Selasa, 19 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Pati

Pilkades Serentak Pati Jor-joran Uang, Satu Amplop Berisi Rp 200 Ribu

15 Desember 2018, 08: 46: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

DISIAGAKAN: Kapolres Pati AKBP Jon Wesly Arianto (dua dari kanan) mengecek kesiapan anggota dan kendaraan menjelang pelaksanaan pilkades serentak kemarin.

DISIAGAKAN: Kapolres Pati AKBP Jon Wesly Arianto (dua dari kanan) mengecek kesiapan anggota dan kendaraan menjelang pelaksanaan pilkades serentak kemarin. (SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

PATI – Pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kabupaten Pati digelar hari ini. Pesta demokrasi terkecil ini, diwarnai dengan aksi sebar amplop. Bahkan sudah ada warga yang menerima sejak H-4 coblosan. Isi amplopnya beragam. Dari Rp 50 ribu hingga mencapai Rp 200 ribu.

Salah satu warga di Kecamatan Gabus mengaku mendapat amplopan sudah empat hari yang lalu sebelum hari pencoblosan. Di desanya pilkades diikuti tiga calon. Dua calon memberi amplop berisi masing-masing Rp 100 ribu. Satu calon lain, amplopnya berisi Rp 200 ribu.

”Sudah dari kemarin (empat hari yang lalu, Red) ada yang nyebar amplop. Amplopnya ada yang berisi stiker salah satu calon. Yang lain amplop putih polos biasa,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

(SRI PUTJIWATI/RADAR KUDUS)

Dari yang memberi amplop, semuanya berpesan untuk mencoblosnya saat hari H. ”Ya semua yang datang memang berpesan untuk milih dia. Saya mengiyakan saja. Namun, soal saya telah memiliki pilihan sendiri. Tidak tergantung berapa banyak uang yang diberikan,” paparnya.

Di keluarganya, ada tiga yang memiliki hak pilih. Dia, ibunya, dan bapaknya. Satu orang total mendapat sekitar Rp 400 ribu. Dikali tiga orang, total satu keluarga mendapat uang Rp 1,2 juta.

”Uang tetap saya terima. Lumayan untuk tambahan beli make up,” candanya saat ditanya bakal untuk apa uang-uang dari para calon pemimpin yang mengharapkan suaranya di pemilihan kepala desa tersebut.

Pilkades serentak di Bumi Mina Tani yang digelar hari ini, diikuti 61 desa ini. Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus, banyak yang diwarnai dengan nyebar amplop berisi uang.

Di Kecamatan Kota, adanya sebaran amplop untuk menggalang suara pilkades juga terjadi. Sebaran amplop berisi uang berkisar Rp 50 hingga Rp 100 ribu. ”Saya dapat dari dua calon baru tadi malam. Dua calon masing-masing Rp 100 ribu,” kata warga Kecamatan Kota yang bekerja serabutan ini.

Penyebaran amplop memang terbilang jor-joran. Salah satu tim sukses, menyebar amplop berisi uang Rp 100 ribu sebanyak 2.200 amplop. ”Di desa saya ini jumlah pemilihnya sekitar 2.600 orang. Saya menyebar amplop 2.200 lembar. Lawan saya ada yang menyebar Rp 100 ribu, ada pula yang Rp 50 ribu,” katanya.

Untuk menyebar amplop, tak sembarangan. Dia harus memiliki tim khusus untuk melakukan penyelidikan. Satu RT paling tidak ada dua orang yang ditugaskan semacam intel. ”Jadi, orang yang akan diberi harus dipastikan benar-benar orang kita. Selama beberapa hari intel kita akan melihat bagaimana tindak-tanduk calon penerima amplop kita itu. Kalau bisa dipastikan benar-benar bakal memberikan suaranya, langsung kami beri,” jelasnya.

Sementara itu, mengenai pengamanan pilkades serentak ini, Polres Pati telah menyiagakan lebih dari 500 personel untuk mengamankan 61 desa yang menggelar pilkades. Ratusan personel itu, disebar di empat zona yang dinilai aman, rawan, dan paling rawan. Untuk desa penyelenggara pilkades yang diprediksi paling rawan diplot satu peleton personel.

Kapolres Pati AKBP Jon Wesly Arianto, mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan personel yang akan mengamankan desa yang menyelenggarakan pilkades. Bahkan, pada apel kesiapan pengamanan pilkades kemarin, pihaknya mengaku menurunkan 2/3 kekuatan atau sekitar 550 personel yang menyebar di 61 desa.

”Kami sudah maping prediksi terjadinya karawanan pada pesta rakyat ini. Wilayah kerawanan itu, dibagi wilayah aman dan rawan. Personel dibagi menjadi empat zona. Zona pertama; Polsek Pati, Margorejo, Gembong, Tlgoowungu, dan Wedarijaksa. Zona kedua; Polsek Kayen, Sukolilo, Gabus, Tambakromo, dan Winong,” jelasnya.

Sementara itu, zona ketiga terdiri dari Polsek Juwana, Jaken, Jakenan, dan Pucakwangi. Zona keempat; Polsek Tayu, Margoyoso, Gunungwungkal, Dukuhseti, dan Cluwak. Dari sana, ada zona aman dan zona rawan. Untuk zona aman ada sembilan desa yang calon kepala desa (cakades)-nya mempunyai hubungan kekeluargaan, seperti pasangan suami istri (pasutri), ibu anak, dan kakak adik.

”Zona rawan kami kategorikan yang cakadesnya lebih dari satu bukan mempunyai hubungan persaudaraan dan tidak pernah memiliki riwayat konflik. Semuanya memang harus diantisipasi tentang perkiraan kerawanan. Untuk itu, kami antisipasi dengan menerjunkan personel. Tak hanya polisi, ada TNI dan Satpol PP yang ikut mengamankan,” jelasnya.

Kapolres yang baru saja tugas sepekan di Bumi Mina Tani ini, melanjutkan, setiap desa penyelenggara pilkades ditempatkan empat polisi dan satu perwira TNI. Sedangkan untuk wilayah yang diprediksi rawan disiapkan satu pleton personel. Pengamanannya ketat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

”Kami terus mewanti-wanti warga untuk mengikuti pilkades dengan baik, supaya terpilih pemimpin yang baik pula, sehingga bisa memajukan desanya. Beda pilihan sudah bisa, asalkan tidak terpecah-belah. Untuk panitia pilkades saya tegaskan harus netral, tidak memihak,” tegasnya. 

(ks/aua/put/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia