Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Kudus

Perantara Sewa Ruko Produksi Miras Berkedok Pabrik Kecap Tertipu

03 Desember 2018, 00: 27: 17 WIB | editor : Ali Mustofa

RUKO SEWAAN: Kondisi ruko yang diduga digunakan memproduksi miras dengan kedok pabrik kecap terlihat tertutup dan atap kanopinya tak terawat.

RUKO SEWAAN: Kondisi ruko yang diduga digunakan memproduksi miras dengan kedok pabrik kecap terlihat tertutup dan atap kanopinya tak terawat. (DONNY SETIAWAN/RADAR KUDUS)

KUDUS – Tak ada yang curiga bahwa ruko di Jalan Raya Kudus-Pati, tepatnya di RT 4/RW 5, Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kudus, digunakan sebagai tempat memproduksi minuman keras (miras). Bahkan, hal itu juga tidak diketahui ketua rukun tetangga (RT) dan perantara sewa ruko.

Sebelumnya, petugas kepolisian telah melakukan penggrebekan pada Kamis (28/11) lalu di ruko ini. Dari penggrebekan itu, petugas menemukan bukti kuat adanya penyimpangan berupa produksi miras di dalam ruko tesebut.

Karena didapati ada sejumlah barang bukti. Namun, saat ini masih dalam pengembangan. Dan satu pelaku sudah diamankan. Ironisnya, masyarakat sekitar tak ada yang tau tempat tersebut digunakan untuk produksi miras.

Ketua RT 4/RW 5 Joko Lelono, mengaku, dia sama sekali tidak tahu jika ruko yang berada di wilayahnya itu, ternyata memproduksi miras. Setahunya ruko itu digunakan untuk jual beli ban.

Bahkan, dirinya tidak tahu kalau ruko itu sudah habis masa kontraknya oleh pemilik toko ban. Kemudian beralih menjadi tempat pembuatan miras yang berkedok pabrik kecap. ”Saya tidak tahu sama sekali. Lah yang sewa ruko tidak pernah laporan sama saya,” tuturnya.

Dia melanjutkan, jika ada orang yang laporan. Maka akan dimintai KTP dan difoto. Sebagai pendataan jika ada hal yang tidak diinginkan bisa segera ditangani. ”Sewaktu roko disewa Nainggolan asal Medan untuk jual beli ban dulu melapor. Setelah itu, ternyata berganti penyewa, dan penyewa baru tak melapor ke saya,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat juga tidak ada yang tahu kalau ruko itu, digunakan untuk membuat miras. ”Saya baru tahu tadi pagi,” katanya saat dijumpai wartawan Jawa Pos Radar Kudus di rumahnya kemarin.

Sementara itu, perantara sewa ruko, Hadi Suyanto, mengatakan, dia juga tidak tahu kalau ruko bakal digunakan membuat miras. Sebab, dirinya hanya sebagai perantara atau penghubung dari penyewa ke pemilik ruko.

”Dari awal saya tidak tahu kalau akan digunakan untuk usaha gelap (membuat miras, Red). Saya hanya penghubung saja antara penyewa dan pemilik ruko. Kalau saya tahu akan digunakan untuk membuat barang yang dilarang ya tidak saya bolehkan,” ujarnya.

Dia mengaku, dari awal dirinya tidak tanya kepada penyewa ruko mau digunakan untuk apa. Sebab, sudah berulang kali ruko itu disewa. Sebelum digunakan membuat miras. Di antaranya pernah dipakai jual beli pakaian bekas. Lalu ganti disewa untuk jual beli ban.

Dia menambahkan, penyewa yang baru atau yang belakangan diketahui pembuat miras, sudah dia anjurkan untuk melapor ke ketua RT. Tapi penyewa tak melaksanakan. ”Ruko itu disewa selama setahun dengan biaya Rp 15 juta. Tapi baru berjalan dua sampai tiga bulan hingga saat ini,” imbuhnya.

(ks/ruq/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia