Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Cuitan
Catatan Perjalanan Umrah Direktur Radar Kudus

Hujan di Madinah Menghapus Semua Kelelahan

Jumat, 02 Nov 2018 23:02 | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (RADAR KUDUS)

Pukul 11.10 (waktu setempat) udara di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz Madinah cukup dingin. Pengukur suhu di HP saya menunjukan angka 20 derajat Celsius. Sedingin udara AC. Hujan baru saja reda. Titik-titik air masih sesekali jatuh dari langit. Air kelihatan menggenang tipis di beberapa lekukan aspal di pelataran bandara. Pesawat Etihad yang saya tumpangi mendarat dengan mulus.

Bagi saya itu berkah tersendiri. Selama di tanah air saya belum pernah ketetasan air hujan. Baik di Sidoarjo, tempat tinggal saya, di Kudus, maupun di Semarang. Setiap kali turun hujan di tiga daerah tersebut saya berada di kota lain. Hujan di Madinah seolah menyambut kedatangan saya di tanah haramaian (Mekah dan Madinah) untuk selanjutnya menjalankan ibadah umroh di Mekah nanti.

Hujan di Madinah kemarin merata. Sampai di Masjid Nabawi, titik-titik hujan itu masih ada. Pelataran masjid itu pun basah. Di jalan-jalan sekitarnya juga kelihatan genangan tipis. Nikmatnya udara siang itu langsung menghapus kecapekan selama perjalanan. Saya berangkat dari rumah pukul 11.00 WIB Rabu.

Sebelumnya sempat ketar-ketir. Dag dig dug. Nervous juga. Betapa tidak? Dua hari menjelang keberangkatan pesawat Lion Air Jatuh di perairan Tanjung Kerawang. Seluruh penumpangnya tewas. Padahal, saya sudah mengantongi tiket Lion Air rute Semarang – Jakarta sebelum naik Etihad Jakarta – Madinah.

Biasanya setiap kali terjadi kecelakaan pesawat saya langsung nongkrong di depan televisi dengan mata nyaris tak berkedip. Terus memperhatikan detik demi detik informasi yang disiarkan. Tapi, Selasa pagi lalu (30 Oktober 2018) setelah mendengar Lion Air JT 610 jatuh, saya tak berani melihat siaran langsung. Saya hanya sesekali mengintip untuk sekedar mengetahui apa yang terjadi dan perkembangannya.

Saya periksa kembali booking pesawat saya. Benar Lion Air JT 0517. Akan terbang dari Bandara A. Yani Semarang pukul 16.45. Meskipun hati sudah mantap bahwa nasib seseorang sudah ditentukan, tetapi sempat galau juga. Saya adalah manusia biasa yang punya hati dan perasaan. Tapi banyak teman menegarkan.

Rekan saya Sutanto Rehatin, pemilik agen biro perjalanan umrah Al-Fatih menghibur hati. “Malaikat sudah punya lisnya,” katanya. Maksudnya lis orang-orang yang bakal dicabut nyawanya. Allah juga sudah menentukan kematian manusia. Apabila sudah saatnya tidak bisa diundur atau dimajukan sedetikpun. Memerhatikan itu, saya menjadi lega. Saya kuatkan hati. Tidak akan saya batalkan tiket Lion tersebut.

Perjalanan dari rumah ke bandara enjoy-enjoy saja. Saya perhatikan kakak saya Musyafa’ dan istrinya Ida Rachmawati yang akan umroh bersama saya. Tidak terlihat di wajahnya sedikitpun kecemasan. Kami seperti orang mau berwisata saja. Apalagi anak-anak dan adik kami mengantar sampai bandara.

Suasana hati berubah drastis saat boarding. Petugas mengatakan pesawat delay satu jam. Ketir-ketir lagi. Deg-degan lagi. Nervous lagi. Untung tidak lama. Saya perhatikan semua doa teman-teman yang terus membanjir lewat Watts App. Khususnya yang disampaikan karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang. Juga yang disampaikan langsung oleh karyawan Radar Kudus ke rumah sebelum berangkat. Saya pun kuatkan hati dengan berstatus, “Tak usah berpikir Lion yang jatuh.” Saya sibukkan diri dengan menulis sebagian tulisan ini.

Akhirnya Lion mengudara setelah maghrib dan mendarat di Bandara Soekarno Hatta setelah isya. Begitu roda pesawat menyentuh landasan saya menengok Sutanto Rehatin yang ada di samping kanan saya. Wajahnya kelihatan tegang. Pandangannya lurus ke depan. Setelah pergerakan pesawat stabil dan semakin pelan, Sutanto menoleh ke saya. Senyumnya mengembang. Saya juga. Dia mengangkat tangan. Membuka telapaknya. Mengajak toas. ‘’Ternyata Anda tegang juga,’’ kata saya.

Sutanto akhirnya mengakui, semua orang pasti tegang. Kecelakaan pesawat Lion sungguh luar biasa. “Kita ini manusia. Punya perasaan,” jawab saya. Saya tidak tahu apakah perasaan itu sempat memengaruhi penumpang Lion lainnya. Yang saya lihat empat deret kursi (masing-masing enam) kelihatan kosong.

Untung kegalauan selama naik Lion terhapus dengan nikmatnya ibadah di Masjid Nabawi di hari pertama saya di tanah haram.(hq@jawapos.co.id)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia