Selasa, 23 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Sulitnya Berbahasa Jawa Krama

11 April 2019, 15: 30: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Tri Ina Rahayu, S.Pd.; Guru Bahasa Jawa SMP 3 Bae Kudus

Tri Ina Rahayu, S.Pd.; Guru Bahasa Jawa SMP 3 Bae Kudus (dok pribadi)

BAHASA Jawa digunakan suku bangsa Jawa. Bahasa ini warisan nenek moyang yang tak ternilai harganya. Dalam penggunaan bahasa Jawa harus memperhatikan tingkatan orang yang diajak berbicara. Karena bahasa Jawa terdiri atas beberapa tingkatan. Salah satunya krama inggil. Namun saat ini penggunaan bahasa Jawa ragam krama semakin meluntur dengan zaman modern seperti ini. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak sekarang atau lebih dikenal anak zaman now sudah tidak menggunakannya lagi. Sehingga merasakan kesulitan dalam pengucapannya. Dikarenakan tidak terbiasa menggunakan krama inggil. Banyak yang mengatakan “wong jawa tapi ora njawani” itulah yang sering diungkapkan oleh masyarakat Jawa.

Anak zaman now hampir rata-rata tidak menguasai bahasa Jawa alias gagap bahasa Jawa. Hal ini disebabkan oleh era globalisasi seperti sekarang ini. Beragam budaya asing yang masuk ke tanah Jawa melalui berbagai media. Seperti pemakaian bahasa gaul, bahasa asing, ataupun bahasa campuran (bahasa yang dibuat sendiri dengan campuran Jawa, Indonesia dan Inggris). Jelas kondisi ini memperparah eksistensi krama inggil. Krama inggil semakin surut atau luntur di Jawa sendiri dan menimbulkan tingkah laku seenak sendiri nagi kaum muda yang tidak mementingkan unggah-ungguh.

Hanya sedikit dalam penggunaannya. Seperti “inggih”, “dalem”, ”mboten”. Itu hanya sepenggal kata yang bisa diucapkan oleh anak-anak zaman now. Pelajaran bahasa Jawa di sekolah-sekolah hanya sebagai sarana saja. Dalam pengaplikasiannya, anak-anak tetap saja menggunakan bahasa Jawa ngoko atau bahasa Indonesia. Mungkin karena lebih mudah dalam mengucapnya. Sehingga anak-anak sekarang lebih suka menggunakan bahasa tersebut. Selain hal tersebut terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi anak zaman now kesulitan berbahasa Jawa krama.

Faktor internal yaitu keluarga yang kurang intensif atau orang tua yang hanya memperkenalkan hanya sebatas bahasa Jawa ngoko saja. Faktor kemampuan orang tua dalam menguasai tingkatan-tingkatan bahasa Jawa yang baik dan benar juga kurang. Sehingga penggunaan bahasa pada anak terbatas pada apa yang diajarkan orang tua mereka dan yang biasa digunakan adalah bahasa Jawa ngoko. Kemampuan terhadap penggunaan bahasa Jawa yang kurang sangat didukung dengan orang tua yang membiasakan penggunaan penggunaan bahasa jawa krama dalam lingkungan keluarga.

Faktor eksternal juga berpengaruh kepada anak zaman now sehingga kesulitan berbahasa Jawa krama karena penggunaan bahasa yang sering digunakan di sekitar lingkungan tempat tinggal jarang yang berbahasa Jawa krama. Lingkungan pergaulan tidak hanya akan mempengaruhi terhadap perkembangan sikap anak tetapi juga terhadap penggunaan bahasanya. Anak-anak akan lebih mudah menyerap pengaruh dalam lingkungannya dan cenderung menirukannya.

Adanya aturan tingkat tutur dalam bahasa Jawa yaitu krama, madya dan ngoko harus tepat pengucapannya ketika digunakan dalam berkomunikasi. Banyak yang mengatakan bahwa tiga tingkatan dalam bahasa Jawa tersebut sangatlah sulit  sehingga anak perlu lebih banyak belajar dan banyak mengucapkan bahasa Jawa krama dalam berkomunikasi dengan orang tua

Bahasa Jawa keberadaannya akan terancam punah apabila bahasa Jawa terus menerus tergeser eksistensinya oleh bahasa yang lain, maka semakin lama bahasa Jawa akan punah bila jumlah penggunanya sedikit dan hanya terbatas pada kalangan usia tua saja. Selain itu pada era globalisasi saat ini penguasaan bahasa sangat diutamakan jika bahasa jawa tidak lagi dipertahankan dan digunakan oleh masyarakat jawa itu sendiri maka keberadaanya akan tergeser dengan bahasa lain. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia