Minggu, 24 Feb 2019
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Diduga Menipu, Pengacara Abal-Abal Dipolisikan

22 Januari 2019, 14: 19: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

Diduga Menipu, Pengacara Abal-Abal Dipolisikan

BLORA – Terpidana kasus penipuan perekrutan tenaga Honorer, Suliyati, nampaknya tak mau sendirian dalam Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Blora. Kemarin dia melalui kuasa hukumnya, Nur Sholikhin, melaporkan rekannya yang mengaku sebagai pengacara ke Polres Blora.

Dia adalah JS warga Kelurahan Ngawen, Kecamatan Blora. Suliyati menilai terlapor telah melakukan tindak pidana penipuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 378 jo 378 KUHP.

Dalam laporannya, Suliyati menceritakan pada Februari hingga April 2018 lalu, tepatnya saat dia (pelapor) menghadapi proses hukum di Polres Blora, dia menyerahkan uang Rp 145 juta dan Mobil Gran Livina warna abu-abu 2009 nomor polisi B 7905 IR  beserta surat-suratnya kepada terlapor. Uang itu diserahkan untuk menyelesaikan persoalan hukum yang dihadapi.

Dia mengaku, JS beralibi sebagai pengacara dan dapat menyelesaikan persoalan hukum yang dihadapi. Asalkan ada dananya. Harapannya persoalan hukum yang dihadapi segera terselesaikan.

Sayangnya, proses tetap berjalan dan dia divonis kurungan penjara dua tahun penjara majelis hakim Pengadilan Negeri Blora. Hingga saat ini dia meringkuk di Rutan Blora. “Uang Rp 145 juta diserahkan secara bertahap. Pertama Rp 9 juta, Rp 25 juta, Rp 50 Juta, Rp 30 Juta, Rp 20 Juta, Rp 5 Juta, Rp 6 Juta dan mobil Grand Livina 2009,” terangnya.

Untuk itu, Suliyati berharap, aparat kepolisian bisa menindaklanjuti dugaan penipuan tersebut. “Selaku penasehat hukum, kami akan melakukan pendampingan secara penuh guna mengungkap perkara tersebut, dan memohon penyidik untuk bisa memanggil saksi-saksi dan mencari bukti-bukti yang ada,” jelas Nur Sholikhin.

Sementara itu, Kapolres Blora AKBP Antonius Anang melalui Kasat Reskrim Polres Blora AKP Heri Dwi Utomo mengaku, hingga kemarin pihaknya belum mendapatkan laporan dari anggotanya soal adanya pelaporan tersebut. “Nanti saya tanyakan. Ini saya belum dapat laporan,” jelasnya.

Sebelumnya, Suliyati ditetapkan sebagai tersangka atas kasus penipuan. Didalam proses penyidikan, Suliyati mengaku menyetor uang para korban ke Hartadi orang Semarang dan kepada Legowo oknum TNI yang berdinas di Koramil Demak.

Modus yang dipakai dengan mengaku mempunyai link untuk bisa meloloskan menjadi tenaga honorer di berbagai instansi. Mulai dari Dinas perhubungan, Satpol PP, BPBD, Diknas, Pariwisata, Kemenkumham, PU, DKK, bidan, perawat, Dinpertan, RSUD, tenaga honorer daerah Blora (Honda).

Dari data yang Jawa Pos Radar Kudus kumpulkan, rata-rata oknum PNS tersebut mengajak sanak family, teman dekat dan saudara. Ada juga yang memang mencari dan menghimpun masyarakat luas.

Ada juga dengan modus menyerahkan sertifikat terlebih dahulu, setelah lolos menjadi CPNS dan mendapatkan SK, baru membayarnya. Kalau cara seperti ini besarannya bisa mencapai Rp 250 juta hingga Rp 300 juta.

Dari tanda terima para korban, besaran uang yang ditarik bervariasi. Mulai dari Rp 20 juta, Rp 25 juta, Rp 30 Juta, Rp 40 juta, Rp Rp 70 juta, Rp 75 juta hingga Rp 100 juta. Mulai diserahkan langsung maupun melalui transaksi non tunai, yaitu transfer. Saat ini ada yang sudah dikembalikan, dicicil, ada juga yang sama sekali belum dibayar.

Selanjutnya, Suliyati mulai diproses pada 2 Agustus 2018. Mulai menjalani sidang perdana 8 agustus 2018. Sidang ditunda dan dilanjutkan Rabu, 15 Agustus dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. Selanjutnya 12 September penuntutan. Dan divonis majelis hakim dua tahun penjara.

Saat pelimpahan terdakwa, juga dibarengi dengan beberapa alat bukti. Yaitu tiga kuitansi dengan nominal masing-masing Rp 25 juta. Mulai tertanggal 1 April 2018,  2 Oktober 2017 dan 16 September 2017. Semuanya bermaterai dan ditandatangani Suliyati. 

(ks/him/sub/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia