Selasa, 23 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Diduga Buang Limbah ke Laut, Tiga Perusahaan Dijatuhi Surat Paksaan

18 Maret 2019, 09: 20: 00 WIB | editor : Ali Mustofa

AMBIL SAMPEL: Petugas mengambil sampel di Pantai Desa Gegunung Wetan, Rembang. 

AMBIL SAMPEL: Petugas mengambil sampel di Pantai Desa Gegunung Wetan, Rembang.  (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

REMBANG – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Rembang hingga Sabtu (16/3) kemarin belum dapat memastikan matinya ikan-ikan di Pantai Kaliori-Rembang. Kini, tim masih disibukkan menginventarisasi jenis usaha yang ada disekitar lokasi. Karena tidak dipungkiri, fungsi instalasi pengolahan air limbah (IPAL) sejumlah perusahaan di sekitar lokasi belum optimal.

Kurang optimalnya fungsi IPAL membuat perusahaan tersebut menjadi sorotan. Bukan hanya di tingkat daerah, namun hingga tingkat pusat. Terbaru, Kementerian Lingkungan Hidup turun tangan. Ada tiga perusahaan pengolahan ikan yang mendapatkan surat paksaan.

Surat paksaan diberlakukan agar mereka segera berbenah. Sebab, dampak pencemaran yang ditimbulkan akibat pembuangan limbah sangat berbahaya. Salah satunya menyebabkan biota laut mati.

Tak hanya itu, air laut juga menghitam dan mengeluarkan bau busuk. Bahkan tercium hingga radius 100 meter. Parahnya, satu warga terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat tak kuat dengan bau yang menyengat. Hal ini juga sangat merugikan nelayan, karena mengganggu aktivitas menangkap ikan.

Kepala DLH Kabupaten Rembang Suharso, menyampaikan, pekerjaan rumah yang ada di pantai saat ini ada dua. Yakni soal sampah plastik dan limbah. ”Kami cek terlebih dahulu penyebab ikan-ikan mati. Sebelum ada temuan ikan-ikan mati di sekitar lokasi sudah dilakukan pengambilan sampel. Baik kondisi air bersih dan keruh,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin (16/3).

Dari pengambilan sampel itu, kini ditindaklanjuti. Pihak kementerian memberikan tindakan perusahaan di wilayah Kecamatan Kaliori, Rembang. Wujudnya berupa surat paksaan. Hanya Suharso tidak menerangkan detail nama perusahaan tersebut.

Dia hanya menyebut tiga lokasi perusahaan tersebut, di Desa Banyudono dan Desa Purworejo, Kecamatan Kaliori. Semua yang diberikan surat paksaan itu, perusahaan pengolahan ikan. Tiga perusahaan itu diminta agar berbenah terhadap IPAL. ”Tindakan kami melakukan pengawasan dan pemantauan wilayah. Lalu komunikasi untuk penanganan,” terangnya.

Suharso menuturkan, fungsi IPAL tiga perusahaan tersebut memang belum optimal. Jadi, perlu dibenahi agar tidak mencemari lingkungan sekitar.

Untuk itu, saat musim baratan tim DLH Rembang lebih agresif mengawasi perusahaan. Tujuannya, mendorong perusahaan segera berbenah. Pihaknya menerjunkan tim secara kontinyu untuk selalu memantau perusahaan-perusahaan tersebut. ”Kalau ada yang membuang limbah ke laut, kami imbau warga sekitar segera melaporkan,” tegasnya.

(ks/noe/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia