, DPR, dan DPRD kelak. Jangan membeli kucing dalam karung. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 18 Feb 2019 08:16:28 +0700
<![CDATA[Sepotong Tumpeng untuk Senyum Prabangsa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/11/118741/sepotong-tumpeng-untuk-senyum-prabangsa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/11/sepotong-tumpeng-untuk-senyum-prabangsa_m_118741.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/11/sepotong-tumpeng-untuk-senyum-prabangsa_m_118741.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/11/118741/sepotong-tumpeng-untuk-senyum-prabangsa

SEBUAH pesta kecil digelar di lobi samping Jawa Pos Radar Kudus Building. Yang hadir seluruh wartawan, awak redaksi, dan karyawan lainnya. Ada satu tumpeng.]]>

SEBUAH pesta kecil digelar di lobi samping Jawa Pos Radar Kudus Building. Yang hadir seluruh wartawan, awak redaksi, dan karyawan lainnya. Ada satu tumpeng. Nasinya kuning. Meski sederhana, tak mengurangi arti kesakralannya. Itulah cara yang dilakukan Jawa Pos Radar Kudus untuk memperingarti Hari Pers Nasional kemarin (10 Februari 2019).

Saya diundang untuk memberi sambutan. Tetapi sudah telanjur di Surabaya. Lagi pula saya baru tiba di rumah malam sebelumnya setelah menempuh perjalanan Kudus – Semarang – Magelang – Jogjakarta – Surabaya. Wejangan pun disampaikan Pemimpin Redaksi Zaenal Abidin. Doa dipimpin Ali Mustofa. Keduanya sama-sama menyandang gelar sarjana S2.

HPN itu jatuh 9 Februari. Saya merayakannya di Magelang bersama emak-emak guru yang mengikuti Pelatihan Guru Menulis. Pesertanya kira-kira 50 orang. Sebagian besar perempuan. Kalau para guru pintar menulis, kelak akan memperkuat tulisan wartawan di media massa. Saya mengapresiasi. Rela menyambangi meskipun hanya beberapa menit. Sekedar untuk berselfi bersama peserta. Sekaligus mengucapkan Selamat Hari Pers Nasional.

Itulah salah satu kegiatan nyata yang dilakukan oleh Radar Semarang yang juga saya pimpin untuk menghidupkan pers di tanah air. Sama sekali tidak ada hura-hura. Sambutannya luar biasa. Tepuk tangan gemuruh ketika saya mengatakan, “Hari ini adalah Hari Pers Nasional dan para guru mengisinya dengan berlatih menulis.”

Hampir bersamaan dengan kegiatan di Magelang, Presiden Joko Widodo menghadiri puncak peringatan HPN di Surabaya. Acaranya biasa saja. Tetapi, usai acara presiden memberi Kabar istimewa. Pemimpin Redaksi Jawa Pos Abd. Rokhim menanyakan remisi yang diberikan pemerintah kepada I Nyoman Susrama, otak pembunuhan terhadap wartawan Jawa Pos Radar Bali Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. Presiden mengatakan telah mencabutnya (remisi tersebut).

Remisi berupa pengurangan hukuman dari seumur hidup menjadi 20 tahun penjara itu melukai hati insan pers. Bahkan seluruh masyarakat Indonesia yang peduli keadilan. Betapa tidak? Prabangsa dengan idealismenya mengungkap kasus penyelewengan justru dibunuh secara keji (11 Februari 2009). Mayatnya ditemukan di laut seminggu kemudian.

Ketika remisi dikeluarkan, para insan pers sempat lunglai. Termasuk saya yang sudah 34 tahun menjadi wartawan. Apalagi remisi itu dikeluarkan di saat  media massa cetak terpuruk oleh desakan media digital dan media sosial. Seolah wartawan media cetak tidak dihargai lagi. Maka, pencabutan remisi menjadi angin segar yang membangkitkan semangat kewartawanan kami. Mudah-mudahan Prabangsa tersenyum di alam sana.

Saya bersyukur dalam kondisi yang sulit itu ada angin segar lainnya. Dalam evaluasi tahunan di Madiun Rabu minggu lalu, Jawa Pos Rada Kudus yang saya pimpin masih bisa mempertahankan prestasi. Memang tidak juara satu atau dua seperti tahun sebelumnya. Tetapi, masih meraih juara harapan. Satu perusahaan lainnya yang juga saya pimpin, Radar Semarang, meraih juara III. Alhamdulillah.

Di bawah Jawa Pos Radar Group terdapat 18 perusahaan. Radar Kudus selalu meraih prestasi baik dalam enam tahun terakhir. Tahun 2016 meraih juara pertama sekaligus menorehkan nilai tertinggi secara nasional di bawah grup Jawa Pos. Tahun 2017 menggondol juara II. Tahun 2018, di saat sebagian besar perusahaan pers menghalami kesulitan, Radar Kudus meraih juara harapan.

Dari sisi bisnis, Radar Kudus menunjukkan perkembangan yang meyakinkan. Ada enam indikator yang dinilai. Lima diantaranya mengalami pertumbuhan. Salah satu di antaranya iklan. Itu menunjukkan kepercayaan masyarakat yang semakin besar. Labanya juga meningkat. Sehingga perusahaan semakin sehat dan kuat.

Sebagai pemegang manajemen, saya memberikan apresiasi. Maaf bukan bermaksud sombong. Apresiasi itu berupa kenaikan gaji yang diterima mulai akhir Januari lalu. Persentasenya melebihi kenaikan upah minimum regional (UMR). Kami berkeyakinan apabila kesejahteraan terjaga, wartawan bisa menjunjung nilai-nilai idealismenya (Kada alfaqru an yakuna kufron = Kefakiran bisa menjerumuskan orang menjadi kufur). Juga tidak dilecehkan.

Ke depan tantangan media massa cetak akan semakin besar. Kami menyadari. Kami terus berbenah diri. Memperkuat perusahaan dari berbagai sisi. Kualitas menjadi inti. Itulah tanggung jawab kami agar pers tetap hidup.  Agar Prabangsa bisa tersenyum di alam sana.

Selamat Hari Pers Nasional. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 11 Feb 2019 08:53:41 +0700
<![CDATA[Doa yang (Tak) Tertukar]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/04/117556/doa-yang-tak-tertukar https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/04/doa-yang-tak-tertukar_m_117556.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/02/04/doa-yang-tak-tertukar_m_117556.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/02/04/117556/doa-yang-tak-tertukar

DAHULU kala di Mostar, Bosnia, hidup seorang mufti. Namanya Mustafa Ejubovic. Lahir pada 1651 dan meninggal 1707. Ayahnya seorang profesor terkemuka.]]>

ALKISAH 1

DAHULU kala di Mostar, Bosnia, hidup seorang mufti. Namanya Mustafa Ejubovic. Lahir pada 1651 dan meninggal 1707.  Ayahnya seorang profesor terkemuka. Mustafa mendapat titisan darah ayahnya. Dia melanjutkan sekolah di Konstantinopel sampai mendapat gelar guru besar. Ilmunya dibawa pulang dan dia mendapat julukan mufti.

Mufti adalah ulama yang memiliki wewenang untuk menginterpretasikan teks dan memberikan fatwa kepada umat (bisa diklik di Wikipedia). Fungsi mufti kadang-kadang diambil oleh suatu organisasi ulama seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) maupun oleh Pengadilan Agama.

Meski seorang ulama besar, terkenal, dan berpengaruh, ada saja anak-anak yang berani menggodanya (sehari setelah kunjungan presiden ke Mbah Moen kisah ini diunggah Republika.co.id). Saat itu, Mustafa sedang lewat di sebuah masjid. Ada beberapa anak yang sedang bermain. Tak lazim. Mereka menggunakan keranda jenazah untuk memecah tawa. Seorang anak dijadikan ‘’mayat’’. Disuruh pura-pura mati. Kemudian dibaringkan di keranda tersebut. Dipikul beramai-ramai. Mereka terpingkal-pingkal.

Ketika Syeh Mustafa yang juga dianggil Yuyo atau Jujo lewat, anak-anak tersebut semakin bertingkah. Dimintanya wali keramat itu untuk menyalati. Kok mau-maunya Syeh Mustafa memenuhi permintaan anak-anak tersebut.

Ketika prosesi salat mau dilaksanakan, Syeh Mustafa berbalik menghadap ke anak-anak yang sudah berdiri berbaris di belakangnya. ‘’Yang mau disalati itu yang hidup apa yang mati,’’ tanya syeh kepada anak-anak. ‘’Yang mati,’’ jawab anak-anak serentak. Pertanyaan itu diulangi hingga dua kali. Jawaban anak-anak tetap sama.

Salat jenazah pun dilakukan. Anak-anak menahan tawa. Sampai akhirnya salat jenazah selesai. Anak-anak cekikikan. Syeh Yuyo meninggalkan mereka. Anak-anak kemudian membuka keranda membangunkan temannya yang disuruh pura-pura mati. Berkali-kali dibangunkan, ‘’mayat’’ tersebut tidak bereaksi. Ternyata betul-betul menjadi mayat. Heninglah jadinya. Mereka lantas sadar bahwa seorang mufti tidak bisa dimain-mainkan.

Alikisah 2

Pada Jumat lalu seorang ulama besar Indonesia yang hidup di Desa Karangmangu, Sarang, Rembang, Jateng, mendapat kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Ulama yang sangat disegani bernama KH Maimoen Zubair atau lebih dikenal Mbah Moen. Kunjungan orang nomor satu di Indonesia itu, disambut gempita oleh santri dan masyarakat lainnya. Sampai akhirnya Mbah Moen diminta memimpin doa.

Mbak Moen yang mengenakan baju putih dan penutup kepala yang juga putih memenuhi permintaan tersebut. Awalnya tidak menggunakan teks. Tak berapa lama beliau merogoh saku mengeluarkan kertas berwarna kuning. Membacanya. Menyambung doa yang diucapkan sebelumnya. Presiden Jokowi yang juga mengenakan baju putih dan kopiah hitam mengamini dengan mengangkat tangan.

Saat membaca doa itulah Mbah Moen mendoakan Prawobo Subianto, calon presiden nomor urut 02 yang menjadi rival Joko Widodo yang bernomor urut 1.  ‘’..Hadza rois Pak Prabowo....” Saat doa itu masih dibacakan suasana tetap khusuk. Pak Jokowi tidak bereaksi sama sekali. Beliau tetap menunduk.

Setelah doa usai, terjadi kasak-kusuk. Ketua DPP PPP Romahurmuziy alias Rommy yang kemudian mendekati Mbah Moen sampai kamar tidurnya. Presiden diajak serta. Dalam waktu sekejap geger di mana-mana. Pihak-pihak yang pendukung Jokowi mengklarifikasi.

Hak Prerogatif Tuhan

Siapapun yang berdoa, apapun yang diucapkan, Tuhan maha tahu. Tuhan mengetahui persis apa yang ada di dalam hati manusia. Bahkan yang di lubuk paling dalam. Tidak diucapkan pun Tuhan tahu. Pengucapannya salah Tuhan juga tahu yang sebenarnya. Tidak ada doa yang tertukar. Wallahu yaklamu waantaum la taklamun (QS Albaqoroh 216).

Tidak semua doa mesti dikabulkan meskipun Tuhan mengatakan, ud’uni astajib lakum (berdoalah niscaya aku kabulkan (QS Almu’min 60). Tuhan mengetahui kondisi masing-masing umatnya. Adakalanya permintaan tidak dikabulkan karena tidak sesuai kondisinya. Bisa jadi ada orang yang tidak meminta, tetapi malah diberi. Allah berkuasa atas segala sesuatu (QS Albaqoroh 20).

Doa yang disampaikan Mbah Moen dan diamini oleh seluruh orang yang hadir pada saat kunjungan presiden bukanlah satu-satunya doa kepada Tuhan. Banyak doa lainnya yang disampaikan banyak kiai, para wali, para habib, para mufti, dan orang-orang arif, pintar, dan berilmu tinggi lainnya. Doanya macam-macam. Manusia tidak akan tahu doa siapa yang dikabulkan.

Kewajiban manusia hanya berusaha dan berdoa. Soal hasil, serahkan kepada Tuhan. Kenapa mesti ribut soal doa, toh Tuhan tidak bisa didekte. (hq@jawapos.cp.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 04 Feb 2019 07:52:51 +0700
<![CDATA[Hatiku Tetap Padamu Prabangsa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116230/hatiku-tetap-padamu-prabangsa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/hatiku-tetap-padamu-prabangsa_m_116230.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/28/hatiku-tetap-padamu-prabangsa_m_116230.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/28/116230/hatiku-tetap-padamu-prabangsa

NAMA lengkapnya Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. Sudah 10 tahun suami Anak Agung Sagung Mas Prihantini itu, tidak lagi menghirup udara di bumi.]]>

NAMA lengkapnya Anak Agung Gde Bagus Narendra Prabangsa. Biasa dipanggil Prabangsa. Sudah 10 tahun suami Anak Agung Sagung Mas Prihantini itu, tidak lagi menghirup udara di bumi. Dia tenang di alam sana.

Tiba-tiba minggu lalu seolah dia bangkit kembali. Menggetarkan jagad. Seperti tulisannya tentang kasus korupsi ketika dibaca oleh I Nyoman Susrama, adik bupati Bangli saat itu. Pemicunya adalah remisi yang diberikan oleh pemerintah kepada Susrama, otak pembunuhan terhadap Prabangsa. Dari hukuman seumur hidup menjadi 20 tahun penjara. Dunia kembali gempar.

Wartawan Jawa Pos Radar Bali itu, meninggal dibunuh secara keji oleh komplotan yang diperintah oleh Susrama pada 11 Februari 2009 silam. Eksekusi dilakukan di rumah Surama di Banjar Petak, Bangli. Mayatnya dibuang ke laut. Enam hari kemudian, ditemukan di Teluk Bungsil, perairan Padang Bai, Karangasem, Bali.

Kasus itu membuat gempar jagad raya. Bukan hanya di Indonesia. Bahkan di luar negeri. Wartawan dengan idealismenya yang mengungkap kasus korupsi bukannya dilindungi. Dia dihabisi oleh keluarga penguasa. Di saat bangsa ini sedang memasuki era reformasi. Sedang menggalakkan pemberantasan korupsi. Sedang giat menegakkan hukum.

Banyak orang yang marah. Keluarga, wartawan, LSM, dan masyarakat umum. Termasuk saya juga. Saya tidak kenal akrab Prabangsa. Tetapi tahu. Saya pernah mengisi pelatihan jurnalistik di Jawa Pos Radar Bali yang dihadiri Prabangsa juga.

Prabangsa adalah sosok wartawan dengan dedikasi tinggi. Meskipun sudah menjadi redaktur, dia masih sering turun ke lapangan. Menggali berita dan menulisnya. Termasuk kasus korupsi di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangli yang menjadi pemicu pembunuhan itu.  Sebelum dibunuh, dia menjadi redaktur halaman Dwipa 1 dan 2. Dua halaman itu, berisi berita-berita daerah se-Bali.

Saya menangis dalam hati ketika mendengar Prabangsa dibunuh. Apalagi secara keji. Oleh keluarga penguasa lagi. Malam itu, saya di kantor Jawa Pos di Graha Pena Surabaya. Posisi saya sebagai kepala Koordinator Liputan. Mengkoordinasikan berita-berita dari seluruh Indonesia, termasuk dari Bali.

Saya minta foto Prabangsa ke Radar Bali, tempatnya bekerja. Saya masih ingat dikirimi beberapa foto. Saya memilih foto dengan kepala agak gundul. Tersenyum lebar. Giginya yang putih kelihatan jelas di antara mukanya yang cokelat kehitaman. Kumis dan jenggotnya tipis. Kelihatan gagah dan optimistis. Foto itu kemudian saya jadikan poster. Saya minta redaktur budaya Arif Santoso untuk membuatkan puisi.

Setelah poster itu jadi, saya tunjukkan kepada Dahlan Iskan, pemilik Jawa Pos, yang waktu itu datang ke Graha Pena. Saya minta izin untuk memasang poster itu. Dahlan menyetujui. Poster kemudian ditempatkan di dinding lobi Graha Pena lantai IV di depan ruang redaksi. Poster itu juga ditempatkan di Radar Bali. Kopiannya beredar di mana-mana.

Ketika kasus itu mencuat lagi belakangan ini, saya lihat poster itu dibawa oleh salah satu aktivis yang menuntut agar remisi Prabangsa dicabut. Hati saya ikut berdebar melihat poster itu. Prabangsa, rekan saya jurnalis yang memiliki dedikasi tinggi, dibunuh secara keji. Sudah begitu, pembunuhnya dikasih remisi lagi. Dalam hati saya juga protes.

Belakangan saya merasakan mencari wartawan yang baik saja sulit. Apalagi yang memiliki idealisme dan dedikasi sangat tinggi seperti Prabangsa. Sempat terbesit kekhawatiran jangan-jangan banyak orang yang takut menjadi wartawan. Memang sudah ada Undang-Undang Pers yang memayungi. Tetapi, tampaknya masih belum cukup melindungi. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 28 Jan 2019 07:51:15 +0700
<![CDATA[Paling Mengerikan Jalur Salatiga - Semarang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/14/113479/paling-mengerikan-jalur-salatiga-semarang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/14/paling-mengerikan-jalur-salatiga-semarang_m_113479.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/14/paling-mengerikan-jalur-salatiga-semarang_m_113479.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/14/113479/paling-mengerikan-jalur-salatiga-semarang

ALHAMDULILLAH. Akhirnya bisa melaksanakan perintah Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang Arif Riyanto dengan sempurna. Merasakan nikmatnya jalan tol.]]>

ALHAMDULILLAH. Akhirnya bisa melaksanakan perintah Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang Arif Riyanto dengan sempurna. Merasakan nikmatnya jalan tol trans Jawa Semarang – Jakarta dengan mengemudi sendiri. Ini kelanjutan perjalanan minggu lalu Surabaya – Semarang.

Banyak orang tidak percaya saya mengemudikan sendiri mobil dari Semarang ke Jakarta setelah menempuh perjalanan Surabaya – Semarang. Termasuk General Manager Radar Semarang Iskandar dan Manajer Iklan Radar Semarang Sugiyanto. Bahkan, anak saya juga heran. “Pak ,hanya nyoba tol atau ada keperluan lain di Jakarta,” tanya anak pertama saya.

Saya ke Jakarta betul-betul hanya ingin mencoba tol baru khususnya di wilayah Jawa Tengah yang baru dioperasikan menjelang pergantian tahun. Di Jakarta tidak ngapa-ngapin. Hanya tidur di Hotel Ibis. Makan malam dengan menu salad dan tongseng kambing untuk menghangatkan badan seharga Rp 172 ribu. Minumnya teh tawar Rp 24 ribu, teh paling mahal yang pernah saya minum.  

Pulangnya saja yang mampir di Cirebon. Berziarah di makam Sunan Gunung Jati. Seumur hidup baru kali itu saya berziarah ke makam salah satu wali sembilan yang bernama Syarif Hidayatullah.

Ada pengalaman baru saat berziarah itu. Tidak bisa masuk ke area makam kecuali mendapat izin dari keraton. Saya sudah berusaha lewat pintu belakang. Membawa guede warga setempat . Tapi, mentok. Bisa melalui jalur keluarga keraton, tetapi harus membayar Rp 2 juta. Saya sempat menawar. Infaq turun hingga Rp 1,5 juta. Saya tetap tidak sanggup. Akhirnya saya hanya bisa berziarah di pintu ketujuh dengan membayar guede Rp 100 ribu. Untuk sampai makam masih dua pintu lagi.

Saya mencoba tol Semarang  - Jakarta dengan tetap mengambil hari kerja. Maksud saya agar berada dalam kondisi rata-rata lalu lintas di jalan tol. Berangkat dari pintu tol Banyumanik, Semarang, pukul 14.00. Sampai pitu tol Halim, Jatinegara,  pukul  20.32. Di sinilah kilometer nol jalan tol Jakarta – Semarang – Surabaya.

Sampai di pintu tol itu total jarak tempuh 429 kilometer dengan waktu tempuh 6 jam 32 menit. Itu termasuk istirahat, buang air kecil, salat, dan makan, di rest area Cikopo sekitar setengah jam. Juga melewati kemacetan sejak kilometer 49 di sekitar Karawang. Kemacetan ini tergolong parah.  Sering lalu lintas sampai berhenti total. Jalan pun kebanyakan hanya 20 Km/jam. Karena, ada pembangunan jalur MRT di sepanjang jalan tol itu sampai Jakarta.

Sejak memasuki pintu tol Banyumanik saya bertekad untuk mematuhi semua peraturan lalu lintas di jalan tol. Termasuk kecepatan maksimal 100 Km/jam. Sampai pintu tol Tembalang yang masih masuk wilayah Semarang, belum banyak kendaraan yang menyalip. Maklum jalannya naik turun seperti Banyumanik – Salatiga pada jalur tol Semarang – Surabaya.

Jalan tol dari Salatiga sampai Semarang adalah yang paling membahayakan. Banyak tanjakan dan turunan tajam. Di jalan yang menurun gas bisa naik dengan sendirinya. Kalau tidak waspada bisa lepas kendali. Karena itu, di jalur itu dibikin jalur-jalur darurat untuk penyelamatan bila terjadi remblong. Di wilayah Semarang yang naik turun itu, saya pastikan kecepatan di bawah 100 Km/jam.

Selepas Semarang saya mulai menyalip beberapa kendaraan. Namun, mulai banyak kendaraan yang menyalip juga. Termasuk mobil kecilyang tergolong city car. Perkiraan saya, kendaraan yang menyalip saya itu pada kecepatan sekitar 110 – 120 Km/jam. Beberapa di antaranya sampai 150 km/jam.

Di sekitar Batang saya sempat menaikkan gas secara drastis sampai 140 KM/jam dengan RPM 4.000 karena ada mobil di belakang yang melesat dengan kencang. Saya hanya ingin mengukur kecepatan mobil itu. Ternyata Fortuner putih itu tetap menyalip saya. Wush. Perkiraan saya sampai 160 Km/jam.

Saya sadar, mengemudi di jalan tol dengan kecepatan di atas 100 KM/jam adalah pelanggaran. Tetapi, sepanjang perjalanan mencoba tol baru dari Surabaya – Semarang – Jakarta kemudian balik ke Semarang nyaris tidak ada mobil yang diberhentikan petugas karena pelanggaran kecepatan itu.

Saya hanya mendapati polisi menghentikan mobil pikap di Brebes. Entah apa pelanggarannya. Muatan mobil itu tertutup rapat. Tetapi penutupnya tidak terpal. Ketika balik dari Jakarta ke Semarang juga hanya mendapati satu mobil yang dicegat polisi di wilayah Cirebon. Saya bisa memastikan bukan karena pelanggaran kecepatan.

Kesimpulan saya, banyak kendaraan yang melebihi batas kecepatan di jalan tol Surabaya – Semarang – Jakarta. Seolah mereka dibiarkan.

Seperti kondisi jalan Tol Surabaya – Semarang, tol Semarang – Jakarta termasuk masih lengang, khususnya di wilayah Jawa Tengah yang baru dioperasikan menjelang tahun baru lalu. Tidak banyak truk yang lewat seperti di jalan arteri. Mungkin karena biayanya mahal. Saya harus membayar Rp 264 ribu untuk jalur Surabaya (Waru) – Semarang (Banyumanik) dan Rp 220 ribu untuk jalur Jakarta (Kemayoran) – Semarang (Banyumanik).

Meski relatif sepi, beberapa kali saya mendapati mobil beriringan. Itu karena kecepatan mereka relatif sama. Di jalur antara Batang - Pekalongan  saya sempat beriringan lima mobil dengan kecepatan 80 km/jam. Sebuah mobil Karimun dengan penumpang penuh mengambil lajur kanan. Meskipun ada empat mobil di belakangnya termasuk saya, city car itu tidak mau beralih ke lajur kiri. Padahal banyak peringatan lajur kanan hanya untuk mendahului. Akhirnya empat mobil termasuk mobil saya menyalip dari kiri. Itu juga pelanggaran.

Ada pelanggaran menyalip yang lebih parah. Menjelang tol Kanci, beberapa mobil beriringan di sebelah kanan. Mobil-mobil itu termasuk saya hendak menyalip truk gandeng yang juga beriringan. Tiba-tiba melesat mobil Kijang dengan kecepatan tinggi melewati bahu jalan. Itu pelanggaran yang sangat membahayakan. Pelanggaran seperti ini baru bisa dimaklumi di jalan macet seperti sepanjang tol Tangerang – Jakarta.

Ada perbedaan yang mencolok jalan tol Semarang – Surabaya dengan Semarang – Jakarta. Tol Semarang – Surabaya nyaris sepenuhnya cor. Sedangkan Semarang Jakarta beraspal pada beberapa ruas. Saya merasakan lebih enak di jalan aspal dibanding di jalan cor. Rasanya lebih empuk. Hanya saja, kalau malam terasa gelap. Lebih-lebih bila hujan seperti yang saya alami ketika memasuki wilayah Cirebon, Jabar. Lampu penerangan juga tidak ada.

Di sepanjang jalur wilayah Jabar sampai Jakarta juga banyak lubang. Kecil tapi cukup terasa. Nggerojal. Sudah banyak lubang yang ditutup. Tapi, orang Indonesia tidak pintar menambal jalan. Tidak pernah ada tambalan jalan yang rata. Jangan pernah mengindari lubang itu ketika mendapati secara mendadak dengan kecepatan tinggi. Sangat berbahaya. Lewati saja meski nggeronjal.

Kesimpulan akhir saya berkendara di jalan tol Surabaya – Semarang –Jakarta cukup nyaman sepanjang mengikuti aturan yang ditentukan. Dengan kecepatan maksimal 100 Km/jam kendaraan tenang meski melewati jalan dengan beda ketinggian dan belokan. (hq@jawapos.co.id)

 

 

 

 

 

]]>
Ali Mustofa Mon, 14 Jan 2019 06:47:48 +0700
<![CDATA[Kecepatan 130 Km/Jam Masih Disalip]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/07/112273/kecepatan-130-kmjam-masih-disalip https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/07/kecepatan-130-kmjam-masih-disalip_m_112273.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/07/kecepatan-130-kmjam-masih-disalip_m_112273.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/07/112273/kecepatan-130-kmjam-masih-disalip

SUDAH lama saya ingin mencoba tol trans Jawa Surabaya-Semarang-Jakarta. Bahkan, sejak sebelum dioperasikan menjelang tahun baru.]]>

SUDAH lama saya ingin mencoba tol trans Jawa Surabaya-Semarang-Jakarta. Bahkan, sejak sebelum dioperasikan menjelang tahun baru. Lebih-lebih setelah Pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto mengeluarkan perintah. Saya pun mencobanya minggu kemarin. Belum seluruhnya. Masih Surabaya-Semarang.

Aro -sapaan akrab Arif Riyanto- memerintah saya secara halus. Tidak menggunakan kata perintah. Bunyinya kira-kira begini, ”Pak Baehaqi tidak ingin mencoba jalan tol Surabaya-Semarang-Jakarta?” Aro orang Jawa. Dia tidak berani memerintah saya, karena secara organisasi di perusahaan dia anak buah. Saya juga orang Jawa. Harus tahu apa yang diinginkan. Lebih-lebih dia sebagai penanggung jawab koran. Saya harus tunduk kepadanya.

Awalnya saya ingin mencoba tol itu Minggu, 30 Desember 2018. Dari Semarang ke Surabaya. Mobil sudah saya siapkan. Kepunyaan Radar Semarang yang masih relatif baru. Tetapi, hari itu saya masih ada kegiatan di Kudus. Perjalanan tak bisa lewat tol. Akhirnya saya putuskan ketika balik ke Semarang Rabu, 2 Januari 2019. Petimbangan saya hari itu sudah hari kerja. Lalu lintas normal.

Keluar dari rumah di Sidoarjo, Jatim, persis pukul 07.00. Harus menerobos kemacetan di jalan raya Waru yang klasik. Sampai di pintul tol pukul 07.20. Saya berniat mematuhi semua rambu-rambu dan peraturan lalu lintas di jalan tol. Termasuk tidak membuang apapun di jalan tol dan memacu kendaraan maksimal 100 kilometer/jam.

Dari Surabaya saya laksanakan betul niat saya. Kecepatan konstan 100 kilometer per jam. Kondisi lalu lintas sepi. Tidak ada truk maupun bus yang melintas. Tentu yang saya tahu. Bisa jadi ada jauh di depan atau di belakang. Rasanya nyaman. Expander keluaran tahun 2018 yang saya kendarai seorang diri terasa anteng.

Menjelang Mojokerto saya teringat harus menghadiri rapat di Radar Kudus pukul 10.00. Siangnya pukul 13.00 bertemu Bupati Kudus M Tamzil di Pendapa Kabupaten Kudus. Berikutnya bertemu Dirut PT Mubarok Food M Hilmy yang memproduksi jenang Kudus, pukul 15.00. Saya mencoba menaikkan speed menjadi 110 kilometer per jam. Di jalan yang menurun kadang-kadang jarum speedometer menunjuk angka 120. Masih tetap nyaman.

Di sekitar Mojokerto saya harus mengecek isi kartu tol. Khawatir tidak mencukupi. Saya tambah Rp 100.000 di salah satu gerai yang ada di rest area. Di sini ada persoalan yang membuat saya harus berhenti lama. Ketika transaksi selesai, saya minta agar saldo akhir di kartu saya dicek. Isinya ternyata Rp 592.000. Saya tidak percaya. Saya minta dicek sekali lagi. Betul. Isinya Rp 592.000.

Saya sempat bengong. Ingat saya teman-teman tidak pernah mengisi karto tol sampai Rp 500.000. Demikian juga saya. Kemudian naluri saya sebagai direktur yang biasa mengontrol keuangan muncul. Saya minta agar dicek saldo awal kartu sebelum ditambah Rp 100.000. Tercatat hanya Rp 92.000.

Saya tidak pintar ilmu matematika. Nilai berhitung saya di ijazah SLTA hanya 5. Tertulis dengan tinta merah.  Tetapi, di akunting manapun tidak ada perhitungan 92.000+100.000 = 592.000. Saya simpulkan terjadi kesalahan di kasir. Si kasir yang cantik (menurut saya) mengingat-ingat. ”Apa mungkin pengisian sebelumnya masuk ke sini,” gumamnya sambil menimang kartu saya.

Sebelum saya, ada orang yang juga mengisi kartu tol. Tetapi orangnya sudah pergi. ”Tetapi sudah masuk di struk,” kata pelayanan itu. Pertanyaannya, bagaimana mungkin pengisian kartu tol orang tersebut masuk ke kartu tol saya? Sebelum pertanyaan itu terjawab, si kasir menawarkan solusi. Isi karto tol saya di debit Rp 400.000. Sehingga tinggal 192.000. Saya sepakat. Pikir saya, human error atau mecanical error bisa saja terjadi. Jangan pernah menolak kenyataan ini.

Sebelum saya melanjutkan perjalanan saya iseng bertanya lewat grup Whatsapp Radar Semarang. Berapa tarif tol Surabaya-Semarang. Dalam waktu singkat sudah ada yang menyahut. Dari Surabaya sampai pintu tol Banyumanik 246.000. Wah, mumpung belum berangkat saya tambah lagi kartu tol saya Rp 100.000.

Karena waktu saya terpotong banyak saat pengisian karto tol, saya pacu kendaraan lebih kencang lagi. Kali itu menjadi 120 kilometer konstan. Saya sadar, itu melanggar aturan. Di sepanjang jalan tol sudah ada rambu, minimal kecepatan 60 kilometer per jam dan maksimal 100 kilometer per jam. Rambunya berupa angka 60 tertulis warna biru dan 100 dengan warna merah. Saya paham betul karena punya SIM.

Menurut saya, kecepatan 120 kilometer itu sudah kencang. Tetapi, masih banyak mobil yang menyalip saya. Heran juga. Berarti mereka juga melanggar aturan. Selagi saya menyadari soal pelanggaran itu, di kejauhan terlihat mobil petugas berhenti di piggir jalan. Salah seorang mengangkat kamera. Membidikkannya ke arah saya. ”Ah, pasti kena tilang,” pikir saya. Saya turunkan kecepatan menjadi 100 kilometer per jam. Ternyata saya dibiarkan lewat.

Persoalan bagi saya muncul lagi ketika mendekati Kertosono, Jatim. Tanda bahan bakar berkedip-kedip. Ketika mau masuk tol saya tidak sempat mengisi BBM. Bahkan, ketika ada SPBU selepas pintu tol Surabaya, saya juga tidak mengisinya. Ternyata setelah itu tidak ada lagi SPBU. Ada dua buah, tetapi belum beroperasi. Terpaksa, di Ngawi saya keluar tol. Menuju jalur arteri arah Solo. Kira-kita membutuhkan waktu 10 menit. Pelajarannya, isi BBM penuh tangki sebelum masuk tol Surabaya-Semarang dan sebaliknya.

Usai mengisi bensin, saya coba injak pedal gas lebih dalam lagi. Speedometer menunjuk angka 130 dan RPM 3.500. Pada kecepatan ini pun masih ada beberapa kendaraan yang menyalip saya. Saya perhatikan ada Pajero, Fortuner, Innova, dan CR V. Di jalan tol itu, hanya sedikit sekali saya bertemu mobil sedan.

Pada kecepatan 130 kilometer itu, saya sempat disalip Fortuner. Posisi saya agak mendekati garis tengah. Demikian juga Fortuner itu. Perkiraan saya mobil itu berkecepatan 150 kilometer. Wush... Mobil yang saya tumpangi kaget. Terasa terangkat. Untung, sejak menaikkan kecepatan ke 110 sampai 130 kilometer per jam saya pegang erat kemudi. Tidak berani sekalipun melepas satu tangan. Mata tidak berkedip. Kaki terus pada posisi.

Setiap kali melewati jembatan kecil atau gorong-gorong, kewaspadaan saya tingkatkan. Jalannya tidak cor. Tetapi diaspal. Warnanya kelihatan jelas berbeda. Sering ketinggiannya tidak sama. Ada di beberapa titik yang terasa nggeronjal. Biasanya setiap melewati sambungan jalan cor itu, saya turunkan kecepatan hingga 110 kilometer. Itu pun masih terasa nggeronjal. Tetapi, pada kecepatan 100 kilometer kendaraan masih stabil.

Kewaspadaan ekstra harus saya tingkatkan ketika memasuki wilayah Jawa Tengah. Terutama setelah Ungaran. Pada jalan yang menurun, kecepatan naik dengan sendirinya meskipun pedal gas tidak ditambah tekanannya. Kalau tidak waspada bisa sangat fatal. Kecepatan saya sering naik dengan sendirinya sampai menyentuh angka 140. Ketika saya tahu itu mesti segera saya turunkan.

Akhirnya saya sampai pintu tol Banyumanik, Semarang, pukul 10.49. Lebih cepat kira-kira empat jam dibanding lewat  jalur nontol. Selanjutnya menuju Kudus. Rapat telah selesai. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 07 Jan 2019 21:38:35 +0700
<![CDATA[Berharap Lebih Baik]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/02/111430/berharap-lebih-baik https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/02/berharap-lebih-baik_m_111430.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/02/berharap-lebih-baik_m_111430.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/02/111430/berharap-lebih-baik

RASANYA tahun baru 2018 baru kemarin dirayakan. Kini kita sudah ada di tahun baru 2019. Usia pun bertambah satu tahun lagi. Semoga kita makin matang.]]>

RASANYA tahun baru 2018 baru kemarin dirayakan. Kini kita sudah ada di tahun baru 2019. Usia pun bertambah satu tahun lagi. Semoga kita makin matang dan makin dewasa. Bagi mereka yang sukses mencapai target 2018, langkahnya pasti lebih ringan saat memasuki tahun yang baru.

Sebagai Komisaris Utama BUMN PT KIW (Kawasan Industri Wijaya Kusuma) saya merasakan kesuksesan yang telah diraih PT KIW. Perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah pusat sebagai pemegang saham pengendali, Pemerintah Provinsi Jateng dan Pemerintah Kabupaten Cilacap berhasil mengakhiri 2018 dengan baik.

Satu persatu direksi perusahaan saya jabat tangannya dengan erat. Termasuk Anton, anggota dewan komisaris. Sore itu (28/12), seperti biasa kami lakukan. Saya memimpin rapat bulanan dewan komisaris dengan direksi, sekaligus mengevaluasi hasil akhir tahun 2018. Rapat cukup singkat. Direksi melaporkan bahwa perusahaan berhasil menutup target laba tahun 2018 dengan angka 100,15 persen.

Sejak awal tahun saya sudah meminta direksi untuk bekerja keras mencapai target. Pertengahan Desember lalu, direksi belum berani memastikan. Sudah tiga tahun, realisasi laba tidak pernah mencapai 100 persen target.

Saya masih ingat, 10 tahun lalu saat Gubernur Bibit Waluyo menugaskan saya menjadi komisaris utama PT KIW. Tugas ini sungguh berat, karena kinerja perusahaan saat itu buruk. Dapat mencapai titik impas sudah prestasi. Setiap selesai memimpin rapat, saya selalu menanyakan ketersediaan dana untuk mendukung operasional perusahaan. ”Masih cukup hingga bulan depan, Pak Komut,” kata Toni, direktur Keuangan PT KIW saat itu.

Awal yang Sulit

Tahun pertama sebagai komisaris utama (komut) kondisi keuangan perusahaan memprihatinkan. Perhatian PSP hampir tak ada. Bahkan, setoran modal selama 10 tahun menjadi komut, tak pernah dilakukan. Perusahaan harus berjuang keras mengatasi kebutuhan modal. Tidak ada bank yang mendekat dan berminat membiayai investasi perusahaan. Untunglah, pada tahun kedua saya bisa meyakinkan Gubernur Bibit Waluyo untuk menyetujui setoran modal Rp 6 miliar, sehingga perusahaan dapat memamerkan lahan yang siap dijual.

Kekayaan perusahaan hanya beberapa hektare lahan rawa yang membutuhkan dana besar, sehingga siap dijual. Juga luasan eksisting yang sudah dihuni investor. PT KIW mengantongi izin pengembangan kawasan hingga 250 hektare. Masih ada sekitar 150 hektare lahan yang harus dibebaskan. Setoran modal Rp 6 miliar sangat membantu perusahaan untuk menyediakan lahan matang seluas 4 hektare, menjadi awal kebangkitan perusahaan.

Dua tahun pertama (2009-2010) adalah cobaan berat yang harus dihadapi direksi baru. Beruntung saya mempunyai direksi yang penuh talenta dan semangat serta sangat komunikatif dengan komutnya. Hanya ada tiga modal kami untuk membuat perusahaan bangkit dan berkembang. Yaitu semangat membesarkan, bekerja sepenuhnya untuk perusahaan, dan menanamkan mimpi-mimpi kepada seluruh pekerja perusahaan.

 Mimpi Besar

Ada dua mimpi besar yang ingin diwujudkan dewan komisaris dan direksi. Yaitu meningkatkan pendapatan tetap dan meningkatkan kepercayaan industri perbankan kepada perusahaan. Kami harus berusaha keras agar seluruh biaya operasional perusahaan bisa dicukupi dari pendapatan tetap. Bukan hasil penjualan tanah.

Untuk itu, setiap tahun ditargetkan bisa dibangun 10 ribu meter persegi gudang setara pabrik untuk disewakan. Juga mengembangkan pabrik air bersih dengan kapasitas per detik yang jauh lebih besar, sehingga seluruh perusahaan yang beroperasi di kawasan PT KIW bisa terpenuhi kebutuhannya. Menyelesaikan utang yang masih tersisa adalah langkah strategis yang harus segera diselesaikan untuk meningkatkan kepercayaan perbankan. Saya meminta direksi untuk menggunakan pembiayaan bank dalam mengembangkan investasinya, agar efisiensi dan efektivitas investasi meningkat.

Pada 2015, PT KIW mendapat predikat BUMN infrastruktur terbaik se-Indonesia dari majalah Info Bank. Jayadi, direktur utama (2008-2018) juga mendapat predikat direktur utama terbaik.

Saya kira wajar dan sudah seharusnya ia mendapat predikat tersebut. Beberapa langkah terobosan telah dilakukan olehnya, terutama menerapkan good corporate governance tanpa kecuali. Untuk keputusan-keputusan yang bersinggungan dengan resiko hukum, selalu ia mintakan rekomendasi dewan komisaris. Di sini saya diuji sebagai wakil pemegang saham. Perlu keberanian besar, terutama jika mengingat risikonya dalam memberikan dukungan terhadap direksi. Hal ini beberapa kali terjadi dan selama itu, dukungan dewan komisaris kepada direksi sangat kuat. Bahkan tidak jarang kami mendorong direksi untuk mengambil opsi-opsi strategis yang relatif berisiko tentu dengan perhitungan yang matang.

Pada 2019, perusahaan mendapatkan laba kurang dari Rp 500 juta. Lima tahun kemudian, 2014 laba perusahaan mencapai Rp 43 miliar. Biaya operasional pun sejak 2015 sudah didukung oleh pendapatan tetap dengan rasio 1,2. Artinya masih ada laba bersih yang diperoleh perusahaan. Deviden PT KIW kepada para pemegang saham terus meningkat setiap tahun. Ibarat seorang gadis, PT KIW kini telah berganti rupa menjadi cantik dan seksi. Dulu tak ada perbankan yang mendekat. Sekarang banyak bank yang mendekat untuk membiayai investasi perusahaan.

Mei 2019, masa tugas saya sebagai komut PT KIW berakhir. Tentu saya bangga dengan kinerja PT KIW, saya berharap mereka tidak lupa dengan mimpi besarnya menjadi BUMN Kawasan Industri terbaik di Jateng. Dari mimpi itulah, PT KIW mampu beralih rupa. Penuh percaya diri. Bahkan, sekarang PT KIW sudah punya anak perusahaan yang siap bersinergi dengan siapa pun untuk mengembangkan kawasan industri baru di Jateng. Tentunya, langkah perusahaan akan makin lincah dalam mengembangkan diri dan berkompetisi dengan kawasan industri lain di Jateng.

Puas rasanya saya meninggalkan perusahaan ini. Apalagi direksi baru saat ini selalu optimistis. ”Tak ada masalah yang tidak ada solusinya,” kata Rachmadi Nugroho, dirut PT KIW yang baru sambil memeluk saya. Saya bangga dengannya karena ia pun tidak berbeda dengan Jayadi, dirut sebelumnya yang selalu terbuka dengan saya dan mempunyai mimpi yang sama, mewujudkan perusahaan terbaik.

Selamat tahun baru 2019, sematkan selalu harapan yang lebih baik untuk kita menapaki waktu demi waktu. (Dalam keheningan malam tahun baru 2019 di Bandung). (*)

]]>
Ali Mustofa Wed, 02 Jan 2019 22:21:40 +0700
<![CDATA[Resolusi Bulat, 2019 Ganti Semangat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/01/111161/resolusi-bulat-2019-ganti-semangat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/01/resolusi-bulat-2019-ganti-semangat_m_111161.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2019/01/01/resolusi-bulat-2019-ganti-semangat_m_111161.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2019/01/01/111161/resolusi-bulat-2019-ganti-semangat

SELAMATAN yang satu ini oleh sebagian orang Jawa Tengah disebut kembul bujana. Nasi dan aneka lauk ditata di atas daun pisang. Memanjang tanpa pisah.]]>

SELAMATAN yang satu ini oleh sebagian orang Jawa Tengah disebut kembul bujana. Nasi dan aneka lauk ditata di atas daun pisang. Memanjang tanpa pisah. Lauknya aneka macam. Ada sayur gudangan, ikan asin, ayam goreng, dan tempe. Makannya lesehan. Menyantapnya dengan tangan alias tanpa sendok. Itulah cara karyawan Radar Semarang selamatan menutup tahun 2018.

Begitu doa yang dipimpin KH Agus Syukron dari Pedurungan, Semarang, selesai, seluruh karyawan yang duduk berhadap-hadapan segera menyantap hidangan itu. Tidak ada perbedaan antara staf, manajer, dan direktur. Semua makan makanan yang sama dengan cara yang sama. Bahkan, kiai, penyanyi, dan tim musiknya, ikut berbaur menikmati sajian yang sama.

Dulu saya sering mengikuti selamatan seperti itu. Biasanya pada peringatan hari-hari besar Islam. Di masjid atau di langgar. Bagi saya dan sebagian penduduk desa waktu itu, selamatan itu pesta. Maklum, hidup serba kekurangan. Bisa makan enak hanya kalau ada selamatan atau kalau ada tetangga yang mengantar berkat.

Bagi karyawan Jawa Pos Radar Semarang, kembul bujana itu juga istimewa. Bukan karena tidak pernah makan enak. Tetapi, tidak pernah menjumpai lagi cara selamatan tradisional itu. Nilainya sangat tinggi. Rasa kebersamaannya kuat. Manajer Keuangan Radar Semarang Indah Fajarwati yang melahirkan ide itu kebanjiran acung jempol. Acara tutup tahun pun menjadi sangat bermakna.

“Kembul bujana tetap dipertahankan untuk kebersamaan dan kekompakan,” kata Arif Riyano, pemimpin redaksi Radar Semarang. “Kumpul bareng dapat makanan jasmani dan rohani. Insyaallah lebih maju lagi di tahun 2019,” tambah Miftakhul A’la, desainer koran yang istrinya hafal (hafidloh) Alquran. ‘’Tahun ini plong. Mengakhiri dengan optimisme guna menatap dan menghadapi tahun depan yang diprediksi masih sulit,’’ sambung Dinar Sasongko, wartawan di Salatiga.

Selamatan Kembul Bujana itu juga pernah dilakukan oleh Jawa Pos Radar Kudus. Yang punya ide juga manajer keuangan (Etty Muyassaroh). Radar Semarang mengambil inspirasi dari saudara mudanya itu. Mereka sama-sama ingin menempatkan kebersamaan dalam perusahaan sebagai kekuatan. Apalagi di tahun politik 2019 yang berpotensi menimbulkan keretakan hubungan antarorang.

Meski tidak dengan kembul bujana acara tutup tahun di Radar Kudus juga dilandasi kesederhanaan dan kebersamaan. Makan juga lesehan. Cukup dengan pecel Bu Sarni yang terkenal dengan cungornya itu. Diiringi musik religi dengan dua penyanyi. Yang penting tausiah KH Imam Fathoni beserta doa yang dipimpinnya. “Sing sopo wonge njaluk bakal entuk (siapa yang meminta/berdoa bakal mendapatkan,” katanya.

“Acara yang sangat baik untuk dilanjutkan. Sehingga, dapat terus terjaga motivasi dan zero mind proces anggota tim,’’ komentar ustad Amin, seorang hafidl (penghafal) Alquran yang ikut menghadiri acara di Radar Kudus. Komentar itu tidak disampaikan langsung ke saya, tetapi melalui temannya Linda yang menyanyi pada kesempatan itu.

Di Radar Semarang tausiah disampaikan KH Ali Syukron dari Pedurungan, Semarang. Materinya sederhana. Tetapi, penyampaiannya luar biasa. Kocak sekali. Satu jam nyaris tanpa tawa. Acara juga ditutup dengan hiburan lagu-lagu religi. Karyawan merasa terisi jasmani dan rohaninya. Inilah modal untuk menyongsong tahun 2019 yang dimulai hari ini.

Bagi saya acara doa bersama di Radar Kudus maupun Radar Semarang minggu lalu sudah cukup untuk menutup tahun 2018 dan menyambut tahun baru 2019. Saya pun memutuskan untuk tidak ikut dalam gegap-gempita menyambut tahun baru tadi malam. Toh acaranya begitu-begitu saja. Tidak lebih dari hura-hura.

Sebelumnya sempat terbesit niat untuk melihat aksi Semarang Bridge Fountain yang diresmikan Wali Kota Hendrar Prihadi persis di malam pergantian tahun. Menurut saya air mancur warna warni yang bisa menari-nari itu spektakuler. Tempatnya di jembatan banjir kanal barat, jalan Jendral Sudirman, Semarang.

Saya memilih menikmati pergantian tahun di rumah Sidoarjo, Jatim, ditemani kentang godog kesukaan saya, sambil bermuhasabah (introspeksi). Banyak pengalaman dan kenangan di tahun 2018. Banyak kenikmatan dan ujian. Banyak keberhasilan dan kegagalan. Banyak peristiwa yang menyenangkan. Banyak kejadian yang memilukan. Semua silih berganti. Pahala dan dosa berpadu.

Kita hanya bisa berdoa agar diteguhkan niat baik kita. Dimudahkan segala upaya kita. Dicukupi kebutuhan kita. Dijauhkan dari semua persoalan.

Mudah-mudahan semua itu menambah semangat untuk memasuki tahun baru. Yang dikatakan orang sebagai tahun politik. Yang oleh sebagian orang dianggap berat. Mari kita teguhkan tekad. Resolusi bulat, 2019 ganti semangat. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Tue, 01 Jan 2019 17:57:36 +0700
<![CDATA[Menyerah Bukan Pemecahan Masalah]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/27/110556/menyerah-bukan-pemecahan-masalah https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/27/menyerah-bukan-pemecahan-masalah_m_110556.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/27/menyerah-bukan-pemecahan-masalah_m_110556.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/27/110556/menyerah-bukan-pemecahan-masalah

ASHARI, kepala Unit Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Temanggung, selalu menghindar bertemu saya, setiap kali menghadiri rapat pengendalian.]]>

ASHARI, kepala Unit Pengelola Pendapatan Daerah Kabupaten Temanggung, selalu menghindar bertemu saya, setiap kali menghadiri rapat pengendalian. Saya sering mengingatkannya untuk memperbaiki kinerja pendapatan di unitnya yang belum mencapai target yang diharapkan. Suatu ketika saya mengunjungi kantornya tanpa memberi tahu sebelumnya. Ashari tampak kaget dan tidak siap bertemu.

Dalam setiap kunjungan ke lapangan, saya selalu mengumpulkan seluruh staf, menganalisis kinerja, membuka Tanya jawab dan memompa semangat mereka. Itu pula yang saya lakukan di Temanggung. Namun sebelum pertemuan dilakukan, Ashari meminta bicara berdua. Pada kesempatan itu, Ashari menyatakan tidak mampu memenuhi target yang dibebankan ke unitnya. Ia pun sudah siap jika dimutasi ke dinas atau badan lainnya. Terjawab sudah teka-teki selama ini, ternyata inilah alasannya Ashari selalu menghindar. Selama ini ia menyembunyikan rahasianya. Sehingga membuatnya tertekan. Sebelum saya menjadi atasannya, ia masih bisa mengatasi tekanan itu. Hal ini bisa terjadi karena dua hal. Tidak ada yang mengingatkan dan banyak temannya yang mempunyai kinerja tidak berbeda dengannya. Ashari sudah mengangkat bendera putih tanda ia menyerah.

Sesaat setelah dilantik sebagai Kepala Badan Pengelola Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo memberi saya waktu 6 bulan. Dengan dua target mencapai target APBD 2017 dan wajib pajak kendaraan bermotor (WPKB) dapat membayar di mana saja. “Siap Bapak” hanya itu jawaban saya. Karena pertama saya masih terkaget-kaget dengan jabatan tersebut. Kedua, tidak ada alasan saya menolak tantangan karena ketika terpilih berarti saya harus siap dengan segala konsekuensinya. Termasuk target pendapatan yang ditetapkan dalam APBD 2017.

“Apa papa mampu?” tanya isteri saya. Ternyata kecemasan besar melandanya. Ia takut saya terpaksa mengundurkan diri karena tidak mampu, padahal selama empat tahun ia merasakan beban sebagai pendamping staf ahli gubernur. Mungkin tidak terbayang jika kelak saya harus kembali terjun payung karena tidak mampu menjawab tantangan gubernur. Tujuh bulan kemudian, Juli 2017, saat dievaluasi Tim Panitia Seleksi Jabatan Tinggi Pratama, saya bisa bercerita cukup lancar tentang kinerja selama 6 bulan. Tidak terbayang beban saya jika dalam enam bulan tidak bisa menjawab tantangan gubernur.

 

Masuk Dalam Hatinya

Saya tidak marah dengan curhatan Ashari. Saya menerimanya dan mencoba meyakinkannya. “Belum tentu orang yang menggantikan bisa sebaik kamu-loh mas,” jawab saya. Agak lama kami berdiskusi tentang tim work-nya yang lemah. Terbatasnya anggaran dan infrastruktur, dukungan bupati Temanggung yang kurang dibanding bupati lainnya dan upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai target pendapatan. “Sampaikan kepada saya, apa yang harus saya lakukan agar target UPPD Temanggung bisa dicapai,” kata saya dengan nada bertanya. Ashari menjawabnya dengan tersenyum. Lalu menyalami saya dengan erat. Dilanjutkan salam komando. Menunjukkan bahwa ia siap menjalankan tugasnya.

Tidak banyak kata yang saya ucapkan. Tapi saya berhasil meyakinkan bahwa ia sanggup mengajak seluruh stafnya untuk mencapai target. Dengan sikap mencoba mengerti, ajakan menyatukan visi dalam bekerja dan menginternalisasikan komitmen, saya meyakini dapat mengisi ketidaknyamanan hatinya.

“Saya yakin Temanggung bisa lebih dari 105 persen pencapiannya,” ucap saya.

“Lebih pak Kaban,” jawab Ashari, yang duduk di sayap paling kanan saat rapat pengendalian kinerja menjelang berahirnya tahun 2018.

“Berapa pakAshari?” Tanya saya. “110 persen pak Kaban!” jawab Ashari mantap.

Saya pun mengacungkan jempol saya tanda apresiasi yang tinggi. Tidak terlihat lagi wajah pasrahnya. Kini Ashari tampil meyakinkan ketika saya justru agak ragu dengan hitungannya.

 

Keputusan Termudah

Saya teringat saat hendak kembali ke Semarang. Di teras depan Kantor UPPD Temanggung.  “Jika kita bekerja jangan sampai kita melempar handuk putih sebelum kita berusaha. Menyerah adalah keputusan yang termudah. Siapa pun bisa melakukannya terutama jika kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan” kata saya kepada Ashari dan staf-stafnya. Sebelum pamit kembali ke Semarang.

Kalimat itu sengaja saya sampaikan untuk meyakinkan bahwa usahanya masih perlu didorong.

Masih banyak di antara kita yang urung bertindak karena menghkawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Apalagi jika mempunyai masa lalu yang traumatik sehingga pikiran dan hati kita tersandera oleh masa lalu tersebut. Masa lalu jelas harus dibuang jauh-jauh. Keyakinan pada diri sendiri sangat penting jika kita ingin menjadi pemenang. Mencapai target mewujudkan mimpi-mimpi.

Venus Williams, petenis USA yang memenangkan emas olimpiade mengatakan bahwa kita harus yakin pada diri sendiri ketika orang lain tidak yakin kepada dirimu.

Keyakinan pada diri sendiri memang sangat penting dalam menghadapi persoalan ataupun keinginan mewujudkan mimpi-mimpi kita. Keyakinan ini akan tumbuh dengan sendirinya jika kita menguasai masalah yang dihadapi. Untuk itu, kita harus mau belajar dan mau mendengar sehingga kita dapat memahami persoalan secara komprehensif dan membangun formula yang lebih strategis dalam melangkah. Motivasi yang kuat untuk menyelesaikan misi dan mewujudkan visi menjadi bahan bakar yang sangat penting bagi kita untuk melangkah, lebih cepat, lebih jelas dan lebih tegas.

 

Kita Mampu Mengerjakannya

Jangan terlalu melihat kelemahan diri sehingga terlalu cepat menyimpulkan bahwa kita tidak mampu. Kita hanya bisa menyerah terhadap keadaan. Jangan pernah mengungkapkan kalimat “aku tidak bisa” atau “Seandainya aku bisa”.

Menurut Jack Canfield (JC) dalam bukunya The Sucess Principles mengatakan bahwa otak kita dirancang memecahkan masalah apa pun dan meraih tujuan apa pun yang kita inginkan. Setiap kata yang kita piker dan ucapkan menurut JC berpengaruh terhadap tubuh kita. Hal ini ditujukan JC, dengan tingkat laku balita. Hampir tidak ada rintangan yang bisa menghentikan balita untuk melakukan apa pun. Sepertinya tidak ada kata menyerah, selalu ingin mencoba. Namun semakin besar, rasa tak terkalahkan terhapus oleh kekerasan emosional dan fisik yang diterima dari keluarga, teman dan guru, sampai tidak lagi percaya bahwa kita bisa melakukannya.

Maka ketika kita sudah hampir menyerah, mari kita bangun kembali kepercayaan diri bahwa kita mampu mengerjakan dan mampu mewujudkannya. Sekalipun beberapa hari lagi anda akan pensiun dari tugas dan tanggung jawab. Maka, tanamkan dalam pikiran kita bahwa kita tetap harus menjadi orang yang bernilai, dengan meninggalkan warisan yang bernilai yaitu prestasi. (tulisan ini terinspirasi kata-kata Venus Wiliams). (*)

]]>
Ali Mustofa Thu, 27 Dec 2018 21:30:20 +0700
<![CDATA[Kalau Surabaya Bisa, Kenapa Semarang Tidak?]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/24/110126/kalau-surabaya-bisa-kenapa-semarang-tidak https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/24/kalau-surabaya-bisa-kenapa-semarang-tidak_m_110126.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/24/kalau-surabaya-bisa-kenapa-semarang-tidak_m_110126.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/24/110126/kalau-surabaya-bisa-kenapa-semarang-tidak

PAGI kemarin panitia Lomba Kampung Hebat Kota Semarang agak pesimistis. Ada kabar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi harus menghadiri enam acara di hari libur.]]>

PAGI kemarin panitia Lomba Kampung Hebat Kota Semarang agak pesimistis. Ada kabar Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi harus menghadiri enam acara di hari libur long long week end. Panitia sudah menyiapkan plan B.

Saya santai saja. Pukul 05.00 sudah berangkat bersama instruktur senam dari kantor Radar Semarang di Jalan Veteran 55. Tiba di lokasi pukul 05.55. Suasana masih sepi. Tapi, saya yakin bapaknya wong Semarang Pak Hendi datang seperti road show pertama di Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan. Road show kedua kemarin dilaksanakan di Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu. Daerah yang nyaris berbatasan dengan Kendal.

Saya tahu isi otak dan hati orang nomor 1 di Kota Atlas itu. Di mana pun Hendi ingin menyatu dengan rakyatnya. Mengetahui kehidupannya. Berdialog dengan mereka. Menyelami hatinya. Menyentuh kesadarannya. Mengajak menata lingkungannya. Dan meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik.

Lomba Kampung Hebat yang digagas oleh Jawa Pos Radar Semarang dan diselenggarakan atas kerja sama dengan Pemkot Semarang adalah sarana untuk itu semua. Setiap bulan dilakukan road show ke salah satu kecamatan yang diwakili kelurahan. Acaranya sederhana. Senam pagi bersama, jalan sehat menyusuri kampung, dan pameran produk unggulan desa.

Saya surprised ketika pukul 06.15 Wakil Wali Kota Hevearita Gunaryanti Rahayu muncul di lokasi. Mbak Ita –panggilannya- kelihatan fresh meski sempat terserang flu ketika terjadi perubahan cuaca ekstrem belakangan ini. Baju dan kerudungnya yang merah menambah wajahnya bercahaya. ”Pak Wali datang kok,” ujar Mbak Ita yang mengatasi flunya dengan kerikan dan pijat.

Memang sempat deg-degan ketika ajudan mengabarkan Pak Wali agak terlambat. Apalagi setelah diikuti perintah agar jalan sehat diberangkatkan saja oleh Mbak Ita. Sedangkan Pak Wali akan menyusul. Mbak Ita sangat bijak. Dia memilih menunggu pasangannya. Tak lama kemudian Pak Wali betul-betul muncul dengan mobil putih. Itu sangat menambah keyakinan bahwa wali kota sangat concern membangun kota sampai ke jantungnya. Yaitu kampung.

Pak Hendi memiliki konsep sederhana untuk menjadikan kampung menjadi hebat. Dengan tiga hal. Yaitu jalannya bagus, saluran airnya lancar, dan tanamannya subur. ”Dalane wis apik opo urung? (Jalannya sudah bagus apa belum?),” tanyanya yang dijawab serentak oleh masyarakat, ”Sudah.”

Hendi membuktikan Jalan Mangkang Kulon yang dilewati jalan sehat sudah dibeton mulus. Jalan itu menuju pantai. Bukan hanya jalan utamanya, tetapi gang-gang di kampungnya juga. Itu memperlancar akses perekonomian.

Mengenai pembangunan jalan itu, saya teringat saran Bupati Pati Haryanto ketika suatu saat bertemu Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. ”Kepingin memuaskan masyarakat itu gampang. Bangun saja jalan. Kalau jalannya mulus, masyarakat sudah menyanjung-nyanjung,’’ katanya.

Hendi pun menyinggung jalan masuk Kota Semarang dari arah Kendal yang selama ini macet. Beberapa hari belakangan sudah lancar. Itu karena jalan tol Semarang – Batang – Pekalongan sudah dioperasikan. Saya membuktikannya. Tiga hari berturut-turut, Jumat – Minggu, saya melewati Jalan Raya Mangkang itu. Tidak ada kemacetan meskipun menjelang maghrib yang biasanya krodit.

Faktor kedua yang bisa menjadikan kampung hebat adalah saluran air. Kelihatannya kecil. Tapi, artinya sangat besar. Betapa Semarang berpuluh-puluh tahun terjebak banjir. Itu karena saluran pembuangannya yang tidak lancar. Melalui jalan sehat menyusuri kampung dia tahu persis kondisinya. Kemudian mengajak masyarakat menemukan solusinya.

Dia bangga bisa membebaskan Kota Semarang dari masalah klasik itu. Tentu masyarakat juga. Dengan selesainya pembangunan Sungai Banjir Kanal Barat, rendaman air di wilayah Semarang berkurang drastis. Apalagi setelah normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur nanti. Khusus di wilayah Tugu, menurut Pak Hendi, sebentar lagi dua sungai yang menjadi biang banjir, yakni Sungai Beringin dan Sungai Plumbon segera dinormalisasi. Menteri Pekerjaan Umum sudah oke. ”Kalau Surabaya bisa, kenapa Semarang tidak,’’ katanya membandingkan dengan Kota Surabaya yang dulu juga terendam banjir setiap musim hujan.

Satu faktor mendasar lain untuk membuat kampung hebat adalah penghijauan. Di samping bisa menyerap air, tanaman membuat kampung menjadi sejuk dan indah. Masyarakatnya merasa nyaman. Hidup menjadi bergairah. Mereka gampang diajak bekerja dan bergotong royong. Itulah yang kini juga digencarkan Hendi. Sebagian jalan di Semarang sudah kelihatan berseri, meskipun masih banyak yang harus dikerjakan lagi.

Kiranya tidak salah kalau saya ikut meyakinkan warga Semarang. Di tangan orang hebat seperti Pak Hendi, Semarang akan menjadi hebat. Ini menjadi inspirasi kota-kota lain di Jawa Tengah. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 24 Dec 2018 23:45:30 +0700
<![CDATA[Siapa Yang Tahu Masa Depan Kita?]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/21/109750/siapa-yang-tahu-masa-depan-kita https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/21/siapa-yang-tahu-masa-depan-kita_m_109750.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/21/siapa-yang-tahu-masa-depan-kita_m_109750.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/21/109750/siapa-yang-tahu-masa-depan-kita

DARI balik jendela pesawat Garuda di runway Bandara Sukarno-Hata, saya melihat pemotong rumput melambai-lambaikan tangannya ke arah Garuda Flight 238.]]>

DARI balik jendela pesawat Garuda di runway Bandara Sukarno-Hata, saya melihat pemotong rumput melambai-lambaikan tangannya ke arah Garuda Flight 238 jurusan Jakarta-Semarang. Saya tersenyum melihat gayanya. Sesaat ia terdiam, mungkin mencoba melihat respon penumpang, tangannya kembali terangkat melambai-lambai ke arah pesawat kami. Tiba-tiba saja, saya bertanya-tanya apakah besok tahun 2019, ia masih tetap menjadi pemotong rumput?

Tiba-tiba pikiran saya melayang ke tahun 2013. Pada 2 Januari 2013, saya dipindah tugas dari salah satu kepala dinas menjadi staf ahli gubernur Jawa Tengah. Selama empat tahun saya menjalani tugas itu, dengan segala suka dukanya. Dua tahun lamanya, saya gundah gulana, bertanya kepada Tuhan di setiap 3/4 malam. ”Apakah kesalahan saya ya Allah, hingga engkau tempatkan saya di posisi yang tidak satu pun pejabat eselon 2 menghendakinya?". Batin saya menjerit, meminta jawaban. Di setiap Salat Dhuha, saya meminta pada-Nya untuk memberikan kesempatan agar pikiran, pengalaman, dan ilmu yang saya miliki dapat saya gunakan untuk mewarnai bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang lebih baik.

Doa saya didengar-Nya, diberinya saya kesempatan menjadi pejabat bupati dua kali di dua daerah yang berbeda. Saya mencoba melakukan yang terbaik sebagai bupati walaupun hanya sekadar pengisi waktu. ”Cuma bupati kw2 saja banyak janji" kata seorang Facebooker.

Dalam sebuah acara pernikahan anak seorang kiai terkenal awal 2016, saat masih menjadi pejabat bupati di salah satu kabupaten kaya minyak di Jawa Tengah, salah satu tamu kiai mendekati saya. Setelah memperkenalkan diri, tamu yang berprofesi pengacara tersebut berkata ”Pak Bupati, saya mohon maaf telah salah menilai.” Saya menatap wajahnya.

”Pertama kali saya mendengar bahwa Gubernur Ganjar Pranowo telah menunjuk bapak untuk menjadi PLT bupati, saya kecewa," katanya. ”Oh ya?" Tanya saya sambil melihat matanya lebih dalam lagi. ”Ya Pak, saya kecewa karena yang ditunjuk adalah staf ahli gubernur. Apa yang bisa dilakukannya? Wong di provinsi saja jadi staf ahli, kok dipilih jadi bupati," lanjutnya menegaskan kekecewaannya. ”Ternyata saya salah. Bapak di sini telah memberi banyak contoh kepada birokrasi, legislatif, dan masyarakat. Saya mohon maaf sudah salah menilai Bapak."

Saya tersenyum dan memeluknya ”mboten menopo, Pak. Saya paham," jawab saya sambil memeluknya erat-erat. Saya terharu mendengar kejujurannya. Mata saya sedikit berkaca-kaca. Pelukan saya merupakan wujud dari penghargaan saya dan juga terima kasih kepada Allah SWT yang telah mengirimnya untuk memberi tahu bahwa saya mungkin sudah dinilai telah melakukan tugas dengan baik.

Setahun kemudian, kembali saya ditunjuk menjadi PLT bupati selama empat bulan. Selanjutnya sejak awal 2017, saya didapuk Gubernur Ganjar Pranowo menjadi yang dituakan di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Jawa Tengah. Apakah ini juga pertanda saya sudah berhasil melaksanakan tugas yang diberikannya? Saya coba menjalani tugas tersebut dengan segenap kemampuan yang saya miliki. Hanya satu tekad saya, memberi yang terbaik.

”Prestasi terbaik apa yang telah Pak Ihwan lakukan selama menjalankan tugas kepala Badan Pengelola Pendapatan?" Tanya seorang ibu profesor universitas ternama di Indonesia, yang juga anggota Tim Panitia Seleksi Jabatan Tinggi Pratama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah setelah hampir dua tahun 2017-2018, saya menjabat tugas tersebut.

Saya agak terdiam sejenak mencoba mengumpulkan kata-kata untuk menjawabnya. ”Terima kasih ibu atas pertanyaannya. Saya tidak bisa mengatakan apakah yang sudah saya laksanakan adalah prestasi terbaik atau bukan. Hanya pihak lain yang berhak memberikan penilaian seperti itu." Lalu saya pun menjelaskan apa yang sudah dicapai. Apa yang masih menjadi impian dan apa yang masih akan saya lakukan ke depan.

”Saya berusaha berbuat yang terbaik sesuai harapan gubernur. Saya hanya ingin beliau merasa bahwa pilihannya tidak salah terhadap saya," itulah pernyataan tertutup yang saya sampaikan kepada tim pansel yang sedang mengevaluasi seluruh pejabat eselon 2 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Agak lega juga rasanya, karena waktu dilaksanakan evaluasi kemarin (19/12/2018), bertepatan dengan seminggu pasca tercapainya target pendapatan APBD P 2018. Tahun ini, saya bisa merealisasikan target (12/12/18) empat hari lebih awal dibandingkan tahun 2017 (16/12/2017).

Mata saya menerawang kembali melihat pemotong rumput itu. Saya tersenyum sendiri, mengapa saya bergumam tentang masa depan pemotong rumput itu, toh saya pun bahkan belum tahun bagaimana masa depan saya. Mungkin jika pemotong rumput itu bekerja dengan baik, memuaskan mandornya, maka ia tetap akan menjadi pemotong rumput. Begitu pula yang mungkin terjadi pada saya. Tetapi, terkadang apa yang kita harapkan tidak selalu sesuai keinginan kita.

”Yang terpenting apa pun yang diputuskan Allah, harus kamu syukuri, ambil hikmahnya," kata almarhumah ibunda. Kini, kata itu kembali saya ingat dan saya tanamkan dalam hati. Wajah beliau kembali tampak di depan mata, di atas awan Jakarta-Semarang. Apa pun yang terjadi, kewajiban saya sebagai manusia adalah tetap bersyukur kepada Allah, seperti hembusan nafas yang masih saya rasakan dan lakukan tanpa terbebani. (Menulis di atas awan Jakarta-Semarang)

]]>
Ali Mustofa Fri, 21 Dec 2018 22:55:46 +0700
<![CDATA[Pesan Alam Semarang untuk Wakil Rakyat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/17/109036/pesan-alam-semarang-untuk-wakil-rakyat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/17/pesan-alam-semarang-untuk-wakil-rakyat_m_109036.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/17/pesan-alam-semarang-untuk-wakil-rakyat_m_109036.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/17/109036/pesan-alam-semarang-untuk-wakil-rakyat

KETIKA suatu hari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meninjau lokasi banjir di Kaligawe, rasanya saya ingin meloncat. Mau lari mengikuti kunjungan tersebut.]]>

KETIKA suatu hari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meninjau lokasi banjir di Kaligawe, rasanya saya ingin meloncat. Mau lari mengikuti kunjungan tersebut. Ingin menyaksikan kondisi-kondisi yang dilihat Pak Wali. Ingin juga mendengar langsung apa yang diinstruksikan.

Saya memang tidak tinggal di sana. Tidak juga setiap hari melewati daerah banjir klasik di wilayah Semarang itu. Tapi, ikut menderita. Apalagi mereka yang bermukim di daerah itu. Sopir-sopir yang setiap hari melewati Kaligawe. Para pengusaha yang barangnya terlambat tiba di tujuan karena kemacetan.

Sudah hampir sepuluh bulan saya bolak-balok Kudus – Semarang. Mengurus Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang.  Kadang-kadang berturut-turut dalam beberapa hari. Kadang-kadang selang-seling. Dalam keadaan normal tidak persoalan. Jaraknya hanya 50 kilometer. Bagi sebagian orang yang bekerja di Jakarta, jarak 50 kilometer dari rumah ke tempat kerja itu biasa.

Sejak hujan menghajar Semarang dan sekitarnya belakangan ini, pekerjaan menjadi amat berat. Lewat jalan Kaligawe genangan air cukup tinggi. Macetnya juga parah. Lewat jalan alternatif lamanya bukan main. Para sopir pasti mengeluh. Apalagi sopir angkutan. Jumlah mereka jutaan. Tapi, mungkin bosan mengungkapkannya. Toh dari hari-hari tak ada perubahan.

Tanggal 9 April 2018 saya sudah menulis kondisi jalan nasional lintas Pantura itu. Ketika itu masih musim penghujan. Banjir. Rob. Macet. Saya berharap para calon gubernur waktu itu mengangkat persoalan sebagai bahan kampanye. Setelah berkuasa kemudian mengatasinya.

Saat itu sudah ada pekerjaan peninggian jalan. Tapi lambat. Bahkan ketika sudah memasuki musim kemarau tidak juga digaspol. Sampai sekarang, menjelang tutup tahun anggaran, pekerjaan belum selesai. Kemungkinan besar sampai musim hujan kali ini selesai, peninggian jalan Kaligawe juga belum kelar.

Masalah banjir di sekitar Kaligawe itu kompleks. Kalau musim peghujan seperti ini, air dari langit menyatu dengan meluapnya laut. Pak Wali Kota sudah berusaha keras. Begitu hujan badai menghajar Semarang dan sekitarnya beberapa waktu lalu, beliau langsung ke lokasi. Dia instruksikan delapan pompa dioperasikan. Genangan memang berkurang. Tapi tidak bisa hilang. Masalahnya tidak sesederhana itu.

Sudah banyak ide untuk mengatasi masalah tersebut. Cara sederhana adalah meninggikan jalan-jalan nasional. Normalisasi saluran dan pengerahan pompa. Tentu harus diikuti pembangunan sabuk laut juga untuk menahan rob. Cara lain, membangun jalan layang untuk mengatasi kemacetan. Juga membangun waduk di sekitar lokasi.

Apapun cara itu, jangan sekedar wacana. Masyarakat sudah terlalu terbiasa mendengarnya. Yang diperlukan adalah aksi. Bukan janji. Sudah terlalu banyak orang menderita.

Saya yakin Pak Gubernur Ganjar Pranowo juga prihatin. Berpikir dan berusaha keras juga. Tapi, belum berhasil juga. Masalahnya bukan lokal. Bukan pula regional. Ini sudah masalah nasional. Butuh sinergi semua pihak. Dari lurah sampai penguasa negeri ini.

Calon-calon wakil rakyat masa depan yang sekarang sudah memasarkan dirinya harus bisa menangkap persoalan ini. Jangan hanya menggelontorkan uang untuk kemenangan dirinya. Tetapi harus menjual konsep mengatasi persoalan nasional di Kota Semarang itu. Kalau perlu, siapkan penggelontoran biaya tak terbatas. Anggaplah sebagai upaya mengatasi bencana alam yang darurat. Dan, memang banjir dan rob di Semarang utara dan timur itu bencana alam. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 17 Dec 2018 21:01:15 +0700
<![CDATA[Jurus Ratu Shima yang Akhirnya Lumpuh]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/10/107673/jurus-ratu-shima-yang-akhirnya-lumpuh https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/09/jurus-ratu-shima-yang-akhirnya-lumpuh_m_107673.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/09/jurus-ratu-shima-yang-akhirnya-lumpuh_m_107673.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/10/107673/jurus-ratu-shima-yang-akhirnya-lumpuh

SAYA tersentak ketika mendapat kabar rumah dan ruang kerja Bupati Jepara Ahmad Marzuqi digeledah KPK. Hati saya ikut menangis seperti halnya Marzuqi. Tersayat.]]>

SAYA tersentak ketika mendapat kabar rumah dan ruang kerja Bupati Jepara Ahmad Marzuqi digeledah KPK. Hati saya ikut menangis seperti halnya Marzuqi. Tersayat. Lebih pedih lagi ketika kemudian Marzuqi diperiksa sebagai tersangka. Kasusnya suap kepada hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang Lasito.

Saya memang bukan siapa-siapa. Tidak ada kaitan kekeluargaan dengan Marzuqi. Apalagi dengan Lasito. Tidak pula ada kaitan pekerjaan. Hanya, saya merasa menjadi rakyat Jepara. Perusahaan Jawa Pos Radar Kudus yang saya pimpin memiliki kantor biro di sana. Di wilayah kekuasaan Marzuqi itu pula, sebagian bisnis kami beroperasi. Kami juga menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat.

Pemimpin Redaksi Radar Kudus Zaenal Abidin yang bertanggung jawab atas seluruh pemberitaan Radar Kudus tak punya beban. Berita tentang Marzuqi dialirkan begitu saja. Disajikan secara faktual dan lengkap. Padahal dia jauh lebih dekat dibanding saya dengan orang nomor 1 di Kota Ukir. Sampai-sampai dalam guyonan saya sering menyebutnya anak Marzuqi.

Radar Kudus tidak mau menyembunyikan fakta seperti reuni 212 yang oleh sebagian media tidak dibesarkan. Radar Kudus tidak mau bunuh diri hanya karena memiliki kedekatan dengan Marzuqi. Demikian juga Jawa Pos dan seluruh anak perusahaannya, termasuk Radar Semarang.

Sampai kemarin saya belum percaya benar Marzuqi menyuap hakim. Apalagi nilainya sampai Rp 700 juta. Yang saya tahu, putra daerah Kota Ukir itu sederhana. Saya tidak melihat dia punya banyak harta. Ketika kali kedua mencalonkan diri sebagai bupati Jepara, dia tidak punya banyak modal. Di rumah dinasnya saya tidak melihat mobil-mobil mewah berjajar di tempat parkir.

Saya cukup lama mengenal Marzuqi. Berkali-kali diterima di ruang kerja. Pernah diajak makan pula di ruang itu. Pernah pula diterima di rumah dinas di kompleks pendapa. Suatu saat ketika menerima saya, Marzuqi hanya mengenakan sarung dan kaus oblong putih sambil menggendong cucunya. Kemudian melengkapi penampilannya dengan peci yang tak pernah lepas ke manapun dia pergi.

Marzuqi bukan hanya santri. Bagi saya dia seorang kiai. Khas kiai NU. Kalau berpidato didahului ucapan syukur alhamdulillah dan salawat. Beberapa kali menyambut kami yang hanya beberapa orang pun dia berbicara seperti pidato formal. Setelah itu baru obrolan mengalir. Joke-jokenya berseliweran. Namun tetap diselingi ayat-ayat Alquran dan hadits.

Saya berkesan Marzuqi memiliki tetesan darah Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga yang berpusat di Keling, Jepara. Patungnya (tiga tokoh perempuan Jepara) di bundaran Ngabul, Jepara, dihadapkan ke pusat kerajaannya itu. Dia bijaksana, jujur, adil, dan tegas. Toleransinya tinggi. Dia dicintai rakyat. Konon saat dia berkuasa inilah agama Islam yang dibawa oleh pedagang Gujarat menyebar di Jepara yang kemudian melahirkan kiai-kiai di Bumi Kartini.

Saya betul-betul heran kenapa Pak Marzuqi terjerumus kasus yang di dalam hadits disebutkan laknatullahi alarrosyi walmurtasyi (Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap). Dia harus berhadapan dengan KPK yang juga tegas. Kasus utama Marzuqi itu sebenarnya kecil. Yaitu dituduh menyelewengkan bantuan parpol (banpol) untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jepara. Kebetulan dia menjadi ketuanya. Marzuqi pun sempat aman. Karena tidak menikmati.

Bantuan dari APBD Kabupaten Jepara tahun 2011-2013 itu tidak besar. Hanya Rp 149 juta. Dari dana itu, Rp 51 juta untuk THR pengurus partai dan Rp 23 juta untuk keperluan pribadi bendahara partai. Dua pengurus partai telah dijatuhi hukuman. Mereka adalah bendahara Zainal Abidin yang divonis 16 bulan dan wakilnya Sodiq dipenjara 12 bulan.

Marzuqi juga dijadikan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah (Kejati Jateng) yang menangani kasus itu pada 2016. Saat itu lagi ramai-ramainya pemunculan calon bupati 2017-2022. Tak heran kalau lantas ada yang menghembuskan aroma politik. Dengan jurusnya yang jitu, Marzuqi lolos dari jerat hukum. Kejati mengeluarkan surat pemberitahuan penghentian penyidikan (SP3).

Kasus Marzuqi menggelinding melalui jalan berliku. Penghentian penyidikan tersebut dipraperadilankan. Marzuqi kalah. Dia balik lagi sebagai tersangka. Politikus PPP yang ketika maju kali kedua diusung PDIP itu melawan. Dia pun mengajukan praperadilan ke PN Semarang. Jurusnya ampuh. Hakim Lasito memenangkan Marzuqi. Di sinilah Marzuqi dijerat. Dia dituduh menyuap Lasito. Dilaporkan ke KPK.

Selasa, 4 Desember 2018, KPK mengobok-obok rumah dan ruang kerja bupati. Marzuqi tak bisa berkutik. Dia pasrah seperti halnya Ratu Kalinyamat ketika dikalahkan Portugis dalam perang tahun 1550-an. Marzuqi hanya bisa menangis. Saya pun terenyuh. Apalagi setelah KPK menunjukkan bukti uang suap senilai Rp 700 juta yang disita dari rumah Lasito, hakim yang memenangkan Marzuqi pada sidang praperadilan di Semarang.

Marzuqi sudah mengklarifikasi. Dia tidak pernah bertemu Lasito. Apalagi menyerahkan uang yang ditutup dan dimasukkan plastik bandeng presto. Lantas siapa yang menyerahkan? KPK belum membeber. Tersangkanya pun baru dua, yaitu Marzuqi dan Lasito. Bisa jadi orang dekat Marzuqi yang rumahnya juga digeledah KPK.

Kalau kemenangan dalam sidang prapreradilannya digugurkan, Marzuqi terjerat dua kasus. Yaitu penyalahgunaan bantuan partai politik dan penyuapan. Saya sebagai rakyat jelata hanya bisa berharap Marzuqi lepas dari keduanya. Tetapi saya pun maklum kalau KPK membuktikan tuduhannya. Manusia tak lepas dari salah dan dosa. Barangkali Pak Marzuqi lagi lupa. Ini pelajaran bagi kita. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 10 Dec 2018 06:05:59 +0700
<![CDATA[Berapa Tambah Berapa Sama Dengan Sepuluh]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/03/106644/berapa-tambah-berapa-sama-dengan-sepuluh https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/03/berapa-tambah-berapa-sama-dengan-sepuluh_m_106644.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/12/03/berapa-tambah-berapa-sama-dengan-sepuluh_m_106644.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/12/03/106644/berapa-tambah-berapa-sama-dengan-sepuluh

SAYA tidak pernah membayangkan yang satu ini. Memimpikan juga tidak. Apalagi merencanakannya jauh hari. Mengumpulkan seluruh karyawan dua perusahaan.]]>

SAYA tidak pernah membayangkan yang satu ini. Memimpikan juga tidak. Apalagi merencanakannya jauh hari. Mengumpulkan seluruh karyawan dua perusahaan yang saya pimpin dalam satu acara formal. Rapat tahunan.

Kalau itu terjadi, semata-mata spontanitas. Manajer Keuangan Radar Kudus Etty Muyassaroh yang mengusulkan. Pertimbangannya simpel. Biar saya tidak mondar-mandir. Biar juga seluruh karyawan dua perusahaan saling kenal. Kayaknya seru.

Saya setujui begitu saja usulan tersebut. Kebetulan ketika ide saya lempar ke para manajer Radar Kudus dan Radar Semarang, mereka sepakat. Seluruh karyawan juga menyambut dengan semangat. Bagaimana tidak? Acara tahunan ini sekaligus rekreasi di Pegunungan Dieng yang suhunya bisa mencapai nol derajat Celsius. Menjelajah kawah Dieng, kompleks Candi Arjuna, dan Batu Ratapan Angin. Tak lupa membawa oleh-oleh carica, teh Tambi, dan purwoceng.

Alhasil. Dua minggu lalu seluruh karyawan Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang berkumpul di Perkebunan Teh Tambi, Wonosobo. Acaranya rapat evaluasi tahun 2018 dan proyeksi 2019. Mereka dalam satu ruang, satu acara, dan satu pimpinan rapat. Kebetulan tidak hujan. Udaranya nyaman. Suhu terendah hanya 16 derajat Celsius. Setelah acara diadakan api unggun sambil ngegame untuk menghangatkan badan.

Acara seperti ini langka. Saya belum pernah melihat di perusahaan lain kecuali yang menyelanggarakan induk perusahaan.  Rapat mesti diselenggarakan oleh masing-masing perusahaan. Kondisi mereka berbeda.  Target perusahaan berbeda, karyawannya berbeda, dan cara kerjanya berbeda. Percapaian hasilnya juga berbeda. Evaluasinya juga mesti tidak sama.

Saya sadar betul hal itu. Bahkan saya pernah membuat status di WattsApp, “Hidup itu bukan 5 + 5 = berapa. Tetapi, berapa + berapa = 10.”  Artinya, untuk mencapai angka sepuluh bisa diperoleh dengan bermacam-macam cara. Bisa 1 + 9, 9 +1, 2 + 8, 3 + 7, dan seterusnya. Bahkan bisa 5 + 5 – 5 + 5. Juga bisa 2 + 4 – 6 + 10 + 10 : 2.

Seorang pimpinan perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) menanggapi. “Yes. Tetapkan target dulu baru jabarkan cara mencapainya,” katanya. Cara mencapai itu bisa bermacam-macam. Sangat tergantung dari kondisi karyawan, situasi pasar, dan keadaan perusahaan. Tidak bisa disamakan antara satu perusahaan dengan perusahaan lain.

Seorang pimpinan perusahaan lain yang juga saya kenal mengomentari, sekarang banyak orang yang tidak bisa memainkan logika. Ilmu matematika dipelajari dengan hafalan. Padahal bukan itu maunya. Matematika yang ilmu eksak adalah logika. Angka harus dijabarkan. Apalagi ilmu sosial. Apalagi kehidupan.

Saya pernah ditanya oleh Pemimpin Redaksi Radar Semarang. “Jadi, Pak Baehaqi menerapkan pendekatan dan cara yang berbeda di Radar Semarang dan Radar Kudus?” Saya menjawab dengan tegas betul. Itulah sulitnya mengurus dua perusahaan. Ini beda dengan mengurus grup yang memiliki dua anak perusahaan atau bahkan banyak anak perusahaan.

Radar Semarang memiliki wilayah yang luas. Dua belas kabupaten dan kota. Sedangkan Kudus hanya enam kabupaten. Kantor pusat Radar Semarang di ibu kota propinsi. Sedangkan Radar Kudus di ibu kota kabupaten. Tentu orang-orangnya berbeda. Menurut teman-teman Radar Kudus, karyawan Radar Semarang itu keren-keren. Sedangkan menurut teman-teman Radar Semarang, karyawan Radar Kudus itu memiliki semangat yang tinggi.

Saya tidak mungkin menyamakan kedua perusahaan tersebut. Apalagi menyamakan karyawannya. “Wong pithik sak peterangan wae bedo. Opo meneh menuso. (Ayam satu sarang saja berbeda-beda. Apalagi manusia).” Saya harus menggunakan pendekatan dan cara yang berbeda untuk menghadapi keduanya.

Saya hanya bisa menyatukan norma. Kedua perusahaan tumbuh, mencapai laba, dan bisa menaikkan gaji karyawannya (hehehe). Caranya, saya serahkan kepada para manajer serta para karyawan di kedua perusahaan. Mereka pintar-pintar. Pengalamannya mutakhir. Kehidupannya gaul. Mereka pun sepakat. Be Better Be Greater. (hq@jawapos.co,id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 03 Dec 2018 20:57:18 +0700
<![CDATA[Kota Hebat Bermula dari Kampung]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/26/105469/kota-hebat-bermula-dari-kampung https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/26/kota-hebat-bermula-dari-kampung_m_105469.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/26/kota-hebat-bermula-dari-kampung_m_105469.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/26/105469/kota-hebat-bermula-dari-kampung

ADA empat kegiatan yang patut saya ikuti dalam waktu hampir bersaman kemarin. Dua di Semarang, satu di Rembang, dan satu di Kudus. Saya memilih salah satu.]]>

ADA empat kegiatan yang patut saya ikuti dalam waktu hampir bersaman kemarin. Dua di Semarang, satu di Rembang, dan satu di Kudus. Saya memilih salah satu. Di Semarang. Launching Lomba Kampung Hebat bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (Hendi).

Saya tidak bisa menghadiri semua kegiatan yang diselenggarakan oleh dua perusahaan yang saya pimpin. Radar Kudus dan Radar Semarang. Beda dengan Pak Wali Kota Semarang. Sejak pukul 06.00-10.30 di Hari Minggu kemarin, Hendi dijadwal menghadiri lima kegiatan. Luar biasa padat.

Sejam beliau bersama saya di Kelurahan Pedurungan Tengah. Memukul kentongan tanda dimulainya Lomba Kampung Hebat. Acaranya sederhana, tapi heboh. Ada Attalarik Syah. Artis ganteng kesukaan emak-emak gemes yang dihadirkan oleh Dewangga, penyelenggara umrah dan haji yang menjadi sponsor kami.

Sebelum memukul kentongan berwarna biru dan merah, Hendi yang mengenakan polo hitam kombinasi biru dan hijau berkenan mengikuti jalan sehat mengitari kampung Ganesha. Kegiatan ini dilakukan setelah senam sehat yang diikuti oleh ribuan warga. Saya yang terus mendampingi Wali Kota mendapat kesan, popularitas Pak Hendi jauh melebihi Attalarik Syah. Di sepanjang perjalanan beliau menjadi buruan selfi mania. Istrinya yang cantik sampai terpinggirkan. Terpisah oleh warga.

Hendi berpendapat Lomba Kampung Hebat bukan sekadar kompetisi. Ini adalah gerakan masyarakat menuju Kota Hebat. Jawa Pos, koran dengan pembaca terbanyak di Indonesia (menurut survey A.C. Nielsen pertengahan tahun 2018), melalui anak perusahaannya, Radar Semarang memprakarsai. Mendorong masyarakat agar melahirkan ide-ide kreatif membangun daerah. Bergerak bersama-sama menciptakan lingkungan yang baik.

Selama lima bulan ke depan akan ada penilaian-penilaian yang dibagi menjadi beberapa kategori. Kampung bersih dan hijau, kampung sehat, kampung kreatif dan inovatif, kampung rukun dan aman, kantor kelurahan terbaik, dan PKK terbaik. Kelima kategori ini akan melahirkan Kelurahan Hebat yang mereprentasikan salah satu kehebatan Kota Semarang.

Tentu kegiatan bukan berhenti saat penentuan juara yang berhadiah Rp 70 juta saat peringatan Hari Ulang Tahun Kota Semarang pada 2 Mei 2019 mendatang. Gerakan ini akan terus berlanjut dengan dorongan aktif dari pemerintah kota yang bekerja sama dengan Radar Semarang. Inilah gerakan yang menurut E.F. Schumaker bisa mengalahkan sisi-sisi kapitalisme yang memiliki banyak kelemahan. Bagi Schumaker, gerakan-gerakan di masyarakatlah yang akan mewujudkan perdamaian dan kearifan di muka bumi ini.

Pak Wali berharap, masyarakat tidak menjadi warga pelapor. Sedikit-sedikit melapor. Tidak aman melapor, kotor melapor, banjir melapor, apapun melapor. Yang diinginkan adalah masyarakat berinisitaif memecahkan sendiri persoalan lingkungannya, termasuk persoalan ekonomi masyarakat.

Secara spontan, kemarin dia mengeluarkan banyak kocek untuk mengapresiasi produk-produk masyarakat yang dipamerkan dalam acara. Pak Wali membeli bukan untuk dibawa pulang tapi dibagi-bagikan kepada warga. Saya lihat sampai lima kali Pak Wali merogoh sakunya yang berisi lembaran-lembaran warna merah.

Jawa Pos mengapresiasi apapun gerakan yang bisa mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Satu kegiatan lain yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Semarang kemarin juga berupa gerakan. Gerakan guru menulis. Pelatihannya diberikan langsung oleh Pemimpin Redaksi Arif Riyanto dan Redaktur Pelaksana Ida Noor Laila di SMPN 12 Semarang. Pelatihan ini, sudah kesekian kali (tahun ini saja sudah belasan kali). Saya hanya bisa nginceng ketika kegiatan hampir usai.

Di Rembang juga dilaksanakan kegiatan serupa oleh Jawa Pos Radar Kudus yang kebetulan juga saya pimpin. Kemarin, dilakukan deklarasi di Kantor Pusat Data dan Arsip Pemkab Rembang yang mestinya saya ikuti. Mudah-mudahan pada pelatihan 30 November nanti di SMAN 1 Lasem saya bisa hadir.

Gerakan lain adalah Lomba Menggambar dan Mewarnai di Kudus. Ini kerja sama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pesertanya 7.000 siswa SD dan TK yang disaring menjadi sekitar 400 untuk mengikuti babak final di GOR Bung Karno Kudus kemarin. Saya tidak bisa menghadiri, tapi sudah menyemangati bersama seluruh manajer Radar Kudus Kamis lalu, saat pelaksanaan di sekolah-sekolah.

Semua itu adalah perwujudan filosofi part of the show. Menjadi bagian dari masyarakat melakukan berbagai kegiatan. Semoga bermanfaat. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 26 Nov 2018 19:08:58 +0700
<![CDATA[Sepi di Tempat Wukuf, Ramai di Bukit Cinta]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/11/103041/sepi-di-tempat-wukuf-ramai-di-bukit-cinta https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/11/sepi-di-tempat-wukuf-ramai-di-bukit-cinta_m_103041.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/11/sepi-di-tempat-wukuf-ramai-di-bukit-cinta_m_103041.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/11/103041/sepi-di-tempat-wukuf-ramai-di-bukit-cinta

MESKI tidak berhaji, saya menyempatkan ke Arofah, Mina, dan Muzdalifah. Tempat sebagian prosesi haji dilaksanakan tetapi tidak untuk ibadah umrah.]]>

MESKI tidak berhaji, saya menyempatkan ke Arofah, Mina, dan Muzdalifah. Tempat sebagian prosesi haji dilaksanakan tetapi tidak untuk ibadah umrah.

Ketiga tempat tersebut seperti kota mati. Tidak ada penghuninya. Padahal ketika puncak ibadah haji, tempat itu penuh jamaah. Sekitar dua juta umat muslim tumplek-blek di sana. Tidur seperti pindang. Antrian ke WC bisa sampai beberapa meter.

Saya ke sana naik bus. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam dari Makkah. Jaraknya kira-kira 15 kilometer.

SESAMA PENERBIT: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang yang menerbitkan koran mendapatkan kenang-kenangan dari penerbit Quran Madinah saat berkunjung di sela kesibukannya berumrah. (baehaqi/radar kudus)

Sebenarnya saya ingin naik kereta api. Dulu pada 2009 ketika saya ke sana jalan dan stasiunnya masih dibangun. Sekarang sudah beroperasi. Namun operasionalnya hanya musim haji. Itulah satu-satunya kereta di dunia yang beroperasi setahun sekali.

Kelak kereta itu akan digunakan untuk melayani rute Makkah-Madinah dan Makkah-Jedah. Rute Makkah-Madinah sudah dioperasikan awal September lalu. Sedangkan jalur Makkah-Jedah dalam pembangunan. Beberapa potongan jalan kereta yang dibangun itu kelihatan dari bus ketika saya melintas dari Makkah ke Jedah. 

Ketika tidak musim haji, Arofah, Mina, dan Muzdalifah menjadi tujuan wisata sebagian jamaah umrah. Namun sasaran utamanya bukan tempat-tempat wukuf, melempar jumrah, maupun penginapan di Mina. Mereka hanya ke Jabal Rahmah. Gunung cinta di wilayah padang Arofah. Hanya pesta selfi.

Jabal rahmah adalah tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa ketika keduanya diturunkan Allah dari surga ke dunia. Belum diketahui pasti tempat turunnya Nabi Adam dan di mana makamnya. Yang sudah jelas, Siti Hawa turun di Jedah. Dalam petualangannya mereka bertemu di Jabal Rahmah tersebut.

Makam Hawa juga di Jedah. Saya sempat ziarah ke sana. Bentuknya hanya tanah lapang. Tak berumput dan tak bertanaman pelindung. Hanya ada kapling-kapling besar yang tak bernisan. Makam ibu Hawa itu tidak jauh dari Masjid Qisos, tempat pelaksanaan hukum potong kepala dan tangan, serta hukuman badan lainnya di Jedah.

Dari Jabal Rahmah saya sempat mengelilingi sebagian area wukuf. Kondisinya sepi, gung liwang-liwung. Namun kelihatannya adem. Tanaman pelindungnya sudah tinggi-tinggi. Saya tidak tahu namanya. ”Kenapa tidak ditanami mangga saja ya,” tanya Ny. Taufik dari Semarang. Saya pun tak tahu.

Di sebagian tempat kelihatan rangka-rangka galvalum untuk tenda. Tampaknya kelak tenda di Arofah juga akan dibuat permanen seperti di Mina. Saya belum bisa memastikan. Selama ini tenda di Arofah bongkar-pasang.

Dari Arofah saya menyisir jalur jamaah haji menuju Muzdalifah. Tempat jamaah haji mengambil kerikil untuk melempar jumrah di Mina. Terlihat kerikil bertebaran di mana-mana. Itu kerikil yang habis dipakai melempar jumrah telah dikembalikan lagi ke tempatnya. 

Dari Muzdalifah lanjut ke Mina. Jamaah haji menginap di sini tiga malam untuk selanjutnya tawaf ifadloh di Masjidil Haram. Dari atas bus kelihatan hamparan tenda putih tak berpenghuni. Di atasnya ada perangkat  AC yang ditutup plastik warna kuning. Tentu tenda dan AC itu hanya digunakan setahun sekali. Pasti cepat rusak. Sayang semua akses ke jamarot (tempat melempar jumrah) tertutup. Sehingga tidak bisa masuk.

Dari Mina mampir di Ji’ronah untuk mengambil miqot (tempat berniat umor atau haji). Ketika itu kami hanya bertujuh yang berumrah lagi dari 39 orang anggota rombongan yang ke Arofah. Lainnya hanya berwisata biasa. Alhamdulillah saya bisa berumrah tiga kali dalam satu perjalanan. Sebagian besar orang hanya sekali dan sebagian lain dua kali. Hanya sedikit yang tiga kali.

Ceritanya telah tersaji sepuluh seri. Inilah seri terakhir yang saya tulis di pesawat dalam penerbangan pulang ke tanah air. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Sun, 11 Nov 2018 16:44:19 +0700
<![CDATA[Mencium Butuh Perjuangan, Meninggalkan pun Berat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/10/102861/mencium-butuh-perjuangan-meninggalkan-pun-berat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/10/mencium-butuh-perjuangan-meninggalkan-pun-berat_m_102861.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/10/mencium-butuh-perjuangan-meninggalkan-pun-berat_m_102861.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/10/102861/mencium-butuh-perjuangan-meninggalkan-pun-berat

MASUK Hijir Ismail dan mencium Hajar Aswad itu tidak wajib. Malah tidak ada kaitannya dengan umrah. Tetapi nyaris seluruh jamaah menginginkannya.]]>

MASUK Hijir Ismail dan mencium Hajar Aswad itu tidak wajib. Malah tidak ada kaitannya dengan umrah. Tetapi nyaris seluruh jamaah menginginkannya. Saya beruntung. Bisa melakukan keduanya. Padahal tidak terlalu berharap. Desak-desakannya membutuhkan tenaga ekstra.

KING BAEHAQI: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi mengenakan pakaian ala raja Arab di Museum Al Amoudi. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Berdoa di Hijir Ismail (satu tempat sempit di samping Kakbah yang dibatasi dinding setengah lingkaran setinggi dada) saja sudah suatu keberuntungan. Tempat yang hanya tiga meter itu, diperebutkan oleh ratusan ribu orang. Pintu masuknya sekitar semeter. Askar yang menjaga kedua pintu tak berkutik. Mesti dibiarkan orang berdesak-desakan. Yang penting tidak terjadi korban.

Saya bisa masuk ke Hijir Ismail sekaligus bisa mencium Hajar Aswad dalam satu kesempatan. Saat itu subuh. Saya berangkat ke masjid sendirian. Sudah agak terlambat. Azan pertama sudah berkumandang. Pelataran Kakbah sudah penuh. Saya menyelinap sedikit demi sedikit. Akhirnya mendapat tempat di pelataran itu juga.

Selesai salat saya tawaf. Tidak ada niat masuk Hijir Ismail. Apalagi mencium Kakbah. Tawaf itu pun saya lakukan dengan santai. Kebetulan saya berjubah pemberian teman-teman Radar Kudus. Pada putaran kedua baru terbesit keinginan masuk Hijir Ismail. Saya mendekat. Berdesak-desakannya luar biasa. Saya mencoba. Dengan menggeser-geserkan tubuh yang kecil di sela-sela orang-orang yang berdesak-desakan.

Dengan kebesaran Allah ternyata berhasil. Tidak menunggu lama bisa langsung menyentuh dinding Kakbah. Bahkan, atas dorongan orang dari belakang secara tidak sengaja seluruh tubuh bagian depan bisa menempel ke dinding Kakbah. Suatu kebetulan. Di situlah saya berdoa berlama-lama. Sampai kehabisan doa. Perkiraan saya sekitar 20 menit. ”Ya Allah, panggilah semua keluarga dan teman-teman saya menghadap-MU seperti saya sekarang ini.”

Dari Hijir Ismail saya mlipir (bahasa Inggrisnya: walk slowly on the edge (side) of the road) ke Hajar Aswad. Ini spekulasi. Sedikit demi sedikit agak mepet dinding Kakbah. Begitu mendekati Hajar Aswad, perjuangan menjadi luar biasa berat. Dorongan dari seluruh penjuru mata angin. Sebelum bisa menyentuhnya nyaris kehabisan tenaga. Perut dan dada terasa sakit. Hanya bisa bertahan. Ikut ke manapun dorongan orang.

Tuhan Maha Kuasa. Sisa tenaga saya kerahkan. ”Allahu akbar,’’ saya berteriak keras. Akhirnya tangan kiri saya bisa menyentuh plat Hajar Aswad (belum Hajar Aswad-nya). Hati saya sudah senang. Apalagi setelah itu bisa menggapai ujung kiswah yang seperti ada tali tampar besarnya. Cukup lama. Sekitar 15 menit. Sayang lepas lagi.

Lagi-lagi Tuhan Maha Kuasa. Kepala saya sorong-sorongkan ke arah Hajar Aswad. Dan, Alhamdulillah. Berkat dorongan dari belakang akhirnya blung, kepala masuk ke lubang Hajar Aswad. Tenaga yang sudah habis membuat saya lupa doa yang harus saya ucapkan. Saya hanya membaca subhanallah, Allahu akbar, la haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim (maha suci Allah, maha besar Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali pertolongan Allah). Berulang-ulang.

Beberapa menit saya mencium Hajar Aswad itu. Baunya tetap harum. Padahal sudah dicium, bahkan dijilati oleh ratusan ribu orang dengan keringat yang macam-macam. Banyak orang menarik kepala saya. Baju saya. Bahkan rambut saya. Tapi dorongan ke arah Hajar Aswad lebih hebat. Jadinya kepala saya malah tidak bisa keluar. Rasanya saya mau kehabisan nafas.

Begitu kepala bisa keluar, masalah belum selesai. Perjuangan untuk keluar justru lebih berat. Saya harus mengerahkan tenaga berlawanan dengan orang-orang yang berdesak-desakan. Berkali-kali saya berteriak ”Allahu akbar”. Bahkan help… help... Tak ada yang menolong. Semua mengerahkan tenaga untuk kepentingannya.

Dengan nafas yang terengah-engah dan tenaga yang habis saya bisa keluar. Pundak bagian kanan terasa seperti keseleo. Saya biarkan sambil berjalan ke arah zam-zam. ”Allahumma Inni as’aluka ilman nafi’a warizqon wasi’a wasyifa’an min kulli da’in wasaqomin (Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizqi yang luas, dan kesembuhan dari segala sakit dan penyakit),” doa saya ketika meminum air zam-zam yang disediakan di segala penjuru Masjidil Haram.

Sedikit demi sedikit sakit pundak saya mereda. Setelah tenaga terkumpul lagi, saya lanjutkan tawaf. Sampai tujuh putaran tidak ada masalah. Sebelum pulang saya cek seluruh barang yang menempel di badan. Dua cincin masih ada. Tiga gelang di kiri dan dua di kanan juga masih lengkap. Tas kecil saya yang sudah ketarik-tarik orang ke sana-kemari utuh. Isinya tidak berkurang. HP dan kacamata tidak hilang.

Keberuntungan berdoa di Hijir Ismail dan mencium Hajar Aswad itu berlanjut siang. Selagi tenaga belum pulih benar saya melaksanakan umrah ketiga. Mengambil miqot Hudaibiyah. Di perjalanan mampir di Musem Al Amoudi dan melihat peternakan unta. Balik ke Makkah melaksanakan umrah persis tengah hari.

Alhamdulillah semua lancar. Umrah tiga kali dan berdoa di tempat-tempat yang orang lain belum tentu bisa melaksanakan. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Sat, 10 Nov 2018 07:56:43 +0700
<![CDATA[Banyak Tangis pada Kesempatan Kedua]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/09/102842/banyak-tangis-pada-kesempatan-kedua https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/09/banyak-tangis-pada-kesempatan-kedua_m_102842.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/09/banyak-tangis-pada-kesempatan-kedua_m_102842.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/09/102842/banyak-tangis-pada-kesempatan-kedua

ALHAMDULILLAH. Selama di Makkah saya tiga kali melaksanakan ibadah umrah, sekali berdo’a di Hijir Ismail, sekali mencium Hajar Aswad, dan berkali-kali berdoa.]]>

ALHAMDULILLAH. Selama di Makkah saya tiga kali melaksanakan ibadah umrah, sekali berdo’a di Hijir Ismail, sekali mencium Hajar Aswad, dan berkali-kali berdoa di Multazam. Di antara tiga kali umrah itu, yang kedua yang paling berkesan. Banyak tangis.

Ketika mengambil miqot (tempat berniat umrah. Harus di luar Tanah Haram) di Ji’ronah saya langsung teringat istri saya Ida Rosari yang meninggal sekitar satu setengah tahun lalu. Saya pernah mengajaknya umrah. Bahkan sampai dengan nazar. Tetapi dia keburu dipanggil Allah sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Dia juga sudah saya daftarkan haji. Sudah dapat panggilan tahun 2017. Tetapi keburu dipanggil Tuhan juga. Dia jugalah yang mendorong saya untuk berumrah bersama kakak saya Musyafa’. Karena itu, kepergian ke Tanah Suci kali ini saya persembahkan untuk dia. Ketika melafalkan niat  labbaikallahumma umrotan (aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah) saya tambahi lizauji (untuk istri saya). Saat itulah air mata menetes nyaris sepanjang perjalanan menuju Makkah.

UMRAH BERSAMA: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi (tengah) bersama kakaknya, Musyafa’ (kiri) dan istri Musyafa’, Ida Rachmawati foto bersama di sela-sela umrah. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Menurut Ustaz Tahir Sasmita, pembimbing dari Biro Haji dan Umrah Al-Fatih, mengumrahkan orang itu boleh. Istilahnya badal umrah. Demikian juga haji. Bahkan, diwakilkan kepada orang lain yang bukan keluarganya juga boleh.

Di Makkah juga banyak orang yang siap melaksanakan badal umrah (juga haji). Tentu harus bayar. Ada yang Rp 5 juta. Malah ada yang lebih. Ustaz Tahir juga mendapat order. Hanya Rp 1 juta dengan alasan membantu. Kalau haji lebih mahal. Bisa sampai Rp 15 juta lebih.

Kali ini saya umrah untuk tiga orang sekaligus. Yang pertama untuk diri saya sendiri. Kedua untuk istri tadi. Ketiga untuk bapak. Ibu sudah pernah saya badal umrahkan sebelumnya dan kali ini diumrahkan kakak. Syarat dan rukunnya sama. Tidak beda sedikit pun.

Umrah untuk istri itu saya laksanakan siang. Ketika udara sedang panas-panasnya. Untung panasnya Makkah kali ini tidak sepanas di tanah air. Pukul 13.20 ketika saya mulai tawaf, pengukur suhu saya intip. 32 derajat Celsius. Nyaris sama dengan di tanah air. Bahkan, di Semarang kadang-kadang menyentuh angka 34.

Begitu selesai tawaf (mengelilingi Kakbah tujuh kali) Ustaz Tahir mengajak berdoa di depan Multazam (salah satu tempat berdoa yang paling bisa dikabulkan). ”Allahumma robbalbaitil’atiq, a’tiq riqobana wariqoba abaina waummahatina minannar (Ya Allah yang memelihara Kakbah ini, bebaskanlah diri kami, bapak dan ibu kami, saudara-saudara dan anak-anak kami dari siksa neraka).”

Suara Tahir terhenti. Cukup lama. Selagi dia diam saya menambahi sendiri, ”bebaskan istri saya dari siksa neraka.” Ketika melanjutkan suara Tahir tidak jernih lagi. Bercampur isak tangis. Tangis saya pun ikut pecah. Tersedu-sedu. Dari Multazam, doa dilanjutkan di belakang Maqom Ibrahim. Namanya maqom tetapi bukan kuburan. Itu tapak kaki Nabi Ibrahim yang diabadikan.

Setelah sa’i, berjalan dan berlari kecil antara bukit Sofa dan Marwah tujuh kali, seluruh rangkaian umrah yang terdiri atas mengambil miqot (tempat memulai umrah), niat, tawaf, sa’I, dan tahalul (memotong rambut) selesai pukul 14.47. Sangat cepat. Ketika itu lantai tawaf tidak terlalu ramai.

Rombongan saya juga cuma sedikit. Lima orang, termasuk kakak sekalian. Jalannya gesit. Berbeda dengan umrah pertama yang memakan waktu dua jam. Karena berombongan 39 orang.

Umrah itu sebenarnya cepat. Yang membikin lambat adalah adanya jamaah berombongan. Ada yang bergandeng tangan. Bahkan, saya sempat melihat rombongan sekitar 40 orang bergandengan tangan. Itu menganggu jamaah lain. Ada juga yang berdoa secara berjamaah keras sekali. Itu juga mengganggu.

Umrah ketiga juga siang hari. Mulai pukul 11.24 sebelum azan Dhuhur. Ada hikmahnya. Begitu sa’i pada putaran kedua, terdengar iqomat tanda salat dimulai. Seluruh orang yang sa’i menghentikan kegitannya. Saya ikut salat berjamaah sambil beristirahat. Akhirnya seluruh rangkaian umrah selesai sekitar pukul 13.00.

Tangis saya pecah lagi ketika tahalul (memotong rambut). ”Allahumma hadzihi nasiati fataqobbal minni (Ya Allah, inilah ubun-ubunku, maka terimalah dariku (amal perbuatan) dan ampunilah dosa-dosaku,” doaku yang kemudian saya tambahi, ”ampuni juga dosa istriku dan anak-anakku.” Meskipun di sekeliling ada ratusan orang tetapi yang terlihat hanyalah wajah istri saya.

Semoga mendapat syafaat dari Allah dan Rasulnya. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Fri, 09 Nov 2018 22:56:21 +0700
<![CDATA[Menelusuri Jejak Strategi Nabi Muhammad]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/08/102592/menelusuri-jejak-strategi-nabi-muhammad https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/08/menelusuri-jejak-strategi-nabi-muhammad_m_102592.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/08/menelusuri-jejak-strategi-nabi-muhammad_m_102592.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/08/102592/menelusuri-jejak-strategi-nabi-muhammad

SUNGGUH keberuntungan bagi saya. Di sela-sela kesibukan beribadah di tanah suci Makkah bisa menelusuri jejak strategi Nabi Muhammad SAW.]]>

SUNGGUH keberuntungan bagi saya. Di sela-sela kesibukan beribadah di tanah suci Makkah bisa menelusuri jejak strategi Nabi Muhammad SAW. Suatu perjalanan mengindari musuh dari Makkah ke Madinah yang terkenal dengan peristiwa hijrah. Nabi menunjukkan kecerdikannya.

Makkah-Madinah berjarak 440 kilometer. Sebelumnya saya menempuh jarak itu dengan bus berkecepatan 120-140 km/jam. Memakan waktu sekitar enam jam. Nabi Muhammad berjalan kaki dan naik unta. Anehnya dia berjalan ke selatan terlebih dahulu. Padahal Madinah berada di sebelah utara. Inilah strategi jitu yang perlu ditiru.

Salah satu bukti kecerdikan itu adalah gua Tsur di jabal Tsur (jabal artinya gunung). Saya berkesempatan ke sana. Jaraknya dari Makkah 12 kilometer. Ditempuh dengan bus sekitar 30 menit. Tidak banyak jamaah umrah yang ke sana. Mereka lebih menyenangi bukit Cinta. Yaitu jabal Rahmah di Arofah atau ke tempat wisata lainnya. Ketika saya ke sana. Puncak gunung itu dipenuhi manusia hingga sulit bergerak.

NAPAK TILAS HIJRAH NABI: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang foto di jabal Tsur. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Posisi jabal Tsur di sebelah selatan Makkah. Sedangkan Madinah di sebelah utara. Di sinilah kecerdikan Nabi. Rosululloh yang ditemani sahabat Abu Bakar berjalan ke selatan untuk mengelabuhi musuh. Saat itu Nabi memang sedang diburu orang kafir Quraisy untuk dibunuh.

Meski sudah menggunakan strategi jitu akhirnya ketahuan juga. Orang kafir Quraisy menemukan jejaknya. Mereka menelusuri lewat jejak tapak kaki. Tapi jejak itu putus ketika mulai naik ke puncak gunung. Maklum jabal Tsur berupa gunung batu.

Sebelum tertangkap, Nabi bersembunyi di gua. Lubangnya tidak besar. Hanya kedalaman dua meter. Nabi sempat tidur di sana dijaga sahabat Abu Bakar. Para pemburu nabi menemukan gua itu. Tetapi mereka terkelabuhi oleh sarang laba-laba yang menutup lubang gua. Di mulut gua itu juga ada burung merpati yang sedang mengerami telur. Mereka pun mengabaikan bagian dalam gua. Ini juga strategi tetapi langsung dari Allah.

Strategi Nabi dalam mengelabuhi musuh sudah ditunjukkan ketika hendak berangkat ke Madinah. Saat itu beliau merasa terdesak. Rumahnya sudah dikepung. Kemudian Nabi meminta sahabat Ali tidur di ranjangnya dengan selimut yang dipakainya. Para pengintai sempat tertipu. Mereka mengira Rosululloh tidur. Setelah masuk secara paksa, yang ditemukan ternyata Ali. Sedangkan Nabi lolos menuju jabal Tsur tersebut.

Saya sempat naik gunung itu. Tetapi tidak sampai puncak. Hanya sampai kakinya. Kalau sampai puncak membutuhkan waktu enam jam. Ada beberapa rombongan jamaah umrah lain yang juga ke sana. Tetapi mereka hanya foto-foto dengan latar belakang gunung Tsur tersebut. Tak terlihat seorang pun yang mendaki.

Yang terlihat banyak orang mendaki adalah di jabal Nur. Di sana juga ada guanya tempat Nabi Mumammad (sebelum diangkat menjadi nabi) menyendiri. Di situlah Alquran kali pertama diturunkan. Saya juga ke gunung itu. Tapi waktunya tidak memungkinkan untuk naik. Dari bawah terlihat orang-orang berpakaian putih naik ke gunung itu. Terlihat juga ada yang turun. Untuk naik saja sekitar tiga jam.

Di Madinah juga ada jejak kecerdikan Nabi. Yaitu gunung Uhud. Nabi pernah kalah perang di sana. Banyak pasukannya yang gugur. Mereka dimakamkan di kuburan masal di kaki bukit. Ketika saya berkunjung ke sana, hanya ada sedikit orang yang berdoa di makam itu. Sebagian besar menyemut di puncak bukit di sebelahnya. Hanya untuk foto-foto. Tak terlihat seorang pun yang naik ke jabal Uhud.

Sadar akan kekalahan, Nabi menarik pasukan. Disusunlah strategi baru. Memutar ke balik gunung. Kemudian naik ke puncak untuk melakukan serangan balik. Musuh tidak menyadari. Banyaknya pasukan tidak kuasa menghadapi serangan pasukan Nabi dari puncak. Pasukan Rosululloh akhirnya meraih kemenangan telak.

Itu semua adalah bukti bahwa Nabi Muhammad adalah ahli strategi. Strategi politik dan strategi perang. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Thu, 08 Nov 2018 18:35:42 +0700
<![CDATA[Susul Pasar Seng dan Jabal Umar]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/07/102402/susul-pasar-seng-dan-jabal-umar https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/07/susul-pasar-seng-dan-jabal-umar_m_102402.jpg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/07/susul-pasar-seng-dan-jabal-umar_m_102402.jpg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/07/102402/susul-pasar-seng-dan-jabal-umar

SEORANG jamaah umrah sedang salat. Dia duduk dalam posisi tahiyat. Keberadaannya di antara lalu lalang jamaah lain. Sering kena tabrak. Nyaris juga terinjak.]]>

SEORANG jamaah umrah sedang salat. Dia duduk dalam posisi tahiyat. Keberadaannya di antara lalu lalang jamaah lain. Sering kena tabrak. Nyaris juga terinjak. Dia bergeming. Jamaah lain setali tiga uang. Sama-sama nekad. Askar tak mau kalah.

Askar (penjaga ketertiban dan keamanan masjidil haram) melihat. Dia angkat seorang yang lagi salat itu. Masih dalam posisi duduk. Dipindahkan ke pinggir. Kemudian ditinggal begitu saja. Jamaah melanjutkan ibadahnya. Teman sekamar saya ikut menyaksikan adegan itu. Menceritakannya kepada teman lain dengan terbahak-bahak.

Askar tegas. Dia menghadapi jutaan umat manusia. Dari berbagai negara. Dengan berbagai karakter. Berbeda-beda bahasanya. Bermacam-macam pula sikapnya. Yang nekad diperlakukan tanpa kompromi. Itu demi ketertiban semua. Saat itu jamaah yang salat sudah menganggu jamaah lain.

DIPERLUAS: Masjidil Haram terus diperluas. Salah satunya area tawaf bertingkat di sebelah timur Kakbah saat ini direnovasi. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Di beberapa tempat di Madjidil Haram memang agak semrawut. Banyak area yang ditutup karena pembangunan. Masjidil Haram pun terasa sesak.

Jamaah salat lima waktu selalu meluber. Ketika salat isya kemarin malam saya tidak kebagian tempat. Harus salat di jalan raya. Di sekitar jabal umar. Depan hotel yang ada jam raksasanya. Saya agak telat berangkat. Keluar hotel saat azan mulai dikumandangkan. Padahal hotel saya hanya 200 meter dari pintu masuk King Abdul Aziz (salah satu pintu masuk Masjidil Haram).

Bisa dibayangkan. Kalau jamaah umrah saja sudah meluber, bagamana saat musim haji. Pemerintah Arab Saudi menyadari. Kini Masjidil Haram terus diperluas. Area tawaf bertingkat di sebelah timur Kakbah direnovasi. Di belakangnya juga ada pembangunan. Banyak crane raksasa. Tinggi menjulang. Sampai terlihat dari area tawaf di dalam masjid. Di sebelah kiri pintu King Abdul Aziz juga dibangun. Di beberapa bagian lain juga.

Tempat-tempat yang sedang dibangun itu dikosongkan total. Demi keamanan jamaah. Ingat, beberapa tahun lalu pernah terjadi musibah robohnya crane yang membawa banyak korban. Itulah sebabnya. Kini Masjidil Haram terasa sesak. Karena, sebagian tempat harus dikosongkan dari jamaah.

Pembangunan Masjidil Haram ini merupakan rangkaian pembangunan sebelumnya dan tidak akan berhenti sampai 2030. Saat itulah diharapkan terwujud pelayanan prima bagi jamaah sebagai perwujudan visi-misi pemerintah Arab Saudi.

Sekarang pelayanan sudah baik. Namun belum tertib benar. Jamaah perempuan yang mestinya salat terpisah dengan jamaah laki-laki masih banyak yang bercampur. Bukan salah aturan. Tapi jamaah sendiri yang sering nekad melanggar. Itu pun Askar sebenarnya sudah tegas. Termasuk harus mengangkat jamaah yang nekad salat di pintu masuk.

Jamaah sulit diatur karena kapasitas tempat tidak sebanding dengan banyaknya jamaah. Itulah sebabnya kini pemerintah Arab Saudi terus memerluas pelataran masjid untuk beribadah. Di bagian depan yang dulu disebut Pasar Seng (karena banyak bedeng untuk berjualan dengan atap seng) kini sudah bagus. Sebagian menjadi pelataran masjid. Sebagian menjadi area bisnis di dalam gedung.

Kemarin saya mencoba jalan-jalan mengelilingi area luar masjid. Keluar masuk tempat-tempat perbelanjaan. Hanya shoping window alias melihat-lihat. Terasa lega dan nyaman. Namun, tampaknya jamaah Indonesia belum terbiasa dengan tempat perbelajaan seperti itu. Mereka terlihat banyak mendatangi toko-toko kecil. Bahkan kaki-kaki lima yang menawarkan harga obral. Peci bulat yang dijual hanya satu real (sekitar Rp 4.000) laris-manis bak kacang goreng. Demikian juga abaya (jubah hitam untuk perempuan seharga 20 real.

Area bekas Pasar Seng itu sudah menyatu dengan Jabal Umar yang dulunya acak-acakan. Jabal Umar sudah disulap menjadi gedung pencakar langit yang ada jam raksasanya yang sangat terkenal itu. Zam-Zam Tower juga di situ. Bagian depannya juga menjadi pelataran masjid yang melingkar menyambung dengan bagian depan.

Kini tinggal bagian belakang hingga sebelah timur masjid yang belum memiliki pelataran. Sudah terlihat banyak bangunan yang dikosongkan. Menunggu “pengeboman” (merobohkannya menggunaan bom) untuk dibangun ulang. Menyusul keberhasilan pembangunan Pasar Seng dan Jabal Umar. Kalau berhasil, kelak Masjidil Haram dikelilingi pelataran yang melingkar seperti Masjid Nabawi di Madinah. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Wed, 07 Nov 2018 18:48:15 +0700
<![CDATA[Isak Tangis ketika Menghadap Penguasa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/06/102226/isak-tangis-ketika-menghadap-penguasa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/06/isak-tangis-ketika-menghadap-penguasa_m_102226.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/06/isak-tangis-ketika-menghadap-penguasa_m_102226.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/06/102226/isak-tangis-ketika-menghadap-penguasa

USTAD Tahir Sasmita tiba-tiba terisak. Bicaranya terhenti saat mengajak untuk melafakan niat umroh. Ketika melanjutkan menjadi terbata-bata.]]>

USTAD Tahir Sasmita tiba-tiba terisak. Bicaranya terhenti saat mengajak untuk melafakan niat umrah. Ketika melanjutkan menjadi terbata-bata. “Labbaikallahumma umrotan (Aku sambut pangilanMu, ya Allah, untuk berumrah),” suaranya bergetar.

Saya terbawa pembimbing umrah itu. Menjadi terharu. Ikut menitikkan air mata. Saat itulah umrah dimulai setelah mengambil miqot di Bir Ali (Dzul Hulaifah). Selanjutnya harus banyak-banyak membaca talbiyah, bacaan puji- pujian kepada Allah. Juga meninggalkan semua larangannya.

Sejak mengenakan pakaian ihram di hotel Gloria Madinah saya sudah merasa menjadi kecil. Menjadi hamba yang akan menghadap penguasa seluruh alam. Hanya dengan dua lembar pakaian tanpa jahitan.

DOAKAN: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi di sekitar ka’bah bersama jamaah umrah lainnya. (baehaqi)

Meski sudah berpakaian ihram, saat itu belum  resmi menjalakan ibadah umroh. Umrah baru dimulai di Bir Ali. Itulah tempat memulai umrah atau haji bagi jemaah yang berangkat dari Madinah. Bagi penduduk Mekah miqot di Tan’im, pintu masuk Makkah dari arah Madinah.

Sembilan tahun lalu tempat miqot Bir Ali yang dibangun Sayidina Ali bin Abi Tholib ini kecil. Sekarang sudah besar. Lantainya luas berkarpet tebal. Tempat wudlunya banyak. Halamannya asri dengan pohon yang rindang. Sumur-sumur yang dulu dibikin Sayidina Ali sudah ditutup. Diganti air muncrat. Sayang seluruhnya tak mengalir.

Bir Ali tidak jauh dari Madinah. Hanya setengah jam perjalanan dengan bus. Dari sini lanjut ke Makkah. Jalannya bebas hambatan. Mulus tanpa ada geronjalan seperti di Indonesia. Masing-masing jalur terdiri atas tiga lajur. Bus yang saya tumpangi selalu meluncur kencang. Konstan.  Dari monitor kecepatan terlihat antara 120 - 140 kilometer per jam.

Pemandangannya gurun dan gunung. Dari atas bus terlihat nyaris di sepanjang perjalanan ada air menggenang. Berarti sebelumnya ada hujan. Tampaknya deras dan merata. Meski demikian, saat saya melintas udara cerah. Matahari bersinar terang. Suhu 27 – 28 derajar Celsius. Masih lebih dingin dibanding suhu di Semarang dan sekitarnya  yang saat itu mencapai 33 derajar Celsius.

Sejatinya terlintas keinginan untuk naik kereta dari Madinah ke Makkah. Kereta cepat itu telah diresmkan pengoperasiannya sebulan lalu. Tiketnya sekitar 60 real sekali jalan (Saya belum tahu pastinya). Memang masih dalam taraf percobaan. Resminya baru 2019.

Kereta listrik itu dirancang dengan kecepatan lebih dari 300 km/jam. Sehingga menjadi kereta tercepat di Timur Tengah. Bisa mengangkut penumpang sekitar 60 juta orang setahun. Sembilan tahun lalu ketika saya menjadi panitia haji di Arab Saudi stasiun kereta di Makkah mulai dibangun.

Kereta ini menghubungkan lima stasiun di Makkah, Jeddah, Bandar Udara Internasional Abdul Aziz, King Abdullah Economic City di Rabigh, dan Madinah. Kelak seluruh jemaah haji dan umrah Indonesia tidak perlu naik bus. Baik mereka yang turun pesawat di Jedah maupun Madinah. Semua bisa naik kereta.

Dengan kereta tersebut, jalur Madinah – Mekah bisa ditempuh hanya dua jam. Akan membuat jemaah haji maupun umrah nyaman. Sedangkan sekarang perjalanan dengan bus memakan waktu enam jam. Kemarin saya yang berangkat dari Madinah ukul 14.00 tiba di Mekah pukul 20.00 waktu setempat.

Sekitar pukul 22.00 saya mulai memasuki area masjid. Jalan menjadi semakin cepat. Tak sabar lagi segera melihat keagungan Tuhan. Begitu memandang ka’bah isak tangis saya pecah lagi. “Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan wibawa pada kakbah ini. Tambahkan pula pada orang-orang yang memuliakan, mengagungkan, dan menghormatinya, di antara mereka yang berhaji atau berumrah dengan kemulliaan, keagungan, kehormatan, dan kebaikan,” demikian saya berdoa.

Suasana Masjidil Haram saat itu tidak terlalu ramai (menurut saya). Pelataran yang mengelilingi ka’bah tidak penuh. Kira-kira jemaah tidak sampai seperdelapan dari pelaratan yang berlantai marmer itu. Saya yang semula mengambil jarak sekitar lima meter dari ka’bah bisa mendekat hingga sekitar tiga meter. Salip-salipan antarjemaah masih lancar. Di tempat sa’i juga sama.

Meskipun mendekati tengah malah suhu tidak dingin seperti di Madinah. Alat ukur di HP saya menunjuk angka 27 derajar Celsius. Ibadah menjadi nyaman.

Atas kebesaran Allah saya mengakhiri seluruh rangkaian ibadah umrah persis Pukul 00.00. Sungguh kebetulan. Tidak saya buat-buat. “Segala puji bagi Allah yang telah menyelesaikan manasik kami. Ya Allah, tambahkanlah kami iman, keyakinan, dan pertolongan,” doa saya yang terakhir setelah memotong rambut tanda penutup umrah. Mata berlinang lagi. Terisak lagi. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Tue, 06 Nov 2018 22:47:21 +0700
<![CDATA[Tak Berubah dari Dulu, Wudlu dengan Air Minum]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/05/102008/tak-berubah-dari-dulu-wudlu-dengan-air-minum https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/05/tak-berubah-dari-dulu-wudlu-dengan-air-minum_m_102008.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/05/tak-berubah-dari-dulu-wudlu-dengan-air-minum_m_102008.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/05/102008/tak-berubah-dari-dulu-wudlu-dengan-air-minum

BELUM umrah sudah mendapat pahala berumrah. Itulah salat di Masjid Kuba. Luar biasa. Hanya salat sunnah dua rekaat. Sepeti salat sunnah pada umumnya.]]>

BELUM umrah sudah mendapat pahala berumrah. Itulah salat di Masjid Kuba. Luar biasa. Hanya salat sunnah dua rekaat. Sepeti salat sunnah pada umumnya. Tidak perlu bacaan macam-macam. Alhamdulillah, saya bisa melakukannya.

Masjid Kuba termasuk masjid yang unik dan bersejarah. Itulah masjid pertama yang dibangun Rosulullah setelah berhijrah dari Makkah ke Madinah tahun 622 Masehi. Lokasinya kira-kira lima kilometer di sebelah tenggara Kota Madinah. Sembilan tahun lalu, saya juga salat di situ. Bentuknya masih sederhana. Hanya bangunan segi empat. Tidak ada ornamen macam-macam. Lingkungan sekitarnya juga belum tertata.

Sekarang masjid itu sudah dibangun ulang. Kelihatan modern. Ada empat menara menjulang. Ada kubahnya juga. Arsitekturnya lengkung-lengkung seperti masjid Indonesia pada umumnya. Termasuk mihrab, mimbar khutbah, dan tempat azan. Lingkungannya juga sudah disulap menjadi taman yang indah dengan rumput hijau. Tempat parkirnya menampung puluhan bis. Tidak seperti sembilan tahun lalu yang hanya muat beberapa.

BERPAHALA UMRAH: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi menunjukkan Masjid Kuba. Masjid ini dibangun Rasulullah setelah berhijrah dari mekah ke Madinah 622 M. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Yang tidak berubah dari dulu adalah tidak ada tempat wudlu.  Ketika salat di situ, saya terpaksa berwudlu menggunakan air minum yang disediakan secara gratis. Air itu di tangki dengan empat kran seperti kran dispenser. Betul-betul hanya disediakan untuk minum. Ada gelasnya yang diberi tali supaya tidak lari-lari. Semua orang tahu kalau air itu bukan di sediakan untuk berwudlu. Tidak ada tempat pembuangan limbahnya.

Tentu sulit untuk berwudlu dengan air itu. Aliran airnya kecil. Sedangkan orang yang ingin berwudlu banyak sekali. Saya pun berwudlu sekedarnya. Cukup membasahi anggota badan yang wajib. Yang paling sulit membasuh kaki. Saya melakukannya dengan menampung air di telapak tangan terlebih dahulu. Banyak orang yang mengangkat kaki sampai di mulut kran. Padahal tingginya sedada orang dewasa. Betul-betul tidak elok.

Masjid Kuba termasuk jujugan atau destinasi wisata jemaah umrah. Inilah masjid dengan keutamaan salat setingkat di bawah masjid Nabawi Madinah. Malah salat di Masjid Nabawi tidak diganjar setingkat umrah.

Di Madinah banyak masjid yang memiliki keunikan meskipun tidak memiliki keutamaan salat. Salah satunya Masjid Kiblatain. Yaitu masjid dengan dua arah kiblat. Dulu mihrabnya (tempat imam) dua. Sekarang tinggal satu yang menghadap ke kakbah di Masjidil Haram Makkah. Masjid ini tidak jauh dari Masjid Kuba.

Awalnya, masjid itu menghadap ke Palestina. Setelah Nabi Muhammad mendapat petunjuk dari Allah, arah sembahyangnya diubah ke kakbah. Perubahannya unik. Dalam satu riwayat disebutkan, perubahan itu dilakukan begitu saja saat salat masih berlangung. Kemudian dibikinlah pengimaman (tempat imam) menghadap kakbah. Maka tempat imam menjadi dua.

Masjid lain yang memiliki keunikan adalah masjid Khondag. Sekarang namanya Salman Alfarisi. Nama Khondag diambil dari peristiwa perang khondag yang artinya parit. Di depan masjid itu dulu ada paritnya untuk menghambat lawan menyerang. Kemarin ketika saya ke sana, parit itu sudah tidak ada. Wujudnya berubah menjadi jalan raya dengan aspal mulus.

Semula masjid Khondag itu ada tujuh. Belakangan menyusut tinggal lima sampai sekarang. Namun yang dipergunakan hanya satu yang diberi nama Salman Alfarisi tersebut. Empat lainnya masih ada. Kecil-kecil. Ada yang seperti pos kamling. Ada yang sebesar rumah tipe 21 tapi ada kubahnya. Ada yang di bukit dan kelihatan menaranya.

Baik masjid Kiblatain maupun masjid Khondag tidak banyak dikunjungi wisatawan. Apalagi bentuknya sekerang sudah modern. Secara fisik tidak kelihatan keistimewaannya lagi. Saya pun hanya sekedar lewat.

Para jemaah umroh lebih memilih berwisata di kebun kurma, Jabal Magnit, Jabal Uhud, dan percetakan Alquran yang masih di wilayah Madinah. Terutama di kebun kurma sekaligus membeli oleh-oleh. Padahal kurma yang dijual ada juga di tanah air. Harganya pun sama. Kurma ajwa (kurma nabi) misalnya, dijual 50 real sekilogram. Sedangkan di tanah air Rp 200.000. Kurang lebih sama. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 05 Nov 2018 19:30:07 +0700
<![CDATA[Enam Istimewa di Antara Ratusan Tiang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/04/101815/enam-istimewa-di-antara-ratusan-tiang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/04/enam-istimewa-di-antara-ratusan-tiang_m_101815.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/04/enam-istimewa-di-antara-ratusan-tiang_m_101815.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/04/101815/enam-istimewa-di-antara-ratusan-tiang

TEMAN saya di Madinah, Sumadi memiliki obsesi. Dia ingin menghitung jumlah pilar di masjid Nabawi. Saya dengarkan saja obrolannya menjelang tidur.]]>

TEMAN saya di Madinah, Sumadi memiliki obsesi. Dia ingin menghitung jumlah pilar di masjid Nabawi. Saya dengarkan saja obrolannya menjelang tidur. Obsesi itu muncul setelah dia berada di masjid yang dibangun Rosulullah itu.

Sampai dia bercerita, belum sempat menghitungnya. Obsesinya pun hanya sekadar menghitung. Tidak sampai meresapi maknanya. Padahal ada enam tiang yang memiliki arti khusus. Teman saya itu juga tidak mengetahuinya.

Saya juga mempunyai obsesi yang sama. Munculnya juga begitu masuk Masjid Nabawi. Saya kagum dengan besar dan banyaknya pilar di masjid yang luasnya 8,2 hektare itu. Besarnya pilar itu kira-kira dua dekapan manusia. Saya mencoba memeluknya. Kedua tangan saya hanya bisa mencapai separo. Ada yang menyebut jumlah tiang itu 232. Entahlah.

MUSTAJABAH: Roudloh tempat berdoa yang dikabulkan. Di sini terdapat tiang-tiang khusus. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Kemarin malam setelah berdoa di Roudloh dan berziarah di makam Rosulullah, saya mencoba menghitung pilar itu. Tentu tidak mungkin menghitung satu per satu. Saya ambil cara. Menghitung tiang yang berjajar dari utara ke selatan. Tepatnya pintu nomor 4 yang diberi nama Alhijrah lurus ke pintu nomor 19 yang bernama Albadr. Total ada 39.

Kemudian saya menghitung dari timur ke barat. Jumlahnya ternyata sama 39. Kalau dikalikan jumlah yang membujur dari utara ke  selatan tadi, total 1.521. Menghitungnya tentu tidak seperti itu. Ada pilar yang tak terjangkau hitungan saya. Ada tempat yang jarak pilarnya tiga kali dibanding jarak pilar pada umumnya. Itu pun belum termasuk tiang yang berada di area perempuan sisi barat dan timur yang tidak bisa saya hitung. Areanya disekat.

Dari jumlah tiang tersebut, ada yang memiliki sejarah dan arti khusus. Tidak banyak orang yang mengetahui. Bentuknya sama dengan tiang-tiang lain. Saya pun tidak menyadari. Tiang-tiang tersebut terletak di sekitar Roudloh yang luasnya 144 m2. Pada zaman Rosulullah, tiang-tiang tersebut terbuat dari pohon kurma.

Tiang-tiang tersebut diberi nama. Masing-masing Al-Usthuwaanah Al-Mukhalqah, Al-Usthuwaanah Al-Qur’ah atau Usthuwaanah Aisyah, Usthuwaanah At-Taubah, Usthuwaanah As-Sarir, Usthuwaanah Al-Haras, dan Usthuwaanah Al-Wufud (maaf kalau salah).

Banyak orang yang mengunjungi masjid nabi tidak menyadari pilar ini atau tidak mengetahui latar belakang sejarahnya. Saya pun mengetahui dari literatur. Tiang Ustuwanaah Al-Mukhallaqah artinya tiang wangi. Dari kata al-khaluq yang artinya parfum. Karena pada zaman Rosulullah diberi minyak wangi.

Tiang Al-Usthuwaanah Al-Qur’ah disebut juga tiang Muhajirin. Karena sahabat-sahabat muhajirin sering duduk di dekatnya. Kaum muhajirin adalah sahabat-sahabat yang datang dari Makkah ke Madinah bersama Rosulullah. Tempat ini awalnya digunakan Nabi Muhammad sebagai tempat salat.

Ada juga yang diberi nama Tiang Aisyah sebagai pengingat dan penghormatan kepada perjuangan istri Rosulullah, Siti Aisyah. Dia dimakamkan di makam Baqi yang berada di samping masjid.

Tiang  Usthuwaanah At-Taubah bisa juga disebut tiang Abu Lubabah. Dia sahabat nabi  yang namanya Rifa’ah bin Abdul Mundzir. Entah kenapa nama itu diabadikan. Saya belum mendapat jawaban.

Tiang Usthuwaanah As-Sarir berarti ranjang. Di tempat ini Rosulullah biasa beriktikaf. Dulu tempat tidur itu terbuat dari pelepah kurma. Rosulullah sering berbaring di ranjang itu. Tiang ini terletak di sebelah timur tiang Abu Lubabah.

Tiang  Usthuwaanah Al-Hars berada agak ke belakang bila dilihat dari sisi utara. Apabila menemui ummat, Rosulullah sering duduk di tempat ini dan dijaga oleh para sahabatnya. Yang paling sering Ali bin Abi Thalib. Karena itu pula tiang ini dinamakan tiang Ali.

Di belakang tiang Al-Hars ada tiang Usthuwaanah Al-Wufud. Rosulullah biasa duduk di sini tatkala menyambut para utusan dari bangsa Arab yang datang ke Madinah.

Setiap kali saya ke Roudloh atau ke makam nabi yang berdampingan, saya selalu memerhatikan tiang-tiang tersebut. Pandangan saya nyaris selalu ke atas. Apalagi saya yang pendek berada di tengah-tengah orang Timur Tengah yang umumnya tinggi. Meski demikian tetap kesulitan menemukannya. Silakan kalau Anda ke Masjid Nabawi memerhatikan.

Saya masih punya keinginan lain yang sampai kemarin belum terlaksana. Yaitu menghitung jumlah payung di pelataran yang mengelilingi Masjid Nabawi. Payung-payung itu juga berada di dalam masjid. Di pelataran-pelataran yang tidak beratap. Kebetulan ketika saya di Madinah payung-payung tersebut terus mengembang.

Hari-hari belakangan di Madinah sering mendung. Bahkan hari pertama saya di sana, hujan gerimis  nyaris sepanjang sore dan malam. Tadi pagi ketika berangkat ke masjid menjelang subuh juga gerimis. Suhu pada malam hari terkadang menyentuh angka 16. Tapi subuh tadi 20 derajat Celsius. (hq@jawapoos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Sun, 04 Nov 2018 22:31:33 +0700
<![CDATA[Satu Trik Tiga Kali Berdoa di Roudloh]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/03/101628/satu-trik-tiga-kali-berdoa-di-roudloh https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/03/satu-trik-tiga-kali-berdoa-di-roudloh_m_101628.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/03/satu-trik-tiga-kali-berdoa-di-roudloh_m_101628.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/03/101628/satu-trik-tiga-kali-berdoa-di-roudloh

SAYA termasuk beruntung. Bisa tiba di Madinah Kamis siang. Malamnya langsung berziarah ke makam Rosulullah. Pas malam Jumat. Malam itu juga berdoa di Roudloh.]]>

SAYA termasuk beruntung. Bisa tiba di Madinah Kamis siang. Malamnya langsung berziarah ke makam Rosulullah. Pas malam Jumat. Malam itu juga berdoa di Roudloh. Ini adalah salah satu tempat berdoa yang makbul (diterima). Di Kota Madinah hanya satu itu. Siang berikutnya Salat Jumat di Masjid Nabawi, masjid yang dibangun Nabi Muhammad.

Tidak sembarang jamaah umrah bisa seberuntung saya. Padahal, saya sama sekali tidak merencanakan. Kebetulan Biro Umrah Al-Fatih yang saya ikuti menentukan keberangkatan tanggal 31 Oktober 2018. Berarti hari Rabu. Semula saya pun tidak tahu akan menggunakan rute Madinah- Makkah atau sebaliknya.

Sebelumnya saya berpikir, perjalanan umrah yang paling pas itu Makkah-Madinah. Jamaah bisa langsung melaksanakan ibadah umrah sebelum mereka jalan-jalan. Umrah itu memang hanya di Makkah. Tidak ada kaitannya dengan Madinah. Prosesinya pun tidak panjang. Hanya tawaf (mengelilingi ka’bah tujuh kali), sa’i (jalan antara bukit Safa dan Marwa tujuh kali), lalu memotong rambut. Selesai. Dua sampai tiga jam cukup.

Jemaah yang memakai jaur Madinah-Makkah tidak akan bisa umrah terlebih dahulu. Malah ada yang langsung berwisata. Misalnya dari bandara menuju Jabal Magnit. Itu betul-betul tidak ada kaitannya dengan ibadah. Setelah itu, baru ke hotel atau Masjid Nabawi. Saya bersyukur karena terhindar dari kepentingan wisata terlebih dahulu meskipun menggunakan jalur Madinah-Makkah.

Untuk mengerem agar tidak terjebak pada wisata belanja terlebih dahulu, saya berniat tidak membawa Real dari rumah. Hari terakhir sebelum keberangkatan saya masih belum membeli Real. Sampai akhirnya kakak saya, Ida Rachmawati yang akan berangkat bersama saya meminta tolong. Terpaksa saya ke bank untuk menukarkan rupiah dengan Real.

Belanja atau berwisata adalah godaan terbesar bagi jemaah umrah. Juga jamaah haji. Sampai-sampai ada yang menyediakan sangu lebih banyak dibanding biaya umrahnya. Saya tidak ingin tergoda semua itu. Belanjaan saya yang pertama kemarin menjelang Salat Jumat hanyalah membeli Alquran di Museum Alquran dekat Masjid Nabawi. Saya membeli yang seharga 35 Real.

Saya betul-betul ingin berkonsentrasi beribadah di Masjid Nabawi. Berjalan-jalan di sekeliling masjid pun tidak. Pada hal di setiap blok yang mengelilingi masjid pasti ada area perdagangannya. Saya baru berjalan mengelilingi masjid total sebelum Jumatan sambil berziarah di Makam Baqi dan mengunjungi Museum Alquran. Makam Baqi adalah makam setiap orang yang meninggal di Madinah, termasuk jamaah haji dan umrah dari Indonesia. Di makam itu istri Rosulullah Aisyah dimakamkan.

Saya mempunyai kebiasaan membaca Surat Yasin dan tahlil di malam Jumat. Malam kemarin pun saya manfaatkan. Termasuk tahlil di depan makam Rosulullah. Saya mengambil waktu setelah Isya. Alhamdulillah bisa membaca tahlil sampai selesai tanpa diobrak askar (penjaga keamanan). Caranya dengan berdiri di luar pembatas. Mepet tembok.

Ziarah di makam Rosulullah itu tidak diperbolehkan berlama-lama. Tidak akan ada orang yang diperbolehkan berhenti berdoa di depan makam. Apalagi sampai tahlil lengkap. Semua berdoa sambil jalan. Saya juga melakukan itu setelah berdoa di Roudloh.

Berdoa di Roudloh membutuhkan perjuangan tersendiri. Saya sempat gagal. Setelah Salat Isya saya masuk atrean. Ternyata sangat panjang dan berdesak-desakan. Roudloh yang artinya taman tidak luas. Hanya sekitar 144 meter persegi. Bandingkan dengan luas Masjid Nabawi termasuk pelatarannya yang 8,2 hektare. Jamaahnya ratusan ribu orang.

Roudloh terletak antara mimbar Masjid Nabawi dengan makam Rosulullah yang dulunya rumah utusan Allah itu. Tandanya, karpetnya hijau. Dari luar juga terlihat ada kubah hijau. Sedangkan karpet lainnya di Masjid Nabawi berwarna merah. Lokasinya paling selatan. Salat di Masjid Nabawi menghadap ke selatan. Arah Ka’bah ke sana.

Setelah gagal berdoa di Roudloh sehabis Isya, saya mundur. Kemudian balik ke hotel. Pukul 21.00 waktu setempat saya perkirakan antrean berkurang. Betul. Saya ke masjid lagi. Hujan gerimis yang turun sejak sore semakin deras. Saya harus mengangkat jubah. Tak sadar teralu tinggi, seorang Arab menghentikan langkah saya. Dia menepuk pundak. Menuding ke arah kaki. Untung kaki saya tidak seksi.

Di dekat Roudloh saya masuk antrean lagi. Untung badan saya kecil. Sedikit demi sedikit menyelinap di sela-sela antrean di depan saya. Tidak sampai setengah jam saya masuk Roudloh bersamaan dengan dibukanya pembendung atrean. Kalau mau lebih longgar lagi, masuk antrean sekitar tengah malam.

Lagi-lagi saya beruntung. Di Roudloh saya bisa salat tiga kali. Berdoa tiga kali juga. Trik saya seperti ini. Mula-mula mengambil tempat paling belakang. Salat dan kemudian berdoa. Setelah puas, kemudian bergeser ke tengah. Salat lagi dan berdoa lagi. Askar yang melihat akan menganggap orang yang baru mendapat kesempatan salat.

Usai berdoa, saya bergeser ke depan lagi. Dapat baris kedua. Salat lagi dan berdoa lagi. Askar memperhatikan saya. Begitu saya salam, dia menuding muka dan mengibaskannya ke arah pintu. Dia memaksa saya keluar. Saya pura-pura tidak tahu dengan memejamkan mata. Kemudian berdoa. Silakan coba trik saya. Sekali masuk Roudloh bisa salat dan berdoa tiga kali. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Sat, 03 Nov 2018 08:05:57 +0700
<![CDATA[Hujan di Madinah Menghapus Semua Kelelahan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/02/101603/hujan-di-madinah-menghapus-semua-kelelahan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/02/hujan-di-madinah-menghapus-semua-kelelahan_m_101603.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/11/02/hujan-di-madinah-menghapus-semua-kelelahan_m_101603.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/11/02/101603/hujan-di-madinah-menghapus-semua-kelelahan

Pukul 11.10 (waktu setempat) udara di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz Madinah cukup dingin. Pengukur suhu di HP saya menunjukan angka 20 derajat Celsius.]]>

Pukul 11.10 (waktu setempat) udara di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz Madinah cukup dingin. Pengukur suhu di HP saya menunjukan angka 20 derajat Celsius. Sedingin udara AC. Hujan baru saja reda. Titik-titik air masih sesekali jatuh dari langit. Air kelihatan menggenang tipis di beberapa lekukan aspal di pelataran bandara. Pesawat Etihad yang saya tumpangi mendarat dengan mulus.

Bagi saya itu berkah tersendiri. Selama di tanah air saya belum pernah ketetasan air hujan. Baik di Sidoarjo, tempat tinggal saya, di Kudus, maupun di Semarang. Setiap kali turun hujan di tiga daerah tersebut saya berada di kota lain. Hujan di Madinah seolah menyambut kedatangan saya di tanah haramaian (Mekah dan Madinah) untuk selanjutnya menjalankan ibadah umroh di Mekah nanti.

Hujan di Madinah kemarin merata. Sampai di Masjid Nabawi, titik-titik hujan itu masih ada. Pelataran masjid itu pun basah. Di jalan-jalan sekitarnya juga kelihatan genangan tipis. Nikmatnya udara siang itu langsung menghapus kecapekan selama perjalanan. Saya berangkat dari rumah pukul 11.00 WIB Rabu.

Sebelumnya sempat ketar-ketir. Dag dig dug. Nervous juga. Betapa tidak? Dua hari menjelang keberangkatan pesawat Lion Air Jatuh di perairan Tanjung Kerawang. Seluruh penumpangnya tewas. Padahal, saya sudah mengantongi tiket Lion Air rute Semarang – Jakarta sebelum naik Etihad Jakarta – Madinah.

Biasanya setiap kali terjadi kecelakaan pesawat saya langsung nongkrong di depan televisi dengan mata nyaris tak berkedip. Terus memperhatikan detik demi detik informasi yang disiarkan. Tapi, Selasa pagi lalu (30 Oktober 2018) setelah mendengar Lion Air JT 610 jatuh, saya tak berani melihat siaran langsung. Saya hanya sesekali mengintip untuk sekedar mengetahui apa yang terjadi dan perkembangannya.

Saya periksa kembali booking pesawat saya. Benar Lion Air JT 0517. Akan terbang dari Bandara A. Yani Semarang pukul 16.45. Meskipun hati sudah mantap bahwa nasib seseorang sudah ditentukan, tetapi sempat galau juga. Saya adalah manusia biasa yang punya hati dan perasaan. Tapi banyak teman menegarkan.

Rekan saya Sutanto Rehatin, pemilik agen biro perjalanan umrah Al-Fatih menghibur hati. “Malaikat sudah punya lisnya,” katanya. Maksudnya lis orang-orang yang bakal dicabut nyawanya. Allah juga sudah menentukan kematian manusia. Apabila sudah saatnya tidak bisa diundur atau dimajukan sedetikpun. Memerhatikan itu, saya menjadi lega. Saya kuatkan hati. Tidak akan saya batalkan tiket Lion tersebut.

Perjalanan dari rumah ke bandara enjoy-enjoy saja. Saya perhatikan kakak saya Musyafa’ dan istrinya Ida Rachmawati yang akan umroh bersama saya. Tidak terlihat di wajahnya sedikitpun kecemasan. Kami seperti orang mau berwisata saja. Apalagi anak-anak dan adik kami mengantar sampai bandara.

Suasana hati berubah drastis saat boarding. Petugas mengatakan pesawat delay satu jam. Ketir-ketir lagi. Deg-degan lagi. Nervous lagi. Untung tidak lama. Saya perhatikan semua doa teman-teman yang terus membanjir lewat Watts App. Khususnya yang disampaikan karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang. Juga yang disampaikan langsung oleh karyawan Radar Kudus ke rumah sebelum berangkat. Saya pun kuatkan hati dengan berstatus, “Tak usah berpikir Lion yang jatuh.” Saya sibukkan diri dengan menulis sebagian tulisan ini.

Akhirnya Lion mengudara setelah maghrib dan mendarat di Bandara Soekarno Hatta setelah isya. Begitu roda pesawat menyentuh landasan saya menengok Sutanto Rehatin yang ada di samping kanan saya. Wajahnya kelihatan tegang. Pandangannya lurus ke depan. Setelah pergerakan pesawat stabil dan semakin pelan, Sutanto menoleh ke saya. Senyumnya mengembang. Saya juga. Dia mengangkat tangan. Membuka telapaknya. Mengajak toas. ‘’Ternyata Anda tegang juga,’’ kata saya.

Sutanto akhirnya mengakui, semua orang pasti tegang. Kecelakaan pesawat Lion sungguh luar biasa. “Kita ini manusia. Punya perasaan,” jawab saya. Saya tidak tahu apakah perasaan itu sempat memengaruhi penumpang Lion lainnya. Yang saya lihat empat deret kursi (masing-masing enam) kelihatan kosong.

Untung kegalauan selama naik Lion terhapus dengan nikmatnya ibadah di Masjid Nabawi di hari pertama saya di tanah haram.(hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Fri, 02 Nov 2018 23:02:21 +0700
<![CDATA[Kepingin Ikut Bakar-Bakar. Bakar Semangat Muda Kamu]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/10/29/100842/kepingin-ikut-bakar-bakar-bakar-semangat-muda-kamu https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/10/29/kepingin-ikut-bakar-bakar-bakar-semangat-muda-kamu_m_100842.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/10/29/kepingin-ikut-bakar-bakar-bakar-semangat-muda-kamu_m_100842.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/10/29/100842/kepingin-ikut-bakar-bakar-bakar-semangat-muda-kamu

Bukanlah pemuda itu yang mengunggulkan bapaknya. Tetapi, mereka yang berani mengatakan inilah saya. Waktu belakangan ini ada satu kata yang ngetren. Bakar.]]>

Bukanlah pemuda itu yang mengunggulkan bapaknya. Tetapi, mereka yang berani mengatakan inilah saya.

Beberapa waktu belakangan ini ada satu kata yang sangat ngetrend. Bakar. Majemuknya bakar-bakar. Nyaris setiap saat kata itu muncul di media sosial. Entah Whatsapp, Twitter, Facebook, atau yang lain.

Saya suka mengamati pernyataan-pernyataan yang menggunakan kata itu. Banyak yang membuat bibir tersenyum. Ada yang berstatus begini: Siap meluncur ke Garut, nggoleki sing mbakar, bakar sate. Ada juga ini: Mau bakar-bakar ah. Bukan bakar bendera. Tapi bakar lemak. Saya pun ikut-ikutan berstatus: Kepingin ikut bakar-bakar. Bakar semangat muda kamu.

Semua status, joke, pernyataan, dan tanggapan yang mengunakan kata bakar (bakar-bakar) bermula dari kasus pembakaran bendera di Garut. Kasusnya terus aktual dan ber-magnitude kuat, karena menyangkut oraganisasi besar kepemudaan. Kebetulan di bulan ini ada dua peringatan besar juga. Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda. Kasus Garut berlawanan dengan semangat keduanya.

Di daerah saya kemarin kedua momen itu menyatu dalam acara besar istighotsah kubro. Suatu kegiatan ritual keagamaan yang bernuansa NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Ratusan ribu orang berjejal di Gelora Delta Sidoarjo, tempat acara. Sebagian besar adalah generasi muda. Kebetulan saya pulang kampung. Rasanya miris melihat kekuatan yang luar biasa.

Istighotsah itu sekaligus memadukan Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda. Didahului kirab yang dilepas oleh Presiden Joko Widodo, sejumlah menteri, gubernur, bupati, dan pejabat lain. Mereka mengenakan sarung dan peci.

Di berbagai daerah juga ada kegiatan serupa yang melibatkan massa besar. Di Kudus belasan ribu orang mengikuti parade santri, persis di hari Sumpah Pemuda kemarin. Di Semarang dilakukan long march dari Balai Kota hingga bundaran Tugu Muda. Mereka unjuk kebolehan dengan mempertontonkan berbagai macam tarian budaya lintas agama.

Wali Kota Hendar Pribadi ambil bagian dengan berdiskusi bersama sejumlah tokoh. Di tempat lain, budayawan nyentrik Sudjiwo Tedjo membakar semangat ratusan mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

Saya tidak mengikuti semua kegitan itu. Cukup memperhatikan dari rumah. Meski demikian saya bisa merasakan, betapa luar biasanya kekuatan pemuda yang dilatarbelakangi idealisme keagamaan dan nasionalisme kebangsaan. Kecil sekali kemungkinan NKRI akan runtuh. Dasarnya sangat kuat. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Indonesia.

Sehari kemarin pun bakar-bakar tak lagi muncul di jagad media sosial. Yang ada adalah membakar semangat pemuda. Misalnya, Yang muda yang berkarya. Ada juga, Aku hanya pemuda biasa yang bekerja untuk Indonesia. Kutipan-kutipan dari Bung Karno pun berseliweran: Jangan tanyakan apa yang bangsa ini berikan kepada Anda. Tapi tanyakan apa yang sudah Anda berikan kepada negara.

Saya termasuk orang yang amat percaya pada anak muda. Itu tercermin di dua perusahaan yang saya pimpin. Radar Semarang dan Radar Kudus. Semua manajernya masih berusia muda. Pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto masih 42 tahun. Malah pemimpin Redaksi Radar Kudus Zainal Abidin baru berusia 32 tahun. Lebih muda dibanding usia kewartawanan saya yang sudah 33 tahun. Saya sering kepontal-pontal mengikuti semangatnya.

Banyak perusahaan yang telah menghargai anak muda. Anak saya (maaf bukan ingin menyombongkan diri) termasuk yang dipercaya di perusahaanya. Betapa tidak? Dia masuk di perusahaan itu sebelum diwisuda. Dua minggu kemudian diserahi memimpin proyek. Dua minggu lagi diminta menjadi wakil kepala workshop. Dan, sebelum gaji keduanya keluar dia diminta menjadi asisten direktur.

”Repot. Banyak anak buah saya yang sudah jauh lebih senior. Mereka mbeler (bandel),’’ katanya suatu saat kepada saya. ”Itulah tantangannya. Bagaimana membawa orang-orang tua itu  bersemangat,” jawab saya sekenanya. Banyak orang tua yang lantas menjadi tidak produktif karena merasa lebih senior, lebih pintar, lebih berpengalaman, dan lebih mapan. Mereka lantas tidak mau dikritik dan menolak perubahan.

Saya membayangkan kalau semangat tersebut membakar hati setiap pemuda Indonesia. Bukan isapan jempol syubbanul yaum rijalul ghod (pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan). Kelak Indonesia akan betul-betul menjadi bangsa yang kuat. Bangsa yang pemudanya bukan lagi menonjolkan bapaknya. Tetapi bangsa yang pemudanya berani mengatakan inilah saya. Bangsa yang tidak lagi membanggakan pendahulunya. Tetapi, bangsa yang bisa memperlihatkan jati dirinya.

Selamat Hari Sumpah Pemuda. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 29 Oct 2018 18:42:59 +0700
<![CDATA[Semangat Membara dari Bumi Blambangan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/10/23/99930/semangat-membara-dari-bumi-blambangan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/10/23/semangat-membara-dari-bumi-blambangan_m_99930.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/10/23/semangat-membara-dari-bumi-blambangan_m_99930.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/10/23/99930/semangat-membara-dari-bumi-blambangan

KABAR duka itu masuk ke WA saya pukul 15.31. Sebuah tabloid olah raga BOLA menyatakan berhenti terbit. Saat itu saya dan para direktur grup Jawa Pos berkumpul.]]>

KABAR duka itu masuk ke WA saya pukul 15.31. Sebuah tabloid olah raga BOLA menyatakan berhenti terbit. Saat itu saya dan para direktur serta seluruh manajer perusahaan di bawah grup Jawa Pos Radar sedang berkumpul di hall Blambangan, Hotel El-Royale Banyuwangi. Kami membicarakan kemajuan di tahun 2019. Ironis.

Tabloid BOLA sudah mewarnai jagad media cetak di Indonesia sejak 1984. Perkembangannya sangat bagus. Kualitasnya tidak diragukan lagi. Pembacanya juga masih banyak. Saya sama sekali tak mengira BOLA akan menyusul tabloid Soccer yang tutup pada 2014. Tapi, inilah kenyataan. BOLA mengakhiri penerbitannya 23 Oktober 2018. Terbitan hari ini adalah edisi terakhirnya.

Tentu saja kami ikut sedih. Bola sudah mengarungi perjuangan selama 34 tahun dalam suka dan duka. Belakangan ketika dunia memasuki era digital, BOLA dan kami sama-sama merasakan dampaknya. Beruntung, sampai sekarang kami masih bisa bertahan. Bahkan, berkembang. Kami pun masih memproyeksikan petumbuhan di masa depan.

Dalam rapat evaluasi triwulan ketiga di Banyuwangi tersebut, Radar Kudus mendapat pertumbuhan yang lumayan di beberapa hal. Perusahaan yang pernah mencapai posisi tertinggi di 2016 dan hanya turun satu tingkat di 2017 tersebut, kali ini masih membukukan kenaikan laba. Itu sama dengan sebagian besar perusahaan di bawah grup Jawa Pos Radar. Hanya ada dua perusahaan yang mengalami penurunan. Tetapi tetap membukukan laba.

Rapat evaluasi dan proyeksi 2019 dilaksanakan di Banyuwangi karena di Bumi Blambangan itu banyak inspirasi. Radar Banyuwangi sendiri, kali ini menempati posisi tertinggi di antara 18 perusahaan di bawah grup Jawa Pos Radar.

Di tengah situasi yang sulit itu, Radar Banyuwangi memperlihatkan keperkasaannya. Meresmikan gedung baru. Gedung dengan nilai arsitektur yang tidak kalah menginspirasinya dengan Bandara Blimbingsari, Banyuwangi. Disainernya memang sama. Radar Banyuwangi didisain futuristik, unik, dan ramah lingkungan. Semua tembok tanpa cat. AC dan penerangan minimalis, karena sudah didapat dari alam. Acara peresmiannya didahului tari Gandrung yang filosofis dan dinamis.

Bupatinya, Azwar Anas, luar biasa. Beliau bisa membangun daerah paling timur di Pulau Jawa itu dengan kreativitasnya. Apapun yang ada disulap menjadi keunggulan. Kuncinya satu. Kreativitas. Dalam peresmian kantor Radar Banyuwangi beliau juga memberi sambutan. Dia mengakui kemajuan Banyuwangi itu juga didukung media mainstream Radar Banyuwangi yang terus-menerus memberitakan kemajuan kepada masyarakat.

Radar Kudus tidak terlampau berbeda dibanding Radar Banyuwangi. Dari pendapatan koran memang mengalangi penurunan. Tetapi pendapatan iklan lokal mengalami peningkatan. Itu berarti tingkat kepercayaan masyarakat akan koran ini masih tinggi. Radar Kudus masih menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli.

Dari survei A.C. Nielsen memang menunjukkan Jawa Pos masih digemari masyarakat. Suvei pada semester I 2018, memperlihatkan Jawa Pos adalah koran dengan pembaca terbanyak di Indonesia. Angkanya hampir mencapai satu juta. Sedangkan urutan kedua yang ditempati koran dari Jakarta hanya memiliki pembaca sepertiga dari Jawa Pos.

Sebagai market leader tentu saja Jawa Pos memiliki tanggung jawab besar untuk meningkatkan peran media cetak di Indonesia. Kami tidak boleh kendor semangat dalam kondisi apapun. Dan, Radar Kudus sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Jawa Pos membuktikannya. Memang berat. Teman-teman sampai ngos-ngosan juga. Tetapi kami sepakat akan terus berlari.

Tahun ini memang belum berakhir. Masih dua bulan sepuluh hari. Ibarat pertandingan masih bisa terjadi banyak kemungkinan. Apakah dalam kurun waktu itu semangat bisa terjaga atau sebaliknya, terjadi penurunan. Bisa jadi pasar stabil atau gonjang-ganjing. Kami telah mengevaluasi dan menghitungnya dengan cermat.

Kami sepakat 2019 yang sudah di depan mata masih tergolong tahun sulit bagi media masa cetak. Sama dengan 2018 sekarang dan beberapa tahun belakangan. Tetapi, dengan upaya keras, inovasi, dan peningkatan kualitas, baik produk maupun manajemen, kami yakin bisa melewatinya. Kuncinya kerja bersama. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Tue, 23 Oct 2018 19:00:57 +0700
<![CDATA[Hidup Sehat Tidak Pakai Mahal]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/10/15/98752/hidup-sehat-tidak-pakai-mahal https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/10/15/hidup-sehat-tidak-pakai-mahal_m_98752.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/10/15/hidup-sehat-tidak-pakai-mahal_m_98752.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/10/15/98752/hidup-sehat-tidak-pakai-mahal

SEJAK dua minggu lalu saya harus membatasi sebagian besar jenis makanan. Termasuk makanan yang menurut norma umum sehat. Tidak makan telor, daging merah.]]>

SEJAK dua minggu lalu saya harus membatasi sebagian besar jenis makanan. Termasuk makanan yang menurut norma umum sehat. Tidak makan telor, daging merah, daging putih yang berlemak, udang, kepiting, cumi, teri, kerang, segala joroan, kulit, makanan berminyak, santan, tidak makan sayur bayam, kangkung, sawi, kembang kol, kacang-kacangan, jamur, makanan diawetkan, difermentasi, dan tidak mengonsumsi gula dalam bentuk apapun.

Masalah yang saya hadapi sebenarnya sederhana. Cedera di engkel kaki kiri akibat jatuh di tangga gedung Jawa Pos Radar Semarang. Sudah dipijit berkali-kali. Tidak malah sembuh. Tapi, semakin sakit. Oleh dokter difoto. Hasilnya disimpulkan tulang tidak apa-apa.  Hanya otot dan saraf yang bermasalah.

Lantas apa hubungannya dengan makanan? Dokter menemukan kondisi lain. Dari pemeriksaan darah diketahui LDL cholesterol direk (lemak jahat) melebihi batas. Yaitu 128 mg/dl. Mestinya maksimal 100 mg/dl. Asam urat 7,3 mg/dl juga di atas batas 7,2 mg/dl. Demikian juga gula darah puasa. Kondisi saya 112 mg/dl yang mestinya tertinggi 100 mg/dl.

Kelebihan ketiganya sebenarnya sedikit. Bandingkan seorang teman yang kemarin mengirim pesan WA kepada saya. Gula darahnya mencapai 557 mg/dl. ‘’Saya izin tidak ikut jalan sehat,’’ kata perempuan yang berusia 57 tahun itu. Tentu saja. Adik saya yang umurnya jauh lebih muda kemarin juga mengabarkan kolesterol totalnya 250 mg/dl di atas normal 200 mg/dl. Kepalanya sudah sering pusing.

Meski kolesterol, asam urat, dan gula saya tidak terlalu tinggi, dokter menyarankan untuk menurunkan segera. Sebab bisa berpengaruh terhadap engkel. Terutama karena asam urat. Tetapi, yang lebih penting bukan itu. Umur saya tidak muda lagi. 58 tahun. Sedangkan aktivitas saya sangat tinggi. Kerja di Radar Kudus dan Radar Semarang. Tidak boleh main-main dengan kolesterol, asam urat, dan gula. Ketiga kondisi yang sering tidak disadari bisa menimbulkan masalah besar.

Saya patuh pada dokter. Saking patuhnya saya membatasi nasi yang ternyata memiliki kandungan gula tinggi. Saya makan kentang dan umbi-umbian, terutama ketela ungu yang mengandung zat anti kanker. Sayur wortel dan kubis. Protein dari ikan yang mengambang terutama ikan air tawar. Saya banyak mengkonsumsi buah terutama alpukat yang berenergi tinggi dan mampu menghancurkan kelesterol. Makanan saya itu tentu tidak cocok bagi anak-anak atau para pemuda yang tidak memiliki masalah kesehatan.

Dari jenis makanan yang saya konsumsi, hidup menjadi simpel. Karena hanya makan sedikit jenis. Tetapi, justru itulah, sulitnya minta ampun. Godaannya banyak. Yang makan bersama teman, jamuan makan, jamuan rapat, selamatan, sampai di perjalanan. Apalagi bulan ini saya berulang tahun. Diselamati anak-anak, rekan-rekan Radar Semarang, karyawan Radar Kudus, adik, dan teman.

Bersyukur saya tetap bisa menjaga diri. Ketika pemeriksaan ulang darah, hasilnya menggembirakan. LDL cholesterol direk turun menjadi 89 mg/dl dan asam urat menjadi 5,2 mg/dl. Yang membandel gula darah. Masih 105 mg/dl. Turun tapi masih sedikit di atas batas.

Nah, biar tidak perlu repot seperti saya lebih baik menjaga pola makan sehari-hari secara teratur. Jangan ketika sakit. Tidak berat kok. Beberapa tahun lalu, saya pernah menerapkan pola makan saya sekarang ini. Ternyata bisa. Itu karena saya mengatakan bisa dan melaksanakannya. Anda pun bisa kalau mau. Tentu tidak perlu seketat saya. Cukup yang berkolesterol, berasam urat, dan bergula sangat tinggi. Sayur-mayur, ikan, dan buah apapun tetap diperlukan.

Sudah saatnya kita menerapkan pola hidup sehat. Beberapa kabupaten sudah mencanangkannya. Termasuk Kabupaten Kudus. Kemarin dipertegas lagi. Bupati Kudus yang baru M. Tamzil membacakan deklarasi Kudus Sehat.  Itu dilakukan di sela-sela acara Jalan Bereng TOP yang diikuti 10 ribu warga. Kegiatan itu digagas Jawa Pos Radar Kudus. Dilaksanakan bersama pemkab setempat.

Di salah satu stan yang dibuka di Alun-alun Kudus itu dipamerkan paket makanan sederhana yang sehat. Sepotong jagung, terong, kacang panjang, dan tomat. Kalau dimakan sudah cukup memenuhi gizi sehari-hari. “Pokoknya kita kembali ke zaman dulu,” kata Tamzil yang didampingi Wakil Bupati Hartopo serta pejabat pemkab lainnya.

Yang paling disarankan dalam gerakan hidup sehat itu adalah melakukan aktivitas badan minimal setengah jam sehari. Wujudnya bisa bermacam-macam, bisa jalan sehat seperti yang dilaksanakan kemarin dan berolah raga sesuai hobinya. Atau melakukan aktivitas lain seperti bersih-bersih rumah, dan kerja bhakti. Itu adalah cara hidup sehat yang sederhana yang gampang dilaksanakan oleh siapapun.

Di Semarang, saya tahu Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi juga getol mengkampanyekan hidup sehat. Setiap minggu ada saja kegiatan yang dilakukan di kampung-kampung. Melalui program Kampung Hebat yang dimulai bulan ini Pak Wali juga mengajak untuk hidup sehat. Kampung Hebat adalah gerakan yang dilaksanakan Pemkot Semarang bersama Jawa Pos Radar Semarang. Isinya, gerakan hidup bersih, sehat, tertib, dan aman. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 15 Oct 2018 18:19:12 +0700
<![CDATA[Tiga Puluh Menit ke Karimunjawa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/09/12/95235/tiga-puluh-menit-ke-karimunjawa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/09/12/tiga-puluh-menit-ke-karimunjawa_m_95235.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/09/12/tiga-puluh-menit-ke-karimunjawa_m_95235.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/09/12/95235/tiga-puluh-menit-ke-karimunjawa

Wisata ke Karimunjawa, Jepara, kini semakin nyaman. Perjalanan dari Semarang cukup setengah jam. Malah kurang. Bukan lagi tergantung kapal.]]>

Wisata ke Karimunjawa, Jepara, kini semakin nyaman. Perjalanan dari Semarang cukup setengah jam. Malah kurang. Bukan lagi tergantung kapal. Sekarang bisa naik pesawat terbang.

Sudah lama saya ingin ke Karimunjawa dengan pesawat terbang. Semula saya mengincar tanggal 1 Agustus 2018. Saat itu kali pertama NAM Air melayani rute Semarang - Karimunjawa secara reguler. Namun, kehabisan tiket. Hari-hari berikutnya masih penuh. Berikutnya lagi kesempatan saya yang tidak memungkinkan. Akhirnya ketemu tanggal 7 September 2018.

NAM Air mulai melayani rute Semarang – Karimunjawa 1 Agustus 2018. Pesawatnya kecil. Jenis ATR 72-600. Tinggi terbangnya hanya 3.000 kaki. Bandingkan dengan boing yang 200 penumpang saja setinggi 18.000 kaki. Kapasitasnya 72 penumpang. Tetapi, hanya diisi sekitar 50 kursi. Itu karena landasan Bandara Dewadaru cukup pendek. Hanya 1.200 meter. Penerbangan itu melengkapi moda transportasi yang ada selama ini.

Bersama saya sepesawat ada belasan turis mancanegara. Sebagian naik dari Bandara A. Yani. Sebagian lagi sudah ada di pesawat sebelumnya. Saya tidak tahu dari mana. Ketika balik ke Semarang juga ada belasan bule dan warga asing lainnya. Bagi mereka perjalanan ke Karimunjawa tentu semakin simpel.

Selama ini, untuk ke Karimunjawa, yang disebut-sebut sebagai Balinya Jawa, hanya bisa dilakukan dengan kapal laut. Ada dua jenis kapal yang melayani rute itu. Yaitu speed boat dengan waktu tempuh dua jam dari Jepara dan feri dengan lama perjalanan 6 jam. Itu tidak efektif bagi orang yang memiliki dana cukup.

Sekarang, dengan pesawat terbang, perjalanan cukup setengah jam. Jumat (7 September lalu) saya mencoba ke sana dengan pesawat tersebut. Semula jadwal keberangkatan 14.45 WIB. Tapi, mundur sampai sejam lebih. Dari Bandara A. Yani Semarang pesawat meninggalkan landasan pukul 16.10 WIB. Mendarat di Bandara Dewandaru, Karimunjawa, pukul 16.33 WIB. Pengalaman pertama yang tidak begitu baik bagi saya.

Keterlambatan malah berulang ketika saya meninggalkan Karimunjawa Ahad kemarin. Penerbangan seharusnya pukul 15.40. Tetapi pesawat baru muncul satu setengah jam kemudian. Saya yang akan melanjutkan perjalanan ke Surabaya akhirnya harus menunda perjalanan lanjutan tersebut.

Penundaan penerbangan semakin menyengsarakan karena bandara Dewadari sangat kecil. Ruang tunggunya di dalam kedung tidak cukup menampung seluruh penumpang NAM Air. Apalagi, kalau pesawatnya lebih besar. Luberannya ditempatkan di halaman gedung. Kemarin saya harus menunggu di halaman itu sekitar satu jam.

Bandara Dewadaru terletak di ujung Pulau Kemojan. Sedangkan pusat kota di ujung Pulau Karimunjawa. Kedua pulau telah dihubungkan dengan jalan darat yang dibangun dengan mengurung laut. Ada jembatan sebagai tapal batas. Perjalanan dari bandara ke kota membutuhkan waktu 30 menit dengan mobil.

Perjalanan dari bandara ke kota melewati pantai paling favorit di Karimunjawa. Tanjung Gelam. Pasirnya putih. Bisa digunakan untuk menikmati sunset. Banyak wisatawan bule yang berjemur di pantai itu. Wisatawan domestik menikmatinya untuk bermain. Perjalanan juga melewati hutan mangrove yang disebut-sebut terbaik di Indonesia.

Sebelum ada penerbangan terjadwal, Bandara Dewadaru hanya melayani penerbangan perintis. Yaitu pesawat-pesawat kecil yang dicarter. Misalnya, ketika saya mendarat di sana sudah ada pesawat Airfast yang parkir. Pesawat itu meninggalkan bandara Minggu pagi. Kemudian Minggu sore datang lagi.

Pesawat NAM Air pun sebenarnya masih tergolong carter. Tetapi dioperasikan reguler tiga kali seminggu. Yaitu Minggu, Rabu dan Jumat. Pesawat itu terkoneksi dengan rute-rute lain.

Meski pengalaman pertama cukup membuat tangis, saya masih bisa merasakan kebahagiaan lain. Bisa merasakan Hari Minggu lebih lama di Karimunjawa dibanding penumpang yang naik kapal. Penumpang kapal harus berkemas pukul 10.00. Sedangkan saya empat jam lebih lambat. Jadi, bisa menikmati Karimunjawa sedang sepi. Di hari Minggu lagi. Bersama bule-bule dari berbagai negara.

Hari minggu Karimunjawa sepi karena nyaris seluruh wisatawan domestik pulang. Itu berbeda dengan tempat-tempat wisata lainnya. Mereka sudah di Pulau itu sejak Jumat. Jadwal kepulangan paling cepat yang memungkinkan hanyalah Minggu. Kalau tidak pulang hari itu, mereka harus mengeluarkan uang lebih banyak.

Ke Karimunjawa dengan pesawat terbang memang tidak murah. Saya harus membeli tiket Rp 850.000 sekali jalan dari Bandara A. Yani atau Rp 1.700 ribu  pergi-pulang. Bandingkan dengan tiket kapal cepat yang hanya sekitar Rp 250.000 atau kapal feri yang tidak sampai Rp 100.000. Itu belum biaya angkutan lokal dari bandara ke pusat kota.

Meski sudah ada pesawat terbang, belum ada moda tranportasi umum dari bandara ke kota. Saya sempat kesulitan. Satu-satunya kendaraan yang bisa membawa ke kota adalah mobil carter. Untuk perjalanan pulang-pergi saya membayar Rp 800 ribu per mobil. Mobil ini bisa terasa murah apabila diisi lima orang.

Ya, begitulah. Untuk bisa nikmat harus keluar uang lebih banyak. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Wed, 12 Sep 2018 18:19:05 +0700
<![CDATA[Hidup Sehat tanpa Makan Nasi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/08/27/93729/hidup-sehat-tanpa-makan-nasi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/08/26/hidup-sehat-tanpa-makan-nasi_m_93729.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/08/26/hidup-sehat-tanpa-makan-nasi_m_93729.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/08/27/93729/hidup-sehat-tanpa-makan-nasi

Banyak orang mengatakan kalau tidak makan nasi badan menjadi lemas. Itu adalah mitos.]]>

Ketika mau salat magrib kemarin saya nge-share video bloger yang belakangan terkenal dengan vlog. Tentang sarapan sehat. Tidak sampai semenit kemudian, seorang teman berkomentar, “Sehat apa  ngirit.” Saya jawab dengan guyonan sesuai maksud dia juga. “Ngirit Kang, biar bisa kawin lagi,” ujar saya.

Vlog saya itu berisi menu sarapan yang tidak menggunakan nasi. Juga tidak memakai daging, ayam, sea food, maupun hewan lainnya. Hanya menggunakan sayur. Yaitu, sebuah kentang, sebuah wortel, dua biji kacang panjang, dan dua potong tahu.

Menu itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh sehat selama setengah hari. Sudah ada karbohidratnya, kalori, dan protein.  Saya sering memakannya hanya dengan garam yang saya masukkan saat memasak. Tetapi, kemarin saya gunakan mayonais.

Semua bahan saya rebus biar semakin sehat. Kalau digoreng justru sama dengan menambah kolesterol. Bisa juga dengan dibakar atau dioven. Tetapi, itu ribet. Saya suka yang praktis.

Seorang teman lain berkomentar. “Kamu sekarang kok seperti saya,” ujarnya. Sudah sebulan belakangan dia tidak makan nasi. Makanan pokok berkarbohidrat tinggi itu dia ganti dengan kentang atau umbi-umbian lainnya. Sama dengan menu sarapan saya kemarin. Dia memutuskan menghindari nasi setelah gula darahnya mencapai 600 mg. Di atas 200 miligram saja sudah dikatakan over. Maka dia harus opname di rumah sakit seminggu.

Sepintas nasi memang tidak manis. Tetapi, studi  Harvard School of Public Health mengindikasikan makan nasi sepiring sehari secara teratur meningkatkan risiko diabet hingga 11 persen. Ngeri. Padahal, kebanyakan orang makan sehari tiga kali.

Nasi mengandung karbohidrat. Nah, karbohidrat itulah yang kemudian berubah menjadi gula. Ini gampang terserap oleh darah. Lonjakan gula dalam darah membuat pankreas yang memproduksi insulin bekerja ekstrakeras. Produksi insulin tak seimbang dengan masuknya gula. Akibatnya, gula menumpuk dalam darah. Terjadilah diabetes.

Data dari berbagai publikasi menyebtukan, 100 gram nasi atau kira-kira sekepal tangan saja mengandung 27,9 gram karbohidrat, 129 gram kalori, 0,28 gram lemak, dan 2,66 gram protein. Sehari, orang awam mengonsumsi sekitar lima kepal atau 500 gram nasi. Kalau dirata-rata kandungan gula dalam sepiring nasi sama dengan dua sendok gula putih.

Sudah lama saya mengurangi gula. Kalau membikin teh setiap hari sudah sama sekali tanpa gula. Jadi betul-betul rasa teh. Bukan rasa gula. Bahkan membikin kopi pun sering demikian. Akhir pekan lalu saya membikinkan kopi untuk manajer saya di Radar Kudus Heny Susilowati dengan hanya sedikit gula. Rasa gulanya tipis sekali. Dia malah berkomentar, “Saya sudah sering minum kopi tanpa gula,” ujarnya.

Manajer saya itu memiliki tubuh ideal. Sepanjang saya tahu dia terus langsing (Saya juga, hehehe. Berat badan saya tak pernah melebihi 65 kilogram. Malah sekarang cuma 60 kilogram). Perutnya tidak pernah kelihatan besar kecuali saat hamil. Anaknya dua. Saya tahu dia membatasi karbohidrat terutama nasi yang masuk ke tubuhnya. Kalau sedang makan bersama di warung atau rumah makan, dia selalu minta nasinya separo dari porsi normal. Itu pun sering tidak dihabiskan.

Kopi tanpa gula sudah membiasa di kafe-kafe modern. Jumat minggu lalu saya bersama semua manajer Radar Semarang minum kopi di Kafe Beyond. Saya memilih kopi Jawa Barat yang disajikan dengan sipon. Alat ini terdiri atas dua tabung. Air ditaruh di tabung bawah kemudian dipanasi. Uapnya naik ke tabung atas yang kemudian seluruh air berpindah ke tabung atas. Kopi dituang. Setelah apinya dimatikan sari kopi menetes ke bawah. Kopi yang disajikan itu sama sekali tanpa gula. Bahkan, saya tidak diberi gula sachet sebagai pilihan.

Banyak orang mengatakan kalau tidak makan nasi badan menjadi lemas. Itu adalah mitos. Benar-benar mitos. Saya sudah membuktikan. Pernah saya tidak makan nasi selama setahun. Yang terjadi, badan saya malah semakin sehat. Kandungan gulatidak pernah melebihi 200 miligram. Aktivitas saya tidak terganggu sama sekali. Mobilitas tetap terjaga. Saat itu (sampai sekarang, hehehe), saya tinggal di Sidoarjo, Jatim. Pekerjaan di Radar Kudus dengan lingkup enam kabupaten. Sekarang ditambah Radar Semarang dengan 12 kabupaten/kota.

Kebutuhan gula dalam tubuh manusia normal itu sebenarnya hanya empat sendok makan atau 12 sendok teh. Lebih dari itu berisiko kegemukan, diabetes mellitus, gangguan jantung, dan ginjal.

Kalau semakin banyak orang yang mengurangi konsumsi gula dengan membatasi nasi, suatu saat Indonesia surplus gula dan kelebihan beras. Nasi bisa diganti dengan kentang, ketela, gandum, atau beras merah. Jadi, mari kita hidup sehat tanpa nasi. (hq@jawapos.co.id)

 

 

 

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 27 Aug 2018 07:05:59 +0700
<![CDATA[Harga Kucing dalam Karung Semakin Mahal]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/08/20/93180/harga-kucing-dalam-karung-semakin-mahal https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/08/19/harga-kucing-dalam-karung-semakin-mahal_m_93180.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/08/19/harga-kucing-dalam-karung-semakin-mahal_m_93180.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/08/20/93180/harga-kucing-dalam-karung-semakin-mahal

catatan direktur tentang proses pileg.]]>

 

Sudah seminggu ini bakal calon legislatif diumumkan. Masyarakat diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan. Namun, di mana-mana tanggapan itu minim. Bahkan, di sebagian daerah tidak ada sama sekali. Padahal besok, 21 Agustus 2018 batas akhir tanggapan itu.

Tanggapan terhadap calon sementara adalah saringan umum pertama. Masyarakat diminta untuk jeli melihat bakal calon wakilnya di DPR, baik daerah maupun pusat. Tidak gampang. Daftar calon sementara (DCS) itu berisi banyak nama. Dalam satu daerah pemilihan di kabupaten kecil saja bisa seratus lebih. Kudus, misalnya, di dapil 1 saja terdapat 114 calon sementara. Daerah pemilihannya ada empat.

Pengumumannya sendiri dilakukan dalam waktu yang cukup. Tanggal 12 -21 Agustus. Di samping lewat website KPU, juga media massa. Rupanya masyarakat belum terbiasa memberi tanggapan. Ada yang tak biasa membuka website. Ada yang tidak membaca media massa. Yang terbanyak, kayaknya, mereka cuek-bebek. Toh, mereka tidak kenal satu per satu calon yang sekian banyaknya.

Kalau tidak ada tanggapan serius yang sampai menggugurkan syarat menjadi calon, Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan menetapkan dan memasukkannya dalam daftar calon tetap (DCT). Selanjutnya merekalah yang berhak memperebutkan kursi legislatif melalui pemilihan umum.

Bagi KPU tentu menyenangkan. Tidak perlu ribet membahas tanggapan masyarakat. Tapi, masyarakat sendiri yang rugi. Mereka dihadapkan pada “kucing dalam karung.” Mudah-mudahan calon yang terdaftar dalam DCS (daftar calon sementara) sudah betul-betul disaring oleh partai masing-masing. Sehingga kalau masyarakat harus memilih tidak keblituk (keliru).

Masih ada tahap saringan umum lainnya yaitu kampanye. Para calon diberi kesempatan aktif mempromosikan dirinya kepada masyarakat. Mereka bebas mengunggul-unggulkan dirinya. Mau sampai setinggi langit tidak ada batasan. Asal jangan merendahkan calon lain.

Repotnya, merujuk kampanye pemilu legislatif lalu, masyarakat juga cuek. Apalagi pemilu sekarang ini sudah tidak seperti dulu. Tidak banyak ingar-bingar yang membuat masyarakat tertarik. Kampanye sekarang cenderung sepi. Alasannya macam-macam. Bisa khawatir terjadi gesekan antarpendukung. Bisa dengan alasan kampanye santun dan intelek. Bisa juga karena efektivitas.

Bila kampanye tidak efektif, masyarakat yang dirugikan. Lagi-lagi mereka dihadapkan pada “kucing dalam karung.” Mereka akan memilih sekenanya. Atau, meminjam istilah sewaktu saya masih sekolah madrasah, menentukan pilihan dengan menghitung kancing. Kalau benar alhamdulillah. Kalau salah risiko. Toh tidak ada yang memberi sanksi.

Itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh para calon lebgislatif dan juga calon kepala daerah. Mereka menyodorkan pilihan pragmatis. Diiming-iming uang. Dalam pemilihan legislatif tahun lalu serta pemilihan kepala daerah yang telah berlangsung terlihat indikasi. Daerah yang tebaran uangnya banyak, partisipasi masyarakat  cenderung tinggi. Calon yang menebar uang biru cenderung menang dibanding yang hanya membagikan uang hijau atau ungu.

Beberapa waktu lalu saya bertemu seorang anggota legislatif di suatu daerah. Dia bertekad akan maju lagi untuk duduk sebagai wakil rakyat di satu kabupaten. Saat itu sudah disediakan uang Rp 1 miliar. Uang sebanyak itu belum dianggap cukup. Dia masih akan menjual sebagian tanahnya untuk menggenapi menjadi Rp 1,5 miliar. Itu pun belum dianggap aman. “Kalau mau aman harus dua M,” ujarnya. Berarti harus menyediakan dana Rp 2 miliar.

Dana kampanye dari periode ke periode cenderung naik. Pemilu semakin mahal. Yang menyedihkan kalau uang yang berbicara, kualitas pasti terabaikan. Inilah yang seharusnya menjadi keprihatinan kita.

Memang sulit. Masyarakat sudah telanjur berada dalam satu situasi dan kondisi yang terjebak dalam politik praktis. Seorang calon yang tidak menyediakan dana kampanye yang cukup harus bersiap-siap kalah. Padahal, bisa jadi, mereka sangat berkualitas, mumpuni, berintegritas, memiliki idealisme, dan layak menjadi wakil rakyat.

Nah, apakah kita harus larut dalam pusaran politik yang tidak bertanggung jawab tersebut. Tentu tidak. Kita berbuat bersama. Harus ada yang rela menjadi korban. Harus ada yang mau menjadi tokoh meskipun tidak populer. Kita pasti bisa. (hq@jawapos.co.id)

 

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 20 Aug 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Dirgahayu Indonesia, Selamat Ulang Tahun Dahlan Iskan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/08/18/93047/dirgahayu-indonesia-selamat-ulang-tahun-dahlan-iskan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/08/17/dirgahayu-indonesia-selamat-ulang-tahun-dahlan-iskan_m_93047.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/08/17/dirgahayu-indonesia-selamat-ulang-tahun-dahlan-iskan_m_93047.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/08/18/93047/dirgahayu-indonesia-selamat-ulang-tahun-dahlan-iskan

Kemarin Dahlan Iskan berulang tahun ke-68. Hari ulang tahunnya sama dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.]]>

DI saat banyak orang memperingati Hari Kemerdekaan, saya melakukan ritual lain. Mengunjungi guru saya Dahlan Iskan. Guru jurnalistik. Guru wartawan se-Indonesia. Kemarin (17 Agustus 2018) dia berulang tahun ke-68. Hari ulang tahunnya sama dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia.

Sekitar pukul 10.15, rumah Dahlan di Taman Sakura Surabaya kelihatan sepi. Banyak mobil berjajar di jalan depan rumah. Di dalam ternyata ramai. Ada serombongan tamu yang mengenakan seragam merah putih. Dahlan mengenakan T-shirt hijau tua, senada dengan baju yang dikenakan istrinya Nafsiah Sabri. ‘’Tadi kami upacara,’’ ujar Dahlan.

MESRA: Dahlan Iskan menyuapi istrinya Nafsiah disaksikan Baehaqi dan Ny. Vikram. (vikram for radar kudus)

Setiap tanggal 17 Agustus Dahlan selalu mengikuti upacara Hari Kemerdekaan. Tahun lalu di Pasar Atum Surabaya. Tahun ini di Graha Pena Surabaya. Kali ini bersama komunitas senam dan kelompok gamelannya. Dahlan melakukan senam secara rutin di depan gedung yang didirikannya kemudian menjadi kantor pusat grup Jawa Pos. Setelah upacara kemarin mereka juga bermain gamelan di rumah Dahlan.

Tahun lalu saya bersama karyawan Jawa Pos Radar Kudus juga mengunjungi Dahlan sebelum beliau berangkat upacara. Kemudian setelah upacara ngobrol panjang lebar mengenai berbagai hal terutama koran. Kali ini hanya bersama Vikram Angkola Hutasuhut dan istrinya. Vikram adalah mantan anak buah Azrul Ananda, putra sulung Dahlan Iskan. Teman-teman Radar Semarang sebenarnya ingin ikut tetapi lagi banyak kesibukan.

Seperti berbagai kesempatan bertemu Dahlan sebelumnya, kemarin saya diterima di ruang makan. Ada hidangan istimewa yang belum pernah saya lihat sebelumnya di mana pun. Nasi hawai. Ditempatkan di tampah anyaman bambu. Di atasnya masih ada kertas bertulisan Happy Birthday Kaik Dahlan. Saya tak sempat bertanya arti Kaik.

Sepintas nasi tersebut seperti  nasi goreng tanpa kecap. Namun ada potongan-potongan cabe hijau, merah, dan tomat muda yang mendominasi permukaan. Terlihat juga potongan daun bawang dan petai.

Lauknya ayam yang terpendam di bawah permukaan nasi. Ini seperti nasi mandi ala Arab Saudi yang ayam atau dagingnya disembunyikan di bawah nasi. Bedanya nasi mandi hanya kelihatan nasi dengan lemak banyak mengkilat. Di sebelah tampah nasi, ada semangkuk besar gulai. Berkali-kali tuan rumah mempersilakan saya makan. Bahkan Pak Dahlan sendiri yang mengambilkan piring.

Pak Dahlan mengawali makan. Dia mengambil ayam yang tersembunyi di balik nasi. Hanya ayam yang terus diemil. Disusul Bu Nafsiah. ‘’Ibu doyan makan tetapi harus dibatasi,’’ kata Dahlan. Kelihatannya nikmat sekali.  Saya minta izin ke Bu Dahlan untuk tidak makan karena sedang puasa Dzulhijjah. Beliau memaklumi.

Obrolan di ruang makan itu mengalir deras disertai canda tawa. Di depan saya, Dahlan menyuapi istrinya. Mesra sekali. “Sekarang Ibu kelihatan langsing,’’ puji Dahlan. Memang jauh dibanding sebelum beliau sakit bulan Puasa lalu. Berat badannya turun sembilan kilogram. Dahlan menyarankan turun lagi biar nanti semampai.

Berat badan Bu Dahlan turun bukan karena sekarang masih sakit. Beliau sehat. Makannya banyak. Tetapi jenis makannya dibatasi. Tidak makan nasi. Tidak makan sebagian besar sayur. Tidak makan gula. ‘’Pokoknya tidak makan semua yang ada di muka bumi,’’ kelakar Dahlan. Bu Dahlan yang pernah saya dampingi ketika berziarah ke makam Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Muria, tertawa ngakak.

Tidak makan sebagian besar makanan ternyata tidak membuat Bu Dahlan lemas. Sebaliknya beliau justru jauh lebih sehat. Sangat inspiratif. Hanya saja, aktivitasnya masih dibatasi setelah operasi batu ginjal di Surabaya dilanjutkan di Samarinda.

Operasi organ penting lanjutan tidak dilakukan di Jakarta atau Surabaya yang kata banyak orang memiliki dokter dan peralatan lebih lengkap. Bahkan tidak di luar negeri. ‘’Samarinda memiliki peralatan yang lengkap. Dokternya hebat. Nyentrik. Ramah. Rambutnya segini,’’ kata Bu Dahlan sambil memegang kedua pundaknya.

Di samping memuji istrinya, Pak Dahlan juga memuji saya. Hehehe. “Baehaqi kelihatan muda,” ujarnya. Mendapat pujian itu rasanya mak nyes. Saya yang lagi introspeksi setelah berkali-kali harus bertekuk lutut pada karyawan jadi lebih bersemangat. “Berapa umurmu kok masih kelihatan muda?” tanya Pak Dahlan. Saya jawab, sepuluh tahun lebih muda dibanding Pak Dahlan. “Sudah dapat pendamping?” timpal Bu Dahlan. “Beliau ke sini untuk meminta rekom,” sahut Vikram mengenai saya yang sekarang lagi jomblo.

Saya memiliki keterikatan emosional yang sangat dalam dengan Dahlan. Sama dengan sebagian besar wartawan di grup Jawa Pos. Bahkan di luar Jawa Pos. Saya masuk Jawa Pos tahun 1985 ketika Abah Dahlan –panggilan anak-anak dan istri kepada Dahlan- baru tiga tahun mengembangkan Jawa Pos.

Beliaulah yang mengajari menulis saya beserta teman-teman seangkatan. Cara mengajarnya unik. Di samping model kelompok, beliau memberi contoh langsung. Berkali-kali saya didudukkan di samping beliau untuk memperhatikan tulisan yang diedit. Bahkan beliau mengajak langsung terjun ke lapangan. Bagi Dahlan, pendidikan kewartawanan adalah penularan. Saya meyakini itu dan terus mengembangkannya.

Pak Dahlan adalah guru jurnalistik sepanjang masa. Beliau adalah guru gurunya guru. Sebagian besar koran di Indonesia yang ada sekarang, termasuk di luar grup Jawa Pos, mengikuti gaya beliau. Selamat ulang tahun Pak Bos, semoga panjang umur dan terus menularkan ilmu kepada kami, penerusmu. (hq@jawapos.co.id)

 

 

 

 

 

 

 

]]>
Panji Atmoko Sat, 18 Aug 2018 07:15:59 +0700
<![CDATA[Ada Kebanggaan di Pasar Pragolo]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/08/06/92064/ada-kebanggaan-di-pasar-pragolo https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/08/06/ada-kebanggaan-di-pasar-pragolo_m_92064.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/08/06/ada-kebanggaan-di-pasar-pragolo_m_92064.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/08/06/92064/ada-kebanggaan-di-pasar-pragolo

Catatan direktur tentang duta wisata dan produk lokal Pati.]]>

 

SABTU malam (malam Minggu) kemarin, saya diundang untuk menghadiri pemilihan Duta Wisata Kabupaten Pati. Sebagai direktur Jawa Pos Radar Kudus didaulat menyerahkan hadiah juara favorit. Pemenangnya ditentukan lewat balot yang diterbitkan Radar Kudus setiap hari selama beberapa hari.

Selayaknya perhelatan ratu-ratuan, banyak dandanan dan pakaian gemerlap. Acara dihadiri Bupati Pati Haryanto dan Wakil Bupati Saiful Arifin. Seluruh peserta mengenakan pakaian batik Pati. Kebanyakan untuk bawahan. Baik laki-laki maupun perempuan. Itu bagian dari cara membanggakan batik Pati. Batik Pesantenan dan Bakaran. Sudah mulai terkenal di nusantara.

Malam itu bupati dan wakil bupati juga mengenakan. Saya juga (hehehe...) Memakai batik bakaran produksi Sri P. Sarni yang malam itu juga ikut pergelaran di Pasar Pragolo Pati, tempat acara. Saya serius memperhatikan batik-batik dengan berbagai motif itu.

”Kita harus bangga terhadap produk daerah sendiri,” kata Safin -panggilan Saiful Arifin. Panggilan itu sama dengan nama hotel miliknya di Pati. Dia tidak hanya mengenakan batik bakaran dasar sogan, juga memakai sepatu kulit. ”Sepatu saya ini juga asli Pati,” katanya sambil menjulurkan kakinya yang memakai pantofel hitam.

Ternyata bupati juga mengenakannya. ”Saya juga,” kata saya tak mau kalah. Saya beli di Pasar Pragolo Pati Rp 120 ribu. Safin tertawa. Pasar itu menjadi ruang pamer roduk-produk kerajinan dan UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah) asli Pati.

Soal sepatu itu ada yang menarik. Seorang penyanyi yang mengisi hiburan nyaris jatuh. Dia mengenakan sepatu berhak tinggi warna silver gemerlap. Perkiraan saya sekitar 15 sentimeter. Mula-mula jalannya menarik. Jentat-jentit. Tiba-tiba sempoyongan. Sepatunya tidak terlalu kuat menahan badannya. Untung, dia bisa menguasai keadaan. Sekalian dilepas sepatu itu. Dia nyeker sepanjang menyanyikan lagu kedua.

Kebanggaan terhadap produk daerah sangat penting. Saya juga menangkapnya di Semarang. Kamis malam lalu saya ditugasi Manajer Iklan Radar Semarang Sugiyanto ke Simpang Lima Semarang. Persisnya ke toko Istana Brilian di ujung tenggara Lapangan Pancasila. Bukan untuk membeli kue yang dijual di toko itu, melainkkan menyerahkan penghargaan Cullinary Award. Penerimanya Nanda Djoenaedy, pemilik toko itu.

Sembari menunggu pelaksanaan, saya bersama GM Radar Semarang Iskandar diajak ke lantai II. Dari sana terlihat deretan stan makanan yang hampir memenuhi pinggiran Simpang Lima. Saya sering ke situ kalau lagi lapar tengah malam. Banyak orang luar kota juga nongkrong di sana. Obrolannya macam-macam. Mulai dunia malam, kehidupan sehari-hari, sampai perkembangan politik terkini. Asyik.

Kalau masih sore bisa menikmati gemerlap kereta hias yang hilir-mudik di bibir alun-alun. Semakin menarik karena lalu lintas di sekelilingnya sedang ramalan alias ramai tapi lancar. Sudah lama saya ingin mencoba kereta hias atau ada yang menyebut becak hias itu, tapi belum kesampaian.

”Semarang harus punya sesuatu yang membanggakan,” kata Nanda memecah konsentrasi saya yang waktu itu tertuju ke Lapangan Pancasila. Sudah banyak. Tapi masih belum seberapa dibanding perkembangan kota yang sekarang dipimpin Wali Kota Hendrar Prihadi. Masih diperlukan banyak ikon baru. Saya setuju.

Salah satu yang membanggakan itu adalah cake bikinan Nanda. Kue itu hanya dijual di tokonya di pojok Simpang Lima itu. Penampilannya tidak berbeda dengan kue-kue lain. Yang istimewa adalah kualitasnya. Bisa tahan tiga bulan. Itu karena dikemas kedap udara. Sudah mendapat sertifikat dari Sucofindo.

Museum Rekor Indonesia (Muri) mencatatnya sebagai kue yang memiliki ketahanan terlama. Padahal, waktu itu masih 58 hari. Tahun 2004. Sekarang sudah tahan lebih dari tiga bulan. Banyak orang yang membelinya sebagai oleh-oleh. Pernah ada rombongan dari Korea yang satu orang membeli 20 boks untuk dibawa ke negaranya.

Malam itu di tokonya juga sedang ada turis. Rambutnya pirang. Mengenakan celana cekak. Juga membeli Brilian Cake. Dua boks. Ada juga makanan lain. Istana Brilian sekaligus menjadi toko oleh-oleh yang lengkap dan menjadi ikon wisata Semarang. ”Kalau cake bikinan kami, hanya kami jual di sini,” ujar Nanda yang sebelum membuat kue telah terkenal sebagai distributor bahan kue. Sampai sekarang.

Keistimewaan lain, adalah komposisi bahannya. Cynthia Margareta, istri Nanda, yang meracik. Tidak sembarangan. Resepnya diperoleh dari wangsit. Lengkap dengan gram-gramannya. Cynthia yang sangat cantik (menurut saya) seorang paranormal. Nanda kena imbas. Dia juga belajar fengsui dan hongsui. Saya sempat minta nasihat. ”Sekarang Bapak sabar dulu. Enam bulan lagi akan membahagiakan,” katanya mengenai kondisi yang saya alami. Wah, lama sekali. Tapi, tak apa. Istiqomah saja.

Radar Semarang memberikan penghargaan Cullinary Award kepada pemilik kuliner yang memiliki keistimewaan. Sekaligus memberikan rekomendasi kepada masyarakat. Brilian Cake telah menjadi kuliner yang beda dan membanggakan. ”Saya tidak mau membuka cabang di tempat lain. Biarlah menjadi kebanggaan Semarang,” tegas Nanda.

Banyak daerah yang memiliki produk lokal. Tidak sedikit pula yang berkualitas bagus. Tinggal bagaimana membuat produk itu menjadi membanggakan. Nanda, Cyinthia, Haryanto, dan Safin telah memberi contoh. Mereka konsisten mengembangkan dan menjadikan produk itu kebanggaan bagi daerahnya.

Mula-mula harus dibanggakan secara lokal. Kemudian akan menjalar ke daerah sekitar. Selanjutnya menjadi ikon wisata. Kelak akan terkenal di mancanegara. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 06 Aug 2018 21:28:04 +0700
<![CDATA[Sorot Mata Hendi Menembus Kampung Hebat]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/30/91075/sorot-mata-hendi-menembus-kampung-hebat https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/29/sorot-mata-hendi-menembus-kampung-hebat_m_91075.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/29/sorot-mata-hendi-menembus-kampung-hebat_m_91075.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/30/91075/sorot-mata-hendi-menembus-kampung-hebat

Catatan direktur tentang rencana program Kampung Hebat.]]>

 

SETIAP kali bertemu Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saya selalu menangkap keistimewaan. Kali ini dari sorot matanya. Begitu keluar dari ruang kerja, matanya langsung menatap saya. Itu menunjukkan kepribadian yang hangat. Beliau sudah kenal saya. Belum lama saya juga menghadap di kantornya.

Saya tidak ahli membaca anggota tubuh. Namun, belakangan lagi suka memperhatikan mata. Terutama para karyawan kami. Anggota tubuh di muka itu menyimpan banyak misteri. Coba berkaca. Bila mata Anda cembung tetapi ujung kelopaknya tebal, Anda berpendirian teguh, tapi sedikit tak acuh. Bila pangkal mata tumpul Anda memiliki kepribadian polos, setia, baik, tapi tidak pandai membaca situasi.

Lebih misterius lagi mata simetris tetapi sesekali memperlihatkan sorot yang tajam. Itu emosinya stabil, tenang, kesehatan dan kehidupan baik. Namun awas. Dia siap menerkam. Bisa jadi dari belakang. Terhadap orang seperti ini perlu hati-hati. Saya lagi menghadapinya.

Saya menangkap sorot mata Pak Wali siang itu, menunjukkan kepribadian yang hangat. Dia ramah sekaligus memberi perhatian dan penghargaan yang tinggi.  ‘’Luar biasa. Ayo Mas, ada apa ini, kok seluruh pimpinan,’’ katanya sehabis menyalami rombongan saya yang terdiri atas seluruh pimpinan Radar Semarang.

Siang itu Hendi –panggilannya– kelihatan energik. Bajunya kemeja lengan pendek warna putih. Potongannya slim. Sama dengan baju saya dengan logo Radar Semarang. Perutnya datar. Beda dengan saya yang sudah membuncit. Maklum umur terpaut 11 tahun (hehehe).

Dia mengenakan celana hitam dan sepatu kets senada. Itu juga sama dengan celana dan sepatu saya. Kebetulan. Bedanya, sepatu Pak Wali kelihatan lebih bagus dan berkelas. Sepatu kets itu mengesankan pemakainya memiliki aktivitas tinggi. Kebetulan Kamis siang itu, beliau baru saja menghadiri peringatan Hari Anak Nasional di Taman Budaya Raden Saleh Semarang.

Minggu lalu saya bersilaturahmi ke wali Kota Semarang di sela safari mengunjungi daerah-daerah yang sedang berulang tahun. Meliputi Kota Magelang, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Rembang. Rencananya saya juga ke Kendal. Sayang, kondisi tidak memungkinkan. Para manajer Radar Semarang yang ikut memeriahkan ulang tahun ke-413 kabupaten yang dipimpin Bupati Mirna Annisa yang cantik itu Sabtu lalu.

Hendi adalah pemimpin yang cerdas. Matanya juga menunjukkan sikap percaya diri, mudah bergaul, dan kreatif. Sorot matanya yang tajam memancarkan semangat yang berkobar dan optimistis. ‘’Apa yang bisa kita lakukan. Mana bagian saya,’’ ujarnya setelah saya jelaskan soal program yang hendak kami kerja samakan.

Siang itu kami membicarakan Kampung Hebat. Intinya mendorong masyarakat di tingkat RT, RW, dan kelurahan berlomba membuat kampungnya menjadi bersih, sehat, aman, dan indah. Program akan berjalan dari Oktober 2018 sampai Mei 2019.

Di sela-sela lomba kebersihan, kesehatan, keamanan, dan keindahan, itu juga diadakan berbagai kegiatan. Ada jalan sehat yang diikuti oleh seluruh warga. Ada hiburannya juga. Bahkan ada door prize-nya. Semua itu untuk menggalang semangat dan kebersamaan warga. Kami dari Radar Semarang dan Pak Wali sepakat membangun dan memajukan kampung menjadi inti pembangunan kota.

Dalam membangun kampung itu Pak Wali memiliki visi yang jauh. Yang sulit ditemukan pada kepala daerah lain. Dia berangkatkan lurah-lurahnya ke luar negeri secara bertahap. Banyak kritikan. Ada yang menganggap menghabiskan uang hanya untuk mengelencerkan pemimpin kampung. ‘’Lurah perlu kita buka wawasannya,’’ jawabnya telak.

Bagi Hendi mendidik lurah itu tidak harus diceramahi. Bisa juga dengan mengelilingkan mereka ke kota-kota besar yang rapi dan indah. Mereka akan melihat trotoar yang bagus, taman yang indah, jalan yang mulus, kampung yang asri, kawasan yang bersih, lalu lintas yang tertib, wisata yang nyaman, kuliner yang enak, serta suvenir yang bagus dan murah.

Pemkot Semarang tidak menyediakan uang untuk mengelencerkan para lurah tersebut. Mereka hanya didomplengkan rombongan yang mendapat undangan dari pemerintah luar negeri. Ada yang ke Jepang, Singapura, Malaysia, dan Australia. Bahkan ada yang ke Eropa.

Bila para lurah berkesan dengan perjalanannya ke luar negeri, mereka berpikir bagaimana menerapkan di kampungnya. Mereka adalah pelopor pembangunan. ‘’Jadi bukan buang-buang uang,’’ kata Hendi yang bertekad membangun Kota Semarang secara total. Bukan hanya di permukaan. Di jalan-jalan protokol.

Karena telah memiliki visi membangun kampung, Hendi menyambut baik program Kampung Hebat. Dengan tema Bergerak Bersama Menuju Semarang Hebat, kelak Kota Semarang bisa menyaingi kota-kota besar lain, seperti Surabaya dan Bandung. Hendi sudah menunjukkan kesuksesannya. Kawasan kota lama yang dulu angker, kini sudah menjadi tempat wisata yang nyaman. Taman-taman dan trotoarnya juga sudah banyak yang indah.

Kota Semarang semakin ramah, boleh menjadi contoh kota-kota lain di Jawa Tengah. Hendi pun layak disejajarkan dengan Tri Risma Harini, wali Kota Surabaya yang penuh penghargaan dan Ridwan Kamil, wali kota Bandung yang belum lama terpilih sebagai gubernur Jawa Barat. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 30 Jul 2018 07:15:59 +0700
<![CDATA[Ubah Di Menjadi Me, Jangan Sebaliknya]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/23/89655/ubah-di-menjadi-me-jangan-sebaliknya https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/22/ubah-di-menjadi-me-jangan-sebaliknya_m_89655.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/22/ubah-di-menjadi-me-jangan-sebaliknya_m_89655.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/23/89655/ubah-di-menjadi-me-jangan-sebaliknya

Catatan direktur tentang konsep kepemimpinan melayani (servant leadership).]]>

 

DUA hari lalu saya menerima pesan WA. Dari seorang kiai. Saya memanggilnya Yi Ahmadi. Dia kiai salaf. Kitab kuningnya banyak. Ke mana-mana memakai peci hitam. Saya pernah bertamu ke rumahnya. Kebetulan memasuki waktu salat magrib. Beliau mengajak salat di masjid agak jauh dari rumahnya. Masjid itu peninggalan ayahnya. Saya dibawakan peci.

Saya senang terhadap kiai itu. Ilmu agamanya banyak dan mendalam. Dia juga gaul. Guyonannya mengalir. Main WA-nya kenceng. Kemarin dia mengunggah cara mengetahui kekuatan libido seks. Angkat salah satu kaki selama lima menit. Pegang paha bagian belakang. Bila kencang, itu tanda libido masih kuat. Bila lembek, kekuatan seks sudah melemah. Silakan dicoba. Banyak tanda lain. Terakhir disebutkan, itu cara mengetahui libido kambing jantan. Saya cekikikan.

Pesan WA lainnya mengenai kepemimpinan. Saya kira pesan itu sudah viral. Sebelumnya saya sudah beberapa kali mendapatkan pesan serupa. Redaksinya berbeda tetapi isinya sama. Konsepnya sederhana. Ubah kalimat pasif menjadi aktif. ‘’Di” menjadi ‘’me”.

Mula-mula pesan itu tidak begitu saya perhatikan. Tetapi, ketika yang mengirim Yi Ahmadi, saya baca dengan serius. Selama ini Anda ingin dilayani, diberi, dihargai, didengarkan, diperhatikan, dihormati, dan di...di...di...yang lain. Kalau begitu hidup Anda cepat capek dan tua. Tidak semua orang mau melakukan itu untuk Anda.

Coba ubahlah di menjadi me. Sehingga menjadi melayani, memberi, menghargai, mendengarkan, memperhatikan, menghormati, dan me...me...me...yang lain. Maka Anda akan mendapatkan hal serupa. Dengan melayani sesungguhnya Anda sedang dilayani. Dengan memberi sesungguhnya Anda sedang menerima.

Saya tertarik konsep itu. Kebetulan saya memimpin dua perusahaan. Jawa Pos Radar Semarang dan Radar Kudus. Menurut pengalaman, konsep itu memang bagus. Apalagi bila dipraktikkan oleh semua orang. Hanya, penerapan dalam kepemimpinan harus pas. Jangan sampai menjadi bumerang. Justru membuat pasif anak buah atau orang yang dipimpin.

Saya biasa mendatangi meja-meja manajer dan karyawan. Mengucap salam, menyapa, mengajak berbicara, menawari makan (kalau kebetulan makan. Hehehe), memberi ucapan selamat, memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya, dan me...me... yang lain. Saya mendatangi meja-meja mereka karena saya memang tidak punya ruang kerja. Saya bekerja bersama mereka.

Menjelang Lebaran lalu saya datangi rumah seluruh karyawan di 18 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Bahkan, persis di Hari Raya, ada karyawan yang saya kunjungi sebelum saya berkunjung ke keluarga saya sendiri.

Apa yang terjadi? Ada karyawan yang malah menjadi pasif. Dia menunggu me dari pimpinan dan dia justru menjadi di. Dia tidak menemui tapi menunggu ditemui, tidak mengucap salam tapi menunggu diberi salam, tidak menanyakan keadaan tapi menunggu ditanya keadaan, tidak memberi selamat tetapi menunggu diberi ucapan selamat, tidak melapor tapi menunggu dilapori, tidak mengajukan solusi tapi menunggu diberi solusi, dan tidak me...me... yang lain, melainkan di...di... yang lain.

Suatu ketika saya harus mendatangi meja manajer untuk meminta maaf. Saat itu saya mendengar ada dua manajer yang mengatakan, untuk apa menemui direktur. Untuk apa meminta maaf. Toh tidak salah. Maka, saya berinisiatif untuk meminta maaf dan mengaku sayalah yang salah. Sudah begitu tidak membuat sikap manajer tersebut berubah.

Sekarang saya juga masih menghadapi kondisi seperti itu pada orang-orang tertentu. Saya masih mencari penyebabnya. Mungkin penerapan konsep saya yang salah. Saya ingin berkonsultasi pada Yi Ahmadi.

Konsep me yang harus dilaksanakan pimpinan itu sebenarnya untuk menggugah kesadaran anak buah. Sehingga timbul inisiatif. Karena pimpinannya menemui, mereka menemui. Karena pimpinannya membantu, mereka membantu. Karena pimpinannya memperhatikan, mereka memperhatikan. Tidak sebaliknya, karyawan menunggu untuk ditemui, diberi salam, diajak bicara, diberi informasi, dibantu pemecahan persoalan, dan seterusnya.

Mengubah di menjadi me sangat cocok untuk kepemimpinan masyarakat. Bupati, camat, dan lurah harus melayani rakyatnya. Membantu warganya yang kesulitan. Menemui mereka dalam keadaan senang dan susah. Demikian juga aparatur pemerintah lainnya. Lebih-lebih para wakil rakyat yang sekarang lagi ancang-ancang untuk mencalonkan diri (lagi). Tujuannya untuk membangkitkan semangat dan partisipasi masyarakat.

Dalam organisasi apapun, pemerintahan, politik, perusahaan, sosial, rukun tetangga, klub hobi, dan seterusnya, partisipasi itu penting. Inilah yang akan membuat roda organisasi berjalan efektif. Apalagi bila partisipasi itu muncul dari hati. Hati itulah yang menggerakkan pikiran. Otak yang menggerakkan anggota badan. Mereka bertindak dengan ikhlas. Pimpinan bertindak. Karyawan bergerak. Tidak perlu diperintah.

Kiai Imam Fathoni ketika memberi tausiyah di hadapan karyawan Radar Kudus Sabtu (21/7) lalu memberi tiga panduan untuk bertindak. Di manapun agar menyandarkan diri pada Tuhan (bertaqwa), tutupi keburukan dengan kebaikan yang bisa menghapusnya, dan bertindaklah dengan hati (akhlak yang baik). Panduan itu dari hadis nabi. Bila ketiganya diterapkan, organisasi apapun akan berjalan efektif. Bila diterapkan di perusahaan, kemungkinan perusahaan itu meningkat pesat. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 23 Jul 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Semangat Hidup setelah Dialog Tengah Malam]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/16/87948/semangat-hidup-setelah-dialog-tengah-malam https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/15/semangat-hidup-setelah-dialog-tengah-malam_m_87948.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/15/semangat-hidup-setelah-dialog-tengah-malam_m_87948.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/16/87948/semangat-hidup-setelah-dialog-tengah-malam

catatan direktur tentang semangat dan visi bupati yang menginspirasi.]]>

UMURNYA baru 55 tahun. Tiga tahun lebih muda dibanding saya. Tetapi dia mengatakan sudah tua. Harus banyak-banyak mengumpulkan sangu (bekal) untuk hidup di alam sana. Hidup yang sesungguhnya. Itulah Bupati Kudus Musthofa, yang segera mengakhiri masa jabatannya.

Saya menjadi malu. Tiga tahun lebih tua. Tetapi masih merasa muda. Mungkin terpengaruh oleh pujian banyak orang. Kata mereka saya awet muda. Padahal, sesungguhnya umur tidak bisa ditipu. Saya sadar itu. Terima kasih Pak Musthofa telah mengingatkan.

Musthofa akan mengakhiri masa jabatan Agustus nanti. Dia harus menyerahkan tampuk kekuasaan kepada penggantinya M. Tamzil yang telah memenangkan pemilihan calon bupati Kudus 2018-2023. Musthofa sudah dua periode menjadi bupati, sehingga harus melepas kursinya. Dia akan lengser bersama bupati Temanggung dan Banyumas.

Tidak gampang menghadapi hidup setelah masa-masa penuh kekuasaan. ‘’Kalau soal materi, insyaallah tidak sulit,’’ kata Musthofa ketika suatu saat bercerita kepada saya. Bisnisnya di Semarang yang dikelola sang istri berkembang dengan baik. Yang sulit adalah hidup setelah hidup. Itulah kehidupan yang kekal kelak.

Banyak orang mengatakan, hidup yang sesungguhnya dimulai umur 50 tahun. Termasuk Azrul Ananda, putra Dahlan Iskan, salah seorang pemilik koran ini. Kemudian dibuka rubrik Life Begin at Fifty. Isinya panduan hidup pada masa setelah pensiun atau memasuki masa pensiun.

Hidup pada masa-masa itu bisa menjadi sulit. Fisik sudah menurun. Penghasilan juga. Teman berkurang drastis. Di rumah bisa jadi sendirian. Lantas apa yang dilakukan? Olahraga? Melakukan kegiatan sosial? Bertanam? Atau sekadar jalan-jalan. Semua bisa dilakukan. Tetapi itu untuk kehidupan sementara.

Ada kehidupan yang lebih kekal. Lebih sulit dan lebih berat. Dan, ‘’Allah tidak lagi memberi alasan bagi siapa yang telah dipanjangkan umurnya hingga 50 tahun.” (Hadits riwayat Bukhari).

Dalam tafsir Al-Qurtubi disebutkan, orang yang Allah panjangkan umurnya hingga 50 tahun, tidak diterima lagi keuzuran/alasan. Karena, usia 50 tahun merupakan usia yang dekat dengan kematian. Maka inilah kesempatan untuk memperbanyak taubat, beribadah dengan khusyuk, dan bersiap-siap bertemu Allah.

Bupati Kudus Musthofa merasa mendapat pencerahan ketika suatu malam berdialog dengan pendamping hidupnya. ‘’Pak, sudahkah kita memiliki bekal untuk hidup kelak,’’ kata sang istri, Sugiarti. Pak Mus pun merasa masih banyak yang harus dilakukan. Memperbanyak amal ibadah. Saya ikut tersadar. Betapa ibadah saya masih sangat kurang. Sedangkan umur saya sudah jauh melampaui 50 tahun.

Pak Musthofa luar biasa. Dia sukses memimpin Kota Semarak dua periode. Kini mantap meninggalkan kekuasaan yang telah 10 tahun dinikmatinya. Tak salah kalau Jawa Pos Radar Kudus memberinya penghargaan khusus Adi Bhakti Paripurna. Yaitu pengabdian sempurna dengan berbagai prestasi. Penghargaan ini telah diserahkan Jumat, 13 Juli 2018 di Hotel Griptha Kudus bersama 29 penghargaan lain.

Pak Mus mendapat dua penghargaan. Sedangkan bupati Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan masing-masing mendapat satu penghargaan. Penghargaan lain diberikan kepada orang-orang yang dengan kelebihannya mampu menginspirasi masyarakat.

Salah satu penghargaan itu diberikan kepada Moch. Arif, difabel yang sehari-hari berjualan koran di Gang IV Kudus. Dia telah menunjukkan semangat hidup yang luar biasa. Dengan keterbatasannya dia hidup mandiri. Beberapa waktu lalu dia menikah dengan difabel yang juga hidup mandiri.

Yang paling kami catat pada diri Pak Mus adalah visi dan semangatnya. Menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Itu sangat dirasakan rakyatnya. Saya melihatnya sendiri. Suatu saat berkunjung ke Pasar Kliwon Kudus. Banyak kuli angkut merangkul. Sedangkan mereka bermandi keringat. Tidak berbaju lagi. Pak Mus membalas merangkulnya. Rangkul-rangkulan. Erat.

Semangat Pak Mus itu bisa menjadi contoh bagi kita. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 16 Jul 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Saking Lapangnya Bisa untuk Berlari]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/09/86847/saking-lapangnya-bisa-untuk-berlari https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/09/saking-lapangnya-bisa-untuk-berlari_m_86847.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/09/saking-lapangnya-bisa-untuk-berlari_m_86847.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/09/86847/saking-lapangnya-bisa-untuk-berlari

BEBERAPA waktu lalu seorang teman menyarankan agar saya menulis pengalaman menggunakan bandara baru Ahmad Yani Semarang. Baru kali ini saya memenuhinya.]]>

BEBERAPA waktu lalu seorang teman menyarankan agar saya menulis pengalaman menggunakan bandara baru Ahmad Yani Semarang. Baru kali ini saya memenuhinya. Kebetulan seminggu kemarin harus wira-wiri Surabaya – Semarang – Kudus dan sebaliknya.

Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di bandara itu adalah luas dan lapang. Tidak sesak dan sumpek seperti bandara lama. Saking leganya saya bisa berlari dari pintu masuk sampai ruang tunggu. Para penumpang pesawat lainnya bisa berjalan santai tanpa senggol-senggolan.

Sabtu malam Minggu kemarin kebetulan waktu saya sangat sempit. Untung, pengantar saya sangat cekatan menerobos padatnya lalu lintas, menyalip deretan angkutan berat, dan “melompati” lubang jalan yang kadang menganga. Dia menjemput saya di Kaligawe, pertigaan menuju terminal Terboyo yang mestinya sudah ditutup.

Jarak Bandara A. Yani dengan Terminal Terboyo 13 kilometer. Dari Stasiun Tawang malah 6,8 kilometer atau 21 menit berkendara dan dari Stasiun Poncol hanya 4,8 kilometer. Namun, belum tersambung dengan moda transportasi masal seperti bus maupun kereta.

Dari pusat kota, Simpang Lima hanya 6,3 kilometer. Kalau tidak macet cukup 20 menit berkendara. Lokasinya di dekat bandara lama. Dari mana pun, dari arah Kudus, Jakarta maupun kota harus melewati jalan utama di depan PRPP (Pusat Rekreasi Promosi dan Pembangunan) Jawa Tengah. Semacam TMII di Jakarta yang sangat terkenal. Jalannya dua arah, lebar, dan mulus.

Ketika saya melintas, baik saat berangkat maupun pulang, jalan utama itu lancar. Tapi saya mengkhawatirkan, kalau di PRPP ada kegiatan, jalanan itu macet. Apalagi bila berbarengan bubaran kegiatan PRPP dan mendaratnya beberapa pesawat besar. Mudah-mudahan sudah diantisipasi.

Tiba di bandara sudah melewati pukul 20.00. Padahal, jadwal pesawat take off pukul 20.30. Saya langsung melesat ke ruang check in. Melewati ruang dan lorong. Di tempat pemeriksaan pertama saya diloloskan tanpa melewati x-ray. Kebetulan saya tidak membawa apa-apa kecuali laptop yang saya bawa ke mana-mana.

Itu berbeda dengan bandara lama. Di sana, begitu tiba di gedung bandara langsung dihadapkan pada berjejalnya orang di teras. Menjinjing atau menyeret kopor sering kesulitan. Mesti berkali-kali menabrak orang. Harus berhati-hati supaya tidak kena marah.

Di bandara baru penumpang bisa melenggang di teras. Berhenti sambil berswafoto pun tidak mengangggu penumpang lain yang lewat. Bahkan selfi berkelompok pun bisa. Ada latar belakang bagus. Di depan teras sudah disiapkan taman lengkap dengan kolamnya. Belum jadi tapi sudah kelihatan bentuknya. Di belakang teras sebelum melintasi pintu masuk juga ada kolam.

Sayang saya tak bisa menikmati semuanya. Waktu saya betul-betul sempit. Konter check in pesawat Citylink sudah tutup. Layar monitor sudah mati. “Pak Baehaqi ya. Cepat Pak, lari,” kata seorang pegawai yang masih di mejanya. Dia sudah menyiapkan boarding pass untuk saya. Saya semakin tergopoh-gopoh. Saya lari menuju gate 3B seperti yang diperintahkan.

Gate-nya tidak banyak. Di ruang tunggu domestik hanya ada tiga. Namun sangat lega dan nyaman. Kursi-kursinya berwarna hijau muda persis seperti ujung sandaran kursi pesawat Citylink yang saya tumpangi. Ada yang berbentuk bulat. Artistik. Jarak antara satu deretan kursi dengan lain masih menyisakan ruang untuk orang berjalan. Bahkan penunggu bisa berselonjor kaki tanpa bersentuhan dengan kaki penumpang di kursi depannya. Luas ruang tunggu ini 58 ribu M2 atau 9 kali luas ruang tunggu bandara lama yang hanya 6.000-an M2.

Ketika menuju ruang tunggu, ada eskalator. Saya lihat berhenti. Saya injak saja. Ternyata bergerak. Rupanya waktu itu stand by karena tidak ada orang yang menggunakan. Turun eskalator saya lari lagi melewati lorong. Kanan-kiri masih tertutup kertas. Kelak akan menjadi deretan toko suvenir.

Pemeriksaan x-ray sebelum memasuki ruang tunggu berjalan cepat. Maklum penumpang tidak banyak. Saya tak bisa menikmati ruang tunggu. Harus langsung masuk ke pesawat. Alhamdulillah masih diperbolehkan. Saat itu pramugari sudah mengucapkan selamat datang kepada para penumpang disertai pemberitahuan lain. Pintu pesawat segera ditutup.

Saya lihat di sekeliling apron sudah agak sepi. Hanya ada lima pesawat parkir termasuk pesawat yang saya tumpangi. Apron itu mampu menampung 13 pesawat berbadan lebar dan kecil. Dilengkapi tiga belalai gajah. Apron ini memang masih jauh lebih kecil dibanding bandara Juanda. Apalagi Soekarno Hatta.

Kelancaran di bandara pada malam Minggu itu menghapus nervous saya tiga hari sebelumnya di Bandara Juanda Surabaya. Saya kena cegat di pemeriksaan sebelum masuk ruang tunggu. Gara-gara saya membawa bor. “Masak direktur tidak boleh membawa bor,” pikir saya. Tapi bukan itu masalahnya. Bor dan peralatan metal lainnya seperti peniti, gunting kuku, dan pemotong jenggot, harus masuk bagasi. Tidak boleh dibawa ke kabin pesawat.

Kenyamanan juga saya rasakan ketika mendarat. Waktu itu saya naik Wing Air. Karena pesawat kecil berbaling-baling, turun pesawat tidak menggunakan belalai gajah. Tetapi tidak perlu berjalan jauh. Sepanjang perjalanan menuju bagasi juga lega.

Saya dan penumpang lain memang sempat terkecoh. Di ruang bagasi ada dua ban berjalan. Satu beroperasi. Pada layarnya tertulis Garuda dari Jakarta. Yang satu tertulis Citylink. Masih kosong. Bagasi saya dari pesawat Wing Air ternyata keluar lewat ban berjalan yang tertulis Citylink itu. Rupanya petugas kurang teliti. Maklum bandaranya masih baru.

Dari tempat bagasi masih harus melewati ruang tunggu penjemput. Sangat lega juga. Saya sama sekali tidak kesulitan menemukan penjemput saya Pundhi Samara dari Radar Semarang. Tidak seperti di bandara lama. Para penungggu berjejal di teras. Apalagi ketika jamaah umrah tiba yang kadang-kadang diijemput orang “sekampung”.

Saya tidak mau dijemput dengan mobil merapat di teras bandara seperti kebanyakan penumpang. Saya ingin merasakan berjalan kaki di pelataran parkir meski cukup jauh. Tempat parkir ini belum sempurna. Namun kelak akan jauh lebih baik dibanding bandara lain termasuk Juanda dan Cengkareng. Di A. Yani disiapkan bangunan tiga lantai khusus parkir. Sekarang masih tahap finishing. Kelak tempat parkir akan menjadi semakin lapang.

Bandara A. Yani yang baru memang belum sempurna. Namun sudah dioperasikan 6 Juni 2018, menjelang Lebaran lalu. Seluruh pesawat penumpang sudah berpindah ke bandara baru itu. Kelak bandara lama akan difungsikan untuk cargo.

Bandara itu bisa melayani 69 penerbangan setiap hari, baik yang datang maupun pergi. Bisa menampung 7 juta penumpang setahun. Itu berarti 9 kali lebih besar dibanding bandara lama yang hanya berkapasitas 800.000-an penumpang/tahun.

Sekarang jumlah penumpang yang menggunakan bandara A. Yani sekitar 5 juta orang/tahun. Jadi, memang masih lega. Namun mepetnya range antara kondisi penumpang sekarang dan kapasitas, dalam beberapa tahun saja kemungkinan sudah penuh. Bandara Juanda Surabaya dan Soekarno-Hatta Jakarta dulu juga begitu. Bandara lama Surabaya akhirnya dioperasikan lagi untuk penerbangan sipil. Demikian juga Bandara Halim Perdana Kusumah. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 09 Jul 2018 21:39:48 +0700
<![CDATA[Sodaqoh Menjelang Hari Penentuan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/04/85206/sodaqoh-menjelang-hari-penentuan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/03/sodaqoh-menjelang-hari-penentuan_m_85206.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/03/sodaqoh-menjelang-hari-penentuan_m_85206.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/04/85206/sodaqoh-menjelang-hari-penentuan

Catatan direktur tentang pilkada.]]>

SUATU hari saya ditanya seorang pengemudi Grab. “Saat pemilihan bupati kemarin Bapak memilih siapa.” Pertanyaan itu sebenarnya tak berkelas. Dia sudah tahu pilihan dalam bilik suara adalah bebas dan rahasia. Itulah prinsip pemilu (pemilihan umum). Namun, saya tetap menanggapinya dengan serius. “Saya tidak memilih siapa-siapa,” jawab saya.

Pengemudi Grab itu rupanya tidak percaya. Dia balik bertanya. “Kok tidak memilih siapa-siapa. Bapak golput?” tanyanya. Saya jelaskan, bahwa saya tidak memiliki hak pilih di Kudus. Bahkan di Jawa Tengah. KTP saya masih Sidoarjo, Jawa Timur. Pengemudi itu manggut-manggut. Kemudian menoleh ke arah saya.

Saya balik bertanya. “Sampeyan pilih siapa?” Saya tahu pertanyaan saya itu juga bodoh. Mestinya, jawabannya juga rahasia. Tetapi, pengemudi Grab yang anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa) itu jujur. “Saya memilih Tamzil,” ujarnya. Kenapa? “Karena programnya yang akan memberikan tunjangan kepada guru swasta Rp 1 juta setiap bulan.” ujar lulusan Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus.

Kalau pemegang hak pilih di Desa Peganjaran itu jujur, berarti pilkada mengalami kemajuan. Dia bisa menentukan pemimpinnya dengan pertimbangan  program yang ditawarkan. Padahal, semua program yang dilontarkan oleh seluruh calon sangat bagus. Dari debat calon kelihatan. Dari kampanye juga jelas kemiripan. Saya pun sulit menilai program siapa yang terbaik.

Yang saya khawatirkan, orang memilih karena faktor lain. Seorang calon bupati mengistilahkan dengan sodaqoh. Gampangnya sih duit. Biasanya dengan dalih sebagai pengganti upah pekerjaan yang ditinggalkan untuk menyalurkan suara.

Sudah menjadi rahasia umum, sejak beberapa hari menjelang pencoblosan berseliweran uang Rp 50.000-an. Jumlahnya sangat banyak. Seorang pendukung salah satu calon menyebut dua kamar. Uang itu kemudian diedarkan ke seluruh desa. Sasarannya 75 persen dari pemegang hak pilih yang mencapai 600 ribu lebih. Saya mencoba menghitung dengan kalkulator. Hasilnya Rp 22,5 miliar. Luar biasa.

Entah Panwaslu yang berkewajiban mengawasi pemilu supaya berjalan sesuai aturan mengetahui peredaran uang tersebut atau tidak. Demikian juga Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Mudah-mudahan tidak tahu karena tidak ada. Kalaupun tahu, belum tentu juga mereka bisa bertindak.

Pembaca bisa menghitung sendiri sodaqoh yang kemungkinan beredar menjelang pencoblosan calon bupati di Kudus. Caranya gampang saja. Kalau seorang calon lain mengambil langkah yang sama, berarti dia harus menyediakan Rp 22,5 miliar juga. “Jadi, pilkada Kudus ini sekaligus menjadi ukuran baru untuk pemilu legislatif,” kata salah satu anggota dewan. “Uang Rp 20 ribu tidak ada artinya lagi,” tambahnya. Bisa jadi pemilu di Kudus menjadi yang termahal di Indonesia.

Menurut perhitungannya, seseorang yang ingin terpilih menjadi anggota DPRD Kudus tak lagi cukup menyediakan uang Rp 1 miliar. Minimal Rp 1,5 miliar. Atau kalau aman sekitar Rp 2 miliar. Tentu, itu perhitungan kalau pemilihan seseorang didasarkan atas uang. Mudah-mudahan masyarakat semakin dewasa. Bisa menentukan pilihan berdasar hati nurani dengan pertimbangan figur dan program.

Repotnya, kondisi sudah telanjur terbentuk. Seorang calon bupati menggambarkan kondisi air menentukan ikan hidup di dalamnya. Bukan sebaliknya, ikan yang menentukan airnya. Lantas siapa yang harus mengubah air itu? Tentu masyarakat sendiri.

Mari kita bersama-sama bergerak atas dasar hati nurani. (hq@jawapos.co.id)

 

 

 

]]>
Panji Atmoko Wed, 04 Jul 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Jalan Menuju Kemenangan Masih Panjang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/03/84849/jalan-menuju-kemenangan-masih-panjang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/02/jalan-menuju-kemenangan-masih-panjang_m_84849.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/02/jalan-menuju-kemenangan-masih-panjang_m_84849.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/03/84849/jalan-menuju-kemenangan-masih-panjang

Catatan direktur tentang pilkada Kudus.]]>

SEORANG teman bertanya, kenapa Masan kalah dalam pemilihan bupati Kudus. Bukankah dia ketua DPRD yang memiliki akar politik kuat? Tidakkah pasangannya Noor Yasin juga memiliki kehebatan? Pertanyaan itu disampaikan ketika saya menghadiri perayaan ulang tahun ke-69 Jawa Pos di Graha Pena Surabaya kemarin yang bertepatan Hari Bhayangkara. Saya jawab dengan tegas, mereka tidak kalah.

Masan dan Noor Yasin sama-sama tidak kalah dalam Pilkada Kudus. Bahkan, Sri Hartini – Setya Budi Wibowo, Nor Hartoyo – Junaidi, dan Akhwan – Hadi Sucipto sekalipun. Mereka adalah yang membuat Pilkada Kudus sukses dan semarak. Bayangkan, kalau calonnya hanya satu, pasti tidak bergairah, hehehe.

Bahwa ada salah satu pasangan yang mendapat suara terbanyak, itu harus. Ini pertandingan. Ada yang nomor satu ada pula yang berada  pada urutan terakhir. Kebetulan M. Tamzil dan Hartopo yang mendapat suara terbanyak itu. Mereka pasti berterima kasih kepada empat pasang rivalnya dalam pemilihan. Tamzil dan Hartopo mesti mengakui tanpa keempat lawannya, tidak akan bisa menang dengan mengesankan.

Saya menganggap semua calon bupati-wakil bupati Kudus luar biasa. Karena itu, saya berkeliling untuk memberikan dukungan kepada para calon saat pemungutan suara masih berlangsung. Saya bertemu Masan di rumahnya Desa Undaan Lor. Beliau santai. Bersarung warna kaki, berkopiah hitam, dan berbaju batik latar putih. Kami ngobrol di gazebo.

Saya sowan Noor Yasin di rumah Langgar Dalem yang harus berjalan kaki melewati gang sempit. Dia bersama istri, anak, menantu, dan cucunya berkumpul. Lesehan di ruang keluarga. ‘’Inilah rumah saya yang sebenarnya,’’ ujar pensiunan sekda Kudus itu. Rumah itu berada persis di depan rumah orang  tuanya yang saat itu juga penuh tamu.

Tiga perempuan yang kelihatan sudah sepuh duduk di teras. Noor Yasin menemuinya sambil jongkok. Diajaklah ketiga nenek tersebut ke dalam rumah. Mereka ngotot memilih lesehan di luar. Noor Yasin meladeninya. Sangat humanis. ‘’Itu para tetangga. Mereka rela melakukan apa saja. Ada yang membawa gula, jajan, bahkan air minum,’’ katanya.

Ketika akan mengunjungi Tamzil, saya agak bingung. Dia tidak mempunyai rumah di Kudus. Ternyata dia tinggal di rumah Hartopo di Pasuruhan Lor. Kebetulan seorang redaktur Radar Kudus Ahmad Kholil yang tinggal di kampung itu tahu. Kami mengobrol santai di ruang tamu. Duduk lesehan. Tamzil tak ditemani siapapun.

Hartopo sendiri tinggal di rumahnya yang lain di Perumahan Muria Indah. Saya menemuinya di sana. Di depan rumah ada beberapa orang yang berjaga. Kami berbincang di ruang tengah. Hartopo kelihatan santai. Mengenakan jins biru dan kaus warna merah. Darahnya sendiri sebenarnya (maksudnya partai) memang merah alias PDIP meskipun dia maju lewat partai lain.

Saya juga mengunjungi Bu Sri Hartini di rumahnya. Masih ada beberapa tamu. Ada juga relawan, keluarga, dan para pendukung berada di rumah itu. ‘’Setiap hari, di sini penuh. Bahkan sehari semalam,’’ ujar Hartini yang mengenakan gamis hitam dan kerudung ungu. Wajahnya masih kelihatan segar. Padahal, sudah kurang tidur tiga hari tiga malam.

Dua anggota keluarga menghidangkan minuman. Teh hangat dan air kemasan. Dengan senyum mengembang, Sri Hartini mempersilakan untuk minum. Padahal, dia sendiri tidak minum. Hari itu dia masih berpuasa yang dilakukan sejak lima hari sebelumnya.

Sebenarnya saya ingin bersilaturahmi ke semua calon. Sayang, waktunya tidak memungkinkan. Dari rumah Bu Sri Hartini, jarum jam sudah melewati angka 2. Berarti kotak suara sudah dibuka. Bahkan sudah ada penghitungan. Pemimpin Redaksi Radar Kudus Ris Andy Kusuma yang menyertai saya mengajak pulang. Para calon sudah berkonsentrasi pada penghitungan suara.

Saya menangkap semua calon legawa akan hasil pencoblosan yang dilakukan rakyat Kudus. Tamzil menganggap apapun hasilnya, itulah yang terbaik. Bahkan, kalau dia kalah sekalipun. Demikian juga Masan yang memiliki peluang paling kuat di antara calon-calon lainnya.

Kelegaan hati semua calon akan hasil apapun itulah kemenangan. Banyak orang yang kesulitan mengakui kekalahan. Apalagi sampai mengakui kemenangan lawannya. Di Kudus semua calon menunjukkan kebesaran hatinya. Sehingga sampai sekarang keadaan tetap kondusif.

Tamzil dan Hartopo mesti berterima kasih kepada mereka. Kepada rakyat Kudus seluruhnya. Dan, itu telah diungkapkan pada malam kemenangannya di depan kantor perusahaan bus Haryanto. Pemilik perusahaan bus itu yang juga bernama Haryanto berpidato. Dialah bersama Halim, pengusaha dari Demak, yang menjadi penyandang dana terbesar untuk Tamzil-Hartopo. ‘’Ini kemenangan kita semua,’’ kata Tamzil, yang mengaku malam itu belum bisa berpidato karena keharuannya.

Sebenarnya kemenangan Tamzil – Hartopo belum final. Masih ada proses yang panjang. Bahkan setelah mereka dilantik sekalipun. Kemenangan yang sesungguhnya adalah manakala mereka bisa mewujudkan janji-janji kampanyenya yang berujung kesejahteraan rakyat dan kemajuan kota Kudus di berbagai bidang.

Selamat mengemban amanat rakyat untuk Pak Tamzil dan Pak Hartopo. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Ali Mustofa Tue, 03 Jul 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Calone Loro Sing Menang Siji]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/02/84556/calone-loro-sing-menang-siji https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/01/calone-loro-sing-menang-siji_m_84556.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/07/01/calone-loro-sing-menang-siji_m_84556.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/07/02/84556/calone-loro-sing-menang-siji

Catatan Direktur Baehaqi tentang Pilgub Jateng.]]>

CALONE loro sing menang siji. Ini guyonan politik. Saya mendengarnya sebelum pemilihan kepala daerah berlangsung. Namun, baru berani menuliskannya di sini sekarang. Kalau saya tulis saat itu, bisa-bisa kena semprit.

Guyonan itu sebenarnya faktual. Calon gubernur Jateng memang dua. Ganjar Pranowo dan Sudirman Said. Yang akan memenangkan pertarungan juga hanya satu. Bisa Sudirman Said bisa juga Ganjar Pranowo. Namun, kalau guyonan itu disampaikan di tempat umum bisa dianggap tendensius.

Kalau disampaikan saat kampannye bisa dianggap memprovokasi untuk memenangkan calon tertentu. Apalagi kalau yang menyampaikan pihak Ganjar Pranowo yang memakai nomor satu (siji). Belum lagi kalau ditambahi guyonan lainnya: calone loro sing dicoblos siji. Bisa-bisa panitia pengawas (panwas) meradang.

Kalimat senada sering digunakan untuk berkampanye pada zaman Orde Lama. Belakangan dianggap tidak cerdas dan tidak mendidik. Namun tak bisa dihentikan total. Saat masa kampanye pilkada serentak, masih sering terdengar guyonan itu. Bagi saya menarik. Kalangan politisi sering menjadikan bahan candaan. Dan, suasana menjadi segar.

Pak Ganjar juga menangkap candaan seperti itu. Saya diceritai saat berkunjung ke rumah kontrakannya beberapa waktu sebelum pemilihan gubernur berlangsung. Dia menyampaikan kepada saya dengan tertawa. Saya bersama seluruh pimpinan Radar Semarang juga tertawa.

Guyonan itu kebetulan bertuah. Ganjar Pranowo yang bernomor satu memenangkan pertarungan. Angkanya cukup meyakinkan. Dia yang berpasangan dengan Taj Yasin mendapat 58,79 persen. Sedangkan Sudirman-Ida Fauziah meraih 41,21 persen. Angka itu real count KPUD Jateng. Ganjar hanya kalah di empat kabupaten.Yaitu Brebes, Purbalingga, Kebumen, dan Kabupaten Tegal.

Di satu sisi Ganjar hebat. Bayangkan, serangan yang ditujukan kepadanya bagai angin lesus. Itu berulang-ulang. Ganjar dituduh terlibat kasus mahabesar e-KTP. Dia sudah beberapa kali diperiksa KPK meskipun sebatas saksi. Bahkan sehari setelah pencoblosan dia diperiksa lagi.

Calon dari PDIP itu sempat kewalahan menghadapi serangan. Berbagai alasan sudah diungkapkan. Berbagai fakta (menurut dia) telah disampaikan. Semuanya mental. ‘’Terus aku kudu piye,’’ ujarnya bernada tanya. Pertanyaan itu dijawab sendiri. ‘’Ya, barangkali kita gunakan kampanye model wong ndeso saja.’’ Kampanye model ndeso itu, ya, itu tadi: calone loro sing dicoblos siji. Calone loro sing menang siji. Tentu Ganjar guyonan.

Strategi Ganjar jitu. Dia memilih pasangan Taj Yasin. Putra kiai besar Maemoen Zubair. Orang agamis yang dijamin bersih. Bisa mendukung jargon politik Ganjar. Ora ngapusi, ora blenjani, ora korupsi. Mudah-mudahan Pak Ganjar jujur. Ini terlepas dari hasil pemeriksaan KPK yang kita semua belum tahu.

Pemilihan Taj Yasin itulah yang menurut saya mendukung kemenangan Ganjar. Sebab, PDIP sendiri kelihatan mulai terseok-seok di berbagai daerah. Di Kudus misalnya, jago PDIP keok. Masan yang merah dikalahkan M. Tamzil yang hijau. Padahal, Tamzil pernah dijebloskan ke bui. Hebatnya, di kabupaten ini, Ganjar berjaya dengan meraih angka sekitar 76 persen dibanding lawannya yang hanya sekitar 23 persen.

Yang agak mencengangkan adalah di Kabupaten Rembang, tempat Taj Yasin berasal. Ganjar menang tetapi tidak terlalu heboh. Perbedaan angkanya dengan Sudirman Said hanya sekitar 10 persen.

Sudirman-Ida Fauziah juga mencatat hasil luar biasa. Mereka adalah new comer. Tetapi bisa mendulang angka yang cukup signifikan. Kekalahannya memang telak. Tetapi mendulang sekitar 40 persen suara itu luar biasa. Barangkali mereka kalah hanya karena Ganjar petahana yang telah menginjakkan kaki di mana-mana. Ganjar juga memiliki retorika yang atraktif yang sulit membuat orang tidak percaya.

Kini pemilihan gubernur telah selesai. Kita tinggal menunggu pengumuman resmi KPUD dan pasangan Ganjar-Taj Yasin dilantik. Yang kita harapkan adalah mereka menepati janjinya. Angka kemiskinan mesti diturunkan. Tingkat kesejahteraan harus ditingkatkan. Pembangunan fisik dilaksanakan dengan jujur.

Masyarakat betul-betul menunggu. Pak Ganjar Pranowo dan Pak Taj Yasin ora ngapusi, ora blenjani, lan ora korupsi. Kalau tidak terbukti masyarakat yang akan memberi sanksi. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 02 Jul 2018 07:15:59 +0700
<![CDATA[Ada Sunan Kudus di Museum Jenang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/25/82723/ada-sunan-kudus-di-museum-jenang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/24/ada-sunan-kudus-di-museum-jenang_m_82723.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/24/ada-sunan-kudus-di-museum-jenang_m_82723.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/25/82723/ada-sunan-kudus-di-museum-jenang

Museum Jenang Kudus menarik untuk dikunjungi. Pemiliknya Muhammad Hilmy kreatif. Dia bisa menjadikan museum yang biasanya berisi barang-barang old menjadi gaul.]]>

Pukul 13.38 sebuah mobil sedan hitam berbelok ke Museum Jenang di Jalan Sunan Muria Kudus. Semua tempat parkir telah penuh. Petugas mengarahkan ke depan pintu masuk. Saya mengamatinya sambil duduk santai di kafe di lantai dua museum itu.

Hari itu adalah hari raya ketupat. Tradisi pesta di hari keenam setelah Idul Fitri. Biasanya banyak orang memanfaatkan untuk berwisata. Saat itu, Museum Jenang pun ramai pengunjung. Termasuk saya yang datang bersama tiga wartawan muda: Faruq Hidayat, Noor Syafaatul Udhma, dan Diyah Ayu Fitriyani.

Museum Jenang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Pemiliknya Muhammad Hilmy kreatif. Dia bisa menjadikan museum yang biasanya berisi barang-barang old menjadi gaul. Banyak anak muda  menikmati. Bahkan di ruang Gusjigang yang filosofis. Saat saya masuk ke sana ada tiga pasang muda mudi yang berfoto ria. Malah ada juga dua anak seusia SMP.

Ruang Gusjigang adalah bagian terbaru dari Museum Jenang yang dibangun oleh Mubarokfood. Isinya filosofi ajaran Sunan Kudus Syeh Djakfar Sodiq. Gus adalah wong bagus akhlaknya (budi pekerti). Ji berarti pandai mengaji. Gang bisa berdagang (berwiraswasta atau entrepreneur). Syeh Djakfar Sodiq mengajarkan agar kita menjadi pribadi yang berbudi luhur, terus belajar, dan mandiri dalam ekonomi.

Semua itu tercermin dalam pribadi pimpinan Mubarokfood dan keluarganya. Mulai dari generasi pertama H. Mabruri, generasi kedua H. Sochib, sampai generasi ketiga H. Muhammad Hilmy. Mereka adalah santri-santri Kudus asli yang mengembangkan jenang di Kaliputu, Kudus. Awalnya bermerek Sinar 33 karena terletak di Jalan Sunan Muria 33. Kemudian menjadi perusahaan Mubarokfood Cipta Delicia dengan berbagai brand dan produk.

Hilmy yang memegang kendali Mubarokfood sekarang tak sekadar mewujudkan Gusjigang. Dengan caranya dia ingin ajaran Sunan Kudus itu melekat di hati masyarakat. Maka dibuatlah museum yang mengawinkan sejarah jenang dengan kebudayaan. Di dalamnya berisi diorama pembuatan jenang dari zaman kakeknya yang sangat tradisional sampai kini yang modern.

Meski dinamakan Museum Jenang, bagian terbesar di dalamnya berkaitan dengan kebudayaan. Ada rumah  adat yang terbuat dari kayu jati berukir. Meski tidak sebesar aslinya, bisa dipergunakan untuk duduk bersantai. Ada tiga set meja-kursi. Saya sempat menikmatinya. Rasanya seperti di rumah asli pemilik jenang Sinar 33 tak jauh dari museum itu yang sampai kini juga dilestarikan.

Di tembok sebelah rumah adat terdapat gambar bupati pertama sampai terakhir Musthofa. Beberapa hari menjelang puasa di ujung deretan foto bupati itu terdapat kotak kosong. Di depannya ada satu kursi. Pengunjung bisa duduk di kursi itu. Kalau difoto lantas wajahnya persis di kotak seolah menjadi bupati terakhir. Saya telah mencobanya. Menarik. Namun setelah Lebaran kotak kosong itu telah dihilangi.

Pada bagian tembok lain dipajang foto-foto jadul. Berisi bagian kota Kudus yang memorabel. Ada alun-alun zaman dulu, kantor polisi, stasiun kereta api, gedung bioskop, dan lainnya. Tiga wartawan yang saya ajak berkunjung ke museum itu tertarik terhadap foto-foto itu. Mereka merasa diajak ke kota Kudus tempo doeloe.

Bagian penting untuk menangkap kota Kudus adalah kompleks masjid Menara Kudus. Meski hanya maket, cukup membuat pengunjung serasa di masjid yang dibangun Sunan Kudus di Kudus Kulon. Malah, di kompleks masjid yang asli tidak terlihat maket seperti itu.

Maket itulah yang mengarahkan pengunjung menuju bangunan baru X Building yang berisi konsep Gusjigang. Bangunan ini gemerlap. Dipenuhi warna emas. Kaligrafi raksasa yang diletakkan persis di tengah ruangan malah terbuat dari kuningan. Kalau tersorot lampu tentu saja gemerlap. Dinding sekelilingnya juga kaligrafi warna emas.

Di ruang itu saya merasa dibawa ke alam lain. Alam Sunan Kudus. Memang belum ada fotonya. Saya malah menyarankan kepada Hilmy agar dibuatkan patung Sunan Kudus. Pengunjung pasti senang. Bisa berfoto dengan pujaannya. Namun Hilmy belum berani. Belum ada kesepakatan di antara budayawan mengenai sosok tubuh Sunan Kudus sendiri. ‘’Mungkin nanti kami buatkan,’’ ujarnya.

Di ruang itulah konsep Gusjigang dijabarkan. Ada banyak puisi mengenai ajaran Sunan Kudus dari para budayawan. Antara lain Emha Ainun Najib, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, A.S. Laksana, dan Nujumullaily. Yang saya sebut terakhir itu adalah istri Hilmy.

Nujumullaily yang cantik itu jugalah yang mewarnai perjalanan Mubarokfood termasuk konsep Museum Jenang. Kesenimanannya tidak diragukan lagi. Main teater, drama, sampai mencipta dan membaca puisi. Darah Nujumullaily menurun kepada tiga anak perempuannya. Beberapa kali mereka ditampilkan dalam acara-acara resmi Mubarokfood. Salah satu adalah Binta yang pernah menjadi finalis dai cilik tingkat nasional.

Ada yang baru ketika saya masuk ke ruang itu kali kedua. Yaitu foto-foto para ketua PB NU dan Muhammadiyah. Mulai dari K.H. Hasyim Asyari sampai Said Aqil Siroj. Mulai dari K.H. Ahmad Dahlan sampai Haedar Nashir. ‘’Ruangan ini belum sempurna dan masih akan terus berkembang,’’ kata Hilmy. Meski demikian sudah dikunjungi Menristek Dikti Muhammad Nasir dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Ruangan itu serasa sangat filosofis. Itulah nyang diinginkan Hilmy. Museum Jenang menjadi museum kebudayaan. Kelak kalau ada akademisi atau siapapun yang ingin mendalami ajaran Sunan Kudus,  mereka harus ke Museum Jenang.

Tekad Hilmy itu luar biasa. Museum adalah konsep jadul. Gusjigang adalah filosofi hidup. Semula saya menilai cukup tinggi untuk ditangkap masyarakat awam. Tetapi, Hilmy bisa menjadikannya gaul dan populer. Belakangan dihiasi pula motor-motor gede hasil modifikasi anak-anak Kudus. Museum itu telah menyedot banyak pengunjung. Di situlah terselip visi bisnis Mubarokfood.

Hilmy mengawinkan konter jualan jenangnya dengan museum. Terjadi sinergi yang saling menguntungkan. Ketika saya ke sana beberapa hari menjalang Idul Fitri dan hari raya ketupat keempat kasir penjualannya tidak pernah berhenti melayani pembeli. Bahkan di lantai dua, tempat penjualan suvenir dan kafe. Semuanya tak pernah sepi pengunjung.

Kini Museum Jenang telah menjelma menjadi museum kebudayaan yang layak dikunjungi. (hq@jawapos.co.id)

 

 

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 25 Jun 2018 07:45:59 +0700
<![CDATA[Kang Ayo Kang Mlaku-Mlaku Nang Semarang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/19/81839/kang-ayo-kang-mlaku-mlaku-nang-semarang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/19/kang-ayo-kang-mlaku-mlaku-nang-semarang_m_81839.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/19/kang-ayo-kang-mlaku-mlaku-nang-semarang_m_81839.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/19/81839/kang-ayo-kang-mlaku-mlaku-nang-semarang

Catatan direktur tentang Kota Lama Semarang yang dulu terkesan angker dan kini menjadi salah satu jujukan wisata.]]>

KETIKA bertemu Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi saya ditanya bagaimana suasana Kota Semarang. Saya menjawab dengan tegas. Semarang -ibu kota Jawa Tengah- semakin indah. Bahkan, suatu saat bisa lebih indah dibanding Surabaya -ibu kota Jawa Timur.

Pertanyaan Hendi –pangggilannya– luar biasa. Dia tahu saya lama tingggal di Surabaya. Baru belakangan harus tinggal di Semarang, selain di Kudus. Dia tidak takut saya membaik-baikkan kota dengan ratusan penghargaan. Sebaliknya, menidakbaikkan Semarang. Rupanya dia ingin mendapat masukan yang fair. Saya memberikannya sesuai kapasitas saya.

NYENTRIK: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi foto di pasar seni Padang Rani, kompleks Kota Lama Semarang kemarin. (RADAR KUDUS PHOTO)

Setelah memberi penilaian tersebut, saya menjadi bingung sendiri. Pertanyaan terus berkecamuk. Apakah betul Semarang sudah indah. Kemarin saya mendapat penguatan atas jawaban saya.

Pagi-pagi saya berangkat dari Kudus. Bersama tiga anak saya. Sehari-hari mereka tinggal di selatan Surabaya. Namun, bersekolah di Surabaya. Jalanan ramai lancar. Para pemudik berseliweran dengan kendaraan yang kapnya dijadikan bagasi. Tidak ada tujuan lain kecuali menikmati Kota Semarang. Saya ingin membuktikan jawaban yang saya sampaikan sendiri kepada wali kota. Fokus kami keliling kawasan Kota Lama. Di sinilah saya memastikan Semarang lebih indah.

Sekarang kondisinya memang lagi tidak begitu nyaman. Masih ada pembangunan di Jalan R. Patah, sekitar Gereja Blenduk. Jalan ditutup total. Kendaraan harus lewat belakang gereja. Saya sengaja memarkir kendaraan agak jauh. Sekitar 200 meter dari gereja. Kemudian berjalan kaki menyusuri kawasan kota tua.

Langkah saya terhenti di kampung seni. Itulah tempat berjualan barang antik yang dimotori Paguyuban Pedagang Barang Seni (Padang Rani). Lokasinya di Jalan R. Surapto. Di samping Taman Sri Gunting. Semua yang dijual adalah barang bekas. Ada lampu, setrika, kamera, kopor, gilingan kopi, botol, buku, piring, mesin ketik, dan sebagainya. Sebagian besar adalah barang-barang old. Tetapi saya mendapati beberapa barang repro. Buatan masa kini dengan bentuk old.

Kebetulan saya mengoleksi beberapa barang seperti yang dijual di pasar itu. Salah satu di antaranya lampu gantung kuningan dengan kap putih. Saya membelinya di Surabaya. Cuma Rp 600 ribu. Kini saya tempatkan di kamar bagian belakang kantor Jawa Pos Radar Semarang. Kemarin saya melihat barang yang sama di pasar seni Padang Rani. Harganya Rp 1,5 juta. Masih bisa ditawar.

Pasar  seni itu menjadi salah satu ikon Kota Lama Semarang. Yang datang bukan hanya para kolektor. Saya melihat, sebagian besar justru orang zaman now. Mereka melihat-lihat. Yang paling banyak berselfie ria.

Dari pasar seni saya menuju museum tiga dimensi. Tentu saja melewati gereja tua yang sangat legendaris di samping Taman Sri Gunting. Geraja Blenduk. Disebut Gereja Blenduk karena atapnya blenduk setengah lingkaran. Seperti kebanyakan kubah masjid. Sekarang banyak kubah masjid yang sudah dironovasi menjadi warna-warni. Kubah gereja tersebut masih asli. Dibiarkan karatan. Namun cat temboknya sudah putih bersih.

Sebagian besar bangunan di kawasan kota tua tersebut, sudah dimenterengkan dengan cat putih. Sehingga menjadi indah.

Saya lihat tidak banyak orang yang meperhatikan secara saksama gereja tua tersebut. Mereka lewat sambil lalu. Yang paling ramai di kawasan kota tua adalah museum tiga dimensi. Ada dua berhadap-hadapan. Yang satu Old City dengan tarif Rp 50 ribu. Yang lain DMZ dengan harga dua kali lipat. Ketiga anak saya memilih masuk Old City.

Sudah banyak museum seperti itu. Di Jogja dan Surabaya juga ada. Namun bagi orang Jawa Tengah, museum itu masih menyedot perhatian. Inti wisata dalam museum itu adalah berfoto dengan gambar yang hasilnya kelihatan tiga dimensi. Saya tidak begitu tertarik, namun bisa menikmatinya juga.

Yang menarik perhatian saya lainnya adalah gedung Lawang Sewu. Bangunan ini legendaris. Dibangun zaman Belanda sekitar tahun 1904. Aslinya kantor Jawatan Kereta Api. Dulu bangunan yang luar biasa megah tersebut mangkrak. Belakangan difungsikan sebagai tempat wisata.

Meski sudah sangat tua, gedung tersebut masih sangat kokoh. Bagimana tidak? Temboknya tiga kali tebal tembok bangunan zaman sekarang. Saya mengukurnya dengan jengkal tangan. Dua jengkal. Sekitar 40 sentimeter. Sedangkan bangunan sekarang hanya sekitar 13-15 sentimeter. Rangka atapnya kayu jati. Saya naik sampai lantai paling atas yang termasuk bagian paling angker.

Kemarin pengunjung bejubel. Maklum masih libur panjang hari raya. Antrean di depan loket sekitar sepuluh meter. Saya membayar Rp 40 ribu untuk empat orang. Anak-anak dan pelajar cukup separonya. Anak saya tertarik karena keangkerannya. Saya ingin membuktikan keangkeran itu. Tentu saja tidak bisa.

Disebut gedung Lawang Sewu karena memiliki banyak pintu. Satu kamar saja ada yang lima pintu. Padahal di gedung itu banyak deretan ruang. Saya ingin menghitungnya. Mula-mula serius. Tetapi setelah hitungan melebihi seratus saya menjadi lupa. Menyerah. Saya berseloroh kepada anak-anak. Jumlah pintunya 987 (maaf, sekadar ngomong). Kalau tidak percaya, hitung sendiri.

Kawasan Kota Lama yang saya ceritakan itulah yang membuktikan bahwa Semarang sudah cantik. Wali kota bisa menyulap kawasan angker menjadi tempat wisata yang indah. Sedangkan kawasan Kota Lama Surabaya di sekitar Kembang Jepun masih tetap seperti dulu. Bangunannya kusam. Kalau malam sepi.

Yang masih kalah dengan Surabaya, menurut saya adalah penghijauannya. Surabaya sudah adem. Bahkan sudah berbunga. Kalau Pak Hendi bisa terus melengkapi keindahan tersebut dengan penghijauan, bukan tidak mungkin Semarang lebih indah dibanding Surabaya. Sehingga layak juga kita mengumandangkan seruan: kang ayo kang mlaku-mlaku nang Semarang. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Tue, 19 Jun 2018 14:20:40 +0700
<![CDATA[Ada Cinta di Keluarga Dahlan Iskan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/18/81754/ada-cinta-di-keluarga-dahlan-iskan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/18/ada-cinta-di-keluarga-dahlan-iskan_m_81754.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/18/ada-cinta-di-keluarga-dahlan-iskan_m_81754.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/18/81754/ada-cinta-di-keluarga-dahlan-iskan

Istri Dahlan Iskan dirawat di rumah sakit menjelang momen Lebaran.]]>

Begitu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengumukan hari raya jatuh pada 15 Juni 2018, saya segera beranjak ke rumah sakit. Ny. Nafsiyah Dahlan Iskan berada di sana. Masih di ICU sebuah rumah sakit swasta di Surabaya. Habis operasi. Saya mementingkan untuk menjenguk beliau daripada hiruk-pikuk menyambut Lebaran.

Banyak orang lain yang sakit seperti Bu Dahlan. Tidak sedikit orang yang prihatin seperti Pak Dahlan. Bahkan banyak juga yang melebihi keduanya. Puasa mengajarkan kita berempati. Merasakan penderitaan sesama. Dan, hari raya adalah puncak membangun ketulusan hati dengan bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.

Saya sangat sedih ketika mendengar Ibunda Tri Sutristyaningsih, manajer iklan Jawa Pos Radar Semarang, juga masuk rumah sakit pada malam hari raya sampai sekarang. Dua tetanggga di Kudus meninggal persis di hari Lebaran.

Begitu tiba di rumah sakit saya langsung menuju ruang tunggu ICU. Salah seorang mantan wartawan Jawa Pos sudah berada di sana. Tetapi, Bu Dahlan sudah tidak lagi di ICU. Baru beberapa saat dipindah ke ruang perawatan. Nazaruddin, kolega saya, itu belum tahu tempat perawatan Bu Dahlan.

Atas informasi orang dekat Pak Dahlan, saya mengetahui ruang perawatan itu. Di lantai I. ‘’Biasanya beliau memilih ruang paling pojok,’’ ujar Nazaruddin. Benar. Saat itu Bu Dahlan baru saja tidur. Ny. Ivo, istri Azul Ananda, mantan dirut Jawa Pos, menemui saya, Vikram (mantan anak buah Azrul) dan istrinya. Azrul tiduran di bed sebelah Bu Dahlan.

‘’Di ruang ICU tidak bisa tidur. Maka begitu dipindah ke ruang perawatan beliau langsung tidur,’’ kata Ivo.  Sedangkan Pak Dahlan menyempatkan diri pulang ke rumah. Merapikan rumah untuk menyambut Bu Dahlan ketika pulang nanti.

Ruang perawatan Bu Dahlan itu ternyata biasa-biasa saja. Memang ada sofa, bed penunggu, dan televisi. Tetapi, tidak mewah seperti ruang VVIP. Itu menunjukkan kepribadian Pak Dahlan dan istrinya. Suka hidup sederhana.  Padahal, beliau termasuk orang kaya yang bisa membayar kamar berapapun harganya.

Sebelum Bu Dahlan dipindah ke ruang perawatan, Pak Dahlan menunggui di ruang tunggu ICU. Bersama keluarga pasien lain dari semua lapisan masyarakat. ‘’Dari tadi malam sampai sekarang saya belum tidur,’’ kata Dahlan ketika saya menjenguk untuk kali pertama. Itulah bukti lain kesederhanaan Pak Dahlan.

Saya sudah dua kali menjenguk Bu Dahlan. Yang pertama Minggu malam, 11 Juni 2018, selepas berbuka puasa. Saat itu Pak Dahlan lagi berbuka juga. Dia bersama Isna, anak nomor dua. ‘’Saya tiba tadi malam,’’ ujar Dahlan. Beliau tiba dari Amerika langsung ke rumah sakit. Raut mukanya kelihatan kusut (menurut saya). ‘’Capek,’’ akunya. Sudah begitu, semalam tidak tidur dan hanya duduk di ruang tunggu.

Ketika Bu Dahlan harus masuk rumah sakit, bahkan harus dioperasi, Pak Dahlan berada di Amerika. Di pedalaman. Dia mengasingkan diri sejak sebelum Ramadan. Kabarnya menghindari hiruk-pikuk politik di tanah air (saya tidak berani mengonfirmasi). Maka, ketika diberitahu istrinya masuk rumah sakit, dia tidak bisa segera pulang. Harus mencari tiket dan menunggu penerbangan.

Begitu mendarat dari Amerika, dia langsung ke rumah sakit. Menunggui istrinya sehari semalam tidak tidur. Tidak sahur juga. Bahkan ketika harus tidur, beliau tidak  pulang ke rumah. Harus indekos di rumah belakang rumah sakit. Tidak di hotel.

Anak-anak, menantu, dan cucu juga sangat menyayangi Bu Dahlan. Merekalah yang mengantar ke rumah sakit dan menungguinya selagi Pak Dahlan di Amerika. ‘’Perkembangannya banyak sekali. Tadi saya pamiti, umi gini-gini,’’ kata Azrul sambil manthuk-manthuk menirukan ibunya. Azrul tertawa. Pak Dahlan tersenyum. Demikian juga istri Azrul dan adiknya, Isna.

Kali pertama menjenguk Bu Dahlan itu, saya sangat beruntung. Memang tidak bisa masuk ke ruang ICU. Tetapi bisa bertemu Pak Dahlan beserta dua anak, dua menantu, dan cucu-cucunya. ‘’Dua hari lagi sudah keluar ICU,’’ kata Pak Dahlan. Saat itu Bu Dahlan sudah bisa diajak berkomunikasi. Ginjalnya yang terkena invenksi sudah dioperasi. Tinggal menunggu pemulihan.

Pak Dahlan benar. Pada malam takbiran, saya menjenguk lagi. Bu Dahlan sudah dipindah ke ruang perawatan. ‘’Sudah baik. Sudah minta disiapin menthok dua. Kalau sudah begitu kami semua lega,’’ kata Ny. Ivo. Yang dimaksud menthok adalah dada ayam. Biasanya pada malam hari raya Bu Dahlan menyiapkan sendiri masakan untuk keluarganya. Hari-hari biasa juga.

Masakan favoritnya soto banjar. Beliau memang orang Banjar. ‘’Tidak ada orang yang bisa memasak soto banjar seenak masakan ibu,’’ kata Dahlan menyanjung istrinya. Soto ini juga termasuk hidangan wajib setiap hari raya.

Pada hari raya ketika para pembantu rumah tangga pulang kampung, banyak orang kaya kelimpungan. Ada yang mengungsi ke hotel, ada pula yang memesan katering. Bu Dahlan beda. Beliau selalu memasak sendiri.

Saya banyak belajar dari kesahajaan Bu Dahlan. Sepulang dari rumah sakit saya langsung memasak opor ayam dan menggodok ketupat yang sudah saya siapkan siang harinya. Itulah masakan wajib saya di hari Lebaran. Hari-hari lain saya juga memasak. Repotnya bukan main. Ketika anak-anak ikut mudik ke Kudus kemarin, sempat kelimpungan juga. Mencari warung makan tidak mudah. Mau memasak kesulitan berbelanjanya.

Saya juga banyak belajar dari Pak Dahlan dan anak-anaknya. Mereka sangat menyayangi Bu Dahlan. Perempuan yang mereka anggap luar biasa. Beliau tunjukkan dengan berkumpul di rumah sakit sebelum dan setelah salat Idul Fitri. Yang laki-laki memakai baju putih lengan panjang. Yang perempuan berbaju hijau.

Saya meniru keluarga Pak Dahkan juga berkumpul bersama ketiga anak saya. Setelah salat Idul Fitri, kami ‘’berkumpul’’  bersama perempuan yang kami cintai di Sidoarjo. Kemudian bersama-sama melesat ke Kudus untuk ‘’menemui’’ ibu dan bapak kandung saya yang telah mendahului kami. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Panji Atmoko Mon, 18 Jun 2018 11:02:59 +0700
<![CDATA[Satu Kesedihan di Antara Jutaan Kebahagiaan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/14/81404/satu-kesedihan-di-antara-jutaan-kebahagiaan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/13/satu-kesedihan-di-antara-jutaan-kebahagiaan_m_81404.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/13/satu-kesedihan-di-antara-jutaan-kebahagiaan_m_81404.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/14/81404/satu-kesedihan-di-antara-jutaan-kebahagiaan

Barangsiapa menghidupkan malam hari raya dan hari raya itu sendiri, niscaya Allah menghidupkan hati orang itu pada hari di mana banyak hati mati.]]>

Barangsiapa menghidupkan malam hari raya dan hari raya itu sendiri, niscaya Allah menghidupkan hati orang itu pada hari di mana banyak hati mati.

 

MENTHOK (angsa) potong itu sudah dipesan seminggu lalu. Menurut rencana sore ini dimasak semur. Makannya besok setelah salat Idul Fitri. Itulah pesta hari raya ala Ibu Heny Susilowati, salah seorang manajer Radar Kudus. Agak berbeda dengan kebanyakan orang yang memasak opor ayam. Menurut rencana, saya juga memasak opor ayam ini karena mudah. Ayamnya sudah di kulkas.

Sudah tidak rahasia lagi bagi umat muslim di Indonesia, Idul Fitri identik dengan pesta. Malam nanti kalau tidak ada perubahan, suara takbir menggema di mana-mana. Bersahut-sahutan. Sampai kehilangan esensinya. Tidak hanya dari masjid dan musala. Takbir keliling dengan tetabuhan dan salon-salon superbesar ikut memekakkan telinga.

Takbir, tahmid, dan zikir adalah mengecilkan diri dan mengagungkan Allah. Karena itu, mestinya dilakukan dengan tenang, khusyuk, dan fokus. Inilah yang bisa menghidupkan hati. Kalau terjaga, akan tetap hidup sampai kiamat nanti di mana banyak hati mati. Para kiai dan dai selalu menyampaikan hal ini dalam khotbah-khotbahnya.

Pesta hari raya berlanjut besok (juga kalau tidak ada perubahan). Gelaran salat id bertebaran di mana-mana. Di masjid, lapangan, dan jalan-jalan. Semua pasti meluber. Bapak-bapak, emak-emak, ahjusi, ahjuma, tua, muda, besar, kecil, tumplek blek di tempat salat id. Mukena kaum perempuan yang dulu putih, kini sudah warna-warni. Merah, putih, hijau, biru, ungu, dan hitam. Yang pria juga mengenakan pakaian terbaik.

Lihatlah besok pagi (kalau hari raya betul-betul Jumat). Jamaah salat id meluber di mana-mana. Bandingkan dengan salat Jumat siangnya. Jamaah salat id jauh lebih banyak. Padahal, salat id itu sunah. Apabila dikerjakan mendapat pahala, bila ditinggalkan tidak berdosa. Sedangkan salat Jumat itu wajib. Kalau dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan berdosa.

Banyak orang yang tidak lagi berpikir syariat. Sedih juga. Peristiwa ritual keagamaan sudah berubah menjadi budaya. Orang yang tak pernah sembahyang lima waktu pun ikut mementingkan salat id. Para dai dan kiai tidak bisa mencegah hal ini. Orang berbuat baik harus difasilitasi. Semoga hatinya semakin terbuka.

Pesta masih berlanjut. Salam-salaman. Unjung-unjung. Silaturahmi. Halalbilhalal. Dalil-dalil yang mendukung meluncur deras. Padahal, di Makkah, kota kelahiran Nabi Muhammad, tidak ada pesta seperti ini. Demikian juga di Madinah, kota di mana Nabi menghabiskan sebagian sisa hidupnya untuk berdakwah.

Budaya silaturahmi inilah yang membuat masyarakat hiruk pikuk. Rumah-rumah direnovasi. Cat diperbarui. Korden dicuci. Mobil dibuat cling. Di setiap meja ada hidangannya. Para sanak kadang pulang kampung. Keluarga berkumpul. Pemerintah bingung. Harus menyiapkan libur panjang agar tidak terjadi kemacetan di jalanan. Lagi-lagi, dalilnya silaturahmi yang mestinya dilakukan kapan saja.

Selain hidangan, ada juga hadiah Lebaran. Miliaran uang baru dicetak untuk memenuhi kebutuhan ini. Baju koko dan sarung juga bertebaran. Saya termasuk menerimanya. Dua sarung dari dua orang. Yang satu dari politikus. Yang satu dari seorang manajer. Itulah sarung politik. Ada juga angpao politik. Termasuk dari para calon kepala daerah yang memanfaatkan momen Lebaran.

Sulit mengerem diri untuk tidak masuk dalam kehebohan tersebut. Saya pun berada di dalamnya. Sejak pertengahan Ramadan berkeliling. Mengunjungi rumah karyawan Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang. Satu per satu. Dari gang ke gang. Dari kampung ke kampung. Dari satu kota ke kota lain. Dari satu kabupaten ke kabupaten lain.

Karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang itu tersebar di 18 kota/kabupaten di Jawa Tengah. Radar Kudus ada di Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan. Sedang Radar Semarang tersebar mulai dari Kabupaten dan Kota Pekalongan, Batang, Kendal, Kota dan Kabupaten Semarang, Demak, Salatiga, Kota dan Kabupaten Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

Banyak orang bertanya kenapa direktur bersusah-payah berkeliling yang menghabiskan waktu dan tenaga. Toh hanya untuk mengantar parcel yang tidak seberapa harganya. Jawab saya sederhana. Saya hanya khawatir kalau parcel dibawa pulang karyawan dengan sepeda motor. Kalau berceceran di jalan, bisa ditangisi anak-anaknya.

Alhamdulillah di momen Lebaran ini saya bisa berkunjung ke rumah seluruh karyawan. Suatu kesempatan yang sulit selain di hari raya ini. Saya bisa tahu korden-korden baru, teras-teras yang licin, tembok-tembok yang cemerlang, dan meja-kursi yang tertata rapi.

Lebih dari itu, saya bisa tahu ternyata ada karyawan yang baru kehilangan anggota keluarganya. Ada yang segera menambah keluarga alias menikah atau beranak. Juga ada yang akan kehilangan anggota tubuhnya atau sunat.

Sayang, di balik kebahagiaan itu ada tangis yang harus saya simpan. Betapa kedatangan saya ternyata mengecewakan banyak orang. Saya terpaksa menolak nyaris seluruh tawaran untuk duduk dan berbincang barang sejenak. Hanya satu yang saya terima. Di rumah Wahib, wartawan Radar Semarang di Demak. Itulah rumah terakhir karyawan Radar Semarang yang saya kunjungi. Sekalian beristirahat.

Suguhannya luar biasa. Anggur dan kelengkeng. Rupanya kualitas super. Gedenya dua ibu jari. Penyiapannya sejak lama. Saya tahu. Tehnya sudah dingin. Penyambutan seperti inilah yang saya khawatirkan. Merepotkan. Tetapi tuan rumah bangga.

Seperti itulah kebanyakan masyarakat kita. Mereka berlomba menyiapkan hidangan untuk tamu-tamu yang berkunjung. Inilah pesta. Ritual keagamaan yang menjadi budaya. Jutaan manusia berbahagia. Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Thu, 14 Jun 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Pesta Terlama Sepanjang Sejarah]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/11/80532/pesta-terlama-sepanjang-sejarah https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/10/pesta-terlama-sepanjang-sejarah_m_80532.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/10/pesta-terlama-sepanjang-sejarah_m_80532.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/11/80532/pesta-terlama-sepanjang-sejarah

Gegap gempita masyarakat menikmati tradisi mudik Idul Fitri.]]>

DUA kendaraan melintas kencang di Jalur Pantura Rembang. Yang satu Toyota Kijang. Yang lain Honda CRV. Di atas Toyota ada barang yang dibungkus dengan terpal warna biru. Sedangkan di atas CRV terikat barang dengan bungkus cover mobil warna abu-abu. Perkiraan saya, penumpangnya adalah pemudik menjelang Idul Fitri.

Saya mencoba mengejarnya. Kecepatan kira-kira 80 kilometer per jam. Saya yang dari Kudus menuju Surabaya memacu mobil Nissan Evallia yang saya kendarai. Sempat membuntuti beberapa saat. Kemudian saya salip dengan kecepatan 90 kilometer per jam. Terlihat penumpang kedua mobil tersebut penuh.

Saya sudah melihat banyak mobil dengan bagasi di atas kap yang mestinya tidak diperbolehkan itu sejak Jumat. Ketika itu saya berkeliling silaturrahim ke rumah-rumah karyawan di Semarang. Dari Tembalang sampai Ungaran. Melalui berbagai jalur. Termasuk dua kali masuk tol. Sempat terjadi kemacetan panjang di pintu masuk kota Semarang dari arah Jakarta.

Di gardu tol Srondol kemacetan hingga sekitar satu kilometer. Di jalur entry sekitar setengah kilometer. Kendaraan campur aduk. Pemudik sudah menjejali jalanan lintas Jakarta-Surabaya. Sementara itu, kendaraan angkutan barang belum dihentikan. Rupanya arus mudik mendahului penghentian operasional truk besar. Ini sangat rawan terjadi kemacetan.

Kemarin malam ketika saya dari Kudus menuju Surabaya juga merasakan adanya peningkatan arus lalu lintas di Jalur Pantura Jawa Tengah sampai Jawa Timur. Saya sempat dag dig dug. Bahkan sempat nggerundel. Banyak truk besar beroperasi. Mestinya truk dilarang melintas selama libur Lebaran. Untung kekhawatiran saya tidak terbukti.

Rupanya mudik Lebaran kali ini lebih awal dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab, libur Lebaran plus cuti bersama diperpanjang. Dari 11-19 Juni. Berhubung tanggal 10 hari Sabtu, praktis Jumat menjadi hari kerja terakhir. Inilah libur Lebaran terpanjang selama ini. Pesta pun akan berlangsung lama. Masyarakat menikmati.

Bagi saya, libur sepanjang itu adalah beban tersendiri. Perusahaan sudah menetapkan koran tidak terbit hanya dua hari. Yaitu hari H Lebaran dan H+1. Berarti karyawan di bagian redaksi harus masuk kerja di saat karyawan perusahaan lain dan para pegawai negeri menikmati libur panjang.

‘’Kami yang di bidang pelayanan juga cenut-cenut,’’ kata Komeng, general manager Pembangkitan Tanjung Jati B Jepara. Saya bertemu beliau saat menghadiri Festival Ramadan yang diselenggarakan di Desa Kaliaman, Kembang, Jepara, Rabu (6 Juni 2018).

Saat masyarakat sedang libur itu, karyawan PLN justru siaga. Listrik tidak boleh terganggu. Sementara itu produksi harus diturunkan drastis. Kalau sampai mati, masyarakat mencaci maki. Itulah sebabnya, pegawai PLN harus kerja ekstrakeras justru di saat masyarakat menikmati liburan.

Kesibukan seperti itu juga dialami karyawan bidang pelayanan lainnya seperti telekomunikasi, angkutan penumpang, dan rumah sakit, pusat-pusat perbelanjaan, serta hiburan.

Tanda-tanda Lebaran kali ini akan meriah bukan hanya terlihat di jalan raya. Selama berkeliling dari Semarang – Kendal – Batang – Pekalongan – Ungaran – Magelang –Temanggung – Wonosobo – Salatiga – Demak – Jepara – Kudus – Pati – Rembang, sudah kelihatan kesibukan masyarakat. Di satu kampung di Pekalongan saya melihat banyak orang menjemur kelambu (gorden) dan karpet. Di tempat lain, banyak orang menjemur toples. Juga ada yang menjemur rengginang, jajanan khas Lebaran.

Para pebisnis sudah memanfaatkan momen Idul Fitri ini sejak awal Ramadan. Pesta diskon ada di mana-mana. Padahal, bisa jadi harga sudah dinaikkan sebelum dipotong harganya. Masyarakat terkecoh. Tapi, tetap menikmati. Kasihan juga.

Pasar-pasar murah juga bertebaran. Saya tertarik pasar murah di Kelenteng Hok Tik Bio Pati. Pengurus kelenteng itu menggelar kebutuhan Lebaran dengan diskon 30 persen. Mereka ingin membantu umat Islam yang berlebaran. Inilah bentuk toleransi yang perlu terus dipupuk.

Perputaran bisnis saat Lebaran ini, bisa jadi akan berpindah sementara ke kota-kota kecil. Bahkan ke desa-desa. Masyarakat yang cerdas mesti memanfaatkannya. Saya melihat kecerdasasan masyarakat Bulung, Kudus. Setiap tahun ada festival lomban. Padahal di tempat itu sungai nyaris tak lagi mengalir. Perahu juga tidak ada. Tetapi pesta rakyat tetap digelar. Demikian juga Bulusan di Jekulo. Bulusnya sendiri sudah tidak ada sejak lama.

Itulah Idul Fitri. Masyarakat tetap menyambutnya dengan pesta. Idul Fitri menjadi budaya. Sementara itu, para khotib, kiai, dan dai terus mengumandangkan bahwa Idul Fitri adalah peningkatan ketakwaan kepada Allah. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 11 Jun 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Penyakit Mematikan Itu Anget-Anget Tahi Ayam]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/04/78783/penyakit-mematikan-itu-anget-anget-tahi-ayam https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/04/penyakit-mematikan-itu-anget-anget-tahi-ayam_m_78783.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/04/penyakit-mematikan-itu-anget-anget-tahi-ayam_m_78783.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/04/78783/penyakit-mematikan-itu-anget-anget-tahi-ayam

TADI malam merupakan malam ke-18 puasa. Kategorinya masih sepertiga tengah bila sebulan dibagi tiga. Di musala kampung saya, jamaah tarawih tinggal separo.]]>

TADI malam merupakan malam ke-18 puasa Ramadan. Kategorinya masih sepertiga tengah bila sebulan dibagi tiga. Di musala kampung saya, jamaah tarawih tinggal separo. Serambi luar kosong. Padahal, pada malam pertama, jamaah meluber sampai halaman.

Saya hafal karena sering salat di musala itu. Biasanya jamaah tarawih berbanding terbalik dengan perjalanan tanggal. Pada awal puasa, jamaah tarawih penuh. Itu berjalan beberapa hari. Begitu mencapai sepertiga bulan, jamaah berkurang sepertiga juga. Ketika pertengahan bulan, tinggal separo. Begitu memasuki sepertiga terakhir jamaah berkurang dua pertiga alias tinggal sepertiga.

Sudah ada iming-iming agar jamaah tarawih disiplin dan konsisten. Imbalannya diperbesar. Dalam sebuah riwayat disebutkan, sepertiga Ramadan di awal merupakan rahmat. Sepertiga di tengah merupakan maghfiroh (pengampunan). Dan, sepertiga terakhir pembebasan dari api neraka.

Sebagian ahli mengatakan hadits yang menyebutkan hal tersebut sangat lemah. Namun, di masjid-masjid sering dikumandangkan. Maksudnya, untuk memotivasi agar umat semakin rajin beribadah seiring dengan perjalanan bulan Ramadan. Apalagi dalam sepertiga akhir Ramadan itu sangat mungkin turunnya lailatul qadar. Malam istimewa. Malam yang lebih baik dibanding seribu bulan.

Para khotib atau penceramah biasa menggambarkan beribadah pada malam lailatul qadar mendapat pahala lebih banyak dibanding beribadah yang sama selama seribu bulan. Ini iming-iming luar biasa. Meski demikian masih banyak orang yang tidak tertarik. Buktinya, pada sepertiga akhir Ramadan jamaah tarawih justru lebih sedikit dibanding pada awal Ramadan. Sementara itu, mal-mal dan pusat perbelanjaan penuh. Mungkin (sekali lagi mungkin) mereka beralih ke sana.

Sulit sekali mengubah kebiasaan masyarakat seperti itu. Di rumah, sekolah, instansi, tempat kerja, perusahaan, lembaga, dan masyarakat. Di perusahaan yang saya pimpin juga begitu. Orang Jawa bilang anget-anget tahi ayam. Bersemangat ketika masih baru. Lama-lama bosan juga. Padahal kadang-kadang semakin lama itu semakin bernilai.

Kebiasaan tersebut sangat berpengaruh pada produktivitas. Sering sampai menurunkan prestasi. Para motivator sering menekankan, merebut lebih mudah dibanding mempertahankan. Itu lantaran kebiasaan jelek tersebut. Kebiasaan yang mudah bosan. Tidak mau konsisten.

Saya merasakan betul ketika mengurus perusahaan. Baik di Radar Kudus maupun Radar Semarang. Radar Kudus yang pada 2016 mendapat predikat perusahaan dengan performa terbaik (se-Indonesia di bawah payung Jawa Pos Group) anjlok di urutan kedua pada 2017. Radar Semarang kini sedang semangat-semangatnya merebut prestasi seperti Radar Kudus beberapa tahun lalu.

Di berbagai kejuaraan langka sekali kita menemukan juara berturut-turut dalam beberapa tahun. Lihat saja Piala Dunia yang sekarang lagi demam. Dalam delapan tahun terakhir juaranya selalu berbeda. Memang ada juga juara berturut-turut. Real Madrid misalnya, menjuarai Liga Champions (gelaran terakhir minggu lalu) tiga kali berturut-turut dalam tiga tahun terakhir. Rudy Hartono bisa menjuarai kejuaraan bulu tangkis All England tujuh kali berturut-turut. Tapi, itu sangat langka.

Saya sendiri merasa kesulitan untuk menjaga konsistensi. Sering kebosanan terjadi justru ketika hasilnya selalu baik. Yang saya amati pada karyawan juga demikian. Kadang-kadang sembrono karena merasa toh hasilnya tidak jelek. Sering ngentengke perkoro (menganggap ringan) ketika masih gampang. Ini semua adalah penyakit.

Bagaimana menyembuhkannya? Sulitnya minta ampun. Jangankan sekadar hadiah yang tidak seberapa besar nilainya. Hadiah lebih baik dari seribu bulan saja diabaikan. Jangan heran kalau di perusahaan bonus sering tidak berpengaruh. Kenaikan gaji  berjalan begitu saja. Insentif hanya membuat orang gembira. Tunjangan memenuhi keinginan saja.

Lihat saja di lingkup pegawai negeri. Apakah tunjangan sertifikasi serta-merta membuat para guru semakin rajin?. Ini jugalah yang terjadi pada Tunjangan Hari Raya (THR) sampai akhirnya menjadi kewajiban. Dan, ketika sudah menjadi kewajiban, kadang-kadang malah menjadi beban. Saya pun akan mengeluarkan THR itu tanpa berharap apa-apa.

Saya hanya berharap Radar Kudus yang tanggal 3 Juni kemarin berulang tahun ke-16 bisa  terus berkembang. Namun harapan itu tidak bisa muluk-muluk juga. Khawatir salah ekspektasi. Maka ulang tahun kami peringati biasa-biasa saja. Sederhana. Hari ini hanya potong tumpeng. Yang penting adalah bersyukur. Inilah yang kami yakini bisa semakin meningkatkan hasil kelak. Lain syakartum la-azidannakum  (Qur’an surat Ibrahim ayat 7). Artinya, jika kamu bersyukur maka akan aku tambah (nikmat) kepadamu.

Kami berterima kasih kepada relasi yang banyak mengirim karangan bunga sampai halaman kami penuh. Matur nuwun juga kepada mitra yang mengirim kue tart. Kepada tamu-tamu yang meluangkan kesempatan untuk datang ke kantor. Semua sebagai penyemangat agar kami tidak bosan, tidak lengah, dan tetap konsisten berbuat. Berdisiplin dalam mengekplorasi kreativitas.

Semoga di ulang tahun ke-16 Radar Kudus semakin baik dan tumbuh semakin besar sesuai moto kami Be Better Be Greater. (hq@jawapos.co.id)ormaTerima kasih yangTt

 

]]>
Ali Mustofa Mon, 04 Jun 2018 14:35:48 +0700
<![CDATA[Ulang Tahun Penuh Berkah selagi Prihatin]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/04/78709/ulang-tahun-penuh-berkah-selagi-prihatin https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/04/ulang-tahun-penuh-berkah-selagi-prihatin_m_78709.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/04/ulang-tahun-penuh-berkah-selagi-prihatin_m_78709.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/04/78709/ulang-tahun-penuh-berkah-selagi-prihatin

Hari ini, 3 Juni 2018, Jawa Pos Radar Kudus genap berusia 16 tahun. Karyawan baru merayakannya besok. Justru masyarakat yang sudah gegap gempita memberi ucapan.]]>

Hari ini, 3 Juni 2018, Jawa Pos Radar Kudus genap berusia 16 tahun. Karyawan baru merayakannya besok. Justru masyarakat yang sudah gegap gempita memberi ucapan.

Di tengah berkumandangnya azan subuh kemarin pagi, ada sebuah pesan Whatsapp masuk ke handphone saya. Saya intip. Tercatat pukul  04.14 (subuh di tempat saya pukul 04.20). Pengirimnya Bayu Andriyanto SE. Jabatan wakil Bupati Rembang.

Melihat pengirimnya orang nomor dua di Kota Garam, saya membukanya. Isinya, ucapan, doa, dan harapan. Cukup panjang. 68 kata. Saya petikkan sebagian, ‘’Kepada Jawa Pos Radar Kudus yang merayakan ulang tahun ke-16, semoga bisa menjadi media yang andal, independen, akurat, dan terpercaya, sehingga mampu mencerdaskan pembaca. Dan, semakin bertambah umur juga semakin berkah.’’

KADO: Manajer Iklan Heny Susilowati mengenakan seragam baru sebagai hadiah ulang tahun ke-16 Radar Kudus. (RADAR KUDUS PHOTO)

Ucapan Bayu tersebut disampaikan melalui link khusus https://goo.gl/MPmk8J yang baru kami buka malam harinya. Dalam resume tercatat nomor 53. Setelah itu disusul ucapan-capan lain. Hingga azan magrib kemarin sore saja sudah 100 lebih.

Banyak komentar, saran, dan harapan yang baik. Pujianto, seorang pelanggan mengatakan, ‘’Sangat baik, kreatif, positif beritanya. Good news is good news. Mohon ditambah pemberitaan yang kritis.’’ Dia adalah direktur Rumah Sakit Mardi Rahayu Kudus.

Seorang pembaca lain mengatakan, beritanya bagus tapi hanya sedikit. ‘’Sebaiknya lembarannya ditambah,’’ saran Kukuh Setiawan. Saran ini sudah kami tindaklanjuti dengan menambah halaman pada hari-hari tertentu. Kami juga akan memperbanyak lagi berita-berita olahraga seperti yang disarankan Murni, ketua Federasi Aero Sport Indonesia (FASI) Kabupaten Kudus.

Seorang guru bukan hanya mengapresiasi produk, melainkan juga peran Radar Kudus. ‘’Terima kasih atas kerjasamanya dalam pelatihan menulis artikel,’’ kata Suparwati, seorang guru SD. Kemungkinan dia adalah salah satu peserta pelatihan guru menulis di Lasem, Rembang, beberapa waktu lalu. Itu pelatihan pertama yang segera disusul pelatihan berikutnya. Baik di Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobgan.

Komentar, ucapan, doa, dan harapan lain disampaikan melalui berbagai media. Seperti Whatsapp, Facebook, Twiter, dan Instagram. Pengirimnya dari berbagai kalangan. Ada yang pejabat pemerintah, pegawai negeri, direktur perusahaan, karyawan, ibu rumah tangga, orang awam, pembaca, pelanggan, pembeli koran eceran, agen, dan loper.

Mantan Sekda Kudus Noor Yasin menjapri saya pukul 11.51 kemarin. ‘’Selamat ulang tahun ke-16 Radar Kudus. Semoga makin jaya, dapat meningkatkan peran sebagai media informasi dan pembelajaran masyarakat,’’ kata calon wakil bupati Kudus itu.

Ucapan lain disampaikan melalui karangan bunga. Sampai menjelang maghrib kemarin saja sudah ada 17 buah. Bagi kami tentu sangat membanggakan. Apalagi, kabarnya masih ada yang menyusul hari ini. Tentu kami sangat berterima kasih.

Ada juga mitra yang ingin memberi kejutan. Mereka sudah mengontak kami untuk berkunjung Senin besok saat kami open house. Antara lain Simoeh, Aqualux, At Hom Hotel, dan Griptha Hotel. Entah apa kejutannya, kami belum mendapat bocoran.

Senin sore besok seluruh karyawan berkumpul untuk merayakan ulang tahun ke-16 tersebut. Perayaannya sederhana. Malaikatan alias tidak makan dan tidak minum. Maklum bulan Puasa. Potong tumpeng baru dilakukaan saat berbuka puasa.

Bagi kami ulang tahun di saat umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa itu sesuatu banget. Inilah bulan yang penuh berkah. Setiap maghrib kami menggelar buka puasa bersama karyawan. Di semua kantor. Kudus, Jepara, Pati, Rembang, dan Grobogan. Maklum, kerja wartawan dari pagi sampai malam. Saat maghrib mereka tak sempat pulang.

Bulan Puasa sangat baik untuk introspeksi. Kami pun melakukannya. Kami menyadari kondisi sekarang amat sulit. Sangat memprihatinkan. Kami dituntut untuk eksis di saat sedang tumbuh-kembangnya media digital dan media sosial. ‘’Semoga Radar Kudus menjadi media yang independen,’’ harap S.Y. Nisfuadi SH, seorang pembaca Radar Kudus.

Karena berada pada situasi yang sulit itu, kami tidak menggelar ulang tahun besar-besaran. Meski demikian, kami tetap menyiapkan kado. Baju baru. Biar seperti kebanyakan orang menjelang Idul Fitri (sebenarnya Idul Fitri tidak identik dengan pakaian baru). Baju ini terinspirasi bulan suci dan Idul Fitri. Warnanya putih. Harapannya hati kami bersih. Karena koran dituntut untuk netral.

Acara yang agak besar baru kami laksanakan 13 Juli nanti. Pemberian penghargaan kepada pihak-pihak yang dinilai memiliki peran dalam pembangunan dan pengembangan masyarakat. ‘’Semoga Radar Kudus semakin jaya dan selalu dirindu oleh pembaca,’’ kata Nur Inayah, guru SMAN 1 Lasem. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 04 Jun 2018 09:06:59 +0700
<![CDATA[Renungan Harga di Malam Nuzulul Quran]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/02/78236/renungan-harga-di-malam-nuzulul-quran https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/01/renungan-harga-di-malam-nuzulul-quran_m_78236.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/06/01/renungan-harga-di-malam-nuzulul-quran_m_78236.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/06/02/78236/renungan-harga-di-malam-nuzulul-quran

Catatan direktur tentang perubahan harga Jawa Pos Radar Kudus di momen Nuzulul Quran.]]>


TADI malam, bertepatan malam 17 Ramadan (1 Juni 2018) seluruh umat Islam memperingati malam Nuzulul Quran. Yaitu malam di mana kali pertama diturunkan wahyu dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Jawa Pos Radar Kudus merasa mendapat banyak hikmah dari peringatan tersebut. Lebih-lebih lusa (3 Juni 2018) Radar Kudus memperingati HUT ke-16.

Lima ayat dalam surat Al-Alaq yang diturunkan kepada Nabi Muhammad pada malam 17 Ramadan di Gua Hira’ berisi pelajaran tentang membaca. Bahkan, kata pertamanya berbunyi iqro’ yang artinya bacalah. Iqro’ bismirobbikalladzi kholaq (bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan).

Sehari sebelum malam Nuzulul Quran, Kamis (31/5), saya beserta seluruh karyawan merenung. Terutama kami telah berkali-kali mendapat ujian. Awal tahun ini saja terjadi dua kenaikan biaya cetak koran. Total sekitar sembilan persen. Itu dikarenakan harga kertas yang terus melambung. Juga harga tinta serta biaya-biaya lain.

Sebagai media mainstream kami ingin terus hidup. Apalagi masyarakat juga mengharap demikian. Mereka membaca Jawa Pos karena ingin mendapatkan berita-berita yang terpercaya di tengah maraknya peredaran informasi hoax yang menyesatkan. Sementara itu, biaya untuk hidup semakin mahal.

Kami sudah berusaha mengatasinya dengan berbagai cara. Efisiensi kami lakukan semaksimal mungkin. Sehingga kami bisa menahan kenaikan harga. Sebaliknya, malah menurunkan. Penurunan harga Jawa Pos Radar Kudus itu berlaku 15 Januari 2018. Dari Rp 5.000 menjadi Rp 4.500 (harga banderol). Caranya dengan menghilangkan konten-kontan yang kurang diperlukan.

Kebijakan itu berpengaruh baik. Terbukti tidak terjadi gejolak di pasar. Meski demikian kami terus memantau perkembangan, terutama aspirasi pelanggan. Kesimpulannya, banyak pelanggan yang menyarankan agar harga tidak diturunkan. Justru, kualitas ditingkatkan. Isi diperbanyak.

Memang, berat memenuhi tuntutan pembaca tersebut. Tetapi, kemarin malam seolah ada energi baru merasuk ke relung-relung tubuh. Kami hayati betul ayat demi ayat yang dibacakan malaikat Jibril di Gua Hira’. Di musala kampung saya yang jamaah tarawihnya tinggal separo dibanding hari pertama puasa, ayat ini dikupas tuntas. Iqro’ warobbukal-akrom. Allazii allama bil-qolam (Bacalah. Dan, tuhanmulah yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena (Al-Alaq ayat 3-4).

Surat Al-Alaq memberikan semangat kepada kami untuk berupaya keras menyediakan bacaan yang berkualitas. Menyosialisasikan yang baik itu baik. Mengetengahkan good news is good news. Bahkan, selama Ramadan ini Radar Kudus membuka rubrik khusus ”Jalan ke Surga”. Berisi informasi yang berkaitan keagamaan. Di dalamnya ada juga rubrik Ngaji Berbahasa Jawa.

Kami ingin memenuhi perintah yang terkandung dalam wahyu tersebut. Allamal-insana ma lam ya’lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya) (Al-Alaq ayat 5).

Semangat Nuzulul Quran itu memberikan keyakinan kepada kami akan langkah-langkah yang harus kami tempuh. Yaitu menyesuaikan harga banderol koran lagi. Menjadi Rp 5.000 lagi. Tentu saja dengan konten yang mudah-mudahan lebih berkualitas, lebih beragam, dan lebih banyak. Seperti harapan pembaca. Penyesuaian tersebut berlaku mulai 1 Juni 2018 bertepatan peringatan Nuzulul Quran dan Hari Kelahiran Pancasila.

Reaksi atas kebijakan tersebut beragam. Kami telah menurunkan tim ke lapangan untuk memantaunya. Syukur alhamdulillah. Intinya bisa menerima. Malah ada yang bilang, ‘’Kalau tidak berubah, itu tidak Jawa Pos.’’ Sungguh melegakan. Namun, ada juga yang nggerundel. ‘’A mudun a munggah. Yo wis, terserahlah (turun, naik. Ya sudah, terserah).’’

Reaksi agen juga hampir sama. Saikun, salah seorang mengatakan, ‘’Halah mbolak-balik, mending wingenane gak usah didunke. Marahi bingung ae (Halah, bolak-balik. Lebih baik kemarin-kemarin tidak usah diturunkan. Bikin bingung saja).’’

Ada juga yang lebih keras. Misalnya, ‘’mencla-mencle (tidak konsisten).’’  Semua kami tampung. Semua kami cerna. Kami bisa menerimanya. Berbisnis memang harus dinamis. Berdagang memang harus berubah. Mencoba dan gagal lebih baik daripada gagal mencoba.

Di momen HUT ke-16 ini, Radar Kudus juga membuka ruang komentar apa saja, terutama kritik dan saran untuk perbaikan koran ini. Silakan buka https://goo.gl/7PB334. Kemudian isi dan kirim. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Sat, 02 Jun 2018 07:15:59 +0700
<![CDATA[Bangga Menjadi Orang Daerah]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/28/77111/bangga-menjadi-orang-daerah https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/05/28/bangga-menjadi-orang-daerah_m_77111.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/05/28/bangga-menjadi-orang-daerah_m_77111.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/28/77111/bangga-menjadi-orang-daerah

HARI ITU, 22 Mei 2018. Saya sengaja meluangkan waktu bertarawih bersama Bupati Kudus Musthofa. Rencana sudah matang. Berangkat lebih awal dari biasanya.]]>

HARI ITU, 22 Mei 2018. Saya sengaja meluangkan waktu bertarawih bersama Bupati Kudus Musthofa. Rencana sudah matang. Berangkat lebih awal dari biasanya. Namun, masih saja terlambat. Saya tiba di lokasi tarkhima (tarawaih dan silaturrahmi bersama) persis ketika imam mengucap salam menandai berakhirnya salat isya.

Tentu saja saya dan wartawan Agus Sulistiyanto mendapat sof (baris) paling belakang pada deretan jamaah pria. Usai salat berjamaah berdua, baru kami beranjak agak ke depan. Dapatlah sof di teras musala Khurriyatul Fikri di Pasuruhan Lor, Kudus. Lumayan. Musalanya tidak besar. Kami bisa melihat Pak Mus di barisan pertama jamaah salat. Bahkan bisa melihat imam.

Usai tarawih ada komando jamaah bagian depan membentuk lingkaran oval. Pak Mus sebaris dengan imam dan para pejabat di lingkungan pemkab menghadap ke jamaah, termasuk saya. Begitu mengetahui saya mengikuti tarhima, Pak Mus meminta agar saya duduk di sebelahnya. Barokallah. Saya tak bisa menolak.

Perasaan tak karuan. Bingung, bangga, takut, malu, salah tingkah, menjadi satu. Selagi nervous belum hilang Pak Mus memperkenalkan saya di hadapan jamaah. “Ini direktur Radar Kudus. Yang punya koran Radar Kudus,” kata Pak Mus. Padahal, saya ini siapa. Saya hanya karyawan yang didapuk memimpin Jawa Pos Radar Kudus.

“Kehadiran Pak Baehaqi membuktikan sinergi Pemerintah Kabupaten Kudus dengan media,” tambah Pak Mus. Saya terharu. Bangga. Betapa kehadiran saya yang tidak masuk dalam daftar peserta tarkhima mendapat perhatian luar biasa dari bupati. “Pak Baehaqi saya minta untuk menyerahkan bantuan juga,” ujarnya lagi. Saya semakin bingung lagi.

Malam itu, Pak Mus membawa bantuan senilai Rp 319 juta. Untuk hibah sarana dan prasarana pendidikan, bantuan taman pendidikan Alquran (TPQ), bantuan bedah rumah, dan santunan kematian. Saya betul-betul diberi kesempatan menyerahkan bantuan itu. Demikian juga di hari berikutnya ketika tarhima di musala MI NU 01 Purwosari.

Setiap malam selama Ramadan Musthofa berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Untuk bertarawih dan bersilaturrahmi bersama masyarakat. Tempatnya tidak di masjid besar, melainkan di musala-musala kecil. Dalam kesempatan itu pula Musthofa selalu mengucurkan bantuan. Pernah semalam menebar Rp 600 juta. Seperti ketika tarhima di Besito.

Tarawaih keliling yang dilakukan bupati Kudus juga dilakukan bupati-bupati lain.  Sebut saja Bupati Pati Haryanto, Bupati Rembang Abdul Khafid, Bupati Blora Joko Nugroho, Bupati Grobogan Sri Sumarni. Apalagi Bupati Jepara Marzuki yang memang mubaligh. Saya sebenarnya ingin mengikuti semua. Tetapi kesempatan yang tidak memungkinkan.

Dari mengikuti tarhima Pak Mus, saya mendapat banyak pelajaran. Antara lain silaturrahmi. Menyatunya pemimpin dan rakyatnya. Dalam kesempatan beribadah, itu tidak dibuat-buat. Takbir, berdiri, rukuk, sujud, dan salam. Harus mengikuti imam sebagaimana makmum lainnya. Setelah itu, mereka duduk lesehaan ngobrol bareng tanpa batas.

Pak Mus betul-betul memanfaatkan bulan Ramadan untuk mendekatkan diri pada Allah dan pada rakyatnya. Karena itu, yang diusung adalah bantuan sarana dan prasarana peribadatan, pendidikan dan sosial. Di Kudus yang agamis, hal itu sangat penting. Inilah fondasi Kudus yang dibangun oleh Kanjeng Sunan Jakfar Shodiq (Sunan Kudus) dan Kanjeng Sunan Umar Said (Sunan Muria).

Gusjigang (bagus, ngaji, dan berdagang) adalah ajaran Sunan Kudus. Kang Mus menghayati betul semboyan itu. Untuk itu, selain memperkuat fondasi pendidikan dan keagamaan, dia juga memperkokoh ekonomi kerakyatan. Sampai-sampai Pak Mus dijuluki Bapak PKL (pedagang kaki lima). Beliau juga tokoh UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah).

Saat dandangan (acara menyambut Ramadan), kepeloporan Pak Mus itu ditunjukkan. Meskipun dikritik berbagai pihak, dia kukuh. Dandangan telah digelar mulai dari Perempatan Jember sampai alun-alun.  Sekitar dua kilometer. “Kalau perlu nanti diperpanjang mulai dari Prambatan sampai Pasar Kliwon,” katanya. “Itulah kesempatan pestanya rakyat kecil,” tambahnya.

Memang setiap kali dandangan digelar, kemacetan terjadi di mana-mana. Karena, pusat kota harus ditutup. Untuk melintasi perempatan Jember saya pernah merayap sekitar sejam. Pak Mus menyadari hal itu. Tetapi, sepanjang hal itu menguntungkan masyarakat kecil, Pak Mus tidak akan menghentikannya.

Dandangan sudah menyatu dengan masyarakat Kudus. Dandangan adalah refleksi dari Gusjigang. Demikian juga tarawih dan silaturrahmi. Pak Mus telah melestarikannya. Dia ingin menjadi orang Kudus banget. Suatu prinsip yang harus diterapkan di semua daerah. Masyarakat beserta pimpinannya harus bangga menjadi orang daerah itu. Apapun kondisinya.

Saya yang bukan warga Kudus (menurut e-KTP) bangga menjadi orang Kudus. Lebih suka tinggal di Kudus, meskipun saya juga menjadi direktur Radar Semarang. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 28 May 2018 12:59:45 +0700
<![CDATA[Perangi Hoax, Batasi Gerak Teroris]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/21/74986/perangi-hoax-batasi-gerak-teroris https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/05/20/perangi-hoax-batasi-gerak-teroris_m_74986.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/05/20/perangi-hoax-batasi-gerak-teroris_m_74986.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/21/74986/perangi-hoax-batasi-gerak-teroris

Catatan tentang informasi hoax dan aksi terorisme yang sedang marak.]]>

 

Rasanya lega sekali ketika mendengar Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono mencabut status siaga satu. Itu berarti ketegangan akibat serangan bom di Surabaya sudah mereda. Situasi tak menakutkan lagi. Sudah kembali kondusif. Umat Islam bisa menjalankan ibadah dengan tenang. Demikian juga umat agama lain.

LAWAN HOAX: Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning didampingi Direktur Radar Kudus Baehaqi (kanan) saat membuka Student Festival 2018 di Auditorium UMK (13/5). (donny setyawan/radar kudus)

Jawa Tengah memang tidak termasuk sasaran bom yang membabi buta. Tetapi bukan berarti harus tenang-tenang saja. Beberapa wilayah di Jawa Tengah pernah dipakai untuk bersembunyi para teroris. Semarang, Solo, Kudus, dan beberapa daerah lain. Noordin M. Top, salah satau gembong teroris, ditangkap di Jebres, Solo, 2009.

Meski gembong teroris Noordin M. Top dan Dr. Azhari telah tewas, jaringannya terus bergerak. Hari Minggu lalu (13 Mei) mereka melakukan serangan di Surabaya. Di depan tiga gereja dan di depan Mapolrestabes Surabaya. Saya yang waktu itu di Surabaya merasakan betapa menegangkannya situasi saat itu.

Teman-teman mengirim pesan agar saya tidak ke mana-mana. Anak-anak saya juga demikian. ‘’Bapak kan wartawan. Masak ada bom malah kamu minta di rumah saja,’’ jawab saya kepada anak-anak yang berkumpul di depan televisi. Sehari itu situasi di depan televisi sangat menegangkan, sama dengan di luar. Tetapi, alhamdulillah saya aman-aman saja.

Ketegangan segera merasuk ke seluruh wilayah. Termasuk di Jawa Tengah. Apalagi setelah itu Mapolda Riau juga diserang. Seluruh kapolda memberlakukan status siaga satu. Saya bisa membayangkan betapa risaunya Kapolda Jateng Irjen Condro Kirono. Demikian juga Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Wuryanto. Di pundak keduanya keamanan Jawa Tengah bertumpu.

Tiga hari sebelum bom meledak, saya bertemu kapolda dan pangdam. Dalam satu meja. Dalam acara pemberian penghargaan oleh Jawa Pos Radar Semarang. Sebelumnya, saya bersilaturahmi ke kantor masing-masing. Saya merasakan keramahannya. Namun, ketika bom meledak saya merasakan ketegangannya.

Jangankan bom meledak, Merapi erupsi saja mereka tegang. Kebetulan Jumat, 11 Mei 2018, ketika Merapi erupsi saya sedang di kantor pangdam. Pertemuan saya tertunda karena beliau sibuk mengoordinasi anak buahnya untuk melakukan pengamanan. Saat itu juga kapolda melakukan hal yang sama.

Baik pangdam maupun kapolda memiliki pandangan yang sama tentang keamanan. Yaitu, bertumpu di masyarakat. Karena itu, peran babinkamtibmas (polisi) dan babinsa (AD) menjadi sangat vital. ‘’Kalau mau menulis, tulis mereka. Banyak pengalaman menarik yang bisa diungkap di media massa,’’ kata pangdam dengan tersenyum.

Kapolda juga memiliki pandangan senada. Beliau pernah menjadi Dirlantas Polda Jatim 2007. Saat itu Condro banyak melahirkan gerakan patuh berlalu lintas berbasis masyarakat. Antara lain lajur kiri, klik on, light on, dan sebagainya. Kebetulan di lingkungan Polda Jatim juga dilaksanakan Cipta Kampung Aman (CKA). Yaitu sistem keamanan berbasis masyarakat kampung.

Kini CKA mengemuka lagi. Sampai-sampai kapolda berpendapat orang-orang yang tak bersosialisasi di lingkungannya patut dicurigai. Karena, menurut pengalaman, para pelaku aksi terorisme adalah mereka yang hidup menyendiri di tengah keramaian masyarakat. Nah, yang tahu kondisi mereka adalah para tetangganya.

Meski menyendiri, mereka bisa ‘’bergerak’’ bebas. Kini sistem komunikasi sangat mendukung. Mereka bisa berkomunikasi dengan jaringannya tanpa harus keluar rumah. Mereka juga bisa menyebarkan ‘’ajarannya’’ tanpa bertatap muka. Mereka bisa belajar merakit dan mengebom hanya lewat komputer.

Mereka bisa merasuki kita lewat pesan-pesan yang disebarkan melalui berbagai media. Khususnya media sosial. Apalagi, sekarang nyaris semua orang menggunakan media tersebut. Informasi yang mereka tangkap tak terbatas. Berita palsu (hoax) pun sering ditelan mentah-mentah oleh masyarakat. Para ekstremis memanfaatkan kondisi tersebut.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning termasuk yang merisaukan ganasnya berita hoax. Berita-berita hoax itu sangat menyesatkan. Dan, kemungkinan juga dimanfaatkan oleh para teroris. Melalui Student Festival di Universitas Muria Kudus (13 Mei 2018) dia mengajak untuk memerangi hoax. Acara itu digelar oleh Jawa Pos Radar Kudus bekerja sama dengan Polres Kudus. Lomba yang digelar ada enam. Untuk pemenang mading 3D, pentas seni (pensi), dan suporter sudah diumumkan usai acara. Sedangkan juara lomba reportase, fotografi, dan vlog diumumkan Rabu lusa (23 Mei 2018). (hq@jawapos.cp.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 21 May 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Jangan Bom yang Meledak, Hati Kamu Saja]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/14/72931/jangan-bom-yang-meledak-hati-kamu-saja https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/05/13/jangan-bom-yang-meledak-hati-kamu-saja_m_72931.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/05/13/jangan-bom-yang-meledak-hati-kamu-saja_m_72931.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/14/72931/jangan-bom-yang-meledak-hati-kamu-saja

Catatan tentang ledakan bom, berita hoax, dan festival pelajar.]]>

KABAR itu begitu mengejutkan. Serentetan ledakan bom terjadi di Surabaya. Saya menerimanya pukul 07.41. Saat itu sedang menuju aula Universitas Muria Kudus, tempat berlangsungnya Student Festival.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning juga otewe (baca OTW alias on the way). Beliau bermanuver. Mengoordinasi anak buahnya. Memastikan situasi aman dan terkendali.

Sempat saya mengira, kabar tersebut hoax. Kalau begitu harus kita lawan. Kebetulan tema Student Festival yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Kudus kali ini Lawan Hoax. Acara itu diselenggarakan Jawa Pos Radar Kudus bekerja sama dengan Polres Kudus dan Universitas Muria Kudus.

Sambil mencari kepastian, kabar terus membanjir. Ternyata informasi benar. Saya semakin geleng-geleng kepala. Surabaya yang selama ini aman tenteram diguncang aksi terorisme. Rektor Universitas Muria Kudus Suparnyo yang sudah hadir di tempat acara ikut heran. Demikian juga Kepala Dinas Kominfo Kudus Kholid Seif dan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Joko Susilo.

Kapolres yang hanya sedikit terlambat dari jadwal menyesalkan kejadian tersebut. Di atas mimbar ketika memberi sambutan dia mengutuk aksi yang ingin merusak ketenteraman umat beragama. Serentetan bom meledak di beberapa tempat di sekitar gereja. Ketika umat Nasrani sedang melakukan Misa. Sementara itu, umat Islam sedang menyongsong datangnya bulan suci Ramadan.

Usai membuka acara, kapolres berkeliling wilayah lagi. Situasi betul-betul aman. Student Festival yang melibatkan sekitar 250 anak dari berbagai sekolah di Kudus dan sekitarnya berjalan sesuai rencana. Dandangan menyambut Ramadan di sekitar Menara Kudus tetap meriah. Demikian halnya Dugderan di Kota Lama Semarang. Semua tak terpengaruh.

Teror itu sudah pasti bukan hanya ditujukan kepada umat beragama tertentu. Melainkan, diarahkan kepada seluruh bangsa ini. Itu juga bukan aksi umat beragama tertentu. Itu aksi terorisme yang ingin merusak ketenteraman hidup bebangsa dan bernegara. Karena itu, sudah selayaknya kita tidak terpengaruh.

Khususnya bagi umat Islam, peristiwa yang terjadi kemarin adalah ujian. Sekarang umat lagi bersiap menyambut bulan suci Ramadan. Bulan di mana umat Islam diajari untuk mengendalikan diri dari segala hawa nafsu. Bulan di mana umat harus santun. Baik kepada Allah, sesama umat manusia, maupun kepada dirinya sendiri.

Di saat sedang berpuasa itu ada musuh yang jauh lebih besar. Yaitu diri sendiri. Melawan hawa nafsu. Inilah yang sangat sulit. Kita semua tahu di saat sebagian besar penduduk negeri ini sedang tidak makan sehari selama sebulan, ternyata kebutuhan bahan pokok meningkat pesat. Harga di pasar pun melambung tinggi.

Memang ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa. Yaitu ketika berbuka dan saat berjumpa dengan Allah kelak. Itu bukan berarti berbukanya harus balas dendam. Mestinya berbuka sekadar menjaga kesehatan agar tetap bisa beribadah. Maka selayaknya sepertiga perut itu makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara. Jadi, harus tetap irit.

Kadang-kadang saya merasa sangat aneh. Di saat orang berpuasa kebutuhan makanan justru tinggi. Di mana-mana orang berjualan laris manis. Mestinya sebaliknya. Justru turun drastis.

Hari-hari belakangan ini di semua daerah terjadi kemacetan. Kemarin malam saya kesulitan membelah kota Kudus. Sehari sebelumnya harus merayap di Semarang. Bahkan di kota kecil Demak. Itu terjadi karena semata-mata volume kendaraan yang meningkat. Kondisi ini sudah klasik. Menjelang puasa banyak orang membanjiri pusat-pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan Ramadan nanti.

Bila kita bisa melawan diri sendiri, tentu akan lebih mudah melawan terorisme. Karena, inti hidup berbangsa dan bernegara ini adalah empati. Saling menghargai. “Terorisme itu berkembang karena radikalisme,” kata Kapolres Kudus Agusman Gurning. Saya menambahi, radikalisme itu bermula dari fanatisme yang berlebihan.

Mari kita lawan aksi terorisme itu. Namun, dengan cara-cara yang santun. Dengan membuka hati. Dengan kerja sama antarumat beragama. Jangan bom yang meledak. Hati kamu saja. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 14 May 2018 07:00:59 +0700
<![CDATA[Jangan Pelit Memberikan Apresiasi walau Sekadar Memuji]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/07/71141/jangan-pelit-memberikan-apresiasi-walau-sekadar-memuji https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/05/06/jangan-pelit-memberikan-apresiasi-walau-sekadar-pujian_m_71141.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/05/06/jangan-pelit-memberikan-apresiasi-walau-sekadar-pujian_m_71141.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/05/07/71141/jangan-pelit-memberikan-apresiasi-walau-sekadar-memuji

Di lingkungan apapun apresiasi itu penting. Di keluarga, perusahaan, instansi, dan masyarakat.]]>

KABAR itu beredar secara berantai. Bukan hoax. Itu fakta. Sumbernya Komandan Kodim 0718/Pati Letnan Kolonel (Arm) Arif Darmawan S.Sos, MM. Mula-mula disampaikan kepada kepala Biro Jawa Pos Radar Kudus di Pati. Kemudian masuk grup WA. Akhirnya sampai pada saya.

Isinya? “Kami beserta keluarga besar Kodim 0718/Pati mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan, dukungan, dan kerja sama Mas Rochim beserta manajemen Jawa Pos, sehingga kami dapat meraih prestasi sebagai juara II dalam pelaksanaan TMMD reguler dari perwakilan 50 Kodim se-Indonesia. Salam hormat kami untuk keluarga dan seluruh manajemen Jawa Pos.”

Inti dari kalimat dandim tersebut adalah apresiasi. Dandim mengapresiasi dukungan dan kerja sama Jawa Pos Radar Kudus. Kenapa? Jawa Pos Radar Kudus mengapresiasi upaya-upaya yang dilakukan Kodim Pati dalam mengembangkan masyarakat melalui pemberitaan-pemberitaannya. Akhirnya, upaya kodim tersebut mendapat apresiasi Mabes AD sebagai juara.

Kodim Pati yang diapresiasi oleh Mabes AD semakin bersemangat. Sama halnya dengan Kodim 0717/Purwodadi yang tahun lalu juga meraih juara di bidang yang sama. Kodim itu juga bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Kudus untuk memberitakan kegiatan-kegiatannya.

Sekarang lagi gencar-gencarnya orang memberikan apresiasi. Lihat saja. Di mana-mana ada wisuda. Sekarang saatnya wisuda anak-anak yang lulus SMA dan sederajat. Sebentar lagi lulusan SMP. Disusul kemudian lulusan SD, TK, dan kelompok bermain. Mereka pun bangga apabila wisuda mereka juga diapresiasi di media massa. Dan, Jawa Pos Radar Kudus serta Radar Semarang yang saya pimpin memberi ruang untuk mereka.

Sabtu lalu saya mendampingi wisuda anak ragil. Lama sekali. Mulai dari pukul 08.00 sampai hampir 13.00. Acaranya resmi. Sidang guru. Mereka dijemput oleh pasukan yang dipimpin oleh siswa berkarakter wayang. Kemudian ada sambutan-sambutan. Oleh enam orang. Dan, yang paling lama adalah pemberian sampul ijazah. Ijazahnya sendiri belum jadi. Yang penting, semua senang.

Bukan hanya anak-anak sekolah yang perlu apresiasi. Aparat dan tokoh-tokoh masyarakat pun butuh penghargaan. “Polisi yang telah bekerja dengan baik juga perlu diapresiasi,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian ketika menyerahkan Police Award di Mapolda Jateng bulan lalu. Kebetulan saya juga diundang. Pemrakarsanya Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono.

Menurut rencana, hari ini saya bertemu Pak Condro di Mapolda Jateng juga dalam rangka apresiasi. Jawa Pos Radar Semarang akan memberikan apresiasi kepada 30 orang yang layak disebut inspirator bagi masyarakat. Salah satu di antaranya Condro Kirono tersebut. Acaranya sendiri akan digelar 11 Mei di Hotel Aston Semarang.

Jawa Pos Radar Kudus yang saya pimpin juga berencana memberikan apresiasi. Kepada para bupati atas keberhasilannya. Juga person-person atas jasa-jasanya. Menurut rencana, penghargaan akan diberikan 13 Juli nanti di Hotel Griptha. Sekarang lagi digodok nominasinya.

Apresiasi itu sebagai penghargaan terhadap aktualisasi diri. Dalam teori kebutuhan Maslow, aktualisasi itu termasuk kebutuhan dasar manusia. Penghargaan bisa macam-macam. Bisa dengan kata-kata. Emoticon seperti yang banyak di WA. Reaksi anggota tubuh. Juga pemberian hadiah. Ucapan terima kasih juga apresiasi. Yaitu penghargaan kepada pihak yang memberikan apresiasi.

Di lingkungan apapun apresiasi itu penting. Di keluarga, perusahaan, instansi, dan masyarakat. Bukan sekadar membangkitkan semangat, tetapi bisa meningkatkan kinerja. Maka, jangan pelit memberikan apresiasi.

Apresiasi bisa diberikan dalam berbagai bentuk. Yang sederhana, misalnya, sekadar sanjungan. Kepada anaknya yang mengurus dirinya sendiri, seorang ibu mengatakan, “Aduh, pinternya anakku.” Seorang bos memuji, “Kau cantik sekali hari ini,” kepada karyawannya yang hari itu menyelesaikan pekerjaan dengan baik walaupun penampilannya kusut. Yang lebih sederhana lagi, ya, dengan jempol. Di WA sudah disediakan banyak emoticon.

Apresiasi yang lebih tinggi adalah dengan memberikan penghargaan. Bisa hanya dengan pemberian predikat atau disertai hadiah. Inilah yang disebut reward. Biasanya diukur dari sisi produktivitas. Di perusahaan diukur dengan pencapaian omzet, laba, atau indikator lainnya.

Repotnya, kalau perusahaan belum mencapai hasil yang diinginkan tetapi karyawan sudah bekerja dengan baik. Inilah yang saya hadapi sekarang. Ingin memberikan bonus tetapi omzet dan laba belum mencapai proyeksi. Lantas apa ukuran memberikan bonus itu. Apakah kalau bonus diberikan, omzet dan laba bisa meningkat?

Pilihannya sungguh sulit. Saya mencoba berkaca pada perusahaan-perusahaan multinasional yang memberikan banyak fasilitas kepada karyawannya. Google bisa meningkatkan produktivitas karyawan dengan berbagai fasilitas yang wah. Saya tidak bisa meniru. Perusahaan Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang yang saya pimpin belum besar. Tetapi, saya bisa mengambil semangatnya.

Saya yakin karyawan juga memiliki hati. Mereka juga akan mengapresiasi tindakan yang dilakukan perusahaannya. Mudah-mudahan dengan bonus atas proses kerjanya yang baik, bisa meningkatkan produktivitas. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 07 May 2018 07:30:59 +0700
<![CDATA[Kabar Baru dari Nielsen Menghapus Kegalauan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/30/69044/kabar-baru-dari-nielsen-menghapus-kegalauan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/30/kabar-baru-dari-nielsen-menghapus-kegalauan_m_69044.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/30/kabar-baru-dari-nielsen-menghapus-kegalauan_m_69044.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/30/69044/kabar-baru-dari-nielsen-menghapus-kegalauan

Pembaca Jawa Pos rebound. Kuartal I 2018 hampir menyentuh angka sejuta. Itu menguatkan posisi sebagai koran dengan pembaca terbanyak di Indonesia.]]>

Pembaca Jawa Pos rebound. Kuartal I 2018 hampir menyentuh angka sejuta. Itu menguatkan posisi sebagai koran dengan pembaca terbanyak di Indonesia.

 KABAR itu sungguh menggembirakan bagi kami. Waktu membaca koran ternyata tidak terpengaruh oleh penggunaan internet yang meningkat tajam. Sumbernya dari pihak yang sangat berkompeten. A.C. Nielsen. Yaitu, perusahaan yang bergerak di bidang informasi global serta media. Perusahaan itu mengfokuskan diri pada riset sebelum mempublikasikan kesimpulannya.

Kesimpulan Nielsen itu disampaikan dalam rapat seluruh pimpinan Jawa Pos Radar Group di Graha Pena Surabaya, Kamis, minggu lalu. Kebetulan saat itu sedang dilakukan evaluasi triwulan I 2018. Nielsen menghapus kegalauan sekaligus mempertebal keyakinan peserta rapat bahwa koran masih memiliki prospek yang baik.

Yang sangat mengejutkan adalah penggunaan internet yang tumbuh dalam rentang tahun 2014 sampai sekarang tak mempengaruhi sedikitpun waktu membaca koran. Tetap 31 menit per hari. Padahal, penggunaan internet meningkat dari 2 jam 25 menit (2014) menjadi 3 jam 9 menit (2017).

Memang diakui, era digital menyedot banyak pembaca koran. Pasar koran menurun drastis. Termasuk pasar Jawa Pos. Tetapi, yang menggembirakan di awal tahun ini readership Jawa Pos rebound hingga nyaris menyentuh angka satu juta. Masih jauh dari titik tertingginya yang hampir 1,5 juta. “Kami optimistis akhir tahun ini melebihi satu juta pembaca,” kata Leak Kustiyo, dirut Jawa Pos sekaligus dirut Jawa Pos Radar.

Survei Nielsen menunjukkan bahwa readership Jawa Pos tertinggi dibanding koran-koran lain di Indonesia. Padahal, readership itu hanya sebatas koran yang menggunakan brand Jawa Pos. Termasuk Radar-Radar di Jateng, Jatim, DIJ, dan Bali. Belum termasuk koran-koran lain di bawah naungan Jawa Pos Grup yang totalnya sekitar 220 anak perusahaan.

Pesaing utama yang paling dekat terpaut 300 ribu pembaca di bawah Jawa Pos. Koran ini berkantor pusat di Jakarta. Ini membuktikan Jawa Pos masih mendominasi readership koran di Indonesia. Dari satu sisi tentu sangat menggembirakan. Di sisi lain, itu menjadi tanggung jawab yang sangat besar. Jawa Pos menjadi tumpuhan segala imej koran.

Dari survei Nielsen juga terlihat bahwa orang membaca koran karena ingin mendapatkan berita yang terpercaya. Angka totalnya untuk seluruh koran mencapai 58 persen. Khusus pembaca Jawa Pos mencapai 67 persen. Itu sekaligus menjadi alasan utama kenapa orang tetap membaca koran.

Bagi pembaca, koran masih dianggap media mainstream yang tidak main-main. Di koran itulah mereka bisa mendapatkan informasi yang akurat. Koran dibikin dengan penuh rasa tanggung jawab dan profesionalisme. Surat kabar sekaligus menjadi rujukan berita-berita yang bertebaran di internet dan media sosial.

Pembaca yang menjadikan trusted news sebagai alasan membaca koran itu merata di seluruh tingkatan usia. Mulai kelompok 10 - 19, 20 – 29, 30 – 39, 40 -49 sampai 50 tahun ke atas. Kesimpulannya, kaum remaja sampai dewasa membutuhkan berita yang terpercaya. Barangkali karena sehari-hari mereka mendapatkan berita hoaks dan mereka menyadarinya.

Kelompok pembaca Jawa Pos didominasi usia 20 – 49 tahun. Mereka adalah orang-orang yang mapan secara sosial ekonomi. Dalam survei Nielsen terlihat secara spesifik kelompok menengah atas mencapai 47 persen. Berturut-turut di bawahnya adalah kelompok menengah, atas, dan bawah. Sedangkan tingkat pendidikannya 85 persen SMA ke atas.

Yang menarik lainnya, di tengah maraknya dunia internet, pembaca perempuan mengalami pergeseran ke atas. Jumlahnya meningkat dibanding tahun sebelumnya. Kalau kuartal I 2018 jumlah pembaca perempuan 27 persen, pada kuartal I 2018 mencapai 32 persen. Sebaliknya, pembaca laki-laki mengalami penurunan yang sebanding.

Jawa Pos Radar Kudus sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Jawa Pos memiliki tanggung jawab yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pembaca tersebut. Untuk itulah kami terus berpacu meningkatkan kualitas. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Ali Mustofa Mon, 30 Apr 2018 06:22:08 +0700
<![CDATA[Ada Kerajaan Duarawati di RS Bhina Rembang]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/23/67035/ada-kerajaan-duarawati-di-rs-bhina-rembang https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/22/ada-kerajaan-duarawati-di-rs-bhina-rembang_m_67035.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/22/ada-kerajaan-duarawati-di-rs-bhina-rembang_m_67035.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/23/67035/ada-kerajaan-duarawati-di-rs-bhina-rembang

Rembang bakal miliki rumah sakit baru.]]>

Ada tiga info menarik ketika saya ke Rembang minggu lalu. Salah satunya, Hotel Fave penuh. Itulah hotel terbaik di Rembang. Jarang sekali hotel itu full book. Maklum Rembang kota kecil. Juga bukan kota destinasi wisata. Maka, kalau hotelnya penuh, itu luar biasa.

Info lain, Rumah Sakit Bhina Bhakti Husada segera beroperasi. Itu rumah sakit baru tipe C di belahan selatan Kota Rembang. Bangunannya sudah jadi. Megah. Peralatannya sudah tersedia. Lengkap. Semua baru. Dari Jepang dan Swedia. Ini rumah sakit terbaik di Kota Garam itu.

FOTO BERSAMA: Atna Tukiman (empat dari kiri) saat menerima rombongan Jawa Pos Radar Kudus yang dipimpin Direktur Baehaqi (lima dari kiri) baru-baru ini. (radar kudus)

Hotel Fave dan RS Bhina dibangun oleh Atna Tukiman. Warga setempat. Dia pengusaha sukses yang merangkak dari bawah. Usaha awalnya hanya sebuah koperasi. Kecil. ‘’Bangunannya sudah tidak ada. Dulu sewa. Hanya bangunan rumah biasa. Kecil sekali,’’ kata Atna mengenang awal dia berusaha.

Saya mendapat kesempatan luar biasa untuk melihat seisi rumah sakit sebelum dioperasikan. Dari lantai satu sampai lantai enam. Atna sendiri yang mengantar bersama dr. Ella Nurlaila, direktur utama rumah sakit itu. Semua lantai diberi nama pewayangan. Yang paling atas bernama Duarawati. Sangat filosofis.  Itu nama kerajaan yang dipimpin Sri Kresna. Raja ini memiliki kemampuan menyembuhkan segala penyakit.

Selama berkeliling rumah sakit itu saya memiliki kesan RS Bhina tidak jauh berbeda dengan Rumah Sakit Keluarga Sehat di Pati milik Benny Purwanto. Mulai dari klinik, ruang perawatan, laboratorium, sampai ruang operasi. Benny adalah konsuultan rumah sakit. Sama dengan dr Ella. Karena itu mereka paham betul rumah sakit yang baik. Apalagi didukung dengan dana yang cukup.

Dana Atna diperoleh dari mesin usahanya yang lain. KSP Bhina Raharja. Dulu koperasi itu kecil. Kini telah menggurita. Bukan hanya di Rembang, tetapi di Jawa Tengah. Bahkan telah mendapat izin untuk mengembangkan sayap di Indonesia. Dari koperasi yang terus menyumbangkan pundi-pundi kekayaan ini Atna melebarkan sayap di bidang minyak dan gas. Ada SPBU dan SPBE.

Jangan tanya berapa kekayaannya. Dia pasti tidak mau menjawab. Bahkan saya iseng bertanya berapa biaya untuk membangun rumah sakitnya dia tegas mengatakan, ‘’Itu rahasia perusahaan.’’ Yang pasti, dari koperasi, minyak, dan gas itulah dia bisa membangun hotel dan rumah sakit. ‘’Semua kami dedikasikan untuk masyarakat Rembang,’’ ujarnya.

Di Rembang kebutuhan ruang perawatan itu sekitar 600 tempat tidur. Kenyataannya baru terpenuhi 325. Yang terbanyak di rumah sakit pemerintah. Kelak RS Bhina melengkapinya dengan 250 tempat tidur. Itu masih belum ideal. ‘’Yang penting jangan sampai masyarakat kesulitan ruang perawatan. Kasihan. Selama ini mereka harus ke luar kota untuk rawat inap,’’ kata Atna.

Agar pengelolaannya profesional, dia menunjuk dr Ella dan para profesional lain. Namun di balik mereka tetap ada keluarga. Atna melibatkan saudara-saudara kandungnya dan anak-anaknya dalam semua bisnisnya. Tetapi dia terbuka juga. Bidang yang tidak mereka kuasai diserahkan kepada profesional.

Hotel dan rumah sakit yang dibangun Atna akan semakin mempercepat berkembangnya Kabupaten Rembang. Selama ini Kota Garam itu terseok karena, selain lokasinya yang jauh dari pusat ibu kota provinsi (paling timur di pantai utara), juga keterbatasan fasilitas. Rumah sakit akan mendongkrak kesehatan masyarakat. Dengan demikian akan meningkatkan produktivitas. Sedangkan hotel mendukung perekonomian.

Ke depan Rembang juga semakin maju dengan segera berdirinya perguruan tinggi negeri. Bupati Abdul Hafidz telah menjalin kerja sama dengan Universitas Diponegoro Semarang. Pemkab telah sepakat menghibahkan tanah delapan hektare. Kelak juga akan dibantu pendanaan. Perguruan tinggi ini akan menyerap mahasiswa dari eks Karesidenan Pati.

Hotel, rumah sakit, dan perguruan tinggi adalah upaya nyata membangun daerah. Hafidz bisa menyinergikannya dengan baik meskipun tidak memiliki dana yang cukup.

 

 

 

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 23 Apr 2018 07:30:59 +0700
<![CDATA[Di Puncak Winahyu Kartini Berbulan Madu]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/22/67008/di-puncak-winahyu-kartini-berbulan-madu https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/22/di-puncak-winahyu-kartini-berbulan-madu_m_67008.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/22/di-puncak-winahyu-kartini-berbulan-madu_m_67008.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/22/67008/di-puncak-winahyu-kartini-berbulan-madu

Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri.]]>

Kemenangan yang seindah-indahnya dan sesukar-sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri. (R.A. Kartini)

 

PETIKAN pernyataan Kartini tersebut saya baca di sebuah spanduk yang membentang di Desa Sulang, Rembang. Saat itu saya sedang menuju makam Kartini di Desa Bulu. Ziarah. Sekalian melihat vila bekas tempat bulan madunya bersama KRMAA Singgih Djojo Adhiningrat.

Selasa (17 April 2018) saya memanfaatkan waktu sebelum bertemu Bupati Rembang Abdul Hafidz. Kebetulan kedatangan saya dari Surabaya lebih cepat dari jadwal pukul 13.00. Saya mendarat (tepatnya menginjakkan kaki di tanah) pukul 11.38. “Bisakah saya ke makam Kartini dalam sejam bolak-balik?” tanya saya kepada Ahmad Ahwan, staf Jawa Pos Radar Kudus di Rembang. “Bisa,” jawabnya tegas.

Saya diboncengkan sepeda motor Yamaha Mio. Ahwan yang biasa di lapangan memacu motornya. Kencang. Helm saya yang tidak berkancing mumbul-mumbul hendak lepas. Saya harus memeganginya sepanjang perjalanan. Saya intip speedometer. Mati. Perkiraan saya kecepatan 60 – 70 kilometer per jam. Ketika sepi malah sampai 80 km (sekali lagi perkiraan).

Jalan Rembang – Bulu sekarang sudah mulus-lus. Berbeda dengan tiga tahun lalu ketika saya juga berziarah ke sana pas malam 21 April. Sepanjang jalan seperti sungai. Abdul Hafidz yang saat itu masih Pj bupati (kalau tidak salah) pintar. Dia curhatkan kepada Ny. Ganjar Pranowo, istri gubernur, yang berziarah ke sana. “Kalau disampaikan ke suami saat mau tidur pasti diperhatikan,” ujarnya saat itu dengan terbahak-bahak.

Kini dengan jalan yang mulus perjalanan tak sampai sejam. Malah, Ahwan hanya membutuhkan 28 menit. Itu menyamankan para peziarah. Kini wisatawan yang ke sana jauh lebih banyak dibanding ketika jalannya rusak parah. Memang belum seperti peziarah wali sanga.

Ketika saya berziarah di sana, ada tiga rombongan besar. Satu kelompok sedang tahlil dipimpin juru kunci makam Wartono. Satu rombongan sedang turun dari bus. Satu lainnya beristirahat di areal parkir yang teduh sambil menikmati jajanan.

Pemerintah Kabupaten Rembang terus menarik perhatian wisatawan dengan membangun tempat-tempat wisata baru. Baik di pantai maupun pegunungan. Baik, wisata alam, religi, dan budaya. Salah satunya makam Kartini yang di bukit. Makam itu pernah dipugar atas bantuan Hutomo (Tommy) Mandala Putra. Di dekat makam ada tempat peristirahatan Adhipati Ario Singgih Adhiningrat, suami Kartini.

Saya sempat mampir di vila yang diberi nama pesanggrahan Puncak Winahyu. Dibangun tahun 1886. Saat itu usia eyang Djoyo baru 32 tahun (lahir 1854). Kemegahannya masih tersisa. Letaknya semeter di atas jalan tanah di depannya. Di bagian depan ada dua kamar. Sebelah kiri biasa dipergunakan Eyang Djoyo. “Beliau berbulan madu bersama Kartini di sini,” kata Tomy Jayantoro, buyut Singgih yang didampingi kakaknya Dodi Jayantoro.

Saya diberi kesempatan melihat seisi rumah. Tak ada properti peninggalan Mbah Djoyo maupun Kartini. Sebagian sudah ada di museum yang menempati bekas pendapa Kabupaten Rembang. Salah satu di antaranya adalah seperangkat gamelan. Dulu alat musik tradisional itu di paseban Puncak Winahyu.

Kini museum Kartini di sebelah alun-alun itu juga ramai dikunjungi wisatawan. Di sana masih banyak barang-barang asli peninggalan Eyang Djoyo maupun Kartini. Ranjangnya dari kayu masih asli. Ada meja rias marmer dan baju Jawa milik Kartini warna biru kehitaman yang banyak terlihat di foto-foto Kartini. Ini berbeda dengan properti di tempat tinggal Kartini di pendapa Kabupaten Jepara yang sudah banyak berubah.

Saya pernah tidur (tepatnya tidak bisa tidur) semalam di kamar yang pernah mereka tempati. Di tengah malam saya menengok kamar tempat Kartini melahirkan yang menurut banyak orang mistis. Kartini meninggal karena saat melahirkan terjadi pendarahan hebat. Konon, masih banyak orang yang mendengar rintihan dan tangisan di kamar itu. Saya tak takut. Dan, memang tak menangkap suara apapun. Berarti saya berhasil menundukkan diri sendiri. Hehehe.

Kartini yang lahir di Jepara, 21 April 1879, wafat 17 September 1904. Banyak pelajaran yang ditinggalkan. Dia adalah tokoh gerakan emansipasi wanita. Ketika dirinya dan banyak kaum wanita lain terbelenggu oleh adat, dia berontak. Curhatnya banyak disampaikan kepada J.H. Abendanoon di Belanda. Surat-surat Kartini akhirnya dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht, Gedachten van RA Kartini. Buku ini diterjemahkan oleh Armijn Pane, Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ketika menerima saya di ruangannya yang masih kinyis-kinyis, Bupati Rembang Abdul Hafidz sempat menyingggung buku itu. Sebagian pokok pikiran Kartini itu diperoleh dari gurunya, KH. Sholeh Darat. Beliau adalah ulama penyebar Islam di tanah Jawa. Makamnya di Bergota, Semarang Kota.

Kartini protes karena tidak bisa memahami Alquran yang berbahasa Arab. Belanda melarang penerjemahan dalam bahasa apapun. Padahal, kitab suci itu pedoman hidup. Kartini baru paham ketika mengikuti pengajian Sholeh Darat di pendapa Kabupaten Demak (bupatinya saat itu Pangeran Ario Hadiningrat, paman Kartini). Dia meresapi betul ummulquran surat Al Fatihah yang ditafsiri dengan bahasa Jawa.

Lantaran permintaan Kartini, Sholeh Darat kemudian membuat tafsir Alquran berbahasa Jawa dengan aksara arab pegon. Judulnya Faidlur Rahman fi Tafsiril Quran. Jilid pertama dihadiahkan kepada Kartini. Tafsir itu diresapi betul oleh Kartini. Kata-kata Door Duisternis tot Licht diduga kuat berasal dari tafsir itu.

Bupati Rembang Abdul Hafidz menyebut potongan ayat minazh-zhulumaati ilan-nuur (dari kegelapan kepada cahaya/iman). Saya menimpali, itu terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 257. Lengkapnya, Allahu waliyyulladzina aamanuu yukhrijuhum minazh-zhulumaati ilan-nuur (Allah pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya/iman).

Diduga Sholeh Darat banyak memengaruhi pikiran-pikiran Kartini. Beliau tergolong wali di tanah Jawa.

Minggu lalu ketika berziarah di makam Habib Hasan di Lamper Kidul, Semarang, Ida Nurlaila, redaktur Radar Semarang, menyarankan agar saya berziarah ke makam Sholeh Darat dan wali lain, Syeh Jumadil Qubro. Saya menyanggupi. Namun (maaf) yang saya ziarahi terlebih dahulu malah Syeh Jumadil Qubro di Kaligawe, pintu masuk kota Semarang dari arah Kudus.

Pikiran-pikiran Kartini yang tertuang dalam Habis Gelap Terbitlah Terang kemudian menyebar. Mengkristal. Jadilah dia tokoh emansipasi wanita yang menginspirasi bangsa. Pikirannya sangat fundamental. Filosofis. Salah satunya, menundukkan diri, seperti yang tertulis di spanduk tersebut di atas. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Panji Atmoko Sun, 22 Apr 2018 18:44:29 +0700
<![CDATA[Bisa Senggolan Dengkul Beradu Pandangan]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/16/65330/bisa-senggolan-dengkul-beradu-pandangan https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/16/bisa-senggolan-dengkul-beradu-pandangan_m_65330.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/16/bisa-senggolan-dengkul-beradu-pandangan_m_65330.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/16/65330/bisa-senggolan-dengkul-beradu-pandangan

Merasakan perjalanan Surabaya-Semarang dengan berbagai moda transportasi.]]>

BEGITU masuk gerbong kereta Maharani pukul 05.45 saya sering-sering melihat arloji. Saya ingin memastikan pukul berapakah roda kereta mulai bergerak dari stasiun Pasar Turi, Surabaya. Ternyata persis pukul 06.00. Itu berarti tepat waktu. Tidak terlambat atau lebih cepat sedikit pun dari jadwal.

Pandangan selalu saya arahkan ke arloji atau jam di handphone juga sekalian untuk mengalihkan perhatian. Saat itu kereta sedang penuh. Saya mendapat kursi 17 B. Itu berarti di tengah. Persis di depan saya duduk seorang perempuan cantik berkaus ketat. Di sebelah saya juga perempuan meskipun (menurut saya) tidak secantik yang di depan. Saya yang belum kenal, tak berani memandang.

Ketika jarum jam menunjuk angka 06.00 kereta bergerak. Wasbiasah. Kereta yang tarifnya flat Surabaya – Semarang hanya Rp 49.000 itu tepat waktu. Padahal, pesawat terbang yang jauh lebih mahal sering terlambat berjam-jam. Karena itu, saya lebih sering naik kereta dibanding moda angkutan lain untuk pergi-pulang Surabaya-Semarang.

Ketika masih bertugas di Kudus, saya praktis hanya memiliki satu pilihan dari empat pilihan yang sama-sama tidak enak. Naik mobil pribadi, capek menyetir dan bensinnya mahal. Naik travel pasti diputar-putarkan ketika menjemput dan mengantar penumpang lain. Naik mobil sewa, kantong yang cepat bolong. Satu-satunya alternatif, naik bus. Kalau Patas Surabaya – Kudus hanya Rp 95.000 mendapat fasilitas makan.

Sejak dua bulan lalu, ketika merangkap menjadi direktur Radar Semarang, saya berpikir ulang. Harus mengubah rute perjalanan. Surabaya – Semarang – Kudus. Demikian sebaliknya, kalau pulang. Alternatif angkutannya bertambah dua. Pesawat terbang dan kereta api. Dua-duanya sudah saya coba. Pesawat memang lebih cepat. Tetapi masa tunggu lebih lama. Jalan daratnya, bagi saya juga lebih jauh.

Kereta lebih menguntungkan dari banyak hal. Surabaya – Semarang hanya 4,5 jam dengan kereta ekonomi. Kalau eksekutif atau bisnis sejam lebih cepat. Jauh lebih cepat dibanding bus yang 7,5 jam. Saya senang naik kereta ekonomi karena jamnya pas. Dari Surabaya dengan Maharani pukul 06.00 sampai Semarang pukul 10.28. Sedangkan pulangnya naik Kertajaya dari Semarang pukul 21.08 setelah selesai kerja. Sampai Surabaya pukul 01.40.

Dari beberapa perjalanan yang selalu saya perhatikan jamnya, tak sekalipun terlambat berangkat. Termasuk ketika pulang menggunakan kereta Kertajaya. Malah sampainya sering lebih cepat. Kadang-kadang semenit atau dua menit. Belum pernah sekalipun mengalami keterlambatan seperti pesawat atau bus.

Kereta tidak banyak berhenti. Dari Surabaya hanya berhenti di Lamongan, Babat, Bojonegoro, Cepu, Randublatung (Blora), Grombo (Grobogan), dan Tawang. Itu pun hanya empat menitan. Yang paling lama di Ngrombo. Delapan menit.

Naik kereta sekarang beda dengan dulu. Tak ada lagi kesan kumuh, berdesak-besakan, dan panas. Baik kereta Maharani maupun Kertajaya yang sering saya naiki sudah dilengkapi AC. Satu gerbong malah enam buah. Sama sekali tak terlihat sampah berserakan. Karena ada petugas keliling yang membawa kantong sampah.

Penumpang juga tak pernah berdesak-desakan. Sepengalaman saya, kereta hanya agak penuh bila awal atau akhir pekan. Ketika saya berangkat Senin, dua minggu lalu, kereta terisi kira-kira tiga perempat. Di dua deretan kursi nomor 17, hanya ada satu tempat duduk yang kosong. Demikian juga di depan saya.

Dalam kondisi agak penuh seperti itu memang agak tersiksa. Dengkul beradu dengkul. Pandangan beradu muka. Saya serba salah. Di depan perempuan. Di samping juga. Kaki saya terjepit. Kadang-kadang saya terpaksa menggerakkan kaki. Itu langsung menyenggol kaki perempuan di depan saya. Saru juga. Mudah-mudahan tidak dosa.

Suatu saat saya tak kuat menahan kaki yang terus tertekuk. Saya coba sedikit menyelonjorkan. Ternyata mengena ujung kaki perempuan di depan saya. Dia yang semula membuang muka ke jendela, langsung beralih pandangan ke muka saya. Saya pun pura-pura tak tahu dan berganti membuang pandangan ke jendela.

Meski perjalanan hanya empat jam setengah, capek juga. Apalagi sandaran kursi tegak lurus. Saya yang belum terbiasa naik kereta sangat tersiksa. Sandaran berlawanan dengan anatomi tubuh. Dari sisi ini lebih enak naik bus.

Saya terbiasa naik mobil, termasuk bus. Tempat duduknya sudah diatur mengikuti anatomi tubuh. Berlekuk-lekuk. Kalau pengaturan ergonomisnya pas, pasti nyaman. Mobil-mobil Eropa sangat memperhatikan hal itu. Ketinggian kursi diatur sesuai kaki penumpangnya. Demikian juga tempat bokong dan sandaran punggung. Orang Jawa bilang ngeplak. Kursi kereta ekonomi tidak bisa dibuat seperti tempat duduk eksekutif karena memakan tempat.

Memang tidak selamanya gerbong penuh. Suatu ketika, hanya terisi kurang dari separo. Saya mengalaminya ketika berangkat dari Surabaya Rabu lalu. Kursi di sebelah kiri saya kosong. Di depan hanya terisi seorang. Penumpang di sebelah kiri saya menaikkan kakinya ke kursi di depan. Penumpang di depan mengambil sikap yang sama. Kakinya diselonjorkan ke samping bokong saya. Sementara di kursi seberang terlihat bapak-bapak bersila. Seperti jagong di pos ronda.

Begitulah naik kereta ekonomi. Ada enaknya, ada juga tidak nyamannya. Orang bilang, mbayar murah kok njaluk enak. Sama dengan naik bus. Naik pesawat yang mahal saja ada tidak enaknya. Yaitu, manakala terlambat. (hq@jawapois.co.id)

]]>
Panji Atmoko Mon, 16 Apr 2018 08:19:38 +0700
<![CDATA[Terbayang Kang Mus ketika Menyeberangi Rob]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/09/63559/terbayang-kang-mus-ketika-menyeberangi-rob https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/09/terbayang-kang-mus-ketika-menyeberangi-rob_m_63559.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/09/terbayang-kang-mus-ketika-menyeberangi-rob_m_63559.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/09/63559/terbayang-kang-mus-ketika-menyeberangi-rob

Menjadi gubernur Jateng yang yang dielu-elukan masyarakat itu gampang. Bebaskan jalur Pantura dari rob.]]>

Menjadi gubernur Jateng yang yang dielu-elukan masyarakat itu gampang. Bebaskan jalur Pantura dari rob.

 

SUDAH dua bulan belakangan saya bolak-balik Kudus-Semarang. Jaraknya tidak terlalu jauh. Hanya 50 kilometer. Kalau normal, perjalanan hanya sejam. Tapi, kadang-kadang beratnya minta ampun. Pernah satu kali perjalanan memakan waktu empat jam. Kalau pulang-pergi berarti delapan jam. Jam kerja habis di jalan. Itu karena rob.

Belakangan rob itu surut. Tetapi sesekali masih naik. Lalu lintas macet lagi. Nah, setiap kali merasakan persoalan itu, saya teringat Bupati Kudus Musthofa. Beliau pernah punya pikiran yang luar biasa. Yaitu, ketika menghadapi banjir besar yang mengisolasi Kota Kretek. Lalu lintas dari arah Semarang, terjebak di pintu masuk kota. Lewat Jepara sama saja. Dari arah Surabaya, kendaraan terhenti di Juwana, Pati.

Ketinggian air mencapai satu meter di sekitar terminal. Saya masih ingat tanggalnya 4 Januari 2014. Ketika itu satu truk koran Radar Kudus terjebak banjir di pintu masuk Kota Kudus dari arah Semarang. Koran tak bisa diedarkan pada hari itu. Ratusan truk mengalami hal yang sama. Bahan makanan di truk itu membusuk. Perekonomian terganggu.

Kang Mus – panggilan Musthofa - memunculkan ide cemerlang. Jalan di sebelah terminal Kudus ditinggikan satu meter. Tidak menggunakan tanah. Melainkan, menggunakan batu kris (batu belah). Pengerjaan dilakukan setiap hari, siang malam. Hasilnya luar biasa. Lalu lintas mengalir. Ketinggian jalan itu kemudian dibikin permanen sampai sekarang. Dan, jalan tersebut tak pernah tergenang air.

Gangguan yang paling serius di jalur Kudus-Semarang dan sebaliknya juga banjir. Malah bukan banjir bandang. Tetapi, banjir rob yang klasik. Sering ketinggian air di sekitar Genuk mencapai setengah meter. Kendaraan kecil harus melewati jalur alternatif. Ribuan truk dan bus pun terpaksa merayap. Bagi orang yang setiap hari bolak-balik Kudus-Semarang, beratnya sangat menyiksa. Perekonomian juga terganggu.

Beberapa hari belakangan saya melihat ada pekerjaan peninggian badan jalan. Namun, kayaknya hanya beberapa puluh sentimeter. Belum signifikan untuk mengatasi rob. Saat itulah pikiran saya mesti teringat Pak Musthofa. Seandainya bapake wong Kudus itu menjadi gubernur Jateng, mungkin beliau akan meninggikan jalan tersebut paling tidak satu meter.

Cara lain, membikin jalan layang di samping jalan lama. Seperti jalan menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ide membuat jalan berketinggian satu meter di atas jalan utama itu juga dibuat ketika terjadi banjir besar yang melumpuhkan lalu lintas dari dan menuju bandara. Tentu akan lebih baik lagi kalau dibangun juga jalan tol. Rencananya sudah ada. Bahkan sudah ada pembebasan lahan.

Alternatif jalan layang itu pernah saya sampaikan kepada Marwan Jafar pada awal dia berniat mencalonkan diri sebagai gubernur Jateng. Beliau juga memiliki pemikiran yang sama. Biayanya memang besar. Tetapi, tidak seberapa dibanding dampak banjir yang mengganggu jalur Pantura.  Sayang, niatnya menjadi gubernur kandas di tengah jalan.

Pak Musthofa yang saya harapkan menjadi gubernur juga tidak bisa maju. Beliau kalah bersaing dengan Ganjar Pranowo, petahana yang maju lagi. Ganjar harus berhadapan dengan Sudirman Said, mantan menteri ESDM, yang ingin merebut kursinya.

Mudah-mudahan Pak Mus yang akan mengakhiri masa jabatannya mendapat jalan lain. Misalnya menjadi anggota DPR RI. Dengan begitu kita masih bisa berharap pikirannya yang cemerlang untuk mengatasi banjir rob di Semarang.

Robnya sendiri sudah pasti tidak bisa diatasi. Itu fenomena alam buatan Tuhan. Membendungnya supaya tidak naik ke daratan juga sulit. Sabuk laut saja tidak cukup, meskipun panjangnya sampai puluhan kilometer. Pintu masuknya terlalu banyak. Kalau pintu ini ikut dibendung diperlukan pompa yang jumlahnya bisa ribuan.

Semua itu mungkin bisa dilakukan. Tetapi, pasti tidak dalam waktu dekat. Sementara itu, pembebasan banjir rob di jalan Pantura mulai dari Terboyo sampai Genuk sudah sangat mendesak. Di sinilah diperlukan pemimpin yang berpikir lateral. Tidak biasa. Keluar dari logika sebenarnya. Bupati Demak M. Natsir memiliki cara berpikir seperti itu.

Saya sudah sering memperhatikan visi dan misi Ganjar Pranowo dan Sudirman Said ketika berkeliling ke daerah-daerah. Belum ada yang spesifik mengatasi jalur Pantura dari gangguan rob. Padahal, dengan mengatasi persoalan itu, popularitasnya pasti melejit.

Dengan guyonan saya sering menyampaikan kepada teman-teman. Menjadi gubernur Jateng yang sukses itu gampang. Bebaskan jalur Pantura dari gangguan rob. (hq@jawapos.co.id)

 

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 09 Apr 2018 10:53:04 +0700
<![CDATA[Cara Berpikir Lateral ala Bupati Demak]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/02/61766/cara-berpikir-lateral-ala-bupati-demak https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/02/cara-berpikir-lateral-ala-bupati-demak_m_61766.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/04/02/cara-berpikir-lateral-ala-bupati-demak_m_61766.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/04/02/61766/cara-berpikir-lateral-ala-bupati-demak

SAYA termasuk jarang ke Demak. Padahal dari Kudus cuma 25 kilometer. Hampir sama dengan jarak dari Semarang. Kalau ke Semarang pun jarang mampir di Kota Blimbing itu meskipun melewatinya. Tetapi, minggu lalu beda dari biasanya. Saya di sana nyaris setengah hari.]]>

Cuitan: Baehaqi

SAYA termasuk jarang ke Demak. Padahal dari Kudus cuma 25 kilometer. Hampir sama dengan jarak dari Semarang. Kalau ke Semarang pun jarang mampir di Kota Blimbing itu meskipun melewatinya. Tetapi, minggu lalu beda dari biasanya. Saya di sana nyaris setengah hari. Sampai-sampai ke Masjid Agung dua kali. Dhuhur dan asar.

Kebiasaan saya tak berbeda dengan kebanyakan orang. Bagi saya Demak begitu-begitu saja. Tidak lebih menarik dari Kudus, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan. Apalagi dibanding Jepara dengan seribu pantainya. Demak dikunjungi wisatawan karena makam Sunan Kalijaga dan Masjid Agung yang dibangun para wali.

Minggu lalu rasanya istimewa bagi saya. Apalagi, setelah bertemu Bupati M. Natsir. Malah sampai dua kali. Siang bertemu di pendapa. Ngobrol cukup lama. Malam di Polda Jateng ketika sama-sama menghadiri undangan kapolda.

Orangnya sangat sederhana. Malah awalnya terkesan cuek. Sepanjang saya berbicara, dia hanya diam. Sendeku (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri) di meja. Saya sampai bingung menghadapinya. Tetapi, setelah berbicara, sulit disela. “Bupatiku pancen ramah. Seneng nek kon cerito. Nganti ora pedot-pedot (Bupatiku memang ramah. Senang kalau bercerita. Tidak putus-putus,” kata Niamah, teman saya yang nitip salam kepada bupati. Niamah dan Natsir berteman ketika sama-sama menjadi guru agama.

Yang paling saya suka, saat bercerita mengenai pariwisata. Terutama mengenai Masjid Agung dan Makam Sunan Kalijaga. Itulah dua tempat yang biasanya saya kunjungi ketika ke Demak. Sama dengan kebanyakan orang yang berziarah. “Kalau hanya menghadirkan orang ke Demak, itu gampang. Kita tak usah berbuat apa-apa, orang berbondong bondong datang setiap hari,” katanya.

Yang lagi dia pikirkan adalah bagaimana jutaan orang yang datang ke Demak itu bisa tinggal lebih lama di wilayahnya. Tetapi dia tidak berpikir bagaimana menyediakan akomodasi dan kuliner. “Mereka harus dijerat untuk bisa tidur di sini. Harus dipaksa,” ujarnya.  Nah, inilah yang menurut saya menarik. Ada kata jerat dan paksa.

Caranya?. Sebelum tengah malam makam Sunan Kalijaga dan makam Raden Patah ditutup. Setelah subuh baru dibuka lagi. Peziarah yang sudah telanjur datang, pasti menunggu. Mereka butuh makan dan penginapan. Itulah pemikiran Natsir memaksa wisatawan membelanjakan uangnya lebih banyak di Demak. Yang untung tentu masyarakat Demak.

Natsir berpikir lateral. Yaitu mencari solusi untuk memecahkan masalah dengan metode yang tidak umum. Cara itu berbalikan dengan pemikiran yang logis. Kalau menjerat wisatawan dengan menyediakan penginapan yang bagus dan murah, itu sudah umum. Demikian juga dengan menyediakan makanan enak dan cenderamata yang menarik. Tetapi, kalau menutup tempat ziarah di saat tertentu, bertentangan dengan kebiasaan umum.

Cara berpikir yang tidak umum itu dikembangkan oleh Edward De Bono. Dalam bukunya Berpikir Lateral, dia membedakannya dengan berpikir tradisional atau logis atau yang dikenal dengan berpikir vertikal. Berpikir lateral sering menghasilkan terobosan-terobosan. Kuncinya butuh keberanian. Natsir punya nyali karena memiliki pengalaman hidup keras di Surabaya dan Gresik.

Saya tidak tahu apakah cara berpikir Natsir itu yang membuat dia disegani di mana-mana. Ketika tinggal di Surabaya sewaktu muda, dia ditokohkan oleh arek-arek di sana. “Pokoknya kalau orang Demak sudah datang mereka minggir,” ceritanya. Yang dimaksud adalah dirinya. Tubuhnya sendiri kecil dan dan tidak tinggi.

Ketika tinggal di Gresik dia juga ditakuti banyak orang. Padahal, saat itu dia hanya sebagai pemulung limbah kayu di pelabuhan. Saat itu dia masih sekolah. Malamnya mengaji. Tinggalnya di gotakan (kamar santri) tak bertikar. “Tahu sendirilah kehidupan di pelabuhan. Keras. Banyak korak,” katanya. Namun, dia mampu bertahan hidup. “Sampai sekarang saya masih sering ke sana. Juga ke Surabaya,”  tambahnya.

Baginya, kehidupan masa lalu itu menarik. Tak harus ditinggalkan. Begitu juga kehidupannya di Demak sebelum dia sukses meniti karir. Dia membuka warung makan di sekitar Trengguli, tidak jauh dari rumahnya. Warung Mbak Tari itu masih ada sampai sekarang.

Pengalamannya membuka warung itu membuat dia hafal betul karakter pedagang kaki lima. Maka, berkali-kali didemo, dia cuek saja. Bupati didemo lantaran kebijakannya memindahan lokasi pedagang kaki lima ke tempat yang dianggap mereka sepi. Natsir kukuh pendirian. “Mereka butuh tempat berjualan. Semakin lama masuk lokasi, semakin sulit mendapatkan tempat strategis,” ujarnya. Para PKL menyerah.

Jangankan para PKL Demak, arek-arek Surabaya dan Gresik saja tunduk padanya. Dia memiliki aura dan kharisma tersendiri berkat cara berpikirnya yang out of the box. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 02 Apr 2018 07:52:02 +0700
<![CDATA[Nyanyian Sedih dari Nomor +6285231595071]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/03/26/60108/nyanyian-sedih-dari-nomor-6285231595071 https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/03/26/nyanyian-sedih-dari-nomor-6285231595071_m_60108.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/03/26/nyanyian-sedih-dari-nomor-6285231595071_m_60108.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/03/26/60108/nyanyian-sedih-dari-nomor-6285231595071

Masyarakat tidak perlu ragu untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan profesi termasuk permintaan materi. Sebuah pesan terkirim ke WA (WhatsApp) saya nyaris tengah malam. Belum sempat saya buka sudah muncul pesan berikutnya. Ada orang yang mengatasnamakan Radar Jawa Pos minta bantuan.]]>

Cuitan: Baehaqi

Masyarakat tidak perlu ragu untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan profesi termasuk permintaan materi.

Sebuah pesan terkirim ke WA (WhatsApp) saya nyaris tengah malam. Belum sempat saya buka sudah muncul pesan berikutnya. Isinya sama. Laporan.  Ada orang yang mengatasnamakan Radar Jawa Pos Pers minta bantuan pengobatan untuk temannya. Ketika tidak ditanggapi, segera disusul sumpah serapah.

Saya kutipkan aslinya. Kata-katanya sangat menyakitkan. Apalagi bagi orang Jawa Tengah yang lembut. ‘’Dancuk Raimu Bajingan PKI Asu Pengecut Asu Budhek Bangsat Raimu Cuk Dancuk,’’ demikian bunyinya bernuansa Jawa Timuran. Tidak pantas diucapkan oleh siapapun. Kepada siapapun. Kecuali oleh orang gila.

Ketika bertamu ke Bupati Pekalongan Asif Kholbihi,  saya menerima laporan yang sama. Saat itu saya duduk persis di sebelah kursi bupati. Seorang staf menunjukkan pesan SMS dengan menyodorkan handphone. ‘’Apakah Ibu percaya, wartawan kami melakukan hal itu?,’’ tanya saya. ‘’Itu wartawan Bapak. Tidak mungkinlah dia melakukan itu,’’ jawabnya sambil menunjuk ke Taufik, wartawan Radar Semarang. Dia tersenyum. Saya pun menyungging.

Sesungguhnya saya tak begitu tertarik menanggapi laporan tersebut. Itu modus lama penipuan. Dua tahun lalu sudah beredar di wilayah Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan. Itu semua wilayah Jawa Pos Radar Kudus. Belakangan muncul lagi. Di wilayah Radar Semarang. Seperti, di Kota Semarang sendiri, Pekalongan, Batang, Kendal, Demak, Salatiga, Magelang, Temanggung, dan Wonosobo.

Saya tidak tertarik karena beberapa hal. Nama-nama yang dipergunakan tidak menunjuk langsung ke wartawan Radar Kudus maupun Radar Semarang. Misalnya Aji, Lutvi, Taufik, dan Agus. Itu nama-nama pasaran.

Perusahaan yang dipergunakan juga tidak sama persis. Penipu menggunakan nama Jawa Pos Radar Pers. Sedangkan perusahaan Radar Kudus bernama PT Kudus Intermedia Pers. Radar Semarang menggunakan PT Semarang Intermedia Pers.

Lama-lama saya keri juga. Semua laporan yang pernah masuk saya cermati. Saya baca satu per satu. Pisuhannya nyaris sama. Kalau ada yang berbeda hanya kalimatnya. Tetapi, gaya dan nadanya sama. ‘’Lonteh Pengecut,’’ contohnya yang pendek.

Sumpah serapah tersebut dikirim melalui SMS (short message service) dengan nomor yang sama. Yaitu +6285231595071. Ketika lagi marak di Kudus dan sekitarnya, nomor ini pula yang dipergunakan. Nama yang dipakai saja berbeda-beda. Yaitu nama-nama yang mirip inisial wartawan Radar Kudus dan Radar Semarang.

Kalimat permintaannya juga nyaris sama. ‘’Tlg njenengan bantu gotong royong semampunya mas Ary. Kasihan operasi jantung dirs muwardi solo. Tks banyak sebelumnya Pak smg byk rjkinya. Amin. Slm dr teman2 pers.’’ Ada juga yang berbunyi begini, ‘’ Ass wr wb bmn kbrnya Pak ...? Mas Aji Radar Jawa Pos Pers.’’

Permintaan tersebut disertai nomor rekening BCA 0901391903 atas nama Ary Siswanto. Orang yang mengatasnamakan Aji dan nama lain meminta agar sumbangan dikirim ke nomor rekening tersebut supaya diterima langsung oleh keluarganya.

Sasarannya kebanyakan para pejabat di lingkungan pemerintah kabupaten/kota dan provinsi. Di antara mereka ada yang terkecoh. Dia mengirim dana ke rekening yang disertakan. Alasannya kasihan. Sedangkan dia sendiri tidak tahu siapa yang mengirim pesan tersebut. Banyak juga orang yang tidak menanggapi. Sebagian yang lain mengkonfirmasi ke wartawan sebenarnya.

Meski tidak seluruhnya tertipu, mereka merasa resah. Pasalnya, begitu permintaan tidak dilayani, langsung meluncur sumpah serapah. Sedih juga. ‘’Kalau perlu kita tracking posisinya dan ditangkap saja komandan,’’ saran seorang wartawan di Surabaya kepada saya di malam yang telah larut. Tujuannya untuk meredam keresahan para korban.

Saya tergerak. Melalui jaringan yang ada, bisa ditemukan posisi nomor telepon. Pada dini hari itu posisi telepon berada di Kelurahan Tlumpu, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Saat yang lain di Kediri. Posisi nomor telepon selalu berada di wilayah Jawa Timur.

Saya telah berkali-kali menghubungi nomor telepon tersebut. Beberapa kali tersambung. Malah sempat diangkat. Namun, orangnya tak sekalipun berbicara. Saya kirimi SMS juga bisa. Kemarin pagi sempat dijawab dua kali. Tetapi, dengan nomor  depan diawali 9 menjadi 985231595071. Itu berarti dia mengubah saluran menjadi lokal. Nomor telepon tersebut tidak bisa terhubung dengan WA.

Kenapa sasaran penipuannnya di Jawa Tengah? Itulah modus. Supaya tidak gampang ditangkap.  Besar kemungkinan mereka adalah sindikat. Ada yang beroperasi di wilayah sasaran dengan tugas mendapatkan nama-nama pejabat serta nomor teleponnya. Mereka jugalah yang mencari nama-nama inisial wartawan.

Masyarakat yang merasa dirugikan sebenarnya bisa melapor ke polisi. Korp berbaju cokelat memiliki alat canggih untuk men-tracking nomor telepon yang dipergunakan. Polres Jepara pernah menemukan posisi nomor telepon tersebut di Mojokerto. Namun, tidak ditindaklanjuti. Alasannya sudah berada di wilayah lain.

Bagi penegak hukum, menemukan identitas pemilik nomor telepon tentu tidak sulit. Apalagi nomor  tersebut masih aktif setelah batas akhir registrasi. Itu berarti nomor tersebut juga didaftarkan ulang. Pasti ada pemilik, lengkap dengan alamat disertai nomor KTP dan kartu keluarga.

Dilacak melalui nomor rekeningnya juga bisa. Banknya jelas BCA. Namanya Ary Siswanto. Kemarin saya mencoba mengirim uang Rp 10.000 ke rekening tersebut. Bisa.

Radar Kudus dan Radar Semarang tidak terlalu menanggapi masalah tersebut karena merasa tidak dirugikan. Pertama, nama yang dipergunakan tidak sama persis dengan nama wartawan. Kedua, nama perusahaan yang dipergunakan juga berbeda.

Ketiga, kami yakin wartawan kami tidak melakukan hal tersebut. Mereka telah dibekali Kode Etik Wartawan Indonesia. Pasal 6 jelas menyebutkan, wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Dalam penjelasannya, menyalahgunakan profesi adalah segala bentuk tindakan untuk meraih keuntungan pribadi.

Jawa Pos Group meratifikasi kode etik yang disepakati oleh 26 organisasi profesi tersebut. Itu berarti Jawa Pos juga mengharamkan penyalahgunaan profesi. Bahkan telah merumuskan sendiri etika-etika yang kemudian diwadahi dalam buku saku Kode Tata Laku. Isinya adalah prilaku yang seharusnya dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh karyawan.

Masyarakat tidak perlu ragu untuk menolak segala bentuk penyalahgunaan profesi termasuk permintaan materi.  Apalagi disertai penekanan, pengancaman, dan teror. Bahkan kalau dilakukan oleh wartawan kami yang sesungguhnya sekalipun. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Ali Mustofa Mon, 26 Mar 2018 17:05:39 +0700
<![CDATA[Nikmatnya Durian Ketan di Pinggir Jembatan Batu]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/03/19/58156/nikmatnya-durian-ketan-di-pinggir-jembatan-batu https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/03/19/nikmatnya-durian-ketan-di-pinggir-jembatan-batu_m_58156.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/03/19/nikmatnya-durian-ketan-di-pinggir-jembatan-batu_m_58156.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/03/19/58156/nikmatnya-durian-ketan-di-pinggir-jembatan-batu

Jembatan batu di sebelahku diam, Pancuran bambu kecil memercikkan air, Menghempas di atas batu hitam, Merintih menikam sepi pagi. POTONGAN lirik lagu Ebiet G. Ade itu tetap menggetarkan ketika dinyanyikan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi.]]>

Cuitan: Baehaqi

 

Jembatan batu di sebelahku diam

Pancuran bambu kecil memercikkan air

Menghempas di atas batu hitam

Merintih menikam sepi pagi

 

POTONGAN lirik lagu Ebiet G. Ade itu tetap menggetarkan ketika dinyanyikan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi. Dia menyenandungkan bait lagu itu di atas jembatan yang disebut dalam lagu. Saya yang hanya melihat videonya diberi kesempatan menelusuri. Jembatannya, kalinya, gemericik air, hutan, dan burung-burung yang berkicau.

Ketika lagu itu diciptakan tahun 1976, tak banyak orang yang ngeh. Termasuk, pemerintah dan warga setempat. Padahal, syairnya luar biasa. Tentang keindahan alam. Lagu itu pun menjadi sangat terkenal.

Asip merespon ketika dia menjadi bupati. Dipahatlah syair lagu itu di ujung jembatan. Ebiet diundang untuk menandatangani prasasti. Itu tahun 2013. Berarti setelah 37 tahun lagu diciptakan. Alam Lolong diaktualisasi. Terkenal sampai sekarang. Berkat Asip yang responsif. Dia perlu dicontoh.

Bupati sangat bangga. Wilayahnya diabadikan dalam lagu berjudul Lolong. Dia pun menyanyikan dan merekamnya. Videonya meniru gaya Ebiet. Memegang gitar juga. Menurut saya yang tak bisa bernyanyi, suaranya lumayan. Kebanggaannya itu dipamerkan kepada tamu-tamu khususnya.

Saya bertamu ke Asip setelah menemui dua kepala daerah lain yang luar biasa di Jateng dalam seminggu kemarin. Mereka adalah Bupati Semarang Mundjirin dan Wali Kota Salatiga Yulianto. Bupati  Mundjirin adalah dokter spesialis kandungan. Di sela kesibukannya dia masih menyempatkan diri melayani pasien. Bahkan, mengoperasi. Sedangkan Yulianto, wali kota ganteng yang masih muda dan enerjik. Dia sangat terbuka. Getol mengembangkan inovasi.

Ketika bertemu Asip, saya tidak bisa menolak ketika ditawari – tepatnya dipaksa - mengunjungi Lolong. “Adldloifu kalmayyit (Tamu itu seperti mayat). Harus manut,’’ katanya di Masjid Muhtarom Kajen, Pekalongan. Saya menemuinya di masjid itu ketika sama-sama usai salat duhur. Kiai asal PKB itu biasa salat di sana selagi dia berkantor di pendapa. Biasanya lantas diikuti makan nasi kucingan. Sangat merakyat.

Sayang, keinginan saya untuk makan nasi sekepal bersama bupati sirna. Asip mengarahkan saya ke depot makan tak jauh dari pendapa. Atas traktiran bupati. Menunya macam-macam. Semua tradisional. Saya memilih wader goreng yang dijaring dari kali setempat. Ada dua yuyu kecil terselip di antara ikan-ikan kecil itu. “Nanti kita ngorbolnya di Lolong saja sambil makan durian,” tambahnya.

Lolong yang dimaksud adalah Desa Lolong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Nama desa itulah yang diangkat sebagai judul lagu oleh penyanyi lagu balada era tahun 1970-an. Jaraknya sekitar setengah jam perjalanan mobil dari Kota Kajen, ibu kota Kabupaten Pekalongan. Di sana ada jembatan batu melintas di atas sungai Sengkarang. Itulah yang diangkat Ebiet dalam lagu. Termasuk alam di sekelilingnya.

Saya mencoba mengambil posisi di samping jembatan. Nyaris seperti yang digambarkan Ebiet. Di pinggir kali. Airnya yang jernih mengalir deras. Batu-batu besar berserakan sepanjang aliran. Semua masih seperti yang dulu. Yang tidak kelihatan hanyalah pancuran bambu kecil yang dulu dipakai bersuci warga setempat.

Bupati Asip yang masa mudanya dihabiskan di pesantren menunjukkan kecerdasannya. Dia kawinkan Lolong yang ditenarkan oleh Ebiet dengan durian yang tumbuh subur di sana. Jadilah Lolong tempat wisata alam baru yang bernilai tinggi. “Ini yang harus kita jual untuk kepentingan masyarakat,” katanya.

Masyarakat kemudian membangun destinasi wisata. Ada bangunan dua lantai yang bagian atasnya tak beratap. Dilengkapi meja kursi kayu. Cukup untuk menampung 50 orang. Bagian bawah bisa untuk lesehan. Saya bersama seluruh manajer Radar Semarang memanfaatkannya untuk makan durian. Durian Lolong.

Bentuknya sih sama dengan durian lain. Yang membedakan adalah rasa. Hebatnya dari delapan buah yang kami beli, tak satu pun harus dibuang. Semuanya enak. Semuanya habis. Ada yang yang kenyil-kenyil. Manis, legit, kesat, dan dagingnya tebal. Orang mengatakan durian ketan. Inilah yang paling favorit dan tidak ditemukan di daerah lain.

Pemimpin Redaksi Radar Semarang Arif Riyanto yang seumur-umur tak pernah merasakan durian, hari itu mencatat sejarah. Dia makan kali pertama dan langsung menghabiskan tujuh biji (pongge). “Ueeenak tenan,” katanya dengan senyum khasnya yang memunculkan lesung pipit.

Saya sebenarnya ingin rafting. Kelihatannya menantang. Aliran sungainya cukup deras. Keberserakan bebatuannya bisa menguji nyali. Pemandangan tebingnya membikin mata tak berkedip. Tarifnya Rp 185 ribu per orang. Untuk jarak sekitar sembilan kilometer. Sayang, tidak membawa pakaian ganti.

Bupati Asip bukan hanya mengangkat alam Lolong yang semula tidak memberi nilai tambah bagi masyarakatnya. Ada beberapa gugusan alam lain. Semuanya indah. Semuanya dalam penguasaan Perhutani. Semuanya tidak memberi nilai tambah bagi masyarakat. Ada Curug Bajing, Curug Lawe, Curug Muncar, Curug Krembangan, Welo River, Kali Pahigam, dan Petungkriyono. “Saya sudah kerja sama dengan Perhutani. Biar masyarakat yang kelola,’’ ujarnya.

Saya ditawari juga ke Petungkriyono. “Alamnya jauh lebih indah dibanding Lolong,” katanya. Udaranya dingin. Masih sering ada kabut. Airnya jernih. Hutan pinusnya rapi. Di sana sudah dibangun dua vila. Sudah bisa dinikmati. Beberapa lainnya dalam pengerjaan. Kelak lokasi itu akan menjadi tempat outbond yang menarik.

Ketika menikmati alam Pekalongan saya teringat banyak lokasi di eks Karesidenan Pati yang bisa dieksplorasi. Di Kudus ada Rahtawu sampai Puncak Songolikur yang belum dikelola. Di Pati ada Waduk Seloromo dan Gunung Rowo, Lorodan Semar, Goa Pancur, Goa Wareh, dan banyak lagi. Di Rembang ada puncak Argopuro Gunung Gede, Watu Congol, dan daerah sepanjang pantai.

Di Blora yang sebagian besar alamnya hutan milik Perhutani belum banyak disentuh. Ada juga Gunung Pencu, Temanjang, dan Pemandian Sayuran. Grobogan memiliki Waduk Kedungombo, Goa Macan dan Goa Lawa, alam Jatipohon, Waduk Cindelaras, Lumpur Kasongo, dan lainnya. Di Jepara masih puluhan pantai eksotis yang belum terjamah. Belum lagi lereng Pegunungan Muria.

Bupati Asip sangat visioner. Kalau hutan yang tak tersentuh saja diperhatikan, apalagi kotanya. Kabupaten Pekalongan yang dulu menjadi wilayah terkotor, kini sudah meraih Adipura. Dia berobsesi Pekalongan menjadi kota wisata dan pendidikan mengalahkan Jogja atau Bandung. Sudah ada delapan perguruan tinggi negeri yang meneken MoU untuk membangun kampus. Tidak tertutup kemungkinan Pekalongan akan menjadi kota paling favorit di Jateng. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 19 Mar 2018 10:11:07 +0700
<![CDATA[Satu Tangis dalam Dua Peristiwa]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/03/12/56242/satu-tangis-dalam-dua-peristiwa https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/03/11/satu-tangis-dalam-dua-peristiwa_m_56242.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/03/11/satu-tangis-dalam-dua-peristiwa_m_56242.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/03/12/56242/satu-tangis-dalam-dua-peristiwa

Ubah pikiran menjadi positif untuk menumbuhkan semangat berkembang.]]>

Cuitan: Baehaqi

 

Ubah pikiran menjadi positif untuk menumbuhkan semangat berkembang.

 

KABAR duka itu datang kemarin malam ketika saya sedang tahlil mengenang setahun wafatnya istri tercinta. Hari Darmawan, pendiri Taman Wisata Matahari di Bogor, meninggal. Jenazahnya ditemukan di aliran Sungai Ciliwung. Saat itu belum ada keterangan lain.

Pikiran saya tertuju ke ratusan karyawan Matahari Departement Store (MDS) Kudus. Dua minggu lalu mereka berduka. Tokonya terbakar habis. Sampai kemarin pun mereka belum bekerja meski masih dibayar. Tentu dukanya semakin mendalam, Hari Dharmawan adalah bapak mereka. Dia pendiri MDS ketika pasar modern baru berkembang di Indonesia.

Saya tidak kenal Hari Dharmawan. Namun, beberapa kali bertemu. Sudah lama banget. Ketika saya masih menjadi wartawan ekonomi bisnis di Surabaya sekitar pertengahan 1980. Dia pekerja keras. Semangatnya untuk mengembangkan pasar modern di kota terbesar kedua di Indonesia itu luar biasa. Dia perhatikan setiap bagian toko dengan detail. 

Hari berangkat dari pedagang pakaian seperti yang dilakukan para juragan pakaian di Pasar Kliwon Kudus dan warga lain di Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan. Dari toko kecilnya di Pasar Baru, Jakarta, itulah dia membeli toko serba ada De Zone. Nama ini kemudian diubah menjadi Matahari sesuai terjemahannya.

Dia mengembangkan toko ritel modern itu sekitar 20 tahun sebelum akhirnya jatuh ke tangan Lippo Group. Kini Matahari memiliki 155 gerai yang tersebar di 60 kota besar di Indonesia. Salah satu di antaranya di Kudus. Sebelum terbakar, MDS menjadi toko serba ada terbesar di eks Karesidenan Pati dan Grobogan.

Wajar, ketika terbakar banyak orang ikut berduka. Mereka tak bisa lagi jalan-jalan di pusat perbelajaan modern itu. Ada banyak tempat perbelanjaan swalayan. Tetapi belum sebanding dengan Matahari. “Kalau lagi suntuk biasanya saya pakai jalan-jalan di Matahari,’’ kata Manajer Iklan Radar Kudus Heny Susilowati. “Sekarang sudah tidak bisa lagi,” tambahnya.

Ketika Matahari terbakar saya juga ikut berduka. Saya memang bukan warga Kudus. Tetapi sehari-hari lebih banyak di Kota Kretek itu. Saya pun kadang-kadang berjalan-jalan di gerai yang berdampingan dengan Hypermart. Keduanya kini sama-sama milik Grup Lippo. Meski tidak belanja, saya suka. Habis, hanya itulah tempat perbelanjaan modern yang bisa digunakan untuk window shopping. Belum puas, bisa lanjut ke Hypermart. Belanja kebutuhan sehari-hari.

Saya juga kecewa karena belum sempat menonton film Dilan yang digandrungi anak-anak muda. Sedianya film itu akan diputar di gedung bioskop satu-satunya di eks Karesidenan Pati. Sekarang pencinta bioskop harus kembali ke masa lalu lagi. Ke Semarang. Uang lantas banyak “terbuang” di ibu kota provinsi. Ini juga peluang yang seharusnya memicu naluri bisnis. Biar uang beredar di daerah.

Di Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Grobogan, dan Blora sudah banyak bisnis ritel. Peluangnya untuk berkembang sangat besar. Toko-toko yang kebanyakan dimiliki warga lokal itu bisa menjadi Matahari-Matahari lain. Kuncinya satu. Diperlukan keberanian seperti yang dilakukan Hari Dharmawan ketika mengembangkan Matahari.

Saya yakin masyarakat merindukan adanya pusat perbelanjaan modern yang lengkap. Yang menjadi one stop shopping. Pemerintah daerah mesti menangkap ini agar hasil keringat warganya tidak dilarikan ke kota lain.

Memang ada yang mengkhawatirkan pusat perbelanjaan besar akan mematikan pedagang kecil. Kekhawatiran itu wajar. Tetapi, kapan sebuah kota bisa berkembang menjadi besar kalau tidak memiliki pusat perbelanjaan besar. Berpikirnya memang harus positif. Perbelanjaan besar inilah yang bakal memicu semangat para pedagang kecil untuk berkembang. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 12 Mar 2018 08:20:59 +0700
<![CDATA[Si Cantik di Lembah Pegunungan Kapur]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/03/05/54358/si-cantik-di-lembah-pegunungan-kapur https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/03/05/si-cantik-di-lembah-pegunungan-kapur_m_54358.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/03/05/si-cantik-di-lembah-pegunungan-kapur_m_54358.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/03/05/54358/si-cantik-di-lembah-pegunungan-kapur

Sekarang masyarakat tak lagi malu mengatakan berasal dari Grobogan. Kemarin, 4 Maret Kabupaten Grobogan genap berusia 292 tahun. Rangkaian peringatannya sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Puncaknya hari ini di alun-alun.]]>

Cuitan: Bauhaqi

 

Sekarang masyarakat tak lagi malu mengatakan berasal dari Grobogan.

 

KEMARIN, 4 Maret Kabupaten Grobogan genap berusia 292 tahun. Rangkaian peringatannya sudah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. Puncaknya hari ini di alun-alun. Bupati Grobogan Sri Sumarni memimpin upacara yang diikuti seluruh pimpinan dan staf pemerintahan.

Saya tidak termasuk bagian dari peserta upacara itu. Namun, saya memetingkan untuk datang. Tadi malam berangkat dari Surabaya. Khusus untuk mangayubagyo ulang tahun kabupaten yang memiliki wilayah terluas kedua di Jawa Tengah. Tentu hanya sebagai penonton. Setelah itu, memberi ucapan kepada Bupati Grobogan Sri Sumarni.

Sudah beberapa tahun terakhir saya dan seluruh pimpinan Jawa Pos Radar Kudus “ikut” upacara seperti itu. Tempatnya selalu di alun-alun. Kali ini terasa beda. Alun-alunnya sudah cantik. Gemerlap. Sudah menjadi tempat jalan-jalan warga kota. Tidak seperti tahun lalu. Masih banyak ditumbuhi rumput liar. Air menggenang di mana-mana. Bahkan tahun sebelumnya saya masih melihat kambing berkeliaran di lokasi paling prestisius itu.

Memang alun-alun dan taman-taman lain di Grobogan masih kalah dengan wilayah tetangga. Dibanding Kudus, Jepara, dan Pati, masih cukup jauh. Tetapi sudah tidak kalah dengan Rembang, Blora, dan Demak. Ke depan pasti lebih cantik lagi. Tidak tertutup kemungkinan kalau gerakan mempercantik kota diteruskan, bisa meraih Adipura.

Saya yang bukan warga Grobogan ikut berbangga. Baru dua tahun menjabat, Bu Sri –panggilan Sri Sumarni - berhasil mengubah wajah kabupaten yang kali pertama dipimpin R.T. Martopuro. Bagi saya pembangunan alun-alun sangat prestisius. Itulah wajah kabupaten. Persis di tengah para punggawa. Di utara tempat wakil rakyat berkumpul. Di selatan Bu Sri dan bawahannya bernaung.

Dulu Bu Sri bukan siapa-siapa. Saya mengenalnya sejak sebelum beliau menjabat bupati. Ketika dia menjadi ketua DPRD saya sering ngerasani (maafkan saya, Bu Sri). Pakaian beliau kalah dengan ajudannya yang cantik. Sekarang Bu Sri menjadi luar biasa. Selalu tampil fashionable.

Saya bisa menangkap visinya dengan jelas ketika dia menjabat ketua DPRD. Ingin mengubah Grobogan menjadi kota yang benar-benar kota. Maka alun-alun dibangun. Jalan-jalan dimuluskan. Taman diperindah.

Sri, bupati ke-32, tahu Grobogan belum semaju kabupaten-kabupaten tetangga. Dananya masih terbatas. Sedangkan wilayahnya sangat luas. Jarak bentang dari utara ke selatan sekitar 37 kilometer. Sedangkan dari barat ke timur 83 kilometer. Wilayah ini merupakan lembah yang diapit pegunungan kapur. Yaitu Pegunungan Kendeng di bagian selatan dan Pegunungan Kapur Utara di bagian utara.

Karena miskinnya banyak orang yang tak suka menyebut Grobogan. Mereka lebih senang mengatakan Purwodadi. Itulah ibu kota Grobogan. Sekarang setelah Grobogan gemah ripah loh jinawi, orang di perantauan pun bangga mengatakan berasal dari Grobogan.

Bupati dari partai banteng bermoncong putih itu pandai memanfaatkan potensi. Dia gunakan jaringannya di Jakarta. Mengucurlah dana. “Ya, harus pinter-pinteran nyonggek,” katanya suatu saat. Yang dimaksud adalah memanfaatkan dana yang ada di pemerintah pusat. Sagar mengusucur dia harus road show ke berbagai kementerian. “Yo, dodolan (jualan),” tambahnya.

Saya menangkap potensi Bu Sri sejak maju sebagai calon bupati melawan Bambang Pudjiono ketika macung kali kedua. Sri kalah. Tetapi dia tidak patah arang. Dia rebut kursi ketua DPRD. Ketika ada pembukaan pencalonan bupati periode 2016-2021, saya tulis catatan. Judulnya: Sri, Ndang Balio, Sri. Bu Sri betul-betul maju. Dan, menang.

Sudah banyak kali saya bertemu Sri Sumarni. Bahkan sejak beliau berkantor di alun-alun utara (tepatnya utara alun-alun). Ketika dia menjabat sebagai ketua DPRD. Orangnya terbuka. Responsif terhadap ide-ide dari luar. Berkali-kali saya memberi masukan tentang alun-alun sebelum akhirnya dibangun.

Pernah suatu ketika saya dan seluruh pimpinan Jawa Pos Radar Kudus berkunjung ke DPRD ketika dipimpin oleh Agus Siswanto. Bu Sri yang sudah tidak menjabat tiba-tiba datang. Ikut ngobrol. Cukup lama. Sampai sekarang jalinan kerja sama kami cukup erat. Bu Sri jugalah yang meresmikan kantor Radar Kudus Biro Grobogan akhir Januari lalu.

Hari ini, Radar Kudus memberi kado istimewa. Menerbitkan 12 halaman khusus HUT Grobogan. Semuanya full colour. Sehingga total kapel halaman Radar Kudus yang terbit hari ini 20 halaman. Lengkap dengan ucapan-ucapan dari instansi, perusahaan, lembaga, dan masyarakat. Semua kami persembahkan untuk masyarakat Grobogan. Sugeng ambal warso. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 05 Mar 2018 08:16:39 +0700
<![CDATA[Panjangkan Usus, Kedepankan Hati Nurani]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/02/26/52504/panjangkan-usus-kedepankan-hati-nurani https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/02/26/panjangkan-usus-kedepankan-hati-nurani_m_52504.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/02/26/panjangkan-usus-kedepankan-hati-nurani_m_52504.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/02/26/52504/panjangkan-usus-kedepankan-hati-nurani

Barangsiapa mengenal dirinya, mereka akan mengenal Tuhannya. Kasus ciak polisi ketika terjadi kebakaran Matahari Departement Store di Kudus Kamis lalu sudah mereda. Tetapi, saya semakin tertarik. Polisi yang sudah mengetahui pelakunya stres tak menghentikan kasus itu.]]>

Cuitan: Baehaqi

Barangsiapa mengenal dirinya, mereka akan mengenal Tuhannya.

 KASUS ciak polisi ketika terjadi kebakaran Matahari Departement Store di Kudus Kamis lalu sudah mereda. Tetapi, saya semakin tertarik. Polisi yang sudah mengetahui pelakunya stres tak menghentikan kasus itu. Malah korp baju coklat itu menetapkannya sebagai tersangka.

Pasal 44 ayat 1 KUHP menyebutkan, ‘’Tidaklah dapat dihukum barangsiapa melakukan sesuatu perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya, oleh karena pertumbuhan akal sehatnya yang tidak sempurna atau karena gangguan penyakit pada kemampuan akal sehatnya.’’ Saya pikir polisi melepas emak-emak viral yang menggigit polisi itu. Ternyata tidak.

Polisi tidak salah. Saya juga tidak hendak menyalahkan mereka. Korp Bhayangkara memiliki kewenangan. Mereka dilindungi undang-undang. Lagi pula penetapan tersangka itu bukan berarti memutus kesalahan orang. Apalagi menghukumnya. Yang berhak mengvonis hanyalah hakim. Polisi sekadar menyidik.

Yang menghantui pikiran saya, kalau kasus itu diteruskan apakah tidak memperparah kondisi tersangka? Anik Tri Kurniawati yang mengigit Briptu Erlangga Hananda Seto sudah mengidap gangguan kejiwaan sejak tiga tahun lalu. Sudah pernah masuk RSUD dr Loekmono Hadi. Belum sembuh. Dia tidak mau minum obat seperti yang diperintahkan dokter. Meski sehari-hari kelihatan waras, sewaktu-waktu bisa kambuh.

Jumat lalu, sehari setelah kejadian, saya ke rumahnya di Jepang Pakis, Kudus. Ternyata Anik dirawat di rumah sakit setelah sebelumnya diperiksa polisi. Dia tidak boleh dijenguk oleh keluarga sekalipun. Saya hanya ditemui anaknya Vellanika F.S. Ngobrol cukup lama. Lesehan di lantai. Di belakang Vela teronggok tape compo tua. Di sampingnya ada bawang putih dagangan.

Semula saya mengira Anik orang kaya. Atau istri pejabat. Atau orang berkedudukan. Beberapa kasus melawan aparat dilakukan perempuan berstatus tersebut. Ternyata dia orang biasa-biasa saja. Rumahnya malah belum dipalfon.

Dirawatnya Anik itu merupakan kali kedua. Tahun 2015 Anik sudah pernah masuk rumah sakit. Itulah kali pertama gangguan jiwanya mencuat.

Ketika terjadi kebakaran Matahari Departement Store Kamis lalu Anik hendak pergi ke Pasar Bitingan menyusul suaminya yang berjualan di sana. Dia tidak memakai helm. Polisi menghentikan. Anik berontak. Marah. Mengata-ngatai polisi. Memukul-mukul dengan segepok uang. Puncaknya dia menggigit tangan polisi. Bisa jadi dia kalut ketika ditilang polisi. Emosinya tak lagi terkontrol. Penyakitnya kambuh.

Polisi tersebut sebenarnya baik. Dia menghentikan Anik yang tidak memakai helm juga demi keselamatan pengendara motor itu. Dalam menangani serangan Anik, Briptu Erlangga juga kelihatan sabar. Dia sama sekali tidak marah. Tidak membalas dengan tindakan apapun. Belakangan ternyata dia melapor ke instansinya. Anik pun diproses.

Bahwa polisi itu tegas memang wajib. Tetapi perlu juga bijaksana. Saya pernah mengalami ketegasan polisi seperti itu. Ketika itu saya hendak melewati Jalan Sunan Muria, dari arah Alun-alun Kudus. Di pintu masuk Taman Bojana sebelah selatan saya ingat ada rambu larangan masuk di pagi hari. Saya lupa jamnya. Saya pun tidak tahu persis jam berapa saat itu.

Saya memelankan motor butut Yamaha yang saya naiki dari terminal Kudus. Rambu belum kelihatan. Saya berusaha mengintip arloji Swiss Army di tangan kiri. Kesulitan. Tertutup lengan jaket. Motor sempat oleng. Belum sempat melihat jarum jam dan waktu yang tertera di rambu, seorang polisi menghentikan. Padahal, saya baru hendak masuk ke jalan Sunan Muria itu. Tanpa ba bi bu, dia minta STNK dan SIM.

Sebelum saya mengeluarkan dompet, seorang pengendara motor melintas. Saya minta agar polisi itu menghentikannya juga. Dia bergeming. Beberapa saat kemudian seorang cewek yang menurut saya cantik juga melintas. Dia melihat kami. Tersenyum manis. Polisi itu juga tak menghentikannya. Sepontan saya berteriak. Saya sebut nama polisi itu. Keras sekali. Saya emosi. Marah (maafkan diriku). Menurut saya polisi itu tidak bijaksana.

Ketika kami berdebat, seorang polisi lain datang. Saya kemudian diusir ke jalan Pemuda. Sebelum beranjak saya lihat rambu di ujung jalan Sunan Muria tersebut. Tertera larangan pukul 06.00 – 07.15. Jamnya ganjil. Sulit diingat. Apalagi saya yang jarang sekali melintasi jalan itu pagi hari.

Teman saya Agus Sulis juga pernah kena tilang di situ. Demikian juga Noor Syafaatul Udhma. Mereka sama-sama tidak tahu jam berapa saat itu. Maklum, pengendara motor di mana pun, kapapan pun, jarang melihat jam.

Pengalaman lain terjadi di perempatan Jember, Kudus. Saat itu juga pagi hari. Saya tidak tahu persis jamnya. Kebetulan saya tidak membawa arloji. Juga tidak sempat melihat jam di handphone. Saya hanya bisa memperkirakan sekitar pukul 07.

Saat itu lampu menyala merah. Pengendara dari arah selatan berhenti. Mereka tertib termasuk saya. Tiba-tiba seorang polisi menyeruak seolah meloncat. Dia mencabut dua kunci motor yang berada persis di depan saya.

Pengendara dua motor tersebut berboncengan. Mereka memakai helm. Sepeda motornya lengkap. Ada spion dan lampu sign. Lampu besar juga menyala. Sepintas tak ada kesalahan yang dilanggar. Saya hanya bisa menduga polisi bertindak karena pengendaranya belum memiliki SIM. Seragam mereka putih biru seperti seragam anak SMP.

Selagi lampu lalu lintas masih merah saya perhatikan keempat anak tersebut. Mukanya pucat pasi. Urusan bakal panjang. Saya bisa pastikan mereka bakal terlambat masuk sekolah. Murid-murid tidak jauh dari perempatan itu sudah berbaris menuju kelas masing-masing.

Saya bisa merasakan betapa stresnya anak-anak tersebut. Saya saja sampai lepas kontrol ketika dicegat polisi. Padahal, saya belum melanggar. Demikian juga Ibu Anik, yang jelas-jelas tidak memakai helm. Di sinilah polisi dituntut untuk ‘’memanjangkan usus’’. Sabar.

Kadang-kadang kalau melihat polisi yang over saya kasihan terhadap teman-teman mereka yang sudah bijaksana. Apalagi para pimpinan mereka. Saya kenal betul Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning. Saya kenal sejak beliau menjabat Kapolres Grobogan. Saya mengunjunginya ketika beliau hendak memberangkatkan beberapa penyandang cacat ke Mojokerto, Jatim. Mereka diberi kaki palsu.

Saya juga pernah menemuinya di hari pertama dia menjabat Kapolres Kudus. Setelah itu Agusman berkunjung ke gedung Jawa Pos Radar Kudus di jalan Lingkar Utara, Bacin, tempat saya berkantor. Agusman adalah sosok polisi yang humanis. Karena itu, ketika saya melihat polisi yang over acting saya selalu teringat Pak Agusman. Kasihan beliau.

Polisi sama dengan penegak hukum lain seperti jaksa dan hakim. Juga tidak berbeda dengan aparat lain. Mereka dituntut untuk tegas dan adil. Tetapi sekaligus bijaksana. Hukum harus ditegakkan berdasar hati nurani. Di dalam hati itu ada Tuhan. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Ali Mustofa Mon, 26 Feb 2018 09:11:55 +0700
<![CDATA[Bangkitkan Semangat Membara dari Lereng Merapi]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/02/19/50336/bangkitkan-semangat-membara-dari-lereng-merapi https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/02/18/bangkitkan-semangat-membara-dari-lereng-merapi_m_50336.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/02/18/bangkitkan-semangat-membara-dari-lereng-merapi_m_50336.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/02/19/50336/bangkitkan-semangat-membara-dari-lereng-merapi

Semua perusahaan bisa jadi menghadapi persoalan yang sama. Strategi yang dilakukan juga tidak berbeda. Tetapi semangatlah yang membedakannya.]]>

Cuitan: Baehaqi

 

LAYAR lebar di ruang rapat Hotel Jogja Plaza Rabu (14/2) lalu berganti penampilan nyaris persis pukul 12.00. Sekitar 100 manajer dan direktur dari 18 perusahaan grup Jawa Pos Radar (JPR) bertepuk tangan. Mereka mengapresiasi nilai masing-masing perusahaan yang didapat tahun 2017.

Jawa Pos Radar Kudus menempati urutan kedua dengan skor total 24. Turun satu peringkat dibanding tahun sebelumnya. Nilainya juga turun satu poin. Sedang peringkat satu diduduki Bali Ekspres dengan nilai 27. Radar Jogja yang menjadi tuan rumah menempati peringkat ketiga dengan nilai 21.

Saya lihat lima manajer Radar Kudus yang mengenakan batik Bakaran tersenyum lebar. Saya bangga. Meskipun turun satu peringkat, Radar Kudus masih bisa menempatkan diri di posisi tiga besar. Besar kemungkinan peringkat ini sekaligus menjadi perusahaan terbaik di Grup Jawa Pos yang jumlahnya sekitar 200 anak perusahaan di seluruh Indonesia.

Tahun lalu Radar Kudus menjadi satu-satunya perusahaan yang mendapat nilai 25 alias nomor satu di Indonesia. ‘’Tahun ini Radar Kudus masih menunjukkan performa terbaik,’’ kata Dirut Jawa Pos Radar Leak Kustiya dalam rapat evaluasi kinerja tahun 2017. Evaluasi ini dilanjut dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang akan menentukan jalannya perusahaan setahun ke depan.

Direktur Radar Surabaya Liliek Widiyanto yang duduk di samping saya bertanya, “Apa resepnya sehingga Radar Kudus terus melejit.”  “Hanya semangat,” jawab saya dengan tegas. Semua perusahaan bisa jadi menghadapi persoalan yang sama. Strategi yang dilakukan juga tidak berbeda. Tetapi semangatlah yang membedakannya.

Saya dibelajari manajer iklan Radar Kudus Heny Susilowati untuk menumbuhkan semangat itu. Dia mendorong saya untuk ikut tracking Merapi esok harinya. Bukan sekadar wisata ke kampung Mbah ‘’Roso’’ Marijan. Tetapi, sekaligus uji nyali. Offroad. Naik jeep dengan bodi minimalis tanpa kap.

Mobilnya sendiri sudah inspiratif. Itu jeep Willys. Tahun 60-an. Seusia saya. Tapi tarikannya luar biasa. Sopirnya berkali-kali sengaja menggenjot gas dengan tiba-tiba ketika menghadapi jeglongan besar. Mobil seolah meloncat. “Mesinnya sudah pakai Kijang.” Dia membuka rahasia. Mesin itu jauh lebih muda dibanding bodinya.

Ketika melewati jalan dengan bebatuan terjal pantat jeep megal-megol seperti jaran goyang. Apalagi ketika beratraksi di Kali Kuning dengan cekungan-cekungan tajam. Saya yang sudah old harus sering-sering mengangkat bokong untuk meminimalisasi hempasan ke jok. Heny malah tertawa-tawa. “Mari kita lepas semua beban yang ada,” teriaknya dengan berdiri.

Sebulan lalu dia sudah melakukannya. Hari itu dia mengajak saya untuk mengulanginya. Betul. Untuk sementara pikiran lepas dari semua persoalan. Plong (Bagaimana tidak? Konsentrasi saya tertuju bagaimana menyelamatkan bokong agar ambeien saya tidak kumat.) Begitu selesai pikiran menjadi fresh.

Refreshing seperti ini biasa dilakukan para pimpinan JPR  bersama-sama setelah rapat evaluasi triwulanan. Karyawan Radar Kudus juga biasa melakukannya setiap akhir tahun. Tujuannya untuk melepas beban dan mengisinya dengan semangat baru. Kali ini di Merapi tak pernah ingkar janji.

Para direktur Radar lain heran. Bagaimana Radar Kudus di kota kecil bisa menyalip perusahaan yang lebih mapan di kota-kota besar. Jangankan mereka, saya sendiri juga sering bertanya-tanya. Rasanya tidak masuk akal. Namun, saya punya keyakinan kalau kita mau berusaha Tuhan akan memberikan jalan keluar. Maka, teman-teman saya ajak terus melakukan apa yang bisa kita lakukan.

Bob Sadino, seorang entrepreneur sukses, mengatakan, bisnis itu dijalankan, bukan ditanyakan. Apalagi merisaukan hasil yang belum kelihatan. Tak perlu takut salah. Karena, orang yang takut salah tidak pernah akan melangkah. Mereka tidak akan maju. Begitulah Albert Einstein berkata. ‘’A person who never made a mistake never triad anything new.’’

Saya barangkali tidak akan pernah merasakan sensasi offroad Merapi bila saya takut ambeien saya kumat. Saya tidak akan pernah tahu Puncak Songolikur (salah satu puncak pegunungan Muria yang untuk mencapainya harus mendaki enam jam) kalau saya takut kaki saya kram di tengah jalan. Radar Kudus tidak pernah menjadi juara kalau karyawannya takut gagal.

Jangan terlalu berpikir melakukan hal besar. Juga jangan terlalu terhipnotis untuk melakukan pekerjaan yang belum pernah dilakukan. Saya hanya konsisten melakukan hal-hal yang bisa dilakukan. Apa saja. Dalam bisnis dan industri ini penting.

Semangat yang tertanam di Radar Kudus itu diapresiasi oleh pimpinan Jawa Pos. Radar Kudus diserahi tugas membina Radar Semarang yang tahun ini terseok di urutan paling bawah. Suatu keputusan yang kelihatannya tidak masuk akal.

Radar Semarang bukanlah perusahaan jelek. Hanya belakangan terkesan nglokro. Maka pimpinan Radar Kudus ditunjuk untuk membangkitkan semangat Radar Semarang yang tahun ini menempati posisi buncit dari 18 perusahaan dalam satu grup. Sungguh, ini misi yang tidak main-main. (hq@jawapos.co.id)

 

 

 

 

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 19 Feb 2018 06:55:59 +0700
<![CDATA[Di Zaman Now, Kreativitas Adalah Segalanya]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/02/12/48321/di-zaman-now-kreativitas-adalah-segalanya https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/02/12/di-zaman-now-kreativitas-adalah-segalanya_m_48321.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/02/12/di-zaman-now-kreativitas-adalah-segalanya_m_48321.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/02/12/48321/di-zaman-now-kreativitas-adalah-segalanya

Ketakutan, apalagi di tengah suasana yang menakutkan, bisa membelenggu kreativitas.]]>

Cuitan: Baehaqi

SUASANA SANTAI: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi ngobrol santai dengan Dandim Pati Letnan Kolonel Arief Darmawan. (ABDUL ROCHIM/RADAR KUDUS)

 

Ketakutan, apalagi di tengah suasana yang menakutkan, bisa membelenggu kreativitas.

 

Ngobrol dengan pria yang satu ini menyenangkan. Meski dia tentara dan sedang mengenakan pakaian doreng, tak ada kesan formal. Ceritanya mengalir deras disertai canda-tawa. Bahkan joke-joke-nya berseliweran. Beruntunglah warga Pati yang memiliki pria tersebut, Letnan Kolonel Arief Darmawan, komandan Kodim (dandim) Pati.

Saya baru sekali bertemu. Tapi, rasanya sudah sangat dekat. Tak ada kesan berhubungan dengan pejabat. Apalagi, tentara yang sering kaku. ‘’Ayo, mau minum apa? Kopi atau teh. Biar hangat,’’ tawarnya begitu membuka pembicaraan di suatu pagi. Saat itu hujan masih rintik-rintik sisa semalam. ‘’Kalau ada kopi Aceh,’’ jawab saya bercanda. Arif pernah bertugas di Serambi Makkah itu.

Keramahannya bukan hanya ditunjukkan kepada tamu. Di depan anak buahnya dia sering memperlihatkan pejabat yang egaliter. Sampai-sampai di suatu malam anak buahnya harus belingsatan. ‘’Ngapain kau membuntuti. Saya ingin pacaran,’’ katanya kepada anak buah yang diam-diam mengawal di belakang.

Ketika itu Arief keluar rumah bersama istri. Jalan kaki. Mereka mau merengkuh suasana malam. Menyeruput wedang ronde kesukaannya di Alun-alun Pati. Dia biasa menikmati di warung lesehan kaki lima. ‘’Orang mau santai kok dikawal. Memangnya di Aceh. Ini di Pati. Aman tenteram,’’ katanya dengan bercanda.

Baginya, hidup di Pati dan sekitarnya betul-betul nyaman. Ke manapun pergi, jam berapapun, tak ada kekhawatiran terganggu keamanan. Ketiga anaknya bisa menikmati. Berkomunikasi juga gampang. Malah mereka tak perlu memanggil guru les bahasa daerah. ‘’Cukup dengan ayah,’’ kata Arif yang lahir di Nganjuk, Jatim. Bahasa Mataramannya masih kental. Kehalusannya terasa.

Kalau ada yang dirasa tidak bisa santai, hanyalah banyaknya acara yang harus dihadiri bersama forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda). Kadang-kadang dari pagi sampai malam. Anak-anak jadi kaget. ‘’Yah, enakan jadi danyon (komandan batalyon) ya,’’ kata anaknya bernada protes. ‘’Ya sih. Tapi masak ayah turun jabatan,’’ jawabnya bercanda.

Sebelum menjadi dandim Pati, dia menjabat komandan batalyon di Pidie, Aceh. Saat itu, dia bisa banyak menghabiskan waktu buat keluarga. Tentu selepas jam dinas. Yang tidak enak, dia harus dikawal ketat setiap saat. Maklum, Pidie adalah bekas pusat Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Jadi, tidak bebas.

Seaman-amannya Pidie masih belum seperti di Pati. Di sana tidak ada pejabat yang jalan-jalan semaunya. Bahkan bersepeda pun tidak. Maka dia kaget ketika suatu saat diajak Bupati Haryanto sepedaan. ‘’Rasanya sakit semua. Habis sudah berbulan-bulan tidak bersepeda,’’ katanya blak-blakan disertai tawa ngakak.

Arief sudah malang-melintang bertugas di daerah yang berbeda 180 derajat. Dia harus selalu menyesuaikan. Sebelum di Aceh, dia berdinas di Bali. Di sana banyak orang yang tidak lagi-buka-bukaan. Tetapi, semua sudah terbuka. Itu membekaskan kesan tersendiri.

Suatu saat ketika masih di Pidie, dia kangen dengan suasana itu. Tentu tidak gampang mendapatkannya. Di pantai tidak ada. ‘’Suatu saat saya ajak istri ke kolam renang untuk mengenang suasana di Bali. Eh ternyata yang berenang pada berjilbab. Suasananya jadi aneh,’’ ceritanya. Saya terbahak-bahak.

Dandim yang satu ini memang terkesan santai. Tapi jangan salah. Ketika harus tegas, dia tak ubahnya malaikat. Ketika mendengar anak buahnya melakukan tindak kriminal, misalnya, dia langsung panggil. ‘’Sembilan puluh persen kamu dipecat. Yang sepuluh persen tunggu mukjizat,’’ katanya.

Ketegasannya tak serta-merta membuat suasana menegangkan. Saya perhatikan, ketika dia memberi pengarahan, tak ada anggota yang kelihatan ketakutan. Itu sangat penting. Karena ketakutan, apalagi di tengah suasana yang menakutkan, bisa membelenggu kreativitas. Sementara itu, banyak anggota cerdas yang perlu diberi ruang untuk mengembangkan.

Di zaman now kreativitas adalah segalanya. Kita semua tahu pasar semakin global. Persaingan semakin ketat. Kalau tidak pintar berkreasi bisa tergilas situasi. Ini berlaku di mana saja, pada usaha apa saja, oleh siapa saja. Termasuk di lingkungan pemerintahan dan tentara sekalipun. Dan, Arief memberi ruang gerak.

Arief memang sangat visioner. Saya menangkapnya ketika kami menjalin kerja sama. Dia mendorong anak buahnya untuk membaca koran setiap hari. Media mainstream yang bisa menangkal segala isu tak bertanggung jawab yang bertebaran lewat media sosial. Dia juga buka ruang untuk mengekspose semua kegiatan yang dilakukan kesatuannya. ‘’Tuhan memang Maha Tahu. Tapi, dunia perlu diberi tahu,’’ katanya mengungkapkan filosofi lewat joke yang sangat mengena. Mak jleb.

Saya senang dengan gayanya yang egaliter tetapi tegas. Dia bisa membawa keduanya dalam berbagai suasana. Itu berbeda dengan pejabat-pejabat lain. Saya bisa merasakan. Saya kenal seluruh bupati di eks Karesidenan Pati dan Grobogan. Juga pernah ngobrol dengan beberapa dandim dan kapolres. Tapi dengan Arief rasanya beda.

Di kantor saya juga mengembangkan model seperti itu. Agar cepat tercipta seluruh pimpinan tak diberi ruang khusus. Mereka menyatu dengan anak buah dalam satu ruangan yang tak bersekat. Dengan demikian prinsip kepemimpinan ing ngarso sung tolodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani bisa berjalan dengan wajar. Tidak dibuat-buat.

Dalam hal tertentu saya harus tegas. Misalnya dalam menegakkan aturan. Apapun. Seragam, jam kerja, deadline, rapat, dan sebagainya. Teman-teman kadangkala salah paham. Mereka bilang saya keras. Padahal tegas tidak sama dengan keras. Tapi, biarlah. Toh, semua tahu, ketegasan itulah yang membuat seluruh anggota berada di atas relnya. Mereka pun nyaman. (hq@jawapos.co.id)

 

]]>
Panji Atmoko Mon, 12 Feb 2018 06:36:40 +0700
<![CDATA[Hidup Lebih Bersemangat setelah Pensiun]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/02/05/46498/hidup-lebih-bersemangat-setelah-pensiun https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/02/05/hidup-lebih-bersemangat-setelah-pensiun_m_46498.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/02/05/hidup-lebih-bersemangat-setelah-pensiun_m_46498.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/02/05/46498/hidup-lebih-bersemangat-setelah-pensiun

Hidup harus direncanakan agar kelak setelah pensiun bisa memulai kehidupan baru yang lebih berguna.]]>

Cuitan: Baehaqi

HANGAT: Direktur Jawa Pos Radar Kudus Baehaqi (kanan) disambut hangat oleh Noor Yasin (kiri) di kediaman pribadinya Kamis (1/2) lalu. (NOOR SYAFAATUL UDHMA/RADAR KUDUS)


Hidup harus direncanakan agar kelak setelah pensiun bisa memulai kehidupan baru yang lebih berguna.

Tanggal 2 Februari lalu Sekretaris Daerah (Sekda) Kudus Noor Yasin mengakhiri masa dinas sebagai aparatur sipil negara (ASN). Saya tertarik menyelami suasananya. Kebetulan masa jabatan saya sebagai direktur Radar Kudus tinggal menghitung hari. Kalau tidak ada perubahan sampai 15 Februari mendatang.

Selagi menunggu itu, saya ingin merasakan suasana batin Pak Noor Yasin ketika betul-betul memasuki masa pensiun. Berkali-kali dalam berbagai kesempatan dia konsisten mengatakan akan momong cucu. Ditanya wartawan pun demikian. Namun, saya tidak percaya. Orang sekelas Noor Yasin hanya ingin momong cucu.

Noor Yasin memiliki tiga cucu dari dua anaknya. Namun, tak ada satupun yang ikut dengannya. Sehari-hari Noor Yasin hanya berdua dengan istrinya, Chudlil Chikmah. Ketika Kamis (1/2) lalu saya bersilaturahmi ke rumah pribadinya di Bakalan Krapyak, dia juga hanya berdua. Sehari sebelumnya ketika dia dilepas oleh ribuan pegawai Pemkab Kudus, anak-cucunya juga tidak tampak.

Saya tak menangkap suasana batin suram. Saat itu rumahnya memang sepi. Noor Yasin sendiri yang menyambut di teras rumah berlantai dua. Saya bersama wartawan Noor Syafaatul Udhma. Kami malah disambut istimewa. Suguhan jajanan dihidangkan sendiri oleh Ny. Chudlil Chikmah. Kami diajak makan siang juga dengan menu utama sup daging.

Penampilan Noor Yasin masih tetap gagah dan berwibawa. Berbaju batik tulis dengan latar hitam bercelana senada. Di sakunya masih menempel pulpen seperti sehari-hari ketika dia berdinas. Hari itu masih ada beberapa pegawai Setda Kudus yang wira-wiri di rumahnya. Membereskan sisa-sisa tugas. Pensiun sesungguhnya baru esok harinya 2 Februari.

‘’Kalau ditanya, memang saya selalu menjawab momong cucu,’’ akunya.  Tapi, apa betul? ‘’Itu hanya kelakar,’’ ungkapnya dengan tertawa. Nah, benar, kan. Orang sekelas Noor Yasin tidak akan menghabiskan masa pensiunnya dengan hanya momong cucu. Motonya sudah jelas. Hidup adalah perjuangan dan pengabdian.

Ketika dia mulai meniti karir sebagai pegawai negeri, pengabdian itu sudah dia tunjukkan. Surat keputusan (SK) pengangkatannya sebagai PNS bermasalah. Dua tahun tak kunjung kelar. Namun, dia tetap mengajar di SMPN 3 Jekulo, Kudus. tempat dia bertugas kali pertama. Selama dua tahun itu dia  tidak bisa gajian. ‘’Biaya hidup saya tetap dari orang tua,’’ ceritanya dengan tersenyum.

Mendidik bukan hanya bagian dari hidupnya. Tetapi sudah menjadi cita-citanya. Maka setelah pensiun sejatinya dia ingin kembali ke dunia pendidikan. Memanfaatkan pengalamannya sebagai guru dan kepala sekolah. Dia sudah menyiapkan sejak lama. Kini Noor Yasin masih tercatat sebagai pengurus Yayasan Al-Islam yang mengembangkan lembaga pendidikan formal. Dia juga aktif di Yayasan Universitas Muria Kudus dan Akbid Kudus.

Baginya pengabdian harus tetap berlangsung meski sudah penisun dari pegawai negeri. Usianya memang sudah 60 tahun (lahir 22 Januari 1958). Tapi dia masih merasa memiliki kemampuan. Malah sekarang mendapat tawaran yang lebih menantang. Yaitu merebut kursi wakil bupati Kudus 2018-2023. Dia berpasangan dengan Masan, ketua DPRD Kudus, yang mencalonkan diri sebagai bupati lewat PDIP. Peluang baru itu semakin membuat Noor Yasin lebih bersemangat.

Saya mendapat pelajaran berharga dari Noor Yasin. Kebetulan latar belakang saya juga sama. Sama-sama lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Saya juga pernah aktif di  lembaga pendidikan swasta. Bahkan sampai sekarang sekolah yang saya dirikan di Malang, Jatim, juga masih berkembang. Tapi, apakah saya lantas bisa terjun ke dunia pendidikan, kelak kalau pensiun, entahlah.

Sesungguhnya saya telah memasuki masa pensiun tahun 2010. Ketika genap berusia 50 tahun. Masih cukup muda. Namun, itulah ketentuan di Jawa Pos. Harapannya setelah pensiun karyawan masih bisa memanfaatkan waktunya untuk berbuat. Entah itu berbisnis atau mengabdi di masyarakat.

Anehnya, saat memasuki masa pensiun itu saya tidak diberi Surat Keputusan (SK) pensiun. Saya belum diperbolehkan mengakhiri masa tugas. Justru diberi pekerjaan yang lebih berat. Itu berlaku bagi karyawan yang memiliki prestasi lebih. Saya tidak tahu di mana kelebihan saya. Sudah tujuh tahun masa dinas saya diperpanjang.

Sekarang masa dinas saya tidak lagi tergantung pada usia. Sepenuhnya kewenangan para pemegang saham Jawa Pos Radar Kudus yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Rencananya RUPS akan dilaksanakan 15 Februari mendatang. Kalau RUPS memutuskan untuk mengganti saya sebagai direktur, berarti saya harus pensiun.

Saya sudah siap betul. Sebelum memasuki masa pensiun juga sudah dilakukan persiapan-persiapan. Saya sudah pernah dipanggil untuk mengikuti pelatihan. Pelatihan pensiun. Materinya macam-macam. Ada cara berbisnis di masa tua, menginvestasikan uang pensiun, mengatur pola makan, membiasakan diri berolahraga, melakukan kegiatan sosial, mengurus keluarga, dan macam-macam. Waktunya sampai lima hari.

Ribet juga. Mau pensiun kok pakai pelatihan segala. Tapi itulah komitmen Jawa Pos. Tidak ingin karyawannya terlunta-lunta saat tidak berdinas lagi. Jawa Pos ingin agar karyawannya tidak hanya menunggu kematian. Tetapi, memulai hidup baru. Life begin at 50. Saat itu hidup jauh lebih sulit dibanding masa-masa sebelumnya.

Jawa Pos dan grupnya betul-betul memperhatikan kehidupan setelah berdinas. Dana pensiun tidak cukup hanya menggantungkan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Radar Kudus menginvestasikan di salah satu perusahaan manajemen pengembangan dana untuk memberikan kepastian kepada karyawan. Tujuannya agar kelak kalau mereka pensiun ada kepastian mendapat jaminan hari tua.

Uang pensiun saja tidak cukup. Seberapapun banyaknya kalau tidak dikelola dengan baik akan cepat habis juga. Apalagi kalau karyawan lantas sakit-sakitan dan harus keluar-masuk rumah sakit. Maka perlu dilakukan persiapan-persiapan. Lebih-lebih urusan mental. Agar tidak terjadi post power syndrome.

Tirulah Noor Yasin. Meski telah pensiun di usia 60, semangatnya semakin menyala. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Panji Atmoko Mon, 05 Feb 2018 18:09:54 +0700
<![CDATA[Naik, Tidak Naik, Naik]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/01/29/44501/naik-tidak-naik-naik https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/01/29/naik-tidak-naik-naik_m_44501.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/01/29/naik-tidak-naik-naik_m_44501.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/01/29/44501/naik-tidak-naik-naik

KEPUTUSAN paling krusial bagi pengusaha adalah menaikkan gaji.]]>

Cuitan: Baehaqi

 

Hidup ini sulit. Bahkan, sekadar berucap terima kasih. Apalagi bertindak.

 

KEPUTUSAN paling krusial bagi pengusaha adalah menaikkan gaji. Setiap akhir Januari saya mengalami hal ini. Susahnya minta ampun. Diperlukan nyali berlipat untuk mengambil keputusan.

Bagi saya urusan gaji atau upah itu lingkaran setan. Sulit mencari ujung-pangkalnya. Apakah gaji dinaikkan dulu baru prestasi kerja meningkat? Atau prestasi ditingkatkan dulu baru gaji dinaikkan.

Gaji adalah imbalan. Mestinya kenaikan diberikan kalau prestasi kerja meningkat. Tetapi, yang terjadi tidak demikian. Tenaga kerja selalu menuntut kenaikan karena beban di luar perusahaan. Misalnya, harga kebutuhan pokok naik. Inflasi melonjak. Gaji tak lagi cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sesuatu yang sangat wajar.

Yang sulit bagi pengguna tenaga kerja adalah ketika semua kebutuhan hidup naik, beban pokok juga naik. Artinya biaya produksi juga melonjak. Kalau ditambah biaya tenaga kerja harus naik, bisakah usaha berkembang? Lebih jauh lagi, bisakah usaha meraih keuntungan? Di sinilah sulitnya pengusaha.

Lebih sulit lagi bagi pemerintah. Bupati dituntut untuk menaikkan upah buruh. Padahal dia tidak berurusan langsung dengan perusahaan. Bupati tentu dilematis. Kalau upah minimum dinaikkan, pengusaha bengok-bengok. Kalau tidak dinaikkan, buruh demo terus-menerus. Mereka menghadapi buah simalakama.

Ketika menghadapi persoalan itu saya menoleh ke belakang. Ketika itu hampir tengah malam. Saya mau balik ke Kudus setelah menemani anak-anak di kampung halaman. Saya diantar anak bungsu ke terminal. Ketika melewati gerai swalayan saya mampir. Dua anak sekira kelas satu dan tiga SD bercengkerama di depan gerai. Kausnya lusuh. Demikian juga mukanya. Di sampingnya teronggok karung zak yang berisi kertas bekas.

Begitu keluar gerai saya ulurkan tangan buat kedua anak tersebut. Sementara itu anak saya tak terlihat. ‘’Baru saya belikan nasi goreng,’’ katanya begitu muncul. Saya terhenyak. Langsung saya tepuk pundaknya. ‘’Bisa jadi mereka memang belum makan sejak siang,’’ kata saya.

Saya perhatikan kedua anak tersebut. Mereka pegang satu piring berdua beranjak ke pojok teras. Mereka bersila. Makan nasi goreng dengan satu sendok bergantian. ‘’Kok cuma kau belikan sepiring. Mereka kan berdua,’’ tegurku kepada anak saya. ‘’Uang saya tinggal sepuluh ribu,’’ jawabnya.

Saya lihat mata anak saya berkaca-kaca. Tak terasa air mata saya malah menetes. Di benak terngiang, anak yang masih duduk di bangku SMA itu rela memberikan seluruh uangnya kepada saudaranya yang kurang beruntung. ‘’Tuhan pasti membalasmu lebih banyak,’’ kata saya menyemangati.

Tidak gampang membuat hati tersentuh. Banyak orang mampu yang bisa berbuat lebih untuk sesama. Banyak orang tahu bahwa kemiskinan bisa menjerumuskan orang ke kekufuran (kadalfaqru an-yakuna kufron). Tak sedikit orang yang paham bahwa mengentas kemiskinan adalah bagian dari dakwah bilhal (dakwah dengan tindakan). Tetapi, mereka diam.

Sementara itu, banyak anak keleleran di pinggir jalan. Belum tentu mereka tahu siapa orang tuanya. Mereka telantar bukan kehendaknya. Juga bukan keinginan siapa-siapa. Mereka korban keadaan.

Ketika belum lama saya ke Blora, hati saya juga tiba-tiba terusik. Saat itu di pertigaan Pentungan, Rembang. Seorang anak mengulurkan tangan ke setiap mobil yang berhenti. Kali ini pakaiannya tidak lusuh. Wajahnya juga kelihatan bersih. Namun, kakinya tidak beralas.

Biasanya saya acuh terhadap pengemis di pinggir jalan. Apalagi kepada mereka yang menyadongkan tangan ketika kendaraan berhenti selagi lampu lalu lintas berwarna merah. Bisa menjadi kebiasaan buruk. Mereka bisa menganggap mengemis itu pekerjaan.

Hari itu hati saya mengatakan lain. ‘’Bisa jadi, dia korban keluarga,’’ kata saya kepada seorang wartawan yang menyertai saya.

Noor Syafaatul Udhma yang mendampingi saya itu mengangguk. Dia tahu karena pernah melakukan ivestigasi partisipatif di kampung pengemis. Dia tidur bersama pengemis di rumah pengemis itu. ‘’Saya jadi tahu mereka memiliki problem rumah tangga,’’ ujarnya.

Menghadapi buruh, karyawan, atau tenaga kerja sama dengan menghadapi pengemis. Kalau kesejahteraannya tidak diperhatikan mereka bisa terperosok lebih jauh. Problem hidupnya jadi semakin berat. Prestasi kerjanya pasti menurun.Tapi, bagaimana kalau setelah gaji dinaikkan prestasi kerja tidak meningkat? Pendapatan perusahaan juga tidak bertambah?

Bagi pengusaha memang dilematis. Kalau gaji tidak dinaikkan karyawan ngedumel. Dinaikkan pun ada yang cuek. Bahkan berucap terima kasih pun tidak. Apalagi berbuat lebih banyak. Bagi golongan mereka yang seperti itu, kenaikan gaji merupakan urusan wajib perusahaan. Direktur berkewajiban menjalankannya.

Dalam kondisi seperti itu saya tenang-tenangkan pikiran. Memang kalau prestasi perusahaan tidak meningkat gaji saya bisa dikurangi atau bonus tidak dikeluarkan. Biarlah. Saya berpikir, lebih baik bersyukur. Toh dalam kondisi yang sulit seperti sekarang perusahaan masih bisa berkembang. Wujud syukur itu saya putuskan gaji karyawan naik 15 persen. Di atas upah minimum kabupaten.

Bagi saya kenaikan gaji itu dakwah bilhal (dakwah dengan tindakan). Mencegah dari kekufuran. Lebih-lebih perusahaan yang saya pimpin mengedepankan idealisme. Menjunjung tinggi norma-norma di masyarakat. Wartawan bisa tergiur melakukan tindakan tak terpuji apabila kesejahteraannya tidak terjaga. Sangat bahaya.

Kalau anak saya bisa berbesar hati mengeluarkan seluruh isi koceknya demi adik yang tidak dia kenal, kenapa saya tidak bisa melakukannya untuk karyawan yang sehari-hari bersama saya? Anda juga bisa melakukannya. (hq@jawapos.co.id)

]]>
Panji Atmoko Mon, 29 Jan 2018 15:13:58 +0700
<![CDATA[Berpikir Positif Teguhkan Keberanian Bertindak]]> http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/01/22/42414/berpikir-positif-teguhkan-keberanian-bertindak https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/01/22/berpikir-positif-teguhkan-keberanian-bertindak_m_42414.jpeg https://d2y8nrrb8y42iz.cloudfront.net/thumbs/m/radarkudus/news/2018/01/22/berpikir-positif-teguhkan-keberanian-bertindak_m_42414.jpeg http://radarkudus.jawapos.com/read/2018/01/22/42414/berpikir-positif-teguhkan-keberanian-bertindak

Mubarokfood, salah satu perusahaan makanan tradisional jenang di Kudus mampu eksis dan terus berkembang hingga sekarang berkat sentuhan manajemen modern.]]>