Minggu, 24 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Features
Andi Lestari Budiharso, Koordinator OISCA

Berdayakan Pemuda Pesisir dan Bangun Wisata Edukasi Bernuansa Jepang

09 Januari 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Andi Lestari Budiharso

Andi Lestari Budiharso (DOK PRIBADI)

Andi Lestari Budiharso getol berkontribusi di bidang lingkungan hidup. Pria yang didapuk menjadi koordinator Lingkungan Hidup Organization for Industrial and Culture Advancement (OISCA) Pati ini, membuat wisata edukasi mangrove di pesisir pantai dan membuat wisata edukasi tanaman bernuansa Jepang.

SRI PUTJIWATI, Pati

RUMAH pria bernama lengkap Andi Lestari Budiharso ini, berada di Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Pati. Rumahnya berada di permukiman padat penduduk. Namun, di belakang rumahnya, lahan mangkrak milik paman dan tetangganya disulap menjadi wisata edukasi tanaman. Kini, tempat itu sedang hits, karena konsepnya bernuansa Jepang.

Di pintu masuk lahan tanamannya diberi bunga sakura dan tulisan Jepang. Sementara di dalam kebun tanaman tersebut, terdapat lebih dari 200 bibit tanaman bunga dan buah. Di kebun itu, juga terdapat beberapa pohon sakura, lampion, dan beberapa gazebo yang digunakan untuk berteduh.

Spot swafoto bernuansa Jepang itu, tak lupa dilengkapi dengan penyewaan baju kimono yang didatangkan langsung dari Negeri Sakura melalui kader OISCA yang magang di Jepang. Kini, Andi mempunyai 16 baju kimono berbagai warna dan ukuran. Satu baju harganya sekitar Rp 5 juta.

Konsep itulah yang berhasil menarik wisatawan lokal dan luar daerah untuk asyik berswafoto mengenakan baju kimono. Konsep seperti itu masih jarang di Pati dan sekitarnya. Wisatawan yang mendatangi wisata edukasi itu, bisa menyewa kimono.

Andi mengatakan, konsep itu sudah berjalan tiga bulan ini. Namun viral baru dua pekan ini. Sebelumnya, hanya kebun penjualan bibit tanaman. Untuk menarik masyarakat, ia mengubah konsep bernuansa Jepang. Kini, banyak wisatawan yang berkunjung ke rumahnya. Semuanya dibangun dengan merogoh kocek pribadi.

Pada hari biasa yang datang 100 lebih wisatawan dan pada weekend ada 300 lebih wisatawan. Mereka dari Pati, Blora, Kudus, Rembang, dan lainnya. Karena banyak pengunjung, dirinya merekrut pemuda dan tetangga untuk mengelola parkir, berjualan makanan, jasa fotografi, dan menata wisata edukasi yang kini tengah dikembangkan itu.

”Sejak awal saya berniat untuk mengajak masyarakat kembali ke alam. Untuk swafoto bernuansa Jepang itu, supaya warga banyak yang penasaran dan datang,” terangnya.

Di kebun itu, juga bisa sebagai ajang edukasi. Sebab, setiap bibit ada nama tanaman. Jadi, bisa mengenalkan jenis tanaman kepada masyarakat. Juga ada wisata edukasi lingkungan.

Suami Siti Masruroh ini, sudah 12 tahun bergelut di lingkungan. Dia juga telah menanam mangrove di wilayah pesisir pantai utara Bumi Mina Tani. Terlebih, dia kini didapuk menjadi koordinator Lingkungan Hidup OISCA Pati. Itu merupakan organisasi berbasis lingkungan yang pusatnya di Jepang.

Andi mencintai alam sejak kecil. Meskipun isu lingkungan merupakan bidang yang jauh dari pendidikannya saat sekolah. Dia merupakan alumni jurusan teknik otomotif SMK Tunas Harapan Pati pada 2001 silam. Lulus dari SMK, hatinya tergerak untuk terjun di dunia lingkungan. Hati nuraninya terpanggil setelah melihat kondisi lingkungan yang semakin memburuk.

Pada 2002, Andi mengikuti training selama setahun di OISCA. Setelah itu, ia sempat vakum dan bekerja di Semarang. Pada 2007, Andi dipercaya untuk menggerakkan penanaman mangrove di Demak hingga dua tahun. Lalu, pada 2009 hingga sekarang ayah dua anak ini, dipercaya menggiatkan penanaman mangrove di pesisir pantai Pati.

Awalnya penanaman mangrove dilakukan mulai dari Kecamatan Batangan hingga Kecamatan Dukuhseti. Tapi, sejak 2014 dia bersama dengan penggiat lingkungan lain di OISCA Pati, hanya fokus di lima kecamatan. Meliputi Kecamatan Wedarijaksa, Trangkil, Margoyoso, Tayu, dan Dukuhseti. Supaya tanaman yang ditanam benar-benar berkembang dengan baik. Hingga sekarang, sudah ada ratusan ribu tanaman mangrove yang tumbuh subur di sepanjang pesisir pantai utara Pati.

Tanaman itu tidak ditanam sendiri dengan komunitasnya, melainkan juga menggerakkan kelompok penggiat lingkungan di masing-masing kecamatan dan bekerja sama dengan Pemkab Pati. ”Saat awal-awal menanam mangrove di Pati, sangat susah. Tidak seperti sekarang ini yang sudah heboh dan sudah dijadikan tempat wisata. Kesulitan itu, terutama masalah kontur tanah yang berbeda-beda, sehingga harus benar-benar merawat. Tapi, kami tidak menyerah menanamnya,” tuturnya.

Tidak hanya itu, dirinya harus berhadapan dengan warga sekitar yang bermasalah dengan penanaman mangrove. Berbagai situasi itu, membuatnya semakin memahami kearifan lokal di Pati. Perjuangannya, tim, serta pencinta lingkungan di Pati kini sudah membuahkan hasil. Tanaman mangrovenya semakin berlimpah dan dimanfaatkan warga. Selain dijadikan tempat wisata, buahnya juga diambil warga.

Lantaran sudah jatuh cinta dengan lingkungan, ia juga berhasil menyelesaikan pendidikannya di jurusan pertanian STIP Farming Semarang 2016 lalu. Dengan pendidikannya itu, pria kelahiran Pati, 1 September 1982 ini berharap dapat mampu meningkatkan kemampuannya di bidang pertanian.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia