Jumat, 16 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan Umrah Direktur Radar Kudus (8)

Banyak Tangis pada Kesempatan Kedua

Jumat, 09 Nov 2018 22:56 | editor : Ali Mustofa

Banyak Tangis pada Kesempatan Kedua

ALHAMDULILLAH. Selama di Makkah saya tiga kali melaksanakan ibadah umrah, sekali berdo’a di Hijir Ismail, sekali mencium Hajar Aswad, dan berkali-kali berdoa di Multazam. Di antara tiga kali umrah itu, yang kedua yang paling berkesan. Banyak tangis.

Ketika mengambil miqot (tempat berniat umrah. Harus di luar Tanah Haram) di Ji’ronah saya langsung teringat istri saya Ida Rosari yang meninggal sekitar satu setengah tahun lalu. Saya pernah mengajaknya umrah. Bahkan sampai dengan nazar. Tetapi dia keburu dipanggil Allah sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Dia juga sudah saya daftarkan haji. Sudah dapat panggilan tahun 2017. Tetapi keburu dipanggil Tuhan juga. Dia jugalah yang mendorong saya untuk berumrah bersama kakak saya Musyafa’. Karena itu, kepergian ke Tanah Suci kali ini saya persembahkan untuk dia. Ketika melafalkan niat  labbaikallahumma umrotan (aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumrah) saya tambahi lizauji (untuk istri saya). Saat itulah air mata menetes nyaris sepanjang perjalanan menuju Makkah.

UMRAH BERSAMA: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi (tengah) bersama kakaknya, Musyafa’ (kiri) dan istri Musyafa’, Ida Rachmawati foto bersama di sela-sela umrah.

UMRAH BERSAMA: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi (tengah) bersama kakaknya, Musyafa’ (kiri) dan istri Musyafa’, Ida Rachmawati foto bersama di sela-sela umrah. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Menurut Ustaz Tahir Sasmita, pembimbing dari Biro Haji dan Umrah Al-Fatih, mengumrahkan orang itu boleh. Istilahnya badal umrah. Demikian juga haji. Bahkan, diwakilkan kepada orang lain yang bukan keluarganya juga boleh.

Di Makkah juga banyak orang yang siap melaksanakan badal umrah (juga haji). Tentu harus bayar. Ada yang Rp 5 juta. Malah ada yang lebih. Ustaz Tahir juga mendapat order. Hanya Rp 1 juta dengan alasan membantu. Kalau haji lebih mahal. Bisa sampai Rp 15 juta lebih.

Kali ini saya umrah untuk tiga orang sekaligus. Yang pertama untuk diri saya sendiri. Kedua untuk istri tadi. Ketiga untuk bapak. Ibu sudah pernah saya badal umrahkan sebelumnya dan kali ini diumrahkan kakak. Syarat dan rukunnya sama. Tidak beda sedikit pun.

Umrah untuk istri itu saya laksanakan siang. Ketika udara sedang panas-panasnya. Untung panasnya Makkah kali ini tidak sepanas di tanah air. Pukul 13.20 ketika saya mulai tawaf, pengukur suhu saya intip. 32 derajat Celsius. Nyaris sama dengan di tanah air. Bahkan, di Semarang kadang-kadang menyentuh angka 34.

Begitu selesai tawaf (mengelilingi Kakbah tujuh kali) Ustaz Tahir mengajak berdoa di depan Multazam (salah satu tempat berdoa yang paling bisa dikabulkan). ”Allahumma robbalbaitil’atiq, a’tiq riqobana wariqoba abaina waummahatina minannar (Ya Allah yang memelihara Kakbah ini, bebaskanlah diri kami, bapak dan ibu kami, saudara-saudara dan anak-anak kami dari siksa neraka).”

Suara Tahir terhenti. Cukup lama. Selagi dia diam saya menambahi sendiri, ”bebaskan istri saya dari siksa neraka.” Ketika melanjutkan suara Tahir tidak jernih lagi. Bercampur isak tangis. Tangis saya pun ikut pecah. Tersedu-sedu. Dari Multazam, doa dilanjutkan di belakang Maqom Ibrahim. Namanya maqom tetapi bukan kuburan. Itu tapak kaki Nabi Ibrahim yang diabadikan.

Setelah sa’i, berjalan dan berlari kecil antara bukit Sofa dan Marwah tujuh kali, seluruh rangkaian umrah yang terdiri atas mengambil miqot (tempat memulai umrah), niat, tawaf, sa’I, dan tahalul (memotong rambut) selesai pukul 14.47. Sangat cepat. Ketika itu lantai tawaf tidak terlalu ramai.

Rombongan saya juga cuma sedikit. Lima orang, termasuk kakak sekalian. Jalannya gesit. Berbeda dengan umrah pertama yang memakan waktu dua jam. Karena berombongan 39 orang.

Umrah itu sebenarnya cepat. Yang membikin lambat adalah adanya jamaah berombongan. Ada yang bergandeng tangan. Bahkan, saya sempat melihat rombongan sekitar 40 orang bergandengan tangan. Itu menganggu jamaah lain. Ada juga yang berdoa secara berjamaah keras sekali. Itu juga mengganggu.

Umrah ketiga juga siang hari. Mulai pukul 11.24 sebelum azan Dhuhur. Ada hikmahnya. Begitu sa’i pada putaran kedua, terdengar iqomat tanda salat dimulai. Seluruh orang yang sa’i menghentikan kegitannya. Saya ikut salat berjamaah sambil beristirahat. Akhirnya seluruh rangkaian umrah selesai sekitar pukul 13.00.

Tangis saya pecah lagi ketika tahalul (memotong rambut). ”Allahumma hadzihi nasiati fataqobbal minni (Ya Allah, inilah ubun-ubunku, maka terimalah dariku (amal perbuatan) dan ampunilah dosa-dosaku,” doaku yang kemudian saya tambahi, ”ampuni juga dosa istriku dan anak-anakku.” Meskipun di sekeliling ada ratusan orang tetapi yang terlihat hanyalah wajah istri saya.

Semoga mendapat syafaat dari Allah dan Rasulnya. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia