Selasa, 23 Apr 2019
radarkudus
icon featured
Features
Gunakan Perahu, Warga Tak Perlu Memutar 5 Km

Nyeberang Rp 2.000, Pelajar dan Acara Kematian Gratis

08 Maret 2019, 09: 19: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

TARIK TAMBANG: Perahu yang dinakhodai Rihwan menyeberangkan warga di sungai Lusi kemarin.

TARIK TAMBANG: Perahu yang dinakhodai Rihwan menyeberangkan warga di sungai Lusi kemarin. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Warga Dukuh Berkas, Desa Terkesi, Kecamatan Klambu, Grobogan, harus menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi sungai Lusi. Ini menjadi akses tercepat ketika hendak menyeberang. Entah itu akan pergi bekerja, sekolah, atau acara pemakaman. Jika jasa ini sudah tutup, terpaksa para warga harus mengambil rute lain sejauh 5 kilometer.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Grobogan

PEREMPUAN berkerudung putih itu termenung melihat arus sungai Lusi di Dukuh Berkas, Desa Terkesi, Klambu, Grobogan, yang sudah lumayan tinggi. Di ujung sungai tampak perahu kosong tak ada orangnya. Ia pun hanya diam duduk di atas motor matik yang sudah dimatikan mesinnya. Seakan ingin mengusir rasa bosan ia pun berkaca di spion motornya.

Dari jarak sekitar 50 meter sudah tampak perahu yang dinakhodai Rihwan makin mendekat. Kriek... kriek... kriek... Bunyi tambang yang bergesekan dengan katrol mulai makin terdengar ketika perahu hendak berlabuh. ”Tak kiro meh gak disebrangke (Saya kira tidak akan diseberangkan). Saya sudah mau balik lewat Godong tadi,” ujar perempuan itu kepada Rihwan ketika melabuhkan perahunya.

”Lha yo tetap disebrangke to ya,” sahut Rihwan. Langsung saja perempuan itu menaikkan motornya ke perahu. Jawa Pos Radar Kudus juga ikut naik.

Jika dilihat dari pinggir sungai, arus air tampak tenang. Tetapi makin mendekat ternyata arus cukup deras. Rihwan juga tampak keberatan menarik tambangnya itu. ”Dari dulu sebelum saya lahir ya seperti ini. Belum pernah ada jembatan. Aktivitas warga ya menggunakan perahu ini. Anak sekolah, guru, petani, sampai orang meninggal juga menggunakan prahu ini,” jelas Rihwan.

Sebetulnya ada akses jalan lain. Tetapi harus menempuh rute cukup jauh sekitar 5 kilometer. Jadi, para warga lebih memilih menggunakan perahu karena lebih menghemat waktu.

Bersama kawannya, Rihwan bergantian tugas menyeberangkan warga. Jasa penyeberangan ini mulai pagi sampai malam habis Isya. Kecuali jika ada acara-acara tertentu. Seperti pengajian atau acara desa. Jika jasa perahu ini sudah tutup, terpaksa warga harus mengambil rute lain. Jaraknya cukup jauh.

Sekali menyeberang, para warga memasukkan uang Rp 1.000 atau Rp 2.000 ke keranjang yang sudah dipasang di perahu. Namun, khusus para guru, murid-murid sekolah, dan jika ada acara kematian tidak dipungut biaya.

Jika sedang ramai, bisa ada sekitar 200 warga yang menyeberang per hari. Uang hasil tarikan ini, disetorkan kepada desa. Kemudian ia dan rekannya mendapatkan gaji sendiri.

”Nanti uangnya disetorkan ke desa. Buat perbaikan ini (jalan setapak menuju pinggir sungai, Red). Karena kalau pas banjir bisa sampai atas. Ininya (jalan setapak, Red) jadi rusak. Juga untuk perbaikan-perbaikan lain,” kata pria bertopi biru itu.

Ia menambahkan, terkait petugas penyeberangan seperti dirinya ini, ada pemilihan setiap dua tahun sekali. Warga yang berminat mencalonkan diri dikumpulkan di masjid. Kemudian dimusyawarahkan dan dipilih masyarakat. Tak hanya bertugas menyeberangkan warga. Petugas juga menjaga kebersihan sungai.

Tak terasa, sudah bolak-balik lebih empat kali bersama Rihwan, Jawa Pos Radar Kudus pun turun di sisi utara sungai. Sudah ada beberapa warga yang menunggu ingin diseberangkan.

”Ada apa, mau ada usulan dibikinkan jembatan ya,” sahut Pri, salah satu warga yang hendak menyeberang ketika melihat Jawa Pos Radar Kudus memegang kamera.

”Siapa tahu mau diusulkan dibikinkan jembatan. Di sini dulu ada tiga titik perahu. Yang satu titik sudah dibikinkan jembatan gantung. Yang satunya lagi sudah tidak dipakai. Sekarang tinggal satu ini tok,” imbuhnya.

Ia menambahkan, profesi seperti Rihwan ini, sudah berganti dari generasi ke generasi. Ia juga berharap agar dibikinkan jembatan. ”Kalau diusulkan dibikinkan jembatan kan lebih baik,” ujarnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia