Selasa, 23 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Ekonomi

Tarik Wisatawan, Disbudpar Kudus Bikin Acara Pasar Kretek

15 April 2019, 12: 39: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

SUASANA PASAR KERETEK: Suasana tempo dulu tersaji di Museum Kretek akibat terobosan baru Disbudpar Kudus menggelar kegiatan Pasar Kretek jajanan khas lengkap.

SUASANA PASAR KERETEK: Suasana tempo dulu tersaji di Museum Kretek akibat terobosan baru Disbudpar Kudus menggelar kegiatan Pasar Kretek jajanan khas lengkap. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

JATI – Dinas Kebudayaan dan Pariwisati (Disbudpar) Kabupaten Kudus menggelar kegiatan pasar Kretek. Penjual pasar Kretek ini menjajakan jajanan khas kota Kretek. Selain mengingatkan kembali makanan tempo dulu, kegiatan ini juga untuk menarik wisatawan datang ke museum Kretek. Tiga jam dilaksanakan, makanan ludes terjual.

Suasana tempo dulu tampak memasuki area Museum Kretek kemarin. Pedagang menjajakan aneka makanan. Di antaranya, Sego Jangkrik, Nasi Mbededeg, Nasi Kinco. Ada pula Sego Uyah Asem, Keong Koplo, lalu ada Intip Ketan. Serta ada pula Bakso Horog-horog. Kemudian ada juga jajanan pasar. Yakni, Klepon, Getuk Labu Jipang, Kue Lumpur Ndeso dan Getuk Waluh. Untuk minumannya tersedia, Kopi Muria, Wedang Seco, Bir Plethok. Lalu Dawet Kuno, Kunir Asem. Kemudian ada pula Wedang Alang-alang dan Teh Tubruk. Total ada kurang lebih ada 25 jenis makanan yang dijual di sana.

Makanan ini disajikan dengan besek, bambu, daun jati, dan daun pisang. Lalu gelas dan piring untuk menyajikan makanan terbuat dari tanah liat. Tak hanya itu, penjual jajanan tempo dulu juga mengenakan kebaya.

Siti khotimah salah seorang penjual minuman tradisional bir Plethok mengatakan, dagangannya baru buka sekitar 30 menit ludes diborong pembeli. Pada saat itu hanya membawa 10 botol dan menjual 30 gelas saja. Ia menjual perbotol bir pletok dengan harga Rp 15 ribu. Sedangkan satu gelasnya ia hargai Rp lima ribu. ”Acara semacam ini sangat bagus, bisa mengenalkan produk saya kepada masyarakat yang datang,” ungkapnya.

Sementara itu, Zainal, warga Getas Pejaten mengatakan, mengapresiasi acara itu. Selain untuk edukasi juga bisa meningkatkan penghasilan warga sekitar. Dia juga berharap ke depan  menu jajanan tradisional bisa bertambah lebih banyak. Serta penataan lokasi juga perlu ditingkatkan. ”Harganya standar. Makanan dan minuman tergolong unik dan jarang dijumpai,” katanya.

Kepala Museum Kretek Mutrikah mengatakan, kegiatan Pasar Kretek tersebut diadakan dengan menjalin hubungan bersama desa wisata di sekitaran museum. Serta menggandeng komunitas Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (IPMI). Yang diketuai oleh Istri Wabup HM Hartomo, yakni Mawar Hartopo. Kegiatan itu dibagi menjadi dua. Yakni menjual makanan tradisional dan modern.

            ”Seharusnya ini diresmikan pada tanggal 21 April, bertepatan dengan hari Kartini. Kami ingin menunjukan semangat IPMI, yang anggotanya didominasi oleh ibu-ibu. Mari tunjukan Kartini Kudus mampu berkarya, ” katanya.

Tika berharap, kegiatan ini bisa dijadikan solusi masyarakat yang tak bisa menikmati car free day. Pasalnya acara diselenggarakan pada pukul 08.00 hingga sebelum zuhur. Masyarakat bisa menikmati jajanan tempo dulu.

Sementara itu, Ketua IPMI Mawar Hartopo yang hadir dalam acara Pasar Kretek, menyatakan, sangat mengapresiasi kegiatan semacam itu. Uji coba menggelar Pasar Kretek berjalan sdengan lancar. Serta mampu menyedot animo masyarakat yang hadir. ”Meskipun baru uji coba jajanan baru setengah jam ludes habis. Akan kami evaluasi, guna meningkatkan potensi itu, ”

Mawar Hartopo juga berkesampatan mencicipi makanan tempo dulu di kawasan Museum Kretek. Ia mencoba minuman tradisional Wedang Seco. Minuman itu terbuat dari bahan rempah-remah. Serta kegunaannya untuk kesehatan tubuh. (gal)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia