Selasa, 23 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Features
Perang Bintang di Dapil Jateng 2

Pakai Jurus Bantu Warga hingga Bagikan Buku Antihoax

13 April 2019, 09: 13: 31 WIB | editor : Ali Mustofa

Dina Lorenza Audria, Harijanto Arbi, Tamara Geraldine

Dina Lorenza Audria, Harijanto Arbi, Tamara Geraldine (DOK PRIBADI for radar kudus)

Dunia politik saat ini dipenuhi dengan orang-orang dari kalangan entertainment dan atlet. Beberapa daerah pemilihan (dapil), termasuk Jateng 2 (Kudus, Jepara, Demak) ada dua caleg artis, Tamara Geraldine dan Dina Lorenza Audria serta legenda atlet bulu tangkis Harijanto Arbi.

HARIJANTO Arbi menjadi juara dunia bulu tangkis pada 1995. Kemudian meraih gelar pemain bulu tangkis putra terbaik dunia versi Badminton World Federation (BWF). Prestasi lainnya, menjuarai All England 1993 dan 1994, Jepang Terbuka 1993 dan 1995, serta Hongkong Terbuka 1994 dan 1995. Hari- sapaan akrabnya- juga dipercaya untuk memperkuat tim Indonesia yang memenangkan Piala Thomas 1994, 1996, 1998, dan 2000.

Itulah catatan suksesnya di dunia tepok bulu. Usai gantung raket, dia menggeluti usaha peralatan olahraga. Kini, dia mencoba masuk ke ”dunia lain,” dunia politik.

Dia mengatakan, keputusannya untuk berkecimpung ke dunia politik karena ingin memperjuangkan nasib-nasib para atlet yang sudah purna. Sebab, perhatian pemerintah masih kurang kepada mereka. Padahal sudah mengharumkan nama Indonesia sampai tingkat dunia.

”Saya ingin memperjuangkan kesejahteraan atlet dan mantan atlet. Misalnya Ellyas Pical yang dulu dielu-elukan, tetapi sekarang nasibnya kurang beruntung. Banyak Ellyas-Ellyas lain di luar sana yang mengharumkan nama Indonesia, tetapi setelah pensiun tidak sejahtera,” ungkap caleg nomor urut 1 DPR RI dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dapil Jateng 2 ini.

Dia juga bercerita awal niatnya terjun ke dunia politik sempat tidak diizinkan ibunya. Tapi, setelah dia menjelaskan, akhirnya restu orang tua mengalir padanya hingga sekarang selalu mendukung kegiatannya.

”Ibu saya itu takut kalau saya ditangkap KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Namun, setelah saya jelaskan kalau saya gabung di partai yang platformnya antikorupsi (PSI), akhirnya beliau mengerti,” terangnya.

Dia mengatakan, memilih Dapil Jateng 2 yang di dalamnya ada Kabupaten Kudus, karena tanah kelahirannya dan sudah menyatu di hatinya. Selain Kudus, daerah pemilihannya adalah Jepara dan Demak. Namun, menurutnya yang menjadi lumbung suara sudah pasti di Kudus. ”Semua diharapkan bisa menjadi sumber suara. Karena dua daerah lain juga penting," tegasnya.

Hari melakukan pendekatan ke masyarakat dengan kegiatan-kegiatan bakti sosial dan blusukan ala Presiden Joko Widodo (Jokowi), sehingga mengetahui keadaan langsung masyarakat. Selain ingin berjuang untuk atlet, dia juga akan memperjuangkan masyarakat yang masih membutuhkan bantuan.

”Karena itu banyak kegiatan sosial yang kami laksanakan. Misalnya operasi bibir sumbing, operasi katarak, dan lain-lain. Ternyata semua dibutuhkan masyarakat. Saya senang sekali bisa membantu,” imbuhnya.

Sementara dari sosok entertainment, di antaranya Tamara Geraldine. Dia menjadi caleg DPR RI dari PDI Perjuangan nomor urut 5 Dapil Jateng 2. Sejak memutuskan diri sebagai caleg, dia ingin semakin mendekatkan diri dengan masyarakat.

Tamara dikenal sebagai presenter yang telah memandu banyak acara. Terutama acara olahraga yang memang menjadi kelebihannya. Di antaranya, presenter Italian League, Bundesliga, Champion Cup, Euro Cup, dan World Cup 2004. Dia juga pernah menjadi presenter acara gosip bersama Edwin, Go Show; Game Zone; Ari Wibowo Cari Pembantu; dan Pernik.

Keberhasilannya menjadi presenter dibuktikan dengan diraihnya penghargaan untuk kategori Best Female Sport Presenter untuk Panasonic Award. Tak tanggung-tanggung, hingga lima kali berturut-turut. Pada 2000 hingga 2004.

Selain cuap-cuap, Tamara juga pintar menulis. Bukunya yang sudah terbit, kumpulan 12 cerpen yang berjudul Kamu Sadar dan Saya Punya Alasan untuk Selingkuh Kan Sayang? (2003). Selain itu, bersama fotografer Darwis Triadi, dia membuat buku biografi untuk sahabatnya, Yuni Shara - 35 Cangkir Kopi (2007).

Sementara saat mulai terjun ke dunia politik, sejak September 2018 ia bertekad untuk menemui setidaknya 500 orang setiap harinya. Selain untuk menggalang dukungan suara pada 17 April nanti, juga menyosialisasikan pemilu cerdas.

Dia mengaku, tekadnya ini bukan sekadar keinginan belaka. Bersama tim suksesnya, mantan artis itu setiap hari berkeliling dari desa-desa di dapilnya. ”Kalau target saya harus bertemu minimal 500 orang. Hingga tanggal 7 April sebelum saya kembali ke Jakarta. Saya sudah bisa bertemu dan mencerdaskan 22 ribu masyarakat di Kudus, Jepara, dan Demak,” ujarnya.

Sosialisasi yang dilakukannya ini, bertujuan untuk membuat masyarakat agar bisa melek pemilu. Dalam setiap kehadirannya, ia selalu memberikan penjelasan detail terkait bahaya hoax hingga menyampaikan pesan kepada masyarakat agar tidak golput. Dalam setiap sosialisasinya ia selalu membagikan buku berjudul Tim Anti Hoax Jokowi. Buku saku itu, digunakan untuk menepis kabar hoax tentang Jokowi. Buku ini juga berisi panduan kartu suara.

Tak hanya itu, ia juga berulang kali berpesan kepada masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang tidak bersih alias korupsi. ”Jangan mau pilih pemimpin yang bermain money politics. Ketika tetap memilih orang-orang seperti itu, sama halnya dengan mengizinkan koruptor melenggang di kursi parlemen. Nanti akan merugikan masyarakat sendiri,” katanya.

Tak hanya itu, Tamara juga berusaha membuka mata pemilih agar tak salah menentukan pilihan. Menurutnya, caleg yang layak dipilih merupakan pemimpin yang mau turun menyapa rakyat. Tak hanya saat kampanye, tapi juga ketika sudah menjabat.

Sosialisasi ini dirasa perlu dilakukannya. Tujuannya untuk terjun ke politik, salah satunya untuk membuat masyarakat cerdas menjalankan perannya dalam pemilu April mendatang. ”Setidaknya saya bisa menggagalkan nenek-nenek untuk golput. Saya yakinkan bahwa memilih siapapun tak ada sangkut pautnya dengan halal haram,” jelasnya.

Ketika nanti terpilih sebagai DPR RI, Tamara mengaku akan konsen di bidang kesehatan dan pendididkan. Perjuangannya dengan memberikan penyuluhan tentang narkoba di seluruh Indonesia sudah dilakukan selama tiga tahun terakhir. Hal ini pula yang membuat partai menempatkan Tamara di Kudus yang menjadi kota nomor III dengan pengguna narkoba terbesar di Indonesia. Sedangkan Jepara berstatus gawat narkoba dan Demak yang masih belum memiliki nomor dan berharap tak akan pernah kebagian nomor.

”Suatu saat saya pengen ada rumah besar di tiap kota di Indonesia untuk semua pelajar bersih tanpa narkoba. Pelajar dapat berekspresi dan bereksplorasi. Nanti pemerintah yang fasilitasi sampai ke pelosok negeri. Jika saya tidak mampu membuat Indonesia bersih narkoba, saya perkuat generasinya” tuturnya.

Satu lagi sosok caleg yang membuat ”bening” surat suara pemilihan DPR RI di Dapil Jateng 2, Dina Lorenza Audria. Sebelum masuk ke percaturan politik, perempuan yang kini berkerudung ini, moncer lewat sinetron Gerhana dengen perannya sebagai Bulan, pacar Gerhana (pemeran utama). Selain itu, sinetron lain yang dibintangi di antaranya Buce Li, Kodrat, Putri yang Terbuang, Soleha, dan Tukang Bubur Naik Haji The Series. Dia juga pernah menjadi presenter acara Hot Shot.

Akhir-akhir ini, wajahnya sering nampang di pinggir-pinggir jalan berwujud baner. Ya, dia mencoba peruntungan menjadi caleg nomor urut 1 lewat Partai Demokrat di Dapil Jateng 2. Semangat yang diusung fokus program memperjuangkan perempuan agar memiliki peranan yang tak kalah dengan laki-laki.

Menurut Sekjen DPC Partai Demokrat Kudus Mardijanto, Dina Lorenza terbilang mumpuni sebagai seorang caleg. Nama besar sebagai publik figur juga digadang-gadang menjadi poin lebih. ”Dina Lorenza bisa dikatakan punya potensi, punya nama besar, dan sudah matang,” terangnya.

Disinggung soal program, Dina akan condong ke beberapa program milik Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Di antaranya biaya listrik murah dan harga bahan bakar minyak (BBM) turun.

Sejauh ini sosialisasi terus digencarkan caleg kelahiran Jakarta, 22 Mei 1975 itu. Utamanya di Jepara. Usut punya usut, wilayah Jepara dirasa sebagai lumbung suara paling utama. Sebab, Jepara yang mayoritas masyarakatnya diklaim suka dengan caleg berlatar belakang publik figur.

Sementara Kudus menempati posisi kedua potensi suara. Ditargetkan meraup 30.000 suara. Sebab, Kudus diklaim sudah lebih maju dan kurang begitu tertarik dengan caleg berlatar belakang artis. Sementara di posisi ketiga ada Demak.

Untuk merealisasikan hal itu, DPC Partai Demokrat Kudus bahu-membahu dan berkolaborasi dengan caleg DPRD Jateng dan kabupaten agar Dina Lorenza dapat mengisi slot DPR-RI periode 2018-2024.

Terpisah, Dina Lorenza mengatakan, dirinya selama menjalani sosialisasi memang dilakukan secara go show. ”Agenda biasanya sebatas muter-muter untuk sosialisasi. Tapi itu kami lakukan secara go show,” terangnya.

Sebelumya Dina pernah berkunjung ke Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Jateng olahraga di aula SMP 1 Muhammadiyah Kudus beberapa waktu lalu. (vga)

(ks/san/daf/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia