Minggu, 24 Feb 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Literasi Sains dan STEM Songsong Generasi Emas Abad 21

30 Januari 2019, 07: 38: 37 WIB | editor : Ali Mustofa

Unik Wijarwati, S.Pd.; Guru SMPN 2 Rembang

Unik Wijarwati, S.Pd.; Guru SMPN 2 Rembang (DOK PRIBADI)

PESATNYA perkembangan teknologi menjadikan serba digital dan semakin cepatnya perkembangan informasi melalui jaringan internet tanpa batas. Saat ini, secara tidak sadar telah memasuki era revolusi industri 4.0.

Sebagai guru IPA, apa yang harus kita persiapkan bagi siswa untuk menghadapi tantangan abad 21 yang ditandai dengan era revolusi industri 4.0? Bagaimanakah proses pembelajaran yang dapat diberikan untuk mempersiapkan kompetensi siswa dalam menghadapi tantangan abad 21? Proses pembelajaran IPA yang diharapkan ini, telah dikemas dalam Kurikulum 2013. Pada Kurikulum 2013 sudah sangat jelas, bahwa Indonesia akan mempersiapkan Indonesia Emas tahun 2045. Bagaimanakah mempersiapkan siswa kita untuk menghadapi tantangan abad 21 di era revolusi industri 4.0?

Gerakan literasi sains, sesuai Kurikulum 2013, mata pelajaran IPA merupakan mata pelajaran yang di dalamnya terdapat literasi sains. Literasi sains? Literasi sains berarti dalam Kurikulum 2013 siswa-siswi dituntut melek terhadap sains atau ilmu pengetahuan sesuai dengan prinsip-prinsip dalam kerja ilmiah. Literasi sains dapat juga diartikan kemampuan siswa membaca dan menulis tentang sains dan teknologi (Miller, 1998).

Dalam belajar sains tentunya membutuhkan kemampuan berpikir logis dan sistematis. Kemampuan tersebut digunakan untuk menganalisis secara kritis permasalahan dalam konteks sains untuk pemecahan masalah (problem solving).

Kemampuan berpikir logis dan sistematis ini, sangat terkait dengan kemampuan matematika. Siswa yang memiliki kemampuan matematis, akan lebih mudah memecahkah masalah terkait konsep sains secara logis, sistematis, dan kritis. Jadi, literasi sains terkait juga dengan literasi teknologi dan matematika. Keterampilan sains, teknologi, dan matematika merupakan kompetensi yang diperlukan untuk menghadapi tantangan abad 21.

Literasi sains tidak sebatas hanya memahami ilmu pengetahuan, tetapi dapat menerapkan konsep sains dalam menghadapi permasalahan nyata. Sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini. Untuk menghadapi tantangan abad 21 dan sesuai dengan Kurikulum 2013, guru harus membekali siswa dengan literasi sains.

Pemahaman siswa terhadap sains, matematika, dan teknologi sejak dini merupakan hal pokok dalam kesiapan mereka menghadapi tantangan kehidupan pada masyarakat modern di era abad 21. Menurut PISA (2000) menetapkan lima komponen penilaian literasi sains di dalam proses pembelajaran IPA. Yaitu: 1) siswa harus mengenal pertanyaan ilmiah; 2) siswa dapat mengidentifikasi bukti yang diperlukan dalam penyelidikan ilmiah; 3) siswa dapat menarik kesimpulan; 4) mengomunikasikan kesimpulan; dan 5) siswa dapat mendemonstrasikan pemahaman terhadap konsep-konsep sains.

Penerapan literasi sains dalam proses pembelajaran tidak terlepas dari pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang sekarang menjadi trend dalam pendidikan IPA adalah STEM. Menghadapi abad 21 sangat penting untuk mengintegrasikan pendidikan STEM di sekolah. Pembelajaran dan penilaian berbasis STEM menggabungkan disiplin ilmu pengetahuan (sains), teknologi, teknik, dan matematika.

Melalui pendekatan STEM, akan mengajarkan siswa layaknya insinyur atau ilmuwan kecil. Pendekatan STEM dirancang untuk melatih siswa mengolaborasikan konsep-konsep IPA yang dipelajari dengan teknologi yang sedang berkembang untuk merancang suatu proyek melalui teknik tertentu dengan mengintegrasikan matematika.

Penerapan literasi sains melalui pendekatan STEM akan mempersiapkan siswa menghadapi tantangan abad 21. Siswa dilatih untuk mengembangkan literasi sains yang terkait dengan literasi teknologi dan matematika. Pendekatan STEM akan  melatih siswa mengembangkan keterampilan abad 21. Yaitu 4C (collaboration, critical thingking, creative, dan communication) yang nantinya berguna untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata dalam masyarakat modern.

Membekali siswa dengan kompetensi-kompetensi tersebut, diharapkan nantinya kelak di dunia kerja, siswa akan menjadi penemu atau pencipta teknologi. Bukan hanya menjadi pengguna atau pengonsumsi teknologi, sehingga dapat meningkatkan daya saing bangsa. Sesuai dengan salah satu tujuan pendidikan nasional abad 21, yakni menjadi bangsa yang setara dengan bangsa lain dalam dunia global (BSNP, 2010). (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia