Sabtu, 20 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Petik Pidato Bung Karno di Apel Kebangsaan, Ganjar: Jaga NKRI!

18 Maret 2019, 14: 24: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

BERI SEMANGAT: Grup band Slank mengajak para peserta dalam Apel Kebangsaan itu ikut memerangi hoax.

BERI SEMANGAT: Grup band Slank mengajak para peserta dalam Apel Kebangsaan itu ikut memerangi hoax. (RADAR SEMARANG)

SEMARANG - Lagu Bagimu Negeri mengiringi penyerahan simbol kebangsaan oleh para tokoh nasional kepada generasi muda. Pada Apel Kebangsaan di Lapangan Pancasila Semarang, Minggu (17/3) siang, simbol kebangsaan diserahkan dengan harapan semangat cinta tanah air dapat terus dilanjutkan. Para tokoh memberikan simbol di atas panggung utama, dari kanan kiri panggung bendera merah putih raksasa dibentangkan di antara ribuan warga yang sudah memadati lapangan sejak pagi. Masih dalam iringan lagu Bagimu Negeri, warga menepi memberikan ruang kepada lambang negara itu.  Beberapa warga larut dalam suasana yang cukup  menyentuh. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan deklarasi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) diikuti pembebasan ratusan ekor merpati putih dari sangkar.

Sebelumnya, sejumlah tokoh dan para ulama, termasuk Gubernur Ganjar Pranowo menyerukan orasi kebangsaan di hadapan ribuan hadirin. Mereka datang dari seluruh penjuru Provinsi Jawa Tengah dan kompak mengenakan ikat kepala merah putih. Sesuai tema Apel Kebangsaan ”Kita Merah Putih”.

Dalam orasinya, Gubernur Ganjar mengutip pidato Bung Karno saat pertama dilantik menjadi presiden RI. Dikatakan, sejak republik ini berdiri, ancaman terbesar sejatinya bukan dari luar. Melainkan pertikaian antarwarga sendiri.

NKRI KUAT: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wagub Gus Yasin, Forkopimda Jateng, dan tokoh nasional hadir dalam Apel Kebangsaan di Lapangan Pancasila Semarang kemarin.

NKRI KUAT: Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Wagub Gus Yasin, Forkopimda Jateng, dan tokoh nasional hadir dalam Apel Kebangsaan di Lapangan Pancasila Semarang kemarin. (RADAR SEMARANG)

”Lihat bangsa kita sekarang ini. Fitnah, hoaks merajalela. Tuduh menuduh. Apakah fitnah dan hoax akan kita biarkan? Apakah permusuhan yang merusak sendi-sendi kebangsaan akan kita biarkan? Saya yakin semua berkata tidak,” teriak gubernur.

Tidak cukup berkata tidak. Perlu aksi nyata dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, gubernur mengajak segenap masyarakat Indonesia untuk menjaga lisan dan jari dalam berdemokrasi. Ia mengajak untuk senantiasa mengingat ajaran leluhur menjaga persatuan Indonesia.

”Boleh berbeda pendapat, tapi harus saling hormat. Jangan sampai perbedaan pilihan menghancurkan persaudaraan kita. Kita adalah merah putih. Kita Indonesia,” pesannya.

Menjaga kesatuan bangsa menjadi hal penting. Jangan sampai, hanya karena pemilu masyarakat Indonesia terpecah belah. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mahfud MD dalam orasinya mengatakan, justru pemilu adalah cara untuk menyatukan NKRI. ”Saat ini kita apel merah putih. Mari berwatak, berjiwa dan berlaku merah putih. Simbol berani melawan ketidakadilan, melawan korupsi. Kita juga harus putih agar kita bersih dari perilaku korupsi,” ajak dosen Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta ini. Ajakan yang sama disampaikan KH Maimoen Zubaer dalam orasinya. Ia mengajak warga menjaga persatuan dan kesatuan di Jawa Tengah dan Indonesia.

Semangat menjaga persatuan juga dikobarkan Habib Luthfi bin Yahya. Melalui orasinya, ulama kharismatik dari Pekalongan ini juga membakar semangat massa. ”Apakah kalau sudah berkumpul seperti ini, kita ragu dengan kekuatan Indonesia?” ujarnya sembari mengepalkan tangan dan meminta massa menjawab dengan tegas.

Ia mengibaratkan seperti lautan yang setiap detik dimasuki air dalam jumlah besar yang membawa sampah dan semacamnya. Habib mengatakan bahwa laut selalu meminggirkan segala sesuatu yang hendak mengotorinya. ”Begitu pula kita. Seperti lautan harus bisa menyingkirkan hal-hal yang mengotori persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia,” pesannya.

Kini, kata Habib Luthfi, mejadi tanggung jawab semua orang untuk memberikan kontribusi untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan yang sudah diperjuangkan pendahulu bangsa.

Sementara Gus Muwafiq menyebut apel kebangsaan telah menunjukkan bahwa bangsa ini ada dengan keberagamannya. Ia pun mengajak untuk menjaga merah putih yang selama ini menyatukan dari Sabang sampai Merauke. ”Kibarkan bendera Indonesia. Boleh mengibarkan bendera apapun. Sandingkan dengan merah putih. Tapi jangan untuk mengganti Merah Putih,” ujar Gus Muwawiq dalam acara yang dipandu MC Desta dan Vincent itu.

Tidak hanya melalui orasi, pesan kebangsaan juga disampaikan lewat penampilan pengisi acara. Seperti Slank yang mengajak untuk memerangi hoax. Ia menilai hoax dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Di sela penampilannya, Bimbim, pentolan Slank, meminta para Slankers dan tamu undangan agar tidak menggubris para penebar hoax.

”Yang selalu ngasih energi negatif, yang selalu nge-hoax, jangan diladenin,” ujarnya kepada para Slankers dari berbagai wilayah. Di atas panggung, Slank juga sempat membawakan lagu Ku Tak Bisa bersama Gubernur Ganjar Pranowo bersama wakilnya, Taj Yasin Maimoen.

Sebelumnya, grup Band Letto juga mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga kewarasan berpikir. Menurutnya, musuh bersama masyarkat Indonesia adalah ketidakwarasan dan kebodohan.  ”Kita nyanyi bersama untuk Indonesia. Kita tunjukkan kita semua bersaudara,” ujar Noe, vokalis Letto.  

Apel kebangsaan ini memang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali. Termasuk para difabel, salah satunya Muhammad Hilal Fadlullah dari Semarang yang dipercaya membacakan Pancasila di hadapan puluhan ribu warga. Hadir dalam Apel Kebangsaan tokoh lintas agama, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi, Wakil Ketua DPRD Jateng Ahmadi, Ketua MUI Jateng KH Ahmad Daroji, KH Munif Zuhri,  dan lainnya. Sementara Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto batal hadir.

Selain di Lapangan Simpang Lima, panggung Apel Kebangsaan "Kita Merah Putih" juga berdiri di Jalan Pahlawan. Di atas panggung ini, tampil Tarian Dewi Kwan Im 1000 Tangan, Tarian Kerukunan Umat oleh Forum Kerukunan Umat Beragama, pedangdut Nella Kharisma dan band lokal Rockstar Bandengan. Dalam acara yang dipandu MC Budi dan Anita itu, Ganjar sempat naik ke atas panggung dan berduet dengan Nella Kharisma menyanyikan lagu Sayang.

Sedangkan di atas panggung pendukung di Jalan Ahmad Yani, dibuka dengan tarian kebangsaan dan atraksi barongsai dari Paguyuban Satya Budi Dharma. Tampil juga Gamelawan feat Gafa Rock yang membawakan lagu dengan lirik berbahasa Jawa dan menggunakan gamelan sebagai alat musik utamanya. Juga penampilan Congkrok 17 dan ditutup perform Virsha. Virsha menyampaikan pesan jika perbedaan bukan alasan untuk saling menjatukan harus tetap damai.

Panggung di Jalan Pandanaran tak kalah meriahnya. Di panggung ini tampil band Armada menjadi obat pelega bagi penggemarnya. Band yang terkenal dengan lagu Asal Kau Bahagia ini mampu mengajak fans setianya mengikuti lagu tersebut dari awal sampai akhir, bahkan sampai berakhirnya acara. Vokalis Armada Band Rizal Armada membawakan 10 lagu mampu membius penonton yang kebanyakan ABG serta ibu muda. Tidak hanya itu, mereka mendokumentasikan konser tersebut dengan menggunakan HP android miliknya. Sebelum tampil band Armada, di panggung Jalan Pandanaran dimeriahkan Tarian Bhineka Shantinata dari Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dilanjutkan dengan penampilan umat Kristen, dan Andromeda Band dengan vokalis Daniel atau Bongseng dan Tata Item. (lhr/sga/cr4/cr5/hid/aro)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia