Sabtu, 19 Jan 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Siapa Yang Tahu Masa Depan Kita?

21 Desember 2018, 22: 55: 46 WIB | editor : Ali Mustofa

Ihwan Sudrajat, Kepala BPPD Jawa Tengah

Ihwan Sudrajat, Kepala BPPD Jawa Tengah (DOK. PRIBADI)

DARI balik jendela pesawat Garuda di runway Bandara Sukarno-Hata, saya melihat pemotong rumput melambai-lambaikan tangannya ke arah Garuda Flight 238 jurusan Jakarta-Semarang. Saya tersenyum melihat gayanya. Sesaat ia terdiam, mungkin mencoba melihat respon penumpang, tangannya kembali terangkat melambai-lambai ke arah pesawat kami. Tiba-tiba saja, saya bertanya-tanya apakah besok tahun 2019, ia masih tetap menjadi pemotong rumput?

Tiba-tiba pikiran saya melayang ke tahun 2013. Pada 2 Januari 2013, saya dipindah tugas dari salah satu kepala dinas menjadi staf ahli gubernur Jawa Tengah. Selama empat tahun saya menjalani tugas itu, dengan segala suka dukanya. Dua tahun lamanya, saya gundah gulana, bertanya kepada Tuhan di setiap 3/4 malam. ”Apakah kesalahan saya ya Allah, hingga engkau tempatkan saya di posisi yang tidak satu pun pejabat eselon 2 menghendakinya?". Batin saya menjerit, meminta jawaban. Di setiap Salat Dhuha, saya meminta pada-Nya untuk memberikan kesempatan agar pikiran, pengalaman, dan ilmu yang saya miliki dapat saya gunakan untuk mewarnai bangsa Indonesia, menjadi bangsa yang lebih baik.

Doa saya didengar-Nya, diberinya saya kesempatan menjadi pejabat bupati dua kali di dua daerah yang berbeda. Saya mencoba melakukan yang terbaik sebagai bupati walaupun hanya sekadar pengisi waktu. ”Cuma bupati kw2 saja banyak janji" kata seorang Facebooker.

Dalam sebuah acara pernikahan anak seorang kiai terkenal awal 2016, saat masih menjadi pejabat bupati di salah satu kabupaten kaya minyak di Jawa Tengah, salah satu tamu kiai mendekati saya. Setelah memperkenalkan diri, tamu yang berprofesi pengacara tersebut berkata ”Pak Bupati, saya mohon maaf telah salah menilai.” Saya menatap wajahnya.

”Pertama kali saya mendengar bahwa Gubernur Ganjar Pranowo telah menunjuk bapak untuk menjadi PLT bupati, saya kecewa," katanya. ”Oh ya?" Tanya saya sambil melihat matanya lebih dalam lagi. ”Ya Pak, saya kecewa karena yang ditunjuk adalah staf ahli gubernur. Apa yang bisa dilakukannya? Wong di provinsi saja jadi staf ahli, kok dipilih jadi bupati," lanjutnya menegaskan kekecewaannya. ”Ternyata saya salah. Bapak di sini telah memberi banyak contoh kepada birokrasi, legislatif, dan masyarakat. Saya mohon maaf sudah salah menilai Bapak."

Saya tersenyum dan memeluknya ”mboten menopo, Pak. Saya paham," jawab saya sambil memeluknya erat-erat. Saya terharu mendengar kejujurannya. Mata saya sedikit berkaca-kaca. Pelukan saya merupakan wujud dari penghargaan saya dan juga terima kasih kepada Allah SWT yang telah mengirimnya untuk memberi tahu bahwa saya mungkin sudah dinilai telah melakukan tugas dengan baik.

Setahun kemudian, kembali saya ditunjuk menjadi PLT bupati selama empat bulan. Selanjutnya sejak awal 2017, saya didapuk Gubernur Ganjar Pranowo menjadi yang dituakan di Badan Pengelola Pendapatan Daerah Jawa Tengah. Apakah ini juga pertanda saya sudah berhasil melaksanakan tugas yang diberikannya? Saya coba menjalani tugas tersebut dengan segenap kemampuan yang saya miliki. Hanya satu tekad saya, memberi yang terbaik.

”Prestasi terbaik apa yang telah Pak Ihwan lakukan selama menjalankan tugas kepala Badan Pengelola Pendapatan?" Tanya seorang ibu profesor universitas ternama di Indonesia, yang juga anggota Tim Panitia Seleksi Jabatan Tinggi Pratama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah setelah hampir dua tahun 2017-2018, saya menjabat tugas tersebut.

Saya agak terdiam sejenak mencoba mengumpulkan kata-kata untuk menjawabnya. ”Terima kasih ibu atas pertanyaannya. Saya tidak bisa mengatakan apakah yang sudah saya laksanakan adalah prestasi terbaik atau bukan. Hanya pihak lain yang berhak memberikan penilaian seperti itu." Lalu saya pun menjelaskan apa yang sudah dicapai. Apa yang masih menjadi impian dan apa yang masih akan saya lakukan ke depan.

”Saya berusaha berbuat yang terbaik sesuai harapan gubernur. Saya hanya ingin beliau merasa bahwa pilihannya tidak salah terhadap saya," itulah pernyataan tertutup yang saya sampaikan kepada tim pansel yang sedang mengevaluasi seluruh pejabat eselon 2 Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Agak lega juga rasanya, karena waktu dilaksanakan evaluasi kemarin (19/12/2018), bertepatan dengan seminggu pasca tercapainya target pendapatan APBD P 2018. Tahun ini, saya bisa merealisasikan target (12/12/18) empat hari lebih awal dibandingkan tahun 2017 (16/12/2017).

Mata saya menerawang kembali melihat pemotong rumput itu. Saya tersenyum sendiri, mengapa saya bergumam tentang masa depan pemotong rumput itu, toh saya pun bahkan belum tahun bagaimana masa depan saya. Mungkin jika pemotong rumput itu bekerja dengan baik, memuaskan mandornya, maka ia tetap akan menjadi pemotong rumput. Begitu pula yang mungkin terjadi pada saya. Tetapi, terkadang apa yang kita harapkan tidak selalu sesuai keinginan kita.

”Yang terpenting apa pun yang diputuskan Allah, harus kamu syukuri, ambil hikmahnya," kata almarhumah ibunda. Kini, kata itu kembali saya ingat dan saya tanamkan dalam hati. Wajah beliau kembali tampak di depan mata, di atas awan Jakarta-Semarang. Apa pun yang terjadi, kewajiban saya sebagai manusia adalah tetap bersyukur kepada Allah, seperti hembusan nafas yang masih saya rasakan dan lakukan tanpa terbebani. (Menulis di atas awan Jakarta-Semarang)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia