Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Strategi Guru di Era Revolusi Industri

14 Maret 2019, 08: 48: 05 WIB | editor : Ali Mustofa

Fivi Yulianto Purno Wibowo, S.Kom; Guru Teknik Komputer dan Jaringan SMKN 1 Purwodadi Kabupaten Grobogan   

Fivi Yulianto Purno Wibowo, S.Kom; Guru Teknik Komputer dan Jaringan SMKN 1 Purwodadi Kabupaten Grobogan   (dok pribadi)

INDONESIA saat ini sedang dihadapkan dengan Revolusi Industri 4.0. Suatu perubahan besar dalam dunia Industri yang memaksa peran manusia tergantikan oleh mesin. Revolusi industri 4.0 mengacu pada teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan internet. Dampak revolusi industri ini akan mengeliminasi beberapa pekerjaan.

Di Indonesia, indikasi itu terlihat dari banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan. Seperti dilansir dari finance.detik.com sudah ada 50.000 karyawan bank yang di-PHK akibat digantikan teknologi.

Namun belum kelar kita memasuki Revolusi Industri 4.0, tantangan justru telah mencapai tahap Revolusi Industri 5.0. Perkembangan teknologi yang begitu pesat, termasuk kehadiran robot cerdas dianggap dapat mendegradasi peran manusia.

Hal itu yang melatarbelakangi lahirnya Society 5.0 yang diperkenalkan di Kantor Perdana Menteri Jepang beberapa waktu yang lalu. Secara sederhana, Society 5.0 dapat diartikan sebagai suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi. Contoh aplikasi yang akan diterapkan adalah kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan. Serta Internet of Things yang menjadi suatu terobosan baru dalam kehidupan manusia.

Guru merupakan ujung tombak dunia pendidikan dalam menyiapkan manusia dalam penguasaan teknologi. Revolusi industri tak pelak akan mengubah pola pendidikan yang berada di tanah air. Selain penguasaan kurikulum dan metode pembelajaran yang selalu berkembang dinamis, guru juga dituntut untuk menguasai teknologi Kecerdasan Buatan, data dan informasi (big data), komputasi awan (cloud computing), internet, uang digital, sosial media hingga keamanan data.

Ironi memang, ketika tuntutan yang begitu berat tetapi kondisi pendidikan Indonesia jauh dari harapan. Menurut data statistik UNESCO (2017) dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60 dengan tingkat literasi rendah. Fakta lain seperti dilansir dari antaranews.com, berdasarkan hasil survei dari Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) diperoleh hasil hanya 40 persen dari guru nonteknologi dan komunikasi (TIK) yang siap dengan teknologi. Tentu ini menjadi kendala yang besar bagi bangsa ini untuk memasuki revolusi industri 4.0 dan menuju gerbang revolusi industri 5.0

Sebagai garda terdepan di dunia pendidikan, guru harus mampu membangkitkan minat siswa dalam literasi. Guru juga harus mampu menguasai teknologi digital. Untuk itu guru harus menguasai dan memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran dan menguasai kompetensi yang sangat penting dimiliki siswa di abad 21, yakni keterampilan berpikir kritis (critical thinking), pemecahan masalah (problem solving), komunikasi (communication) dan kolaboratif (collaborative).

Guru harus mampu meramu dan mengonstruksi pembelajaran, sehingga dapat mengeksplor kompetensi siswa. Selain itu guru juga harus mampu mengembangkan keterampilan berpikir kreatif dan inovatif siswa. Keterampilan ini perlu dilakukan agar siswa mampu bersaing dan menciptakan lapangan kerja berbasis industri.

Literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan Penguasaan media informasi menjadi kewajiban yang harus dikerjakan guru. Literasi TIK harus dikuasai, agar mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi revolusi industri. Penguasaan media informasi menjadi salah satu yang cukup penting. Media sosial terkadang menjadi media komunikasi yang ampuh digunakan siswa. Untuk itu guru harus mampu memanfaatkan media sosial sebagai salah satu media pembelajaran, agar pembelajaran berlangsung tanpa batas ruang dan waktu.

Berat memang, tetapi guru Indonesia harus mampu menjadi garda terdepan dalam menghadapi terjangan revolusi industri, meski disibukkan oleh beban kurikulum dan administratif yang sangat padat. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia