Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan Umrah Direktur Radar Kudus (2)

Satu Trik Tiga Kali Berdoa di Roudloh

Sabtu, 03 Nov 2018 08:05 | editor : Ali Mustofa

DAPAT BERKAH: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi saat berada di Roudloh.

DAPAT BERKAH: Direktur Radar Kudus dan Radar Semarang Baehaqi saat berada di Roudloh. (BAEHAQI/RADAR KUDUS)

SAYA termasuk beruntung. Bisa tiba di Madinah Kamis siang. Malamnya langsung berziarah ke makam Rosulullah. Pas malam Jumat. Malam itu juga berdoa di Roudloh. Ini adalah salah satu tempat berdoa yang makbul (diterima). Di Kota Madinah hanya satu itu. Siang berikutnya Salat Jumat di Masjid Nabawi, masjid yang dibangun Nabi Muhammad.

Tidak sembarang jamaah umrah bisa seberuntung saya. Padahal, saya sama sekali tidak merencanakan. Kebetulan Biro Umrah Al-Fatih yang saya ikuti menentukan keberangkatan tanggal 31 Oktober 2018. Berarti hari Rabu. Semula saya pun tidak tahu akan menggunakan rute Madinah- Makkah atau sebaliknya.

Sebelumnya saya berpikir, perjalanan umrah yang paling pas itu Makkah-Madinah. Jamaah bisa langsung melaksanakan ibadah umrah sebelum mereka jalan-jalan. Umrah itu memang hanya di Makkah. Tidak ada kaitannya dengan Madinah. Prosesinya pun tidak panjang. Hanya tawaf (mengelilingi ka’bah tujuh kali), sa’i (jalan antara bukit Safa dan Marwa tujuh kali), lalu memotong rambut. Selesai. Dua sampai tiga jam cukup.

(BAEHAQI/RADAR KUDUS)

Jemaah yang memakai jaur Madinah-Makkah tidak akan bisa umrah terlebih dahulu. Malah ada yang langsung berwisata. Misalnya dari bandara menuju Jabal Magnit. Itu betul-betul tidak ada kaitannya dengan ibadah. Setelah itu, baru ke hotel atau Masjid Nabawi. Saya bersyukur karena terhindar dari kepentingan wisata terlebih dahulu meskipun menggunakan jalur Madinah-Makkah.

Untuk mengerem agar tidak terjebak pada wisata belanja terlebih dahulu, saya berniat tidak membawa Real dari rumah. Hari terakhir sebelum keberangkatan saya masih belum membeli Real. Sampai akhirnya kakak saya, Ida Rachmawati yang akan berangkat bersama saya meminta tolong. Terpaksa saya ke bank untuk menukarkan rupiah dengan Real.

Belanja atau berwisata adalah godaan terbesar bagi jemaah umrah. Juga jamaah haji. Sampai-sampai ada yang menyediakan sangu lebih banyak dibanding biaya umrahnya. Saya tidak ingin tergoda semua itu. Belanjaan saya yang pertama kemarin menjelang Salat Jumat hanyalah membeli Alquran di Museum Alquran dekat Masjid Nabawi. Saya membeli yang seharga 35 Real.

Saya betul-betul ingin berkonsentrasi beribadah di Masjid Nabawi. Berjalan-jalan di sekeliling masjid pun tidak. Pada hal di setiap blok yang mengelilingi masjid pasti ada area perdagangannya. Saya baru berjalan mengelilingi masjid total sebelum Jumatan sambil berziarah di Makam Baqi dan mengunjungi Museum Alquran. Makam Baqi adalah makam setiap orang yang meninggal di Madinah, termasuk jamaah haji dan umrah dari Indonesia. Di makam itu istri Rosulullah Aisyah dimakamkan.

Saya mempunyai kebiasaan membaca Surat Yasin dan tahlil di malam Jumat. Malam kemarin pun saya manfaatkan. Termasuk tahlil di depan makam Rosulullah. Saya mengambil waktu setelah Isya. Alhamdulillah bisa membaca tahlil sampai selesai tanpa diobrak askar (penjaga keamanan). Caranya dengan berdiri di luar pembatas. Mepet tembok.

Ziarah di makam Rosulullah itu tidak diperbolehkan berlama-lama. Tidak akan ada orang yang diperbolehkan berhenti berdoa di depan makam. Apalagi sampai tahlil lengkap. Semua berdoa sambil jalan. Saya juga melakukan itu setelah berdoa di Roudloh.

Berdoa di Roudloh membutuhkan perjuangan tersendiri. Saya sempat gagal. Setelah Salat Isya saya masuk atrean. Ternyata sangat panjang dan berdesak-desakan. Roudloh yang artinya taman tidak luas. Hanya sekitar 144 meter persegi. Bandingkan dengan luas Masjid Nabawi termasuk pelatarannya yang 8,2 hektare. Jamaahnya ratusan ribu orang.

Roudloh terletak antara mimbar Masjid Nabawi dengan makam Rosulullah yang dulunya rumah utusan Allah itu. Tandanya, karpetnya hijau. Dari luar juga terlihat ada kubah hijau. Sedangkan karpet lainnya di Masjid Nabawi berwarna merah. Lokasinya paling selatan. Salat di Masjid Nabawi menghadap ke selatan. Arah Ka’bah ke sana.

Setelah gagal berdoa di Roudloh sehabis Isya, saya mundur. Kemudian balik ke hotel. Pukul 21.00 waktu setempat saya perkirakan antrean berkurang. Betul. Saya ke masjid lagi. Hujan gerimis yang turun sejak sore semakin deras. Saya harus mengangkat jubah. Tak sadar teralu tinggi, seorang Arab menghentikan langkah saya. Dia menepuk pundak. Menuding ke arah kaki. Untung kaki saya tidak seksi.

Di dekat Roudloh saya masuk antrean lagi. Untung badan saya kecil. Sedikit demi sedikit menyelinap di sela-sela antrean di depan saya. Tidak sampai setengah jam saya masuk Roudloh bersamaan dengan dibukanya pembendung atrean. Kalau mau lebih longgar lagi, masuk antrean sekitar tengah malam.

Lagi-lagi saya beruntung. Di Roudloh saya bisa salat tiga kali. Berdoa tiga kali juga. Trik saya seperti ini. Mula-mula mengambil tempat paling belakang. Salat dan kemudian berdoa. Setelah puas, kemudian bergeser ke tengah. Salat lagi dan berdoa lagi. Askar yang melihat akan menganggap orang yang baru mendapat kesempatan salat.

Usai berdoa, saya bergeser ke depan lagi. Dapat baris kedua. Salat lagi dan berdoa lagi. Askar memperhatikan saya. Begitu saya salam, dia menuding muka dan mengibaskannya ke arah pintu. Dia memaksa saya keluar. Saya pura-pura tidak tahu dengan memejamkan mata. Kemudian berdoa. Silakan coba trik saya. Sekali masuk Roudloh bisa salat dan berdoa tiga kali. (hq@jawapos.co.id)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia