Kamis, 21 Mar 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Jurus Ratu Shima yang Akhirnya Lumpuh

10 Desember 2018, 06: 05: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

SAYA tersentak ketika mendapat kabar rumah dan ruang kerja Bupati Jepara Ahmad Marzuqi digeledah KPK. Hati saya ikut menangis seperti halnya Marzuqi. Tersayat. Lebih pedih lagi ketika kemudian Marzuqi diperiksa sebagai tersangka. Kasusnya suap kepada hakim Pengadilan Negeri (PN) Semarang Lasito.

Saya memang bukan siapa-siapa. Tidak ada kaitan kekeluargaan dengan Marzuqi. Apalagi dengan Lasito. Tidak pula ada kaitan pekerjaan. Hanya, saya merasa menjadi rakyat Jepara. Perusahaan Jawa Pos Radar Kudus yang saya pimpin memiliki kantor biro di sana. Di wilayah kekuasaan Marzuqi itu pula, sebagian bisnis kami beroperasi. Kami juga menjalin kerja sama dengan pemerintah setempat.

Pemimpin Redaksi Radar Kudus Zaenal Abidin yang bertanggung jawab atas seluruh pemberitaan Radar Kudus tak punya beban. Berita tentang Marzuqi dialirkan begitu saja. Disajikan secara faktual dan lengkap. Padahal dia jauh lebih dekat dibanding saya dengan orang nomor 1 di Kota Ukir. Sampai-sampai dalam guyonan saya sering menyebutnya anak Marzuqi.

Radar Kudus tidak mau menyembunyikan fakta seperti reuni 212 yang oleh sebagian media tidak dibesarkan. Radar Kudus tidak mau bunuh diri hanya karena memiliki kedekatan dengan Marzuqi. Demikian juga Jawa Pos dan seluruh anak perusahaannya, termasuk Radar Semarang.

Sampai kemarin saya belum percaya benar Marzuqi menyuap hakim. Apalagi nilainya sampai Rp 700 juta. Yang saya tahu, putra daerah Kota Ukir itu sederhana. Saya tidak melihat dia punya banyak harta. Ketika kali kedua mencalonkan diri sebagai bupati Jepara, dia tidak punya banyak modal. Di rumah dinasnya saya tidak melihat mobil-mobil mewah berjajar di tempat parkir.

Saya cukup lama mengenal Marzuqi. Berkali-kali diterima di ruang kerja. Pernah diajak makan pula di ruang itu. Pernah pula diterima di rumah dinas di kompleks pendapa. Suatu saat ketika menerima saya, Marzuqi hanya mengenakan sarung dan kaus oblong putih sambil menggendong cucunya. Kemudian melengkapi penampilannya dengan peci yang tak pernah lepas ke manapun dia pergi.

Marzuqi bukan hanya santri. Bagi saya dia seorang kiai. Khas kiai NU. Kalau berpidato didahului ucapan syukur alhamdulillah dan salawat. Beberapa kali menyambut kami yang hanya beberapa orang pun dia berbicara seperti pidato formal. Setelah itu baru obrolan mengalir. Joke-jokenya berseliweran. Namun tetap diselingi ayat-ayat Alquran dan hadits.

Saya berkesan Marzuqi memiliki tetesan darah Ratu Shima, penguasa Kerajaan Kalingga yang berpusat di Keling, Jepara. Patungnya (tiga tokoh perempuan Jepara) di bundaran Ngabul, Jepara, dihadapkan ke pusat kerajaannya itu. Dia bijaksana, jujur, adil, dan tegas. Toleransinya tinggi. Dia dicintai rakyat. Konon saat dia berkuasa inilah agama Islam yang dibawa oleh pedagang Gujarat menyebar di Jepara yang kemudian melahirkan kiai-kiai di Bumi Kartini.

Saya betul-betul heran kenapa Pak Marzuqi terjerumus kasus yang di dalam hadits disebutkan laknatullahi alarrosyi walmurtasyi (Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap). Dia harus berhadapan dengan KPK yang juga tegas. Kasus utama Marzuqi itu sebenarnya kecil. Yaitu dituduh menyelewengkan bantuan parpol (banpol) untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jepara. Kebetulan dia menjadi ketuanya. Marzuqi pun sempat aman. Karena tidak menikmati.

Bantuan dari APBD Kabupaten Jepara tahun 2011-2013 itu tidak besar. Hanya Rp 149 juta. Dari dana itu, Rp 51 juta untuk THR pengurus partai dan Rp 23 juta untuk keperluan pribadi bendahara partai. Dua pengurus partai telah dijatuhi hukuman. Mereka adalah bendahara Zainal Abidin yang divonis 16 bulan dan wakilnya Sodiq dipenjara 12 bulan.

Marzuqi juga dijadikan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah (Kejati Jateng) yang menangani kasus itu pada 2016. Saat itu lagi ramai-ramainya pemunculan calon bupati 2017-2022. Tak heran kalau lantas ada yang menghembuskan aroma politik. Dengan jurusnya yang jitu, Marzuqi lolos dari jerat hukum. Kejati mengeluarkan surat pemberitahuan penghentian penyidikan (SP3).

Kasus Marzuqi menggelinding melalui jalan berliku. Penghentian penyidikan tersebut dipraperadilankan. Marzuqi kalah. Dia balik lagi sebagai tersangka. Politikus PPP yang ketika maju kali kedua diusung PDIP itu melawan. Dia pun mengajukan praperadilan ke PN Semarang. Jurusnya ampuh. Hakim Lasito memenangkan Marzuqi. Di sinilah Marzuqi dijerat. Dia dituduh menyuap Lasito. Dilaporkan ke KPK.

Selasa, 4 Desember 2018, KPK mengobok-obok rumah dan ruang kerja bupati. Marzuqi tak bisa berkutik. Dia pasrah seperti halnya Ratu Kalinyamat ketika dikalahkan Portugis dalam perang tahun 1550-an. Marzuqi hanya bisa menangis. Saya pun terenyuh. Apalagi setelah KPK menunjukkan bukti uang suap senilai Rp 700 juta yang disita dari rumah Lasito, hakim yang memenangkan Marzuqi pada sidang praperadilan di Semarang.

Marzuqi sudah mengklarifikasi. Dia tidak pernah bertemu Lasito. Apalagi menyerahkan uang yang ditutup dan dimasukkan plastik bandeng presto. Lantas siapa yang menyerahkan? KPK belum membeber. Tersangkanya pun baru dua, yaitu Marzuqi dan Lasito. Bisa jadi orang dekat Marzuqi yang rumahnya juga digeledah KPK.

Kalau kemenangan dalam sidang prapreradilannya digugurkan, Marzuqi terjerat dua kasus. Yaitu penyalahgunaan bantuan partai politik dan penyuapan. Saya sebagai rakyat jelata hanya bisa berharap Marzuqi lepas dari keduanya. Tetapi saya pun maklum kalau KPK membuktikan tuduhannya. Manusia tak lepas dari salah dan dosa. Barangkali Pak Marzuqi lagi lupa. Ini pelajaran bagi kita. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia