Minggu, 24 Feb 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Puisi Kontroversial Fadli Zon Jadi Puncak Kesebalan Ribuan Santri

09 Februari 2019, 10: 04: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

KHUSYUK: Ribuan santri doa bersama di depan Pendapa Kudus kemarin.

KHUSYUK: Ribuan santri doa bersama di depan Pendapa Kudus kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

KOTA – Sekitar seribu santri Kudus menggelar aksi dzikir dan doa bersama di depan air mancur Pendapa Kabupaten Kudus kemarin. Aksi yang digawangi aliansi santri membela kiai (Asmak) ini meminta tokoh nasional Fadli Zon bertaubat. Sebab ia dinilai telah banyak menghujat dan menghina para kiai.

Dalam pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lapangan, ribuan santri dari berbagai penjuru Kudus itu mulai berdatangan usai pelaksanaan salat Jumat. Dengan bersarung, berpeci dan memakai atasan putih dengan ikatan pita merah putih di lengan sebelah kanan, mereka mulai duduk rapi di depan air mancur pendapa setempat.

Lantunan shalawat pun diucapkan sambil menunggu peserta aksi lainnya datang. Tak hanya santri yang terlibat dalam aksi siang kemarin. Ratusan santriwati juga turut hadir memberikan dukungan kepada kiainya. Mereka hadir atas kemauan sendiri, tanpa ada intervensi dari siapapun.

“Kami merasa terpanggil. Sekaligus ini bentuk keprihatinan kami atas iklim perpolitikan yang cenderung selalu melibatkan, menjelekkan dan menjatuhkan kiai,” kata Ahadun, salah satu santri dari Desa Jepang, Kecamatan Mejobo.

Sekitar pukul 14.00 aksi yang diikuti santri dari 15 pesantren di Kudus itu dimulai. Setelah melantunkan lagu Indonesia Raya dan Ya Lal Wathon, mereka dengan khusyuk melantunkan dzikir. Kemudian dilanjutkan doa bersama.

Ketua Asmak Kudus Muhammad Sya’roni mengungkapkan, kesebalan atas kegaduhan politik yang menyeret nama sejumlah kiai panutannya ini sudah dirasakan sejak beberapa waktu yang lalu. Hanya saja puisi Fadli Zon yang ditulis Minggu (3/2) itu semakin memicu santri untuk melakukan aksi ini.

”Kalau sebal kami sudah cukup lama. Dengan puisi Fadli Zon itu yang menjadi puncak kekesalan kami para santri,” katanya saat ditemui di tengah-tengah aksi kemarin.

Para santri tersebut meminta Fadli Zon meminta maaf kepada sejumlah kiai. Karena sikap dan tutur katanya yang sering menghina kiai. Tak hanya KH. Maimoen Zubair menjadi salah satu kiai yang masuk dalam daftar celaannya. Sebelumnya Fadli Zon juga pernah mencela KH Yahya Cholil Tsaquf, Tuan Guru Bajang, hingga KH Ma’ruf Amin.

”Kami minta hentikan mencela kiai,” ujarnya.

Aksi doa bersama untuk kiai ini sempat dijeda untuk shalat ashar berjamaah di Masjid Agung Kudus. Usai itu, aksi kembali dilanjutkan secara tertib. KH Ahmad Asnawi turut hadir untuk memberikan tausiyah. Aksi ditutup dengan lima pernyataan sikap. Salah satunya para santri meminta para elit politik untuk berpolitik secara santun beradab dengan menjaga kerukunan dan perdamaian NKRI.

Para santri juga meminta semua politisi baik di daerah maupun di pusat, untuk berpolitik dengan mengedepankan akhlak karimah. Tidak menjadikan agama sebagai komuditas politik untuk mendapatkan kepentingan politik sesaat. Serta menyeru seluruh santri untuk menjaga marwah para kiai dan tetap mengendapkan akhlakul karimah. Sebagai suri teladan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

”Kami menyeru seluruh elemen masyarakat untuk menjaga kondusifitas dan keamanan serta kedamaian serta saling menghormati antara sesama masyarakat meskipun beda pilihan politik,” ucap secara serentak oleh ribuan santri.

Sebelum bubar puisi balasan berjudul ‘Do’a Yang Tertukar Bukan Bangsa yang Tertukar’ dibacakan Gus Kholid, santri dari pondok budaya.

(ks/daf/him/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia