Selasa, 23 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Bonus Demografi

21 Maret 2019, 15: 54: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

Rusnoto, SKM, M. Kes (Epid); Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus Indonesia (UMKI)

Rusnoto, SKM, M. Kes (Epid); Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus Indonesia (UMKI) (dok pribadi)

INDONESIA diproyeksikan akan mengalami bonus demografi. Di mana populasi usia produktif lebih mendominasi dibanding usia nonproduktif. Jika proyeksi tersebut tidak terlalu melenceng, maka puncak bonus demografi tersebut akan terjadi 12 tahun lagi, yaitu pada 2030.

Populasi penduduk Indonesia pada tahun tersebut, diperkirakan akan didominasi oleh mereka yang berusia produktif, yaitu antara 15 hingga 64 tahun. Populasi yang mendominasi tersebut, saat ini sedang berusia antara 3 hingga 52 tahun. Jika diklasifikasikan, paling tidak mereka ini dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama. Yaitu kelompok anak-anak hingga remaja (usia 3-20 tahun), kelompok orang muda (usia 20-40 tahun), dan kelompok orang dewasa (usia 40-52 tahun).

Bonus demografi sendiri, diterjemahkan sebagai keuntungan ekonomis yang disebabkan menurunnya rasio ketergantungan sebagai hasil proses penurunan fertilitas jangka panjang (Mason, 2001; John Ross, 2004). Bonus demografi sering dikaitkan dengan kesempatan yang hanya akan terjadi satu kali bagi semua penduduk negara, yakni the window of opprtunity (Adioetomo dkk, 2010).

Pada momentum tersebut, jumlah angkatan kerja sangat besar, tetapi mereka menanggung beban kelompok usia anak dan lansia sangat rendah. Perbandingan antara jumlah penduduk produktif dengan penduduk nonproduktif berada pada kondisi ideal untuk meningkatkan produktivitas, sehingga kesejahteraan penduduk juga akan meningkat. Periode ini harus dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin dengan meningkatkan kualitas SDM, sehingga kita bisa mendapatkan bonus demografi tersebut.

Bonus demografi ini, tentu akan membawa dampak sosial-ekonomi. Salah satunya menyebabkan angka ketergantungan penduduk. Yaitu tingkat penduduk produktif yang menanggung penduduk nonproduktif (usia tua dan anak-anak) akan sangat rendah. Diperkirakan mencapai 44 per 100 penduduk produktif.

Tentu saja ini merupakan suatu berkah. Melimpahnya jumlah penduduk usia kerja akan menguntungkan dari sisi pembangunan, sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Impasnya meningkatkannya kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Namun, berkah ini bisa berbalik menjadi bencana jika bonus ini tidak dipersiapkan kedatangannya. Bonus Demografi tidak serta merta datang dengan sendirinya. Tetapi untuk menjadikan potensi nasional, perlu dipersiapkan dan selanjutnya dimanfaatkan bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Jumlah usia produktif yang besar harus ditunjang dengan kemampuan keahlian dan pengetahuan yang baik. Sehingga usia produktif dapat menjadi tenaga kerja yang terampil, memiliki keahlian dan pengetahuan untuk menunjang produktivitasnya.

Salah satu wujud pemanfaatan bonus demografi tersebut, upaya meningkatkan kualitas SDM remaja dengan memberikan bimbingan dan dukungan dari orang tua, sekolah, dan lingkungan. Dengan begitu, remaja akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab. Remaja juga perlu diberikan wadah aktualisasi diri bersama kelompok sebayanya. Sebab, usia remaja biasanya lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman sebayanya.

Pembangunan SDM remaja sejalan dengan kebijakan pembangunan berwawasan kependudukan yang menempatkan penduduk sebagai sentral dalam pembangunan. Konsep dasar pembangunan dikaitkan dengan kependudukan adalah suatu proses perubahan menuju kondisi yang lebih baik atau tingkat yang lebih maju. Pembangunan harus bisa menciptakan kondisi yang lebih baik, sehingga kualitas penduduk menjadi lebih baik.

Kebijakan-kebijakan pembangunan bagi remaja adalah bagaimana meningkatkan tingkat pendidikan dan pengembangan life skills. Pembelajaran life skills dinilai penting bagi remaja sebagai calon penerus pembangunan, karena dapat membantu remaja mencapai tugas pertumbuhan dan perkembangan pribadi baik secara fisik, mental, emosional, dan spiritual.

Selain itu, pembelajaran ini dapat membantu remaja memasuki kehidupan selanjutnya untuk kemudian menjadi SDM yang produktif. Remaja sebagai pelajar dan mahasiswa yang memiliki life skills akan menjadi modal pembangunan sebagai SDM yang andal secara IQ, EQ, dan SQ. Mereka inilah yang akan menjadi pelopor, calon penggerak pembangunan masa depan. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia