Rabu, 19 Dec 2018
radarkudus
icon featured
Features
Dian Azizah,  Juara Batik Tulis Lasem 2018

Mendulang Kesuksesan dari Sebuah Kegagalan

25 November 2018, 22: 40: 14 WIB | editor : Ali Mustofa

KARYA APIK: Dian Azizah memperlihatkan karya batik tulis Lasem hasil lomba even metamorfosa yang digelar Dinindagkop UKM Rembang di sekolahnya kemarin.

KARYA APIK: Dian Azizah memperlihatkan karya batik tulis Lasem hasil lomba even metamorfosa yang digelar Dinindagkop UKM Rembang di sekolahnya kemarin. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Dian Azizah sejak kelas VI SD sudah mahir membatik. Setiap kali ada perlombaan ia ikut ambil bagian. Prestasi pun berhasil diraih. Teranyar, mewakili sekolahya (SMPN 2 Lasem) menjadi juara pertama lomba membatik tulis Lasem dalam even Metamorfosa 2018.

 WISNU AJI, Rembang

Suasana di SMPN 2 Lasem Sabtu pagi kemarin cukup ramai. Wajar. Saat wartawan koran ini datang ke sekolah itu masuk tepat jam istirahat. Di depan sudah disambut penjaga sekolah yang sedang menjalankan tugas bersih-bersih lingkungan.

Setelah menyapa, penjaga mengantarkan menuju ruang kepala sekolah. Wartawab bertemu seorang guru. Namanya Prinasih. Tidak lain merupakan guru sekaligus pembimbing ekstra kurikuler membatik di sekolah tersebut.

Tidak lama yang dicari-cari datang. Dia tidak lain Dian Azizah, siswi kelas VIII SMPN 2 Lasem.

Kepada koran ini Dian Azizah blak-blakan cerita dirinya dapat membatik. Ternyata skill yang dimilikinya sudah ada sejak masih duduk di bangku SD. Tepatnya kelas VI SD dirinya sudah dapat membatik dan ikut serta perlombaan.

”Saya membatik sejak SD kelas VI. Awalnya hanya iseng-iseng membantu ibu yang kebetulan membatik di rumah,” kenang alumni SD Sendangasri, Lasem.

Ia awalnya tertarik ingin mengetahui caranya. Ini karena ia besar dan lahir dari keluarga pembatik, termasuk neneknya. Dari situlah dirinya rela meluangkan waktu belajar dibandingkan untuk bermain.

Kali pertama ia mencermati setiap aktivitas ibunya. Lalu memperhatikan detail cara membuat pola, mencanting hingga pewarnaan. Ia pun lalu mempraktikan langsung di lembaran kain polos disela waktu luanganya.

”Untuk menyelesaikan pekerjaan semacam ini relatif. Saya sendiri biasanya kurang lebih sampai sepekan,” terang anak pasangan Suparman dan Sunarmi.

Memang dalam membuat pola memakan waktu. Apalagi  penuh di lembaran kain dapat selesai sehari. Sebab prosesnya panjang harus mengisi isen-isen di dalam pola, untuk berkreasi di lembaran kain.

Belum lagi memegang canting juga ada tekniknya. Karena diakui Dian kali pertama memegang pasti merasakan canggung. Karena lilin mudah menetas, makanya beberapa kali sempat ketumpahan lilin.

Kemudian tahapan selanjutnya nembok dan pewarnaan. Khusus pewarnaan biasanya sudah diracik orang tuanya. Setelah itu proses mlorot yang dibutuhkan waktu beberapa hari, tinggal cuci dan finish menjadi lembaran kain batik.

”Setelah mengetahui semua teknik saya mencoba ikut lomba. Alhamdulilah saat masih di SD Sendangasri, Lasem pernah juara II kabupaten. Saat itu motif yang saya buat latohan,” kata perempuan kelahiran Rembang 12 Oktober ini dengan bangga.

Keterampilannya berkembang terus hingga SMP. Ia mengikuti ekstra yang dilaksanakan setiap Jumat usai pulang sekolah. Dian belajar secara penuh sekitar dua jam disekolah, kemudian beberapa kali diulang di rumah.

Hasilnya memang tidak mengecewakan. Dalam lomba event Metamorfosa yang digelar Dinindagkopukm di Balai Kartini awal Nopember ia menjadi terbaik. Saat itu yang dibikin motif sekarjagat, kombinasikan warna hijau dan biru.

”Alhamdulilah selama tiga jam saya mampu selesaikan. Sebab motif sudah ditentukan, saya hanya menambah isen-isen bunga-bunga di dalam,” beber perempuan yang bertempat tinggal di Sendangasri, Lasem ini.

Hal ini menjadi kebanggaan Dian, sebab berkesempatan menunjukkan bakatnya. Tentunya tidak sendiri, namun bersama rekan-rekan lainnya. Kebetulan semua dipilih dari sekolah dan kebetulan kali kedua mendapatkan kepercayaan.

Tahun sebelumnya mendapatkan juara IV. Tidak ingin mengulangi kesalahan kedua kali, ia berkreasi dengan motif yang ditentukan panitia. Dengan cara memperbanyak bunga dan kombinasikan warna.

Pilihannya memang tepat, kombinasi ini membuatnya nilai lebih. Terlebih lagi dengan ditunjang hasil cantingan yang rata (tidak ada tebal dan tipis). Dari penyajian sekitar 10 menit, akhirnya mendapatkan juara I dan trofi  serta uang pembinaan.

(ks/him/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia