Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Inspirasi

Peduli Masalah Reproduksi

08 Maret 2019, 08: 53: 04 WIB | editor : Ali Mustofa

Tufy Supriyanti

Tufy Supriyanti (DOK PRIBADI)

KEPEDULIANNYA tentang masalah reproduksi remaja membuat Tufy Supriyanti aktif di Pusat Informasi dan Konseling-Mahasiswa (PIK-M) Lingkar Seroja UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Prestasinya makin cemerlang setelah dinobatkan sebagai juara III Duta Genre BKKBN DIJ Jalur Pendidikan 2018.

Selain itu, mahasiswa semester VIII, Jurusan Manajemen Dakwah, UIN Sunan Kalijaga ini, merupakan mahasiswa berprestasi di kampusnya. Selain itu, dia juga banyak meraih beasiswa. Mulai dari Awardee Beasiswa Kemenag Jalur Prestasi UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 2016 dan 2017 serta Awardee Beasiswa BRI 2018. Selain itu, pernah menjadi runner up III Miss Hijabie 2019.

Prestasi yang semakin moncer, tak membuat mahasiswi yang beralamat di RT 5/RW 2, Desa Karang, Kecamatan Bogorejo, Blora, ini besar kepala. Sebaliknya, kepeduliannya terhadap permasalahan reporoduksi remaja, semakin lama semakin matang.

”Tugas kita adalah mengajak remaja untuk mewaspadai tiga hal yang menjadi pemicu masalah reproduksi remaja. Jadi, remaja itu harus say no to early marriage, say no to sex before marriage, and say no to drug,” ucap mahasiswi penyuka fotografi ini.

Tak hanya itu, alumni SMK Negeri 2 Blora ini, juga menyikapi maraknya pernikahan dini yang ada di kota asalnya, Blora. Tufy mengatakan, meski berefek positif seperti menghindarkan terjadinya aktivitas seksual di luar nikah, dampak negatif pernikahan dini juga tak dapat dinafikan.

”Pernikahan dini biasanya dilatarbelakangi berbagai alasan. Seperti ekonomi, married by accident (MBA) dan lain sebagainya. Sisi negatifnya, tidak adanya kesiapan dalam membangun rumah tangga. Baik kesiapan ekonomi, psikis, dan sosial emosional,” papar gadis kelahiran 12 April 1998 ini.

Menurutnya, hal ini akan memicu timbulnya berbagai permasalahan rumah tangga. Seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan berbagai masalah lain.

Kepada Jawa Pos Radar Kudus, Tufy mengaku, waktu SMA bisa dibilang dia masih kurang aktif dalam kegiatan organisasi di sekolah. Sebab, keterbatasan jarak rumah ke sekolah. ”Jadi belum diizinkan oleh orang tua. Namun alhamdulillah, di akademik saya masuk rangking V dan X besar,” imbuhnya.

Setelah lulus sekolah SMK, dia mengikuti BPUN Blora (semacam bimbel kilat mengikuti tes masuk kuliah). ”Target kampus awal Unnes. Namun tidak lolos dan dikasih jalan sama Allah untuk kuliah di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta S1, Jurusan Manajemen Dakwah,” jelasnya.

Saat kuliah semester awal, dia sempat mengikuti badan organisasi mahasiswa (BOM) fakultas di bidang jurnalis (LPM Rhetor). Namun setelah dijalani dia belum menemukan passion. Akhirnya dia masuk di komunitas tari UIN (Adab Dance Community).

Pada 2017 dia juga mengikuti UKM PIK-M Lingkar Seroja. Dia pun didelegasikan untuk mengikuti pemilihan Duta Genre DIJ 2018. ”Alhamdulillah saya mendapatkan juara III,” jelasnya.

Di luar kampus dia juga mengikuti organisasi daerah (Kamaba Jogjakarta). Pada 2018 ia didelegasikan untuk mengikuti organisasi IKPM Jawa Tengah. ”Sejak 2017 saya mulai menikmati dunia modeling dan make up,” terangnya.

Untuk mengembangkan minat dan bakat tersebut, dia mulai mencari-cari wadah untuk belajar. Ketemulah Hijabie Community. Saat itu pas ada pemilihan miss hijabie.”Saya ikut, alhamdulillah dapat runner up III,” terang perempuan yang sedang menyelesaikan skripsi ini.

(ks/sub/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia