Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Features
Rita Oktaviani, Inisiator Budaya Cethik Geni

Resah Minat Baca Rendah, Kini Miliki Empat Simpul

07 Januari 2019, 21: 48: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

INSPIRATIF: Rita Oktaviana (kiri) menyerahkan hadiah lomba menggambar yang digelar taman baca dan budaya Cethik Geni baru-baru ini.

INSPIRATIF: Rita Oktaviana (kiri) menyerahkan hadiah lomba menggambar yang digelar taman baca dan budaya Cethik Geni baru-baru ini. (CETHIK GENI FOR RADAR KUDUS)

Maraknya penggunaan gadget oleh pelajar belia untuk nge-game menggugah Rita Oktaviani mendirikan taman baca dan budaya Cethik Geni. Setelah menyediakan ratusan buku berbagai tema, Rita kini berhasil melebarkan sayap dengan berdirinya empat simpul baca di desa sekitar.

SAIFUL ANWAR, Blora

MENGENAKAN kaus oblong dan celana pendek, puluhan siswa sekolah dasar itu, dengan antusias memilih-milih buku. Ada buku cerita, motivasi, katalog, dan berbagai macam buku lain. Mereka lalu membuka halaman demi halaman untuk menunggu kegiatan pembelajaran.

Pemandangan ”langka” tersebut, tampak setiap Minggu di taman baca dan budaya Cethik Geni. Tepatnya di Desa Kapuan, Kecamatan Cepu, Blora. Tepatnya di kediaman Rita Oktaviana.

Berawal dari kegelisahan melihat rendahnya geliat minat baca para pelajar, Rita resign dari tempatnya bekerja di perusahaan korporasi di Sumatera Selatan. Di perusahaan itu dia berada di bagian pemberdayaan masyarakat, membuatnya memiliki pengalaman berinteraksi sekaligus bagaimana menggerakkan masyarakat.

Akhirnya berdirilah Cethik Geni pada 1 Januari 2018. Dipilihnya nama Cethik Geni, karena memuat filosofi menyalakan semangat yang disimbolkan dengan api.

”Namanya memang Jawa banget. Maknanya menyalakan api di kayu bakar. Ini sebagai simbol ada aktivitas di dapur. Untuk membuat makanan sebagai kebutuhan keluarga,” tutur perempuan kelahiran 12 Oktober 1972 itu.

Meski dia juga melihat kurangnya gairah membaca di kalangan pelajar, namun alumnus UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) Salatiga itu, lebih melihat karena kurangnya akses mereka terhadap buku-buku. Terbukti, saat tersedia buku yang sesuai dengan minat dan kegemaran di usia para pelajar itu, mereka antusias membaca.

Ada sekitar 500 buku yang bisa dibaca di ini. Agar tak bosan, di Cethik Geni juga diselingi permainan. ”Kami tekankan kepada para volunteer (di Cethik Geni) agar komunikatif. Juga selalu menyelingi dengan kegiatan yang berbeda. Tak melulu baca buku, agar anak-anak tak bosan,” terang perempuan berkacamata itu.

Di Cethik Geni juga menggelar berbagai kegiatan. Di antaranya menggambar, mendongeng, menulis kegiatan sehari-hari, bercocok tanam, dan berbagai kegiatan lain.

Untuk meringankan bebannya, Rita merekrut volunteer pemuda setempat hingga ibu rumah tangga. Perekrutan para ibu rumah tangga itu, salah satunya dilatarbelakangi ada siswa yang sempat tak diberi izin orangtuanya untuk datang ke Cethik Geni.

”Kami menggandeng karang taruna serta kaum ibu di desa sini. Agar mereka yakin anak-anaknya kalau pergi itu ke sini. Akhirnya kami juga buat program wanita mandiri untuk ibu-ibu itu,” paparnya.

Agendanya, para ibu itu membuat kerajinan rajut dan jahit. Keuntungan dari penjualan itu, dialokasikan ke taman baca. Harapannya, potensi para ibu bisa mendukung kegiatan anak-anaknya.

Komunitas yang berulang tahun kali pertama pada 1 Januari lalu ini, telah memiliki empat simpul baca. Keempatnya di Dusun Judan, Desa Jipang; Dusun Jeruk, Desa Cabean; Dusun Sugihwaras, Desa Cabea; dan Dusun Kapuan Barat, Desa Kapuan. ”Di simpul yang lama ada sekitar 15-20 anak. Kalau yang baru mungkin sekitar 10 anak,” tambah Rita.

Selain hari Minggu, Cethik Geni juga memanfaatkan hari libur atau peringatan hari besar nasional untuk berkegiatan bersama anak-anak, seperti pada peringatan HUT Proklamasi pada 17 Agustus lalu. Pada 17-san lalu itu, Cethik Geni mengadakan lomba menggambar yang diikuti 63 anak. Hasil gambar mereka dicetak di kalender 2019.

Rita memaparkan, Cethik Geni tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga leadership atau kepemimpinan serta tata krama. Sebab, dia melihat saat ini pendidikan moral di sekolah formal kurang memadai.

”Mengucapkan ”tolong” atau ”terima kasih” itu sepele, tapi sudah jarang sekali dilakukan anak-anak saat ini,” paparnya.

Hal-hal sederhana seperti membagi jadwal piket, merapikan buku teman-temannya, hingga menegur teman yang tak tertib, juga menjadi pembelajaran etika di Cethik Geni.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia