Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Features
Kegigigihan Suharti Cegah Pernikahan Dini (1)

Sempat Dicuekin Warga, Prihatin Banyak Janda Muda

11 Maret 2019, 06: 49: 47 WIB | editor : Ali Mustofa

PEDULI: Suharti menyambut salam para siswa di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, baru-baru ini.

PEDULI: Suharti menyambut salam para siswa di Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, baru-baru ini. (SEMEN GRESIK FOR RADAR KUDUS)

Desa Tegaldowo, Kecamatan Gunem, Rembang, memiliki perempuan bernama Suharti, 50. Dia gigih berjuang agar tak ada lagi pernikahan dini di kampungnya. Atas usahanya, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan holding PT Semen Gresik mendukung penuh upayanya.

ALI MAHMUDI, Rembang

MELIHAT maraknya kasus pernikahan dini di Desa Tegaldowo, Gunem, Rembang, membuat Suharti, 50, prihatin. Sebab, di balik fenomena sosial itu juga terselip kisah tentang minimnya pendidikan, ketidakberdayaan anak-anak menentukan pilihan masa depannya, ketidaksiapan reproduksi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga maraknya perceraian.

Suharti pun tergerak berbuat sesuatu untuk desanya. Sebuah desa di kawasan perbukitan kapur dan berjarak 37 kilometer dari pusat Kota Rembang. Beruntung, ada berbagai lembaga yang peduli. Selain Yayasan Plan International Indonesia, juga ada PT Semen Gresik yang peduli mengikis praktik nikah dini di desanya.

Hasilnya kini bisa dirasakan. Kebiasaan yang sudah berjalan turun-temurun itu, terus berkurang. Anak-anak Desa Tegaldowo bahkan desa-desa di kawasan Kecamatan Gunem juga lebih memiliki pilihan menatap masa depan hidupnya dengan lebih cerah.

”Dulu di sini, anak baru lulus SMP sudah dinikahkan itu sesuatu yang lazim. Makanya saat usia mereka 20 tahunan, banyak yang sudah berstatus janda atau duda. Tak hanya sekali, bahkan bisa 2-3 kali. Tapi, sekarang kondisinya sudah berbeda. Masih ada (nikah usia dini) tapi sudah jauh berkurang," kata Suharti saat ditemui baru-baru ini.

Suharti sendiri merupakan ketua Komite Perlindungan Anak Desa (KPAD) Tegaldowo. Dia bersinggungan dengan lembaga ini sejak 2005. Persisnya setelah sebuah NGO (non goverment organization) yang fokus dalam kesetaraan gender dan hak anak, yakni Yayasan Plan International Indonesia masuk ke desanya.

Kebetulan, Suharti merupakan kepala TK Pertiwi Tegaldowo yang aktivitas hariannya berhubungan langsung dengan anak-anak. Sehingga klop dengan progam NGO yang berkantor di Jakarta itu. Desa Tegaldowo menjadi salah satu desa dampingan Yayasan Plan.

Selain Tegaldowo, Plan juga menggarap desa lain. Baik di Kecamatan Gunem, maupun sejumlah wilayah lain di Kota Garam. Selain jambanisasi, progam pencegahan pernikahan dini termasuk prioritas yang dijalankan NGO ini. Suharti dan sejumlah rekannya menjadi ujung tombak progam tersebut di Desa Tegaldowo. Anak-anak mulai usia balita hingga 17 tahun menjadi ”target utama" progam tersebut.

”Kami juga melakukan pendekatan dengan orang tua anak-anak itu. Saat ada kumpulan wali murid TK Pertiwi Tegaldowo atau SMP serta momen lain, saya juga sampaikan tentang bahaya pernikahan dini. Upaya pemberdayaan ini, tidak akan berhasil maksimal tanpa partisipasi dan dukungan dari orang tua, lingkungan, maupun pihak terkait lain,” jelas Suharti.

Anak-anak yang masih proses tumbuh kembang diajak terlibat aktif dalam berbagai kegiatan positif. Mulai dari aktivitas seni, olahraga, pecinta alam, pengembangan wawasan berpikir, dan lain sebagainya. Agar fokus dan tepat sasaran, berbagai kegiatan itu diwadahi dalam Forum Anak Desa (FAD).

Wawasan anak-anak juga diperluas. Mereka diajak meneropong masa depannya. Fenomena yang terjadi di sekitar kerap dijadikan contoh untuk membuka cakrawala berpikir anak-anak itu.

”Saya bilang ke mereka, lihat sekelilingmu, saudaramu, kakakmu, atau siapa saja yang menikah terlalu dini. Setelah menikah muda mereka ngapain? Umur masih muda sudah gendong anak, mengurusi rumah, pergi ke sawah atau yang sejenis. Makanya saya pesan ke mereka, menikah itu harus, tapi jangan terburu-buru. Masa depan masih panjang, semangat muda harus diisi dengan mimpi dan harapan," ujar Suharti.

Perjuangan Suharti bukan tanpa aral. Awalnya, banyak warga yang abai dengan apa yang dia perjuangkan. Sebab, menikah dini sudah menjadi kebiasaan yang berakar kuat di masyarakat. Selain itu, beban orang tua juga berkurang setelah anaknya dinikahkan.

Satu hal yang juga menjadi ”kepercayaan” dan berkembang di masyarakat juga seakan menguatkan praktik pernikahan dini. Mereka khawatir jika anaknya dilamar tapi ditolak, maka bakal tidak laku kawin. Hal ini menjadi perawan tua dan istilah lain yang sejenis.

Progam dampingan Yayasan Plan di Tegaldowo berakhir pada 2015 lalu. Seiring proses itu, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk yang merupakan holding PT Semen Gresik juga melakukan upaya serupa di Desa Tegaldowo dan kawasan sekitarnya.

Progam yang dijalankan pun nyambung dengan upaya yang dirintis Yayasan Plan. Mulai dari pemberdayaan perempuan lewat pelatihan tata boga, tata rias, hingga progam kejar paket untuk anak-anak putus sekolah, Griya Pamulangan, progam jambanisasi, dan lain sebagainya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia