Jumat, 16 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan Umrah Direktur Radar Kudus (6)

Susul Pasar Seng dan Jabal Umar

Rabu, 07 Nov 2018 18:48 | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

SEORANG jamaah umrah sedang salat. Dia duduk dalam posisi tahiyat. Keberadaannya di antara lalu lalang jamaah lain. Sering kena tabrak. Nyaris juga terinjak. Dia bergeming. Jamaah lain setali tiga uang. Sama-sama nekad. Askar tak mau kalah.

Askar (penjaga ketertiban dan keamanan masjidil haram) melihat. Dia angkat seorang yang lagi salat itu. Masih dalam posisi duduk. Dipindahkan ke pinggir. Kemudian ditinggal begitu saja. Jamaah melanjutkan ibadahnya. Teman sekamar saya ikut menyaksikan adegan itu. Menceritakannya kepada teman lain dengan terbahak-bahak.

Askar tegas. Dia menghadapi jutaan umat manusia. Dari berbagai negara. Dengan berbagai karakter. Berbeda-beda bahasanya. Bermacam-macam pula sikapnya. Yang nekad diperlakukan tanpa kompromi. Itu demi ketertiban semua. Saat itu jamaah yang salat sudah menganggu jamaah lain.

DIPERLUAS: Masjidil Haram terus diperluas. Salah satunya area tawaf bertingkat di sebelah timur Kakbah saat ini direnovasi.

DIPERLUAS: Masjidil Haram terus diperluas. Salah satunya area tawaf bertingkat di sebelah timur Kakbah saat ini direnovasi. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Di beberapa tempat di Madjidil Haram memang agak semrawut. Banyak area yang ditutup karena pembangunan. Masjidil Haram pun terasa sesak.

Jamaah salat lima waktu selalu meluber. Ketika salat isya kemarin malam saya tidak kebagian tempat. Harus salat di jalan raya. Di sekitar jabal umar. Depan hotel yang ada jam raksasanya. Saya agak telat berangkat. Keluar hotel saat azan mulai dikumandangkan. Padahal hotel saya hanya 200 meter dari pintu masuk King Abdul Aziz (salah satu pintu masuk Masjidil Haram).

Bisa dibayangkan. Kalau jamaah umrah saja sudah meluber, bagamana saat musim haji. Pemerintah Arab Saudi menyadari. Kini Masjidil Haram terus diperluas. Area tawaf bertingkat di sebelah timur Kakbah direnovasi. Di belakangnya juga ada pembangunan. Banyak crane raksasa. Tinggi menjulang. Sampai terlihat dari area tawaf di dalam masjid. Di sebelah kiri pintu King Abdul Aziz juga dibangun. Di beberapa bagian lain juga.

Tempat-tempat yang sedang dibangun itu dikosongkan total. Demi keamanan jamaah. Ingat, beberapa tahun lalu pernah terjadi musibah robohnya crane yang membawa banyak korban. Itulah sebabnya. Kini Masjidil Haram terasa sesak. Karena, sebagian tempat harus dikosongkan dari jamaah.

Pembangunan Masjidil Haram ini merupakan rangkaian pembangunan sebelumnya dan tidak akan berhenti sampai 2030. Saat itulah diharapkan terwujud pelayanan prima bagi jamaah sebagai perwujudan visi-misi pemerintah Arab Saudi.

Sekarang pelayanan sudah baik. Namun belum tertib benar. Jamaah perempuan yang mestinya salat terpisah dengan jamaah laki-laki masih banyak yang bercampur. Bukan salah aturan. Tapi jamaah sendiri yang sering nekad melanggar. Itu pun Askar sebenarnya sudah tegas. Termasuk harus mengangkat jamaah yang nekad salat di pintu masuk.

Jamaah sulit diatur karena kapasitas tempat tidak sebanding dengan banyaknya jamaah. Itulah sebabnya kini pemerintah Arab Saudi terus memerluas pelataran masjid untuk beribadah. Di bagian depan yang dulu disebut Pasar Seng (karena banyak bedeng untuk berjualan dengan atap seng) kini sudah bagus. Sebagian menjadi pelataran masjid. Sebagian menjadi area bisnis di dalam gedung.

Kemarin saya mencoba jalan-jalan mengelilingi area luar masjid. Keluar masuk tempat-tempat perbelanjaan. Hanya shoping window alias melihat-lihat. Terasa lega dan nyaman. Namun, tampaknya jamaah Indonesia belum terbiasa dengan tempat perbelajaan seperti itu. Mereka terlihat banyak mendatangi toko-toko kecil. Bahkan kaki-kaki lima yang menawarkan harga obral. Peci bulat yang dijual hanya satu real (sekitar Rp 4.000) laris-manis bak kacang goreng. Demikian juga abaya (jubah hitam untuk perempuan seharga 20 real.

Area bekas Pasar Seng itu sudah menyatu dengan Jabal Umar yang dulunya acak-acakan. Jabal Umar sudah disulap menjadi gedung pencakar langit yang ada jam raksasanya yang sangat terkenal itu. Zam-Zam Tower juga di situ. Bagian depannya juga menjadi pelataran masjid yang melingkar menyambung dengan bagian depan.

Kini tinggal bagian belakang hingga sebelah timur masjid yang belum memiliki pelataran. Sudah terlihat banyak bangunan yang dikosongkan. Menunggu “pengeboman” (merobohkannya menggunaan bom) untuk dibangun ulang. Menyusul keberhasilan pembangunan Pasar Seng dan Jabal Umar. Kalau berhasil, kelak Masjidil Haram dikelilingi pelataran yang melingkar seperti Masjid Nabawi di Madinah. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia