Jumat, 16 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Features
Agung Kusuma Jaya, Juara III Mostratec Brazil

Bawa Mie Instan dan Abon Sapi Selama Satu Pekan di Brazil

Jumat, 02 Nov 2018 18:54 | editor : Ali Mustofa

HEBAT: Agung Kusuma didampingi kepsek dan guru pembimbing SMA PGRI 2 Kayen di sekolahnya kemarin.

HEBAT: Agung Kusuma didampingi kepsek dan guru pembimbing SMA PGRI 2 Kayen di sekolahnya kemarin. (SRI PUJTIWATI/RADAR KUDUS)

Perjuangan panjang penelitian material pelapis lambung kapal kayu dari silika abu sekam padi berujung kesuksesan. Penelitian Agung Kusuma Jaya itu mendapatkan juara III pada ajang sains terapan internasional Mostratec di brazil.

 SRI PUTJIWATI, Pati

Di dalam ruangan Kepsek SMA PGRI 2 Kayen sudah ada kepsek, guru pendamping dan Agung. Agung baru saja kembali dari Brazil setelah mengikuti ajang Mostratec Brazil bersama Muhamad Rauf, guru pembimbingnya. Prestasi membanggakan diperoleh Agung mendapatkan juara III yang diikuti 22 peneliti muda dari beberapa negara.

Siswa kelas XI IPA SMA PGRI 2 Kayen ini telah meneliti sejak 2017 lalu. Penelitiannya dilatarbelakangi karena banyak nelayan di Juwana mengeluhkan lambung kapal yang mudah bocor.

“Para nelayan mengeluhkan lambung kapal mudah mengelupas dan kurang tahan terhadap korosi air laut. Lalu saya berdiskusi dengan guru pembimbing, mempelajarinya, dan survei berkali-kali,” katanya.

Ia dan guru pembimbingnya menggunakan abu bekas pembakaran batu bata menjadi pelapis lambung kapal. Selain menggunakan silika abu sekam padi, juga menggunakan resin dan fiberglass yang dilapiskan pada kayu merbau. Sampel kayu merbau ini diperoleh dari lokasi pembuatan kapal kayu di Juwana.

“Kami memilih abu sekam padi karena ketersediaannya berlimpah. Di Kecamatan Sukolilo dan sekitarnya, kami bisa mendapatkan hingga 10 ton abu pembakaran bata setiap hari. Belum lagi di kecamatan lainnya, di Trangkil salah satunya, dan abu pembakaran batu bata itu bisa didapatkan secara gratis. Karena selama ini dibuang secara percuma,” imbuhnya.

Warga Desa Sumbersari, Kayen, Pati ini mengaku, material ini terbuat dari bahan limbah yaitu abu sekam padi. Setelah melalui perlakuan fisis dan kimia bahan ini menjadi bahan alternatif pelapis lambung kapal. Material pelapis lambung kapal ini telah diuji kandungan dan kuat bendingnya di UNDIP Semarang dan Politek Negeri Semarang.

“Hasilnya sangat memuaskan. Keunggulan material ini adalah tahan korosi, mampu menahan kebocoran lambung kapal dan memiliki kekuatan akibat pembebanan dan kekenyalan yang melebihi standar SNI,” tutur laki-laki kelahiran Pati, 20 Oktober 2001 ini.

Penelitiannya selama enam bulan yang diberikan judul Test Of Mechanical Properties And Physical Properties Of Rice Husk Ash Silica As The Material Of Hull Coating Traditional Wooden Fishing Ships itu berhasil masuk di Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) 2018. Keberhasilan di ISPO membuat mereka melaju ke tingkat internasional. Di ajang internasional di Brazil berlangsung 22-26 Oktober lalu. Disana, Agung harus mempresentasikan dan menjawab pertanyaan juri tentang penelitiannya.

“Tidak ada kendala berarti. Karena sebelumnya memperiapkan materi dan belajar Bahasa Inggris. Selain itu, kami membawa makanan dari Indonesia, yakni abon sapi dan mie instan untuk persiapan selama satu minggu di Brazil. Ini untuk berjaga-jaga kalau makanan di Brazil tidak sesuai lidah. Selama disana kami juga mencicipi makanan khas dari Brazil,” katanya.

Agung senang dengan perolehan juara III yang didapatkannya itu. Ia juga mengaku senang banyak hal yang didapatkan. Terutama saat pertukaran budaya. Agung memamerkan batik asli Pati. Meski demikian, ia mengaku kesulitan bahasanya. Terutama ketika berada di luar area perlombaan. Disana menggunakan bahasa portugis. Sebagian besar tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi saat berinteraksi menggunakan Bahasa Inggris dan memakai isyarat.

Sementara itu Kepsek SMA PGRI 2 Kayen Surata mengapresiasi raihan prestasi internasional itu. Prestasi Agung ini kali ketujuh yang diperoleh siswa SMA PGRI 2 Kayen dalam bidang penelitian di tingkat interasional. Ia berharap prestasi ini dapat memberi inspirasi kepada remaja di Pati khususnya adik kelasnya.

“Kami bersyukur dengan prestasi ini. Ini bukan kali pertama. Sudah ada tujuh kejuaraan di tingkat internasional. Kami akan terus mendukung penelitian berikutnya. Setiap penelitian memang membutuhkan biaya, waktu, dan tekad. Bahkan siswa dan guru pembimbing harus lembur sampai malam. Ini sangat kami apresiasi,” imbuhnya.

(ks/him/top/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia