Selasa, 23 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Features
Dwi Karno, Penghayat Kepercayaan Sapto Darmo

Biasa Ikut Tahlilan, Anak dan Istri Tetap Islam

16 Maret 2019, 11: 42: 32 WIB | editor : Ali Mustofa

SESEPUH SAPTO DARMO: Dwi Karno menunjukkan buku sejarah Sapto Darmo di kediamannya kemarin.

SESEPUH SAPTO DARMO: Dwi Karno menunjukkan buku sejarah Sapto Darmo di kediamannya kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Hidup sebagai kaum minoritas dalam iman mengharuskan Dwi Karno lebih beradaptasi di masyarakat. Meski sebagai ketua organisasi penghayat kepercayaan, dia tetap membebaskan istri dan anak-anaknya memeluk agama Islam.

SAIFUL ANWAR, Rembang

DI atas kain mori, mereka duduk dengan tumpuan dua kaki menghadap timur. Kedua tangan menyilang di dada. Mereka pun melafalkan doa-doa. Sejenak kemudian, mereka sujud dengan tetap merapalkan doa-doa puja-puji untuk Tuhan Yang Maha Kuasa.

Seperti itulah kiranya salah satu cara ibadah penghayat kepercayaan Sapto Darmo. Dwi Karno, sang sesepuh kepercayaan tersebut di Rembang mengaku sudah memeluk kepercayaan tersebut sejak duduk di bangku kelas VIII SMP. Sekitar 1982 silam.

Bapak tiga anak itu bercerita, sejak usia setahun dirinya hidup bersama pamannya di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Pamannya itu merupakan seorang guru magnetizm, semacam tokoh aliran kebatinan.

Setelah sang paman meninggal, Dwi pun mencari ”guru baru” di antara murid pamannya. Sejak itulah, dia tertarik dan bahkan menjadi penghayat kepercayaan Sapto Darmo satu-satunya di lingkungan keluarganya hingga sekarang.

Meski demikian, dia membebaskan anak-anak dan istrinya memeluk agam lain. ”Istri dan anak saya bebaskan. Terserah, kalau memang nanti mau ikut (Sapto Darmo, Red) ya bagus. Kalau tidak ya tidak apa-apa. Mereka bebas menentukan pilihannya,” tutur pria kelahiran Pati, 12 Februari 1964 itu.

Apa yang dikatakannya memang terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga anaknya dan istrinya, Sri Sapartina memeluk agama Islam. Meski dia menyebut salah satu anak dan istrinya sempat ikut beribadah di sanggar Candi Busono, tempat penganut Sapto Darmo biasa beribadah.

Dwi Karno menyadari betul, sebagai minoritas dirinya wajib menyesuaikan diri dengan masyarakat mayoritas. Maka, tak ayal dia pun terbiasa ikut kenduren atau tahlilan apabila mendapat undangan dari warga.

”Ya namanya diundang, ya datang. Tidak masalah. Yang lain pakai peci, saya juga pakai peci,” aku Dwi Karno yang juga ditunjuk sebagai ketua RT setempat sejak tiga tahun lalu itu.

Selama hidup di Kota Garam, tepatnya di Jalan Cokroaminoto, RT 1/RW 2, Desa Kabongan Kidul, Kecamatan Kota Rembang, dia mengaku tak pernah mendapat perlakuan diskriminatif. Masyarakat setempat saling menghargai apa pun kepercayaan yang dianut.

”Yang terpenting kan sesama manusia harus hidup rukun. Dengan semua orang harus baik. Kalau ada yang tidak baik ya didiamkan saja,” katanya.

Dia menerangkan, sebagaimana kepercayaan atau agama lain, Sapto Darmo pun memiliki tokoh yang memperoleh wahyu dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Sang tokoh itu, Panuntun Agung Sri Gutama yang merupakan penerima ajaran Sapto Darmo.

Sang Panuntun mendapatkan wahyu sekitar tahun 50 Masehi di Pare Kediri, Jawa Timur. Ajaran ini juga memiliki panuntun perempuan yang disebut Sri Pawenang. Penjelasan untuk tokoh ini, yakni tokoh panutan perempuan. Dwi Karno tak menjelaskan lebih panjang untuk sosok perempuan ini.

Selain itu, kepercayaan ini juga memiliki ajaran dasar. Yakni apa yang disebut dengan Wewarah Tujuh. Isinya, kewajiban warga Sapto Darmo yang intinya beriman kepada Tuhan dan berbaik kepada sesama.

Sehari-hari, Dwi Karno bekerja serabutan. Dia mengerjakan apa saja apabila diminta tolong tetangga. Dia berprinsip, menerima apa saja yang diberikan Tuhan atau nrimo ing pandum. Bila tak ada pekerjaan, dia pun ikut membantu istrinya berjualan makanan ringan tak jauh dari kediamannya.

Untuk diketahui, penghayat kepercayaan sebentar lagi memiliki e-KTP dengan keterangan agama khusus. Di Rembang, jumlah golongan ini ada sekitar 500 orang. Mereka tergabung dalam kelompok bernama Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MKLI) yang diketahui oleh Dwi Karno sendiri. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia