Minggu, 24 Feb 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Seru, Jelang Deadline, Radar Kudus Terima Oleh-oleh Tengah Malam

30 Januari 2019, 12: 09: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

SERU: Doan Widhiandono memberikan materi jurnalistik. Itulah oleh-oleh tengah malam yang seru. Hadir juga Nur Wahid, Wakil Direktur Jawa Pos Radar dan Alfi an, layouter Jawa Pos.

SERU: Doan Widhiandono memberikan materi jurnalistik. Itulah oleh-oleh tengah malam yang seru. Hadir juga Nur Wahid, Wakil Direktur Jawa Pos Radar dan Alfi an, layouter Jawa Pos. (DONY SETIYAWAN/RADAR KUDUS)

BAE – Tengah malam menjelang deadline Jawa Pos Radar Kudus kedatangan tamu. Mereka yakni Doan Widhiandono Redaktur senior Jawa Pos, Nur Wahid Wakil Direktur Jawa Pos Radar, dan Alfian salah Layouter andal Jawa Pos. Kedatangannya disambut mati lampu. Hujan deras pula. Meski demikian, diskusi tetap seru.

”Doan Widhiandono ini redaktur senior di Jawa Pos. Dia banyak jalan-jalan ke luar negeri. Saya kalah jauh dengan mas Doan ini. Tulisannya featurenya sangat baik. Makanya ia sering ditugaskan ke luar negeri,” kata Baehaqi, Direktur Jawa Pos Radar Kudus memperkenalkan Doan. Hasil petualangan Doan dari berbagai negara dirangkum dalam buku Oleh-oleh Jurnalis.

Setelah Baehaqi memperkenalkan seluruh peserta yang hadir, Doan pun memulai mengisi diskusi Bercerita ala Jawa Pos. Paparannya menyenangkan. Bahkan sesekali menyelipkan joke yang membuat gelak tawa. ”Mas kenapa semua slide isinya gambar perempuan,” kata Subekan, wartawan yang ditugaskan di Blora. Semua tertawa. ”Soalnya mereka cantik,” katanya. Semua tertawa lagi. Bagi Doan cantik itu menyenangkan.

”Sekitar 400 feature saya simpan ke harddisk. Harddisk saya masukkan tas. Kemudian tas itu saya masukkan ke mobil. Eh ternyata ada yang berminat dengan tulisan saya. Kaca mobil saya dipecah, tas saya diambil,” katanya saat diskusi. Seluruh peserta pun tertawa, suasana juga makin cair.

Cara penyampaian Doan memang asik. Dia sering melontarkan guyonan-guyonan yang membuat peserta tertawa. Tak melulu tentang humor, dia pun mampu menyampaikan materi dengan jelas dan runtut. Mulai dari cara memilih fakta, teknik observasi, wawancara, hingga cara penulisan.

Para peserta nampak antusias mengikuti diskusi ini. Ditengah-tengah materi, dia sering memancing para peserta untuk aktif. Dengan cara memberi pertanyaan. Setelah semua materi sudah disampaikan, para peserta juga aktif bertanya.

Setelah diskusi selesai, Doan juga menghadiahkan buku tulisannya kepada peserta diskusi. Muhammad Ulin Nuha, Redaktur Pelaksana (Redpel) Radar Kudus yang mendapatkan hadiah menarik itu.

Dalam diskusi ini, ia berpesan agar para wartawan harus rajin membaca.”Ilmu jurnalistik bisa dicapai 80 persen dalam 3 tahun. Yang 20 persen itu tak terhingga. Maka kita harus selalu belajar,” ungkapnya.

Maka, wartawan itu harus bisa menggali informasi lebih. Bahkan saat membikin feature bisa sampai dua hingga tiga kali wawancara. Biar materi semakin komplet. ”Wartawan Jawa Pos Harus Bisa Menceritakan Berita,” imbuhnya menirukan perkataan Dahlan Iskan. (vah)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia