Jumat, 16 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan Umrah Direktur Radar Kudus (4)

Tak Berubah dari Dulu, Wudlu dengan Air Minum

Senin, 05 Nov 2018 19:30 | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

BELUM umrah sudah mendapat pahala berumrah. Itulah salat di Masjid Kuba. Luar biasa. Hanya salat sunnah dua rekaat. Sepeti salat sunnah pada umumnya. Tidak perlu bacaan macam-macam. Alhamdulillah, saya bisa melakukannya.

Masjid Kuba termasuk masjid yang unik dan bersejarah. Itulah masjid pertama yang dibangun Rosulullah setelah berhijrah dari Makkah ke Madinah tahun 622 Masehi. Lokasinya kira-kira lima kilometer di sebelah tenggara Kota Madinah. Sembilan tahun lalu, saya juga salat di situ. Bentuknya masih sederhana. Hanya bangunan segi empat. Tidak ada ornamen macam-macam. Lingkungan sekitarnya juga belum tertata.

Sekarang masjid itu sudah dibangun ulang. Kelihatan modern. Ada empat menara menjulang. Ada kubahnya juga. Arsitekturnya lengkung-lengkung seperti masjid Indonesia pada umumnya. Termasuk mihrab, mimbar khutbah, dan tempat azan. Lingkungannya juga sudah disulap menjadi taman yang indah dengan rumput hijau. Tempat parkirnya menampung puluhan bis. Tidak seperti sembilan tahun lalu yang hanya muat beberapa.

BERPAHALA UMRAH: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi menunjukkan Masjid Kuba. Masjid ini dibangun Rasulullah setelah berhijrah dari mekah ke Madinah 622 M.

BERPAHALA UMRAH: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi menunjukkan Masjid Kuba. Masjid ini dibangun Rasulullah setelah berhijrah dari mekah ke Madinah 622 M. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Yang tidak berubah dari dulu adalah tidak ada tempat wudlu.  Ketika salat di situ, saya terpaksa berwudlu menggunakan air minum yang disediakan secara gratis. Air itu di tangki dengan empat kran seperti kran dispenser. Betul-betul hanya disediakan untuk minum. Ada gelasnya yang diberi tali supaya tidak lari-lari. Semua orang tahu kalau air itu bukan di sediakan untuk berwudlu. Tidak ada tempat pembuangan limbahnya.

Tentu sulit untuk berwudlu dengan air itu. Aliran airnya kecil. Sedangkan orang yang ingin berwudlu banyak sekali. Saya pun berwudlu sekedarnya. Cukup membasahi anggota badan yang wajib. Yang paling sulit membasuh kaki. Saya melakukannya dengan menampung air di telapak tangan terlebih dahulu. Banyak orang yang mengangkat kaki sampai di mulut kran. Padahal tingginya sedada orang dewasa. Betul-betul tidak elok.

Masjid Kuba termasuk jujugan atau destinasi wisata jemaah umrah. Inilah masjid dengan keutamaan salat setingkat di bawah masjid Nabawi Madinah. Malah salat di Masjid Nabawi tidak diganjar setingkat umrah.

Di Madinah banyak masjid yang memiliki keunikan meskipun tidak memiliki keutamaan salat. Salah satunya Masjid Kiblatain. Yaitu masjid dengan dua arah kiblat. Dulu mihrabnya (tempat imam) dua. Sekarang tinggal satu yang menghadap ke kakbah di Masjidil Haram Makkah. Masjid ini tidak jauh dari Masjid Kuba.

Awalnya, masjid itu menghadap ke Palestina. Setelah Nabi Muhammad mendapat petunjuk dari Allah, arah sembahyangnya diubah ke kakbah. Perubahannya unik. Dalam satu riwayat disebutkan, perubahan itu dilakukan begitu saja saat salat masih berlangung. Kemudian dibikinlah pengimaman (tempat imam) menghadap kakbah. Maka tempat imam menjadi dua.

Masjid lain yang memiliki keunikan adalah masjid Khondag. Sekarang namanya Salman Alfarisi. Nama Khondag diambil dari peristiwa perang khondag yang artinya parit. Di depan masjid itu dulu ada paritnya untuk menghambat lawan menyerang. Kemarin ketika saya ke sana, parit itu sudah tidak ada. Wujudnya berubah menjadi jalan raya dengan aspal mulus.

Semula masjid Khondag itu ada tujuh. Belakangan menyusut tinggal lima sampai sekarang. Namun yang dipergunakan hanya satu yang diberi nama Salman Alfarisi tersebut. Empat lainnya masih ada. Kecil-kecil. Ada yang seperti pos kamling. Ada yang sebesar rumah tipe 21 tapi ada kubahnya. Ada yang di bukit dan kelihatan menaranya.

Baik masjid Kiblatain maupun masjid Khondag tidak banyak dikunjungi wisatawan. Apalagi bentuknya sekerang sudah modern. Secara fisik tidak kelihatan keistimewaannya lagi. Saya pun hanya sekedar lewat.

Para jemaah umroh lebih memilih berwisata di kebun kurma, Jabal Magnit, Jabal Uhud, dan percetakan Alquran yang masih di wilayah Madinah. Terutama di kebun kurma sekaligus membeli oleh-oleh. Padahal kurma yang dijual ada juga di tanah air. Harganya pun sama. Kurma ajwa (kurma nabi) misalnya, dijual 50 real sekilogram. Sedangkan di tanah air Rp 200.000. Kurang lebih sama. (hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia