Rabu, 20 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Pati
Pilkades Serentak Kabupaten Pati

Tak Terima Calonnya Kalah, Massa Pendukung Geruduk Balai Desa

16 Desember 2018, 18: 21: 34 WIB | editor : Ali Mustofa

ANTISIPASI KERICUHAN: Aparat kepolisian berjaga di balai Desa Tegalharjo, Kecamatan Trangkil, Pati, tadi malam.

ANTISIPASI KERICUHAN: Aparat kepolisian berjaga di balai Desa Tegalharjo, Kecamatan Trangkil, Pati, tadi malam. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

PATI – Pemilihan kepala desa di Kabupaten Pati sempat memanas. Di Desa Tegalharjo, Kecamatan Trangkil, dipicu calonnya kalah, puluhan pendukung menduduki balai desa setempat hingga tadi malam. Bahkan, berhembus isu balai desa dan rumah salah seorang perangkat desa akan dibakar.

Pantauan Jawa Pos Radar Kudus di lapangan tadi malam, ratusan aparat berjaga di sekitar balai desa yang juga menjadi tempat pemungutan suara (TPS). Aparat terdiri dari polisi dan Satpol PP. Kendaraan pemadam kebakaran (damkar) juga disiagakan di lokasi.

Aksi kekecewaan itu lantaran dinilai adanya kecurangan. Hasil penghitungan suara diketahui calon nomor urut 1 Mustamar mendapat 1.949 suara. Sedangkan calon nomor urut 2 Pandoyo yang merupakan petahana unggul dengan perolehan 2.257 suara.

”Dicurigai ada unsur kecurangan. Tapi ya terpautnya suara juga cukup lumayan banyak," kata salah satu sumber yang enggan disebutkan identitasnya tersebut.

Balai desa tak hanya diduduki pendukung laki-laki, para ibu-ibu juga ikut mendatangi balai desa. Sesekali juga ikut menyoraki. Terdengar carik yang dipersalahkan pendukung yang kalah.

”Kabar yang berhembus di luar, rumah carik juga mau dibakar. Karena dicurigai yang bermain melakukan kecurangan," katanya lagi.

Massa masih dapat dikendalikan. Belum ada tindak anarkhistis berarti maupun aksi pembakaran seperti yang diisukan. Pukul 21.57 setelah dinegosiasi oleh pihak kepolisian massa yang kecewa calonnya kalah akhirnya mau meninggalkan balai desa.

Hasil pilkades di Kabupaten Pati hingga tadi malam pukul 20.00 sebagian desa memang sudah terlihat. Ada yang menang dengan suara mutlak, pun ada yang menang hanya selisih suara tipis. Seperti pilkades di Desa Kebonsawahan, Juwana, hanya selisih dua suara. Pendukung calon kalah sempat kisruh, sehingga kotak diamankan di Polsek Juwana.

Berdasarkan pantauan, hasil suara untuk pasangan calon kepala desa (cakades) keluarga pemerolehan suara menang telak. Seperti di Desa Jontro, Wedarijaksa, cakades pasutri dimenangkan suaminya dengan perolehan 1.609 sedangkan istrinya hanya 316. Sementara itu di Desa Karang, Juwana, perolehan suaranya 1.824 dan 84.

Begitupun di Desa Larangan, Tambakromo, pasangan cakades dimenangkan suami dengan perolehan 452 dan istrinya 106. Selain pasutri, pasangan keluarga ibu dan anak di Desa Karangmulyo, Tambakromo, dimenangkan Sri yang merupakan petahana dengan perolehan 737, sedangkan anaknya 183.

Selain pasangan yang mempunyai hubungan keluarga, pasangan cakades di desa lain yang tidak ada hubungan keluarga dan memperoleh suara mutlak seperti di Desa/Kecamatan Trangkil. Perolehan Suremi sebanyak 3.074, cakades kedua Wiliaji memperoleh 2.775 sedangkan cakades ketiga hanya 705.

Selain perolehan kemenangan mutlak, ada beberapa desa yang selisih perolehan suaranya tipis. Seperti di Desa Kebonsawahan, Juwana. Dua cakades yakni Sugiyono yang merupakan mantan Kades Kebonsawahan dan Iwin Yudaningsih menang tipis. Sugiyono memperoleh suara 292 sedangkan Iwin memperoleh suara 290. Hanya selisih dua suara.

Perolehan itu sempat membuat kisruh. Pendukung cakades yang kalah menggugat. Para pendukung meminta penghitungan surat suara diulang. Sehingga kotak suara sementara ini diamankan di Mapolsek Juwana.

“Betul kami telah mengamankan kotak suara setelah penghitungan surat suara pilkades di Desa Kebonsawahan, Juwana. Karena sempat terjadi sedikit gejolak dari pendukung calon yang kalah. Ini untuk menjaga kondusivitas. Selanjutnya kami akan mengamankannya menunggu sampai ada tindak lanjut dari panwascam dan kabupaten,” kata Kapolsek Juwana AKP Eko Pujiyono.

Sementara itu Kasubbag Pemerintahan Desa Setda Pati Indah Febriana menanggapi, tidak ada proses penghitungan ulang meskipun selisih dua suara. Penghitungan ulang bisa dilakukan jika ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.

“Kami berharap bahwa tahapan pilkades itu sesuai tahapan. Terlebih sebelumnya pak bupati dan jajarannya sudah meninjau langsung sebagian besar desa penyelenggara pilkades untuk diberikan arahan dan himbauan,” terangnya.

(ks/put/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia