Rabu, 24 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Features
Endang Prihatin, Pengusaha Sambal Cabai

Tembus Mancanegara Berkat Jaringan Reseller

22 Maret 2019, 10: 23: 04 WIB | editor : Ali Mustofa

MENDUNIA: Endang Prihatin (tengah) bersama para pembeli sambal cabai kering “Chilia” dari berbagai negara saat berada di Trade Expo Indonesia tahun lalu.

MENDUNIA: Endang Prihatin (tengah) bersama para pembeli sambal cabai kering “Chilia” dari berbagai negara saat berada di Trade Expo Indonesia tahun lalu. (DOK PRIBADI)

Kuncinya berani. Berani memulai. Berani membuat produk. Berani bersosialisasi. Dan berani-berani yang lainnya. Itulah kunci sukses Endang Prihatin berwirausaha membuat sambal kering. Produknya kini mampu menembus Australia, Jepang, dan Brunei Darussalam.

INTAN M SABRINA, Grobogan

BISNIS sambal cabai kering dirintis Endang Prihatin sejak September 2017 silam. Tuntutan ekonomi akibat kandasnya rumah tangga, menjadikannya harus berpikir keras untuk bisa memiliki usaha dan mempunyai sumber penghasilan mandiri.

Awalnya Endang merasa berat. Mengingat sekian lama ia memilih sebagai seorang ibu rumah tangga, yang menyandarkan ekonomi sepenuhnya kepada suami. Namun takdir tak dapat dielakkan. Setelah perceraian, ia bertekad untuk memiliki usaha.

Tak mudah bagi Endang untuk beranjak dari seorang ibu rumah tangga menjadi pengusaha UMKM. Namun itu harus dilakukan, karena pada awalnya adalah tuntutan. Ia mengaku, kucinya adalah berani.

Berani untuk memulai, berani membuat produk, berani untuk sosialisasi, berani untuk bertemu dengan orang-orang baru, berani untuk bertemu para tokoh dan pengusaha lainnya, bahkan berani untuk menerima kritik dan berani untuk selalu memperbaiki diri.

Maka perempuan yang tinggal di Jalan Aisyiyah III Nomor 1 Perum Sambak Indah Residence, Kelurahan Danyang Kecamatan Purwodadi ini langsung banyak bergabung dengan berbagai komunitas dan even. Yang kemudian dapat terus mengasah kualitas diri dan usahanya. Akhirnya, setelah melewati proses pemikiran yang cukup, sambal cabai kering dipilih sebagai produk yang akan dibuatnya.

Ide sambal cabai kering sendiri muncul dari tradisi orang tuanya. Tepatnya dari ibunya yang bernama Jiyem. Ibunya kerap membuat sambal cabai kering sebagai buah tangan untuk kakaknya yang bekerja dan tinggal di Jakarta. Sambal itu sangat digemari. Karena selain nikmat sebagai teman menyantap berbagai macam hidangan, juga awet karena bahan bakunya berasal dari cabai yang dikeringkan. Sambal itu juga praktis karena mudah dibawa kemana-mana.

Perempuan kelahiran Grobogan 8 Agustus 1979 itu langsung menjajal resep dari orang tuanya. Kali pertama ia membuat produk sambal cabai kering hanya 25 botol kecil. Yang berisi bersih (netto) 27 gram sambal cabai kering dan dihargai Rp 10 ribu per botol. Botol yang dipakai adalah botol plastik ukuran kecil yang biasa digunakan mengemas air zamzam sebagai buah tangan jamaah yang pulang haji.

Sejumlah 25 botol sambal cabai kering itu dibawa ke Jakarta oleh kakaknya untuk dipasarkan. Di luar dugaan, produk sambal cabai kering itu disukai sehingga dalam waktu sebentar, produk itu pun ludes terbeli. Bahkan repeat order. Hal itu menjadikan Endang Prihatin bersemangat untuk kembali membuat produk sambal cabai keringnya.

Kemudian Endang memberikan merek pada sambal buatannya agar mudah diingat orang. Awalnya ia beri label “Mak’e Ndang”. Nama Mak’e dipilih karena wujud terima kasihnya kepada sang ibu yang telah menurunkan resep tersebut. Kemudian “Ndang” diambil dari namanya sendiri. Berkat label itu, sambalnya langsung menembus berbagai pasar. Baik lokal, regional, nasional, bahkan pasar luar negeri.

”Selain Jakarta yang menjadi segmen pasar utama. Sejak Agustus tahun lalu, sambal cabai kering saya ini dapat diperoleh di jaringan toko ritel modern Trans Mart di Jawa Tengah dan Jogjakarta,” ungkapnya.

Selain melalui jalur pemasaran toko ritel modern, dia juga memanfaatkan jaringan reseller untuk memasarkan produknya. Sampai saat ini, jaringan reseller-nya telah mengantarkan produk sambal cabai keringnya itu melanglang buana di berbagai daerah. Seperti Jawa Timur, Jawa Barat, dan Bengkulu.

Karena dirasa sukses menguasai pasaran, tahun lalu Endang mendapat kesempatan dari Disperindag Provinsi Jateng untuk mengusulkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Namun, membuatnya harus berganti label dari ‘Mak’e Ndang’ menjadi “Chilia”.

”Karena di HKI sudah ada nama Mbak Endang. Jadinya saya harus ganti label,” ungkap ibu tiga anak ini.

Setelah mengantongi HKI, bisnisnya semakin melebar. Bahkan berkat jaringan reseller, produk Sambal Cabai Kering “Chilia” mampu merambah pasar luar negeri, seperti Sydney (Australia), Okinawa (Jepang), dan Brunei Darussalam.

Setelah dirasa mendunia, ia pun tak ingin berpuas diri. Ia ingin terus memperbaiki kualitas rasa sambalnya. Endang mulai bereksperimentasi membuat varian rasa dari produk sambalnya. Saat ini produknya memiliki enam varian rasa, yakni original, cumi, rebon, teri medan, teri nasi, dan udang.

Endang juga sangat peduli terhadap kualitas kemasan produknya. Bahkan ia tak pelit untuk mengeluarkan modal untuk memperbaiki kemasan produknya, sehingga meningkatkan harga jual produknya sekaligus mendongkrak penjualan produknya. Meski begitu, sejauh ini sambalnya masih diproses secara manual.

Meski begitu, sebagai pendatang baru Endang memiliki pencapaian yang luar biasa. Dalam kurun waktu dua tahun Endang telah memiliki sekitar 10 karyawan yang membantunya memproduksi sambal cabai kering.

Endang pun berharap, usaha yang digelutinya ini dapat terus berkembang dan semakin diterima oleh pasar, baik dalam maupun luar negeri. Ia pun mengisahkan pengalaman paling berkesan selama kurun dua tahun lebih menggeluti dunia bisnis ini.

”Paling berkesan saat ikut acara besar Trade Expo Indonesia (TEI) pada 24-28 Oktober tahun lalu yang digelar oleh Kementerian Perdagangan di Indonesia Convention Exhibition, Tangerang. Saya dapat bertemu banyak buyer dari berbagai negara. Sebab tercatat acara itu dihadiri 8.313 pembeli dari 124 negara. Sehingga potensi untuk memperkenalkan produk di kancah Internasional menjadi sangat terbuka,” kesannya. (*/lid)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia