Minggu, 24 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Guru Tidak Digital, Tergilas Zaman Now

03 Januari 2019, 23: 02: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

Sujarwo, S.Pd., M.Or, Kepala SMP 2 Kudus

Sujarwo, S.Pd., M.Or, Kepala SMP 2 Kudus (DOK. PRIBADI)

Mengingat kembali pernyataan Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Supriano yang mengatakan, bahwa guru tidak hanya bertugas untuk mentransfer ilmu kepada peserta didiknya. Namun, tugas guru sebagai pendidik adalah menanamkan nilai-nilai dasar pengembangan karakter peserta didik dalam kehidupannya. Termasuk pemanfaatan kemajuan teknologi informasi, (HGN,26/11/2018). Dari pernyataan tersebut untuk pengembangan dalam meningkatkan kemampuan serta kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini adalah pendidik, diperlukan kualitas SDM yang tangguh, unggul, kreatif, inovatif, berdaya saing tinggi, dan memiliki nilai-nilai karakter yang baik. Kualitas, profesionalisme, dan cerdas IT seorang pendidik merupakan aset yang sangat penting bagi kehidupan dalam upaya  menghadapi revolusi industri 4.0 atau making Indonesia 4.0.

Pandangan yang beragam tentang MSDM, Schuler, Dowling, Smart dan Huber (1992: 16), menyatakan bahwa: Human resources management (HRM) is the recognition of the importance of an organization’s workforce as vital human resources contributing to the goals of the organization, and the utilization of several functions and activities to ensure that they are used effectively and fairly for the benefit of the individual the organization, and society. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa manajemen sumber daya manusia memberikan pengakuan tentang pentingnya tenaga kerja pada suatu lembaga /organisasi sebagai sumber daya manusia utama yang memberi kontribusi bagi pencapaian tujuan-tujuan organisasi sekolah serta memberikan kepastian bahwa pelaksanaan fungsi dan kegiatan organisasi dilaksanakan secara efektif dan adil bagi kepentingan individu, organisasi.

Selain itu dalam menghadapai era revolusi industri, guru dituntut untuk benar-benar mampu mengembangkan kompetensi 4C plus N (creative, collaborative, communicatif, critical thinking/problem solving dan Networking). Berpikir tingkat tinggi, memberikan penguatan pendidikan karakter, mengimplementasikan literasi dalam pembelajaran, memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi informatika, memanfaatkan aplikasi android serta memahami strategi learning management system dalam proses pembelajaran. Literasi yang dimaksud di era revolusi indistri 4.0 adalah literasi baru disamping literasi lama yang hanya calistung (baca tulis hitung).  Literasi baru meliputi literasi data (digital) yaitu kemampuan  yang tidak hnya membaca tetapi mampu menganalis dan menggunakan informasi (Big Data) di dunia digital, literasi teknologi yaitu memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (Coding, Artificial Intelligence, & Engineering Principles) dan  literasi manusia bertujuan agar manusia bisa berfungsi dengan baik di lingkungan manusia seperti Humanities, Komunikasi, & Desain.

Seperti kutipan dalam  (British Journal of Educational Technology Vol 36 No 5 2005: 801): “Students were most comfortable, and found the most purpose for using computers and the Internet, for independent work such as submitting assignments, conducting searches, and retrieving course content. Literasi. Seorang guru perlu mencari metode atau strategi untuk mengembangkan kapasitas kognitif  peserta didik: higher order mental skills, berpikir kritis & sistemik: amat penting untuk bertahan di era revolusi industri 4.0. Literasi manusia menjadi bagian dari General Education yang harus dikuasai peserta didik. Guru harus mampu menerapkan Literasi digital (data) dan teknologi pada mata pelajaran yang mampu membawa siswa dapat Berpikir kritis, sistemik, lateral dan  tingkat tinggi sehingga menghasilkan jiwa Entrepreneurship (termasuk social entrepreneurship) yang  merupakan kapasitas dasar yang harus dimiliki oleh semua peserta didik. Disamping itu guru harus mampu membekali peserta didik untuk memiliki keterampilan kepemimpinan (leadership) dan mampu bekerja dalam tim (team work), serta memiliki Kelincahan dan kematangan budaya (Cultural Agility).

Salah satu tokoh terkenal yakni Gilster (1997:1-2) yang mendefinisikan literasi digital sebagai suatu kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Jadi bukan hanya mencakup kemampuan membaca, namun dibutuhkan pula suatu proses berpikir secara kritis untuk melakukan evaluasi terhadap informasi yang ditemukan melalui media digital dan menjelaskan bahwa selain seni berpikir kritis, kompetensi yang dibutuhkan yakni mempelajari  bagaimana  menyusun pengetahuan,  serta membangun sekumpulan informasi yang dapat  diandalkan dari beberapa  sumber  yang berbeda. Kompetensi literasi digital berguna untuk menghadapi informasi dari berbagai sumber digital yang terus berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan kompetensi sebagai dampak dari fenomena konvergensi media. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia