Rabu, 20 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Features
Zaenudin, Difabel yang Berkreasi dengan Bambu

Bangkit dari Frustrasi, Kini Hasilkan Kerajinan Miniatur

18 Desember 2018, 16: 36: 42 WIB | editor : Ali Mustofa

PAKAI SATU TANGAN: Zaenudin mengangkat miniatur rumah berbahan bambu karyanya.

PAKAI SATU TANGAN: Zaenudin mengangkat miniatur rumah berbahan bambu karyanya. (M ULIN NUHA / RADAR KUDUS)

Zaenudin awalnya bekerja di perusahaan kontraktor selama lebih dari 10 tahun. Namun, mengalami musibah terjatuh dari lantai III pada 2017. Beberapa tangan kirinya harus diamputasi. Rasa frustasi sempat dialami, namun akhirnya bangkit dan kini bisa membuat kerajinan dari bambu yang bernilai ekonomis.

Vega Ma’arijil Ula, Kudus

ZAENUDIN awalnya memiliki anggota tubuh yang lengkap. Namun pada 2017 lalu, dia mengalami kecelakaan kerja. Akibatnya dia mengalami cacat fisik. Beberapa anggota tubuhnya patah. Bahkan, tangan kirinya tidak tertolong karena infeksi dan mengeluarkan cairan hitam. Akhirnya harus diamputasi.

Awalnya dia sempat frustasi dan bosan, karena susah untuk beraktivitas. ”Saya dulu sempat bingung mau kerja apa,” jelasnya.

Namun, status difabel yang disandangnya pasca mengalami kecelakaan kerja tak memupuskan keinginannya untuk terus menjalani hidup. Akhirnya dalam kondisi itu, dia mencoba berkreasi dengan stik es krim. Stik itu dibuat kerajinan miniatur rumah. Ternyata hasilnya bagus.

Warga RT 4/ RW 4, Dukuh Sudorego, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus, ini, mengawali kehidupan yang baru.  Dari kreasinya itu, kini mampu menghasilkan karya yang punya nilai ekonomis.

Kreasinya itu pun berlanjut. Pada akhirnya, laki-laki kelahiran 8 April 1989 ini, mengganti bahan itu dengan bambu. Ternyata hasilnya lebih bagus.

Ditemui di salah satu acara di Kudus, Zaenudin memperkenalkan produk kerajinan bambu kepada pengunjung yang datang. Beberapa kerajinan yang dibuatnya terdiri dari beberapa bentuk, meliputi rumah, kapal, Menara Kudus, motor, dan beberapa bentuk lain.

Proses pembuatan kerajinan bambu ini, murni dibuat olehnya seorang, meski awalnya istrinya mencoba membantu. Untuk bahan baku bambu, dia beli dari tetangga seharga Rp 10 ribu untuk satu batang. ”Mulai dari ambil bambu, mecah bambu, menghaluskan bambu, hingga menempel dan mlitur miniatur saya lakukan sendiri. Pakai tangan dan kaki,” terangnya.

Diakui oleh Zaenudin, proses membuat satu miniatur membutuhkan waktu sekitar satu pekan. Itu untuk yang belum diplitur. Sedangkan untuk memplitur membutuhkan waktu selama satu hari. Tergantung dengan ukurannya juga.

Karena satu bentuk kerajinan memerlukan waktu hampir sepekan, penghasilan Zaenudin pun juga terkadang tidak menentu. Meski begitu, dia tetap bersyukur.

”Untuk penghasilan belum pasti. Kadang Rp 300 ribu kadang Rp 500 ribu seminggu tergantung pemesanan” terangnya. Penghasilan itu didapat dari penjualan satu jenis miniatur. Untuk bentuk rumah dihargai sekitar Rp 300 ribu. Sedangkan untuk kapal pinisi lebih dari Rp 300 ribu.

Kesulitan dalam menjalankan usaha kerajinan kayu ini juga dialami oleh Zaenudin. ”Sulit memasarkan dan tidak punya modal untuk membeli mesin kompresor untuk memplitur dengan sistem semprot,” tandasnya.

Sementara itu untuk pemesanan kerajinan miliknya berasal dari teman, tetangga desa, warga luar desa, hingga ke luar kota seperti Kabupaten Pati. Pemasaran lewat online juga dicobanya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia