Minggu, 24 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

10 Sekolah di Kabupaten Kudus Sabet Adiwiyata Nasional

03 Januari 2019, 23: 09: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

BORONG PENGHARGAAN: Perwakilan dari Disdikpora Kudus dan 10 sekolah saat menerima anugerah sebagai sekolah adiwiyata tingkat nasional.

BORONG PENGHARGAAN: Perwakilan dari Disdikpora Kudus dan 10 sekolah saat menerima anugerah sebagai sekolah adiwiyata tingkat nasional. (SMP 2 MEJOBO FOR RADAR KUDUS)

KUDUS – Sekolah Adiwiyata di Kabupaten Kudus mulai ada perkembangan yang sangat signifikan. Beberapa bulan lalu, ada 10 sekolah tingkat SD dan SMP yang meraih adiwiyata tingkat nasional.

Kepala Dinas Pendidikan Kependudukan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus Joko Susilo mengatakan, 10 sekolah di Kudus menerima penghargaan dan sertifikat Adiwiyata Nasional dari Menteri Lingkungan Hidup, dan Kehutanan Siti Nurbaya, di Jakarta. Baru kali ini jumlah penerima penghargaan cukup banyak.

PEDULI LINGKUNGAN: Siswi SMP 2 Mejobo membersihkan halaman sekolah agar selalu bersih.

PEDULI LINGKUNGAN: Siswi SMP 2 Mejobo membersihkan halaman sekolah agar selalu bersih. (SMP 2 MEJOBO FOR RADAR KUDUS)

Setiap tahun, ada binaan sekolah Adiwiyata. Misalnya, yang dibina jadi mandiri. Kemudian membina sekolah lainnya, nanti kedepannya sekolah di Kudus sudah Adiwiyata semua.

”Dukungan tak hanya dari pihak sekolah, tapi kerjasama juga dengan komite. Kalau sudah mandiri seperti SDIT Al Islam, kemudian SMP 1 Kudus, SMP 2 Bae, dan masih ada beberapa sekolah lainnya,” terangnya.

Joko menambahkan, sekolah mandiri adiwiyata membina sedikitnya lima sekolah lain untuk menjadi Adiwiyata. Dia berharap, sekolah berlomba-lomba mempercantik lingkungannya dan membuat inovasi yang kreatif.

Joko mencontohkan, siswa membuat tas dari bahan bungkus jajan plastik. Atau melalui bank sampah juga bisa menghasilkan pendapatan. Ini bisa membantu mengurangi sampah yang ada di Kudus. Manfaat lainnya, lingkungan sekolah menjadi bersih, nyaman, dan indah.

Selain itu, cara tersebut juga mengajarkan siswa mencintai tanaman, belajar budidaya ikan, atau jamur. Ada juga dalam produk makanan jadi. Seperti abon, kopi dari biji rambutan, dan lainnya. Joko berharap, kedepan sekolah yang sudah memiliki piagam adiwiyata tapi masih binaan, maka tugasnya harus bisa menjadi mandiri.

Bagi sekolah yang belum meraih adiwiyata, Joko berharap bisa terus berupaya. Seperti mengevaluasi sistematik atau pengelolaan lingkungan. Joko menambahkan, siswa memiliki gambaran kalau lingkungan nyaman dan asri, kesehatan juga terjamin.

”Bahkan, bisa diterapkan di rumah. Dan, siswa memiliki angan-angan menata lingkungan sekitar rumahnya menjadi rindang, nyaman, dan lainnya. Itu sebagai hasil dari pembelajaran sekolah adiwiyata,” ungkapnya.

(ks/san/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia