Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan

Kota Hebat Bermula dari Kampung

26 November 2018, 19: 08: 58 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

ADA empat kegiatan yang patut saya ikuti dalam waktu hampir bersaman kemarin. Dua di Semarang, satu di Rembang, dan satu di Kudus. Saya memilih salah satu. Di Semarang. Launching Lomba Kampung Hebat bersama Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi (Hendi).

Saya tidak bisa menghadiri semua kegiatan yang diselenggarakan oleh dua perusahaan yang saya pimpin. Radar Kudus dan Radar Semarang. Beda dengan Pak Wali Kota Semarang. Sejak pukul 06.00-10.30 di Hari Minggu kemarin, Hendi dijadwal menghadiri lima kegiatan. Luar biasa padat.

Sejam beliau bersama saya di Kelurahan Pedurungan Tengah. Memukul kentongan tanda dimulainya Lomba Kampung Hebat. Acaranya sederhana, tapi heboh. Ada Attalarik Syah. Artis ganteng kesukaan emak-emak gemes yang dihadirkan oleh Dewangga, penyelenggara umrah dan haji yang menjadi sponsor kami.

Sebelum memukul kentongan berwarna biru dan merah, Hendi yang mengenakan polo hitam kombinasi biru dan hijau berkenan mengikuti jalan sehat mengitari kampung Ganesha. Kegiatan ini dilakukan setelah senam sehat yang diikuti oleh ribuan warga. Saya yang terus mendampingi Wali Kota mendapat kesan, popularitas Pak Hendi jauh melebihi Attalarik Syah. Di sepanjang perjalanan beliau menjadi buruan selfi mania. Istrinya yang cantik sampai terpinggirkan. Terpisah oleh warga.

Hendi berpendapat Lomba Kampung Hebat bukan sekadar kompetisi. Ini adalah gerakan masyarakat menuju Kota Hebat. Jawa Pos, koran dengan pembaca terbanyak di Indonesia (menurut survey A.C. Nielsen pertengahan tahun 2018), melalui anak perusahaannya, Radar Semarang memprakarsai. Mendorong masyarakat agar melahirkan ide-ide kreatif membangun daerah. Bergerak bersama-sama menciptakan lingkungan yang baik.

Selama lima bulan ke depan akan ada penilaian-penilaian yang dibagi menjadi beberapa kategori. Kampung bersih dan hijau, kampung sehat, kampung kreatif dan inovatif, kampung rukun dan aman, kantor kelurahan terbaik, dan PKK terbaik. Kelima kategori ini akan melahirkan Kelurahan Hebat yang mereprentasikan salah satu kehebatan Kota Semarang.

Tentu kegiatan bukan berhenti saat penentuan juara yang berhadiah Rp 70 juta saat peringatan Hari Ulang Tahun Kota Semarang pada 2 Mei 2019 mendatang. Gerakan ini akan terus berlanjut dengan dorongan aktif dari pemerintah kota yang bekerja sama dengan Radar Semarang. Inilah gerakan yang menurut E.F. Schumaker bisa mengalahkan sisi-sisi kapitalisme yang memiliki banyak kelemahan. Bagi Schumaker, gerakan-gerakan di masyarakatlah yang akan mewujudkan perdamaian dan kearifan di muka bumi ini.

Pak Wali berharap, masyarakat tidak menjadi warga pelapor. Sedikit-sedikit melapor. Tidak aman melapor, kotor melapor, banjir melapor, apapun melapor. Yang diinginkan adalah masyarakat berinisitaif memecahkan sendiri persoalan lingkungannya, termasuk persoalan ekonomi masyarakat.

Secara spontan, kemarin dia mengeluarkan banyak kocek untuk mengapresiasi produk-produk masyarakat yang dipamerkan dalam acara. Pak Wali membeli bukan untuk dibawa pulang tapi dibagi-bagikan kepada warga. Saya lihat sampai lima kali Pak Wali merogoh sakunya yang berisi lembaran-lembaran warna merah.

Jawa Pos mengapresiasi apapun gerakan yang bisa mengubah masyarakat menjadi lebih baik. Satu kegiatan lain yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Semarang kemarin juga berupa gerakan. Gerakan guru menulis. Pelatihannya diberikan langsung oleh Pemimpin Redaksi Arif Riyanto dan Redaktur Pelaksana Ida Noor Laila di SMPN 12 Semarang. Pelatihan ini, sudah kesekian kali (tahun ini saja sudah belasan kali). Saya hanya bisa nginceng ketika kegiatan hampir usai.

Di Rembang juga dilaksanakan kegiatan serupa oleh Jawa Pos Radar Kudus yang kebetulan juga saya pimpin. Kemarin, dilakukan deklarasi di Kantor Pusat Data dan Arsip Pemkab Rembang yang mestinya saya ikuti. Mudah-mudahan pada pelatihan 30 November nanti di SMAN 1 Lasem saya bisa hadir.

Gerakan lain adalah Lomba Menggambar dan Mewarnai di Kudus. Ini kerja sama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Pesertanya 7.000 siswa SD dan TK yang disaring menjadi sekitar 400 untuk mengikuti babak final di GOR Bung Karno Kudus kemarin. Saya tidak bisa menghadiri, tapi sudah menyemangati bersama seluruh manajer Radar Kudus Kamis lalu, saat pelaksanaan di sekolah-sekolah.

Semua itu adalah perwujudan filosofi part of the show. Menjadi bagian dari masyarakat melakukan berbagai kegiatan. Semoga bermanfaat. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia