Sabtu, 19 Jan 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Diduga Ada Oknum Minta Jatah Tukang Becak, Begini Tanggapan Dishub

11 Januari 2019, 22: 51: 35 WIB | editor : Ali Mustofa

SEMRAWUT: Salah satu tukang becak kembali ke Terminal Bakalan Krapyak usai mengantar penumpang.

SEMRAWUT: Salah satu tukang becak kembali ke Terminal Bakalan Krapyak usai mengantar penumpang. (Donny setyawan/radar kudus)

KUDUS - Semrawut. Begitulah yang tampak di jalan Sunan Kudus. Terlihat tukang becak mengayuh pedalnya dengan penuh semangat. Melewati angkot dan pengendara lain. Karena memburu penumpang, kadang-kadang mereka melupakan keselamatan diri dan penumpang. Akibatnya mereka banyak disalahkan. Lagi-lagi, ini karena tukang becak khawatir kehilangan penumpang. Mengingat mobil wisata lebih diminati ketimbang becak.

Akses menuju Menara Kudus dapat ditempuh melalui tiga kendaraan. Yakni becak, mobil wisata, dan ojek. Moda transportasi banyak didominasi becak. Menurut catatan ada sebanyak 135 becak. Sedangkan mobil wisata hanya dua unit dan motor jumlah cukup banyak.

Menurut penuturan salah satu tukang becak berinisial DO menyebutkan, antrean sudah diatur dari pihak Dinas Perhubungan (Dishub). Becak dan mobil saling berurutan mengambil penumpang. Pihak dishub mengupayakan becak mendapatkan antrean terlebih dahulu, baru dilanjutkan mobil. ”Ini dilakukan agar tak terjadi saling serobot penumpang,” ungkap lelaki yang berdomisili di Desa Bakalan Krapyak, Kota.

DO mengatakan, penarikan ongkos penumpang sesuai prosedur. Yakni Rp 15 ribu untuk dua orang. ”Saya tidak pernah meminta tarif lebih dari ketentuan. Takut. Soalnya ada sanksinya,” katanya.

Dia menyebut, sanksi terberat itu mendapat skorsing hingga satu bulan. Itu artinya selama satu bulan, dia bakal nganggur. ”Kerja saja susah. Apalagi nganggur,” terangnya.

Namun, pihak Dishub mengklaim ada beberapa tukang becak yang memasang tarif tinggi. Tarif karcis yang harganya Rp 15 ribu dijual Rp 30 ribu. Maka Koordinator Terminal Bakalan Krapyak mengaku akan memantau praktik ini. ”Biasanya ketika sampai di Menara, tarif bisa berubah,” ujarnya.

Rosikin juga mengimbau kepada penumpang atau masyarakat. Apabila ada oknum anggota becak yang kedapatan melanggar lalu lintas dan melakukan pungli, agar melapor ke pihak Dishub di Terminal Bakalan Krapyak. Dia juga meminta untuk mengambil foto oknum anggota yang melakukan pelanggaran.

Namun DO membantah melakukan penarikan kepada penumpang. Yang ada justru Dishub yang menarik upah. DO mengaku harus menyetor uang ke Dishub sebagai pengganti karcis. Uang tarikan sebesar Rp 5 ribu per hari dan Rp 6 ribu selama satu bulan. ”Ini sudah biasa. Mau sepi atau rame pasti harus setor,” katanya.

Namun, Koordinator Becak Wisata Noor Zambidi membantah pihaknya memberlakukan setoran ini. Namun, dia tak memungkiri menarik uang Rp 3 ribu. Kepentingannya untuk timbal balik penjualan karcis becak.

”Kita tak melakukan pungutan Rp 5 ribu per hari atau Rp 6 ribu per bulan. Tarikan hanya Rp 3 ribu saja,” tegasnya.

Kepala Dishub Kudus Abdul Halil mengungkapkan, tak mengetahui adanya praktik ini. Sebab selama ini Dishub tidak pernah menarik pungutan apa pun kepada tukang becak.

”Kami tidak tahu perihal setoran. Kita belum melakukan pengecekan di lapangan secara langsung. Secepatnya akan kami tindak,” tegasnya. (gal)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia