Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan Umrah Direktur Radar Kudus (3)

Enam Istimewa di Antara Ratusan Tiang

Minggu, 04 Nov 2018 22:31 | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

TEMAN saya di Madinah, Sumadi memiliki obsesi. Dia ingin menghitung jumlah pilar di masjid Nabawi. Saya dengarkan saja obrolannya menjelang tidur. Obsesi itu muncul setelah dia berada di masjid yang dibangun Rosulullah itu.

Sampai dia bercerita, belum sempat menghitungnya. Obsesinya pun hanya sekadar menghitung. Tidak sampai meresapi maknanya. Padahal ada enam tiang yang memiliki arti khusus. Teman saya itu juga tidak mengetahuinya.

Saya juga mempunyai obsesi yang sama. Munculnya juga begitu masuk Masjid Nabawi. Saya kagum dengan besar dan banyaknya pilar di masjid yang luasnya 8,2 hektare itu. Besarnya pilar itu kira-kira dua dekapan manusia. Saya mencoba memeluknya. Kedua tangan saya hanya bisa mencapai separo. Ada yang menyebut jumlah tiang itu 232. Entahlah.

MUSTAJABAH: Roudloh tempat berdoa yang dikabulkan. Di sini terdapat tiang-tiang khusus.

MUSTAJABAH: Roudloh tempat berdoa yang dikabulkan. Di sini terdapat tiang-tiang khusus. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Kemarin malam setelah berdoa di Roudloh dan berziarah di makam Rosulullah, saya mencoba menghitung pilar itu. Tentu tidak mungkin menghitung satu per satu. Saya ambil cara. Menghitung tiang yang berjajar dari utara ke selatan. Tepatnya pintu nomor 4 yang diberi nama Alhijrah lurus ke pintu nomor 19 yang bernama Albadr. Total ada 39.

Kemudian saya menghitung dari timur ke barat. Jumlahnya ternyata sama 39. Kalau dikalikan jumlah yang membujur dari utara ke  selatan tadi, total 1.521. Menghitungnya tentu tidak seperti itu. Ada pilar yang tak terjangkau hitungan saya. Ada tempat yang jarak pilarnya tiga kali dibanding jarak pilar pada umumnya. Itu pun belum termasuk tiang yang berada di area perempuan sisi barat dan timur yang tidak bisa saya hitung. Areanya disekat.

Dari jumlah tiang tersebut, ada yang memiliki sejarah dan arti khusus. Tidak banyak orang yang mengetahui. Bentuknya sama dengan tiang-tiang lain. Saya pun tidak menyadari. Tiang-tiang tersebut terletak di sekitar Roudloh yang luasnya 144 m2. Pada zaman Rosulullah, tiang-tiang tersebut terbuat dari pohon kurma.

Tiang-tiang tersebut diberi nama. Masing-masing Al-Usthuwaanah Al-Mukhalqah, Al-Usthuwaanah Al-Qur’ah atau Usthuwaanah Aisyah, Usthuwaanah At-Taubah, Usthuwaanah As-Sarir, Usthuwaanah Al-Haras, dan Usthuwaanah Al-Wufud (maaf kalau salah).

Banyak orang yang mengunjungi masjid nabi tidak menyadari pilar ini atau tidak mengetahui latar belakang sejarahnya. Saya pun mengetahui dari literatur. Tiang Ustuwanaah Al-Mukhallaqah artinya tiang wangi. Dari kata al-khaluq yang artinya parfum. Karena pada zaman Rosulullah diberi minyak wangi.

Tiang Al-Usthuwaanah Al-Qur’ah disebut juga tiang Muhajirin. Karena sahabat-sahabat muhajirin sering duduk di dekatnya. Kaum muhajirin adalah sahabat-sahabat yang datang dari Makkah ke Madinah bersama Rosulullah. Tempat ini awalnya digunakan Nabi Muhammad sebagai tempat salat.

Ada juga yang diberi nama Tiang Aisyah sebagai pengingat dan penghormatan kepada perjuangan istri Rosulullah, Siti Aisyah. Dia dimakamkan di makam Baqi yang berada di samping masjid.

Tiang  Usthuwaanah At-Taubah bisa juga disebut tiang Abu Lubabah. Dia sahabat nabi  yang namanya Rifa’ah bin Abdul Mundzir. Entah kenapa nama itu diabadikan. Saya belum mendapat jawaban.

Tiang Usthuwaanah As-Sarir berarti ranjang. Di tempat ini Rosulullah biasa beriktikaf. Dulu tempat tidur itu terbuat dari pelepah kurma. Rosulullah sering berbaring di ranjang itu. Tiang ini terletak di sebelah timur tiang Abu Lubabah.

Tiang  Usthuwaanah Al-Hars berada agak ke belakang bila dilihat dari sisi utara. Apabila menemui ummat, Rosulullah sering duduk di tempat ini dan dijaga oleh para sahabatnya. Yang paling sering Ali bin Abi Thalib. Karena itu pula tiang ini dinamakan tiang Ali.

Di belakang tiang Al-Hars ada tiang Usthuwaanah Al-Wufud. Rosulullah biasa duduk di sini tatkala menyambut para utusan dari bangsa Arab yang datang ke Madinah.

Setiap kali saya ke Roudloh atau ke makam nabi yang berdampingan, saya selalu memerhatikan tiang-tiang tersebut. Pandangan saya nyaris selalu ke atas. Apalagi saya yang pendek berada di tengah-tengah orang Timur Tengah yang umumnya tinggi. Meski demikian tetap kesulitan menemukannya. Silakan kalau Anda ke Masjid Nabawi memerhatikan.

Saya masih punya keinginan lain yang sampai kemarin belum terlaksana. Yaitu menghitung jumlah payung di pelataran yang mengelilingi Masjid Nabawi. Payung-payung itu juga berada di dalam masjid. Di pelataran-pelataran yang tidak beratap. Kebetulan ketika saya di Madinah payung-payung tersebut terus mengembang.

Hari-hari belakangan di Madinah sering mendung. Bahkan hari pertama saya di sana, hujan gerimis  nyaris sepanjang sore dan malam. Tadi pagi ketika berangkat ke masjid menjelang subuh juga gerimis. Suhu pada malam hari terkadang menyentuh angka 16. Tapi subuh tadi 20 derajat Celsius. (hq@jawapoos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia