Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Pena Muda
Pelajar SMK di Kudus Go International

Skill Make Up Antarkan Dua Siswi ke Paris

11 Maret 2019, 01: 19: 13 WIB | editor : Ali Mustofa

Lolalita Della Rosa (kiri) dan Fiya Triyani (kanan) 

Lolalita Della Rosa (kiri) dan Fiya Triyani (kanan)  (M ULIN NUHA/RADAR KUDUS)

Pelajar SMK di Kudus kembali mengharumkan Indonesia. Kali ini dari SMK PGRI 1 Mejobo dan SMK NU Banat. Dari SMK PGRI 1 Mejobo diwakili Lolalita Della Rosa dan Fiya Triyani yang menjadi make up artist (MUA) model internasional di Perancis. Sedangkan dari SMK NU Banat, tiga siswinya (Farah Aurellia Majid, Fitria Noor Aisyah, dan Annida Aulia Rahmalila) tembus final Sakuran Collection Student Award 2019 di Bali. Bahkan, Farah Aurellia Majid meraih runner up.

MEMASUKI halaman SMK PGRI 1 Mejobo, Kudus, tampak tak ada yang istimewa. Terkesan bangunan sekolah yang sederhana. Pun pintu gerbang sekolah yang biasa saja. Namun setelah melewati pintu gerbang berbahan besi yang sudah mulai berkarat itu, image sekolah berubah. Gedung di sebelah kiri (selatan) tampak mencolok, meski warna catnya didominasi grey. Di gedung itu, terdapat tulisan ”Beauty & Spa Academy”.

Begitu masuk, tim Pena Muda disambut Kepala Sekolah Joko Waluyo, Kepala Jurusan Tata Kecantikan Kulit dan Rambut (TKKR) Fitri Nurfitasari beserta staf, dan tentu saja Lolalita Della Rosa dan Fiya Triyani. Dua nama terakhir ini, merupakan siswi SMK PGRI 1 Mejobo yang sekitar Desember 2018 lalu, menjadi make up artist (MUA) model internasional di Paris, Perancis.

Tim Pena Muda berbincang di ruang loby yang sangat representatif. Di ruang ini, juga langsung terlihat sebagian laboratorium TKKR di sebelah kanan (barat). Ada deretan cermin besar dan peralatan tata kecantikan. Termasuk kursi untuk creambath yang terlihat modern dan nyaman.

Perbincangan dengan Lolalita Della Rosa dan Fiya Triyani diawali dengan kisahnya ikut seleksi menjadi MUA untuk dikirim ke Paris selama sembilan hari itu. Lolita -sapaan akrab Lolalita Della Rosa- bercerita, capaian membanggakan ini, awalnya dia mengetahui pengumuman dari sekolah sekitar November 2018. Bahwa ada seleksi menjadi MUA di Paris yang digelar Indonesia Fashion Chamber (IFC) bekerja sama dengan Djarum Foundation.

”Saya coba daftar dan mengikuti beberapa tes seleksi. Meliputi tes wawancara, psikotes, dan yang paling utama tas skill make up. Dari sekitar 15 pendaftar, kemudian tersaring menjadi sembilan orang,” terangnya.

Dari sembilan yang lolos itu, hanya diambil dua siswa. Begitu diumumkan, tersebutlah namanya dan Fiya Triyani. Ia pun serasa ingin pingsan. Sebab, ini menjadi pencapaian besar baginya. Apalagi dia juga bisa pergi ke luar negeri untuk kali pertama. Hal senada dirasakan Fiya Triyani.

Apalagi bagi Lolita, saat mengikuti seleksi MUA itu, justru bertepatan dengan persiapan mengikuti lomba kompetensi siswa (LKS) SMK tingkat Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Padahal, baru kali ini ada wakil sekolahnya bisa maju ke LKS provinsi.

”Saya jadi konsentrasi keduanya (seleksi menjadi MUA dan persiapan LKS, Red). Karena sama-sama pentingnya dalam sejarah hidup saya. Saya berupaya maksimal. Alhamdulillah setelah diumumkan, nama saya yang disebut untuk pergi ke Paris. Saya sampai jingkrak-jingkrak dan teriak-teriak saking senangnya,” ungkapnya. ”Sementara LKS, saya meraih peringkat IV. Nggak masalah, karena baru kali pertama. Semoga ke depan bisa juara,” imbuhnya.

DI PARIS: Lolalita Della Rosa (dua dari kiri) dan Fiya Triyani (dua dari kanan) membetulkan riasan model internasional saat pemotretan di sebelah Manara Eiffel.

DI PARIS: Lolalita Della Rosa (dua dari kiri) dan Fiya Triyani (dua dari kanan) membetulkan riasan model internasional saat pemotretan di sebelah Manara Eiffel. (LOLALITA DELLA ROSA FOR RADAR KUDUS)

Persiapan pun dilakukan. Pihak sekolah mendatangkan mentor khusus untuk mengasah percakapan bahasa Inggris keduanya. Termasuk mengurus paspor dan visa. Lolita mengatakan, waktunya memang mepet, berangkat ke Jakarta Senin (26/11/2018) kemudian Selasa (27/11/2018) sudah harus terbang ke Paris.

Dia mengatakan, belanja perlengkapan mulai dari jaket hangat, sepatu kulit, sarung tangan, dan sebagainya terpaksa di Jakarta. Dia dibantu guru pembina sekaligus Kepala Jurusan TKKR Fitri Nurfitasari selama di Jakarta.

Selain itu, juga harus berkoordinasi dengan SMK NU Banat yang menampilkan desain baju untuk dipakai model di Paris. ”Kami menyesuaikan tema dan desain baju. Make up yang diangkat bertema natural flowers. Jadi, lebih menonjolkan motif baju, sehingga tidak membutuhkan make up yang tebal. Bahkan terlihat tidak ber-make up. Itu jadi tantangan tersendiri,” tandasnya.

Sementara itu, Fiya menceritakan perjalanan menuju Paris ternyata sangat melelahkan. Begitu sampai di Paris, ia sempat muntah-muntah karena saking lamanya di perjalanan. Berangkat dari Jakarta pukul 10.00. Perjalanan sekitar tiga jam ke Bangkok, Thailand, untuk transit pesawat.

Sesampainya di Bangkok masih menunggu tujuh jam. Pada akhirnya naik pesawat menuju Kota Menara Eiffel itu. Perjalanan dari Bangkok ke Paris memakan waktu sekitar 12 jam. ”Jadi kalau ditotal, perjalanannya kurang lebih 24 jam,” cetusnya.

Dia mengatakan, begitu sampai ke Paris pukul 11.00 langsung menuju ke tempat acara IFC. Lokasinya di dalam Kapal Le Bories di atas sungai Seine. Mereka kemudian istirahat sejenak dan selanjutnya mulai merias.

”Saya bersama Lolalita masing-masing merias sembilan model dalam waktu tiga jam. Jadi harus kerja cepat. Namun hasilnya tetap maksimal. Inilah tantangan kami dan sebagai pengalaman kami. Ya, sedikit grogi tapi harus tetap fokus,” terangnya.

Di balik kegembiraan Fiya dan Lolalita bisa mendapat kesempatan langka ini, ada cerita yang kurang menyenangkan. Yakni tidak cocok dengan menu makanannya di kota pusat mode dunia itu.

Lolalita membagi pengalaman. Di sana mereka disuguhi mi ala Korea atau sejenis mi ramen, tapi penyajiannya ditambah es batu. ”Itu rasanya aneh sekali. Nggak enak. Akhirnya kami seringnya makan mi instan. Karena nasi di sana rasanya manis, kucang cocok untuk lidah kami,” ujarnya.

Mi tersebut memang sengaja dibawa dari Indonesia. Ditambah lagi membawa bon cabe dan saos instan. Imbasnya, selama di Paris berat badan mereka turun hingga sekitar lima kilogram.

MERIAS BULE: Lolalita Della Rosa (kiri) dan Fiya Triyani (dua dari kanan) merias model internasional di dalam Kapal Le Bories di atas sungai Seine, Paris, Perancis.

MERIAS BULE: Lolalita Della Rosa (kiri) dan Fiya Triyani (dua dari kanan) merias model internasional di dalam Kapal Le Bories di atas sungai Seine, Paris, Perancis. (LOLALITA DELLA ROSA FOR RADAR KUDUS)

Setelah merampungkan program merias di Paris itu, mereka ikut tur ke Belanda dan Belgia. Di Negeri Kincir Angin, kesedihan mereka tidak bisa makan nasi di Paris terlupakan. Selama tiga hari di Belanda, mereka akhirnya bisa makan yang cocok dengan lidah. Sebab, mereka menginap di rumah orang Indonesia yang tinggal di negara tersebut.

”Syukurlah akhirnya kami bisa makan ikan lele dan penyet tempe tahu, sehingga bisa makan dengan lahap. Di Paris kami kehilangan selera makan dan kedinginan karena suhunya mencapai lima derajat. Bahkan sampai satu derajat,” kata Lolita.

Setelah tiga hari di Belanda, mereka kemudian ke Belgia selama sehari. Selera makan mereka yang kembali tumbuh di Belanda dan Belgia berdampak adanya kenaikan berat badan mereka. Meski hanya naik 3 kg. Namun ini bertahan sampai pulang ke Indonesia.

Mereka pulang dan sampai di Kudus kembali pada Rabu (5/12/2018). Keesokan harinya mereka langsung mengejar ujian susulan semesteran. Setelah selesai, Jumat (7/12/2018) mereka harus terbang kembali ke Jakarta. Tujuannya, untuk jumpa pers bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI.

Menurut mereka, ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Fiya yang rumahnya di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kudus, dan Lolita yang berdomisili di Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kudus, memiliki kesempatan bisa ke Paris dengan skill yang dimiliki.

”Kami memang tinggal di desa, tapi untuk prestasi kami mampu bersaing dengan orang-orang yang tinggal di kota. Cita-cita kami memang menjadi MUA. Saat ini sebenarnya sudah ada tawaran-tawaran untuk kerja di kecantikan, tapi nanti dulu deh. Sekolah aja dulu yang penting,” ujar Fiya dan Lolalita.

Fitri Nurfitasari menuturkan, SMK PGRI 1 Mejobo sudah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan tata kecantikan. Termasuk MUA terkenal ibu kota. ”Kami sudah ada tawaran-tawaran, tapi itu kami kembalikan ke siswinya. Jika memang serius diambil, memang harus siap. Karena di dua MUA harus kerja keras dan ulet,” tuturnya. (ma’ruf, safina, shofi, beny)

Rubrik ini adalah karya jurnalistik para penerima Beasiswa Anak Asuh - Sumbangsih Sosial Djarum Foundation. Diterbitkan atas kerja sama Radar Kudus, Forum Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (FLKSA) Kabupaten Kudus dan Djarum Foundation. Para penerima beasiswa adalah anak asuh panti asuhan di Kudus yang mendapatkan beasiswa pendidikan penuh di SMK Binaan Djarum Foundation.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia