Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Features
Meidista Afdarista, Pelari Blora di Peparprov

Sebulan Ketinggalan Pelajaran, Lega Raih Dua Emas

26 November 2018, 19: 17: 00 WIB | editor : Ali Mustofa

PRESTASI DI BALIK KEKURANGAN: Meidista Afdarista bersama pelatihnya.

PRESTASI DI BALIK KEKURANGAN: Meidista Afdarista bersama pelatihnya. (DOK PRIBADI)

Memiliki kekurangan penglihatan karena low vision tak menghalangi Meidista Afdarista untuk mewujudkan cita-cita menjadi pelari. Berkat kerja kerasnya, gadis asal Kelurahan Ngelo, Kecamatan Cepu, Blora, ini berhasil menyumbangkan dua emas bagi kota kelahirannya di Peparprov Jateng 2018.

SUBEKAN, Blora

 PEKAN Paralimpic Provinsi Jawa Tengah (Peparprov Jateng) menjadi ajang unjuk kemampuan bagi Meidista Afdarista. Gadis 15 tahun ini, berhasil menyumbangkan dua medali emas untuk Kabupaten Blora.

Medali itu disumbangnya dari cabang olahraga (cabor) lari. Yakni pada lari nomor 100 meter dan nomor 200 meter.

Dia mengaku, untuk mendapatkan prestasi tidak didapat dengan instan. Harus kerja keras. Di antaranya empat bulan latihan intensif di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Jateng. Bahkan sempat ketinggalan pelajaran selama satu bulan.

”Sedih memang, ketinggalan pelajaran hingga selama satu bulan. Namun, semua itu terbayar dengan perolehan dua medali emas,” jelasnya.

Selama empat bulan itulah kemampuannya semakin terasah. Hingga akhirnya dalam kejuaraan bisa mendapatkan juara. ”Alhamdulillah, Kak, saya bisa menyumbangkan dua emas untuk Blora,” ucap gadis yang hampir buta ini.

Meidista mengaku, dia juga sempat grogi dalam ajang yang dijalaninya. Sebab, selain baru kali pertama mengikuti kejuaraan tertinggi tingkat provinsi bagi difabel ini, lawan-lawannya merupakan atlet senior. ”Jadi, saya sangat bersyukur sekali. Kejuaraan ini menjadi hal yang membanggakan bagi saya, Blora, dan orang tua saya,” ucapnya.

Gadis yang saat ini menjadi siswa di SMAN 8 Surakarta ini, mengaku, dia selalu yakin akan kekuatan yang dimilikinya. Meski sejak kelas IV SD menderita low vision atau gangguang penglihatan. Yaitu kemampuan melihat yang amat terbatas, bahkan mendekati buta. Tapi, itu bukan menjadi masalah bagi dirinya.

Meidista mengaku, dia suka lari sejak masih duduk di bangku kelas IV SD. Saat saat itu pula dia kali pertama menderita low vision. Meski begitu, kecintaannya terhadap olahraga adu cepat kaki ini, tidak luntur. Dia terus berlatih lari di lapangan Migas Cepu. Baik pagi maupun sore hari.

Berkat keteguhan hati, kesabaran, dan kerja kerasnya itu, dia sempat mengalahkan pelari dari anak normal pada umumnya. Tepatnya pada 2017 lalu. Saat dia kelas IX SMP. ”Di popda itu, saya mendapatkan juara I. Bisa mengalahkan pelajar normal,” kenangnya.

Dia mengaku punya cara sendiri dalam berlari. Yaitu saat di lintasan diberikan tanda garis putih. Tanda itulah yang digunakan untuknya berlatih.

Jadi, dengan mengikuti garis putih itu dia berlari sampai ke garis finish. ”Tujuannya, agar tidak sampai ke luar jalur dan bertabrakan dengan pelari lain,” jelasnya.

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia