Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Features
Amalia Zulfana Rohman, Aktivis Lingkungan

Kreasi Diminati sampai Luar Negeri, Buat Program Menabung Sampah

02 Januari 2019, 22: 31: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

Amalia Zulfana Rohman

Amalia Zulfana Rohman (DOK PRIBADI)

Di mata Amalia Zulfana Rohman, sampah bisa menjadi barang bernilai jual tinggi. Bahkan diminati sampai luar negeri. Dia menularkan kepiawaiannya mendaur ulang sampah ke komunitas dan warga sekitar. Termasuk kepada anak usia dini.

 GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

 LINGKUNGAN bersih menjadi dambaan masyarakat. Banyak cara menciptakan kebersihan lingkungan. Dimulai dari hal terkecil dengan membuang sampah pada tempatnya. Juga mengajarkan kepada anak usia dini untuk menjaga kebersihan, agar kelak terbiasa hidup bersih.

Hal ini dilakukan Amalia Zulfana Rohman. Dia aktivis lingkungan dari komunitas Kreasi Sampah Ekonomi Kota (Kresek) Kudus. Gadis yang akrab dipanggil Lia ini, menerapkan progam menciptakan lingkungan bersih di desanya. Dia mengajari anak-anak untuk membuang sampah pada tempatnya dan membuat kreasi dari sampah.

Perempuan yang menjadi pengasuh di Kereta Pelangi (Kreasi Tangan Peduli Anak Negri) ini, tiap akhir pekan mengedukasi anak-anak RT 2/RW 4, Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus. Tak hanya mengajarkan membuang sampah dan membuat kreasi tangan, Lia juga memberikan edukasi lewat film.

”Karakter anak usia dini mudah dibentuk. Jadi, kita harus mengajarkan hal-hal baik kepada mereka. Agar terbiasa dengan hal baik saat dewasa kelak,” ungkapnya.

Ketertarikan Lia sebagai aktivis lingkungan dimulai pada 2015 lalu. Berawal dari iseng-iseng mengikuti komunitas Kresek Kudus. Ia yang pada saat itu masih kuliah di Solo, kemudian membuat komunitas Kresek di Solo pada 2016. Seiring berjalannya waktu, komunitas Kresek Solo mulai berkembang. Lia pun semakin dikenal di Kota Liwet.

”Awalnya diajak teman. Kemudian saya merasa ini adalah diri saya sesungguhnya yang mengabdi kepada masyarakat,” ujarnya.

Perempuan kelahiran Kudus, 19 Juli 1995 ini, mengaku, dia juga membuat kreasi dari sampah plastik. Lia menyulap sampah menjadi bernilai jual tinggi. Barang kreasinya juga diminati oleh orang luar negeri. ”Peminatnya dari Eropa, Oman, dan China,”ujarnya.

Ia menceritakan, saat ia mengikuti acara International Student Identification Card (ISEC) dia membuka workshop dan pameran. Di pameran itu, Lia menjual barang kreasi sampah berupa tas dan pin dari sampah plastik. Harganya terjangkau. Dari Rp 90 ribu sampai Rp 200 ribu. Tergantung kesulitan membuat dan kualitas bahan plastiknya.

Bisnis ini juga diajarkan kepada kelompok PKK di desanya. ”Saya mengajarkan hal ini agar sampah tak dipandang sebelah mata. Tetapi sampai mampu memiliki nilai jual,” imbunya.

Ke depan, lewat kampanye ini Lia berharap, masyarakat melek akan lingkungan. Dengan memanfaatkan program pemerintah, seperti bank sampah, masyarakat bisa mendapat penghasilan dari sampah. Uangnya ditabung dan diambil setahun sekali.

Selain itu, dia juga berencana membuat program Sedekah Sampah. Masyarakat menyedekahkan sampahnya ke komunitas Kresek. Kemudian sampah yang terkumpul akan dijual. Hasil penjualan itu digunakan untuk beasiswa SD bagi siswa berprestasi.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia