Sabtu, 20 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Features
Merasakan Toleransi saat Hari Nyepi di Plajan

Lewati Pura Matikan Motor, Malam Hari Muslim dan Kristiani Ronda

08 Maret 2019, 09: 34: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

SEPI: Jalan di sekitar Pura Dharma Loka, Desa Plajan, Pakisaji, Jepara, terlihat lengang kemarin. Terlihat salah satu pengendara motor yang dimatikan mesinnya.

SEPI: Jalan di sekitar Pura Dharma Loka, Desa Plajan, Pakisaji, Jepara, terlihat lengang kemarin. Terlihat salah satu pengendara motor yang dimatikan mesinnya. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Toleransi antarumat beragama terasa saat peringatan Hari Nyepi di Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, kemarin. Saat umat Hindu sedang tapa brata, warga pemeluk Islam dan Kristen ikut menjaga ketenangan dan keamanan. Berikut laporan wartawan Radar Kudus M Khoirul Anwar.

 SEPEDA motor meluncur dari arah timur ke barat melewati Jalan Pemuda, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Jepara, kemarin siang. Namun tidak terdengar suara knalpot. Sebab, oleh pengendara motor tersebut sudah mematikan mesinnya. Nyesss... Motor pun mluncur dalam keadaan mati.

Hal itu dilakukan beberapa pengendara motor yang melewati Pura Dharma Loka di Desa Plajan. Pura itu berada di jalan yang menanjak jika kendaraan dari arah barat. Sehingga kendaraan dari arah timur posisinya menurun.

Kemarin adalah Hari Nyepi bagi umat Hindu. Ada sekitar 500 umat Hindu di sepanjang Jalan Pemuda, Desa Plajan. Warga yang mematikan mesin motornya itu, sebagai bentuk penghormatan bagi umat Hindu yang sedang menjalani Nyepi di dalam rumah mereka.

”Saya bukan warga Plajan, tapi tahu kalau di sekitar pura sedang berlangsung tapa brata. Jadi, motor saya matikan (saat lewat di pura),” kata Shodiqin, salah satu pegendara asal Desa Tanjung, Pakis Aji.

Memang tidak semua pengendara mematikan mesin motornya ketika melewati jalan tersebut. Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, lalu lintas di sekitar jalan tersebut tidak seramai biasanya. Kemarin, setiap setengah jam hanya ada lima sampai tujuh kendaraan yang lewat.

Penganut Hindu di Desa Plajan ada sekitar 700 orang dari 8.000 penduduk. Sehingga setiap Nyepi juga memengaruhi keramaian lalu lintas desa.

Bagi warga selain penganut Hindu, pintu rumahnya terbuka. Ada aktivitas. Seperti jualan, cuci motor, dan bekerja. Namun bagi umat Hindu, pintu dan jendela rumah mereka ditutup. Tirai kaca bagian rumah juga ditutup.

Kemudian, Jawa Pos Radar Kudus memantau suasana di Pura Puser Bumi, Desa Plajan. Jaraknya setengah kilometer dari Pura Dharma Loka. Di sana juga sepi. Bahkan, motor salah satu umat Hindu dibiarkan terparkir di depan rumah. Padahal semua anggota keluarga sedang Nyepi di dalam rumah.

Menurut Irfan, ketua RT 1/RW 7, Desa Plajan, hal itu lumrah. Sebab, selama Nyepi warga muslim, Banser, Linmas, dan warga nasrani ikut menjaga ketertiban lingkungan. Malamnya diadakan ronda. ”Parkir di luar aman. Di sini budayanya saling menjaga,” tuturnya.

Di jarak sekitar 100 meter dari Pura Puser Bumi ada Masjid At-Taqwa. Selama Nyepi, kumandang azan di masjid itu tidak menggunakan speaker. Supaya tidak mengganggu ritual umat Hindu.

Di sekitar pura, ada delapan rumah warga Hindu. Pintu rumah warga ditutup semua. Keseharian warga di sini rata-rata sebagai tukang kayu. Namun, kemarin tak terdengar suara gergaji yang biasa terdengar ketika memotong kayu. Begitu juga dengan suara peralatan mebel tidak terdengar.

”Pekerja yang biasa menggergaji kayu libur. Supaya umat Hindu tidak terganggu,” katanya.

Penghormatan terhadap umat Hindu tidak hanya di Masjid At-Taqwa yang kebetulan berdekatan dengan Pura Puser Bumi. Masjid maupun musala yang di sekitarnya ada umat Hindu juga melakukan hal serupa.

Selain itu, masyarakat di Desa Plajan juga diimbau agar menjaga situasi wilayah tetap kondusif dan tidak muncul suara gaduh. Termasuk tidak menghidupkan suara musik atau menggeber kendaraan bermotor.

Bila Idul Fitri tiba, warga Kristiani dan Hindu saling membantu menjaga keamanan masjid ataupun berpatroli ke rumah-rumah yang ditinggal salat agar tak kemalingan. Lalu ketika hari raya Natal, umat muslim dan Hindu menjaga keamanan gereja, agar saudara lain agama tersebut khusyuk beribadah.

Sementara itu, Priyatin, kepala Desa Plajan, menuturkan, pihaknya telah memberikan edaran kepada seluruh warga dan tempat ibadah untuk menghormati perayaan Nyepi umat Hindu. Jumlah tempat ibadah di Desa Plajan meliputi 14 masjid, 40 musala, empat pura, dan satu gereja.

”Pemerintah desa berupaya menjaga keamanan dan ketertiban lingkungan selama pelaksanaan Nyepi. Seluruh warga harus berpartisipasi untuk mewujudkan kemanan tersebut,” ujarnya.

Selama pelaksanaan catur brata, umat Hindu menjalani empat penyepian. Meliputi amati karya yang berarti tidak bekerja, amati geni atau tidak menyalakan api, amati lelungan tidak bepergian, dan amati lelanguan tidak bersenang-senang. Termasuk tidak menyalakan alat komunikasi.

Catur Brata penyepian yang dijalani umat Hindu saat Hari Nyepi tersebut, berlangsung selama 24 jam atau hingga Jumat (8/3) pukul 06.00. Setelah proses penyepian selesai, dilanjutkan upacara Ngambak Geni atau menyalakan api kembali.

(ks/war/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia