Sabtu, 19 Jan 2019
radarkudus
icon featured
Features
Herin Kahadi Jayanto, Pendeta GITJ Kudus

Sering Ikut Tahlilan, Kyai Berdoa Ikut Mengamini

26 Desember 2018, 23: 22: 10 WIB | editor : Ali Mustofa

KHOTBAH NATAL: Pendeta Herin Kahadi Jayanto memimpin khotbah saat pelaksanaan misa Natal di GITJ kemarin.

KHOTBAH NATAL: Pendeta Herin Kahadi Jayanto memimpin khotbah saat pelaksanaan misa Natal di GITJ kemarin. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Pendeta GITJ Kudus Herin Kahadi Jayanto lama abdikan diri bagi umatnya. Dia memberikan contoh hal-hal kebaikan di semua kalangan umat beragama, maupun penganut kepercayaan tanpa membeda-bedakan. Tiap kali diundang acara tahlilan di lingkungan rumahnya ia tetap hadir.

 INDAH SUSANTI, Kudus

 KESIBUKAN Herin Kahadi Jayanto sebagai pendeta di GITJ Kudus membuat dirinya jarang di rumah. Demikian, dia tetap menyempatkan waktu untuk berinteraksi dengan tetangga di lingkungan rumahnya. Ia hampir selalu datang tiap kali ada pertemuan di lingkungan tempat tinggalnya. Salah satunya menghadiri tahlilan bagi umat muslim.

KUNJUNGAN: Pendeta Herin Kahadi Jayanto bersama umatnya menggelar kegiatan sosial berkunjung di rumah singgah lansia dari Dinsos P3AP2KB Kudus baru-baru ini.

KUNJUNGAN: Pendeta Herin Kahadi Jayanto bersama umatnya menggelar kegiatan sosial berkunjung di rumah singgah lansia dari Dinsos P3AP2KB Kudus baru-baru ini. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Herin sapaan akrabnya, saat ini tinggal di RT 2/RW2, Desa Panjang, Bae. Dia berasal dari Desa Bondo, Bangsri, Jepara. Tepo seliro ia jadikan prinsip dalam berinteraksi dengan warga. Para tetangga juga sudah tahu kalau ia seorang pendeta.

Wujud dari rasa menghormati, menghadiri undangan tahlilan tetangga yang beragama muslim. Meski, seharian penuh kegiatan, tapi Herin menyempatkan datang. Mengikuti proses sampai selesai.

”Ya turut ikut acara tahlil sampai selesai. Berdoa bersama yang dipimpin ustadz atau modin desa. Menghormati yang mengundang. Hidup bertetangga itu harus rukun dan damai. Paling penting keyakinan dalam hati masih sama. Jadi, tidak ada persoalan. Saya justru senang hati,” terangnya.

Dia mengaku belum pernah secara pribadi melakukan bakti sosial kepada umat agama lainnya. Karena selama ini selalu bersama-sama dengan umat gereja atau dengan organisasi lintas agama.

”Inilah indahnya hidup berdampingan yang rukun. Begitu sebaliknya. Kalau hari Natal ada beberapa tetangga yang menghampiri ke rumah mengucapkan selamat Natal. Dan, mereka juga terkadang tidak sungkan sekadar ngobrol di rumah sambil mencicipi jajanan yang kami sediakan,” tandasnya.

Dia menambahkan, biasanya tetangga yang datang ke rumah usai Natal. Karena mereka tahu kalau saat Natal, dia banyak kegiatan di luar rumah. Mengisi beberapa gereja. Juga undangan pribadi ke rumah jamaah.

Herin setiap khotbahnya selalu mengajak umatnya keterbukaan, tapi kerap kali ada rasa ragu yang menghalangi. ”Saya sebagai tokoh pemuka agama dalam hal ini pendeta tidak hanya mengajak tapi memberikan contoh. Meski itu hal paling sederhana. Seperti undangan tahlilan, mungkin bukan hanya saya saja yang memiliki pengalaman seperti ini, tapi jamaah lain pasti pernah juga,” jelasnya.

Herin, mengaku saat pemimpin mengucapkan doa, semua orang mengatakan amin. Maka ia juga turut mengangkat tangan dan mengucap amin.

”Ini untuk saya pribadi, tidak jadi persoalan. Kembali lagi kepada iman, masing-masing memiliki cara yang berbeda. Bentuk penghormatan yang sesungguhnya dimulai dari hal sederhana berbaur kegiatan keagamaan tetangga, baik itu muslim, budha, bahkan pemeluk keyakinan, seperti sedulur sikep,” ungkapnya.

Selain itu, kegiatan bersama umat Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Kudus memberikan bantuan sosial kepada orang-orang lanjut usia yang ada di rumah singgah Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kudus.

Herin juga aktif bersama organisasi lintas agama, karena termasuk pelopor yang dibentuk sekitar 2012. Menurutnya, menjalin toleransi beragama sebenarnya mudah, asalkan saling ”legowo”, dan tidak ada hasutan negatif.

”Saya tergabung dalam paguyuban lintas agama. Hal ini saya anggap sebagai pelayanan masyarakat. Saya selalu tekankan pada para jamaah tidak perlu pilih-pilih. Semuanya umat Tuhan Yang Maha Esa. Tetap tebarkan kasih karena yang diwujudkan berupa pelayanan,” terangnya.

Dia menambahkan, Natal tidak sekadar suka cita tapi pengamalan dalam perbuatan yang sangat penting. Toleransi umat beragama juga dijunjung tinggi karena perdamaian akan tercipta.

”Betul-betul menerapkan apa yang sudah tertulis dalam kitab Injil. Sangat besar maknanya. Sehingga akan kami jadikan pedoman sampai kapanpun. Menciptakan kedamaian. Jangan sampai menimbulkan perpecahan,” terangnya.

Herin menjelaskan, hidup harus bermakna, dan gereja memberikan manfaat di sekitarnya. Menurutnya, melayani bukan hanya berbicara tetapi juga perkara hati, keikhlasan, dan rendah hati. 

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia