Sabtu, 17 Nov 2018
radarkudus
icon featured
Ekonomi

Jaga Budaya Ukir, 600 Gebyok Blimbingrejo Terjual Setiap Bulan

Rabu, 31 Oct 2018 22:12 | editor : Ali Mustofa

LIHAT LANGSUNG: Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat melihat proses pengerjaan gebyok ukir di Desa Blimbingrejo kemarin.

LIHAT LANGSUNG: Bupati Jepara Ahmad Marzuqi saat melihat proses pengerjaan gebyok ukir di Desa Blimbingrejo kemarin. (Diskominfo Jepara For Radar Kudus)

NALUMSARI – Sentra gebyok ukir di Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, kini semakin berkembang. Saat ini pasar gebyok juga semakin meluas. Mulai dari Bali hingga ke sejumlah kota besar lainnya. Dari desa ini, setiap bulan setidaknya terdapat 600an set gebyok yang terjual ke luar.

Hal ini disampaikan Petinggi Desa Blimbingrejo Sutoyo kemarin. Sutoyo mengatakan, di desa itu ada sekitar 126 perajin ukir gebyok berbahan kayu jati. Terdapat pula ratusan tenaga kerja yang hampir semuanya warga setempat.

Sutoyo menyampaikan, awalnya pasar gebyok ini hanya berada di Bali. Namun beberapa waktu terakhir ada pula pasar di luar Bali. ”Beberapa kota besar seperti Semarang dan Solo juga jadi pasar kami,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Setahun terakhir di wilayah tersebut juga telah dibangun gerbang identitas sentra gebyok. Gerbang identitas itu berada di pintu masuk Desa Blimbingrejo. Jaraknya cukup dekat dengan tugu macan kurung di dekat perbatasan Jepara – Kudus.

Terkait perkembangan sentra gebyok ukir di Desa Blimbingrejo, Kepala Disperindag Ratib Zaini mengatakan, Desa Blimbingrejo merupakan desa kesepuluh yang ditetapkan sebagai sentra kerajinan di Jepara. Sebelumnya ada sentra patung Mulyoharjo, sentra relief Senenan, dan sejumlah sentra lain.

”Selain ke Bali, pasar lokal industri ini di antaranya ke Purwodadi, Semarang, dan Solo,” ungkapnya.

Sementara itu Bupati Jepara Ahmad Marzuqi yang melakukan kunjungan ke desa itu mengatakan, Pemkab Jepara telah mencabangkan desa tersebut sebagai sentra gebyok ukir Jepara. Pencanangan ini menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya ukir di Jepara.

Marzuqi meminta warga terus menekuni dan mengembangkan usaha gebyok ukir berbahan kayu jati ini. ”Mari kita jaga agar produk budaya ini, agar tidak diklaim orang lain,” katanya.

Dia mencontohkan adanya permintaan tertulis dari Malaysia yang berisi pengiriman tenaga ahli ukir dari Jepara ke negara tersebut. Setelahnya, salah satu menteri dari negara tersebut datang ke Jepara. ”Tapi tetap kami tolak. Kalau warga mereka datang belajar ke Jepara kami persilakan,” pungkasnya. 

(ks/emy/zen/top/JPR)

 TOP

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia